10. Johnny Sajangnim

Setelah tiga hari menghabiskan waktu di rumah keluarga Seo, siang ini Ten dan Johnny memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Kepulangan mereka diwarnai dengan Woojin yang penuh drama, anak laki-laki itu menangis seharian dan tak mau lepas dari Ten namun dengan segala tipu daya antara Seohyun dan Ten akhirnya anak laki-laki itu melepas kepergian Ten dan Johnny sekalipun masih sesegukan akibat tangisannya yang kunjung berhenti. Ten menyusul Johnny untuk masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian mobil mewah itu mulai terlihat menjauh dari pekarangan luas rumah keluarga Seo.

Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan apapun antara mereka berdua. Johnny memfokuskan pandangannya pada jalanan yang terlihat cukup lengang, sedangkan Ten menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi Kota Seoul.

"Eomma dan appa membelikanmu mobil, kurasa sudah ada di garasi rumah." Ucap Johnny membuka pembicaraan. Ten membelalakkan matanya dan menatap tidak percaya ke arah Johnny. Ten rasa di kehidupan sebelumnya ia pernah menolong satu dunia, itulah mengapa di kehidupan yang sekarang dia dipertemukan dengan keluarga Seo yang luar biasa baiknya.

"Kau bisa pakai itu ke kantor." Ucap Johnny.

"Sebenarnya aku tidak tahu caranya mengendarai mobil." Cicit Ten. Johnny menatap tak percaya ke arah Ten, ternyata masih ada di jaman sekarang orang dewasa yang tidak bisa mengendarai mobil. Ten mendengus sebal seolah mengerti maksud tatapan Johnny, benar-benar pria dingin yang suka sekali meremehkan orang lain, pikirnya.

"Kau bisa ikut kursus mengemudi. Bukankah akan sangat merepotkan pergi kemana-mana naik kendaraan umum setiap hari." Ucap Johnny. Jika dipikir-pikir perkataan Johnny memang ada benarnya, bukankah itu artinya Ten bisa menyisihkan sebagian gajinya untuk ditabung atau diberikan pada suster Kang.

"Baiklah nanti akan kucoba cari tempatnya. Terima kasih John." Ucap Ten.

"Bukan aku yang membelikannya untukmu, untuk apa berterima kasih padaku." Balas Johnny.

Setelah sampai di rumah Ten dan Johnny kembali masuk ke kamar mereka masing-masing. Mereka mulai sibuk dengan aktivitasnya dan berusaha untuk tidak saling peduli satu sama lain. Ten terlihat tengah berbaring di kasurnya, ia nampak tengah memainkan ponselnya mencari tempat kursus mengemudi agar mobil yang dibelikan oleh mertuanya dapat segera digunakan. Sebelumnya Ten telah menghubungi ibu mertuanya dan mengucapkan terima kasih pada wanita paruh baya itu, Ten hampir saja menangis jika nyonya Seo tak menghiburnya dengan kata-kata penyemangat. Rasanya Ten berpikir ia tak perlu lagi mencari siapa ibu kandungnya, lagi pula keberadaan nyonya Seo sudah lebih dari cukup untuknya.

Saat malam menjelang Ten keluar dari kamarnya karena perutnya yang telah berbunyi sejak tadi. Ia memutuskan untuk memasak ramyeon demi menuntaskan rasa laparnya. Saat tengah menunggu ramyeon miliknya matang tiba-tiba saja Johnny nampak turun dari arah tangga dengan pakaian yang sangat rapi.

"Kau mau kemana John?" Tanya Ten hati-hati.

"Bukan urusanmu." Balas Johnny terkesan angkuh dan dingin.

"Aku kan hanya bertanya." Cicit Ten pelan saat Johnny mulai menjauh darinya.

