14. Let It Flow

Ten nampak memejamkan matanya saat perjalanan pulang ke rumah, entah kenapa tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu berat dan mual yang tadi pagi menghampirinya kembali menyapa dengan malu-malu. Ten menahan mati-matian rasa mualnya agar tidak diketahui oleh Johnny. Saat mobil mewah itu berhenti tepat di halaman rumah mereka, Ten bergegas membuka matanya dan berlari ke dalam. Meninggalkan Johnny yang masih terlihat kebingungan di kursi pengemudi. Ia mulai bangkit dari duduknya dan menyusul Ten yang nampak tengah membungkuk di wastafel dapur. Wanita itu tengah sibuk membersihkan mulutnya setelah sebelumnya memuntahkan cairan bening dari dalam perutnya.

"Perlu ke rumah sakit?" Tanya Johnny yang baru muncul dari arah belakang.

"Ah tidak perlu sebentar lagi juga sembuh, aku ke kamar dulu John." Balas Ten dan mulai melangkah ke kamarnya. Johnny nampak terdiam dan merasa bersalah telah mendiamkan Ten selama beberapa hari belakangan.

"Johnny maaf, malam ini kau bisa makan diluar. Aku tidak akan masak malam ini." Ucap Ten sebelum ia membuka kamarnya, Johnny hanya mengangguk sekilas dan terlihat mulai berjalan ke lantai atas.

Di dalam kamar Ten benar-benar kehilangan semua tenaganya, ia berbaring di kasur empuknya dan membungkus tubuh rampingnya dengan selimut. Ten bahkan tidak peduli jika ia nantinya akan terlelap dengan pakaian kotor yang penting wanita itu dapat segera mengistirahatkan tubuhnya. Ten terbangun tengah malam karena perutnya berbunyi cukup kencang, ia bergegas keluar dan berjalan menuju dapur. Ten menghembuskan napasnya saat teringat ia belum memasak apapun malam ini, dengan berat hati Ten memutuskan untuk memesan makanan sebelum ia mati kelaparan. Tak lama makanan yang Ten pesan datang, ia memesan ayam goreng dengan porsi yang cukup besar, entah kenapa tiba-tiba saja Ten teringat akan kelezatan ayam goreng saat tengah melamun tadi. Ten bergegas mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas makan malamnya. Wanita cantik itu sesekali terlihat tertawa saat menonton video di ponsel miliknya, tiba-tiba saja ia baru ingat dengan keberadaan Johnny suaminya. Entah kenapa malam ini rumah mereka begitu sepi seperti tak berpenghuni, Ten tebak suaminya itu pasti masih di klub bersama teman-temannya.

Seolah saling bertelepati tiba-tiba saja pintu utama rumah mereka terbuka, tak lama Johnny mulai memasuki rumah dan menatap keheranan ke arah Ten yang tengah tertawa seraya tangan kanannya memegang sepotong ayam goreng.

"Kau baru makan jam segini?" Tanya Johnny yang nampak berdiri di belakang sofa. Ten sedikit terkejut mendengar suara Johnny, ia hanya tersenyum seraya menikmati potongan ayam miliknya.

"Kau mau?" Tanya Ten. Johnny hanya menggeleng dan melangkah menuju kamarnya.

"Jangan tidur terlalu malam, besok kau harus bekerja." Ucap Johnny sebelum ia benar-benar menghilang dari hadapan Ten. Wanita cantik itu hanya mengangguk, namun senyuman cerah terukir indah di wajahnya, ternyata Johnny sangat perhatian padanya, pikir Ten.

Saat Ten terbangun di pagi hari keadaan menjadi semakin kacau. Kepalanya tiba-tiba saja berdenyut nyeri dan rasa mual kembali menghinggapinya. Ten jadi semakin malas untuk bangkit dari tempat tidurnya. Wanita cantik itu baru keluar kamar sekitar pukul tujuh dan mendapati rumahnya yang benar-benar sepi bagai tak berpenghuni. Pasti Johnny telah sampai di kantor, pikirnya. Ten memutuskan untuk berangkat menggunakan taksi dan berniat sarapan di café dekat kantor. Baiklah entah mengapa suasana hatinya hari ini pun begitu buruk tidak seperti biasanya.

Setelah selesai dengan urusan sarapan, Ten memasuki ruangannya dan segera disambut dengan helaan napas Dokyeom yang begitu panjang. Bukankah ini terlalu pagi untuk sekedar mengeluh, pikir Ten. Tak jauh dari Dokyeom, Irene nampak berdecak sebal seraya melihat beberapa dokumen yang berada di tangannya, rasanya hari ini memang buruk untuk semua orang.

"Kalian bertiga, setelah makan siang ikut aku rapat dengan sajangnim." Ucap Mingyu yang entah sejak kapan berada di dekat meja Dokyeom. Tiga sekawan itu hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka.

