17. A Day With Woojin (2)

Keluarga kecil itu nampak tidur nyenyak sampai sore menjelang. Ten tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya saat merasakan gejolak aneh di perutnya. Ten bangkit dari tempat tidur dan menutup mulutnya untuk menahan rasa mual yang tiba-tiba saja tak terbendung. Wanita cantik itu memasuki kamar mandi yang ada di kamar Johnny dan menumpahkan semua isi perutnya di sana.

"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Mata indah itu nampak berkaca-kaca setelah mengeluarkan semua isi perutnya.

"Kau tak apa?" Tiba-tiba saja suara berat Johnny menyapu pendengaran Ten, ia sendiri tidak sadar sejak kapan pria tinggi itu berada di sana.

"Hum…. Maaf aku mengganggu tidurmu." Balas Ten setelah ia selesai membersihkan mulutnya dan mengelapnya dengan handuk kecil yang baru saja Johnny berikan.

"Tenang saja, aku sudah bangun sejak tadi hanya saja terlalu malas beranjak dari kasur." Balas Johnny sedikit berbohong. Ten keluar dari kamar mandi dan bersiap meninggalkan kamar Johnny, namun tiba-tiba saja tangan besar pria itu nampak menahannya.

"Mau kemana?" Tanya Johnny.

"Aku lapar." Balas Ten seraya terkekeh. Sebelum benar-benar meninggalkan kamar ia terlebih dahulu mengecek Woojin dan memastikan anak kecil itu nyaman dalam tidurnya.

Ten nampak menyantap makanannya dengan lahap, semenjak hamil Ten merasa nafsu makannya sangat tidak menentu. Terkadang ia merasa sangat malas jika harus makan nasi, namun terkadang ia bisa menghabiskan berpiring-piring nasi seperti orang yang belum makan selama berhari-hari. Seperti saat ini, Ten telah menghabiskan dua mangkuk nasi bersama lauk pauknya dan jangan lupakan plastik cemilan yang terlihat tergeletak di meja makan, sepertinya Ten baru saja menghabiskannya.

"Imo…." Woojin terlihat berada di gendongan Johnny dan berteriak keras begitu melihat Ten yang sedang membersihkan sisa makanannya.

"Imo ayo mandikan Woojin, kata samchon hari ini kita akan pergi ke Lotte World." Ujar anak kecil yang mulai bergelayut manja di kaki Ten itu. Wanita itu nampak bingung mendengar ocehan keponakannya, ia menatap Johnny yang berada tak jauh darinya dan dibalas anggukan kepala oleh pria tampan itu.

"Kajja!" Ucap Ten, ia mulai menggendong Woojin dan membawanya ke lantai dua untuk memandikannya.

Beberapa menit kemudian Ten terlihat menggandeng Woojin yang sudah tampan dan mendudukkannya di sofa ruang keluarga. Sore itu Ten memutuskan untuk memakaikannya kaos polo berwarna abu-abu dipadukan dengan celana jeans serta sepatu putih yang membalut kaki gempalnya. Setelah memastikan Woojin sibuk dengan mainannya, Ten memutuskan untuk membersihkan diri. Ia memilih untuk mengenakan mini dress motif kotak-kotak berwarna abu-abu dipadukan dengan sepatu kets putih. Ten yang sudah selesai bersiap dan tengah menemani Woojin bermain nampak terkejut saat mendapati Johnny turun dengan kaos putih yang dipadukan dengan jaket warna abu-abu dan celana jeans mirip seperti yang Woojin kenakan. Bukankah mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.

"Woah…. Samchon mirip dengan Woojin." Anak kecil itu berucap dan berhasil membuat Ten terkekeh gemas.

"Woojin yang mirip dengan samchon, kan samchon yang lahir lebih dulu." Balas Johnny, ia membawa Woojin ke dalam gendongannya dan mereka bertiga mulai berjalan beriringan menuju mobil.

