9. Past and Present

Past

Johnny berusia empat tahun lebih muda dari sang kakak, Seohyun. Kehadiran Johnny dalam kehidupan keluarga Seo tak lain dan tak bukan adalah permintaan Seohyun si anak sulung. Katanya ia merasa sangat kesepian jika hanya tinggal bersama maid-maid di rumahnya, sedangkan kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ditambah lagi Seohyun selalu iri dengan teman-teman sekelasnya yang selalu bercerita tentang adik mereka. Akhirnya di suatu hari setelah pulang sekolah Seohyun merengek pada sang eomma untuk memberikannya adik.

Beberapa bulan kemudian nyonya Seo ternyata hamil anak kedua, setelah rutin melakukan pemeriksaan dengan dokter keluarganya diketahui bahwa anak yang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki. Tuan Seo girang bukan main karena sudah jelas ia akan mendapatkan penerus perusahaannya. Pria itu bukannya tidak bersyukur sudah memiliki Seohyun yang cantik dan pintar, hanya saja bukankah tidak dipungkiri jika anak laki-laki akan sangat diharapkan untuk meneruskan nama keluarga. Selama masa kehamilan nyonya Seo benar-benar mengurangi aktivitasnya, ia yang notabene seorang desainer ternama di Korea memilih rehat sementara dari segala hiruk pikuk pekerjaan yang terkadang memuakkan. Beberapa bulan setelahnya anak yang mereka dambakan lahir ke dunia, namanya Seo Youngho, wajahnya begitu menggemaskan saat ia lahir ke dunia, jangan lupakan tangisannya yang sangat keras dan berhasil memekakkan telinga para tim medis yang membantu kelahirannya.

Seohyun nampak begitu bahagia saat Youngho lahir ke dunia, ia banyak menghabiskan waktu bersama adik kecilnya, menjaganya seharian, atau sekedar membacakannya cerita. Enam bulan setelah kelahiran Youngho nyonya Seo kembali lagi ke ranah pekerjaanya, meninggalkan kedua anaknya bersama para pengasuh mereka. Seohyun tak mau ambil pusing dengan keputusan ibunya, lagi pula sudah ada Youngho yang akan selalu ada disisinya, ia tidak akan pernah lagi merasa kesepian, pikirnya.

Waktu terus berlalu, tak terasa Youngho telah memasuki sekolah dasar. Tuan dan nyonya Seo menyiapkan yang terbaik untuknya, ia dimasukkan ke sekolah terbaik di Korea bersama dengan kakaknya yang saat itu telah duduk di kelas lima. Yongho kecil tentu saja sangat senang dapat bersekolah bersama noona kesayangannya. Satu tahun kemudian Seohyun lulus dari sekolah dasar, di upacara perpisahan para siswa Youngho tampak menangis tersedu-sedu dan tak rela harus berpisah dengan noona nya. Tuan dan nyonya Seo nampak terkekeh melihat tingkah anak bungsunya itu, ayolah bukankah kedua anaknya tetap akan bertemu di rumah, pikir mereka.

Tahun ini Seohyun mulai memasuki sekolah menengah, tuan dan nyonya Seo memasukkannya ke sekolah khusus wanita dengan sistem asrama, sehingga Seohyun tidak dapat menghabiskan waktunya bersama dengan adik kecilnya. Yongho melalui hari-harinya dengan perasaan hampa, rasanya ia kembali mengulang perasaan Seohyun yang selalu merasa kesepian beberapa tahun lalu. Youngho juga nampak bosan dengan kehidupannya yang diatur sedemikian rupa oleh orang tuanya, selain sekolah ia juga diwajibkan mengikuti beberapa les dan bimbingan belajar yang jujur saja cukup menyesakkan untuk anak seusianya.

Hari ini adalah ulang tahun Youngho yang ketujuh belas, ia mengadakan pesta ulang tahun bersama anggota keluarganya dan jangan lupakan kehadiran Cho Kyuhyun kekasih Seohyun sejak dua tahun yang lalu, bahkan saat ini mereka berdua sedang melanjutkan pendidikan di universitas yang sama. Youngho memejamkan matanya untuk membuat harapan di hari ulang tahunnya, "aku ingin hidup bebas" ucap Youngho dalam hati. Setelah mengucapkan harapannya ia meniup lilin dan disambut tepuk tangan meriah dari keluarganya. Youngho tersenyum sekilas dan ia mulai membalas pelukan ibunya yang berada di sebelahnya.

