15. Sweet Johnny
Sore itu Ten melepas pelukan Johnny dengan perasaan canggung terlebih mengingat ia yang berhasil membuat kemeja pria itu basah setelah bermenit-menit menangis tanpa mengijinkan pria itu melepaskan pelukannya. Ten mengambil tasnya yang berada di atas meja makan dan berniat meninggalkan pria itu karena sudah terlalu malu untuk berhadapan dengan Johnny. Si pria tampan nampak tersenyum ramah rasanya ia ingin berteriak gemas melihat kelakuan wanita di hadapannya itu.
"Mau kemana?" Tanya Johnny saat melihat Ten mengambil semua barangnya yang berada di atas meja makan.
"A-aku ke kamar dulu." Balas Ten sedikit terbata.
"Tak mau menangis lagi." Ucap Johnny seraya terkekeh. Ten mencebikkan bibir tipisnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghilang dari hadapan Johnny.
Di dalam kamar Ten hampir saja melompat kegirangan jika tidak ingat ia sedang berbadan dua. Wanita cantik itu menutup mulutnya rapat-rapat untuk menahan suara teriakan yang sudah tertahan di ujung tenggorokannya sejak tadi. Setelah sederet perlakuan manis Johnny padanya beberapa menit lalu Ten tak henti-hentinya tersenyum cerah. Sekali lagi ia tidak percaya jika Johnny yang sedingin kutub mampu menjadi orang yang membuatnya dilingkupi kehangatan. Ten memutuskan untuk mandi dan menikmati sisa hari ini dengan damai. Rasanya Johnny mau bersamanya dan menerima bayi yang ia kandung sudah sangat membuatnya bahagia, bagaimana jika suatu hari Johnny benar-benar mencintainya, mungkin Ten akan langsung pingsan di tempat saat itu juga.
"Ten…. Kau di dalam…." Terdengar suara Johnny yang mengetuk pintu kamarnya. Ten yang sedang berbaring di kasur bergegas bangkit dan membuka pintu kamarnya.
"Iya ada apa?" Ucap Ten, jujur saja ia masih terlalu malu untuk menghadapi Johnny di sisa hari ini.
"Aku lapar. Kau tak berniat memasakkan sesuatu?" Tanya Johnny. Jujur saja perkataan pria dihadapannya ini membuat Ten cukup terkejut, apa setelah kejadian tadi sikap Johnny benar-benar langsung berubah.
"Kukira kau akan pergi keluar seperti biasanya." Jawab Ten jujur.
"Tidak." Jawab Johnny singkat seraya mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga.
"Ya Sudah tunggu sebentar aku akan memasak sesuatu untukmu." Jawab Ten. Johnny hanya mengangguk dan kembali fokus dengan benda persegi panjang yang sejak tadi ada di tangannya.
Harum masakan menyapa hidung bangir Johnny dan membuatnya bangkit dari ruang keluarga. Ia melangkahkan kaki jenjangnya ke dapur dan mendapati Ten yang tengah sibuk dengan beberapa bahan masakan. Johnny terpaku selama beberapa saat, sepertinya benar apa yang dikatakan Jaehyun beberapa bulan yang lalu, bagaimana ia bisa tak sadar akan eksistensi Ten dihadapannya, bahkan mungkin wanita itu bersikap terlalu baik pada Johnny selama ini. Dulu Johnny hanya berpikir mungkin Ten sama dengan wanita lain yang hanya akan mengincar kekayaan keluarganya, namun nyatanya ia benar-benar salah. Ten bahkan sama sekali tak tertarik sekalipun tahu jika harta keluarga Johnny melimpah ruah, wanita itu memang terlalu naif yang ia tahu ia telah menjadi istri Johnny dan telah berjanji di hadapan Tuhan untuk saling menjaga satu sama lain.
"Ini…." Ujar Ten seraya meletakkan beberapa lauk pauk dan semangkuk nasi di hadapan Johnny. Sontak si pria tinggi terbangun dari lamunannya dan menatap ke berbagai makanan yang telah tersaji di meja makan.
"Kau tidak makan juga?" Tanya Johnny saat menyadari wanita itu mulai menjauh dari meja makan.
"Tidak, kau saja aku tidak lapar." Ucap Ten, bahkan ia terus melangkah tanpa mempedulikan Johnny yang menatap penuh kekhawatiran ke arahnya.
"Jangan begitu Ten, tak baik untuk kesehatanmu. Bukankah kau belum makan apapun sejak kembali dari rumah sakit tadi." Ujar Johnny, ia mulai berjalan mendekat dan memaksa wanita itu untuk makan bersamanya.
