7. Seo Family
Minggu pagi telah datang. Ten terlihat duduk di tepi ranjangnya seraya mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia baru saja terbangun karena suara alarm yang memekakkan telinga. Setelah merasa nyawanya telah terkumpul dengan sempurna, Ten melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mengambil segelas air mineral. Ten menatap ke arah jendela yang terhubung langsung dengan taman belakang rumahnya, langit Seoul pagi ini nampak begitu cerah. Burung-burung juga terdengar berkicau begitu ceria. Setelah menuntaskan segelas air mineral miliknya, Ten membuka kulkas dan nampak berpikir makanan apa yang akan ia buat pagi ini. Ten tersenyum cerah ketika melihat irisan daging yang terpajang rapi di freezer kulkasnya. Baiklah sepertinya akan sangat nikmat sarapan dengan bulgogi pagi ini, batin Ten.
Tangan kecilnya mulai cekatan memotong bahan masakan. Tak lama kemudian aroma masakan mulai menguar dari dapur kecil rumah mereka, ya rumahnya dan Johnny. Setelah selesai memasak, Ten bergegas membersihkan dirinya dan segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Johnny. Tak lama kemudian, Ten kembali keluar dari kamarnya. Ia terlihat mengenakan setelah baju santainya dan jangan lupakan handuk yang masih setia membungkus rambutnya yang basah. Ten memandang sekilas jam dinding yang berada di ruang keluarga, sudah jam tujuh lebih, batin Ten. Namun Johnny belum juga menunjukan batang hidungnya sejak tadi pagi. Ten melesat ke lantai atas dan berniat membangunkan Johnny.
"Johnny…. kau sudah bangun?" Ucap Ten di depan pintu kamar Johnny. Ia beberapa kali mengetuk pintu tersebut namun tak ada tanda-tanda balasan dari dalam sana.
Dengan ragu Ten meraih gagang pintu kamar Johnny dan menggerakkannya ke bawah, tidak dikunci, batin Ten. Ten mulai masuk ke dalam kamar Johnny, sejujurnya ia begitu ragu karena Johnny telah melarang Ten untuk memasuki kamarnya. Ten memanggil Johnny beberapa kali namun Johnny tidak terlihat di kasur miliknya. Ten juga mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi Johnny, namun tidak ada suara apapun dari dalam sana. Apa mungkin Johnny tidak tidur di rumah semalam, batin Ten. Setelah tak mendapatkan hasil apapun, Ten keluar dari kamar Johnny dan berniat segera sarapan, namun tiba-tiba langkah Ten terhenti saat pintu ruang kerja Johnny terlihat terbuka lebar. Ten masuk ke ruangan tersebut dan alangkah terkejutnya ia saat melihat orang yang dicarinya sejak tadi berada di ruangan ini, sedang tertidur di bangku dengan kepalanya yang bertumpu pada meja di hadapannya.
"Johnny bangun." Ucap Ten sedikit berbisik pada Johnny.
"John…." Ten mulai mengguncang bahu Johnny.
Tak lama kemudian Johnny terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali, Ten mulai berdiri dan menjauh dari Johnny. Si pria tinggi terlihat terkejut dengan pemandangan di hadapannya, ia mulai berdiri dan menatap tajam ke arah Ten.
"Kau…. Kan sudah ku bilang jangan pernah memasuki ruangan pribadiku." Ucap Johnny seraya menunjuk ke arah Ten.
"Kita harus ke rumah orang tuamu jika kau lupa, aku hanya membangunkanmu. Lagi pula kenapa kau membuka pintunya lebar-lebar jika tak mengizinkanku masuk." Ucap Ten. Ia mulai keluar dari ruangan Johnny dan segera turun ke dapur untuk sarapan.
Ten terlihat keluar dari kamarnya, ia baru saja mengeringkan rambutnya dan mengganti pakaiannya dengan mini dress selutut berwarna biru muda yang terlihat pas dengan tubuhnya. Ten duduk di salah satu kursi meja makan dan mulai menikmati sarapannya.
"Kau memasak hari ini?" Tanya Johnny yang terlihat mulai menuruni tangga.
"Hummm…." Ten hanya bergumam tanpa menatap ke arah Johnny.
