18. Es yang Hangat
Di minggu sore yang cerah Woojin terlihat sudah rapi dengan tas ransel di gendongannya dan jangan lupakan tangannya yang membawa boneka Lotty dan Lorry sejak tadi. Anak kecil itu akan kembali diantar pulang ke rumah keluarga Seo, awalnya Ten menolak ajakan Johnny untuk menemani Woojin pulang karena ia sudah memiliki janji dengan Seulgi di rumah sakit, namun si pria tinggi memaksanya ikut mengantarkan Woojin baru kemudian mereka pergi ke rumah sakit bersama-sama. Ten sendiri cukup terkejut karena seingatnya ia belum bercerita pada Johnny jika akan ke rumah sakit hari ini, sepertinya Jaehyun yang memberi tahu pria itu.
Jemari gembul Woojin tengah membuka album foto mini yang kemarin sempat mereka beli. Anak kecil itu nampak sibuk memasukkan hasil foto polaroid kemarin ke album foto, senyuman cerah tampak terpatri di wajah manisnya.
"Woojin suka fotonya?" Tanya Ten yang saat ini duduk di sebelah Johnny.
"Hum…. Nanti foto lagi ya imo supaya albumnya cepat penuh." Balas anak kecil itu antusias. Ten hanya mengangguk seraya terkekeh mendengar jawaban keponakannya itu.
Mobil Johnny mulai menepi di pekarangan luas rumah keluarga Seo, setelah mobil benar-benar berhenti Ten bergegas turun dan membuka safety belt baby car seat yang Woojin gunakan. Anak kecil itu berlari kencang memasuki rumah meninggalkan Ten dan Johnny yang harus membawa barang-barang si kecil yang cukup banyak, padahal jika diingat ia hanya menginap semalam. Ten masuk ke rumah terlebih dahulu meninggalkan Johnny yang sibuk dengan tas mainan Woojin yang ada di bagasi mobilnya. Nyonya Seo yang baru saja tiba dari Busan pagi tadi bergegas menghampiri Ten dan memeluknya erat. Menyalurkan kerinduan yang ia pendam cukup lama.
"Halmeoni…. Bogoshipoyo…." Woojin berhambur ke pelukan nenek kesayangannya, meninggalkan Seohyun yang terlihat membawa semua barang milik anaknya. Ten menghampiri Seohyun dan memberikan barang-barang Woojin yang tersisa, Seohyun nampak berterima kasih pada Ten karena sudah mau merawat anaknya kemarin. Seohyun mengajak Ten mendekat ke meja makan dan mulai menikmati beberapa makanan yang tersaji disana meninggalkan Woojin yang sedang bermanja pada neneknya dan Johnny yang baru saja masuk ke rumah.
"Halmeoni halmeoni…. Sebentar lagi Woojin punya adik." Ucap anak laki-laki itu. Johnny yang berada di dekatnya nampak membelalakkan mata mendengar perkataan keponakannya itu, benar-benar tak bisa jaga rahasia, batin Johnny.
"Joohyun-ah kau hamil?" Tanya nyonya Seo penuh selidik seraya menghampiri Seohyun yang mulai menyantap makanan miliknya.
"Apa? Tidak eomma bahkan aku sedang datang bulan." Balas Seohyun, ia nampak terkejut mendengar perkataan eomma nya. Ten yang masih tidak mengerti pembicaraan orang-orang disekitarnya tetap melanjutkan kegiatannya menyantap puding yang tersaji di meja makan.
"Ih halmeoni bukan adik dari perut eomma, tapi adik dari perut Ten imo." Ujar Woojin tiba-tiba. Semua orang nampak kaget, bahkan tuan Seo yang sedang berbincang bersama Kyuhyun dan Johnny hampir saja tersedak minumannya.
"Apa? Kau sedang hamil Ten?" Seohyun menodongkan pertanyaan pada tersangka utama yang menjadi topik pembicaraan. Ten hanya terkekeh seraya menganggukan kepalanya. Pancaran kebahagiaan terlihat jelas dari wajah seluruh anggota keluarga Seo, terutama nyonya Seo yang memberikan senyuman secerah matahari, ia bahkan kembali berhambur ke pelukan Ten dan mengelus lembut surai hitam milik menantunya itu. Pancaran kebahagiaan hari itu menyisakan sedikit kebingungan di hati Ten dan Johnny tentang bagaimana kehidupan mereka kedepannya jika es yang melingkupi mereka belum mencair sepenuhnya.
"Sudah berapa minggu?" Tanya Seohyun yang terlihat tengah menyuapi Woojin potongan buah-buahan.