"Cepat makan. Jika kau tidak ingin makan untuk dirimu sendiri, setidaknya makanlah untuk anakku. Dia juga butuh energi untuk bertahan di sana." Ten nampak terkejut mendengar perkataan semacam itu meluncur mulus dari mulut Johnny dan jangan lupakan gestur Johnny yang seolah menunjuk perut Ten menggunakan dagunya. Ten akhirnya duduk di salah satu kursi meja makan dan membiarkan Johnny mengambilkan nasi untuknya.
"Makanlah sebanyak apapun yang kau bisa." Ujar Johnny seraya meletakkan semangkuk nasi di hadapan Ten.
"Terima kasih." Cicit Ten pelan yang mungkin tak sampai ke telinga Johnny.
Makan malam hari itu diselimuti keheningan, sebenarnya ini kali pertama bagi Ten untuk makan malam bersama Johnny mengingat selama ini suaminya itu selalu keluar menjelang malam dan baru akan kembali saat tengah malam atau mungkin dini hari. Ten sendiri cukup heran karena tiba-tiba saja hari ini Johnny memutuskan untuk tidak pergi keluar seperti biasanya, apa mungkin ada sesuatu yang berhasil mengubah pemikiran Johnny, pikir Ten. Bunyi tumbukan antara mangkuk dan sendok mendominasi ruang makan, pasangan muda itu seolah tidak ada yang berniat untuk sekedar membuka pembicaraan. Mata tajam Johnny beralih ke arah Ten yang sejak tadi sibuk mengaduk nasi miliknya tanpa memasukkannya ke mulut, gemas juga melihat tingkah istrinya itu.
"Kau sudah kenyang?" Ujar Johnny, ia sendiri masih sibuk mengambil potongan chicken teriyaki yang tersaji di hadapannya.
"Humm…." Gumam Ten, ia bahkan tak berani menatap mata Johnny.
"Kau yakin? Setelah kuperhatikan kau baru makan tiga suap." Ucap Johnny, nada suaranya mulai terdengar serius. Jujur saja itu membuat Ten bergidik mendengarnya.
"Aku mau makan sesuatu." Ujar Ten tiba-tiba.
"Katakan." Balas Johnny, ia bahkan tak menatap wajah Ten karena terlalu sibuk melahap makanannya.
"Stroberi." Balas Ten singkat. Detik itu juga Johnny hampir tersedak makanannya, Ten bergegas menyodorkan minum ke arah Johnny yang terlihat tidak nyaman. Kenapa stroberi membuat Johnny seterkejut itu, pikirnya.
"Kau tak salah bicara? Maksudku stroberi, kau yakin?" Tanya Johnny penuh penekanan di setiap katanya. Ten hanya mengangguk, ia bangkit berdiri dan mulai menjauh meninggalkan Ten yang terlihat kebingungan.
"Mau kemana?" Tanya Ten penuh selidik.
"Kau bilang mau stroberi, tunggu sebentar. Kurasa minimarket yang di depan masih buka." Ucap Johnny, beberapa detik kemudian Johnny benar-benar menghilang dari pandangan Ten diiringi dengan deru mobil yang terdengar mulai ikut menjauh. Semburat merah seketika muncul di pipi putih Ten, ia menenggelamkan kepalanya di meja makan, hasrat ingin berteriak seolah menguasainya saat ini. Jika ini hanya mimpi maka Ten mohon jangan ada yang membangunkannya supaya ia dapat merasakan sikap manis Johnny sepanjang waktu. Ten menatap makanan Johnny yang bahkan masih tersisa setengah, dan ia dengan lapang dada pergi mencarikan stroberi untuk Ten, rasanya Ten ingin menangis bahagia saat itu juga.
Dua puluh menit kemudian deru mobil kembali terdengar dan pintu utama rumah mereka terbuka. Johnny nampak berjalan dengan dua kantong belanjaan berukuran cukup besar. Bukankah tadi ia bilang hanya akan mencari stroberi, lalu kenapa datang dengan belanjaan sebanyak itu, pikir Ten.
"Ini…." Johnny menyodorkan sekotak stroberi yang sudah ia bersihkan tepat ke hadapan Ten. Pria itu dengan santai kembali duduk dan melanjutkan sesi makan malamnya yang sempat tertunda.
"Terima kasih." Jawab Ten, tanpa sadar ia menikmati pemandangan Johnny yang sedang makan di hadapannya.
"Ah iya mobilmu sudah diperbaiki?" Tanya Johnny, pria itu baru ingat jika beberapa hari yang lalu Ten pergi ke kantor menggunakan taksi karena ada masalah dengan mobilnya.
"Belum, tadi aku lupa menghubungi bengkel." Jawab Ten dengan pipinya yang berubah chubby karena berisi stroberi yang belum sempat ia telan.
