12. An Incident
Hari ini Ten nampak pulang larut karena baru saja pergi bersama teman-teman tim nya untuk makan malam. Saat sampai di ambang pintu dan bersiap untuk membukanya tiba-tiba saja pintu itu ditarik dari belakang, Ten tampak terkejut saat melihat Johnny yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang begitu rapi dan tubuh yang harum semerbak seolah-olah mampu menggoda semua wanita untuk menempel padanya. Johnny nampak memandang Ten yang baru saja tiba, bajunya sedikit berantakan dan bau asap, jelas saja wanita cantik itu menyempatkan diri untuk memakan daging bersama teman-temannya.
"John maafkan aku, kau pasti belum makan malam. Setelah ini akan kubuatkan." Ucap Ten seraya mendongak menatap wajah tampan Johnny.
"Tidak perlu, aku akan keluar. Kau menghalangi jalanku Ten." Ucap Johnny dingin. Dengan canggung Ten menggeser tubuh mungilnya dan membuka jalan untuk Johnny. Pria tampan itu segera berlalu dari hadapan Ten tanpa mempedulikan tatapan Ten yang penuh dengan rasa bersalah.
"John, jangan terlalu mabuk. Tak baik untuk kesehatanmu." Teriak Ten saat Johnny hendak memasuki mobilnya. Johnny tak memperdulikan teriakan Ten dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat yang sering dikunjungi belakangan ini.
Setelah enam bulan menikah Ten mulai paham kemana Johnny akan pergi tiap malam. Ten mulai menebak setelah beberapa kali Johnny pulang dengan bau alkohol yang menguar dari tubuh tegapnya. Wanita cantik itu jadi teringat perkataan kakak iparnya beberapa bulan yang lalu, Johnny sering pergi ke klub malam karena masih merasa sakit hati atas perlakuan Wendy padanya beberapa tahun lalu. Ten mencoba mengerti, namun entah kenapa semakin lama ia merasa jarak antara dirinya dan Johnny makin membentang luas ibarat jembatan yang sangat sulit diseberangi karena kayunya sudah terlalu rapuh. Ten dan Johnny memang selalu menghabiskan waktu sarapan atau makan malam bersama, namun tak pernah ada pembicaraan yang berarti antara mereka berdua. Rasanya Ten ingin sekali berkeluh-kesah pada Seohyun namun ia begitu ragu dan tidak mau membebani kakak ipar cantiknya itu.
Ten masuk ke dalam rumah dan bergegas membersihkan diri, entah kenapa malam ini udara terasa begitu panas padahal AC nampak menyala. Ten memutuskan untuk menggunakan kaos oversize dan memadukannya dengan celana pendek berwarna senada. Selagi tidak ada Johnny, Ten bebas berpakaian, pikirnya.
Ten yang tengah tertidur lelap tiba-tiba saja terusik dengan gedoran pintu yang cukup memekakkan telinga. Wanita cantik itu berjalan sempoyongan menuju intercom dan melihat siapa yang datang, mata sipitnya membola saat melihat Johnny yang nampak tak sadarkan diri dipapah oleh seorang pria yang sepertinya pernah Ten lihat saat di acara pernikahannya.
"Ah Ten-ssi aku Yuta, maafkan aku membangunkanmu malam-malam begini. Si bodoh ini bahkan tidak ingat password door lock rumahnya." Ucap Yuta panjang lebar setelah Ten membuka pintu dan mempersilahkan pria itu masuk. Yuta bergegas naik ke lantai dua dan merebahkan Johnny di kasur empuknya.
"Yuta-ssi, apa Johnny oppa baru saja berkelahi?" Tanya Ten setelah cukup terkejut melihat darah yang nampak mengalir dari buku-buku jari kanan suaminya itu.
"Jangan seformal itu, kau bisa panggil aku oppa. Ah itu, si bodoh berkelahi dengan Jaehyun hanya karena masalah sepele." Ucap Yuta disertai senyuman yang sulit diartikan. Ten nampak menutup mulutnya saat mendengar perkataan Yuta, bahkan mendengar Johnny berkelahi saja sudah sebuah kejutan untuknya, lalu ini ternyata dia berkelahi dengan sahabatnya sendiri. Tak berapa lama kemudian Yuta berpamitan untuk pulang pada Ten. Wanita cantik itu mengantar Yuta sampai ke ambang pintu setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada pria Jepang itu.