"Aniyo, Woojin dan imo pakai ini lebih dulu, lalu samchon mengikuti." Balas Woojin seraya menunjuk baju yang ia pakai. Johnny mulai sibuk mendudukkan Woojin di baby car seat dan tidak berniat memperpanjang perdebatan antara ia dan keponakan kecilnya itu. Ten duduk disebelah Johnny, ia nampak sibuk memasang safety belt miliknya. Mobil Johnny mulai membelah jalanan Kota Seoul yang cukup lengang sore itu, Woojin nampak bernyanyi riang sejak awal perjalanan, tak jarang ia berceloteh tentang banyak hal yang ditanggapi oleh Ten dengan sabar.

Setelah sampai di tempat tujuan, Johnny memutuskan untuk mengajak Ten dan Woojin menjelajahi Lotte World Adventure terlebih dahulu karena sore itu cuaca nampak cukup terik, jadi ia memilih untuk mengajak Woojin menjelajahi arena indoor. Ten nampak baru saja selesai memakaikan gelang ke tangan Woojin dan anak itu mulai terlihat antusias, ia menarik tangan Ten kesana-kemari seolah memaksa Ten untuk mengikutinya seharian.

"Imo, Woojin mau naik itu…." Ucap Woojin seraya menunjuk ke arah salah satu wahana.

"Kajja!…. Kita naik bersama ya." Ten mulai mengajak Woojin untuk mengantri ke arena The Adventures of Sinbad, Johnny terlihat menyusul mereka berdua di belakang, ia tersenyum sekilas saat melihat Ten yang dengan sabar mendengarkan semua ocehan Woojin tanpa ada rasa kesal sedikitpun, Johnny sedikit bersyukur karena dengan adanya Ten ia jadi tidak ditempeli Woojin seharian.

Woojin tak henti-hentinya berdecak kagum saat kereta yang mereka naiki mulai memasuki terowongan. Saat ini Woojin duduk diapit oleh Ten dan Johnny yang senantiasa mendengar ocehan anak kecil itu. Woojin terlihat semakin antusias saat melihat Sinbad beraksi melawan naga, tengkorak, dan penyihir jahat. Sore itu Ten berpikir jika Woojin cocok membintangi CF baterai, bayangkan saja anak itu masih bergerak aktif kesana-kemari menyisakan Ten dan Johnny yang terlihat mulai kewalahan melayaninya

"Samchon ayo kesana…." Woojin menarik tangan besar Johnny untuk mendekati arena Camelot Carousel yang terlihat dikelilingi oleh banyak orang. Ten terlihat menyusul di belakang dengan segelas minuman dingin di tangannya, sejak turun dari wahana Sinbad tadi Johnny memaksa memegang tangan Woojin setelah melihat Ten yang mulai kelelahan.

"Imo ayo naik bersama Woojin, kita pilih kuda putih itu." Woojin bergelayut manja di kaki Ten dan mulai memohon pada imo kesayangannya itu untuk ditemani naik wahana.

"Naik dengan samchon saja ya biar imo istirahat dulu." Johnny membujuk Woojin saat sadar Ten seolah tak kuasa menolak permintaan anak kecil itu.

"Tidak mau, Woojin mau sama imo." Anak itu mulai mencebikkan bibirnya di hadapan Ten dan Johnny. Ten berjongkok menyamakan tingginya dengan Woojin dan berusaha membujuk anak itu.

"Sama samchon saja ya, imo tunggu di sini. Nanti imo ambil banyak foto Woojin lalu kita kirim ke eomma dan appa, bagaimana?" Rayu Ten.

"Hum…. Janji ya? Imo harus ambil banyak foto Woojin supaya Woojin bisa pamer pada eomma appa." Jawab anak kecil itu dengan bibir yang masih mencebik lucu.

