16. A Day With Woojin (1)

Sebulan sudah Ten menikmati sikap manis Johnny, tentu saja ia sangat senang dan perasaan cintanya pada Johnny makin bertambah seiring berjalannya waktu. Namun Ten masih belum mengerti tentang perasaan Johnny, sepertinya hanya pria itu dan tuhan yang lalu. Hari sabtu ini baik Ten maupun Johnny tidak pergi ke kantor karena memang hari libur bagi semua pekerja di Seo Corp. Ten sedang bermalas-malasan di kasurnya seraya memainkan ponselnya sejak tadi. Semenjak hamil wanita itu menjadi sangat malas melakukan apapun, ia lebih suka tidur sepanjang hari daripada sibuk diluar, bahkan untuk memasak saja rasanya Ten malas bukan main. Menurut aplikasi yang dipasang di ponselnya beberapa minggu yang lalu, kehamilannya sudah memasuki minggu kedelapan, Seulgi juga sudah mengingatkan wanita itu untuk segera melakukan kontrol rutin ke rumah sakit seperti yang dijanjikan sebulan sebelumnya.

Ten mencebikkan bibirnya ketika menerima pesan dari Jungwoo, kemarin mereka berdua sudah berencana pergi ke panti asuhan sore ini namun tiba-tiba saja wanita tinggi semampai bak model itu membatalkan janji mereka, katanya ada hal penting yang harus ia lakukan. Ten semakin bosan dan bingung harus melakukan apa, dengan berat hati ia memutuskan untuk keluar kamar dan berjalan ke dapur. Entah kenapa tiba-tiba saja ia sangat merindukan buah-buahan, Ten sendiri bingung karena semenjak ia mengandung rasanya buah-buahan adalah makanan terenak yang bisa ia nikmati. Ten memutuskan untuk mengupas beberapa mangga, wanita itu berteriak gemas saat wangi mangga menyapa penciumannya yang sedikit kacau belakangan ini. Setelah selesai ia duduk di salah satu kursi meja makan dan menikmati potongan buah mangga dipadu dengan yoghurt kesukaannya. Johnny nampak membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral, ia berpenampilan cukup rapi pagi ini karena berencana menjemput Woojin yang merengek ingin berkunjung kesini sejak kemarin.

"Hoek…." Ten mual bukan main saat Johnny ada di dekatnya, wanita itu menatap tajam ke arah Johnny seolah menanyakan parfum apa yang ia pakai.

"Parfummu aneh sekali, jauh-jauh sana." Ucap Ten yang sudah mejepit hidungnya rapat-rapat. Johnny mengendus seluruh tubuhnya dan merasa tidak ada yang aneh dengan parfumnya hari ini, entah mengapa wanita itu begitu sensitif terhadap bau-bauan.

"Ini parfum yang biasa aku pakai, seleramu rendah sekali." Ejek Johnny ia malah semakin mendekati Ten yang sudah bersiap kabur dengan semangkuk mangga miliknya. Dengan jahil Johnny mengambil garpu dan mencicipi makanan Ten namun beberapa detik kemudian ia nampak terkejut dengan rasa asam yang mendominasi.

"Aish…. Jauh-jauh sana." Ten berlalu meninggalkan Johnny dan melenggang ke ruang keluarga. Johnny tersenyum kecil melihat tingkah wanita itu, setelah dipikir sepertinya Ten berhasil membuat pria dingin itu menjadi sedikit hangat.

"Aku akan menjemput Woojin, kau tak mau ikut?" Tanya Johnny sedikit berteriak mengingat jarak antara dirinya dan Ten yang cukup jauh.

"Tidak mau, nanti aku mati jika mencium parfum yang seperti itu." Balas Ten dengan suara yang tak kalah nyaring. Johnny terkekeh dan bergegas meninggalkan Ten yang masih sibuk dengan mangga miliknya.

Johnny baru saja sampai di rumah keluarga Seo, tiba-tiba saja Woojin menabrakkan tubuh kecilnya ke kaki jenjang sang paman. Seolah menyalurkan sejuta kerinduan yang telah lama ia pendam. Dengan cekatan Johnny memindahkan Woojin ke dalam gendongannya dan tak lupa menghujani wajah menggemaskan Woojin dengan ciuman darinya.