Sehari setelah ulang tahunnya, tuan Seo memanggil sang anak ke ruang kerjanya. Ia meminta putranya melanjutkan studi di Harvard University yang menjadi dambaan bagi seluruh anak muda di dunia. Youngho yang duduk berhadapan dengan ayahnya nampak asyik dengan selebaran yang ada di meja dan sibuk membolak-balikannya sejak tadi.

"Akan kucoba." Ucapnya singkat. Mungkin tuhan telah mengabulkan harapannya, pikir Youngho.

Akibat kurang perhatian serta selalu hidup di bawah ekspektasi tinggi kedua orang tuanya Youngho tumbuh menjadi remaja yang sedingin kutub utara, bahkan Seohyun bertanya-tanya kemana perginya adiknya yang dulu begitu manis dan menggemaskan. Sejauh ini Youngho hanya mau terbuka pada Seohyun dan Kyuhyun, itu pun mereka berdua masih harus berusaha keras mengulik isi hati Youngho yang sebenarnya. Setelah berkonsultasi dengan Seohyun dan Kyuhyun akhirnya Youngho mantap mendaftarkan dirinya sebagai calon mahasiswa di Harvard University, bagi sebagian orang mungkin itu terdengar tidak masuk akal. Namun tidak bagi Youngho, jangan lupakan otaknya yang cemerlang serta dukungan finansial yang memadai dari kedua orang tuanya, bukankah seharusnya masuk Harvard menjadi hal yang mudah untuknya.

Keberuntungan berpihak pada Youngho, ia diterima di Harvard University dan hari ini adalah hari keberangkatannya ke Amerika. Nyonya Seo terlihat memeluk sang putra dan memberikan deretan kata penyemangat untuknya, tak lupa ia berpesan agar anaknya sering-sering mengunjungi kerabat mereka yang berada di Chicago saat di Amerika nanti. Tuan Seo memeluk bahu kokoh anaknya tanpa mengucapkan kalimat apapun, setelah itu Seohyun berhambur ke pelukan adiknya, jangan lupakan matanya yang basah dan memerah karena menangis sejak di perjalanan menuju bandara.

"Hanya enam tahun ya, setelah itu kau harus pulang. Jangan lupa datang ke pernikahanku tahun depan." Ucap Seohyun dengan suara yang bergetar.

"Iya noona, berhentilah menangis. Kau sangat jelek." Goda Youngho saat mereka berdua berpelukan.

Keluarga kecil itu berpisah saat Youngho memasuki gate penerbangan. Setelah Youngho menghilang dari hadapan mereka, keluarga kecil itu benar-benar pergi meninggalkan bandara. Dalam hati Youngho tersenyum senang, akhirnya setelah terkurung dalam sangkar selama bertahun-tahun, hari ini aku bebas, pikir Youngho. Setelah menempuh perjalanan belasan jam, akhirnya Youngho tiba di Boston, ia menempati apartemen berukuran cukup besar untuk mahasiswa sepertinya, berterima kasihlah pada tuan Seo yang berbaik hati memberikan anaknya apartemen terbaik demi menunjang pendidikannya.

Youngho hidup cukup bebas di Boston, ia berhasil mendapatkan banyak teman sekalipun sifat dingin masih menempel padanya. Terkadang ia bersama teman-temannya pergi ke club malam untuk menuntaskan rasa penasarannya. Youngho memiliki teman akrab sesama orang asia, pertama Nakamoto Yuta, pria Jepang yang berada di jurusan yang sama dengannya, Yuta juga selalu hidup di bawah ekspektasi tinggi keluarganya tentang dirinya, Yuta digadang-gadang sebagai pewari bisnis hotel milik keluarganya yang telah mengakar dimana-mana. Kedua Jung Jaehyun, setelah pertemuan singkat di perpustakaan saat tahun pertama kuliah, Youngho baru tahu jika Jaehyun tinggal di Gangnam sama sepertinya. Keluarganya adalah pemilik jaringan rumah sakit terbesar di Korea Selatan, sejak kecil ia telah dipersiapkan untuk mengambil alih seluruh rumah sakit yang dikelola oleh keluarganya, itulah yang membuatnya berakhir di Harvard Medical School hingga berteman dengan Yuta dan Youngho. Seluruh orang di penjuru kampus tidak ada yang mengenal siapa itu Youngho kecuali Yuta dan Jaehyun yang sudah sangat akrab dengannya. Sejak memutuskan berkuliah di Harvard ia memilih dipanggil Johnny, ya nama itu adalah nama lain yang diberikan oleh orang tuanya saat ia lahir ke dunia.