"Ah iya Ten, terima kasih telah menerima temanku yang menyebalkan itu." Ucap Yuta sebelum mereka berpisah, Ten hanya tersenyum sekilas merasa tidak mengerti dengan maksud sahabat suaminya itu.
Ten masuk ke dalam kamar Johnny membawa beberapa obat untuk mengobati lukanya. Wanita itu duduk menggunakan kursi di sebelah kasur Johnny dan mulai mengobati tangan pria itu yang masih nampak mengeluarkan darah. Ten benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa Johnny berkelahi dengan sahabatnya sendiri. Setelah selesai mengobati lukanya, Ten melonggarkan dasi Johnny dan bersusah payah melepas kemeja pria tinggi itu. Johnny benar-benar terlihat damai dalam tidurnya, bahkan ia tidak terusik dengan Ten yang terus memutar tubuhnya kesana-kemari. Tangan Ten terulur mengelus kening Johnny, ia cukup terkesiap saat tahu kening suaminya begitu panas, dengan sigap Ten mengompres kening suaminya itu dan menunggu demamnya reda. Tidak bisakah kau lihat aku yang selalu ada disekitarmu, John. Tak bisakah kau mencoba untuk mencintaiku, ucap Ten dalam hati seraya memandangi wajah tampan Johnny.
Ten nampak tertidur dengan posisi duduk, kepalanya ia sandarkan di kasur Johnny. Tiba-tiba saja wanita itu terbangun karena seseorang nampak mengelus pipinya, dengan berat hati Ten berusaha membuka matanya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Johnny telah terduduk seraya memandangi wajahnya.
"Kau sudah bangun John?" Tanya Ten hati-hati. Yang ditanya hanya mengangguk sekilas dan menatap wajah Ten lekat.
"Kalau begitu aku akan pergi ke kamarku, maafkan aku tadi tanpa sengaja tertidur di sini." Ten bangkit dari duduknya dan berniat keluar dari kamar Johnny.
"Di sini saja Ten, temani aku tidur." Ucap Johnny seraya menggenggam sebelah tangan Ten. Jujur saja Ten bingung harus melakukan apa, pikirnya Johnny masih dalam pengaruh alkohol sehingga bicaranya tak seperti biasanya. Ten menatap Johnny lekat, mencoba mencari kebohongan dari sorot mata tajamnya, namun Ten tak menemukan apapun. Dengan ragu ia mulai naik ke kasur dan duduk di sebelah Johnny. Ten berpikir mungkin Johnny memang akan semanja ini jika sedang sakit. Jemari lentik Ten kembali terulur untuk meraba kening Johnny, tiba-tiba saja Johnny menahan tangannya dan beberapa detik kemudian pria tampan itu mulai meraup bibir tipis Ten. Ten sangat terkejut namun ia tak mampu melawan, berkali-kali ia berusaha menjauhkan Johnny darinya namun usahanya sia-sia dan ciuman mereka malah semakin dalam. Ten mulai membalas ciuman Johnny dan mereka berdua nampak terlarut dalam permainan kotor yang sudah seharusnya mereka lakukan sejak lama.
Ten seperti kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri, ia tak sadar jika sejak beberapa menit yang lalu Johnny sudah sepenuhnya menguasainya. Membuka seluruh pakaiannya sehingga tubuh putih milik Ten sepenuhnya terekspos hanya untuk pria itu. Malam itu kamar Johnny dipenuhi oleh desahan yang meluncur manis dari bibir Ten akibat sensasi yang diberikan oleh Johnny di setiap permainannya. Ten yang sepenuhnya dikuasai oleh Johnny malam ini mungkin baru akan tersadar tentang apa yang baru saja mereka lakukan keesokan harinya.