"Telan dulu, nanti tersedak." Ucap Johnny. Ten hanya terkekeh dan menunjukkan deretan gigi rapinya pada Johnny setelah ia berhasil melahap beberapa potong stroberi.
"Berangkat bersamaku mulai besok." Ujar Johnny yang terlihat telah selesai menyantap makan malamnya.
"Aku rasa naik taksi saja, bagaimana jika kejadian seperti kemarin terulang lagi?" Jawab Ten, tentu saja ia tak ingin diguyur dengan jus lagi oleh Doyeon karena kedapatan pergi ke kantor bersama Johnny.
"Masalah itu biar aku yang urus. Lagi pula kau istriku dan tengah mengandung anakku, bukankah seharusnya aku melindungimu?" Jelas Johnny panjang lebar, Ten hanya ternganga mendengar perkataan Johnny. Apa pria itu sudah benar benar berubah, pikir Ten.
"Baiklah, tapi hanya sampai mobilku diperbaiki. Setelah itu aku bisa berangkat sendiri ke kantor." Ucap Ten, bahkan ia masih terlihat ragu untuk menerima tawaran Johnny.
"Terserah kau saja." Balas Johnny singkat. Tiba-tiba saja ponsel Johnny berdering nyaring. Pria tinggi itu menatap ponselnya dengan sorot mata yang sulit diartikan, seperti ada perasaan kesal yang tidak bisa disembunyikan. Dengan secepat kilat Johnny menyambar ponsel miliknya dan berlalu meninggalkan Ten yang masih sibuk dengan stoberinya.
"Jangan lupa minum vitamin sebelum tidur." Pesan Johnny sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Ten. Wanita itu hanya mengangguk seraya menatap Johnny namun rasa kekhawatiran tetap saja tak bisa disembunyikan. Hatinya seolah bertanya-tanya siapa yang menghubungi Johnny malam-malam begini hingga membuat suaminya itu buru-buru meninggalkannya. Namun Ten berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan semua pikiran buruknya, ia mencoba memberikan rasa kepercayaannya pada Johnny. Lagi pula bukankah beberapa jam lalu pria itu berkata ingin memulai semuanya dari awal, jadi bukankah sudah selayaknya Ten memberikan rasa kepercayaan pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
Ten membersihkan piring yang baru saja ia dan Johnny gunakan, setelah selesai ia memasuki kamarnya dan berniat tidur dengan nyaman. Entah kenapa Ten baru sadar jika semenjak hamil ia jadi sangat hobi tidur, bahkan hati kecilnya yang berniat begadang harus ia telan bulat-bulat karena tubuhnya sama sekali tak mengizinkan. Ten terbangun tengah malam karena dahaga yang begitu menyiksanya, dari lantai atas samar-samar ia mendengar suara Johnny yang terdengar seperti sedang memarahi seseorang, tapi siapa, lagi pula bukankah terlalu malam untuk marah-marah di waktu seperti ini. Hati kecil Ten penasaran setengah mati dan seolah-olah berteriak untuk mengajaknya mengintip ke lantai atas, namun sayang sekali mata indah wanita itu sama sekali tak bisa diajak kerjasama, bahkan untuk mengambil minuman saja Ten harus berusaha keras membuka matanya beberapa menit yang lalu.
"Kau belum tidur?" Suara Johnny menyapu pendengaran Ten, baiklah mungkin sejak insiden telepon di meja makan tadi pria itu sama sekali belum turun ke bawah bahkan ia tidak sadar jika Ten telah tertidur cukup lama.
"Aku haus, jadi terbangun." Balas Ten. Netra indahnya melirik ke arah tangan Johnny yang nampak menggenggam ponselnya, sebenarnya itu bukanlah hal yang aneh bagi sebagian orang, hanya saja mengingat Johnny yang jarang membawa ponselnya kemanapun saat di rumah cukup membuat Ten bertanya-tanya.
"Tadi telepon dari siapa?" Tanya Ten cukup hati-hati.
"Teman lama." Balas Johnny singkat bahkan ia memasang tatapan tidak suka saat mendengar pertanyaan Ten.
"Ah begitu, aku ke kamar dulu John." Ucap Ten dan mulai menjauh dari Johnny yang masih sibuk menenggak air mineral miliknya.
"Tidak mau tidur di atas?" Tanya Johnny, entah mendapatkan keberanian darimana tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari mulut Johnny.
"Ne?" Ten memasang wajah keheranan, apa ia tidak salah dengar, pikirnya.