"Hum…. Tapi senyum dulu, masa mau naik wahana wajahnya ditekuk begitu. Tuh lihat samchon saja tampan." Balas Ten. Johnny yang tiba-tiba saja namanya disebut hanya menggaruk belakang kepalanya merasakan hawa canggung yang tiba-tiba saja menyelimutinya. Woojin tersenyum cerah dan mulai menyeret Johnny untuk ikut mengantri sebelum menaiki wahana. Woojin terlihat berteriak kegirangan saat menyadari ia berhasil menaiki kuda putih yang ia inginkan, di belakang Johnny bersusah payah menahan Woojin yang terus saja bergerak kesana kemari seperti anak kucing. Ten memekik gemas saat berhasil mendapatkan beberapa foto Woojin, sesekali ia melambaikan tangannya yang dibalas antusias oleh si keponakan, mungkin beberapa tahun lagi kejadian ini akan terulang kembali, pikir Ten.

Woojin tetaplah Woojin, ia masih anak kecil yang penuh energi. Bahkan masih bisa berlari kesana-kemari setelah menaiki arena carousel, berbeda dengan Johnny yang terlihat memijat pelan pangkal hidungnya, pikirnya cukup pusing juga bermain wahana seperti itu ditambah dengan segala bentuk keramaian yang terjadi saat ini. Anak kecil itu terlihat menggandeng tangan Ten dan menunjuk ke salah satu arena yang sangat ingin ia naiki. Ten menyipitkan matanya untuk melihat apa yang ditunjuk oleh keponakannya itu, ternyata itu arena The Aeronaut Balloon.

"John, Woojin mau naik itu." Ten berbicara pada Johnny yang ada di belakangnya.

"Memangnya Woojin tidak takut?" Tanya Johnny setelah melihat seberapa tinggi balon udara itu terbang.

"Tidak, Woojin kan boy masa takut ketinggian." Ucap anak kecil itu penuh keyakinan, Ten terlihat gemas dibuatnya dan mulai mengusap surai hitam keponakannya itu.

Ten, Johnny dan Woojin mulai masuk ke balon udara yang akan membawa mereka terbang. Anak itu berada di gendongan Johnny, namun saat balon udara mulai terbang semakin tinggi, bocah kecil itu malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Johnny dan tubuhnya sedikit gemetar. Johnny menyadari gelagat aneh keponakannya itu dan mulai memberikan kode pada Ten untuk mendekat ke arahnya.

"Sepertinya dia ketakutan." Ucap Ten yang mulai mengelus punggung Woojin.

"Woojin takut ya?" Johnny berbisik tepat di telinga keponakannya itu.

"Tidak mau lihat bawah, di bawah seram." Balas Woojin, ia masih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang paman.

"Jangan lihat bawah ya, sini lihat imo." Rayu Ten. Woojin mulai menatap ke arah Ten dan tidak membiarkan imo nya itu jauh darinya.

"Sini imo foto dulu, lihat sini Woojin…." Ten berusaha membujuk Woojin agar melupakan rasa ketakutannya.

"John, aku memotretmu juga." Ujar Ten supaya Johnny menoleh ke arah kamera.

"Ne?" Johnny nampak kebingungan namun ia akhirnya pasrah dan menatap lurus ke arah kamera polaroid yang Ten genggam sejak tadi. Ten nampak tersenyum cerah setelah memotret sepasang paman dan keponakan itu, ia mulai mendekati Woojin dan menyuruh anak kecil itu menggoyangkan kertas polaroid yang ada di genggamannya.

"Woah…. It's pop up." Mulut kecil Woojin membulat sempurna saat gambarnya dan Johnny mulai muncul di sana. Ten ikut tertawa melihat respon Woojin sepertinya ia berhasil membuat anak kecil itu melupakan rasa ketakutannya.

"Imo nanti fotokan lagi ya, tapi Woojin mau di depan istana." Ucap Woojin seraya mencebikkan bibirnya.

