13. Johnny Punya Cerita

Semua cerita tentang Johnny dan pemikirannya

Namanya Seo Youngho dan terbiasa dipanggil Johnny lahir dan besar di Korea dari keluarga yang kaya raya. Menghabiskan masa mudanya untuk berkuliah di Harvard University, rasanya Johnny adalah potret sempurna laki-laki idaman para ibu untuk dijadikan menantu. Namun satu hal yang sepertinya tidak terlihat darinya, Johnny bersifat dingin melebihi bongkahan es yang sulit terbelah. Sejak kecil selalu merasa hidup dalam sangkar emas keluarganya dan memanfaatkan dengan baik kesempatan yang diberikan padanya untuk berkuliah di luar negeri. Semua hal dalam buku yang biasa Johnny kecil baca dan bayangkan perlahan mulai ia wujudkan saat hidup bebas di Amerika. Berbagai macam merek minuman beralkohol telah ia coba dan wine dengan tahun fermentasi yang berbeda telah sepenuhnya dicicipi oleh pria tampan itu.

Amerika adalah segalanya untuk Johnny, tempatnya menemukan kebebasan hidup dan tempatnya menemukan cinta, ya cinta anak muda pada masa itu. Johnny yang sejak remaja hanya sibuk dengan buku-bukunya tidak memiliki waktu untuk mengerti apa itu cinta, sampai akhirnya ia menemukan sesosok wanita yang luar biasa di Amerika. Untuk pertama kalinya Johnny terpesona dengan wanita lain selain ibu dan kakak perempuannya. Wanita itu Wendy namanya, setelah beberapa kali pertemuan mereka memutuskan untuk berkencan, saling melengkapi kehidupan satu sama lain di tengah hingar-bingar mata kuliah bisnis yang makin memuakkan. Hubungan mereka sempat membuat iri banyak orang, bayangkan saja Johnny dengan wajahnya yang tampan, otak cemerlang, serta tingginya yang diatas rata-rata pria asia pada umumnya dan jangan lupakan keluarganya yang kaya raya bahkan hampir dikenal diseluruh belahan dunia. Wendy yang cemerlang dengan pemikiran briliannya, wajah cantiknya, serta ayahnya yang begitu terkenal di Chicago sebagai broker saham terkemuka. Banyak pihak yang mengharapkan hubungan mereka berjalan mulus tanpa hambatan namun takdir Tuhan nyatanya tak membawa mereka kesana.

Malam itu di tengah musim dingin kota Boston, di tengah kebahagiaan Johnny yang baru saja menyelesaikan program pasca sarjananya tiba-tiba saja Wendy datang membawa kabar buruk yang tak pernah disangka. Wanita itu mengaku berselingkuh dengan rekan bisnisnya. Johnny yang sedang dimabuk cinta merasa dunianya runtuh seketika, ingin menyalahkan Wendy tapi tak bisa, ia hanya terdiam dan asyik dengan coklat panasnya selama beberapa saat. Maaf, itulah perkataan Wendy sebelum ia benar-benar menghilang dari apartemen Johnny, tanpa sadar pria tampan itu mulai menangis, tangisnya terdengar pilu, entah apa yang akan ia lakukan jika tak ada Wendy di sisinya, Wendy yang senantiasa mendukungnya dan menyemangatinya tentang kehidupan yang terasa berat untuknya, Wendy yang menjadi tempatnya untuk mencurahkan segala beban di hatinya tentang bagaimana perihnya menjadi harapan besar bagi keluarga dan segala ekspektasi mereka tentangnya. Selama ini hanya ada Wendy yang mengerti dirinya, bukan kakaknya, bukan juga ibunya yang sejak kecil tak pernah memiliki waktu untuknya.

Johnny memutuskan untuk pulang ke Korea dengan perasaan yang menyesakkan dada, mulai mengelola bisnis keluarganya dan mencurahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Johnny selalu mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya hingga larut malam bahkan hingga pagi kembali menyapa, semuanya ia lakukan untuk menghilangkan rasa sakit hatinya atas perlakuan Wendy padanya. Johnny yang dulunya hanya penasaran dengan klub malam dan mencoba mengunjunginya saat di Amerika, tiba-tiba saja menjadi penikmat klub malam di Korea. Ia telah terbiasa dengan berbagai macam wanita penghibur dan minuman keras di Korea, bahkan Yuta dan Jaehyun yang ikut kembali ke Korea merasa tidak percaya dengan tingkah laku sahabat mereka itu.