Pagi harinya Ten terbangun karena cahaya matahari yang menembus masuk melalui jendela kamar Johnny. Ten nampak mengerjapkan matanya beberapa kali dan berusaha mengumpulkan nyawanya. Begitu matanya terbuka alangkah terkejutnya ia saat mendapati Johnny tepat berada di hadapannya sedang memeluk tubuh rampingnya dan jangan lupakan Johnny yang bahkan tak memakai atasannya membiarkan tubuh tegapnya terekspos sempurna. Mata Ten sukses membola saat menyadari keadaannya lebih buruk dari Johnny, ia tak berpakaian sama sekali dan jangan lupakan bercak merah yang nampak memenuhi lehernya. Ten kembali mengingat kejadian semalam, semburat merah nampak muncul di pipinya kala mengingat kejadian beberapa jam yang lalu antara dirinya dan Johnny. Ten bergegas mengubah posisinya menjadi terduduk dan beberapa kali memukul kecil kepalanya. Sungguh memberikan tubuhnya pada orang yang tidak mencintainya adalah kejadian terbodoh yang pernah Ten lakukan. Ten membungkus dirinya dengan selimut dan bergegas meninggalkan Johnny yang nampak masih tertidur lelap, hati kecil Ten sebenarnya begitu khawatir mengingat Johnny yang semalam melakukannya bersama Ten dalam keadaan mabuk apakah ia akan mengingat detail kejadiannya saat pagi tiba. Ten menuruni tangga dengan perlahan, jangan lupakan sebelah tangannya yang membawa beberapa pakaiannya yang sudah tak karuan. Apa semalam ia dan Johnny memang sehebat itu, pikirnya.
Ten berendam cukup lama dalam bathtub pikirannya masih menerawang jauh entah kemana, yang jelas hati kecilnya benar-benar mengkhawatirkan kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan menghampirinya sebentar lagi. Setelah merasa pikirannya cukup tenang Ten nampak bangkit dan keluar dari kamar mandi, ia tengah memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Ten menatap tubuhnya yang terpantul di cermin, bercak-bercak merah yang semalam Johnny tinggalkan benar-benar mengganggunya. Dengan terpaksa Ten memilih untuk mengenakan turtleneck hari ini, ia tak peduli lagi meski akan kepanasan setengah mati yang penting semua berkas peninggalan Johnny mampu ia tutupi. Setelah selesai ia keluar dari kamarnya dengan tertatih, ayolah semalam adalah pengalaman pertama untuk Ten tentu saja ada luka yang tertinggal dari bekas penyatuan cintanya dan Johnny yang terjadi tanpa sengaja itu.
Setelah selesai dengan masakannya Ten kembali naik ke lantai atas dan berniat melihat kondisi Johnny. Wanita cantik itu nampak terkejut saat melihat Johnny tengah terduduk di tepi kasur seraya memijit pelipisnya yang berdenyut setelah mabuk semalam. Ten perlahan mendekatinya dan menanyakan kondisi pria yang baru saja merebut keperawanannya itu.
"Kau tak apa John?" Tanya Ten hati-hati. Johnny nampak mendongak untuk menatap wajah Ten yang entah kenapa terlihat begitu cantik hari ini. Pria tinggi itu hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan Ten.
"Setelah mandi jangan lupa turun kebawah. Aku sudah buat sarapan." Ucap Ten saat melihat Johnny mulai memasuki kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Johnny nampak keluar dari kamarnya dan menuju ke arah meja makan. Ia menjadikan tubuh tegapnya dan mulai menikmati setiap makanan yang tersaji di meja makan. Sesekali mata tajamnya nampak terpejam karena rasa sakit yang tiba-tiba mendera kepalanya. Jujur saja pria tampan itu juga nampak frustasi karena tak mampu mengingat kejadian yang ia alami semalam. Sorot tajam ia arahkan ke tangannya yang nampak ditempeli beberapa plester luka, dengan rasa penasaran ia memberanikan diri bertanya pada Ten tentang apa yang terjadi padanya semalam.
"Semalam aku kenapa?" Tanya Johnny menatap ke arah Ten yang tengah menyantap makanannya. Yang ditatap tentu saja bingung bukan main, entah jawaban seperti apa yang harus ia berikan pada pria dihadapannya ini.
"Kau mabuk berat lalu diantarkan pulang oleh Yuta oppa." Ucap Ten hati-hati.
"Dan apa yang terjadi dengan ini?" Tanya Johnny seraya mengangkat sebelah tangannya yang nampak ditempeli beberapa plester luka.
"Yuta oppa bilang kau berkelahi semalam." Ucap Ten, jujur saja entah kenapa pertanyaan Johnny malah semakin membuatnya ketakutan.