"Apa ada hal penting sampai kita harus bertemu sajangnim?" Ucap Dokyeom penuh tanda tanya.

"Mana aku tahu." Balas Irene sedikit kesal. Ten termenung seraya meresapi apa yang dikatakan Dokyeom karena biasanya mereka hanya akan pergi rapat bersama sajangnim jika ada hal yang gawat tentang perusahaan. Lantas drama apa lagi yang akan mendera perusahaan sebesar Seo Corp ini, pikir Ten.

Saat jam makan siang tiba Ten dapat tersenyum cerah karena rasa mual dan pusing yang mengganggunya sejak pagi telah mulai menghilang. Ten dan Irene pergi ke kantin terlebih dahulu meninggalkan Dokyeom yang masih sibuk dengan urusannya memeriksa beberapa dokumen pendukung untuk rapat siang nanti. Ten dan Irene nampak berbincang seraya mengambil makanan yang akan mereka makan setelah itu mereka duduk di deretan kursi kosong yang berada di dekat jendela. Dari kejauhan Dokyeom terlihat melambaikan tangannya dan dibalas oleh Irene seolah mengajak pria itu untuk bergabung dengan mereka. Bersamaan dengan Dokyeom yang berjalan ke arah mereka tiba-tiba saja seorang wanita dengan wajah yang berapi-api mengguyur segelas jus stroberi tepat ke wajah Ten.

Dokyeom yang baru saja tiba terkejut bukan main, Irene yang duduk di hadapan Ten menjatuhkan rahangnya karena tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya, dan jangan lupakan mata seluruh karyawan menaruh atensi penuh pada Ten dan Doyeon yang terlihat berapi-api kala itu.

"Kau benar-benar tak tahu malu. Karyawan rendahan sepertimu berani-beraninya menggoda sajangnim." Ucap Doyeon berapi-api dan menarik Ten sekuat tenaga supaya bangkit dari kursinya.

"Apa maksudmu? Kau salah paham Doyeon-ssi." Balas Ten seraya membersihkan wajahnya yang terlihat sangat menjijikan.

Plak!

Suara tamparan mendarat tepat di pipi mulus Ten hingga membuat wanita itu tersungkur ke belakang, jujur saja Ten tidak pernah mengira jika tenaga Doyeon sebesar itu. Irene berlari ke arah Ten dan membantunya untuk bangkit berdiri sedangkan Dokyeom sibuk menjauhkan Doyeon yang masih dikuasai oleh emosinya. Dari arah berlawanan Mingyu dan Johnny terlihat berjalan berdampingan dan mendekat ke arah Ten. Mingyu terkejut bukan main melihat penampilan Ten yang begitu berantakan dan jangan lupakan Doyeon yang masih mengumpat tepat di hadapan wajah Ten.

"Doyeon-ssi kau sudah gila?" Geram Mingyu. Pria tampan itu menarik tangan Ten dan membawanya menjauh dari Doyeon.

Dari ujung matanya Ten dapat melihat Johnny berdiri terpaku tak jauh dari tempatnya berada, sedikit kecewa karena bukan Johnny yang bersusah payah untuk menolongnya, tapi ia bisa apa lagipula memang sejak awal keputusan mereka berdua untuk merahasiakan pernikahan mereka. Ten membungkuk berkali-kali dan mengucap terima kasih pada Mingyu yang telah menyelamatkannya, wanita cantik itu bergegas masuk ke toilet dan membersihkan dirinya. Ten memandangi wajahnya di cermin, benar-benar mengenaskan, bahkan blazer yang ia kenakan rasanya tidak dapat diselamatkan lagi dengan noda merah jus stroberi yang hampir merata. Ten merogoh sakunya dan menghubungi Irene, seingatnya sahabatnya itu tadi pagi membawa beberapa pakaian yang baru diambil dari tempat laundry.

"Astaga, kurasa Doyeon itu benar-banar gila." Ucap Irene geram, ia terlihat mengatur nafasnya yang tak beraturan dan memberikan setelan pakaian ganti pada Ten.

"Aku juga bingung dia kenapa." Balas Ten, ia mulai bersiap untuk mengganti pakaiannya.

"Apa kau dan sajangnim pernah pergi bersama, maksudku kau tahu kan tadi Doyeon menyebut-nyebut sajangnim saat memarahimu." Ujar Irene. Pikiran Ten mengingat jauh ke belakang, ia terkesiap ketika teringat kemarin ia dan Johnny pulang ke rumah bersama, pasti saat itu Doyeon melihatnya masuk ke mobil Johnny, pikir Ten.

"Ah…. Kemarin aku dan sajangnim pulang bersama, tempatku tinggal sekarang searah dengan rumahnya." Cicit Ten. Irene membelalakkan matanya setelah mendengar perkataan Ten, bagaimana bisa karyawan biasa seperti Ten pulang bersama CEO perusahaannya.