Malam itu jadi puncak kemarahan Tuan Seo, ia menampar wajah putranya sampai Johnny tersungkur ke lantai dengan sudut bibir yang berdarah. Sang ibu hanya mampu berdiri mematung melihat perlakuan suaminya itu, saat sang suami hendak kembali menghajar putranya dengan sigap nyonya Seo memasang badan, bahkan laki-laki itu jarang sekali mengajak Johnny kecil bermain bersama dan saat dewasa ia malah memperlakukan anaknya seperti ini, pikirnya. Dengan amarah yang tak kalah memuncak nyonya Seo memerintahkan para maid di rumahnya untuk membawa Johnny ke kamar, ia tidak memperdulikan tatapan nyalang suaminya yang mengarah tepat padanya, yang ia pedulikan saat ini adalah keselamatan anaknya.

Tepat tengah malam nyonya Seo memasuki kamar anaknya, ia mendapati Johnny yang tengah terduduk seraya memegangi ujung bibirnya yang berdenyut, ia masih sepenuhnya tersadar salahkan mengapa toleransinya terhadap alkohol begitu tinggi sehingga sulit membuatnya mabuk. Nyonya Seo duduk di sebelah putranya, tangannya yang bebas mengelus punggung tangan Johnny, tiba-tiba saja isak tangis meluncur dari mulut wanita paruh baya itu, untuk pertama kalinya Johnny mendengar ibunya menangis tepat di hadapannya. Johnny menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan, jujur saja ia tak paham harus melakukan apa sekarang. Perlahan namun pasti nyonya Seo membawa Johnny ke dalam pelukannya membiarkan putra bungsunya bersandar di bahu rapuhnya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya nyonya Seo mendengar dengan jelas isak tangis Johnny yang begitu memilukan.

"Youngho putra kecil eomma sudah dewasa. Youngho yang dahulu hanya bisa menangis sekarang bisa melindungi eomma." Ucap nyonya Seo seraya mengobati luka di sudut bibir Johnny.

"Eomma…." Tanpa sadar Johnny bergumam.

"Maafkan eomma yang terlalu egois, selalu meninggalkanmu, dan tak pernah tahu perkembanganmu. Maafkan eomma Youngho." Nyonya Seo nampak berucap dengan suara yang bergetar. Air mata kembali berlomba keluar dari manik tajam Johnny, untuk pertama kalinya hatinya kembali terasa menghangat setelah mendengar perkataan menenangkan dari ibunya. Nyonya Seo berniat bangkit dan kembali ke kamarnya setelah mengobati luka Johnny, namun tangan besar anaknya tampak menahannya.

"Eomma temani aku tidur." Ucap Johnny entah sadar atau tidak. Nyonya Seo tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya, ia membawa Johnny untuk tidur bersamanya, akhirnya Youngho kecilnya yang manja kembali lagi padanya, pikirnya.

Mata keduanya telah benar-benar berat, namun entah kenapa tak bisa terpejam. Nyonya Seo meminta pada Johnny untuk menceritakan semua kehidupan Johnny yang sempat terlewat olehnya. Dengan senang hati si anak manja bercerita pada ibunya tentang masa remajanya, proses peralihannya menuju dewasa, hingga di usia sekarang yang telah menjadikannya sebagai CEO ternama. Johnny bahkan tak melewatkan pertemuannya dengan Wendy untuk diceritakan pada ibunya. Nyonya Seo mengelus surai lebat Johnny dan tersenyum manis saat tahu anaknya jatuh cinta untuk pertama kalinya, ia juga mengelus punggung tangan Johnny dengan sayang saat tahu anaknya patah hati untuk pertama kalinya. Setelah cerita panjang tentang kehidupan Johnny, nyonya Seo mulai tersadar tentang apa yang sedang dialami oleh anaknya. Ia tersenyum tulus dan mengecup kening Johnny yang nampak telah tertidur lelap. Nyonya Seo merapatkan selimut anaknya dan perlahan bangkit dari tidurnya dengan hati-hati karena tak ingin membangunkan sang anak. Sekarang nyonya Seo mengerti apa yang harus ia bicarakan dengan suaminya.