"Kok imo tidak ikut?" Tanya Woojin, ia bahkan mulai mencebikkan bibirnya dan memasang ekspresi ingin menangis yang dibuat-buat.

"Imo di rumah, kan nanti juga ketemu di sana. Memangnya Woojin tidak rindu samchon?" Tanya Johnny, bahkan pria itu mulai mendramatisir keadaan karena Woojin hanya menanyakan keberadaan Ten.

"Woojin rindu samchon, tapi lebih rindu Ten imo." Balas Woojin polos. Johnny tak habis pikir mengapa Woojin bisa sedekat itu dengan Ten seolah melupakan ia yang mengikuti perkembangan keponakannya ini selama bertahun-tahun.

"Kata eomma hari ini Woojin boleh menginap di rumah samchon." Anak kecil itu berucap polos seraya menunjuk tas berukuran cukup besar yang tergeletak di sofa ruang keluarga. Johnny nampak kaget mendengar penuturan keponakannya itu, bukankah semalam kakaknya hanya bilang jika Woojin akan berkunjung sebentar ke rumahnya, namun hari ini anak kecil itu bahkan berceloteh jika ia akan menginap. Johnny menurunkan Woojin dari gendongannya dan membiarkan anak laki-laki itu berlari entah kemana, Johnny nampak sedang menghubungi seseorang dan tak lama kemudian suara merdu seorang wanita mulai terdengar di seberang sana.

"Yeoboseyo noona kau menyuruh Woojin menginap di rumahku?" Ujar Johnny, ia tampak berbincang dengan Seohyun yang tersangka utama penitipan anak.

"Youngho-ya, aku harus pergi ke Mokpo, ada kerabat Kyuhyun oppa yang meninggal dan lagi eomma baru kembali dari Busan dua hari lagi. Jadi kau dan Ten satu-satunya yang bisa kuharapkan." Oceh wanita itu panjang lebar. Johnny hanya terdiam dan membiarkan sang kakak berceloteh sesuka hati, sekarang ia tahu darimana gen cerewet Woojin berasal.

"Baiklah, semoga kau tidak menyesal menitipkan anakmu padaku." Balas Johnny seraya bercanda.

"Aish…. Jika anakku lecet sedikit saja aku akan memarahimu habis-habisan. Ah iya aku baru saja mengabari Ten kalau akan menitipkan Woojin di sana, tiba-tiba saja kau malah menghubungiku." Ucap Seohyun. Johhny memutar bola matanya malas mendengar ocehan kakak perempuannya itu.

"Ya Sudah aku tutup dulu. Titip salam untuk Kyuhyun hyung." Ucap Johnny sebelum mengakhiri panggilan singkat mereka. Tak lama Woojin kembali mendekat, ia terlihat bersusah payah menyeret tas yang mungkin sudah berisi pakaiannya. Johnny menghampiri keponakannya itu dan mengambil alih seluruh barang bawaannya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Johnny dan Ten, Woojin tak henti-hentinya berceloteh. Ia bahkan menyombongkan diri pada Johnny jika sudah menemukan banyak teman baru di playgroup, dengan sabar Johnny menanggapi semua ocehan Woojin, sepertinya Woojin adalah satu-satunya anak yang mampu mengambil hati Johnny karena seingatnya saat di panti asuhan beberapa bulan lalu Johnny sangat malas hanya untuk sekedar meyapa anak-anak. Woojin bergegas turun dari mobil setelah Johnny membuka safety belt baby car seat yang ia gunakan. Anak laki-laki itu berlari memasuki rumah dengan gembira seolah-olah akan menemui banyak teman-temannya.

"Ten imo…." Teriak Woojin begitu ia melihat imo kesayangannya yang sibuk di dapur.

"Woojin-ah bogoshipoyo. Woojin rindu imo tidak?" Ucap Ten, ia membawa Woojin kedalam dekapannya dan mendudukkannya di meja makan.

"Hum…. Woojin rindu sekali, imo kenapa tidak jemput Woojin tadi?" Baiklah anak kecil itu memulai kembali dramanya.

"Imo sedang masak untuk Woojin dan samchon, kasihan loh samchon sudah keluar pagi-pagi sekali untuk jemput Woojin." Balas Ten seraya mengusap gemas rambut Woojin.