"Kurasa dia marah karena melihatmu dan sajangnim pergi bersama. Dasar wanita tak tahu malu, bahkan sajangnim saja jelas-jelas tidak menyukainya." Cecar Irene. Wanita cantik itu terlihat berada di puncak kekesalannya saat ini.

"Rambutmu basah Ten, keringkan dulu." Ucap Irene seraya memberikan handuk kecil pada sahabatnya itu.

"Gomawo eonni. Aku tak tahu akan jadi apa jika tidak ada pakaianmu." Balas Ten.

"Kau wangi stroberi Ten." Ucap Irene seraya mengendus-ngendus aroma tubuh Ten.

"Eonni…." Ten mencebikkan bibirnya karena cukup kesal dengan Irene yang masih sempat menggodanya.

"Kau lucu sekali, ayo cepat. Bahkan tadi kau belum sempat menyentuh makan siangmu." Ujar Irene seraya mengelus surai hitam Ten yang sedikit lembab.

"Aku sudah tidak lapar. Omelan Doyeon benar-benar mengenyangkan." Balas Ten.

"Tapi kita ada rapat penting Ten, kau harus isi perutmu dulu sebelum menghabiskan seluruh tenagamu nanti." Ujar Irene, jujur saja wanita cantik itu terlihat sangat panik dan tak ingin hal buruk menimpa Ten yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

Tak lama Ten dan Irene berjalan beriringan ke ruangan mereka, sesampainya di ruangan, Irene dan Dokyeom bergegas pergi bersama Mingyu untuk menghadiri rapat meninggalkan Ten yang masih sibuk merapikan pakaian kotornya. Setelah selesai Ten berjalan dengan tergesa dan mengetok ruang rapat, ia duduk di sebelah Mingyu dan mulai fokus mendengarkan penjelasan dari Junmyeon sang manajer keuangan. Tak sengaja Ten dan Johnny saling bertemu pandang, aura kecanggungan menguar jelas dari keduanya, Ten kembali fokus dengan kegiatannya begitupun dengan Johnny yang kembali mendengar penjelasan Junmyeon yang ada di hadapannya. Ten baru sadar jika hari ini Johnny tidak didampingi oleh Doyeon, biasanya setiap rapat si sekretaris cantik itu akan senantiasa mengekor kemanapun Johnny pergi. Apa mungkin karena masalah saat makan siang tadi Doyeon jadi tak menampakkan diri.

Setelah selesai rapat semua orang kembali ke ruangannya masing-masing. Ten terlihat bersin dan beberapa kali menggaruk hidungnya yang terasa tidak nyaman. Wanita cantik itu terlihat mendengus sebal sudah pasti ia terkena flu setelah insiden jus stroberi tadi siang. Saat tengah menyelesaikan pekerjaannya tiba-tiba saja perutnya berbunyi, benar-benar hari ini sungguh sial, pikir Ten.

"Makan ini. Kau tahu suara perutmu itu bahkan sampai terdengar ke mejaku…." Ucap Dokyeom seraya terkekeh, ia melempar chocopie yang tepat mendarat di meja Ten. Wanita itu tersenyum cerah dan memandang penuh harap ke chocopie pemberian Dokyeom, benar-benar penyelamat, pikirnya.

"Gomawo Dokyeom-ah." Balas Ten. Dokyeom hanya mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya yang entah kenapa hari ini terasa begitu menumpuk dan sedikit memuakkan.

Setelah jam pulang datang beberapa karyawan berhamburan dan bergegas untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Begitu pula dengan tiga sekawan dari tim marketing, sore itu mereka terlihat berjalan beriringan menuju ke arah lobby perusahaan mereka.

"Kau jangan pulang bersama sajangnim lagi hari ini. Bisa saja hari ini kau dapat jus stroberi dan esok kau akan dapat jus alpukat." Ucap Irene seraya bercanda.

"Noona biarkan saja jika dia pulang dengan sajangnim, tapi besok jangan lupa bawa pakaian ganti Ten, haha…." Sambuk Dokyeom tak kalah meledek.

"Memang temanku tak ada yang berguna. Suka sekali meledek. Aku akan naik taksi, bye supirnya sudah di depan…." Balas Ten kemudian berlari meninggalkan Irene dan Dokyeom yang terlihat tersenyum simpul.

Begitu sampai di rumah Ten bergegas mandi karena jujur saja tubuhnya merasa tidak enak setelah terkena siraman jus stroberi dari Doyeon. Setelah mandi Ten nampak tak berdaya, ia terlihat meringkuk di kasurnya dengan hidung yang tersumbat, benar-benar guyuran jus stroberi memberikan efek sedahsyat ini bagi wanita mungil itu. Ten meraba keningnya dan merasakan hangat yang menjalar dari sana, dengan sekuat tenaga Ten bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah kotak obat yang berada di dapur. Ten memutuskan untuk menempelkan plester penurun demam tepat di keningnya, setelah itu ia berinisiatif memesan makanan karena merasa terlalu lelah hanya sekedar untuk memasak.