Setelah kejadian malam itu Johnny kembali dekat dengan ibunya bahkan Seohyun berdecak sebal melihat adiknya yang selalu mengekor ibu mereka jika sedang tidak pergi ke kantor. Untuk kali pertama nyonya Seo mengajak anaknya pergi ke panti asuhan yang biasa ia kunjungi. Johnny yang tidak mudah akrab dengan anak-anak tentu saja merasa terkejut dengan beberapa anak panti asuhan yang berusaha mengajaknya bermain. Dalam hati ia mengutuk ibunya yang telah membawanya kemari, niatnya belajar lebih jauh soal kehidupan malah memperoleh pengalaman tidak menyenangkan soal kehidupan. Saat gerombolan anak panti mulai menjauhinya, dari kejauhan ia dapat melihat ibunya yang tengah berbincang dengan seorang suster yang terlihat seperti pemimpin panti asuhan tersebut. Tatapan mata dua wanita itu terarah pada wanita mungil yang nampak tengah bermain bersama anak panti yang lain. Johnny ikut menatap lekat ke arah wanita mungil itu, ia sendiri bingung kenapa ada rasa kekaguman yang terpancar jelas dari sorot mata sang ibu.

Sejak kunjungan ke panti asuhan beberapa bulan lalu, Johnny jadi tersadar jika keluarganya adalah donatur terbesar di panti asuhan. Ia sendiri tidak begitu terkejut mengingat kedua orang tuanya selalu mengajarkan Johnny dan Seohyun untuk berbagi sejak kecil. Johnny nampak membaca proposal yang ada di mejanya dengan serius, ia nampak tersenyum kemudian membubuhkan tanda tangannya sebagai tanda persetujuan kerja sama antara dua belah pihak. Itu adalah perjanjian kerjasama antara Seo Corp dan panti asuhan last hope yang akan memberikan beasiswa pendidikan kepada sejumlah anak di sana.

Johnny memperhatikan gerak-gerik ibunya yang menurutnya mencurigakan, pria tampan itu sering mendapati sang ibu membeli beberapa pakaian wanita yang tentu saja ukurannya bukan untuk Seohyun kakak perempuannya. Johnny yang penasaran mencoba bertanya dan saat itu ibunya bercerita panjang lebar soal sosok wanita mungil yang selalu ia pantau di panti asuhan, tanpa sadar senyuman ikut terukir di bibir Johnny manakala mendapati sang ibu tersenyum bahagia. Waktu bergulir begitu cepat, malam ini tiba-tiba saja nyonya Seo mengajaknya bicara, Johnny nampak bingung dengan maksud ibunya karena sejak tadi wanita paruh baya itu sibuk membicarakan sosok wanita mungil yang bahkan Johnny tak tahu siapa namanya.

"Ten sangat cocok menjadi istrimu, dia cantik, baik, berpendidikan, dan tutur katanya begitu sopan." Ucap nyonya Seo tiba-tiba. Johnny nampak tersedak teh yang sedang ia minum, sungguh ibunya benar-benar membuatnya terkejut.

"Mau menikah dengannya?" Tanya nyonya Seo lagi. Johnny jelas hanya bisa terdiam saat ditodong pertanyaan seperti itu oleh ibunya, ayolah bahkan ia tak mengenal wanita mungil itu sama sekali.

"Eomma sedang bercanda?" Tanya Johnny memastikan. Nyonya Seo nampak menggeleng setelah menyeruput teh miliknya.

"Coba temui dulu dia, eomma rasa kalian berdua cocok." Ucap nyonya Seo.

"Eomma…." Johnny nampak merajuk, tak lama nyonya Seo terkekeh dan mengelus surai lebat putranya itu.

Hari ini terasa begitu panjang bagi Johnny, seharian ia duduk bersama beberapa petinggi untuk menyeleksi pegawai baru yang akan bekerja di Seo Corp. Saat siang menjelang nampak sesosok wanita mungil memasuki ruangan wawancara. Wanita itu nampak familiar untuk Johnny, benar saja ia adalah orang yang selama ini selalu dibicarakan oleh ibunya. Wanita itu nampak menjawab semua pertanyaan tanpa keraguan sedikitpun, beberapa petinggi nampak terpesona dengan jawabannya namun nampak ada yang mengganjal bagi Johnny, entah kenapa pemikiran wanita itu mirip sekali dengan Wendy yang ia kenal beberapa tahun lalu hanya saja dalam versi lebih lembut dan ramah. Johnny bahkan tak memberikan pertanyaan apapun pada wanita itu, hal ini cukup membuat para petinggi kebingungan, masalahnya Johnny yang terlihat selektif bertanya pada calon pelamar sejak tadi tiba-tiba saja diam seribu bahasa. Ia hanya memandang Ten dengan tatapan dinginnya yang sulit diartikan.

