8. Seo Siblings
"Achoo…."
Johnny terbangun karena suara bersin yang tiba-tiba saja memenuhi kamarnya. Dengan mata setengah terpejam Johnny mengulurkan tangan panjangnya untuk mengambil ponsel miliknya di meja nakas. Ayolah siapa yang sudah bersin-bersin sepagi ini, batin Johnny saat mengecek jam yang terpampang di ponselnya. Saat ini masih pukul lima pagi, baiklah pria tinggi itu baru saja menikmati tidur indahnya selama tiga jam. Perlahan Johnny mulai bangkit dari tidurnya dan mengubah posisinya menjadi terduduk. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sofa yang berada tidak jauh dari tempatnya, dari sana terlihat jelas Ten yang tengah terduduk seraya beberapa kali menggosok hidungnya.
"Kau flu?" Tanya Johnny dengan suara paraunya. Ten nampak terkejut mendengar suara Johnny, bukankah pria itu masih tidur nyenyak beberapa menit yang lalu, batin Ten.
"Maafkan aku membuat tidurmu terganggu John, achoo…." Lagi-lagi Ten kembali bersin tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Kemarilah, eomma bisa memarahiku jika tahu menantunya sakit." Ucap Johnny yang mulai menggeser tubuhnya ke tepian kasur. Ten menghampiri Johnny dengan ragu-ragu dan mulai duduk di seberang Johnny.
"Kau akan tidur di sofa?" Tanya Ten pelan.
"Tentu saja tidak." Balas Johnny singkat ia mulai kembali merebahkan tubuhnya dan menawarkan sisi selimut yang kosong pada Ten. Dengan ragu Ten mulai berbaring di sebelah Johnny, benar-benar hangat, batin Ten. Tapi tetap saja kepalanya sudah terlanjur pusing karena bersin-bersin sejak beberapa menit yang lalu. Perlahan Ten mulai terpejam dan kembali masuk ke alam mimpinya. Dalam hati ia berharap semoga saja saat ia terbangun nanti gejala flunya telah menghilang.
Johnny nampak mengerjapkan matanya beberapa kali saat cahaya matahari mulai menembus jendela kamarnya. Ia mulai terbangun dari tidurnya dan mengecek jam yang ada di ponselnya, sudah jam tujuh, batinnya. Johnny menoleh ke arah Ten yang nampak masih tertidur pulas, mata Johnny menyipit saat mendapati keringat membanjiri kening Ten, dengan ragu-ragu Johnny menyentuh kening Ten untuk memastikan suhu tubuh wanita itu. Johnny nampak terkejut saat mendapati suhu tubuh Ten yang sedikit panas, Johnny menghembuskan nafasnya kasar dan meninggalkan Ten yang masih tertidur di kasur empuk miliknya.
Johnny berjalan ke arah dapur dan berniat menuntaskan dahaganya dengan segelas air mineral. Saat sedang asyik melamun dan menghabiskan air mineral miliknya, tiba-tiba saja suara Seohyun terdengar dari arah tangga.
"Ten belum bangun?" Tanya Seohyun saat mendapati adiknya duduk di dapur seorang diri.
"Sepertinya dia demam." Jawab Johnny singkat tanpa menatap ke arah Seohyun.
"Pasti dia kedinginan karena tidur di kamarmu yang sedingin kutub itu." Balas Seohyun, ia duduk di hadapan sang adik dan meminum air mineral yang baru saja ia ambil. Johnny hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan kakaknya. Jemari panjangnya terlihat sibuk memainkan ujung gelas.
"Berubahlah sedikit Youngho-ya sekalipun kalian dijodohkan setidaknya kau harus belajar mencintai Ten. Kurasa cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu." Ucap Seohyun setelah menghabiskan air mineral miliknya.
"Kata-kata itu terdengar mudah keluar dari mulutmu karena kau menikah dengan Kyuhyun hyung dan saling mencintai bahkan sejak masih sekolah menengah." Balas Johnny terdengar cukup dingin.
"Aish…. Aku heran kenapa mantan pacarmu dulu begitu tergila-gila padamu yang sedingin kutub begini." Ucap Seohyun seperti candaan, Johnny menatap tajam ke arah sang kakak seolah-olah berkata jangan sebut namanya lagi.
"Aku ke atas dulu mau melihat keadaan Ten." Ucap Seohyun, kaki jenjangnya mulai melangkah menuju kamar Johnny untuk menengok adik ipar kesayangannya itu, bisa-bisa Woojin mengamuk jika tahu imo kesayangannya jatuh sakit.
Seohyun terkesiap saat memasuki kamar adiknya, baiklah jangankan Ten, Seohyun yang telah lama menetap di Swiss saja merasa kamar ini cukup dingin. Dengan cepat Seohyun menyambar remot AC yang berada di meja nakas lalu mematikan AC nya supaya demam Ten tidak bertambah parah. Perlahan Ten terlihat terbangun dari tidurnya, ia terlihat mengerjapkan matanya berkali-kali, tak lama kemudian ia mulai mendudukkan dirinya di kasur dan memijat kepalanya yang terasa pusing. Wanita cantik itu belum menyadari kehadiran Seohyun yang sejak tadi berada di kamarnya.