"Ah bukan apa-apa, sana masuk ke kamarmu. Kau harus bekerja besok." Ucap Johnny seraya menggaruk belakang kepalanya. Seolah tak mau berlama-lama dengan Johnny, Ten buru-buru memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan cukup kencang. Di balik pintu ia bersandar seraya mengelus dadanya yang berdegup kencang, Ten menarik nafas lega dan pemikiran konyol tiba-tiba saja mendatanginya. Apa ia akan mati muda jika terlalu sering bersama dengan Johnny, pikirnya.
Ten terbangun bukan karena suara alarm yang biasanya terdengar memenuhi kamarnya di pagi hari, ia terbangun karena rasa mual yang tiba-tiba saja menghinggapinya. Ten bangkit dari tidurnya dengan terburu-buru dan menerobos masuk ke kamar mandi, ia memuntahkan apapun yang dapat ia keluarkan dari dalam perutnya.
"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Ten terlihat menundukkan tubuhnya di westafel kamar mandi, keringat mulai terlihat membanjiri keningnya. Tiba-tiba saja Ten merasakan tangan besar memijat tengkuknya, dengan sisa tenaganya Ten menoleh dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati Johnny berdiri di sana dengan sorot mata yang sarat akan kekhawatiran.
"Bagaimana kau-"
"Pintunya tak terkunci dan aku mendengar keributan saat melewati kamarmu." Johnny memotong ucapan Ten seolah bisa membaca raut wajah keterkejutan wanita itu.
"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Seolah tak diizinkan memandang wajah Johnny terlalu lama, tiba-tiba saja Ten kembali merasakan mual meskipun tak ada lagi yang dapat dikeluarkan. Ten membersihkan mulutnya dengan air mengalir dan menerima handuk pemberian Johnny. Tanpa sadar Ten malah menabrakkan kepalanya ke dada bidang Johnny, napasnya terdengar cukup berat dari sana, entah inisiatif dari mana Johnny malah mengelus lembut punggung Ten dan membuat wanita itu semakin nyaman dalam rengkuhannya.
"Ah maaf aku tidak sadar…." Ujar Ten setelah menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
"Jangan sungkan, kurasa kau istirahat saja hari ini, tak perlu ke kantor." Ucap Johnny setelah melihat wajah pucat wanita di hadapannya.
"Aku sudah lebih baik dari kemarin, lagipula Seulgi bilang mual seperti tadi adalah hal yang wajar di trimester pertama kehamilan. Kau tak perlu khawatir." Balas Ten seraya menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Baiklah jika menurutmu begitu, jangan terlalu memaksakan diri. Lebih baik cepat bersiap, kurasa kita akan sarapan di luar." Ucap Johnny, ia mulai melangkahkan kaki jenjangnya untuk keluar dari kamat Ten, menyisakan wanita itu yang masih terpaku dengan senyuman di wajah cantiknya.
Johnny memutuskan untuk mengajak Ten pergi ke salah satu restoran yang biasa ia kunjungi. Pria itu merasa tak tega jika harus membiarkan Ten memasak setelah pagi tadi wanita itu mual cukup parah. Di restoran Ten nampak tak bersemangat, lebih tepatnya ia tidak memiliki selera makan sama sekali, Ten juga baru sadar jika nafsu makannya menurun drastis setelah ia hamil. Johnny sedikit panik dan memaksa Ten untuk memakan sesuatu mengingat semalam wanita itu hanya memasukkan beberapa potong stroberi untuk mengisi perutnya.
"Bagaimana kalau kimbab?" Tanya Johnny, ia terlihat cukup frustasi setelah Ten selalu saja menolak menu pilihannya. Lagi-lagi Ten menggeleng dan kembali tak menyetujui saran Johnny.
"Kau mau apa? Astaga setidaknya makanlah sesuatu." Johnny semakin gemas dengan tingkah Ten.
"Aku mau onigiri yang dijual di minimarket dekat kantor." Ucap Ten tanpa dosa, bahkan suaminya ini telah membawanya ke restoran Korea terbaik dan istrinya malah menginginkan onigiri minimarket. Mungkin jika tidak ingat Ten sedang mengandung anaknya Johnny akan mengumpat saat itu juga.
"Baiklah, kau masih bisa menunggu kan? Aku harus menghabiskan ini dulu." Jawab Johnny seraya menunjuk makanan miliknya. Ten mengangguk patuh dan memberikan senyuman terbaiknya pada Johnny, ia merasa senang sekali karena Johnny mau menuruti keinginannya.
Johnny melanjutkan mobilnya menuju kantor dengan kecepatan sedang, lagipula masih banyak waktu sebelum jam kerja tiba dan jangan lupakan ia adalah CEO di sana, tentu saja ia bebas melenggang kapan saja ke kantor. Mobil Johnny berhenti tepat di depan minimarket yang Ten katakana beberapa menit yang lalu. Dengan wajah berbinar Ten turun dari mobil dan memasuki minimarket untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ten sebenarnya menyuruh pria yang berstatus sebagai suaminya itu untuk masuk ke kantor terlebih dahulu, namun Johnny bersikeras akan menunggu di mobil sampai Ten kembali. Johnny membelalakkan matanya saat melihat Ten masuk ke mobil dengan kantong belanjaan yang berukuran cukup besar dan terlihat penuh dengan berbagai makanan.