Satu bulan berlalu sejak kejadian itu, hari ini kedua orang tuanya mengajak Johnny kembali mengunjungi panti asuhan, karena ini hari minggu gereja panti asuhan nampak dipenuhi anak-anak yang sedang berdoa. Johnny yang datang terpisah dari orang tuanya memilih untuk menepi sejenak ke gereja panti, tanpa sadar ia tersenyum saat melihat anak-anak yang berdoa dengan khusyuknya. Johnny terkesiap saat si wanita mungil tiba-tiba saja menghampirinya, menanyakan apa keperluannya. Wanita mungil itu juga nampak kaget mendapati Johnny berada di panti asuhan tempatnya tinggal, ada keperluan apa CEO seperti Johnny datang kemari, mungkin itu yang ia pikirkan. Mereka berdua sempat berbincang singkat sampai akhirnya Johnny masuk ke dalam panti asuhan untuk menemui orang tuanya.

Pertemuan pertama Johnny dan Ten terjadi hari itu, ah bukan yang pertama entah ini yang keberapa kalinya. Ten yang sudah tahu akan dijodohkan dengan anak tuan dan nyonya Seo nampak biasa saja, namun ia sedikit terkejut kala mengetahui calon suaminya adalah CEO nya sendiri. Suster Kang serta tuan dan nyonya Seo memberikan waktu bagi Johnny dan Ten untuk bicara berdua. Di sinilah mereka di sebuah taman yang ramai anak kecil berlalu lalang. Ten cukup ketakutan dan sempat berniat untuk berpikir ulang tentang masalah perjodohan ini mengingat Johnny yang sedingin es dan tak bisa ditembus. Wanita cantik itu sempat bergidik membayangkan jika ia menikah dengan Johnny nantinya. Setelah bergelut dengan pemikirannya selama beberapa hari akhirnya Johnny memutuskan untuk menerima saran dari orang tuanya, ia setuju untuk menikahi wanita mungil itu. Mungkin dengan menikahinya akan membantu menyembuhkan lukanya akibat kehilangan Wendy beberapa tahun lalu, pikir Johnny.

Persiapan pernikahan tak sepenuhnya berjalan mulus, Johnny dengan sifat dinginnya hampir membuat Ten mati saking frustasinya. Hari ini mereka berdua bertengkar hebat, bukan begitu lebih tepatnya Johnny mengomeli si wanita mungil sampai ia diam seribu bahasa dan memutuskan untuk meninggalkan Johnny yang nampak kebingungan di depan butik kala itu. Johnny nampak menghela nafas, ia sadar telah berbuat kesalahan pada wanita mungil itu dan perasaan menyesal mulai menjalari hatinya. Hari pernikahan tiba, dengan mantap Ten dan Johnny mengucap janji sehidup semati di hadapan pendeta bahkan Johnny menyempatkan untuk memberikan kecupan singkat di kening wanita mungil yang saat ini resmi menjadi istrinya.

Hari pertama pernikahan yang seharusnya dipenuhi dengan canda dan tawa tak sepenuhnya berlaku untuk Johnny dan Ten. Bahkan sore ini Johnny dapat melihat dengan jelas Ten yang nampak menangis di hadapannya, suaranya bergetar hebat, wanita itu merasa Tuhan berlaku tidak adil padanya karena menjodohkannya dengan laki-laki gila yang bahkan sempat berfikir untuk membuat perjanjian pernikahan. Ten bangkit dari duduknya dengan amarah yang memuncak, untuk pertama kalinya ia berteriak nyalang pada Johnny yang dengan seenaknya membuat perjanjian konyol yang akan mengubah hidupnya. Johnny memijat pelipisnya, lagi-lagi ia baru saja membuat kesalahan besar, ia memandang kertas yang baru Ten baca dan membawanya kembali ke kamarnya.

Johnny sama sekali belum berubah, kebiasaannya untuk pergi ke klub malam sama sekali tidak bisa dihilangkan. Malam ini ia kembali masuk ke klub yang dipenuhi dengan hingar bingar manusia yang haus akan hiburan. Yuta dan Jaehyun terkesiap saat mendapati Johnny nampak duduk dengan secangkir vodka di tangannya dan jangan lupakan para wanita sewaan yang sejak tadi bergelayut manja padanya. Yuta dan Jaehyun yang sudah bersahabat dengan Johnny selama bertahun-tahun tak pernah mengerti jalan pikiran temannya itu. Bahkan setelah hari pernikahannya si bodoh malah lebih memilih menghabiskan malamnya dengan para wanita penghibur daripada dengan istrinya sendiri yang jelas telah terikat dengannya dalam janji suci pernikahan.