"Kau sudah bangun Ten, istirahat lagi saja. Kata Youngho kau tidak enak Badan." Ucap Seohyun seraya berjalan mendekati tempat tidur. Ten nampak terkejut mendengar perkataan Seohyun, darimana Johnny tahu jika ia sedang tidak enak badan, pikirnya.
"Astaga ini cukup panas, adikku itu memang gila bagaimana bisa dia tidur dengan suhu sedingin tadi." Ucap Seohyun sedikit emosi setelah menyentuh kening Ten.
"Ini bukan salah Youngho oppa eonni, aku saja yang memang tak bisa hidup di tempat dingin, hehe…." Balas Ten seraya terkekeh.
"Astaga baiknya adik iparku, bahkan masih sempat membela suaminya yang sedingin es." Ucap Seohyun sedikit bercanda.
"Kau istirahat saja ya, nanti akan ku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu." Ucap Seohyun, ia mulai memaksa Ten kembali berbaring di kasurnya.
"Tapi aku telah berjanji untuk menemani eomma belanja hari ini eonni." Balas Ten, ia mulai menolak saat Seohyun kembali memaksanya tidur.
"Jangan pikirkan itu, nanti akan kukabari eomma supaya Youngho yang menemaninya belanja hari ini." Ucap Seohyun ia mulai merapikan selimut yang membungkus tubuh Ten, sedangkan Ten hanya mampu mengangguk pasrah karena jujur saja kepalanya tiba-tiba berdenyut tak karuan.
Tak berselang lama setelah Seohyun keluar, Johnny nampak memasuki kamarnya. Pria tampan itu berniat untuk mandi karena harus menemani ibunya pergi belanja hari ini. Dari ambang pintu Johnny dapat melihat dengan jelas Ten yang tengah memijit pelan kepalanya dan beberapa kali bersin, jujur saja Johnny merasa bersalah melihat keadaan Ten hari ini. Seharusnya kuberikan dia selimut semalam, pikir Johnny.
"Aku akan menemani eomma keluar, kau istirahat saja tak perlu kemana-mana." Ucap Johnny saat memasuki kamarnya.
"Humm…." Ten hanya bergumam karena hidungnya mulai terasa tersumbat dan sungguh itu sangat mengganggunya.
Johnny masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya dan berniat membersihkan diri, tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian pusar sampai lututnya. Ten membulatkan matanya saat menatap Johnny yang berada di hadapannya. Hampir saja ia tersedak air mineral yang sedang ia minum.
"Kau kenapa?" Tanya Johnny keheranan seraya memasuki walk in closet yang ada di kamarnya.
"Ti… tidak apa-apa." Balas Ten sedikit gugup.
Johnny kembali dengan tampilan yang lebih rapi dari sebelumnya. Ia terlihat mengenakan kaos polo berwarna putih dan celana jeans berwarna hitam yang terlihat serasi dengan kaki panjangnya. Jangan lupakan rambutnya yang tertata rapi sehingga menambah derajat ketampanan Johnny. Ten memandangi Johnny seraya memegangi dadanya yang berdegup kencang, apa benar selama ini ia telah jatuh dalam pesona seorang Johnny yang sedingin kutub utara, pikirnya.
"Aku pergi dulu." Suara berat Johnny membuyarkan lamunan Ten, ia menganggukan kepalanya cepat karena tak ingin ketahuan Johnny jika beberapa detik yang lalu wanita cantik itu fokus memandangi wajah tampan pria di hadapannya.
Setelah Johnny dan ibu mertuanya pergi Ten kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Tak lama berselang Seohyun terlihat memasuki kamar, ia terlihat membawa nampan yang berisikan semangkuk sup hangat beserta nasi, dan jangan lupakan obat-obatan yang harus Ten minum. Ten kembali duduk di kasurnya untuk menyambut kedatangan Seohyun, kakak Johnny itu memaksa Ten untuk makan sekalipun hanya sesuap. Ten mengangguk mengerti dan mulai mencicipi masakan yang dibawa oleh kakak iparnya itu. Keheningan nampak menguasai mereka berdua, hanya ada suara dentingan sendok yang bertabrakan dengan mangkuk berisi sup yang sedang Ten santap. Di sebelah Ten nampak Seohyun yang tengah berkutat dengan ponsel miliknya, sepertinya ia sedang bertukar pesan dengan seseorang. Kediaman megah keluarga Seo terasa begitu sepi hari ini, tuan Seo sedang ada urusan di kantor pusat, nyonya Seo dan Johnny sedang pergi belanja, dan jangan lupakan Woojin yang merengek ingin ikut saat melihat samchon kesayangannya berpakaian rapi.
"Mau kuceritakan sesuatu? Cerita Youngho sebelum bertemu denganmu." Ucap Seohyun tiba-tiba setelah mematikan ponselnya.
"Apa boleh?" Tanya Ten ragu-ragu.
"Tentu saja boleh, kau adalah istrinya. Sudah sewajarnya kau mengetahui baik buruknya Youngho seperti apa." Balas Seohyun penuh keyakinan. Akhirnya Ten mengangguk membalas perkataan kakak iparnya itu. Semoga saja setelah mengetahui semua kisah tentang Johnny akan membuat Ten semakin memahami pria dingin itu, pikirnya.