Tak lama ramyeon miliknya matang, ia mulai menyantapnya dengan semangat. Ten tak akan peduli jika keesokan harinya pipinya bengkak, yang penting malam ini ia bisa menikmati ramyeon kesukaannya. Setelah selesai Ten mencuci peralatan makannya dan memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia harus segera membersihkan diri karena hari sudah semakin malam. Setelah selesai mandi Ten lekas berbaring di kasur miliknya, memainkan ponselnya dan menonton beberapa video yang mampu menambah rasa kantuknya. Jujur saja Ten sudah bingung, rasanya ia telah melakukan banyak hal seharian ini namun entah mengapa rasa kantuk belum juga menghinggapinya. Tak berselang lama mata indah itu mulai memberat dan perlahan ikut terpejam, baiklah Ten meninggalkan ponselnya yang masih dalam keadaan menyala.

Tidur Ten nampak tak tenang, tiba-tiba saja ia terbangun karena suara gaduh yang terasa sangat dekat dengan telinganya. Setelah mencoba membuka mata Ten baru tersadar jika ponselnya masih menyala. Dengan cepat wanita cantik itu mematikannya dan mengisi daya ponselnya di penjuru ruangan, lebih tepatnya di atas meja rias yang biasa digunakan. Tiba-tiba saja Ten merasa sangat kehausan, dengan langkah gontai ia mulai berjalan menuju dapur, namun Ten sempat terkejut saat menemukan Johnny yang sedang duduk di kursi meja makan seraya menikmati sekaleng bir yang ada di tangannya. Ten berjalan menuju kulkas tanpa menghiraukan Johnny yang nampak menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja bau menusuk hinggap di hidung bangir Ten, ia nampak mengendus seluruh tubuhnya, tak ada yang salah, pikirnya. Tak lama ia mendekat ke arah Johnny dan mulai mengendus tubuh tegap pria itu dari belakang, dugaan Ten benar, bau alkohol menyeruak dari tubuh Johnny. Ten juga nampak prihatin dengan kondisi Johnny yang terlihat begitu kacau, sangat berbeda jauh saat ia berangkat malam tadi.

"Kau baru sampai John." Ucap Ten membuka pembicaraan, ia nampak mulai duduk di hadapan Johnny. Pria tinggi itu mendongak untuk menatap Ten, tak ada jawaban apapun yang Ten dapatkan, hanya gumaman tak berarti yang meluncur halus dari bibir Johnny.

"Sepertinya kau minum banyak, tapi kau belum mabuk. Hebat sekali." Ucap Ten lagi, sepertinya wanita cantik itu masih berusaha keras agar Johnny mau membuka mulutnya.

"Toleransi alkoholku tinggi." Balas Johnny singkat, bahkan ia tidak mau repot-repot hanya sekedar memandang wajah Ten yang tepat berada di hadapannya. Johnny kembali menyesap bir yang ia pegang, tiba-tiba saja gerakannya terhenti saat sebuah tangan lembut nampak menahannya.

"Hummm…. Jangan dilanjutkan, kau bisa sakit jika terlalu banyak minum alkohol." Ucap Ten berusaha menarik bir dari tangan Johnny. Si pria tampan nampak menghempaskan tangan Ten cukup kasar, seraya mendengus sebal. Ia nampak bangkit dari duduknya dan bersiap meninggalkan Ten sendirian.

"Kau…. Bukankah masih ingat isi perjanjiannya. Rasa khawatirmu itu terlalu berlebihan Ten." Ucap Johnny, setelah itu ia mulai berjalan menjauhi Ten.

"John, kita ini suami istri- ah maksudku sekalipun kau tidak menyukaiku, kau bisa tetap menceritakan semua keluh kesahmu padaku, kita bisa berbagi beban." Ucap Ten sedikit pelan. Johnny nampak menghentikan langkah kakinya, kemudian menoleh ke arah Ten. Ia mendengus sebal ke arah Ten dan kembali melaju ke kamarnya di lantai dua. Astaga benar-benar tak berperasaan, pikir Ten. Setelah selesai dengan air mineral miliknya Ten kembali masuk ke kamar dan berniat melanjutkan tidurnya. Untung saja besok mereka berdua sudah mulai kembali bekerja setidaknya mereka akan jarang bertemu satu sama lain.