Johnny kembali pulang ke rumahnya, hidung bangirnya menangkap aroma yang manis dari arah dapur. Di ruang keluarga ia menemukan istrinya yang tengah menyantap makanan yang Johnny tak tahu itu apa. Ia duduk di sebelah Ten dan meminta maaf atas semua kesalahannya beberapa jam yang lalu. Ten nampak tersenyum cerah, sungguh jika memang malaikat sempat turun ke bumi pasti ia akan menjelma sebagai Ten Lee, pikir Johnny. Mereka berdua mulai berbincang tentang banyak hal, sesekali Johnny nampak tertawa menanggapi candaan Ten. Johnny yang notabene membenci makanan manis malam itu terlarut menyantap segala jenis kue yang baru saja Ten buat. Semoga saja itu pertanda positif untuk hubungan mereka.

Hari ini sepasang pengantin baru itu berkunjung ke rumah tuan dan nyonya Seo dan tanpa diduga mereka memutuskan untuk menginap, lebih tepatnya Johnny yang memutuskan. Johnny tentu saja bersikap seperti biasa, lain halnya dengan Ten yang terkejut karena tak membawa bekal apapun untuk menginap. Mereka tidur dalam satu kamar untuk pertama kalinya. Johnny di ranjang besarnya sedangkan Ten menekuk tubuh mungilnya di sofa. Johnny memandang iba ke arah Ten yang baru saja terlelap, entah kenapa tiba-tiba saja perasaan bersalah merasuki hatinya. Bagaimana bisa ia setega itu membiarkan seorang wanita kedinginan dalam tidurnya. Yang Johnny takutkan benar-benar terjadi, pagi itu Ten terbangun dalam keadaan demam dan flu yang membuat istrinya itu harus beristirahat seharian. Johnny yang hari itu bertugas menemani nyonya Seo berbelanja menyempatkan diri berkata pada Seohyun untuk merawat Ten dengan baik sampai ia kembali pulang, sang kakak tersenyum senang dan memeluk adik kecilnya yang sudah dewasa.

Semakin hari Johnny merasa bimbang dengan perasaannya sendiri, berbulan-bulan tinggal bersama Ten sama sekali tidak memberikan dampak apapun. Ia masih terbayang-bayang tentang Wendy sang mantan kekasih. Malam itu Johnny memutuskan untuk pergi ke klub malam bersama Yuta dan Jaehyun. Ketiga pria tampan itu terlihat sangat lelah, maklum saja ketiganya merupakan para petinggi yang begitu lelah dengan rutinitas mereka. Yuta terlihat menundukan kepalanya seraya mengguncang gelas yang ada di tangannya, pria Jepang itu sangat ingin menyesap vodka namun entah mengapa hatinya seolah menghentikannya, lain halnya dengan Jaehyun dan Johnny yang sudah mulai kehilangan separuh kesadaran mereka.

"Kurasa aku akan menceraikan Ten." Rancau Johnny. Yuta membelalakkan matanya saat mendengar ucapan sahabatnya itu. Reaksi yang tak jauh berbeda ditunjukkan oleh Jaehyun, pria tampan yang semula menenggelamkan kepalanya di atas meja itu kini menegakkan tubuh tegapnya dan menatap nyalang ke arah Johnny.

"Bukankah kau seharusnya bersyukur menikah dengan Ten." Ucap Jaehyun membuka pembicaraan. Yuta hanya diam seribu bahasa ia yakin setelah ini akan ada pertikaian antara dua sahabatnya itu.

"Kau tak bisa menilai kehidupanku. Bahkan ia tidak lebih baik dari Wendy." Balas Johnny setelah menyesap minuman miliknya.

"Kau seharusnya berterima kasih karena Wendy si tukang selingkuh itu pergi meninggalkanmu." Balas Jaehyun, jujur saja sejak awal Jaehyun tahu sahabatnya menjalin kasih dengan Wendy ia adalah orang yang paling tidak setuju.

"Jangan jelek-jelekkan Wendy dengan mulut kotormu itu." Johnny menatap nyalang ke arah Jaehyun.

"Kau bahkan lebih brengsek dariku Seo. Kau tahu selama ini Ten selalu berusaha agar terlihat olehmu, dia selalu bersikap baik padamu, tapi kau dan segala pikiran buruk itu selalu saja teringat dengan Wendy yang jelas-jelas telah menyakitimu." Ucap Jaehyun panjang lebar.