"Ini untukmu…." Ten menarik tangan panjang Johnny dan meletakkan sebuah onigiri isi ikan tuna di sana.
"Kau beli banyak dan hanya memberiku satu?" Ujar Johnny sedikit meledek.
"Satu untukmu, satu untukku, dan empat untuk anakku." Balas Ten seraya mengelus perut ratanya.
"Kasihan sekali anakku harus jadi korban dari ibunya yang rakus." Ucap Johnny seraya terkekeh.
"Aish…. Kau memang menyebalkan." Ten mengumpat, mulutnya penuh dengan onigiri yang belum sempat ia telan.
"Telan dulu nanti tersedak." Ujar Johnny, tangan panjangnya terlihat membuka sebotol air mineral yang baru saja ia ambil dari kantong belanjaan Ten.
Setelah menghabiskan satu onigiri miliknya, Ten berniat untuk turun dari mobil Johnny dan berjalan ke kantor yang hanya berjarak beberapa meter dari sana. Namun tangan besar Johnny menahannya dan membuat Ten tetap bertahan di dalam mobil sampai akhirnya mereka tiba di basement kantor. Saat ini Ten dan Johnny sedang menunggu lift yang akan membawa mereka ke atas, tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsi kegiatan Ten dan Johnny yang nampak tengah berbincang sejak tadi.
"Ten kau sudah sembuh?" Itu Mingyu yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Ten dan Johnny. Ten mengusap dadanya saking terkejutnya dengan kehadiran Mingyu, begitupun dengan Johnny yang tiba-tiba saja memberikan jarak pada Ten supaya Mingyu tak curiga.
"Iya bujangnim aku sudah lebih baik." Balas Ten dengan senyuman yang sedikit canggung.
"Ah sajangnim selamat pagi, maaf aku tak tahu kau juga di sini." Ujar Mingyu yang sepertinya baru menyadari eksistensi Johnny.
"Kau bawa mobil Ten?" Tanya Mingyu, mengingat beberapa hari lalu anak buahnya itu berkeluh kesah karena mobilnya yang rusak.
"Ne?" Tanya Ten seolah tak mengerti kemana arah pembicaraan Mingyu.
"Dia bertemu denganku di minimarket, jadi aku mengajaknya ke kantor bersama." Kebingungan Ten terjawab oleh ucapan Johnny yang tiba-tiba. Mingyu nampak terkejut mendengar penjelasan bosnya itu, pantas saja beberapa hari yang lalu Doyeon memarahi Ten habis-habisan ternyata Ten memang sedekat itu dengan bosnya, pikir Mingyu.
"Ah begitu, kukira kau bawa mobil. Seingatku kemarin kau bercerita jika mobilmu masih belum diperbaiki." Ucap Johnny, ia nampak tak menaruh curiga sama sekali dengan alasan yang diutarakan Johnny.
Ten dan Mingyu keluar dari lift lebih dulu dan meninggalkan Johnny seorang diri. Setelah kepergian Ten dan Mingyu, pria tampan itu mengelus dadanya, untuk saja Mingyu tak menanyakan lebih jauh soal alasannya yang aneh itu, pikir Johnny. Setelah sampai di ruangannya, seorang pria yang lebih muda nampak mengikutinya, ia menjelaskan semua pekerjaan Johnny hari ini dan mengabari jika akan ada meeting dengan perusahaan lain satu jam dari sekarang.
"Terima kasih Taeil, kau boleh pergi." Ujar Johnny pada sekretaris barunya, Moon Taeil. Jadi setelah insiden jus stroberi beberapa hari lalu, Johnny memutuskan untuk memutasi Doyeon ke kantor cabang di Busan dan menarik Taeil untuk menjadi sekretarisnya. Pria bermarga Moon itu tentu saja senang bukan main karena dapat menghirup udara Seoul lagi setelah sekian lama.
Di jam makan siang Ten kembali duduk bersama Dokyeom dan Irene. Lagi-lagi dua sahabatnya itu terkejut saat melihat Ten duduk dengan semangkuk salad buah di tangannya dan jangan lupakan dua buah onigiri yang ia beli tadi pagi.
"Apa pengaruh jus stroberi yang kemarin membuatmu kembali menyukai buah-buahan?" Tanya Irene keheranan. Dokyeom menunggu jawaban Ten dengan tatapan yang sama seperti milik Irene.