Hari ini tepat dua tahun sudah Johnny menempuh pendidikan di Harvard, kebetulan pula ia sedang menikmati liburan musim panas, rencananya ia akan melakukan summer trip bersama Yuta dan Jaehyun. Di siang hari yang cukup terik tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering, ia meraih ponsel tersebut dan mulai berbicara dengan seseorang di seberang sana. Itu ibunya, nyonya Seo meminta pada Johnny untuk mengunjungi kerabat mereka yang berada di Chicago selagi liburan musim panas. Johnny terlihat mengangguk mengerti mendengar perkataan ibunya, ia rasa tidak ada salahnya pergi ke Chicago sebelum summer trip bersama teman-temannya.

Beberapa hari setelah mendapatkan panggilan telepon dari ibunya, ia memutuskan untuk mengunjungi kerabatnya di Chicago. Johnny memutuskan untuk mengambil penerbangan di pagi hari, kurang lebih ia harus menempuh penerbangan tiga jam lamanya dari Boston untuk bisa sampai ke Chicago. Di sinilah Johnny sekarang, ia berada di pintu keluar O'Hare International Airport, menunggu seseorang yang akan menjemputnya dan membawanya ke rumah kerabatnya. Sekitar lima menit menunggu tiba-tiba saja seorang pria menghampirinya dan menanyakan namanya.

"Dengan tuan muda Seo Youngho?" Tanya pria itu berusaha memastikan. Johnny hanya mengangguk dan tak lama kemudian ia mulai mengikuti langkah pria di hadapannya yang membawanya ke sebuah mobil yang cukup mewah.

Kurang lebih mereka menempuh perjalanan selama 15 menit sampai akhirnya mobil mewah itu menepi di pekarangan rumah yang cukup besar. Johnny turun dari mobil dan cukup terkejut dengan pemandangan di hadapannya, bukankah ini lebih cocok disebut istana dibandingkan rumah. Tak lama seorang wanita yang terlihat seusia dengan ibunya menghampiri Johnny, setelah pembicaraan singkat dengan ibunya sebelum berangkat ke Chicago, ia diberitahu jika akan mengunjungi rumah keluarga Son. Keluarga Son cukup dekat dengan keluarganya, tuan Son ternyata adalah teman semasa kuliah tuan Seo, pertemanan yang terjalin erat antara mereka berdua ibarat sebuah pintu gerbang yang semakin mengakrabkan keluarga besar itu. Tuan Son sendiri adalah pebisnis handal, jangan lupakan jika ia juga seorang broker saham yang begitu hebat, tak heran jika tuan Seo betah berlama-lama berteman dengannya.

"Astaga Youngho kau sudah besar sekali, terakhir kita bertemu kau masih setinggi ini." Ujar nyonya Son seraya membawa tangannya sebatas pinggang. Youngho hanya tersenyum menanggapi perkataan nyonya Son, bahkan ia tak ingat jika sebelumnya pernah saling bertemu.

Nyonya Son mengajak Johnny memasuki rumahnya, tak lama tuan Son nampak muncul dari lantai dua dan memeluknya cukup erat. Mereka berdua mulai berbicara tentang banyak hal, entah kenapa rasanya Johnny lebih nyaman dan jauh terbuka saat berbicara dengan tuan Son dibandingkan dengan ayahnya sendiri. Tiba-tiba saja suara seorang wanita menginterupsi kegiatan mereka, wanita itu nampak keheranan melihat kedatangan orang asing di rumahnya.

"Who is he?" Tanya wanita itu sedikit berbisik pada ibunya.

"Youngho, kau tak ingat." Jawab ibunya yang sibuk memotong buah Jeruk. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

Tak lama berselang ibu dan anak itu ikut bergabung di ruang keluarga bersama tuan Son dan Johnny. Tuan Son mulai memperkenalkan anaknya kepada Johnny yang baru saja tiba.