"Berkelahi? Dengan siapa?" Ayolah pria ini nampak semakin penasaran dengan penjelasan Ten yang setengah-setengah.
"De-dengan Jae-jaehyun oppa." Ucap Ten ragu. Ten dapat melihat ketidakpercayaan yang terpancar jelas dari sorot mata Johnny, mau bagaimana lagi memang itu kenyataannya. Johnny nampak memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa pening, dengan panik Ten bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Johnny.
"Kau tidak apa-apa?" Ujarnya. Johnny mengangguk sekilas dan kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ten yang sudah selesai dengan sarapannya bergegas bangkit dan membuka kotak obat yang ada di penjuru ruangan. Jemari lentiknya nampak mengambil sebutir obat setelah itu ia mengambil segelas air putih. Ia menyodorkan dua benda tersebut pada Johnny yang tampak baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Minum ini dulu, setelah itu kau bisa istirahat di kamar." Ucap Ten, Johnny menatap wajah Ten lekat kemudian mengambil obat yang berada di tangan Ten, ia mulai meminum obat tersebut dengan segelas air putih yang sebelumnya sudah Ten siapkan.
"Terima kasih." Ucap Johnny setelah menghabiskan segelas air yang ada di tangannya. Ten tersenyum dan mengangguk membalas perkataan Johnny.
"Jangan lupa istirahat, nanti siang akan aku buatkan bubur." Ucap Ten dan mulai mendekat ke arah wastafel untuk mencuci piring yang baru saja mereka gunakan.
"Ten, selain itu tidak ada yang terjadi semalam kan?" Tanya Johnny sedikit ragu.
"Ti-tidak." Ucap Ten sedikit terbata. Johnny terlihat tersenyum sekilas kearah Ten dan menatap lekat wajah wanita di hadapannya itu.
"Terima kasih sudah merawatku semalam." Ucap Johnny, baru kali ini Ten mendapati senyum tulus yang diberikan Johnny padanya.
"Bukan masalah John, bukankah itu gunanya kita tinggal bersama." Balas Ten dengan senyuman yang tak kalah manisnya, jujur saja saat ini ia tengah menormalkan jantungnya yang berdegup begitu kencang setelah menerima senyuman tulus dari Johnny.
Johnny kembali masuk ke kamarnya dan meninggalkan Ten yang nampak sedang mencuci piring. Sesekali wanita itu nampak tersenyum cerah karena tak menyangka dengan perlakuan Johnny barusan. Ten nampak berpikir berkali-kali sepertinya keputusan yang benar untuk tidak memberitahukan pada Johnny tentang apa yang baru saja mereka lakukan semalam. Ten seolah-olah berusaha menghindari fakta yang tersaji di depannya yang mungkin saja akan mengubah hidupnya. Setelah selesai mencuci piring Ten kembali bergegas ke kamarnya dan beristirahat, rasanya baik fisik maupun pikirannya memang sudah butuh istirahat akibat aktivitas melelahkan semalam.
Ten terbangun dari tidurnya tepat pukul dua siang, wanita cantik itu benar-benar tenggelam dengan waktu istirahatnya. Ia keluar dari kamarnya dan terkejut mendapati Johnny yang tengah berkutat dengan gunting dan perban di ruang keluarga, Ten mendekatinya dan duduk di sebelahnya ia berniat menawarkan bantuan pada pria tampan itu.
"Butuh bantuan?" Tanya Ten. Johnny nampak mendengus sebal dan mengulurkan tangannya yang terluka pada Ten.
"Kukira kau mati di dalam." Ucap Johnny membuka pembicaraan saat Ten tengah sibuk menempelkan plester di tangan besarnya yang terluka.
"Tuan Seo dengarkan aku, sekalipun tinggal serumah denganmu begitu berat tapi aku tak akan mati semudah itu." Balas Ten sedikit bercanda, Johnny nampak terkekeh mendengar perkataan wanita di sebelahnya itu.
"Kau benar." Ucap Johnny sedikit canggung.
"Sudah selesai. Ngomong-ngomong kau sudah makan?" Tanya Ten yang baru saja selesai mengobati luka Johnny.
"Seingatku tadi pagi ada yang janji membuatkan bubur untukku." Balas Johnny. Ten nampak terkejut mendengar perkataan Johnny.