Pagi hari mulai datang, Ten kembali terbangun karena suara alarm yang berada jauh dari jangkauannya. Dengan malas Ten terbangun dan menyambar ponselnya. Setelah itu ia ke kamar mandi dan mencuci wajahnya supaya nyawanya lebih mudah terkumpul. Ten berniat ke dapur untuk memasak sarapan, setidaknya sekalipun sedingin es dan suka bersikap semaunya Johnny masih mau menyantap makanannya. Ten memutuskan untuk membuat sandwich untuknya dan Johnny, setelah selesai ia kembali masuk ke kamar dan berniat untuk mandi. Ten nampak keluar dari kamar dengan pakaian yang jauh lebih rapi dari sebelumnya. Ia mengenakan blazer berwarna biru muda dilengkapi dengan celana panjang yang berwarna senada. Rambut hitamnya yang hanya sebatas bahu dibiarkan tergerai indah yang membuatnya bergerak bebas tak tentu arah. Tak berapa lama Johnny terlihat turun dari lantai dua, seperti biasa ia selalu terlihat menawan dengan setelan jas yang membungkus rapi tubuh kekarnya. Ia berjalan mendekati meja makan dan mulai duduk di hadapan setangkup sandwich yang terlihat begitu menggoda. Johnny adalah orang yang paling tidak bisa melewatkan sarapan, itulah sebabnya mengapa di perjanjian pernikahan antara dirinya dan Ten, Johnny tetap mewajibkan wanita itu memasakkan makanan untuknya.

"Jus atau kopi?" Tanya Ten yang masih sibuk menyingsing lengan blazernya sebatas bahu.

"Latte." Jawab Johnny singkat, ia mulai menyantap sandwich buatan Ten, jujur saja rasanya jauh lebih enak dibandingkan yang biasanya ia makan. Ten kembali ke meja makan dengan dua cangkir latte yang ada di tangannya. Ia memberikan satu cangkir untuk Johnny dan setelah itu Ten kembali duduk untuk menikmati sarapannya.

"Kau akan naik bus?" Tanya Johnny, setelah selesai mengunyah suapan sandwich miliknya.

"Sepertinya akan menelepon taxi, aku tak akan sanggup berjalan sampai depan komplek megah ini." Balas Ten. Benar saja komplek tempat Ten dan Johnny tinggal bukanlah komplek sembarangan, fasilitas mewah melimpah ruah di dalamnya. Hanya saja jarak dari gerbang utama ke rumah-rumah begitu jauh, rasanya Ten bisa pingsan saat sampai halte nanti.

"Kuantar ke halte sampai kau bisa mengendarai mobil sendiri." Ucap Johnny. Ten yang duduk di hadapannya nampak terkejut dan mata kecilnya berbinar-binar indah.

"Wah terima kasih John." Balas Ten semangat.

Setelah selesai dengan sarapan mereka, sepasang suami istri itu mulai bergegas pergi ke kantor. Sesuai janji Johnny tadi, ia akan mengantarkan wanita itu sampai halte kemudian membiarkan Ten berangkat ke kantor menggunakan bus. Ten nampak berterima kasih pada Johnny yang telah mengantarkannya sampai ke halte depan komplek mereka. Setelah mobil hitam Johnny menghilang dari pandangannya, wanita itu mulai duduk di halte dan menunggu bus yang akan membawanya pergi ke kantor.

Ten bergegas menuju ke ruangan tim marketing begitu sampai di kantor, di lobby ia sempat bertemu Johnny yang berjalan bersisian dengan Doyeon sekretarisnya. Johnny sama sekali tak menatap ke arahnya, ia tetap berjalan lurus ke depan tanpa mempedulikan eksistensi Ten yang berada tak jauh darinya. Ten juga tak mau ambil pusing, rasanya memang lebih enak seperti ini, mereka berdua telah menikah dan tak ada satupun orang di perusahaan yang mengetahui kabar tersebut. Sesampainya di ruangan Ten disambut dengan berbagai pertanyaan dari rekan satu timnya, pasalnya mereka sedikit keheranan Ten yang merupakan karyawan paling rajin di divisi mereka tiba-tiba saja memutuskan untuk mengambil cuti selama tiga hari lamanya dengan alasan yang tak mereka ketahui. Sepertinya hanya Mingyu sang manajer yang tahu alasan Ten mengambil cuti, itupun alasan kebohongan yang Ten sampaikan padanya.