Ten menenggelamkan kepalanya di meja makan seraya menunggu pesanannya tiba. Dari kejauhan Johnny yang baru saja keluar dari ruang kerjanya nampak terkejut melihat Ten dengan kelakuan randomnya malam itu. Hati kecil Johnny seolah memaksanya untuk mendekati Ten dan menanyakan bagaimana keadaan wanita itu setelah insiden jus stroberi tadi siang, namun rasa gengsi masih menguasainya sehingga Johnny memutuskan untuk menepi sejenak dari rumah tanpa memperdulikan keadaan Ten yang nampak sangat kacau.

"Aku pergi dulu." Ucap Johnny saat melewati meja makan. Ten mendongakkan wajahnya yang semula ia tenggelamkan dan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Johnny, entah mengapa hari ini rasanya Ten tidak ingin repot-repot sekedar mengajak Johnny berbicara. Johnny hampir saja menghentikan langkahnya saat melihat Ten yang mengenakan plester penurun demam di keningnya namun ego kembali menguasainya dan ia memilih untuk melanjutkan kegiatannya.

Ten telah selesai dengan makan malamnya, ia memilih untuk bergegas ke kamar dan ingin segera bercumbu dengan kasur empuknya. Wanita itu merasa terlalu lelah dengan segala keadaan yang menghimpitnya hari ini, jujur saja perlakuan Doyeon beberapa jam yang lalu masih membekas di hati Ten. Sepertinya wanita itu benar-benar menyukai Johnny. Ten memejamkan matanya dan mulai menjelajah ke alam mimpinya. Tepat tengah malam Johnny kembali ke rumah dengan keadaan mabuk berat, untuk malam ini nampaknya pria tinggi itu kalah dengan kenikmatan alkohol yang baru saja ia minum. Johnny berdiri tepat di depan pintu kamar Ten, ia menatap nanar pintu yang telah sepenuhnya tertutup itu. Setelah lelah meratapi pintu kamar Ten, Johnny memutuskan untuk merebahkan tubuh tingginya di sofa ruang keluarga, rasanya pria tinggi itu sudah tidak peduli jika esok hari seluruh tubuhnya akan merasakan pegal yang luar biasa yang terpenting ia bisa segera beristirahat malam itu.

Ten terbangun di pagi hari dengan hidung tersumbat yang amat mengganggunya semalaman, dengan malas ia memutuskan untuk keluar kamar dan berniat mengambil segelas air mineral. Langkah Ten terhenti saat tiba-tiba saja ia melihat Johnny yang tengah tidur meringkuk di sofa dengan pakaian yang masih sama dengan yang semalam ia gunakan. Dengan ragu Ten mengguncang tubuh tinggi Johnny dan berniat untuk membangunkannya mengingat biasanya pria itu pergi ke kantor pagi-pagi sekali.

"John bangun…. Kau harus ke kantor." Ucap Ten mendekat ke arah suaminya.

"Humm…." Hanya gumaman yang keluar dari mulut Johnny, sepertinya ia masih bergelut dengan alam mimpinya.

"Johnny katanya kau ada rapat penting hari ini, cepat bangun!" Ten kembali berusaha membangunkan suaminya itu dengan suara yang makin meninggi. Perlahan Johnny membuka matanya dan terkejut mendapati eksistensi Ten yang berada di hadapannya.

"Cepat mandi John, aku akan buat sarapan untukmu." Ucap Ten dan berniat berlalu meninggalkan Johnny yang masih cukup terkejut dan berusaha mengumpulkan nyawanya.

"Tidak usah, aku sarapan di kantor saja. Sepertinya kau sakit, lebih baik kau istirahat." Ucap Johnny seraya beranjak pergi menuju ke kamarnya. Ten hanya mengangguk, ia nampak setuju dengan perkataan Johnny mengingat kondisi tubuhnya yang semakin rewel sejak peristiwa kemarin, bahkan nanti siang wanita mungil itu berniat pergi ke dokter untuk memeriksakan diri.

Pagi tadi Ten tidak sempat melihat Johnny berangkat ke kantornya. Wanita cantik itu memutuskan untuk mengurung diri di kamar dan memilih untuk bergelung dengan selimut tebalnya. Ten kembali terbangun saat jam menunjukkan pukul sebelas siang, wanita cantik itu memutuskan untuk membersihkan diri dan berniat untuk pergi ke rumah sakit sebelum kondisinya semakin memburuk.