"Kenalkan ini Wendy anakku, sebenarnya ada dua hanya saja Claire sedang melanjutkan pendidikannya di New York dan belum sempat pulang." Ucap Tuan Son setelah meneyeruput kopinya. Wendy nampak memberikan senyumnya ke arah Johnny yang berada tepat di hadapannya.

"Aku Johnny." ucapnya seraya mengulurkan tangan, dengan canggung Wendy menjabat tangan itu dan kembali memberikan senyumnya.

"Wendy kau bisa tunjukkan kamar yang akan Johnny gunakan, setelah itu ajaklah ia berkeliling sebentar." Ucap Tuan Son, ia mulai berdiri dan kembali masuk ke ruang kerjanya, disusul dengan istri yang kembali ke dapur.

"Ikut aku." Ucap Wendy yang mulai bangkit dari duduknya. Johnny mengekor di belakang Wendy, wanita itu membawanya ke sebuah kamar tamu dengan ukuran cukup besar. Johnny memasuki kamar tersebut dan mulai merapikan barang-barangnya, Wendy hanya terdiam di ambang pintu memperhatikan aktivitas Johnny. Setelah dirasa pria itu telah selesai merapikan barang bawaan, Wendy kembali berbicara.

"Mau berkeliling sebentar?" Tanya Wendy.

"Sure." Ucap Johnny singkat.

Mereka mulai berjalan menuju taman belakang rumah keluarga Son. Di sana ada kolam ikan berukuran cukup besar dan sebuah bangku panjang yang berada disampingnya. Wendy mulai membawa Johnny mendekati kolam ikan, mereka memberi makan ikan-ikan yang kelaparan dan kembali mengulang perkenalan mereka. Dari pembicaraan itu Johnny jadi tahu Wendy memiliki nama Korean Son Seungwan, ia merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuannya bernama Son Seunghee namun lebih dikenal dengan panggilan Claire, ia sedang menempuh pendidikan di Cornell College dan memilih masuk ke fakultas ekologi manusia. Sedangkan Wendy adalah mahasiswi tingkat ketiga di Northwestern University yang tak begitu jauh dari rumahnya. Wanita dengan tinggi yang sangat berbeda dengan Johnny itu mengambil jurusan administrasi bisnis, jujur saja Johnny merasa cukup senang mendapat teman baru yang sejurusan dengannya, setidaknya mereka dapat bertukar pendapat nantinya. Berbeda dengan tuan Seo yang seolah memaksakan seluruh kehendaknya pada Johnny, tuan Son tidak begitu. Ia membebaskan anak-anaknya berkutat dengan hal-hal yang mereka sukai, bahkan Wendy masih mengingat jelas senyuman teduh ayahnya saat mengantarkan sang kakak untuk menempuh pendidikan di Cornell College beberapa tahun lalu. Saat mengetahui Wendy tertarik dengan dunia bisnis tuan Son nampak begitu senang, ia memberikan semua ilmunya pada Wendy dan membimbingnya dengan hati-hati agar kelak Wendy dapat menjadi pebisnis yang cemerlang. Mendengar cerita tentang keluarga Son jujur saja membuat Johnny sedikit iri, seandainya keluarganya bisa seperti itu, pikirnya.

Tiga hari sudah Johnny menghabiskan waktunya di rumah keluarga Son. Wendy mengajaknya bepergian kemana-mana, entah itu pergi ke pusat kota atau hanya sekedar menonton film bersama. Saat mengetahui Wendy lebih tua satu tahun darinya, Johnny berniat memanggilnya noona hanya saja Wendy menolak mentah-mentah keinginan Johnny.

"Come on man, this is America. Kau tak perlu seformal itu." Jawab Wendy saat tahu Johnny memanggilnya noona.