"Kau bahkan sudah jauh lebih sehat John, yakin masih ingin makan bubur?" Tanya Ten.
"Hum…. Bukankah aku belum pernah coba bubur buatanmu." Ucap Johnny. Ten mengangguk dan mulai melangkah ke dapur untuk membuat bubur. Saat Ten menjauh darinya entah kenapa pikiran Johnny nampak menerawang jauh, rasanya ada hal yang belum dia ingat soal dirinya dan Ten semalam.
Beberapa menit kemudian bubur buatan Ten telah siap dan Johnny mulai menyantapnya. Ia nampak menikmati bubur buatan Ten, padahal sebelumnya dia paling tidak suka menyentuh makanan lembek tersebut. Johnny yang baru saja menghabiskan semangkuk buburnya nampak terkejut melihat Ten yang berjalan ke arah ruang keluarga dengan wajan penuh topokki serta sepiring tempura dan beberapa gorengan lainnya. Ten nampak berhenti di ruang keluarga dan menyalakan televisi yang ada di hadapannya, ia berniat menonton serial favoritnya ditemani dengan topokki kesukaannya.
"Jadi begini caramu menghabiskan semua uang yang aku berikan?" Ucap Johnny yang nampak memandang Ten dari kejauhan. Ten hampir saja tersedak topokki miliknya mendengar perkataan Johnny.
"Kau berlebihan, hal yang seperti ini tak akan menghabiskan uangmu tahu." Balas Ten jangan lupakan mulutnya yang nampak belepotan saus tteokbokki. Johnny nampak duduk disebelah Ten dan mulai ikut menyantap tteokbokki bersama wanita itu, entah ada angin apa sejak sakit Johnny nampak aneh dan Ten merasa pria itu jadi bersikap baik padanya tidak seperti sebelumnya.
"Ten…." Ucap Jonny.
"Hmmm…." Ten bergumam tanpa menoleh ke pria yang berada di sampingnya.
"Kau yakin samalam hanya mengobatiku?" Tanya Johnny tiba-tiba. Detik itu juga Ten berhasil tersedak berterima kasihlah pada Johnny yang tiba-tiba menanyakan pertanyaan aneh yang bahkan tak pernah terpikir oleh Ten sebelumnya.
"Sebenarnya aku membuka kemejamu John, kau mandi keringat semalam. Kau pantas marah padaku John." Ucap Ten. Johnny hanya terkekeh.
"Ah bukan masalah, mungkin demamku lebih parah jika kau tak melakukan itu." balas Johnny. Ten nampak tersenyum lega karena sepertinya Johnny tak berniat menanyakan apapun lagi padanya.
Satu bulan telah berlalu sejak insiden Johnny berkelahi dengan Jaehyun di klub malam. Ten dan Johnny kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Saat di rumah nuansa dingin sesekali masih menyelimuti mereka berdua padahal jika diingat kembali sebulan yang lalu Johnny nampak begitu baik pada Ten bahkan membiarkan wanita itu tidur seranjang dengannya, ya jika pria itu mengingatnya. Sejak beberapa minggu yang lalu sikap Johnny nampak berubah bahkan ia tak pernah lagi sarapan bersama Ten padahal sebelumnya Johnny tak pernah mau melewatkan sarapan. Jika Ten berniat membuatkannya bekal Johnny akan menolak mentah-mentah dan menatap tajam ke arahnya. Terkadang Ten berpikir jika Johnny memiliki lebih dari satu kepribadian. Kadang ia bisa sebaik dan sehangat matahari namun ada kalanya ia kembali dingin seperti bongkahan es yang sangat sulit dipecahkan.