Di sinilah Ten sekarang, di lobby luas Yangji Hospital dan berniat memeriksakan kesehatannya. Ten tengah menunggu untuk konsultasi dengan dokter, tiba-tiba saja seseorang nampak memanggilnya dari kejauhan.

"Ten Lee kan? Istri Johnny?" Ucap Jaehyun yang diketahui sebagai tersangka utama pemanggil nama Ten.

"Ah iya, lama tidak berjumpa Jaehyun-ssi." Balas Ten ragu-ragu, jujur saja ini kali pertama ia bertemu dengan Jaehyun setelah hari pernikahannya dan Johnny beberapa bulan lalu.

"Tak perlu seformal itu kau bisa panggil aku oppa kudengar kau lebih muda dariku. Kau sedang apa di sini?" Tanya Jaehyun, entah berniat basa-basi atau bagaimana tapi Jaehyun sendiri tidak pernah menyangka pertanyaan bodoh seperti itu akan terlontar dari mulutnya.

"Sedang menunggu antrian pemeriksaan oppa." Jawab Ten seraya tersenyum.

"Ah begitu, tertarik ikut denganku? Kebetulan jadwal praktekku belum dimulai." ujar Jaehyun, sebenarnya ia cukup tak tega membiarkan wanita cantik itu menunggu lama mengingat wajahnya yang terlihat pucat dan tak bertenaga.

"Apa boleh begitu?" Tanya Ten. Terlihat keraguan dari nada ucapannya.

"Tentu saja boleh aku yang akan memiliki rumah sakit ini nantinya, kau santai saja. Ayo ikuti aku." Balas Jaehyun tanpa berniat menyombongkan diri, lagi pula kenyataannya memang begitu. Ten terlihat mengikuti Jaehyun dan memasuki ruangan milik pria tampan berlesung pipi itu. Ten menceritakan semua keluhan yang ia rasakan, tak lupa ia juga menyebutkan tentang dirinya yang sering kali mual dan merasa pusing selama beberapa hari terakhir. Jaehyun mendengarkan keluhan Ten dengan saksama dan tak lama kemudian ia menyuruh Ten berbaring agar memudahkan pemeriksaan yang akan ia lakukan. Setelah selesai Jaehyun mempersilahkan Ten untuk duduk kembali dan memandang wanita mungil itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ten kapan terakhir kali kau datang bulan?" Tanya Jaehyun hati-hati, sebenarnya itu adalah pertanyaan yang wajar diberikan untuk wanita yang telah menikah seperti Ten. Namun mengingat kondisi pernikahan Ten dan Johnny yang sudah Jaehyun ketahui sejak awal membuat pria itu lebih hati-hati dalam berkata. Ten nampak terpaku, manik indahnya ia arahkan pada kalender yang terpajang di meja Jaehyun. Wanita cantik itu baru sadar jika siklusnya telah terlewat tiga minggu dari yang seharusnya. Wajah paniknya jelas terbaca oleh Jaehyun yang berada di hadapannya, pria itu berusaha menyadarkan Ten yang terlihat terlarut dalam lamunannya.

"Ten, kau tak apa?" Tanya Jaehyun.

"Ah iya…." Balas Ten setelah berhasil tersadar dari lamunan panjangnya.

"Ayo kita tes." Ucap Jaehyun seraya menyodorkan paper cup dan mempersilahkan Ten untuk pergi ke kamar mandi. Dengan ragu Ten bangkit berdiri dan mengikuti perintah Jaehyun. Entah mengapa jantungnya menjadi sangat berdebar seolah-olah akan berjalan ke medan perang. Setelah selesai Ten menyerahkan paper cup di tangannya pada Jaehyun, pria berlesung pipi itu mengambil sedikit urine Ten menggunakan pipet dan meneteskannya ke sebuah alat yang ten duga sebagai test pack. Netra indah Ten tak henti-hentinya menatap penuh harap ke arah test pack dalam hati ia berdoa semoga saja dugaan Jaehyun salah. Tanpa sadar Ten menggigit kukunya karena terlalu takut untuk menerima kenyataan yang mungkin saja akan mengubah hidupnya.

"Positif, selamat Ten kau hamil." Ucap Jaehyun seraya menunjukkan test pack yang berada di tangannya. Ten terduduk lemas di hadapan Jaehyun dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, wanita cantik itu terlihat begitu bingung dan seolah tak sanggup untuk menghadapi kenyataan yang baru saja ia terima.

"Hei, kau tak apa?" Tanya Jaehyun seraya mengguncang pelan bahu wanita yang ada di hadapannya. Ten menyingkirkan kedua tangannya yang sebelumnya menutupi wajahnya dan mengangguk menanggapi perkataan Jaehyun.