"Ten-ah aku merindukanmu, kau tahu rasanya tiga hari hanya makan berdua dengan Dokyeom. Telingaku rasanya begitu berdenyut." Ucap Irene seraya menerjang tubuh ramping rekan kerjanya itu.

"Aish noona kau berlebihan, memangnya aku seberisik itu?" Tanya Dokyeom yang terlihat kesal setelah mendengar perkataan Irene. Ten hanya terkekeh mendengar perdebatan dua rekan kerjanya itu, sejujurnya ia juga sudah sangat merindukan kedua temannya itu setelah tiga hari kemarin hanya mampu melihat Johnny seharian.

Para karyawan mulai fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing begitu pula dengan Ten, ia mulai menyalakan komputer yang ada di mejanya kemudian menyapa berkas-berkas yang menumpuk dan sudah meminta untuk dicium oleh wanita cantik itu. Tiba-tiba saja suara ruangan menjadi gaduh, seluruh karyawan bangkit berdiri dan membungkukkan sedikit tubuh mereka. Ternyata itu Johnny, ia terlihat masuk ke ruangan Mingyu dengan muka yang sedikit masam bahkan Ten sempat bergidik saking ngerinya melihat wajah suaminya itu. Begitu Johnny memasuki ruangan, Mingyu bergegas merendahkan horizontal blind yang ada di ruangannya supaya para karyawan tidak melirik kesana kemari karena penasaran.

"Sepertinya sajangnim akan marah-marah di dalam." Ucap Dokyeom begitu melihat gelagat Mingyu yang tiba-tiba.

"Poor uri bujangnim." Sahut karyawan lain yang nampak sedang memfotokopi berkas miliknya.

Pertemuan antara dua petinggi itu berlangsung cukup lama, bahkan sampai waktu istirahat tiba baik Johnny ataupun Mingyu belum ada yang berniat meninggalkan ruangan. Ten dan rekan kerja yang lain bergegas pergi ke kantin karena jujur saja cacing-cacing di perut mereka tidak lagi bisa diajak berkompromi. Ten dan kedua rekan sejawatnya memilih duduk di dekat jendela supaya dapat melihat bunga mawar yang mulai bermekaran di pekarangan perusahaan. Mereka makan dengan nikmat dan sesekali bercanda serta saling meledek satu sama lain.

"Kalian tahu tidak, ternyata sajangnim dan Doyeon bukan sepasang kekasih seperti yang kita pikirkan beberapa bulan lalu." Ucap Dokyeom membuka pembicaraan.

"Aku sih sudah curiga sejak lama, lagipula sorot mata sajangnim sama sekali tidak mengatakan jika ia mencintai Doyeon yang semena-mena itu." Balas Irene. Jujur saja Ten sedikit terkejut mendengar penuturan Irene.

"Maksudnya semena-mena bagaimana, eonni?" Tanya Ten.

"Kau pasti akan tertawa Ten jika mendengar ceritanya haha…." Jawab Dokyeom yang mulai tertawa, jujur saja itu semakin membuat Ten bingung.

"Jadi saat kau cuti, sajangnim juga tidak masuk kantor selama tiga hari berturut-turut. Kau tau bujangnim menyuruhku mengantarkan berkas penting ke ruangan sajangnim. Sampai sana aku malah dimaki-maki oleh Doyeon saat menanyakan kenapa sajangnim tak masuk kantor. Mungkin dia pikir aku akan merebut sajangnim darinya." Ucap Irene seraya mendengus sebal.

"Seandainya kau melihat wajah frustasi Irene noona saat itu Ten, dia jadi bahan tertawaan seluruh anggota tim." Ucap Dokyeom seraya terkekeh. Ten hanya tersenyum simpul mendengar pembicaraan kedua rekan kerjanya itu, untung saja mereka berdua tak menaruh curiga saat Ten dan Johnny tak masuk kantor di hari yang sama.