"Sudah masuk minggu kedelapan eonni." Jawab Ten, mulutnya terlihat sedikit penuh karena pudding yang sejak tadi ia makan. Seohyun nampak terkekeh gemas melihat tingkah adik iparnya itu.
"Sudah delapan minggu dan kau tak berniat mengabari kami Seo." Wanita cantik itu menatap adik laki-lakinya yang tengah berbincang dengan suaminya.
"Aish…. Kan yang penting sekarang kau sudah tahu noona." Jawab Johnny, ia nampak memutar bola matanya malas mendengar ocehan sang kakak.
"Untung saja anak eomma pintar jadi bisa bongkar rahasia imo dan samchon, iya kan?" Seohyun menatap gemas anak kesayangannya dan dibalas anggukan semangat dari Woojin.
Ten yang baru saja selesai dengan makanannya ikut terkekeh melihat tingkah Woojin. Tiba-tiba saja netra indah miliknya bertemu dengan netra setajam elang milik Johnny, pria itu terlihat menganggukan kepalanya seolah mengatakan pada Ten agar segera bergegas ke rumah sakit. Sepasang suami istri itu pun berpamitan dan mengatakan tujuan mereka, nyonya Seo memberikan petuah panjang pada sepasang suami istri itu terutama pada Johnny, ia menyuruh anak laki-lakinya itu untuk mengurangi sifat cueknya dan lebih mempedulikan Ten dan anak yang sedang ia kandung. Seohyun hanya terkekeh melihat Johnny yang terlihat seperti tidak berkutik setelah ditegur oleh eomma mereka.
Ten nampak duduk di depan ruangan Seulgi bersebelahan dengan Johnny yang sibuk memainkan ponselnya sejak tadi. Ten mengutuk dalam hati, seharusnya ia menolak ajakan Johnny untuk pergi bersama daripada berakhir dengan kecanggungan seperti sekarang ini.
"Nyonya Ten Lee." Panggil seorang perawat yang terlihat baru saja keluar dari ruangan Seulgi.
"Ne." Balas Ten, ia mulai masuk ke ruangan Seulgi disusul dengan Johnny yang ikut berjalan di belakangnya. Beberapa pasien yang sedang menunggu giliran nampak terkagum-kagum dengan pemandangan yang tersaji saat ini dimana sepasang muda mudi rupawan yang berniat memeriksakan calon anak mereka, sungguh tak terbayang akan seperti apa rupa anak mereka nantinya, pikir orang-orang.
Ten mulai berbaring di ranjang pemeriksaan sesuai arahan Seulgi, ia menyingkap pakaiannya menampilkan perut putihnya yang sudah mulai menonjol. Seulgi kembali mengoleskan gel yang sama seperti minggu lalu ke permukaan perut Ten. Wanita itu sedikit mengernyitkan wajahnya karena masih belum terbiasa dengan sensasi dingin yang menyeruak dari gel tersebut. Johnny duduk di depan meja Seulgi yang berjarak tidak terlalu jauh dari ranjang pemeriksaan sehingga ia masih dapat melihat dengan jelas semua hal yang dilakukan dokter wanita itu pada Ten.
"Wah sudah masuk delapan minggu. Lihat si kecil sudah sebesar kacang merah." Ujar Seulgi seraya memainkan alat yang ia gunakan sejak tadi di permukaan perut Ten. Ten nampak tersenyum seraya menatap ke arah monitor yang juga menjadi fokus Seulgi sejak beberapa menit yang lalu.
"Organ tubuh si kecil juga mulai terbentuk, wajahnya juga semakin terlihat jelas, ah iya jemari tangan dan kaki juga sudah mulai muncul di minggu ini tapi masih berselaput, dan yang paling penting alat kelaminnya sudah mulai terbentuk tapi masih belum terlihat jelas." Jelas Seulgi, ia mulai menjelaskan panjang lebar pada Ten yang terlihat sedikit kebingungan.
"Mau coba dengan detak jantungnya?" Ucap Seulgi dengan wajah berbinar.
"Apa sudah bisa?" Tanya Ten, ia cukup terkejut mendengar penawaran yang Seulgi berikan padanya.
"Tentu saja sudah, detak jantung janin sudah mulai dapat didengar sejak minggu kelima kehamilan. Ayo kita cari detakan si kecil." Ucap Seulgi bangga. Ia mulai menggerakan transducer yang ia genggam di atas perut Ten, seolah mencari keberadaan detak jantung si kecil.