"Tidak tahu, tiba-tiba saja ingin buah." Balas Ten, jadi siang ini ia memutuskan untuk menikmati onigiri dan salad buah yang entah sejak kapan jadi makanan favoritnya.
"Kau tahu, saat kau tidak masuk kemarin ada kejadian tak terduga." Baiklah siang itu Dokyeom kembali membuka acara gosip di antara mereka. Irene menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Dokyeom.
"Doyeon dimutasi ke Busan." Ujar Dokyeom kegirangan, hampir saja pria kurus itu berteriak jika Irene tak menahannya.
"Apa?" Ucap Ten seraya membelalakkan matanya. Ten langsung teringat pada Johnny yang tiba-tiba saja bersikap baik padanya.
"Hum…. Dan sajangnim telah menemukan pengganti Doyeon. Aku bersyukur kali ini sajangnim memilih pria sebagai sekretarisnya, jadi kita benar-benar terbebas dari Doyeon si wanita ular itu. Terutama kau Ten." Ujar Irene semangatnya menggebu-gebu saat menceritakan tentang Doyeon sepertinya wanita itu masih memiliki dendam karena Doyeon memarahinya beberapa bulan lalu. Ten terdiam cukup lama memikirkan segala kemungkinan yang ada di otaknya. Apa benar Johnny memutasi Doyeon karena insiden jus stroberi tempo hari, pikirnya.
Jam pulang merupakan waktu yang sangat dinantikan bagi semua pekerja. Ten nampak duduk di salah satu kursi lobby perusahaan setelah Irene dan Dokyeom pamit undur diri beberapa menit yang lalu. Ia berniat pergi menghubungi Johnny dan meminta izin untuk pulang terlebih dahulu jika sekiranya pekerjaan pria itu belum selesai. Seolah bertelepati, tiba-tiba saja ponsel Ten berdering dan terpampang nama Johnny di layar.
"Yeoboseyo….Kau dimana?" Ucap Johnny di seberang sana.
"Aku di lobby, apa boleh aku pulang lebih dulu? Aku akan naik taksi." Balas Ten. Diujung sana Johnny tak langsung menjawab, ia nampang berfikir sejenak sampai akhirnya pria tampan itu kembali bersuara.
"Ke ruanganku saja, sebentar lagi pekerjaanku selesai." Ujar Johnny.
"Ti-tidak apa-apa?" Tanya Ten, wanita itu terdengar ragu-ragu.
"Kau tenang saja semua orang sudah pulang, hanya ada aku dan Taeil di sini." Balas Johnny seolah mengerti kekhawatiran wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Baiklah aku kesana." Balas Ten, wanita itu mengakhiri panggilan telepon yang sedang berlangsung dan bergegas menuju ke ruangan Johnny.
Di depan ruangan Ten disambut oleh seorang pria berpakaian cukup rapi, mungkin orang ini yang diceritakan oleh Irene dan Dokyeom saat makan siang tadi.
"Silahkan masuk, sajangnim ada di dalam." Ucap pria itu seraya tersenyum simpul. Ten membalas dengan senyuman yang sedikit canggung, ia sungguh tak terbiasa dengan orang baru.
"Duduk dulu di sana, sebentar lagi aku selesai." Ujar Johnny saat Ten membuka pintu ruangannya. Pria tinggi itu menunjuk ke arah sofa panjang yang terlihat cukup nyaman.
Ten nampak duduk dengan santai seraya menikmati pemandangan Johnny yang tengah serius memeriksa beberapa dokumen. Sesekali dahi pria tampan itu terlihat berkerut karena terlalu serius, Ten jadi gemas sendiri melihatnya. Tiba-tiba saja perut Ten berbunyi cukup nyaring, wanita cantik itu meraba perut datarnya dan melirik ke arah Johnny sekilas, memastikan bahwa pria itu tidak mendengar bunyi perutnya atau menertawainya. Ten mulai menyantap sisa onigiri yang ia beli tadi pagi, ia terlihat tak keberatan sama sekali jika harus menyantap onigiri sepanjang hari. Sebelah tangannya yang bebas digunakan untuk menggeser layar ponselnya dan mencari apa yang menarik di sana. Satu jam telah berlalu setelah Ten masuk ke ruangan Johnny, pria itu bahkan masih tak bergerak sama sekali, rasanya Ten hampir mati kebosanan. Johhny juga terlihat tak bisa diajak bercanda saat sedang serius begitu. Ten menyandarkan kepalanya ke sofa, ia kekenyangan setelah menyantap dua onigiri dan sebotol air mineral. Tanpa sadar mata indah itu perlahan menutup dan tak lama suara dengkuran halus terdengar memenuhi ruangan Johnny.