Johnny bangkit dari duduknya, kilatan marah terpancar jelas di matanya. Dengan sekuat tenaga ia mencengkram kerah kemeja Jaehyun dan melayangkan pukulan di wajah tampan sahabatnya itu. Yuta panik bukan main, dengan sekuat tenaga ia berusaha memisahkan dua sahabatnya yang sama sama diselimuti amarah. Ia sedikit kewalahan karena tubuhnya yang terbilang berukuran lebih kecil dari Johnny dan Jaehyun. Beberapa orang mulai mengerumuni mereka dan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian, pihak keamanan berusaha keras menarik Johnny yang terlihat seperti orang kerasukan. Merasa terdesak Jaehyun melemparkan sebuah botol minuman dan tepat mengenai tangan Johnny hingga tangan kekar pria tampan itu mengeluarkan cukup banyak darah dari buku-buku jarinya.

"Astaga John dia Jaehyun…." Yuta terdengar frustasi dan berusaha menjauhkan Johnny dari Jaehyun. Pria tinggi itu sama sekali tidak menyerah sekalipun tangannya berdarah-darah. Jaehyun berusaha melawan dan berhasil mendorong Johnny hingga tersungkur, pria berlesung pipi itu merapikan pakaiannya dan berlalu meninggalkan Johnny dan Yuta setelah sebelumnya berpesan pada Yuta untuk mengobati luka Johnny ke rumah sakit miliknya.

Yuta berusaha keras mengangkat tubuh besar Johnny, ia mengendarai mobilnya dan membawa Johnny pulang ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan Johnny yang mabuk berat terus meracau tidak jelas bahkan sesekali pria tinggi itu bergumam nama Wendy seraya menangis penuh kesedihan. Yuta bingung bukan main, setidak bahagia itukah pernikahan temannya ini. Yuta bergegas memarkirkan mobilnya setelah memasuki gerbang megah rumah Johnny, ia mengguncang tubuh Johnny berkali-kali supaya membuatnya tersadar.

"Password door lock mu apa John, astaga kau berat sekali." Yuta mengerang kesal karena Johnny tak kunjung menjawab pertanyaannya. Dengan terpaksa ia memencet bel beberapa kali, ia tidak peduli lagi sekalipun akan mengganggu tidur nyenyak Ten yang penting sahabat gilanya ini bisa masuk ke rumah.

"Ten tidak mungkin bertahan lama jika kau terus begini John." Gumam Yuta seraya menunggu Ten membuka pintu.

Setelah dipersilahkan masuk Yuta bergegas memapah Johnny hingga ke kamarnya. Ia dapat melihat dengan jelas raut kekhawatiran dari wajah Ten, tentu saja wanita itu panik melihat keadaan suaminya sekarang, sudah pulang hampir dinihari, ditambah dalam keadaan yang sangat kacau tentu saja tanda tanya pasti muncul di benak wanita cantik itu. Setelah memastikan Johnny sampai ke kamarnya Yuta bergegas untuk pulang, Ten mengantarnya sampai kedepan pintu gerbang, ia tersenyum ramah pada Yuta dan mengucapkan banyak terima kasih karena telah membawa suaminya pulang dengan selamat. Di perjalanan pulang Yuta nampak terdiam cukup lama, bagaimana mungkin Johnny tak bisa menyadari eksistensi wanita sebaik Ten dalam hidupnya.

Saat Ten sibuk mengobati luka Johnny sebenarnya pria itu setengah sadar hanya saja ia terlalu malas untuk membuka mata karena kepalanya terasa sedikit berat. Johnny juga mendengar dengan jelas perkataan Ten yang seperti mengadu padanya, untuk kesekian kalinya perasaan bersalah kembali terlintas dalam hati kecil Johnny. Apa ia sudah keterlaluan dalam memperlakukan Ten selama ini, pikirnya. Johnny mulai membuka mata saat dirasa kepalanya sudah lebih baik dari sebelumnya, ia meraba keningnya dan menemukan lap yang sepertinya telah bertengger di sana sejak tadi. Ia menoleh ke kanan dan mendapati Ten yang tertidur seraya menumpu kepalanya di ranjang, beberapa helai rambut tampak menutupi wajah cantiknya, dengan perlahan Johnny menyingkirkan rambut-rambut tersebut dan memandang wajah cantik Ten lekat-lekat. Wanita itu terlihat hampir sempurna alisnya tebal, matanya begitu indah, hidungnya menukik tajam, dan jangan lupakan kulitnya yang seputih salju. Seharusnya dengan penampilan Ten yang seperti itu Johnny bisa menyukainya sejak lama, namun entah kenapa hatinya seolah tak mampu menerima Ten begitu saja, malah menyisakan ruang lain untuk Wendy yang tentu saja membuat Johnny semakin tersiksa.