"Kajja! Setelah ini kita cari istana untuk pangeran Woojin, bagaimana?" Tawar Ten, anak kecil itu mengangguk semangat dan tersenyum cerah. Tak lupa ia memamerkan foto yang ada di tangannya pada Johnny yang sibuk menggendongnya sejak tadi. Pria tampan itu ikut tersenyum melihat tingkah Woojin, entah mengapa hati Johnny menghangat saat melihat Ten berhasil meredakan rasa ketakutan Woojin.

Saat ini Woojin berada di gendongan Ten, sepertinya anak kecil itu mulai lemas setelah berlarian-kesana kemari. Mereka bertiga baru saja turun dari balon udara, keluarga kecil itu berniat untuk pergi ke arena outdoor dan mencari beberapa kudapan karena cacing-cacing di perut mereka nampak rewel sejak tadi.

"Woojin foto di sana mau tidak?" Tanya Ten, jemari lentiknya menunjuk ke arena carousel yang nampak sepi pengunjung, sangat berbanding terbalik saat Woojin dan Johnny menaikinya beberapa jam lalu.

"Tapi sama imo, kan tadi sudah sama samchon." Tawar Woojin. Ten mengangguk dan mulai mengeluarkan kamera miliknya dari dalam tas.

"John, bisa tolong fotokan. Nanti tekan yang ini ya." Ujar Ten seraya menyerahkan kamera miliknya pada Johnny. Pria itu mengangguk paham dan Ten mulai membawa Woojin mendekati arena carousel. Saat ini Woojin masih berada dalam gendongan Ten, ia tersenyum cerah dan memeluk Ten erat-erat seolah tak mengizinkan imo nya itu pergi kemanapun.

"Woojin mau goyangkan, Woojin mau goyangkan…." Ia bergegas turun dari gendongan Ten dan mengambil kertas polaroid yang berada di tangan samchon kesayangannya. Ten dan Johnny tertawa gemas melihat tingkah Woojin yang tampak semangat menunggu fotonya muncul di kertas polaroid.

"Woah…. Imo yeppeo." Woojin menunjukkan kertas polaroid yang ada di tangannya pada Ten yang berada di sampingnya.

"Jinjja? Woojin juga tampan sekali." Balas Ten yang saat ini berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Woojin.

"Mau foto lagi, tapi samchon juga ikut." Ucap Woojin.

"Kan tadi sudah sama samchon di balon udara." Balas Johnny merespon perkataan keponakannya.

"Ber-ti-ga samchon, kan tadi hanya ber-du-a." Balas Woojin menekankan setiap perkataannya.

"Eh tapi siapa yang fotokan kalau begitu?" Ten mulai merayu Woojin supaya melupakan keinginannya. Tak jauh dari mereka ada sepasang pemuda pemudi yang tampak seperti sedang berkencan, tanpa aba-aba Johnny mendekati anak muda itu dan meminta tolong pada mereka untuk mengambil foto keluarga kecilnya. Johnny membawa Woojin dalam gendongannya dan mereka mulai mengambil posisi di depan carousel.

"Woah…. Anaknya gemas sekali." Ucap si wanita muda yang mendampingi kekasihnya mengambil foto.

"Woah eonni sudah punya anak tapi tetap ramping dan cantik." Si wanita muda kembali bicara panjang lebar, Ten nampak terkejut mendengar penuturan wanita muda itu.

"Kamsahamnida hyung noona." Ujar Woojin seraya membungkukkan tubuhnya.

"Wah gemasnya, sama-sama anak tampan. Kami pamit dulu ya." Kali ini si pria muda berujar seraya menyerahkan kamera polaroid ke tangan Johnny, tak lupa mereka mengucap terima kasih pada pemuda pemudi itu karena telah berhasil mewujudkan keinginan Woojin.

"Kajja! Kita cari makanan." Johnny membawa Woojin dalam gendongannya dan mereka mulai meninggalkan arena Lotte World adventure.