"Imo, Woojin lapar…." Ucap anak kecil itu seraya mengelus perutnya yang mulai berbunyi.

"Tunggu sebentar ya nanti imo panggil saat makanannya siap." Balas Ten, ia menurunkan Woojin dari meja makan dan anak kecil itu bergegas menyusul Johnny yang berjalan ke lantai dua.

Beberapa menit kemudian Johnny kembali ke dapur dengan Woojin yang berada di gendongannya. Ten yang sedang sibuk menata makanan di meja makan tak menyadari kedatangan mereka sampai akhirnya suara berat Johnny menginterupsi kegiatannya. Ten menoleh ke arah Johnny dan nampak terkejut dengan penampilan pria itu yang sedikit berbeda.

"Kau ganti baju? Bukannya tadi pagi sudah mandi?" Tanya Ten seraya mengambil alih Woojin dari gendongan suaminya.

"Tadi kau bilang tidak suka parfumnya, daripada berakhir denganmu yang muntah di meja makan lebih baik aku ganti baju." Balas Johnny, ia mulai mendudukkan diri di salah satu kursi meja makan. Ten tersenyum mendengar jawaban Johnny, entah mengapa hatinya tiba-tiba saja menghangat setelah mendengar perkataan pria itu.

"Imo…. Aaa…." Si kecil mulai manja dan merengek minta disuapi oleh Ten sejak tadi. Ten sendiri senang-senang saja, lagi pula ia masih merasa kenyang setelah berpotong-potong mangga masuk ke perutnya beberapa menit yang lalu. Johnny nampak tak peduli dengan kelakuan Woojin yang sedikit manja pada Ten, menurutnya asalkan Woojin tidak mengganggu itu sah-sah saja, lagipula Ten juga nampak nyaman dengan adanya Woojin disisinya.

"Imo setelah ini temani Woojin menyusun lego ya." Anak kecil itu berucap seraya turun dari kursi, setelah mendapat anggukan kepala dari imo kesayangannya ia bergegas berlari ke ruang keluarga dan membongkar salah satu tasnya yang berisi beberapa mainan.

Ten sedang sibuk membersihkan beberapa piring kotor sementara Johnny nampak masih asyik dengan teh hijau di tangannya. Matanya tak henti-hentinya memandang ponsel yang sejak tadi ia mainkan, mungkin ada sesuatu yang penting, pikir Ten. Setelah selesai dengan teh hijau miliknya, Johnny menyusul Woojin yang tengah asyik dengan legonya di ruang keluarga, sebenarnya tujuan utama pria tinggi itu bukan untuk membantu keponakannya menyusun lego melainkan untuk mengganggunya setelah sekian lama tak bertemu.

"Imo…. Sini ayo bantu Woojin susun lego." Woojin sedikit berteriak saat melihat Ten yang hendak memasuki kamarnya.

"Ah sebentar ya sayang, imo harus mandi. Woojin main dengan samchon dulu ya." Balas Ten, ia terlihat kegerahan setelah cukup lama beraktivitas di dapur. Woojin mengangguk pasrah dan kembali melanjutkan kegiatannya menyusun lego. Dua laki-laki beda generasi itu nampak serius menyusun lego, jangan lupakan celotehan kecil Woojin yang seolah mengajari Johnny bagaimana caranya menyusun lego yang baik dan benar. Ide jahil yang sejak tadi disimpan oleh Johnny tiba-tiba saja kembali muncul ke permukaan, dengan wajah tanpa dosa ia menghancurkan lego buatan Woojin yang sudah menjulang tinggi. Anak laki-laki itu nampak terpaku beberapa saat sampai akhirnya air mata mulai meluncur dari manik indahnya dibarengi dengan suara tangisan yang cukup memekakkan telinga. Johnny terlihat terkekeh melihat sang keponakan yang menangis kencang, ia berusaha menggapai Woojin yang berada di sebelahnya dan berniat membawanya ke pangkuannya. Anak laki-laki itu malah semakin menjauh dari Johnny, ia berdiri di depan pintu kamar Ten disertai suara tangis yang tak kunjung berhenti.

"Huwe…. Samchon nakal…." Ucap Woojin, ia mulai mengetok-ngetok pintu kamar Ten seolah meminta wanita cantik itu untuk keluar.