"Selamat ya Ten, akhirnya aku akan punya keponakan. Ah iya setelah ini kau bisa langsung pergi ke dokter kandungan, langsung masuk saja tidak perlu mengantri." Ujar Jaehyun seraya mencoret-coret kertas yang ada di hadapannya. Ten hanya terdiam dan terlihat menunduk dalam seolah tak tertarik dengan perkataan Jaehyun. Setelah selesai Ten bergegas keluar dari ruangan Jaehyun dan berpamitan dengan pria tampan berlesung pipi itu. Ten yang sedang berjalan ke arah pintu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya saat suara berat Jaehyun kembali menyapanya.

"Kau harus beritahu Johnny, tak perlu takut. Bukankah itu anaknya juga? Ah iya jika kau butuh teman untuk bercerita aku bisa jadi pendengar untukmu." Ucap Jaehyun. Dalam hati Ten bermonolog, seandainya saja yang dijodohkan olehnya adalah Jaehyun pasti ia tidak akan se frustasi ini saat mendapatkan kabar kehamilannya.

"Terima kasih oppa, aku pamit dulu." Ucap Ten yang dibalas anggukan kepala serta senyuman manis dari pria bersnelli putih di hadapannya.

Sekalipun Ten terlihat seperti kehilangan arah saat di ruangan Jaehyun, namun wanita itu tentu saja mendengar pesan Jaehyun untuk mengunjungi dokter kandungan. Begitu keluar dari ruangan Jaehyun, Ten dibimbing oleh seorang perawat yang membawanya ke dokter kandungan. Tak lama kemudian pintu ruangan itu terlihat terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik bermata tajam mengenakan snelli putih sama seperti milik Jaehyun, wanita itu terlihat menghampiri Ten dan mempersilahkannya untuk duduk.

"Jung seonsaengnim sudah menitipkanmu padaku, santai saja. Silahkan berbaring dulu." Ucap wanita yang saat Ten lihat snellinya ia bernama Kang Seulgi. Ten menaikkan pakaiannya sampai sebatas perut dan membiarkan Seulgi mengoleskan gel yang membuat Ten cukup terkesiap karena rasa dingin yang menyebar. Seulgi mulai membiarkan alat di tangannya menari di atas perut ramping Ten, mata tajam wanita itu begitu fokus menatap ke arah monitor yang ada di hadapannya meninggalkan Ten yang bergelut sendiri dengan segala pemikirannya.

"Wah sudah empat minggu, dia masih berukuran kecil kira-kira sebesar biji kacang hijau." Ucap Seulgi terlihat antusias. Ten mendengar dengan saksama penjelasan yang diutarakan oleh Seulgi, sesekali ia terlihat mengangguk sebagai tanda mengerti atas semua ucapan Seulgi. Seulgi menyodorkan tissue pada Ten dan meminta wanita itu untuk menghapus sisa gel yang masih berada di permukaan perutnya, setelah selesai Ten duduk berhadapan dengan Seulgi dan memulai sesi konsultasi.

"Pasti akhir-akhir ini sering mual dan pusing ya?" Tanya Seulgi.

"Humm…. Beberapa hari lalu sempat mual dan pusing sekilas." Balas Ten.

"Ah itu wajar, biasanya gejala seperti itu akan bertahan sampai trimester pertama kehamilan, tapi setiap orang berbeda-beda untuk kasus tertentu. Bahkan ada yang tetap mengalami mual sampai trimester ketiga, ada juga yang tidak merasakan mual sama sekali sepanjang kehamilan." Jelas Seulgi panjang lebar. Ten terlihat mengangguk beberapa kali sebagai tanda mengerti atas semua ucapan Seulgi.

"Begini seonsaengnim tadi saat konsultasi dengan Jung seonsaengnim ia memberikanku beberapa obat yang harus ditebus, apa itu boleh?" Tanya Ten hati-hati.

"Sebentar ya aku cek dulu resep yang diberikan oleh Jung seonsaengnim padamu." Ucap Seulgi, mata tajamnya terlihat menjelajah monitor dengan teliti, seolah tidak ada hal yang mampu terlewatkan olehnya.

"Ah ini masih obat-obat yang aman untuk ibu hamil, nanti akan aku tambahkan resep vitamin sebagai penunjang." Ujar Seulgi.

"Setelah ini jangan terlalu lelah, tidur yang cukup, dan jangan lupa perbanyak konsumsi makanan sehat. Kau bisa kembali kesini lagi bulan depan." Ucap Seulgi seraya tersenyum manis pada Ten sampai matanya membentuk bulan sabit. Ten bangkit dari duduknya dan berniat berpamitan setelah mengakhiri sesi konsultasi. Tiba-tiba saja Seulgi yang berada di hadapannya ikut berdiri dan mengulurkan tangannya, Ten menatap bingung ke arah Seulgi namun perlahan ia mulai membalas uluran tangan dokter cantik itu.