Di sinilah mereka sekarang, di sebuah restoran cepat saji yang tidak begitu ramai. Woojin nampak bersandar manja pada Ten seraya menunggu Johnny yang tengah memesan makanan. Tak lama Johnny terlihat mendekati meja membawa beberapa potong ayam, cola, air mineral, milkshake, nasi, serta kentang goreng. Dengan sabar Ten menyuapi Woojin, anak kecil itu mulai terisi energinya, tangan kecilnya terlihat menggenggam segelas milkshake yang ia nikmati di sela-sela Ten yang sibuk menyuapinya ayam goreng. Tanpa sadar si kecil berhasil menghabiskan tiga potong ayam goreng, entah karena Ten yang semangat menyuapinya atau Woojin yang benar-benar kelaparan. Dirasa perutnya sudah cukup penuh, Woojin kembali bersandar manja pada Ten yang mulai sibuk menyantap makanannya. Sebelah tangan Ten yang bebas sibuk mengelus surai hitam Woojin, anak kecil itu mulai terlihat menguap dan mengucek matanya beberapa kali. Tak berapa lama kemudian Ten merasa tubuhnya mulai ditempeli beban berat dan saat dilihat ternyata Woojin telah tertidur lelap dan mulai berbaring di paha Ten.

"Dia tertidur?" Tanya Johnny yang baru saja selesai dengan makanannya.

"Hum…. Pulas sekali." Balas Ten, ia tak menatap wajah Johnny dan masih sibuk dengan makanannya. Sepertinya anak dalam perutnya juga luar biasa lapar.

"John, bisa tolong angkat Woojin. Kakiku kesemutan." Ucap Ten beberapa menit kemudian, ia terlihat tengah menahan sakit karena kakinya yang mulai berdenyut tak nyaman. Dengan sigap Johnny berpindah ke samping Ten dan membawa Woojin dalam gendongannya. Ia menepuk-nepuk pelan pundak Woojin yang saat ini membenamkan wajahnya ke dada bidang Johnny.

"Terima kasih." Ucap Ten saat Johnny mengangkat Woojin dan berusaha menyamankan tidur keponakan kecilnya itu.

"Hum…. Habiskan makananmu." Balas Johnny, sesekali ia terlihat menyantap beberapa kentang goreng sembari menunggu Ten yang masih sibuk dengan potongan ayam miliknya.

Setelah selesai makan, mereka bertiga berniat untuk kembali pulang dan bergegas menuju mobil. Namun tiba-tiba saja Woojin terbangun, mata kecilnya membulat sempurna saat melihat stand harum manis bentuk kelinci dan beruang, ia merengek minta dibelikan dan dengan sangat terpaksa Johnny menuruti keinginan keponakannya itu sebelum ia menangis keras sekalipun Johnny tahu nantinya Seohyun akan memarahinya karena membuat Woojin mengkonsumsi terlalu banyak makanan manis hari ini.

"Imo ayo foto lagi tapi pakai ponsel imo, seperti hyung dan noona yang itu." Ucap Woojin seraya menunjuk ke arah remaja yang tengah asyik ber swafoto di depan kedai es krim.

"Ah iya, ayo kita ambil gambar sebanyak mungkin." Ten menuruti perkataan Woojin dan mulai mengajak Johnny untuk merapat mendekati mereka. Berbagai ekspresi lucu mereka coba, beberapa pengunjung nampak berdecak kagum dan mengira mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Setelah cukup puas akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah, Woojin juga nampak tersenyum bahagia karena Johnny membelikannya boneka Lotty dan Lorry yang merupakan maskot Lotte World. Woojin kembali tertidur di sepanjang jalan menuju parkiran, ia saat ini berada di gendongan Johnny. Sesekali anak kecil itu nampak mengerucutkan bibirnya saat tertidur yang berhasil membuat Ten menahan gemas. Jonny mendudukkan Woojin di baby car seat nya dan memastikan anak itu tidur dengan nyaman tanpa ada gangguan sedikitpun. Di kursi depan Ten nampak memijat pelan kakinya dan telah melepas sepatunya, ia mulai bersandar di kursi mobil dan sesekali menghela napas panjang.