Tak lama kemudian suara detakan terdengar bergema di ruangan pemeriksaan. Seulgi nampak sibuk menatap layar monitornya menyisakan Ten yang membulatkan matanya yang mulai berkaca-kaca, tak lama suara sesegukan mulai terdengar dari ranjang pemeriksaan. Seulgi dan Johnny nampak terkejut melihat Ten menangis, dengan cepat Seulgi menyodorkan selembar tisu pada Ten yang disambut baik oleh wanita itu, tentu saja ini bukan pengalaman pertama bagi dokter wanita itu berhadapan dengan pasien yang menangis. Setiap tangisan pasien memiliki makna yang berbeda-beda ada yang berarti kebahagiaan ada juga yang berarti kesedihan, namun kali ini Seulgi berani menjamin jika air mata yang berhasil lolos dari manik indah Ten adalah air mata kebahagiaan.
"Pasti senang ya setelah mendengarnya? Jadi merasa lebih dekat dengan si kecil." Ucap Seulgi.
"Hum…. Te-terima kasih tisunya." Ten menganggukan kepalanya seraya sibuk menyeka air matanya yang masih belum berhenti mengalir.
"Wah denyut jantung si kecil juga normal, sekitar 110 denyut permenit." Ucap Seulgi, Ten hanya mengangguk namun tak dipungkiri kelegaan jelas terpancar jelas di wajah cantiknya. Setelah selesai pemeriksaan, Ten kembali menurunkan pakaiannya dan duduk di sebelah Johnny yang nampak terpaku sejak tadi. Tiba-tiba saja tangan besar pria itu menggenggam tangan Ten yang ada di bawah meja, Ten nampak terkejut dan berusaha melepaskannya namun Johnny malah semakin mengeratkan genggamannya membuat Ten bingung setengah mati. Ten kembali berbincang dengan Seulgi dan menyisakan Johnny yang menjadi pendengar setia dari percakapan mereka, sesekali ia nampak mengelus punggung tangan Ten dengan lembut dan hal itu berhasil membuat Ten terheran-heran.
"Jadi apa akhir-akhir ini ada gejala yang aneh?" Tanya Seulgi.
"Ah akhir-akhir ini penciumanku sangat sensitif? Bahkan kemarin aku memarahinya habis-habisan karena parfum yang ia pakai." Ucap Ten sedikit malu-malu seraya menunjuk Johnny yang berada di sebelahnya.
"Itu hal yang wajar mengingat perubahan hormon dalam tubuh ibu hamil, jadi terkadang mereka akan sangat sensitif terhadap bau-bau tertentu." Ucap Seulgi.
"Begitu rupanya, lalu Seulgi-ssi, di bagian ini rasanya lebih berat, apa itu wajar." Tanya Ten seraya menunjuk ke arah payudaranya yang terlihat lebih besar, ia mencondongkan sedikit tubuhnya karena tak ingin Johnny mendengar pembicaraannya dengan Seulgi, namun sepertinya usahanya sia-sia karena Johnny mulai sibuk menahan tawanya dan dibalas kekehan dari Seulgi.
"Ah itu sangat wajar karena di usia kehamilan sekarang kelenjar yang memproduksi ASI mulai membesar, kau tak perlu khawatir." Jawab Seulgi, Ten nampak menganggukan kepalanya setelah mendengar jawaban Seulgi.
"Ah satu lagi, beberapa hari lalu perutku sedikit kram, apa itu bahaya?" Ten benar-benar memanfaatkan dengan baik keberadaan Seulgi dan tak mau kehilangan kesempatan sedikitpun.
"Tidak, selama kram nya masih dalam batas normal itu tidak bahaya. Lagipula pada usia ini ligament perut akan merenggang karena ukuran rahim yang mulai membesar. Usahakan jangan terlalu lelah dan istirahat yang cukup." Seulgi kembali berucap dengan senyuman ramah.
"Apa akhir-akhir ini ada masalah pencernaan? Konstipasi misalnya." Tanya Seulgi. Ten nampak menggeleng sebagai jawaban karena memang ia merasa tak ada masalah pencernaan apapun yang ia alami akhir-akhir ini.
"Maaf boleh aku menyela sebentar. Begini seonsaengnim, orang ini sangat sulit jika disuruh untuk makan." Ujar Johnny seraya menunjuk Ten yang ada di sebelahnya. Ten membelalakkan matanya mendengar perkataan Johnny, bisa-bisanya pria itu ikut mengadu pada Seulgi.
"Ah tak perlu seformal itu Johnny-ssi, Jung seonsaengnim telah bercerita banyak tentangmu. Dan untuk Ten-ssi kau harus tetap makan sekalipun selera makanmu hilang. Jangan lupa untuk konsumsi makanan yang bergizi seimbang karena pada masa ini bayi sedang mengalami pertumbuhan yang pesat jadi sangat penting untuk memenuhi asupan nutrisinya." Jelas Seulgi panjang lebar membuat sepasang suami istri di hadapannya itu menganggukan kepala mereka berkali-kali.