Johnny mulai duduk di hadapan Ten dan menikmati sarapannya. Ia mulai menyendokkan sesuap nasi beserta bulgogi buatan Ten. Johnny nampak terdiam sesaat, ia mulai memandangi wajah Ten yang berada di hadapannya. Jadi dia benar-benar pandai memasak, ucap Johnny dalam hati.
"Kita akan pergi jam berapa?" Tanya Ten yang terlihat berjalan ke arah Johnny seraya meletakkan segelas jus jeruk di hadapan pria tersebut.
"Setelah aku makan." Balas Johnny singkat. Ten terlihat menganggukan kepalanya dan mulai menikmati jus jeruk miliknya.
Beberapa lama kemudian, mereka berdua terlihat mulai keluar dari rumah dan memasuki mobil Johnny. Keheningan terlihat menguasai mereka sepanjang perjalanan, rasanya memang tidak ada topik yang perlu dibicarakan. Mata tajam Ten terlihat menatap ke arah jalanan yang mulai dipenuhi dengan daun-daun berguguran, kenapa indah sekali, batin Ten.
"Baju kita…." Ucap Ten tiba-tiba saat mata tajamnya bertemu pandang dengan pakaian yang saat ini dikenakan Johnny. Si pria tinggi terlihat menatap pakaian yang ia kenakan dan beralih menatap pakaian milik Ten. Ia tersenyum sekilas seperti mengetahui apa yang Ten pikirkan. Seandainya aku sadar sejak tadi jika Johnny memakai warna biru, batin Ten. Jarinya mulai memilin ujung mini dress yang ia kenakan. Tak lama mobil Johnny terlihat memasuki pekarangan luas milik keluarga Seo. Tanpa sadar ten membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Rumah keluarga Seo terlihat begitu megah dengan pekarangan yang sangat luas, Ten tak pernah menyangka jika Johnny sekaya ini sekalipun Ten telah mengetahui sejak lama bahwa Johnny adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja.
Saat mobil Johnny benar-benar berhenti, Ten berniat membuka pintu yang ada di sebelahnya namun tiba-tiba saja Johnny menahan sebelah tangan Ten yang bebas.
"Kau masih ingat perjanjiannya?" Tanya Johnny, pertanyaan itu membuat Ten menoleh ke arah Johnny dan segera menarik tangannya.
"Aku tak pernah lupa tuan Johnny yang terhormat." Balas Ten penuh penekanan.
Johnny terlihat menganggukan kepalanya, tak lama kemudian mereka berdua turun dari mobil dan segera disambut oleh satu wanita dewasa dan dua wanita muda dengan seragam nampak seperti maid di rumah keluarga Seo. Ten menundukan kepalanya sekilas kepada tiga orang yang berada di hadapannya. Tiba-tiba saja Johnny terlihat menggandeng tangan Ten dan mereka berdua mulai memasuki rumah mewah tersebut. Jangan lupakan Ten yang masih terlihat bingung dengan tingkah Johnny yang tiba-tiba saja menggenggam tangannya.
"My brother Youngho…. Akhirnya kau datang juga." Ucap seorang wanita cantik dari arah ruang keluarga. Johnny melepaskan genggaman tangannya pada Ten dan mulai berhambur memeluk wanita cantik tersebut. Mungkin dia kakak Johnny, pikir Ten.
"Jadi ini wanita kurang beruntung yang menikah dengan adikku. Astaga cantiknya dirimu…." Wanita itu mulai mendekati Ten dan berucap seraya bercanda.
"Namaku Ten eonni." Balas Ten terdengar ragu-ragu.
"Bahkan namanya sangat menggemaskan, pasti sangat merepotkan bukan menikah dengan Youngho yang menyebalkan ini." Wanita itu kembali berucap, Ten hanya membalasnya dengan senyuman canggung. Benar juga apa yang wanita ini katakan, batin Ten.
"Ah iya kenalkan aku Joohyun, Seo Joohyun kakak perempuan Youngho. Tapi karena kita sudah jadi keluarga kau boleh panggil aku Seohyun eonni." Ucap wanita itu. ten terlihat tersenyum dan menganggukan kepalanya semangat.
"Johnny samchon…." Tiba-tiba saja seorang anak laki-laki menabrakkan tubuhnya ke kaki jenjang Johnny.