"Lelah?" Tanya Johnny, ia mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat parkir Lotte World.

"Pegal sekali. Woojin benar-benar anak yang aktif." Ucap Ten, tangannya masih sibuk memijat kecil kakinya yang terasa pegal.

"Hum…. Seohyun noona juga sering kewalahan mengawasinya." Balas Johnny, mata tajamnya fokus menatap ke arah jalanan Kota Seoul yang terlihat sedikit ramai malam ini.

Tak ada jawaban apapun untuk perkataan Johnny, beberapa menit kemudian suara dengkuran halus mulai menggema di mobil Johnny. Pria tampan itu menolehkan kepalanya dan sedikit terkekeh saat mendapati Ten yang sudah memejamkan mata dan nampak damai dalam tidurnya. Johnny menepikan mobilnya sejenak dan dengan perlahan ia membenahi letak kepala Ten dan memastikan jika leher wanita itu tidak akan kesakitan saat bangun nanti. Setelah semua dirasa cukup aman Johnny kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Setidaknya ia bisa memberikan waktu istirahat yang lebih lama untuk Ten dan Woojin, pikirnya.

Ten mengerjapkan matanya perlahan saat dirasa mobil yang dia tumpangi berhenti terlalu lama. Saat membuka matanya wanita itu nampak terkejut karena ia telah berada di garasi dengan Johnny dan Woojin yang pergi entah kemana. Ten bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki rumah, tangannya terlihat membawa sepatu yang sempat ia lepas saat di perjalanan tadi. Saat baru sampai di ruang keluarga, Ten bertemu dengan Johnny yang baru saja turun dari lantai dua.

"Ah aku baru mau membangunkanmu." Ucap Johnny, ia merasa tak enak karena membiarkan wanita itu terbangun sendirian.

"Kukira kau kemana, tiba-tiba aku sendirian di garasi." Balas Ten seraya terkekeh. Percakapan mereka terhenti saat tiba-tiba saja suara tangisan Woojin yang memekakkan telinga terdengar sampai ke lantai dasar. Ten bergegas menemui Woojin disusul oleh Johnny, Woojin terlihat merentangkan tangannya dan merubah posisinya menjadi duduk di kasur. Anak kecil itu sesekali mengucek matanya, mungkin ia terkejut saat terbangun sendirian dan tak ada satu orangpun disekitarnya.

"Imo kemana? Woojin takut sendirian." Anak kecil itu mulai menghambur ke pelukan Ten dan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang imo.

"Tadi imo di bawah, sudah ya jangan menangis lagi kan imo sudah bersama Woojin sekarang. Nah karena Woojin sudah bangun kita ganti baju dulu yuk, setelah itu gosok gigi, cuci muka, cuci kaki lalu kita tidur kembali." Ucap Ten yang mulai merayu Woojin. Anak kecil itu mengangguk pasrah dan masih bermanja ria pada Ten. Johnny sampai takjub sendiri melihat Woojin yang sangat mudah dibujuk oleh Ten, bahkan Johnny sendiri membutuhkan waktu lama saat membujuk Woojin.

Terlebih dahulu Ten membersihkan dirinya setelah bersusah payah meminta Woojin melepaskan pelukannya yang cukup erat. Ten kembali ke lantai dua dan membawa Woojin ke kamar mandi, ia mulai mengusap seluruh Badan Woojin dengan air hangat dan mengganti bajunya dengan piyama yang nyaman, tak lupa Ten membantu Woojin menggosok gigi serta membersihkan tangan dan kakinya. Setelah selesai, anak laki-laki itu bergegas pergi ke kasur dan menyeret Ten untuk ikut bersamanya, ia juga memaksa Johnny yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya untuk tidur bersama. Saat ini Woojin berada di tengah-tengah entah inisiatif darimana ia mulai membenamkan wajahnya ke perut Ten yang saat itu sedang berbaring.