Tanpa sadar Johnny mengulurkan tangannya dan membelai lembut pipi Ten, sesekali Johnny tersenyum saat melihat Ten menggeliat dalam tidurnya. Pikiran Johnny kembali jauh melayang mengingat perkataan Jaehyun, rasanya benar yang dikatakan pria berlesung pipi itu, bagaimana mungkin ia tak pernah menyadari eksistensi Ten dalam hidupnya setelah semua kebaikan yang wanita itu berikan padanya. Johnny terkesiap saat Ten terbangun dan berniat pindah ke kamarnya, entah sadar atau tidak saat ini Johnny menggenggam erat tangan Ten dan tak ingin melepaskannya. Ia memaksa Ten untuk tidur bersamanya, Ten nampak keheranan namun ia menyetujui permintaan Johnny dan mulai duduk di sebelah pria tampan itu. Tangan Ten terulur untuk memeriksa demam Johnny, namun tiba-tiba saja pria itu menghentikannya, ia menatap netra Ten lekat dan mulai mencium Ten tepat di bibirnya. Ten menegang sempurna, ia nampak kebingungan dan berusaha menjauhkan Johnny darinya namun semakin ia coba malah semakin dalam ciuman yang Johnny berikan padanya. Tanpa sadar Ten ikut terlarut dalam permainan Johnny dan mulai mengikuti ritme yang pria itu berikan. Malam itu untuk pertama kalinya mereka melakukan apa yang seharusnya telah dilakukan sejak berbulan-bulan yang lalu. Kamar yang semula diselimuti hawa dingin malah diisi dengan nuansa panas akibat permainan brutal sepasang suami istri yang tengah membara.

Johnny terbangun dari tidurnya seorang diri, ia sesekali memijit pelipisnya dan terkesiap saat tidur tanpa menggunakan atasan. Saat Johnny berusaha mengingat kejadian semalam tiba-tiba saja kepalanya berdenyut tak karuan. Saat sarapan Johnny berusaha menanyakan pada Ten apa yang terjadi padanya. Wanita itu menjawab singkat dan menjelaskan jika semalam Johnny berkelahi dengan Jaehyun di klub malam. Johnny hanya mengangguk dan nampak tidak tertarik dengan penjelasan Ten sampai akhirnya ia menyadari Ten mengenakan sweater turtleneck di cuaca sepanas ini, namun rasa gengsi lebih mendominasi sehingga Johnny mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Dua minggu setelah kejadian penyatuan cinta antara Ten dan Johnny tiba-tiba saja kepala Johnny berdenyut sakit saat tengah memeriksa beberapa berkas di ruang kerjanya. Tiba-tiba saja Johnny mengingat sesuatu tentang kilasan adegan ranjangnya beberapa minggu lalu bersama Ten. Johnny menjatuhkan pulpen miliknya saat merasa kilasan itu semakin nyata. Hari itu Johnny tersadar jika ia telah merenggut milik Ten saat tengah mabuk berat, tapi kenapa wanita itu sama sekali tak menjelaskan apapun padanya, pikirnya. Hari berganti hari namun entah kenapa Johnny merasa semakin canggung jika Ten berada di dekatnya, mulai hari itu ia memutuskan untuk tidak lagi sarapan bersama Ten bahkan pria itu sering sekali pergi ke kantor pagi-pagi buta tanpa sempat menyapa Ten yang tengah sibuk membuat sarapan di dapur. Johnny diselimuti rasa bersalah karena telah menodai Ten saat ia tengah mabuk berat, pikirannya menerawang jauh dan bersiap memikirkan kemungkinan terburuk yang akan didapatkan.

Johnny nampak menyadarkan kepalanya di kursi kokoh miliknya, entah kenapa sejak beberapa hari yang lalu pikirannya dipenuhi oleh Ten. Semakin pria itu berusaha menghindarinya, semakin banyak pikiran tentang Ten bermunculan di otaknya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, ada sebuah pesan masuk di sana. Dengan tergesa Johnny membuka ponselnya dan tiba-tiba saja mata tajamnya membulat sempurna, pesan itu dari wendy mantan kekasihnya.

From: Wendy

Lusa aku akan ke Korea, bisa kita bertemu?