Johnny melepas kacamata yang sejak tadi bertengger manis di hidung bangirnya, ia mendongak dan mendapati Ten tertidur pulas di sofa dengan bungkus onigiri serta botol air mineral kosong yang ada di hadapannya. Johnny nampak terkekeh gemas melihat tingkah laku Ten, ia perlahan mendekat ke arah sofa dan membuka jasnya, menyelimuti wanita itu agar tak kedinginan, tak lupa ia menyingkirkan beberapa anak rambut yang nampak menutupi wajah cantik sang wanita.
"Tunggu sebentar ya. Aku janji hanya sebentar lagi." Gumam Johnny seraya kembali ke meja kerjanya.
Ten mengerjapkan matanya beberapa kali, ia cukup terkejut saat mendapati jas yang ia kenal menyelimuti tubuh rampingnya. Ten membelalakkan matanya saat menyadari keadaan di luar sudah mulai gelap, cukup terkejut karena seingatnya saat ia bersandar di sofa langit masih berwarna oranye khas sore hari. Ten merapikan jas Johnny dan berniat memberikan pada sang pemilik yang tampak sibuk merapikan meja kerjanya serta memasukkan beberapa berkas ke dalam tas.
"Sudah bangun?" Tanya Johnny saat sadar akan eksistensi Ten di dekatnya.
"Hum…. Maafkan aku tidur terlalu lama, ini jasmu." Ucap Ten.
"Memang pekerjaanku baru selesai, aku tak menunggumu sama sekali." Balas Johnny yang bahkan tak menoleh ke arah Ten yang ada disampingnya.
"Ah begitu…." Ten nampak kecewa mendengar jawaban Johnny.
Setelah semua urusan Johnny selesai, sepasang suami istri itu mulai meninggalkan kantor. Ten berjalan sedikit di belakang Johnny karena sadar saat itu ada beberapa karyawan yang sedang lembur dan tak ingin mereka berpikir macam-macam tentang hubungan kedua insan itu. Saat di perjalanan pulang beberapa kali ponsel Johnny berdering, namun pria itu tak menghiraukan sama sekali malah terkesan acuh dan membiarkan dering itu berhenti dengan sendirinya. Ten penasaran dan menegakkan sedikit tubuhnya untuk melihat identitas si penelepon. Belum sempat Ten mendapatkan jawaban, Johnny malah membalik ponselnya sehingga nada dering yang sebelumnya memekakkan telinga itu mati dengan sendirinya.
Ten tak berani bertanya pada Johnny tentang siapa yang menghubungi pria itu hingga beberapa menit lalu kilatan marah nampak terlihat di matanya. Saat ini mereka sudah sampai rumah dan bergegas ke kamar masing-masing, sebelum benar-benar menghilang dari ambang pintu, Johnny mengatakan pada Ten untuk makan malam mengingat wanita itu belum sempat mengisi perutnya dengan makanan berat. Ten hanya mengangguk kemudian menutup pintu kamarnya menyisakan sepi yang melingkupi rumah mereka. Ten baru saja selesai membersihkan diri, ia mengenakan kaos oversize yang dipadukan dengan celana training kesukaannya. Ten tengah berbaring di kasur seraya menaikkan kaosnya sehingga perut putihnya terlihat jelas di sana. Jemari lentik Ten menari di atas perutnya yang masih rata, ia mengingat perkataan Seulgi tentang janinnya yang masih seukuran biji kacang hijau. Ten mengangkat tangannya dan menatap kuku jarinya lekat-lekat, bahkan kuku jari kelingkingnya masih berukuran lebih besar dibanding kacang hijau, Tuhan benar-benar baik menitipkan makhluk kecil yang nantinya akan bertahan di dalam sana, pikir Ten.
Ten bangkit dari tidurnya karena suara ketukan pintu yang cukup keras, saat dibuka ternyata Johnny sudah berdiri di depan pintu dengan sebelah tangan yang menenteng kantong plastik dari toko makanan terkenal.
"Aku sudah kenyang John, kau makan saja sendiri." Ucap Ten, ia tidak bercanda saat bicara soal kenyang, bayangkan saja hari ini lima onigiri berhasil ia lahap bulat-bulat.
"Mana mungkin onigiri membuatmu kenyang, ayo cepat kita makan bersama." Johnny mulai memaksa dan menarik tangan Ten untuk keluar dari kamar. Ten terlihat pasrah dan mengikuti kemana Johnny akan membawanya. Sepertinya percuma mendebat Johnny malam ini, pikirnya.
Johnny menyodorkan semangkuk nasi di hadapan Ten setelah sebelumnya pria itu menata lauk pauk yang baru saja ia beli di meja makan. Ten berniat bangkit untuk mengurangi nasi yang ada di piringnya, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat tatapan tajam yang Johnny berikan padanya.