Pagi ini Ten nampak mendengus sebal, ia baru saja keluar dari garasi dan begitu kecewa saat mendapati mobilnya mogok. Johnny juga telah pergi ke kantor sejak beberapa menit yang lalu, memang sejak beberapa minggu yang lalu pria tampan itu selalu pergi ke kantor lebih dulu daripada Ten jujur saja hal itu cukup membuat Ten bertanya-tanya. Dengan berat hati Ten memutuskan untuk berangkat naik taksi, di dalam taksi entah kenapa beberapa kali Ten terlihat menahan mual seperti ada sesuatu yang siap meluncur dari dalam perutnya. Begitu sampai di kantor dan membayar taksi Ten bergegas berlari seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya sungguh rasa mualnya benar-benar tak lagi dapat ditahan. Ten memanfaatkan salah satu toilet yang ada di dekat lobby ia berusaha memuntahkan semua isi perutnya namun usahanya nampak sia-sia yang keluar hanya cairan bening yang Ten tak tahu itu apa. Setelah membersihkan mulutnya Ten bergegas keluar namun lagi-lagi rasa mual kembali menyerangnya sehingga ia kembali berlari masuk ke dalam kamar mandi dan mengulang kembali aktivitasnya. Tanpa Ten sadari Johnny yang sedari tadi berbincang dengan Junmyeon di lobby memperhatikan segala gerak-gerik wanita itu, sorot kekhawatiran juga terpancar jelas dari mata tajamnya saat mendapati Ten tak kunjung keluar dari toilet.
Ten berjalan sempoyongan menuju ruangannya, ia tampak bersandar pada lift yang akan membawanya ke lantai atas. Tiba-tiba saja Johnny masuk ke lift yang sama dengan Ten dan mendekati wanita itu. Johnny dapat melihat jelas lipstik merah yang pagi tadi terpancar indah di bibir Ten telah sepenuhnya menghilang dan hanya tergantikan warna merah muda yang bahkan lebih pucat dari biasanya. Keringat juga terlihat membanjiri kening Ten, tentu saja hal itu membuat Johnny khawatir.
"Jika kau sakit seharusnya istirahat di rumah." Ucap Johnny. Ten yang sedari tadi menundukkan kepalanya nampak mendongak dan terkejut mendapati kedatangan Johnny yang tepat berada di sampingnya.
"Tadi pagi baik-baik saja, saat sampai kantor rasanya mau mati." Ten berucap lemas. Johnny terdiam dan merogoh sapu tangan yang berada di saku celananya.
"Kau berkeringat banyak." Ujar Johnny seraya menyodorkan sapu tangan putih miliknya pada Ten. Wanita itu memperhatikan Johnny dengan wajah pucatnya, cukup tersentuh saat Johnny peduli padanya.
"Terima kasih John, sampai di rumah nanti akan kucuci." Ucap Ten. Ten melangkah keluar saat lift tiba di lantai tujuannya, sebelum pintu lift kembali tertutup samar-samar Ten mampu mendengar Johnny yang sedikit berteriak padanya.
"Jangan lupa makan yang banyak saat istirahat nanti." Begitulah kurang lebih perkataan Johnny pada Ten sebelum pintu lift yang menutup benar-benar memisahkan mereka. Johnny saat itu tentu saja tidak dapat melihat senyuman indah milik Ten seraya wanita itu menggenggam sapu tangan putih milik suaminya, ah maksudnya milik Johnny. Ten duduk di kursi miliknya dan menyeka keringat yang sejak tadi hinggap di keningnya, Ten membatin seraya berkaca, kau benar-benar menyedihkan Ten. Bibirnya yang nampak pucat, keringat yang mengucur, dan wajah yang tak kalah pucatnya, rasanya mual-mual tadi pagi benar-benar merusak hari-harinya. Ten kembali memoles tipis make up di wajah cantiknya, ia harus terlihat lebih segar, pikirnya.
Di tengah pekerjaannya Ten memandangi sapu tangan putih milik Johnny, sapu tangan kelewat biasa untuk orang luar biasa sepertinya. Di sudut sapu tangan itu terdapat bordiran huruf hangeul berbunyi "Youngho" nama asli Johnny. Ini pasti sapu tangan yang begitu penting untuk pria itu, mengingat hanya segelintir orang saja yang berhak memanggilnya Youngho, dan Ten adalah salah satunya. Tanpa sadar senyuman terpancar dari bibir tipisnya, Ten melepas cincin yang melekat di jari tengahnya dan kembali melihat ukiran nama yang terdapat di dalam sana. Jadi ada dua hal tentang Johnny yang Ten miliki saat ini, atau mungkin wanita itu lupa menghitung hal lain tentang Johnny yang juga ada dalam dirinya.