"Jadi desas-desus mengatakan jika Doyeon memang mengejar sajangnim sejak lama, hanya saja sajangnim tidak pernah peduli dengan perasaan Doyeon." Ucap Irene, tanpa sadar wanita cantik itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan membuat gestur seperti berbisik.

"Tapi ku dengar mereka pernah kepergok sedang berciuman di bar oleh Junmyeon bujangnim." Ucap Dokyeom yang terlihat mulai tertarik dengan bahan obrolan mereka.

"Itu beberapa bulan yang lalu, setelah kejadian itu Doyeon jadi merasa sajangnim adalah miliknya. Padahal bisa saja itu adalah hal biasa bagi sajangnim, kudengar dia dulu berkuliah di Amerika, bukankah berciuman adalah hal yang lumrah di sana." Ucap Irene. Dokyeom terlihat mengangguk sedangkan Ten tampak termenung setelah mendengar ucapan Irene, jadi itulah sebabnya mengapa saat Ten dan Johnny bertengkar beberapa bulan lalu ia bilang tidak akan pernah bisa menikahi Doyeon. Jadi itu hanya one night stand, pikir Ten.

"Ngomong-ngomong Ten, cincin itu bagus." Ucap Irene yang mengalihkan pandangan matanya pada cincin berlian yang tersemat di jari tengah Ten.

"Woah…. Jangan bilang beberapa hari lalu kau menikah." Ucap Dokyeom tiba-tiba. Sontak saja Ten langsung tersedak begitu mendengar penuturan Dokyeom, astaga kenapa tebakannya tepat sekali.

"Hush mulutmu itu, mana mungkin Ten menikah tapi tak mengundang kita." Balas Irene menanggapi perkataan Dokyeom.

"Ah ini investasi jangka panjang." Ucap Ten seraya terkekeh.

"Jadi kau sekarang sudah paham caranya pamer ya Ten Lee." Goda Dokyeom seraya tersenyum jahil. Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama kemudian kembali melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda karena gosip tentang Johnny yang rasanya lebih menarik daripada para selebriti di luar sana.

Setelah selesai dengan acara makan siang, mereka bertiga kembali ke ruangan. Saat sampai di ambang pintu kaca kaca pembatas antara lorong dan ruangan mereka tiba-tiba saja Mingyu nampak keluar dari ruangannya. Penampilannya sedikit berantakan, dasinya terlihat longgar dan rambutnya seperti tidak tertata. Ten dan dua rekannya tampak terkejut dengan penampilan Mingyu yang tidak seperti biasanya, sepertinya benar dugaan Dokyeom tadi yang mengatakan Mingyu dimarahi oleh sajangnim.

"Ah kalian bertiga, setelah ini ikut aku rapat dengan tim R&D." Ucap Mingyu seraya menunjuk ke arah Ten, Irene, dan Dokyeom.

"Baik bujangnim." Ucap mereka serempak.

"Sepertinya bujangnim benar-benar dimarahi oleh sajangnim." Ucap Irene membuka pembicaraan saat Mingyu mulai menghilang dari ruangan tim marketing.

"Dugaanku memang tak pernah meleset." Ucap Dokyeom bangga.

Beberapa menit kemudian Mingyu nampak kembali ke ruangan dan mengajak tiga pegawainya untuk mengikutinya. Dan disinilah mereka sekarang, di sebuah ruangan cukup besar yang dilengkapi dengan proyektor di tengah-tengah. Di sana sudah ada Chanyeol bujangnim, pimpinan tim R&D beserta tiga anak buahnya. Tak lama kemudian Johnny nampak memasuki ruangan dengan penampilan yang tak kalah kacau dari Mingyu. Dasi yang saat di rumah bertengger indah di leher jenjangnya telah terlepas begitu saja dan membiarkan kancing teratas kemejanya terbuka. Sepertinya ada yang tidak beres, pikir Ten.