"Kau dengar itu? Aku tak mau anakku nanti jadi pendek sepertimu." Bisik Johnny tepat di telinga Ten, wanita itu membelalakkan matanya dan terkejut mendengar perkataan Johnny. Seandainya mereka sedang tak bersama Seulgi, mungkin Johnny sudah Ten pukuli. Seulgi yang masih sibuk dengan monitornya nampak terkekeh, sepertinya perkataan Johnny juga sampai ke telinga dokter cantik itu.
"Kurasa kita bisa akhiri sesi hari ini, jangan lupa minum vitamin, terutama vitamin D supaya tidak kekurangan asupan kalsium dan selalu jaga kesehatan. Sampai bertemu lagi di bulan berikutnya." Ucap Seulgi ia mulai bangkit berdiri dan disambut senyuman manis dari Ten yang nampak sedikit membungkuk untuk mengucap terima kasih. Akhirnya sepasang suami istri itu bergegas keluar dari ruangan Seulgi dan jangan lupakan tangan Johnny yang masih menggenggam erat jemari lentik Ten.
"John, tak berniat melepaskan tanganku?" Tanya Ten saat mereka hendak memasuki mobil.
"Ah maaf, aku tak sengaja." Ucap Johnny yang mulai melepaskan jemari Ten dari genggamannya.
"Alasan…." Ujar Ten, ia mulai memasuki mobil dan memasang safety belt.
"Kita pergi ke mall sebentar." Ucap Johnny tiba-tiba saat sadar tatapan Ten yang terlihat terkejut saat tahu mobil Johnny melewati komplek rumah mereka begitu saja.
"Mau apa?" Ucap Ten yang jelas ia sudah tahu jawabannya.
"Ada yang harus kubeli." Balas Johnny. Ten hanya mengangguk mengerti dan tak berniat melanjutkan pembicaraan mereka.
Ten dan Johnny nampak berjalan beriringan di sebuah mall yang cukup besar di Seoul. Langkah kaki Ten yang kecil terlihat sedikit kesulitan saat harus mengimbangi langkah besar Johnny apalagi dengan kondisi perut yang sedikit menonjol seperti sekarang. Ten nampak menghembuskan napasnya perlahan saat tahu Johnny mengajaknya ke sebuah toko game dan ia hampir saja berteriak frustasi setelah melihat Johnny membeli seperangkat PS5. Ten sungguh tak habis pikir, Johnny membuatnya terengah-engah hanya demi PS5, benar-benar bertolak belakang dengan Johnny yang menemaninya ke rumah sakit beberapa menit yang lalu.
"Bagaimana jika sekalian mengisi kulkas?" Tawar Johnny saat mereka berdua mulai meninggalkan toko game.
"Kurasa bukan ide yang buruk." Balas Ten, namun matanya nampak melirik ke deretan pakaian wanita yang seolah memanggilnya sejak tadi.
"John, kau bisa belanja lebih dulu. Aku ada urusan sebentar, nanti aku hubungi." Ucap Ten ia berniat meninggalkan Johnny sebentar untuk mampir ke toko pakaian wanita karena ada yang harus ia beli.
"Mau kemana? Ayo kutemani." Balas Johnny, tangan besarnya mulai menahan tangan Ten yang hendak meninggalkannya.
"Aku harus kesana sebentar, kau belanja duluan saja atau tunggu disini sampai aku kembali." Ten mencoba mencari alasan supaya Johnny tak mengikutinya.
"Kutemani atau tak pergi kesana sama sekali." Ucap Johnny mutlak, raut kekhawatiran terlihat jelas dari wajah tampan pria itu hanya saja perasaan gengsi masih tampak menguasainya.
"Aish…. Yasudah terpaksa, tapi kau tak usah banyak bicara." Ucap Ten, sebenarnya ia malu setengah mati mengajak Johnny pergi bersamanya. Tujuan utamanya ke toko pakaian wanita kan ingin membeli pakaian dalam terutama bra karena beberapa miliknya sudah tidak muat. Dengan setengah hati Ten membiarkan Johnny mengekorinya dan berusaha tak mempedulikan eksistensi pria itu di belakangnya.
"Maaf apa ada ukuran yang lebih besar." Tanya Ten seraya menunjuk ke arah seamless bra yang berada di dekatnya pada pegawai di toko tersebut.
"Ah ada, kita punya ukuran khusus untuk wanita hamil." Ucap pegawai wanita itu seolah paham dengan perubahan tubuh Ten dengan perut yang mulai menonjol.