Saat istirahat Ten nampak tidak berselera melihat semua makanan yang tersaji, saat ini ia tengah mengantri bersama Irene dan Dokyeom yang terlihat mulai mengisi piring mereka dengan berbagai macam makanan. Ten terlihat menyingkir dan mengambil antrian di barisan buah-buahan, entah kenapa rasanya hari ini buah-buahan itu terlihat seperti memanggil Ten dan seolah memaksanya untuk mendekatinya. Ten kembali ke meja tempat Dokyeom dan Irene berada, kedua temannya itu nampak terkejut melihat Ten kembali dengan piring yang penuh dengan berbagai macam buah-buahan mengingat bagaimana Ten sangat benci makanan berserat itu sebelumnya.
"Kau tak salah ambil kan?" Tanya Dokyeom.
"Aku tadi tak menyuruhmu kesana kan?" Tambah Irene. Ten nampak tersenyum dan memilih tak menanggapi perkataan kedua sahabatnya itu. Tanpa sadar ia mulai menyantap buah-buahan itu dengan santai dan tanpa beban sama sekali.
"Ten kau kenapa? Kau benar-benar membuatku takut." Ucap Irene yang saat ini berada di hadapan Ten.
"Aku baik, hanya ingin buah saja hari ini." Ucap Ten penuh keyakinan. Dokyeom membelalakkan matanya mendengar jawaban tidak masuk akal yang meluncur mulus dari mulut sahabatnya itu. Bahkan beberapa bulan yang lalu saat Ten sakit ia dan Irene mati-matian memikirkan bagaimana caranya agar nutrisi buah-buahan masuk ke dalam tubuh Ten dan hari ini di depan matanya sendiri Ten dengan penuh tekad dan keyakinan nampak menelan bulat-bulat berbagai macam jenis buah.
Johnny duduk tak jauh dari tempat Ten dan kedua sahabatnya menikmati makan siang. Mata tajamnya nampak mencuri-curi pandang ke arah Ten yang terlihat lahap menikmati sepiring buah-buahan, ya buah, mata Johnny tak salah sama sekali. Bahkan sejak pernikahannya beberapa bulan lalu Johnny sangat hafal jika wanita yang tinggal serumah dengannya itu sangat membenci buah, bagaimana bisa hari ini ia menelannya bulat-bulat. Doyeon mengikuti arah pandang Johnny yang tertuju pada Ten, senyuman jahat dan pancaran tidak suka jelas terlihat di wajahnya saat melihat Johnny yang ia sudah sejak lama menatap lekat ke arah Ten yang bekerja tidak lebih lama darinya. Tanpa sadar tangan Doyeon yang berada di bawah meja mengepal seolah menahan sesuatu yang sangat ingin ia lepaskan.
"Ekhmmm…." Doyeon nampak berdehem untuk membuyarkan lamunan Johnny dan pria di sampingnya itu mulai fokus untuk kembali menyantap makan siangnya.
Ten bersandar lemas di salah satu tiang halte bus yang berada di dekat kantornya, dalam hati ia sungguh menyesal telah menolak kebaikan hati Dokyeom yang berniat mengantarnya pulang. Entah kenapa tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan mual itu kembali datang, bahkan Ten merasa tak sanggup hanya untuk membayangkan berdesakan di dalam bus bersama para pekerja lainnya. Ten merogoh tasnya dan mencari ponselnya, lagi-lagi ia harus melelan rasa kekecewaannya bulat-bulat karena ponselnya mati setelah seharian tadi ia gunakan untuk menghubungi orang-orang yang akan terlibat dalam peluncuran produk baru Seo Corp. Suara klakson berhasil membuyarkan lamunan Ten yang tengah memijit pelipisnya yang berdenyut, dari seberang sana ia dapat melihat dengan jelas Johnny yang menurunkan kaca mobilnya seraya berteriak mengajak Ten untuk masuk ke dalam mobil. Dengan senang hati Ten masuk ke dalam mobil Johnny lagipula mereka suami istri tentu saja tidak ada yang salah. Saat mobil Johnny mulai melaju tanpa sadar dari kejauhan Doyeon nampak melihat semuanya dengan jelas dari dalam mobilnya, kekesalan nampak terpancar jelas dari sorot mata wanita dengan lipstik semerah darah itu.
"Kau terlalu banyak bertingkah Ten Lee." Gumam Doyeon dan mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