Rapat dibuka dengan pemaparan dari Junmyeon bujangnim selaku manajer keuangan yang datang bersamaan dengan Johnny sebelumnya. Yang berhasil Ten tangkap saat mendengar presentasi dari manager tampan itu, intinya produk baru yang dikeluarkan oleh perusahaan mereka nampak gagal di pasaran. Jadi rapat ini dilakukan untuk mengevaluasi segala kekurangan yang ada. Dari hasil rapat selama berjam-jam akhirnya diputuskan jika tim R&D akan mengevaluasi ulang produk kopi yang baru saja dikeluarkan oleh perusahaan mereka sedangkan tim marketing akan memikirkan campaign yang tepat untuk pemasaran produk, serta jangan lupakan tentang Mingyu yang nampak mendengus sebal karena harus berbicara dengan tim desain untuk mengevaluasi kemasan produk. Jika begini kenapa sejak tadi tak mengundang tim desain juga, buat repot saja, mungkin itu yang dipikirkan Mingyu saat ini.

Rapat selesai tepat jam empat sore, masih ada waktu satu jam sebelum pulang kantor. Mingyu kembali menyeret ketiga pegawainya ke ruangannya dan membahas mengenai strategi marketing yang akan mereka gunakan.

"Jadi apa kalian bertiga punya ide?" Tanya Mingyu, iya nampak mengerang frustasi dan menjambak rambutnya, mungkin kepalanya berdenyut, pikir Ten.

"Bagaimana jika kita gunakan aktor atau idol yang sedang naik daun sebagai model iklan." Usul Dokyeom. Mingyu menegakkan tubuhnya mendengar pemikiran cemerlang pegawainya.

"Ide bagus. Bukankah produk kita memang sasarannya para anak muda, sepertinya itu akan berpengaruh." Ucap Irene membenarkan perkataan Dokyeom.

"Baiklah, Ten mulai besok coba kau buat daftar selebriti berimage baik dan sedang terkenal." Ucap Mingyu seraya menunjuk Ten. Yang ditunjuk hanya mengangguk dan mulai menulis perkataan Mingyu di buku kecil miliknya.

"Dokyeom dan Irene besok kalian temui tim desain dan bicarakan soal kemasan produk. Aku malas sekali jika harus bertemu dengan Doyoung yang berisik itu." Ucap Mingyu. Bukan rahasia lagi memang jika Mingyu dan Doyoung ibarat tom and jerry di Seo Corp, ide-ide mereka selalu berseberangan padahal tim yang mereka pimpin berhubungan sangat erat. Dokyeom dan Irene mengangguk setelah itu rapat selesai dan Mingyu mempersilahkan ketiganya untuk pulang.

Ten, Irene, dan Dokyeom berpisah di lobby perusahaan untuk menuju rumah mereka masing-masing. Ten beberapa kali mengecek ponselnya, seperti menunggu seseorang untuk menghubunginya. Ah mungkin dia lupa, pikir Ten. Wanita cantik itu mulai berjalan ke arah halte bus dan tak lama kemudian ia mulai menaiki bus yang akan membawanya kembali ulang. Di tengah perjalanan tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, Ten terlihat panik mengecek ke bagian dalam tasnya. Bibir tipisnya terlihat mencebik saat tak mendapati paying kesayangannya di dalam sana. Beberapa menit kemudian bus berhenti tepat di halte komplek tempat tinggal Ten. Wanita itu menggunakan tas nya sebagai pelindung kepala, sungguh malang nasibmu Ten, pikirnya. Ten duduk di halte dan kembali mengecek ponselnya ia berharap Johnny menghubunginya dan menanyakan keberadaannya, tapi sepertinya itu sangat tidak mungkin. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memandang ke arah langit yang terlihat menangis semakin deras dengan langit yang berwarna keabu-abuan, Ten menghembuskan napasnya malas dan mengutuk dirinya sendiri yang lupa membawa payung hari ini. Saat Ten sedang menatap kakinya yang terkena cipratan air hujan tiba-tiba saja sepatu pantofel yang Ten kenal tepat berada di hadapannya, Ten mendongak dan matanya bertemu pandang dengan Johnny yang berdiri di hadapannya menggenggam sebuah payung yang berukuran cukup besar.