"Wah terima kasih banyak." Ucap Ten seraya tersenyum cerah,
Sesi belanja berakhir dengan Ten yang membeli beberapa pakaian dalam dan kaos santai yang bisa ia kenakan sehari-hari. Tiba-tiba saat di kasir Johnny meletakkan dua mantel tebal di tumpukkan baju yang akan Ten bayar, Ten nampak menatap bingung ke arah Johnny terlebih setelah melihat pria itu menyerahkan black card miliknya pada petugas kasir.
"Aku saja yang bayar, kan aku yang belanja." Ucap Ten berusaha menggapai black card milik pria disampingnya itu.
"Aku suamimu. Bisa tidak sekali saja kita tidak berdebat untuk masalah sepele." Ucap Johnny, perkataan pria itu cukup membuat sang petugas kasir sedikit terkejut.
"Baiklah, jika kau memaksa." Ucap Ten pasrah.
Setelah selesai dengan urusan pembayaran, Johnny bergegas membawa barang belanjaan Ten dan mereka melesat untuk mengisi kulkas rumah yang sudah mulai kosong sejak beberapa hari yang lalu. Sebelum melesat ke bagian groceries, Johnny dan Ten terlebih dahulu menitipkan barang belanjaan mereka supaya tidak terlalu merepotkan karena harus dibawa kemana-mana.
"Kita butuh buah, bumbu dapur, sayur, daging, ikan, ayam, dan beberapa cemilan." Ujar Ten, ia terlihat fokus dengan catatan di ponsel miliknya. Johnny nampak tak peduli ia sibuk mendorong keranjang belanja dan mengikuti kemana si wanita cantik akan membawanya pergi.
"Kesana dulu John, kita butuh buah." Ujar Ten, tanpa sadar ia menarik tangan besar Johnny dan membawanya ke tempat buah-buahan.
"Ah maaf, aku tak sengaja." Ucap Ten saat sadar akan tingkah lakunya. Johnny hanya mengangguk namun tak lama setelah itu seulas senyuman nampak terukir indah di wajah tampan Johnny.
"Kau yakin kita butuh semua ini?" Tanya Johnny saat melihat Ten berbagai memasukkan berbagai macam buah-buahan.
"Hum…. Aku suka buah." Ucap Ten mantap. Johnny hanya bergidik melihat tingkah Ten yang tiba-tiba saja jadi maniak buah saat sedang hamil.
Setelah selesai dengan buah-buahan mereka berpindah ke tempat sayuran dan bumbu. Ten dengan cekatan mengambil semua sayur dan bumbu yang ia butuhkan untuk di rumah. Johnny sedikit takjub melihat Ten saat itu, jujur saja ini juga kali pertamanya pergi belanja bersama Ten. Mereka berpindah ke tempat daging dan frozen food, Ten nampak berhenti sejenak saat baru saja melihat daging-daging yang berjejer rapi. Johnny menatap keheranan ke arah Ten dan menyadari jika wanita itu tak bergerak sama sekali.
"Ten, kau tak apa?" Tanya Johnny, ia mendekat ke arah Ten dan sedikit berbisik pada wanita itu.
"John, aku mual." Balas Ten, ia bahkan mulai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Aish…. Jangan disini ayo kita keluar dulu." Johnny mulai panik dan berniat menyeret wanita itu keluar.
"Aku masih bisa tahan, ayo lanjutkan belanja dulu." Tawar Ten, tentu saja ia tidak mau kegiatan belanjanya harus tertunda karena mual yang tiba-tiba datang.
"Kau keluar saja ya, biar aku yang ambil barangnya. Berikan ponselmu!" Ucap Johnny, namun Ten menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan untuk mencari apa yang ia butuhkan. Sesekali Ten membenamkan wajahnya ke lengan kekar Johnny karena tak tahan dengan bau yang tiba-tiba saja menyapa hidungnya. Johnny tak marah sama sekali pada wanita itu, selama Ten nyaman menurutnya tak masalah. Ia juga merasa kasihan melihat Ten yang nampak menahan mual sejak tadi.
"Sudah semua kan?" Ucap Johnny seraya mengecek kebutuhan yang baru saja mereka masukkan ke keranjang. Ten menoleh sekilas kemudian menganggukan kepalanya sebagai balasan atas ucapan Johnny. wanita itu malah semakin menenggelamkan wajahnya ke lengan kekar Johnny.
"John, ayo keluar." Ucap Ten lirih, Johnny nampak cukup tenang dan ia mulai membelai lembut rambut Ten yang saat ini sibuk menenggelamkan wajahnya untuk meminimalisir bau-bauan menghinggapi hidung bangirnya.