"Selamat ya sebentar lagi kau akan jadi seorang ibu. Semoga keduanya selalu sehat sampai proses persalinan nanti." Ucap Seulgi, jujur saja ucapannya membuat Ten tertegun dan merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan dokter sebaik itu. Ten balas tersenyum pada Seulgi dan menganggukan kepala.

"Ah iya ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku jika terjadi sesuatu." Ucap Seulgi, ia menyodorkan selembar kartu nama pada Ten dan disambut baik oleh wanita mungil itu.

"Terima kasih banyak, aku permisi dulu." Ucap Ten dan bergegas keluar dari ruangan Seulgi.

Ten tiba di rumah tepat pukul tiga sore, bahkan saat di rumah ia menjadi lebih panik dari pada saat di rumah sakit. Pikiran Ten menerawang jauh memikirkan bagaimana caranya memberitahu Johnny jika ia sedang mengandung anak pria itu. Ten masuk ke kamar mandi dan melakukan tes ulang menggunakan test pack yang sempat ia beli beberapa menit yang lalu. Bahkan setelah penjelasan panjang lebar dari Seulgi, Ten masih belum yakin jika ia sedang hamil. Pertahanan yang Ten buat sejak tadi runtuh seketika, bahu yang semula berdiri kokoh itu kini mengendur dan membiarkan sang pemilik bersandar ke dinding kamar mandi dengan manik indahnya yang terlihat berkaca-kaca. Dalam hati Ten mengutuk dirinya beberapa kali, seharusnya malam itu ia bisa segera menyingkir dari Johnny supaya hal seperti ini tidak akan terjadi. Tanpa sadar air mata mulai berlomba-lomba untuk keluar dari manik indahnya, ia bahkan tak sanggup untuk membayangkan anaknya yang akan hidup di tengah hubungannya dengan Johnny yang malah semakin terpuruk.

Ten menenggelamkan wajahnya di meja makan dan membiarkan test pack dengan hasil positif di hadapannya tergeletak begitu saja. Ten mendongak dan berniat mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak tak berdaya di dalam tasnya. Ten menatap ke arah benda persegi panjang tersebut, hatinya seolah memaksa untuk segera menghubungi Johnny dan mengabarkan berita yang entah akan jadi gembira atau menyedihkan bagi pria itu. Baru saja Ten hendak menekan nomor Johnny, tiba-tiba saja pintu utama rumah mereka terbuka dan tak lama kemudian pria yang sejak tadi Ten tunggu menampakkan batang hidungnya. Wajah pria itu sedikit kacau, penampilannya juga agak berantakan. Jas yang biasa digunakan, ia biarkan tersampir di tangan kokoh miliknya dan jangan lupakan lengan kemejanya yang telah ia gulung sampai sebatas siku. Melihat penampilan Johnny yang menurut Ten sedikit kacau, ia nampak ragu dan berpikir ulang untuk memberitahu Johnny. Namun hati Ten seolah tidak bisa diajak bekerja sama, tanpa sadar Ten berdiri dan bersuara cukup keras yang kontan membuat Johnny menoleh ke arahnya dengan wajah yang penuh keheranan.

"John, bisa kita bicara sebentar." Ucap Ten, seketika lidahnya kelu saat ia berhasil mengucapkan rangkaian kalimat yang sejak tadi terbenam di hatinya.

"Apa penting?" Tanya Johnny penuh selidik. Ten hanya menganggukan kepalanya, tatapan matanya seolah menyiratkan jika wanita itu butuh untuk Johnny dengar saat ini.

"Aku taruh ini dulu." Jawab Johnny seraya menunjukan jas dan tas kerjanya yang sejak tadi ia bawa. Ten mengangguk dan kembali duduk seraya menunggu pria yang berstatus sebagai suaminya itu keluar dari ruang kerjanya.

"Ada apa?" Ujar Johnny yang mulai duduk di hadapan Ten. Dengan ragu Ten menyodorkan test pack yang sejak tadi berada di atas meja tepat ke hadapan Johnny. Sorot mata tajam pria itu mengikuti arah tangan Ten, ia nampak tak terkejut sama sekali setelah melihat test pack dengan hasil positif di sana.

"Aku hamil. Bagaimana ini?" Tanya Ten, nada suaranya sarat akan kefrustasian. Tanpa sadar wanita itu mulai kembali menutup wajah cantiknya dengan kedua tangannya. Johnny nampak tersenyum sekilas melihat tingkah laku Ten, sebenarnya beberapa jam lalu saat ia sedang memeriksa beberapa berkas penting di ruangannya tiba-tiba Jaehyun menghubunginya dan memberikan kabar yang tak pernah ia duga sebelumnya. Siang tadi dunia Johnny nampak berhenti seketika, ia merasa bingung dan tidak mengerti bagaimana ia akan menghadapi Ten saat di rumah nanti. Nyatanya wanita itu ternyata sama kalutnya seperti dirinya.