Johnny terpaku beberapa saat setelah membaca pesan itu, pesan yang sudah lama ia tunggu dari mantan kekasihnya. Dengan cepat jemari panjang Johnny bergerak indah di ponsel miliknya dan mulai mengetikkan balasan di sana.

From: Johnny

Aku sibuk, maaf.

Johnny kembali bersandar di kursi miliknya dan sesekali menghela napas. Kenapa disaat Ten mulai menguasai pikirannya tiba-tiba saja Wendy kembali datang seolah menegaskan tempat yang seharusnya menjadi miliknya. Johnny pusing bukan main, bukankah jika sudah seperti ini seharusnya hatinya telah dikuasai sepenuhnya oleh Ten, ditambah dengan segala rasa bersalah yang mulai ia pikirkan sejak beberapa hari lalu, namun entah mengapa sisi lain di hatinya masih memaksanya untuk menerima Wendy.

Hari berikutnya Johnny kembali berangkat ke kantor pagi-pagi buta dan meninggalkan Ten sendirian. Setelah sampai kantor ia memutuskan untuk berbincang sejenak dengan Junmyeon di lobby perusahaan. Saat tengah asyik berbincang tiba-tiba saja mata tajam Johnny menangkap Ten yang nampak berlari kencang dari arah pintu masuk seraya menutup mulutnya, cukup lama Ten berada di dalam toilet, saat wanita itu kembali dari toilet tanpa sadar Johnny menghembuskan napasnya penuh kelegaan namun itu tak berselang lama tiba-tiba saja Ten kembali menutup mulutnya dan memutar arah ke toilet, ia menghabiskan waktu lebih lama dari sebelumnya sehingga membuat Johnny berkali-kali mengecek jam yang ada di pergelangan tangannya, sorot kekhawatiran terpancar jelas dari mata tajamnya. Johnny memilih menyudahi percakapannya dengan Junmyeon dan menyusul Ten yang baru saja memasuki lift, Johnny bernapas lega saat berhasil menahan pintu lift yang hampir tertutup dengan tangan besarnya. Ia menoleh ke sudut lift dan mendapati Ten yang tengah memejamkan matanya jangan lupakan keringat yang nampak bermunculan di kening putihnya. Johnny berinisiatif membuka pembicaraan antara mereka berdua dan berakhir memberikan sapu tangannya pada Ten untuk sekedar menyeka keringatnya. Wanita itu nampak berterima kasih seraya tersenyum cerah sekalipun wajahnya begitu pucat, raut kebahagian terpancar jelas di wajah Ten saat Johnny mengajaknya bicara. Johnny semakin menyesal telah mendiamkan wanita itu sejak beberapa minggu lalu.

Saat makan siang Johnny dibuat ternganga oleh Ten yang nampak serius menyantap buah-buahan. Ini pengalaman langka yang tak pernah ia lihat sebelumnya mengingat Ten sangat benci makanan berserat itu. Johnny terpaku beberapa saat sampai akhirnya sang sekretaris menginterupsi kegiatannya, Johnny kembali melanjutkan makan siangnya dan sesekali melirik ke arah Ten yang nampak bercanda ria dengan teman-temannya. Sore harinya Johnny memutuskan untuk mengajak Ten pulang bersama, ia menghubungi ponsel Ten beberapa kali namun tak mendapatkan jawaban, di lobby ia berpapasan dengan Mingyu dan sempat menanyakan apa tim marketing sedang lembur, dengan wajah keheranan Mingyu menjawab pertanyaan bosnya bahwa semua karyawan baru saja pulang dan ia menjadi yang terakhir meninggalkan ruangan.

Johnny menghela napas panjang dan berjalan ke arah basement ia mulai mengendarai mobilnya, tiba-tiba saja ia menangkap siluet wanita yang ia kenal tengah bersandar di halte bus seraya memijat pelipisnya. Tanpa sadar Johnny membunyikan klakson mobilnya dan mengundang Ten untuk pulang bersamanya. Wanita itu masuk ke mobil Johnny dengan wajah yang masih sama pucatnya dengan tadi pagi. Keheningan nampak menguasai mereka berdua hingga akhirnya Johnny tersadar jika Ten tertidur di tengah perjalanan mereka pulang ke rumah. Johnny menurunkan kecepatan mobilnya seolah membiarkan wanita itu beristirahat lebih lama. Sesekali senyuman seulas nampak terukir di wajah Johnny manakala menatap Ten yang nampak damai dalam tidurnya.