"Iya, ayo kita keluar." Balas Johnny ia mulai merangkul pundak Ten dan mengajak wanita itu keluar.
Mata tajam Johnny mendapati kursi kosong yang berada tepat di depan toko groceries, ia bergegas mengajak Ten kesana dan meminta wanita itu untuk istirahat sejenak. Ten nampak duduk di kursi dengan Johnny yang berdiri di hadapannya, pria itu mengelus lembut punggung sempit Ten seolah menyalurkan energi dari sana. Ten nampak cukup lemas dan mulai menumpu kepalanya ke perut bidang Johnny, nafasnya terdengar terengah dan itu berhasil membuat Johnny panik.
"Mau ke kamar mandi?" Tawar Johnny, wanita itu nampak menggeleng dan tetap menumpu kepalanya disana.
"Kau tunggu sini ya, aku bayar ini dulu setelah itu kita pulang ke rumah." Ucap Johnny, Ten kembali menggeleng dan mulai mendongakkan wajahnya.
"Aku ikut." Ucapnya lemah. Johnny sebenarnya tidak tega membiarkan Ten ikut dengannya, namun pria itu tak berniat memperpanjang perdebatan mereka. Akhirnya pasangan suami istri itu menunggu di kasir dengan Johnny yang menggenggam erat jemari Ten dan Ten yang menyandarkan kepalanya ke lengan kekar Johnny.
Setelah selesai membayar semua belanjaan mereka dan mengambil barang di penitipan, Johnny dan Ten bergegas menuju mobil dan berniat pulang ke rumah. Saat baru saja memasuki mobil tiba-tiba saja Ten menunjukkan gelagat aneh, wanita itu terlihat menutup mulutnya dan jangan lupakan keringat yang mulai membanjiri keningnya. Johnny terlihat panik mencari barang apapun yang dapat Ten gunakan untuk menampung muntahannya, Johnny menyodorkan gelas kopi yang tadi sore sempat ia beli saat mengantar Woojin pulang ke rumah
"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Ten mulai memuntahkan apapun yang bisa ia keluarkan, sesekali wanita itu nampak menggerang frustasi karena hanya mendapati cairan bening yang keluar.
"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Napas wanita itu mulai memburu seiring dengan makin banyaknya cairan yang ia muntahkan. Johnny nampak memijat tengkuk Ten dan berusaha membuat wanita itu nyaman.
"Sudah selesai?" Tanya Johnny saat mendapati wanita itu tak lagi memuntahkan apapun dan hanya menatap lurus kedepan.
"Sekarang pusing." Ujar Ten sedikit manja. Johnny hanya mengangguk dan berusaha meraih paper cup yang digunakan Ten untuk menampung muntahannya. Johnny keluar dari mobil dan membuang paper cup itu ke tempat sampah.
"Kita pulang ya, setelah itu istirahat." Ucap Johnny seraya mengelus lembut surai hitam Ten. Wanita itu hanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pusing yang mulai mendera.
Johnny melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Begitu sampai di rumah, pria tampan itu menggendong Ten menuju kamarnya setelah melihat wanita itu nampak tertidur lelap. Johnny melepas sepatu yang Ten gunakan dan mengambil tas yang tersampir indah di bahu sempitnya. Bahkan Ten sama sekali tak bergerak saat Johnny sibuk kesana kemari. Johnny kembali ke mobil dan membawa semua barang belanjaan mereka, ia bergegas menata semua bahan makanan ke dalam kulkas. Sedingin apapun sikap Johnny pada Ten selama ini, pria itu juga masih memiliki hati nurani dan tidak tega setelah melihat Ten muntah-muntah seperti tadi. Johnny teringat jika mereka berdua belum sempat mengisi perut, dengan sedikit malas Johnny memesan makanan untuk ia nikmati bersama Ten nantinya.
Makanan yang Johnny pesan baru saja tiba. Ia memesan sup miso, dumpling, dan bulgogi. Johnny bergegas masuk ke kamar Ten dan berniat mengajak wanita itu untuk makan bersama, namun ia dikejutkan dengan pemandangan Ten yang tengah bersandar di kepala kasur seraya memijat pangkal hidungnya.
"Masih pusing?" Tanya Johnny, ia mulai menaruh nampan yang ia bawa di meja nakas.
"Sedikit, ah terima kasih sudah mengangkatku. Pasti berat." Ucap Ten.
"Hum…. Memang berat, tapi mau bagaimana lagi kau tidur seperti orang mati." Balas Johnny dan berhasil membuat Ten mencebikkan bibirnya.