"Aigoo uri Woojin sudah besar sekali." Johnny membawa anak kecil itu ke dalam gendongannya, ia mulai mengelus rambut mangkok anak kecil itu dan mencium pipinya dengan gemas.
"Woojin ayo berkenalan dulu dengan imo." Ucap Seohyun yang mulai mengambil Woojin dari gendongan Johnny. Woojin terlihat kebingungan dan menatap Ten dari atas hingga bawah. Ten yang ditatap hanya mampu menahan rasa gemasnya melihat sikap anak kecil yang ada di hadapannya ini.
"Ini istrinya Johnny samchon namanya Ten imo, ayo beri salam." Ucap Seohyun pada anaknya.
"Annyeonghaseyo imo namaku Cho Woojin, umurku 4 tahun." Ucap Woojin seraya menunjuk empat jari kecilnya.
"Aigoo gemasnya, mulai sekarang panggil aku Ten imo ya." Ucap Ten, ia mulai berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Woojin. Anak laki-laki itu terlihat mengangguk semangat, akhirnya aku punya imo, pikirnya.
"Itu apa?" Tanya Woojin yang terlihat penasaran dengan paper bag di tangan kiri Ten.
"Ah ini hadiah untuk halmeoni nya Woojin." Balas Ten seraya mengusap lembut rambut hitam Woojin.
"Untuk Woojin tidak ada?" Tanya anak laki-laki itu dengan suara yang sedikit bergetar. Seohyun terlihat terkekeh mendengar perkataan anaknya, bagaimana bisa anaknya mengatakan itu, pikir Seohyun.
"Bagaimana jika kita berikan ini dulu pada halmeoni nya Woojin." Ucap Ten berusaha mengalihkan pembicaraan. Woojin mengangguk semangat dan mulai menggenggam tangan Ten dan menuntun imo barunya untuk menemui halmeoni kesayangannya.
"Aigoo uri Woojin pandai sekali sudah dekat dengan imo." Ucap Seohyun mulai menggoda anaknya, Woojin sama sekali tidak menyahut dan kembali fokus mencari keberadaan halmeoni kesayangannya.
"Halmeoni…. Imo bawa hadiah untuk halmeoni." Ucap Woojin semangat setelah mereka berdua tiba di dapur keluarga Seo.
"Gemasnya cucu halmeoni, sudah bisa ajak imo berkeliling rumah ya sekarang." Nyonya Seo terlihat gemas dengan tingkah cucunya dan mulai mencubit kecil pipi gembul Woojin.
"Kapan kau datang Ten?" Tanya nyonya Seo yang mulai memeluk tubuh ramping Ten.
"Aku baru sampai eomma, ah iya ini untuk eomma kemarin aku membuatnya sedikit." Balas Ten seraya memberikan paper bag yang berada di tangan kirinya pada nyonya Seo.
"Imo Woojin mau lihat." Anak laki-laki itu mulai mengangkat tangannya dan meminta Ten menggendongnya. Dengan sigap Ten mengangkat tubuh Woojin, anak laki-laki itu nampak serius memperhatikan bungkusan yang tengah dibuka oleh halmeoni nya.
"Wah Ten, kau pandai sekali membuat kue." Ucap nyonya Seo saat mulai mencoba cookies buatan Ten. Yang dipuji hanya tersenyum simpul, jujur saja Ten merasa sangat senang jika ibu mertuanya menyukai kue buatannya.
"Imo Woojin mau boleh?" Tanya Woojin, ia mulai memalingkan wajahnya untuk menatap Ten.
"Eomma apa boleh?" Bukannya menjawab pertanyaan Woojin, Ten malah bertanya pada ibu mertuanya. Karena ini pertemuan pertamanya dengan Woojin, Ten terlihat takut memberikan makanan sembarangan pada anak kecil itu. Siapa yang tahu jika ternyata ia memiliki alergi terhadap suatu makanan.
"Tak apa Ten, Woojin tidak alergi terhadap makanan apapun kok. Cha ini untuk Woojin…." Ucap nyonya Seo seolah mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh menantunya. Woojin menerima toples berisi cookies dengan semangat tak lupa senyuman manis yang mulai merekah di wajah tampannya.
"Yeay Woojin dapat cookies dari halmeoni." Ucap anak laki-laki itu saat berhasil turun dari gendongan Ten.