"Apa tadi pagi aku tak mengatakan padamu jika kita bisa pulang bersama?" Tanya Johnny dengan suara yang sedikit kencang karena kilat mulai bergemuruh. Ten hanya mengangguk setelah mendengar pertanyaan Johnny.

"Mulai besok kita bisa pulang bersama, kau harus menungguku apapun yang terjadi." Ucap Johnny, akhirnya Ten bangkit berdiri dan ikut berlindung di bawah payung yang sama dengan Johnny. Mereka memasuki mobil dan kembali melaju menuju rumah.

"Terima kasih John." Ucap Ten seraya memandang ke arah Johnny.

"Tak perlu." Balas Johnny singkat, mungkin ia tidak sadar jika Ten memperhatikannya sejak tadi.

Sebenarnya Johnny adalah sosok pria idaman untuk semua wanita, dia kaya, tampan, pekerja keras, tubuhnya kekar, hanya saja satu kekurangannya yang seolah menutupi beribu kebaikannya, dia begitu dingin, bahkan rasanya salju-salju lemari es kalah dingin dengan sikap Johnny. Ten masih ingat dengan jelas betapa bijaknya Johnny saat memimpin rapat tadi, betapa hebatnya dia dalam mengatasi semua permasalahan perusahaan, rasanya Ten semakin menyukai Johnny walaupun wanita itu tahu jika Johnny tak akan pernah menyukai nya.

Setelah sampai di rumah Ten bergegas mandi karena takut terkena flu setelah terkena hujan beberapa menit yang lalu. Selesai mandi Ten berjalan ke dapur, ia membuka kulkas dan memikirkan makanan yang enak disantap saat hujan seperti saat ini. Ten memutuskan untuk membuat sup ayam setelah melihat persediaan ayamnya yang cukup menggoda di freezer kulkas. Beberapa menit sibuk dengan masakannya tak terasa dapur kecil itu telah dipenuhi dengan aroma sup ayam yang begitu menggoda. Ten tersenyum cerah saat sup ayam kesukaannya matang, ia mulai mengambil mangkuk dan bersiap untuk memakannya. Johnny nampak baru saja keluar dari kamarnya, langkahnya yang berniat memasuki ruang kerjanya tiba-tiba saja terhenti saat hidung bangirnya mencium aroma yang begitu lezat. Johnny bergegas turun ke bawah dan ia mendapati Ten dengan mangkuk yang nampak mengepul di hadapannya. Wanita itu terlihat sangat ceria saat sedang makan, pikir Johnny. Ten mendongakkan kepalanya, jujur saja sejak tadi ia merasa Johnny sedang memperhatikannya.

"Ah kau mau coba, aku masak sup ayam barusan." Ucap Ten tersenyum cerah. Johnny nampak mengangguk ragu dan mulai duduk di hadapan Ten. Tak berapa lama kemudian Ten datang dengan semangkuk sup ayam dan semangkuk nasi serta beberapa makanan lain yang sekiranya akan Johnny santap. Pria tampan itu mulai mencicipi masakan Ten dan entah untuk yang keberapa kalinya, lagi-lagi ia begitu menyukai masakan Ten. Setidaknya ada satu hal yang dapat Johnny syukuri dari perjodohan ini, pikirnya. Suasana di ruang makan tampak hening, hanya ada suara sendok yang saling beradu atau suara kenikmatan dari dua sejoli yang sedang menikmati sup ayam. Entah mereka berdua terlalu fokus menyantap makanannya atau memang tidak berniat berbicara satu sama lain. Ten selesai lebih dulu ia menaruh piring bekas makanannya di wastafel dan mulai bergerak menjauhi Johnny yang masih sibuk dengan makanannya.

"Kalau sudah selesai taruh saja di sana nanti aku yang cuci." Ucap Ten di hadapan Johnny. Pria itu hanya mengangguk dan terlihat masih sibuk dengan makanannya. Ten tersenyum sekilas saat memandang Johnny yang terlihat seperti anak kecil yang kelaparan, menggemaskan sekali, pikir Ten.