Beberapa detik kemudian Ten membuka pintu kamarnya dan cukup terkejut dengan Woojin yang sudah berdiri di depan sana dengan air mata yang mengalir. Ia bergegas membawa Woojin ke dalam gendongannya dan duduk disebelah Johnny yang mulai menyusun kembali lego milik keponakannya itu.

"Woojin kenapa? Sudah ya jangan menangis lagi. Tuh lihat samchon sedang menyusun lego." Ujar Ten yang belum mengerti masalah antara paman dan keponakan itu.

"Samchon nakal imo. Samchon robohkan lego Woojin. Huwe…." Baiklah anak itu malah semakin menangis deras dan mulai melingkarkan tangannya ke leher Ten. Ia menenggelamkan wajahnya tepat di dada Ten dan tak berniat menatap Johnny sama sekali.

"Kau apakan dia sampai sesegukan begini?" Ten mulai bertanya pada Johnny yang masih sibuk memperbaiki lego Woojin.

"Sudah lama tak menjahilinya." Jawab Johnny singkat. Ten menghela nafas panjang melihat tingkah laku Johnny yang sempat-sempatnya menjahili keponakannya sendiri.

"Sudah ya, tuh lego Woojin sudah mau selesai, lihat samchon pandai sekali menyusunnya." Ucap Ten ia mulai menunjuk ke arah lego yang sedang Johnny susun demi mengalihkan perhatian Woojin.

Woojin mulai mendongakkan wajahnya dan mengikuti arah pandangan Ten yang menunjuk ke arah Johnny. Perlahan tangisannya mulai berhenti, namun ia masih tetap menyandarkan tubuh kecilnya ke dada Ten seolah tidak tertarik dengan eksistensi Johnny yang ada di hadapannya.

"Ayo kita bantu samchon susun legonya. Woojin mau buat gedung tinggi kan? Ayo imo bantu." Ten masih berusaha membujuk Woojin agar kembali bermain.

"Tidak mau, samchon nakal." Ucap Woojin, bahkan ia kembali memeluk leher Ten seolah tak mengizinkan wanita itu pergi kemanapun. Ten terlihat pasrah menerima perlakuan Woojin, ia mulai mengelus punggung keponakannya itu supaya tangisannya berhenti. Ten menoleh ke arah jam yang tertempel di dinding ruang keluarga, ia baru sadar jika jam segini biasanya waktunya Woojin untuk tidur siang. Pantas saja ia sangat rewel, Ten mulai menyanyikan lullaby berharap keponakannya itu segera memejamkan matanya. Tak lama kemudian Ten merasa pelukan Woojin di lehernya mengendur, ia meminta tolong pada Johnny untuk memastikan apakah Woojin sudah tertidur atau belum karena jika Ten bergerak sedikit saja ia takut akan menimbulkan efek tidak nyaman bagi Woojin.

"Dia tidur…." Ucap Johnny, ia duduk di sebelah Ten yang terlihat tak nyaman memangku Woojin ditambah dengan beban lain yang sedang berada di perutnya saat ini.

Seolah paham dengan ekspresi tidak nyaman dari wajah Ten, dengan lembut Johnny mengambil Woojin dari gendongan wanita itu dan menyamankan Woojin dalam gendongannya. Woojin nampak menggeliat seolah tahu jika ia tak lagi berada dalam dekapan Ten, dengan sigap Johnny bangkit berdiri dan mulai menenangkan Woojin yang terlihat tak nyaman dalam tidurnya. Setelah memastikan Woojin benar-benar terlelap dalam tidurnya, Johnny memutuskan untuk memindahkan anak itu ke kamarnya. Johnny menyamankan bantal yang digunakan keponakannya dan tak lupa menyelimuti anak laki-laki aktif itu sebatas dada, Johnny juga nampak mengelus surai lebat Woojin yang mirip seperti miliknya serta mendaratkan kecupan di kening keponakannya itu. Jika dipikir-pikir saat ini Ten dan Johnny terlihat seperti sepasang orang tua muda yang tengah asyik mengamati perkembangan buah hati mereka, namun sepertinya itu terlalu indah untuk jadi kenyataan apalagi mengingat hubungan dua orang itu yang masih terasa aneh sekalipun es yang melingkupi mereka berdua sudah mulai mencair.