"Ayo makan." Johnny mulai membuka meja kecil di atas kasur tempat Ten berbaring.
"Aku tidak lapar, kau saja yang makan." Balas Ten. Johnny nampak membelalakkan matanya mendengar perkataan wanita itu, bahkan sejak tadi Ten tidak memasukkan apapun ke perutnya bagaimana bisa dengan mudahnya wanita itu bilang sudah kenyang, pikir Johnny.
"Jangan bercanda. Kau harus makan, aku tekankan padamu sekali lagi. Aku tak mau anakku pendek sepertimu." Ucap Johnny penuh penekanan pada dua kata terakhir. Ten memutar bola matanya malas setelah mendengar jawaban Johnny, lagi-lagi pria kelebihan kalsium itu mengatainya pendek.
"Disini ada genmu juga, jadi kemungkinan dia untuk jadi pendek sangat kecil. Kau kemanakan otak cerdasmu itu John." Balas Ten seraya menunjuk perutnya yang mulai terlihat menonjol, ia mulai jenuh saat Johnny mengatainya pendek.
"Ayo makan bersama. Aku tak terima penolakan." Balas Johnny mutlak. Ia mulai menyuapkan makanan ke mulut Ten tanpa peduli jika wanita itu telah memasang wajah kesal.
"Barang belanjaan sudah kau rapikan?" Tanya Ten setelah menelan suapan pertamanya.
"Hum…. Baru saja aku masukkan kulkas." Jawab Johnny, ia masih sibuk mengunyah bulgogi sejak tadi.
"John aku mau daging juga, jangan beri aku sayur terus." Ten mulai kesal saat Johnny menyuapinya sayuran sejak tadi.
"Hum…. Ini…." Johnny menganggukan kepalanya dan mulai menyuapkan bulgogi ke mulut Ten.
Sepasang suami istri itu berhasil menghabiskan makanan yang mereka pesan. Johnny menatap keheranan ke arah Ten yang tengah menyantap potongan apel, seingat Johnny beberapa menit yang lalu wanita itu bersikeras mengatakan ia tidak lapar, namun sejak tadi ia makan apapun yang ada di sekitarnya, malah berhasil mengalahkan porsi makan Johnny yang luar biasa banyaknya.
"Pelan-pelan Ten, kau seperti orang kerasukan." Ucap Johnny, ia merasa kenyang hanya dengan menatap Ten yang menyantap potongan apel dihadapannya.
"Kalau mau bilang, tak usah mengataiku begitu." Balas Ten cukup usil. Johnny hanya mengangkat bahunya cuek dan kembali bersandar di kursi yang ia duduki.
Setelah Ten selesai dengan potongan apel miliknya Johnny kembali datang dengan sebotol air mineral, gelas, dan berbagai macam obat-obatan. Tentu saja pria itu tidak lupa dengan pesan Seulgi yang meminta Ten minum vitamin.
"Cepat minum. Kau tahu kau benar-benar mengerikan saat sedang muntah." Ucap Johnny ia menyodorkan tiga botol vitamin dengan jenis yang berbeda. Dengan sedikit paksaan dari Johnny akhirnya Ten minum tiga butir vitamin dan mendorongnya dengan segelas penuh air mineral. Johnny sedikit tersenyum setelah memastikan Ten meminum semua vitaminnya, ia bergegas menaruh semua vitamin di meja nakas Ten dan menyodorkan tas belanjaan yang berisi pakaian yang baru Ten beli beberapa jam yang lalu.
"Ah iya ini punyamu kan?" Ucap Ten, Johnny yang hendak keluar dari kamar menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah wanita tersebut.
"Aku beli untukmu. Sebentar lagi musim dingin, jangan sampai kedinginan." Ucap Johnny yang berhasil membuat Ten membelalakkan matanya tak percaya.
"Te-terima kasih John." Balas Ten. Johnny nampak mengangguk dan mulai menjauh dari jangkauan Ten.
"John! Ayo tidur bersama." Entah keberanian dari mana, kalimat itu tiba-tiba meluncur mulus dari mulut Ten.
"Ne?" Johnny nampak terkejut dengan permintaan Ten.
"A-aku- ah maksduku anakmu ingin tidur denganmu." Jawab Ten yang lagi-lagi mengeluarkan jawaban konyol dari mulutnya. Johnny hanya terkekeh kemudian menganggukan kepalanya seolah menyetujui permintaan Ten.
"Ayo ke atas." Balas Johnny, ia berjalan lebih dulu meninggalkan Ten dengan wajah memerah karena malu. Ia bahkan beberapa kali memukul kecil mulutnya seolah mengutuknya karena dengan berani mengeluarkan kalimat seperti itu pada Johnny.