"Eit berterima kasih juga pada imo, kan imo yang sudah buatkan untuk kita." Ucap Nyonya Seo seraya mengelus surai hitam cucunya.
"Kamsahamnida imo." Ujar Woojin seraya membungkukkan sedikit tubuhnya. Ten terlihat gemas dengan tingkah Woojin dan mulai mengelus pipi gembul anak laki-laki itu.
"Sama-sama Woojin sayang." Balas Ten dengan senyuman manisnya.
Tak lama berselang Woojin mulai berlari ke arah ruang keluarga, ia sibuk memamerkan cookies yang baru ia dapat. Sedangkan Ten ia mulai berkutat di dapur membantu nyonya Seo untuk menyiapkan makanan. Sesekali mereka nampak bercanda ria, tak jarang suara tawa keduanya terdengar sampai ke ruangan lain di penjuru rumah. Johnny terlihat mulai menuju kamarnya, dari tangga ia dapat melihat dengan jelas ibunya yang terlihat bercanda ria dengan Ten. Jujur saja entah mengapa hati Johnny jadi menghangat melihat pemandangan tersebut. Tak mau ambil pusing Johnny mulai memasuki kamarnya dan membuka laptopnya, ada banyak pekerjaan yang masih harus ia selesaikan.
Malam mulai menjelang, tuan Seo terlihat memasuki rumahnya dan tersenyum cerah saat Woojin berlari ke arahnya. Setelah itu ia mulai menyapa Ten yang terlihat tengah membantu nyonya Seo menata makanan di meja makan.
"Ten sudah sampai sejak pagi ya…" Tanya Tuan Seo yang terlihat sibuk menggendong Woojin.
"Iya appa aku sudah sampai sejak pagi tadi." Balas Ten, ia terlihat sedikit merendahkan padangannya saat berbicara dengan tuan Seo. Tuan Seo terlihat mengangguk dan mulai berjalan ke arah ruang keluarga.
"Dimana Youngho? Atau kau datang sendirian?" Tanya Tuan Seo.
"Johnny…. ah maksudku Youngho oppa sedang menyelesaikan pekerjaannya di kamar." Balas Ten, apa yang baru saja ia katakan "oppa", sejak kapan aku memanggilnya oppa, pikir Ten.
"Anak itu selalu saja bekerja tanpa mengenal tempat." Ujar tuan Seo, mulutnya terlihat penuh dengan cookies yang baru saja disuapkan Woojin.
Tak berselang lama Johnny nampak turun dari kamarnya, rambut hitamnya terlihat setengah basah, sepertinya ia baru saja mandi, pikir Ten. Keluarga Seo mulai menikmati makan malam dengan tenang, namun sesekali terdengar rengekan manja dari Woojin yang ingin disuapi oleh Ten. Seohyun hanya terkekeh menatap tingkah anaknya, ia sendiri heran mengapa Woojin begitu menempel pada Ten padahal biasanya anaknya itu sangat sulit berkenalan dengan orang baru.
"Imo aaa…." Woojin menatap ke arah Ten dan membuka mulutnya lebar-lebar. Ten tersenyum cerah dan mulai menyuapi keponakan barunya itu dengan sepotong daging yang berada di mangkuk milik Woojin.
"Woojin-ah jangan begitu, Ten imo juga harus makan." Tuan Seo terlihat menegur cucunya. Woojin mulai mencebikkan bibirnya dan menatap penuh harap ke arah Ten.
"Harabeoji tidak seru." Ucap Woojin setelah memakan potongan daging miliknya.
"Kapan-kapan imo suapi lagi ya, sekarang Woojin makan sendiri dulu." Ucap Ten dengan lembut, tangannya mulai mengelus surai hitam milik Woojin.
Setelah selesai makan para maid mulai membereskan sisa makanan mereka dan keluarga Seo terlihat berkumpul di ruang keluarga. Jangan lupakan Woojin yang senantiasa menempel pada Ten. Keluarga kecil itu sesekali terlihat bercanda, Woojin juga terlihat baru saja menyelesaikan panggilan video dengan ayahnya yang masih berada di Swiss, ia bahkan mengenalkan imo barunya pada Kyuhyun sang ayah. Tuan dan nyonya Seo tentu saja gemas melihat tingkah laku Woojin yang kian hari kian menggemaskan.