Johnny kembali turun untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang keluarga. Saat sampai di ruang keluarga, Johnny melihat Ten yang tengah sibuk merapikan mainan Woojin yang cukup banyak dan berantakan. Sesekali wanita itu terdengar menghela napas panjang, sepertinya Ten masih belum bisa membayangkan jika anaknya nanti tumbuh seperti Woojin. Ten menata tas mainan Woojin di sofa seperti sedia kala. Tiba-tiba saja Johnny membelalakkan matanya saat sadar jika Ten tengah meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.

"Kau tak apa?" Tanya Johnny yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan Ten. Wanita itu mendongak dan menatap Johnny dengan senyuman yang terkesan ia paksakan untuk hadir di wajah cantiknya.

"Tak apa, mungkin karena aku memangku Woojin terlalu lama jadi rasanya sedikit sakit." Ucap Ten, ia mulai mencoba bangkit dan meninggalkan Johnny yang masih dilingkupi rasa kekhawatiran.

"Kau mau kemana?" Tanya Johnny setelah sadar jika Ten mulai menjauh darinya.

"Tidur siang." Balas Ten seraya terkekeh dan mulai menutup pintu kamarnya.

"Jika terjadi sesuatu jangan ragu untuk mengabariku." Ucap Johnny sedikit berteriak mengingat pintu kamar Ten yang mulai tertutup.

"Iya…." Suara Ten terdengar lirih dari dalam kamarnya.

Johnny bergegas mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dan mulai berjalan ke lantai dua, ia memasuki ruang kerjanya karena ada beberapa berkas yang harus segera ia selesaikan. Selama bermenit-menit di dalam sana, Johnny mencoba fokus membaca dan mengoreksi beberapa berkas, namun pikirannya entah melayang kemana. Otak Johnny masih mengingat dengan jelas wajah Ten yang terlihat pucat beberapa menit yang lalu, Johnny nampak khawatir dan takut hal-hal buruk akan menimpa wanita itu. Setelah mengumpulkan semua tekadnya, Johnny berniat pergi ke kamar Ten untuk memastikan keadaan wanita itu, namun tiba-tiba saja ponselnya kembali berdering dan lagi-lagi nama itu yang terpampang di sana. Dengan sedikit emosi Johnny menggapai ponsel miliknya dan mulai berbincang dengan si penelepon yang entah kenapa selalu membuat kilatan amarah muncul di mata Johnny.

"Yeoboseo Wendy, sudah berapa kali kukatakan padamu aku tak bisa menemuimu lagi." Ucap Johnny, nada suaranya sarat akan kefrustasian. Bahkan sudah sebulan lamanya wanita itu meneror Johnny namun sepertinya ia masih belum bosan.

"Ayolah John, aku merindukanmu. Bulan lalu saat aku ke Korea kau juga tak menemuiku sama sekali." Kekesalan terdengar jelas dari nada suara Wendy. Johnny kembali duduk di kursinya dan memijat pelan pelipisnya.

"Kita sudah tak memiliki hubungan apapun, berhentilah menggangguku. Aku tak mau dicap sebagai perebut istri orang." Balas Johnny, entah bagaimana bisa kalimat seperti itu meluncur bebas dari mulutnya tanpa ada keraguan sedikitpun.

"Berkali-kali kukatakan padamu, aku sudah bercerai. Bukankah kau dulu tak pernah mengucap perpisahan diantara kita, pasti masih ada tempat di hatimu untukku Youngho-ya." Tiba-tiba saja hening menguasai mereka berdua, seolah waktu berhenti dan membuat mereka terlarut dalam pikiran masing-masing.

"Jangan panggil aku dengan nama itu. Kau datang terlambat Wen, aku sudah menikah." Ucap Johnny mantap.

"Apa?! Bagai-"

"Dan aku mencintainya." Johnny memotong ucapan Wendy dengan kalimat yang tiba-tiba saja meluncur manis dari mulutnya. Ia bergegas mengakhiri panggilan telepon mereka berdua tanpa tahu bagaimana perasaan Wendy saat mendengar pria yang dicintainya sudah menikah. Johnny menelan egonya bulat-bulat dan mulai turun ke lantai satu untuk memastikan keadaan wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya itu. Johnny berdiri cukup lama di depan pintu kamar Ten, tiba-tiba saja ia menjadi sedikit ragu. Akan ditaruh dimana wajah tampannya nanti jika Ten tahu ternyata ia mengkhawatirkan wanita itu setengah mati.