Dari pertemanan singkat mereka, Johnny jadi mengerti Wendy adalah sosok wanita yang begitu cerdas dengan pendirian yang sangat kuat. Johnny merasa Wendy telah memikirkan masa depannya begitu matang, seolah-olah ia tahu kerikil seperti apa yang akan menghalangi jalannya. Untuk pertama kalinya Johnny merasa hatinya menghangat tiap kali berbicara dengan Wendy dan untuk pertama kalinya pula pria dingin bermarga Seo itu mengerti apa artinya cinta saat manik tajamnya bertemu dengan manik indah Wendy. Dan di malam itu Johnny memberikan ciuman pertamanya pada Wendy di tengah suasana carnival yang ramai, Wendy tentu saja terkejut bukan main namun tak ada yang mampu ia lakukan selain tetap diam dan membalas lumatan bibir Johnny secara perlahan. Sejak hari itu mereka berdua menjadi semakin akrab, tak lagi ada benteng kecanggungan antara keduanya sekalipun Johnny telah merampas ciuman pertama Wendy secara tiba-tiba. Setelah seminggu menghabiskan waktunya di rumah keluarga Son, Johnny memutuskan untuk kembali ke Boston karena ia telah memiliki janji dengan kedua sahabatnya untuk melakukan summer trip bersama.

Sekalipun terpisah cukup jauh, hubungan Johnny dan Wendy malah semakin terjalin cukup akrab. Hampir setiap hari mereka melakukan facetime entah itu untuk menanyakan mata kuliah atau sekedar basa-basi antara dua insan muda yang sedang dimabuk asmara. Setelah cukup lama berteman, Johnny semakin tersadar jika ia dan Wendy memiliki sifat yang mirip satu sama lain, bagaimana mood wanita itu dapat berubah tiba-tiba, atau seberapa keras kepalanya ia, Johnny telah mengerti segala hal tentang Wendy. Hari ini adalah hari kelulusan Wendy, Johnny menyempatkan waktunya untuk terbang ke Chicago dan menghampiri wanita itu padahal jika diingat besok ia memiliki jadwal ujian dengan Profesor Walter yang terkenal garang di jurusannya. Johnny nampak tak peduli sama sekali, yang penting ia dapat bertemu dengan Wendy hari itu.

Setelah lulus dari Southwestern University Wendy memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Harvard Business School, Johnny senang bukan main saat mengetahui kabar tersebut. Pria dingin itu mempersiapkan segala kebutuhan Wendy di Boston, bahkan ia rela memanfaatkan akhir pekannya mencari unit apartemen yang cocok untuk Wendy. Di tahun terakhir perkuliahannya, Johnny memutuskan untuk berkencan dengan Wendy. Tentu saja wanita itu menerimanya, lagi pula ia memang telah menyukai Johnny sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua nampak seperti pasangan serasi, saling melengkapi satu sama lain dan fokus dengan tujuan mereka. Yuta dan Jaehyun bahkan terlihat kesal saat Johnny sering tersenyum tidak jelas ketika memandang ponsel miliknya. Sepertinya kekuatan cinta memang benar adanya.

Tiga tahun sudah Johnny berhubungan dengan Wendy, Johnny baru saja menyelesaikan sekolah pascasarjananya, sedangkan Wendy telah bekerja di perusahaan milik keluarganya sejak setahun yang lalu. Kehadiran Wendy di perusahaan cukup membawa dampak positif, semua orang seolah terhipnotis dengan pemikiran cerdas wanita itu. Tiba-tiba hal yang tak pernah Johnny sangka menghampiri kehidupannya, malam itu Wendy datang ke apartemennya dan membicarakan hal yang cukup serius.

"Aku telah berselingkuh di belakangmu sejak setahun ini John." Ucap Wendy setelah menyesap coklat panas miliknya. Bagai disambar petir di siang bolong Johnny nampak terpaku beberapa detik mendengar perkataan Wendy.

"Dengan siapa?" Tanyanya singkat.

"Partner bisnisku." Jawab Wendy sedikit ragu. Johnny terdiam cukup lama dan tak berniat mengatakan apapun, mata tajamnya menatap lekat ke arah Wendy yang berada di hadapannya.

"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Johnny.

"Aku tak bisa jauh darimu John, maksudku apa yang bisa kuharapkan dari mahasiswa sepertimu." Ucap Wendy mantap, bahkan ia tak segan menatap manik tajam milik Johnny. Pria itu mendengus sebal, tak habis pikir dengan perkataan kekasihnya. Jadi apa maksudnya segala hal yang telah mereka berdua lakukan selama ini.

"Maafkan aku John, aku tahu kau kecewa padaku." Ucap Wendy kemudian bangkit berdiri meninggalkan Johnny dengan segala rasa sakit hatinya.