"Kalian akan menginap kan?" Tanya nyonya Seo pada Ten dan Johnny.
"Ne?" Ten terlihat kebingungan menanggapi perkataan ibu mertuanya.
"Iya eomma kami menginap di sini malam ini." Balas Johnny yang terlihat sibuk membantu Woojin menyusun legonya.
"Tapi aku-" Balas Ten, namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Seohyun telah terlebih dahulu menyelanya.
"Kau bisa gunakan pakaianku malam ini Ten." Ucap Seohyun seolah membaca pemikiran adik iparnya.
"Terima kasih eonni." Ucap Ten.
Woojin yang baru saja selesai menyusun lego terlihat menguap dan beberapa kali kepalanya hampir terantuk jika saja Johnny tidak menahannya dengan tangan besarnya. Seohyun mulai mengambil alih Woojin dari dekapan Johnny dan berniat membawanya ke kamar. Setelah itu tuan dan nyonya Seo juga terlihat berpamitan untuk masuk ke kamar mereka sehingga di ruang keluarga hanya menyisakan Ten dan Johnny yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Ten…. Ayo ikut aku, kau bisa membersihkan diri di kamarku sekaligus berganti pakaian." Ucap Seohyun saat baru menaiki anak tangga. Kau menyelamatkanku eonni, batin Ten. Dengan senang hati Ten mengekor di belakang Seohyun untuk menuju ke kamar wanita cantik itu. Setelah sampai di kamarnya, Seohyun bergegas membaringkan Woojin yang terlihat setengah tertidur di kasur king size miliknya. Kemudian wanita itu masuk ke area walk in closet untuk mengambil beberapa pakaian yang sekiranya akan Ten gunakan.
"Mau pakai yang ini atau ini?" Tanya Seohyun seraya menimbang pakaian yang berada di kedua tangannya. Yang pertama gaun tidur selutut tanpa lengan dan yang kedua piyama tidur dengan celana panjang yang tak kalah indahnya.
"Ini saja eonni." Ujar Ten, ia mulai meraih sepasang piyama yang berada di tangan kanan Seohyun.
"Padahal aku sangat senang jika Woojin segera dapat teman baru." Ucap Seohyun seraya terkekeh, Ten hanya tersenyum canggung menanggapi perkataan kakak iparnya itu.
"Aku harap hubunganmu dan Youngho baik-baik saja sekalipun kalian berdua dijodohkan." Ucap Seohyun pada Ten. Lagi-lagi Ten hanya terdiam dan tersenyum sekilas pada Seohyun.
"Ah iya kau bisa pakai kamar mandi terlebih dahulu, aku akan mengganti pakaian Woojin dengan piyama tidurnya." Ucap Seohyun memecah keheningan antara mereka berdua. Ten terlihat mengangguk dan mulai masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi, Ten nampak termenung sejenak, apa mungkin Seohyun eonni tahu hubunganku dan Johnny yang sebenarnya, pikir Ten.
Setelah selesai membersihkan diri, Ten terlihat keluar dari kamar mandi dengan piyama milik Seohyun yang terlihat sedikit kebesaran di tubuh rampingnya. Tiba-tiba saja Woojin menabrakkan badannya pada kaki Ten, kapan anak ini bangun, pikir Ten.
"Imo malam ini tidur dengan Woojin dan eomma ya…." Ucap Woojin, iya mulai memasang wajah imutnya untuk merayu Ten.
"Woojin sayang jangan begitu, kalau imo tidur di sini nanti samchon tidur sendiri." Ucap Seohyun berusaha merayu anaknya yang kembali terlihat segar padahal sebelumnya ia telah terantuk-antuk saat menyusun lego.
"Samchon kan sudah besar tidak akan ada monster yang mau mengganggunya." Balas Woojin yang mulai menatap wajah sang ibu.
"Lain kali saja ya? Malam ini biarkan imo tidur dengan samchon dulu." Ucap Seohyun yang mulai berjongkok disebelah Woojin.
"Janji?" Tanya Woojin, matanya terlihat mulai berkaca-kaca dengan bibir yang mengerucut lucu. Woojin mengarahkan kelingking mungilnya ke arah Ten dan menunggu imo kesayangannya itu membalas uluran jarinya.