"Ten…. Kau di dalam…." Johnny mulai memanggil wanita itu dan mengetuk pintunya.

"Iya…." Terdengar teriakan yang cukup nyaring sebagai jawaban. Tak lama kemudian Ten membuka pintu kamarnya dan terlihat menyipitkan matanya, sepertinya wanita itu sedang tertidur lelap saat Johnny mengetok-ngetok pintu kamarnya.

"Iya ada apa John?" Tanya Ten.

"Ah itu Woojin memanggil namamu sejak tadi, kau bisa lihat dia?" Baiklah setelah ini Johnny harus meminta maaf pada Woojin karena menggunakan nama keponakannya itu demi menutupi kekhawatirannya.

"Hum…. Aku ke atas dulu." Ujar Ten, ia menutup pintu kamarnya dan mulai berjalan ke kamar Johnny. Sesekali wanita itu terlihat menguap lebar saat menaiki anak tangga, Johnny jadi sedikit merasa bersalah karena mengganggu tidurnya.

"Imo…." Woojin nampak terduduk di kasur dan mulai merentangkan tangannya saat melihat Ten memasuki kamar. Johnny tersenyum simpul, dalam hati ia berterima kasih pada Woojin yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya.

"Woojin kenapa? Ayo tidur lagi dengan imo." Ten mulai duduk di sebelah Woojin dan terlihat sedang bersiap membawa anak laki-laki itu ke dalam pelukannya.

"Ten biar aku saja..." Entah sejak kapan Johnny berada di sebelah Ten dan bersiap meraih Woojin dari gendongan wanita itu.

"Tidak mau, samchon nakal. Woojin masih marah…." Anak laki-laki itu mencebik lucu saat tahu Johnny yang akan menggendongnya.

"Eh jangan begitu? Samchon baik loh tadi sudah bantu susun lego Woojin." Ten mulai menenangkan anak kecil itu sebelum acara merajuknya berkepanjangan. Johnny mulai mendudukkan dirinya di sebelah Ten dan menatap gemas wajah keponakannya itu.

"Samchon minta maaf ya. Nanti sore kita pergi jalan-jalan, bagaimana?" Ucap Johnny ia mulai berusaha menarik perhatian keponakannya itu. Woojin nampak tidak peduli pada Johnny yang sejak tadi menggodanya, ia malah semakin menyembunyikan wajahnya di antara dada Ten.

"Tuh samchon sudah minta maaf, masa Woojin tidak maafkan? Kan Woojin anak baik." Baiklah Ten kembali menjadi penengah dalam keributan antara paman dan keponakan itu. Woojin mulai mendongakkan wajahnya dan memasang pose seperti sedang berpikir, Ten hampir saja memekik gemas melihat tingkah polos anak itu.

"Tapi janji jangan diulangi lagi ya?" Anak kecil itu mulai menoleh ke arah Johnny dan mengulurkan jari kelingkingnya mengajak paman besarnya itu untuk melakukan pinky promise.

"Jadi samchon dimaafkan?" Tanya Johnny dengan nada yang dibuat-buat. Jika tak ada Woojin mungkin Ten akan tertawa terbahak-bahak setelah melihat tingkah laku pria di sebelahnya itu.

"Hum…." Woojin mengangguk mantap dan mulai tersenyum cerah. Johnny senang bukan main melihat Woojin memaafkannya, Ten juga nampak tersenyum cerah karena Woojin tidak terlalu sulit untuk dibujuk.

"Mau tidur sama imo." Woojin menatap wajah Ten dan memasang tampang memelas.

"Iya, ayo kita tidur lagi." Ujar Ten, ia mulai menyamankan posisinya dan membaringkan Woojin tepat di sebelahnya.

"Samchon mau kemana, sini temani Woojin juga." Anak kecil itu sedikit berteriak saat melihat Johnny yang sepertinya akan kembali ke ruang kerjanya. Seolah tak mau membuat masalah baru, Johnny menghampiri keponakannya itu dan mulai berbaring di sebelahnya. Woojin tidur menghadap ke arah Ten dan membiarkan Johnny memeluknya dari belakang. Anak laki-laki itu seolah menikmati sentuhan lembut yang Ten berikan dipunggungnya, persis seperti yang dilakukan eomma nya sebelum ia tertidur.