Keesokan harinya Johnny memutuskan untuk kembali ke Korea dengan perasaan yang menyesakkan dada. Baru beberapa tahun lalu ia merasa jadi manusia paling bahagia, namun hari ini rasanya ia menjadi manusia yang rapuh, serapuh-rapuhnya.

Kepulangan Johnny ke Korea disambut baik oleh keluarganya, tentu saja mereka sudah rindu dengan si bungsu yang telah pergi enam tahun lamanya. Beberapa bulan di Korea, tuan Seo memutuskan untuk menjadikan Johnny sebagai CEO di perusahaan miliknya. Tuan Seo nampak terkagum-kagum dengan perusahaan yang berkembang begitu pesat setelah berada di bawah kepemimpinan Johnny. Namun ada satu sikap Johnny yang terasa mengganjal bagi orang tuanya, putra bungsu mereka sering mengunjungi klub malam, pulang dalam keadaan mabuk, dan terkadang kerah kemejanya penuh dengan noda lipstik wanita. Semua itu Johnny lakukan untuk menyembuhkan luka di hatinya yang masih terasa menyesakkan hingga saat ini. Tuan dan nyonya Seo nampak bertanya-tanya apa saja yang telah dilakukan anak mereka di Amerika sampai-sampai bisa seberani ini saat pulang ke Korea. Malam itu adalah puncak kekesalan tuan Seo, darahnya mendidih saat mendapati Johnny pulang dalam keadaan mabuk dan diantarkan oleh seorang wanita dengan penampilan tak kalah berantakannya. Tuan Seo menampar Johnny cukup keras sampai putranya itu tersungkur ke lantai, nyonya Seo tentu saja tidak tega melihat perlakuan suaminya kepada anaknya itu. Ia menatap nyalang ke arah suaminya dan memerintahkan para maid untuk membawa Johnny ke kamarnya.

Perubahan sikap Johnny yang tiba-tiba membuat nyonya Seo menjadi frustasi. Ia sering mengunjungi gereja di salah satu panti asuhan yang dikelola oleh sahabatnya. Wanita paruh baya itu sering menghabiskan waktunya di panti asuhan dan bermain bersama anak-anak di sana. Atensi nyonya Seo tak pernah teralihkan dari sosok wanita mungil yang selalu bermain dengan anak-anak panti setiap sore hari. Nyonya Seo memutuskan untuk bertanya pada suster Kang tentang sosok wanita cantik yang selalu dilihatnya itu. Setelah itu ia mengerti wanita itu bernama Ten Lee, mahasiswa tingkat akhir di Seoul University. Otak cerdas milik wanita itu membawanya mendapatkan beasiswa penuh untuk memperoleh gelar sarjana di universitas bergengsi tersebut. Nyonya Seo semakin terkagum-kagum dengan Ten tiap kali ia mendengar cerita baru dari suster Kang. Dalam hati ia bermonolog, akan sangat indah jika Johnny memiliki istri seperti wanita itu.

Present

"Uhuk…." Ten tersedak minumannya saat tahu nyonya Seo sudah memantaunya sejak lama. Seohyun hanya terkekeh dan mengelus lembut punggung Ten dengan sebelah tangannya yang bebas.

"Jadi sekalipun Johnny itu dingin, keras kepala, dan sedikit susah diatur aku harap kau mau bersabar menghadapi tingkah adikku itu." Monolog Seohyun. Ten hanya tersenyum dan tak membalas perkataan kakak iparnya itu.

"Bagaimana dengan Wendy?" Tanya Ten tiba-tiba.

"Sejak kepulangan Johnny dari Amerika kurasa keluargaku sudah lama sekali tidak melakukan kontak dengan keluarga Son. Kudengar dari Kyuhyun oppa, Wendy telah menikah setahun yang lalu." Ucap Seohyun.

Kelegaan nampak terpancar jelas di wajah Ten. Entah kenapa ia merasa senang saat tahu Wendy telah menikah. Bukankah itu artinya kemungkinan Johnny untuk kembali padanya menjadi sangat kecil. Apa yang kau pikirkan Ten, monolognya dalam hati. Rasanya tak sia-sia sejak berjam-jam yang lalu kakak iparnya bercerita tentang Johnny, mungkin setelah ini Ten akan berusaha memahami Johnny dengan segala sifat buruknya itu.