"Janji. Nanti kapan-kapan imo akan tidur dengan Woojin. Sekarang Woojin tidur sama eomma. Jangan lupa sikat gigi, cuci tangan dan kaki, lalu berdoa supaya monster-monster jahat tidak mengganggu tidur Woojin." Ucap Ten panjang lebar, Seohyun terlihat kagum dengan cara Ten menasehati Woojin, kedua orang tuanya memang tidak salah memilihkan Johnny istri, pikir Seohyun. Woojin terlihat mengangguk semangat menanggapi perkataan Ten, tak lama ia mulai melambaikan tangannya dan melepas Ten yang akan pergi menuju kamar Johnny. Sebelum Ten keluar dari kamarnya, Seohyun menahan Ten sejenak dan menyentuh dua bahu Ten dengan lembut.
"Jika ada apa-apa kau bisa cerita padaku Ten, aku kakakmu sekarang, jangan sungkan ya." Ucap Seohyun, manik indahnya menatap lekat ke arah manik Ten yang tak kalah indahnya. Ten jelas melihat ketulusan dari tatapan mata Seohyun.
"Terima kasih eonni." Balas Ten. Seohyun mulai membawa Ten dalam pelukannya, jika saja Woojin tidak sedang menggosok giginya pasti anak itu sudah heboh minta dipeluk juga, bati Seohyun.
Di sinilah Ten saat ini, menatap pintu kamar Johnny yang menjulang tinggi tepat di hadapannya. Dengan ragu ia mulai melangkah masuk ke dalam, saat pintu terbuka, mata Ten tepat bertemu pandang dengan mata tajam Johnny yang terlihat sibuk mengerjakan sesuatu di meja kecil yang berada dekat dengan kasurnya.
"Tubuhku terlalu panjang, jadi kau saja yang tidur di sofa." Ucap Johnny tiba-tiba, ia terlihat baru saja melepas kacamata yang sejak tadi bertengger manis di hidung bangirnya.
"Sudah kuduga, harusnya kuterima saja ajakan Woojin untuk tidur bersama tadi." Ten mulai menggerutu dan berjalan mendekati sofa, sudah ada satu bantal di sana, ya hanya bantal.
"Setidaknya berikan selimutnya padaku John." Ujar Ten sedikit memelas.
"Aku tidak tahan dingin." Balas Johnny singkat, bahkan tanpa menatap ke arah Ten.
"Kalau begitu jangan hidupkan AC nya." Ujar Ten tak mau kalah.
"Aku tak suka kepanasan." Balas Johnny lagi.
"Aish…. Kau menyebalkan sekali John." Ujar Ten, ia mulai membaringkan tubuhnya di sofa dan mulai berusaha memejamkan matanya. Empuk sekali, pasti ini sofa mahal, pikir Ten. Ten menoleh sekilas ke arah belakang, ia menatap lekat ke arah Johnny yang masih berkutat dengan berkas-berkas perusahaan miliknya, benar-benar pekerja keras, pikir Ten.
"Jangan lupa tidur di kasur John, jika terus-terusan tidur seperti kemarin badanmu bisa sakit." Entah sadar atau tidak Ten berucap seperti itu pada Johnny dan tak lama kemudian dengkuran halus mulai terdengar dari arah sofa, sepertinya Ten sudah benar-benar tertidur.
Johnny menatap ke arah sofa, ia sedikit terkejut dengan perkataan yang diberikan oleh Ten sebelum wanita itu tertidur. Ternyata ia peduli sekali padaku, pikir Johnny. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa jam di kamar Johnny telah menunjukan pukul dua dini hari. Johnny mulai mematikan laptopnya dan menutup beberapa berkas yang sejak tadi ia baca. Setelah merapikan meja kerjanya, ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Saat hendak menuju ke kasur, langkah Johnny terhenti di depan sofa yang ditiduri Ten. Tanpa sadar ia berlutut di sebelah sofa dan menyingkirkan beberapa rambut Ten yang terlihat menutupi wajah cantiknya. Tiba-tiba saja Johnny terkesiap, apa yang kau lakukan John, pikirnya. Johnny bergegas merebahkan dirinya di kasur dan bergulung dengan selimut tebalnya. Perlahan manik tajam Johnny mulai terpejam, sepertinya ia mulai memasuki alam mimpinya, tanpa mempedulikan Ten yang terlihat kedinginan dalam tidurnya.