"Samchon, imo tertidur." Ujar Woojin pelan, ia meletakkan telunjuk kecilnya di depan bibirnya seolah mengatakan jangan berisik. Johnny sedikit mengangkat tubuhnya untuk mengecek Ten, dan benar saja wanita itu sudah tertidur pulas, mungkin ia sudah sangat mengantuk setelah tidurnya terpotong tadi, pikir Johnny. Woojin bergerak pelan dan tiba-tiba saja ia mengecup kening Ten yang sedang tertidur. Johnny terkejut bukan main melihat tingkah polah keponakannya itu.

"Woojin kenapa cium Ten imo?" Tanya Johnny yang baru saja membawa Woojin dalam dekapannya.

"Woojin sayang imo, eomma appa juga sering cium Woojin karena sayang Woojin." Jawab anak laki-laki itu polos. Johnny hampir saja tertawa keras mendengar jawaban keponakannya itu jika ia tidak ingat Ten sedang tertidur lelap.

"Jadi Woojin tidak sayang samchon?" Tanya Johnny dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat. Woojin terdiam sejenak dan memasang pose berpikir, Johnny nampak tidak percaya jika keponakannya itu masih harus memikirkan jawaban sementara saat ditanya mengenai Ten anak kecil itu menjawab tanpa ada keraguan sama sekali.

"Hum…. Sayang tapi hanya segini." Ucap Woojin polos seraya menggabungkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk cubitan kecil. Johnny mendengus sebal dan mulai menggelitik keponakan kecilnya itu. Woojin menahan tawanya dan memberikan gestur jangan berisik pada Johnny supaya tidak mengganggu tidur nyenyak Ten.

"Kalau samchon sayang imo tidak?" Tanya Woojin seraya menatap wajah tegas paman kesayangannya. Johnny hanya diam seolah tak mampu menjawab pertanyaan Woojin.

"Kenapa diam saja. Samchon harus sayang imo karena imo sayang sekali dengan samchon." Anak kecil itu mulai berceloteh seraya memainkan baju yang Johnny kenakan.

"Tadi pagi imo sangat khawatir karena samchon jemput Woojin tapi belum sarapan. Kata eomma kalau seseorang mengkhawatirkan kita berarti orang itu sayang kita." Ucap Woojin, Johnny nampak tertegun mendengar perkataan keponakan kecilnya itu.

"Ayo sekarang samchon cium kening imo, pokoknya samchon harus sayang imo, kalau tidak Woojin tidak mau berteman dengan samchon." Baiklah bahkan Woojin bertingkah seolah mengetahui hubungan yang sebenarnya antara Ten dan Johnny. Dengan sedikit terpaksa Johnny mendekatkan tubuhnya untuk mengecup kening Ten, entah kenapa jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan saat wajah Ten tepat berada di hadapannya. Woojin tersenyum cerah setelah melihat Johnny mengecup kening Ten yang masih tetap tertidur bagaikan sleeping beauty.

"Samchon ayo tidur." Woojin mulai membawa tangan besar Johnny untuk mengelus punggung kecilnya, seolah meminta samchon nya itu untuk membawanya masuk ke alam mimpi. Saat ini Woojin diapit oleh Ten dan Johnny di sisi kanan dan kirinya, potret mereka terlihat seperti keluarga kecil yang amat bahagia. Setelah berhasil menidurkan Woojin, Johnny menyamankan tidur keponakannya itu dan membenahi letak bantal yang ia gunakan. Dari sana Johnny dapat melihat wajah damai Ten yang tertidur pulas, Johnny tak henti-hentinya menatap wajah cantik itu seolah tak membiarkannya pergi kemanapun. Tangan besarnya ia bawa untuk menyentuh dadanya yang berdebar tak karuan sejak tadi, apa mungkin ia mulai menyukai Ten, pikirnya. Tak butuh waktu lama mata setajam elang miliknya ikut memberat dan ia mulai memasuki alam mimpi bersama dua orang kesayangannya. Sepertinya dengan adanya Woojin hari ini membawa pengaruh baik bagi hubungan mereka.