Ten dan Johnny telah rapi dengan piyama tidur mereka masing-masing. Saat ini mereka tengah berbaring sambil menatap lurus ke atap, hawa canggung nampak menguar dengan jelas dari mereka berdua.
"Ten…." Johnny membuka pembicaraan antara mereka.
"Hum…." Jawab Ten. Cukup lama Ten terdiam dan tak ada sahutan apapun dari mulut Johnny.
"Kau menyesal menikah denganku?" Tanya Johnny tiba-tiba. Ten terdiam sejenak sebelum akhirnya menghembuskan napas pelan.
"Sama sekali tidak. Kau tahu mungkin ini yang disebut takdir. Tapi saat hari pernikahan aku hampir saja lari dari altar, lucu sekali bukan?" Balas Ten disertai kekehan kecil. Johnny nampak tersenyum yang jelas saja tak mungkin terlihat oleh Ten.
"Kau menyesal?" Tanya Ten.
"Awalnya, tapi aku mulai belajar untuk menerima." Balas Johnny, Ten menganggukan kepalanya menyetujui perkataan Johnny.
"Saat di rumah sakit tadi kau menangis bahagia?" Tanya Johnny, jujur saja ia masih sedikit penasaran dengan alasan Ten menangis beberapa jam yang lalu.
"Air mata penuh kebingungan…. Kau tahu hubungan kita seperti apa? Dan saat mendengar detak jantungnya tadi aku merasa bersalah. Aku takut keputusanku untuk tetap mempertahankannya adalah keputusan yang salah." Ucap Ten, suaranya mulai terdengar parau dengan air mata yang terlihat mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Keputusan yang bijak saat kau pilih untuk mempertahankannya." Balas Johnny, hati kecil pria itu mulai merasa tak enak setelah mendengar jawaban Ten beberapa detik yang lalu.
"Kau yang berhasil meyakinkanku untuk mempertahankannya John, terima kasih." Ucap Ten.
"Ten, maaf…." Ucap Jhonny lagi.
"Untuk?" Ten terlihat mulai penasaran.
"Aku belum benar-benar tahu seperti apa perasaanku padamu." Jawab Johnny.
"Bukan salahmu, aku juga pasti akan sama sepertimu jika aku jadi kau. Tapi terima kasih sudah mau menerima anak ini dan merawatku dengan baik, aku rasa akhir-akhir ini aku sangat membuatmu kerepotan." Balas Ten.
"Sangat…." Johnny berujar polos.
"Aish…. Kau benar-benar menyebalkan John." Ten mulai kesal dan memukul kepala Johnny dengan bantal yang ada di sampingnya.
"Yak hentikan bodoh, kau bisa membunuhku." Johnny mulai mendramatisir keadaan.
"Hentikan Ten Lee." Pria itu mulai mencengkram tangan Ten dan wajah mereka saat ini saling bertatapan sehingga deru nafas masing-masing terdengar sangat jelas.
"Boleh aku memelukmu?" Tanya Johnny.
"Sejak kapan seorang Seo Youngho butuh izin…." Balas Ten seraya sedikit menyindir. Johnny mulai membawa Ten dalam dekapannya dan mengelus surai hitam wanita itu. Aroma vanilla yang manis nampak menguar dari tubuh mungil Ten.
"John kau unik sekali. Kau sedingin es tapi bisa memberikanku kehangatan. Terima kasih." Ucap Ten entah ia sadar atau tidak karena di detik berikutnya suara dengkuran halus terdengar dari mulut Ten. Johnny menyamankan posisi tidur wanita itu. Dari samping ia dapat melihat jelas perut Ten yang bergerak naik turun tanda nafasnya yang teratur. Entah inisiatif dari mana Johnny menyingkap sedikit piyama yang Ten gunakan sehingga perut putih Ten yang menonjol terlihat dengan jelas, ia mengelus lembut perut Ten seraya berucap pelan kemudian memberikan kecupan hangat tepat disana.
"Tumbuhlah dengan sehat." Kira-kira begitulah perkataan Johnny saat itu. Johnny sepenuhnya sadar jika anak itu terlahir karena kecerobohannya dan Ten namun Johnny berani menjamin jika anak itu lahir nantinya ia pasti akan jadi anak yang paling bahagia di dunia. Entah kenapa membayangkannya saja membuat Johnny tersenyum cerah. Pria tinggi itu mulai berbaring di sebelah Ten dan mulai mencoba memejamkan matanya, sepertinya akan sangat seru jika di mimpi ia bertemu dengan Ten, pikirnya.