"Eh jangan begitu, nanti adiknya kesakitan." Sebuah suara besar tiba-tiba menginterupsi kegiatan Woojin. Johnny terlihat menarik piyama keponakannya itu dan berkata demikian. Johnny tidak akan membiarkan insiden seperti kemarin malam terulang kembali.

"Adik siapa samchon? Memangnya ada adik di perut imo?" Tanya Woojin polos seraya mengerjapkan matanya beberapa kali. Ten terkekeh gemas dan mulai mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala kasur. Ia membelai Woojin yang masih nampak kebingungan.

"Wah jadi Tuhan mengabulkan doa Woojin ya?" Tiba-tiba anak laki-laki itu berseru semangat.

"Memangnya Woojin berdoa apa pada Tuhan?" Ten mulai membuka suara.

"Woojin minta adik bayi datang ke perut eomma. Eomma bilang adik itu datang ke perut baru nanti saat sudah waktunya adik akan melihat dunia. Tapi adik Woojin sepertinya tersesat ke perut imo." Lagi-lagi anak kecil itu berucap polos. Johnny sudah mulai tertawa disampingnya dan dihadiahi wajah kebingungan milik Woojin yang terlihat semakin jelas. Ten sendiri sedang berusaha menahan tawanya setelah mendengar ocehan keponakannya itu.

"Yang di perut imo juga adiknya Woojin kok. Kan imo sayang Woojin." Ucap Ten seraya mengusap surai lebat Woojin.

"Woah…. I love you imo." Balas Woojin seraya memeluk Ten dari samping.

"I love you too baby." Ten membalas pelukan Woojin dan mengecup gemas pipi gembil anak itu.

"Adik bayi cepat besar ya. Nanti kita naik balon udara sama-sama." Woojin mulai bermonolog dan mencium perut rata Ten berkali-kali, Ten terlihat kegelian menerima perlakuan Woojin, ia tersenyum gemas seraya tertawa sesekali.

"Bukannya Woojin takut naik balon udara." Suara besar Johnny tiba-tiba saja merusak khayalan indah Woojin. Johnny nampak terkekeh dan dihadiahi tatapan tajam yang jauh dari kesan menakutkan dari Woojin.

"Ih samchon, nanti kan kalau adik bayi sudah keluar berarti Woojin sudah jadi big boy. Nanti Woojin pasti sudah jadi pemberani." Ujar Woojin membela diri.

"Benarkah…. Benarkah?" Johnny malah semakin menjahili Woojin dan memeluk keponakannya itu erat-erat.

"Ah imo, samchon nakal…." Anak kecil itu mulai merengek dan dihadiahi gelak tawa dari Ten dan Johnny.

Setelah cukup lelah bercanda mata kecil Woojin mulai menutup bersamaan dengan dengkuran halus yang mulai terdengar dari mulutnya. Ten membenahi letak tidur Woojin dan menyelimuti anak kecil itu sampai sebatas dada. Ten mulai berusaha memejamkan matanya tanpa mempedulikan Johnny yang berada di dekatnya.

"Ten…. Selamat istirahat." Ucap Johnny tiba-tiba. Ten tidak dapat melihat jelas wajah Johnny karena terhalang oleh tubuh Woojin, jadi Ten tak tahu menahu jika pria yang berstatus sebagai suaminya itu mengucapkan kalimat itu dengan senyuman tulus yang jarang sekali ia tampilkan pada orang lain.

"Kau juga John, selamat istirahat. Terima kasih untuk hari ini." Balas Ten, setelah itu ia benar-benar memejamkan matanya dan mulai menjelajah ke alam mimpi meninggalkan seorang pria yang tengah meraba dada bidangnya karena berdebar tak karuan bahkan sejak kemarin. Johnny pikir ia sudah sepenuhnya terjebak dalam pesona Ten Lee dan tak tahu jalan untuk kembali.