"Apanya yang bagaimana? Bukankah itu anakku." Ucap Johnny. Ten menurunkan tangan yang sempat menutupi wajahnya dan menatap Johnny dengan terheran-heran. Apa pria itu telah mengetahui kejadian sebenarnya, pikirnya.

"Maafkan aku, malam itu karena aku mabuk tanpa sadar malah melakukannya denganmu." Ucap Johnny, Ten menatap lekat mata tajam milik pria itu, ia sama sekali tak mendapati kebohongan dari sorot matanya. Yang ada hanya sorot mata yang penuh akan penyesalan.

"Seharusnya malam itu aku bisa kabur, tapi tak kusangka kita malah berakhir seperti itu." Ucap Ten. Johnny menatap wajah Ten lekat, ia dengan jelas dapat membaca raut wajah wanita itu yang sarat akan ketakutan.

"Aku rasa kita belum membutuhkan anak ini." Kalimat itu tiba-tiba saja meluncur halus dari mulut si wanita cantik.

"Maksudmu?" Ucap Johnny yang nampak terkejut hingga matanya membulat sempurna.

"Kita tidak saling mencintai John, aku tak mau nantinya anakku akan tumbuh dalam lingkungan yang seperti ini. Cukup aku yang merasakan kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuaku, aku tak mau anakku juga merasakan apa yang kurasakan." Ucap Ten seraya mengelus perutnya yang masih datar.

"Jadi maksudmu kau ingin membunuhnya?!" Balas Johnny, entah kenapa perkataannya sarat akan emosi yang tak bisa terbendung. Ten hanya diam bahkan tak berani menatap mata lawan bicaranya itu.

"Dengarkan aku baik-baik, sampai saat ini aku memang belum mencintaimu Ten. Aku minta maaf karena kecerobohanku malam itu malah membuat kita berakhir seperti ini. Tapi kau salah besar jika memutuskan untuk membunuh anak itu bahkan sebelum ia sempat lahir ke dunia. Kita mulai semuanya dari awal, kita jalani sebagaimana mestinya." Ujar Johnny panjang lebar. Ten mendongak dan menatap Johnny dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak pernah menyangka jika kalimat semacam itu akan meluncur bebas dari mulut Johnny tanpa ada beban sedikitpun.

"Aku takut…." Ucap Ten, bahkan ia kembali menundukkan kepalanya. Johnny bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya itu. Ia menarik Ten untuk mendekatinya dan membawa wanita mungil itu dalam dekapannya. Tangan besarnya ia gunakan untuk mengelus pundak rapuh sang istri yang mulai menangis tak terkendali.

"Kau tak perlu takut. Kita mulai semuanya dari awal, aku akan tetap bersamamu." Ucap Johnny. Mungkin hari ini adalah hari yang tepat bagi Johnny untuk mengungkapkan segala perasaannya dan membiarkan Ten dan dirinya memulai semuanya dari awal, menghancurkan jembatan kayu rapuh yang sebelumnya membatasi mereka dan memulai kehidupan pernikahan yang bahagia selayaknya pasangan muda di luar sana.

Johnny melepas pelukannya dan menatap wajah wanita di hadapannya itu, ia mengulurkan jemari panjangnya untuk menghapus air mata Ten yang masih berlomba untuk keluar dari manik indah milik si wanita mungil. Perlakuan Johnny yang begitu manis membuat Ten semakin tenggelam dalam tangisnya, tanpa pikir panjang ia menerjang tubuh tinggi Johnny dan mendekapnya erat seolah tak mengizinkan Johnny untuk pergi kemanapun. Johnny tersenyum menerima perlakuan Ten, ia mulai mengusap surai hitam sang istri dan menikmati aroma vanilla yang menguar dari sana. Aroma yang sama seperti saat ia bertemu dengan Ten pertama kali di gereja panti asuhan beberapa bulan lalu.

"Kita mulai dari awal ya, jangan takut aku tak akan pergi kemanapun…." Ujar Johnny seraya mengecup pucuk kepala sang istri. Ten mengangguk dalam dekapan suaminya tanpa berusaha untuk menghentikan derai air matanya yang sukses membasahi kemeja Johnny.

Sore itu seolah pelangi datang menghampiri Ten. Tanpa ia duga pria dingin seperti Johnny mampu menenangkan hatinya yang kalut luar biasa. Semoga saja hari ini adalah awal yang baik untuk kehidupan pernikahan mereka, sekalipun Johnny belum menyukainya, Ten yakin suatu saat perasaannya akan terbalas. Lagi pula bukankah cinta hadir karena terbiasa, selayaknya dua pasangan ini yang terbiasa bersama.