"Mau kemana lagi?" Tanya Johnny, ayolah ia baru akan menyantap makanannya dan Ten malah kembali berulah.
"Ini terlalu banyak, pasti tidak akan habis." Jawab Ten jujur.
"Habiskan. Tadi pagi kau muntah, hanya sarapan satu onigiri dan makan siang buah-buahan, kau pasti butuh banyak energi." Cecar Johnny panjang lebar. Ten hanya mencebikkan bibirnya, lagi-lagi perkataan pria dingin itu sepenuhnya benar jadi sepertinya Ten tidak memiliki keberanian untuk mendebat perkataannya.
Setelah selesai makan Ten membersihkan piring yang baru saja ia dan Johnny gunakan, Johnny sendiri sudah pergi ke kamarnya karena lagi-lagi ponselnya berdering tanpa Ten tahu siapa orang yang selalu menghubungi suaminya itu sejak kemarin. Ten bergegas ke kamarnya dan berusaha keras untuk memejamkan mata. Selama satu setengah jam Ten mencoba tertidur dengan berbagai posisi namun usahanya sia-sia, matanya tetap terbuka lebar seolah tak ada niatan untuk terpejam. Setengah frustasi Ten bangkit ke dapur, ia baru ingat jika biasanya akan tertidur lelap setelah minum susu. Di dapur Ten menatap geli ke arah susu hamil yang sempat ia beli kemarin sepulangnya dari rumah sakit, dengan berat hati Ten mencoba membuatnya dan berniat meminumnya siapa tahu setelah itu rasa kantuk akan menghampirinya. Ten mencium aroma susu yang baru saja ia buat, tiba-tiba ia merasa mual namun dengan terpaksa Ten harus minum susu tersebut setelah bersusah payah menutup hidungnya. Saat berhasil meminum setengahnya tiba-tiba saja perut Ten bergejolak, ia berlari ke arah wastafel dan mengeluarkan semua isi perutnya.
"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Napas Ten terdengar terengah-engah seolah baru saja lomba lari puluhan kilometer.
"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Ten hampir frustasi, bahkan nasi yang belum selesai dicernanya juga ikut keluar saat itu. Wanita itu tak peduli saat mendengar suara langkah kaki yang nampak gaduh dari arah belakang. Ia bahkan terlalu lemah untuk sekedar menoleh sebentar.
"Kau tak apa?" Suara Johnny terdengar jelas di telinga Ten. Ten mengangkat tangannya sebagai isyarat jika ia baik-baik saja, namun sepertinya perkataannya tidak sesuai dengan kenyataan karena Ten kembali mengeluarkan isi perutnya.
"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Ten muntah semakin deras saat dirasa seseorang memijat tengkuknya, mungkin setelah ini organ tubuhnya juga akan ikut keluar, pikir Ten.
"Susu sialan!" Wanita itu bahkan sempat mengumpat pada susu yang baru saja ia minum. Johnny menoleh ke arah meja makan dan menemukan susu yang masih tersisa setengahnya, tanpa sadar ia terkekeh mendengar Ten yang baru saja memarahi segelas susu. Johnny cukup panik saat tiba-tiba saja tubuh Ten lemas dan terhuyung ke dada bidangnya. Dari sana ia dapat mendengar dengan jelas napas Ten yang cukup berat, entah inisiatif dari mana Johnny memberanikan diri untuk mengelus punggung Ten seolah memberikan sedikit ketenangan di sana.
"Sudah selesai?" Ucap Johnny hampir seperti berbisik. Ten hanya menganggukkan kepalanya, ia masih cukup lemas untuk sekedar membalas ucapan pria dihadapannya itu.
"Mau tidur dengan Johnny." Ucap Ten tiba-tiba. Johnny cukup terkejut mendengar perkataan Ten namun ia tak kuasa menolak permintaan istrinya itu.
"Iya kita tidur bersama malam ini." Balas Johnny, bahkan mereka belum melepaskan pelukan yang berlangsung sejak tadi. Johnny menggandeng tangan Ten dan mengajaknya pergi ke kamarnya. Jika beberapa menit yang lalu Ten sama sekali tak dapat terpejam lain halnya dengan saat ini, ia hanya memerlukan waktu beberapa detik sampai akhirnya berhasil jatuh ke alam mimpi dalam dekapan Johnny.
Hari itu seolah seperti mimpi, Ten mendapatkan semua perlakuan manis Johnny. Sekalipun perhatian itu ia dapatkan hanya karena sedang mengandung anak Johnny ia sama sekali tak peduli, yang penting Johnny bisa bersikap manis padanya dan ia berharap akan seperti ini seterusnya.
