19. Let Him Go
Satu bulan telah berlalu sejak insiden deep talk Ten dan Johnny sebelum tidur. Sepasang suami istri itu kembali beraktivitas seperti biasa, pergi ke kantor dengan kendaraan masing-masing. Awalnya Johnny telah memaksa Ten untuk tetap pergi ke kantor bersamanya, namun wanita cantik itu menolak mentah-mentah dan lebih memilih untuk pergi sendiri menggunakan mobilnya demi menghindari gosip menyebar di lingkungan perusahaan. Ten juga menyadari jika semenjak ia hamil, Johnny tak pernah lagi keluar rumah di malam hari, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Ten sekalipun hanya keributan bodoh yang akan mereka ciptakan.
Pagi ini tim marketing nampak sibuk karena ada beberapa produk yang baru saja diluncurkan oleh perusahaan mereka ke pasaran. Di saat seperti ini semua anggota tim marketing akan sibuk memikirkan brand campaign yang tepat supaya insiden kopi seperti beberapa bulan yang lalu tak terulang kembali. Wajah beberapa anggota tim marketing nampak mendung dan sendu berbanding terbalik dengan cuaca Seoul yang nampak cerah dan penuh keceriaan. Beberapa diantara mereka bahkan harus lembur sampai tak kenal waktu demi kelangsungan hidup perusahaan.
"Ten sejak kapan kau tak mengenakan high heels ke kantor?" Tanya Dokyeom. Saat ini Ten, Dokyeom, dan Irene tengah menepi sejenak ke pantry mini yang ada di ruangan tim marketing.
"Sejak insiden jus stroberi." Ucap Ten, ia terpaksa berbohong pada teman-temannya karena menurut Ten saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan jika ia telah menikah dan tengah mengandung anak sajangnim, bisa gempar seantero perusahaan.
"Tapi cocok untukmu, bukankah lebih menyenangkan jika kita bisa bergerak bebas." Balas Irene, ia mulai menyesap kopi miliknya. Dokyeom hanya mengangguk menyetujui perkataan Irene.
Setelah cukup lama berbincang, mereka bertiga memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaan sampai waktu makan siang tiba. Dokyeom yang duduk di sebelah Ten sesekali mengerang frustasi dan mengacak rambutnya karena beberapa hari ini ia tengah berdebat dengan anggota tim desain, Ten dan Irene hanya terkekeh melihat tingkah pria itu. Dokyeom yang benci keributan tiba-tiba saja dipertemukan dengan Doyoung si ketua tim desain yang menyukai keributan, bukankah itu kombinasi yang sempurna. Jam makan siang telah datang, mereka bertiga bergegas pergi ke kantin dan ingin menuntaskan rasa lapar yang mulai memanggil sejak tadi. Ten tengah duduk seorang diri karena Irene dan Dokyeom nampak masih mengantri di bagian buah-buahan dan minuman. Tiba-tiba saja Johnny duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari tempat Ten dan teman-temannya duduk. Namun ada yang berbeda. Jika biasanya Johnny akan makan siang dengan Taeil sang sekretaris pribadi, hari ini ia nampak makan siang bersama wanita yang Ten tidak tahu siapa. Ten menatap lekat ke arah Johnny yang nampak menikmati makanannya. Sesekali pria tampan itu nampak berbincang dengan wanita di hadapannya. Dari apa yang Ten lihat, tatapan mata Johnny mengatakan seperti ada berjuta kerinduan yang harus tercurahkan saat menatap wanita itu lekat-lekat. Ten membawa tangannya untuk mengelus perutnya yang sudah terlihat menonjol, ia nampak menghembuskan napas perlahan. Sepertinya Ten harus segera sadar tentang posisinya dan tak perlu mengharap lebih pada Johnny, seharusnya Ten bersyukur pria itu mau merawatnya dengan baik akhir-akhir ini, pikirnya.
"Kau sakit?" Tanya Irene yang baru saja kembali setelah mengantri buah-buahan.
"Ah tidak eonni. Ayo makan, pekerjaan kita masih banyak." Ucap Ten mengalihkan pembicaraan.
"Tumben sekali sajangnim makan bersama wanita." Ucap Dokyeom, mata sipitnya menatap lekat ke arah Johnny yang nampak masih berbincang dengan wanita yang beberapa detik lalu Ten lihat.
"Mungkin rekan bisnisnya." Jawab Irene, wanita itu seolah tak tertarik sama sekali dengan pembicaraan Dokyeom. Tak ada lagi pembicaraan antara mereka dan jangan lupakan Ten yang terdiam sejak tadi dan hanya mengaduk makanannya.
Setelah selesai makan mereka kembali ke ruangan dan melanjutkan tugas mereka yang sempat tertunda. Mingyu terlihat baru saja keluar dari ruangannya dan menghampiri meja Ten, ia meletakkan sebuah berkas di meja wanita cantik itu dan berpesan padanya untuk mengantarkan pada sajangnim.
"Sudah aku cek. Kau bisa berikan pada sajangnim Ten-ssi." Ucap Mingyu. Ten nampak berdiri dan meraih berkas itu kemudian ia sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Mingyu.
"Baik terima kasih bujangnim, aku permisi dulu." Ucap Ten ia mulai keluar ruangan dan bergegas menemui Johnny.
Di depan ruangan Johnny, meja Taeil nampak kosong, sepertinya sekretaris itu memang tak masuk hari ini. Dengan ragu Ten mendekati pintu ruangan Johnny, namun netra indah Ten nampak teralihkan ketika melihat horizontal blind yang nampak terbuka. Darisana Ten dapat melihat dengan jelas keberadaan Johnny yang tengah berpelukan dengan seorang wanita di pojok ruangannya. Ten terkejut bukan main, ia menutup mulutnya dan tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Entah kenapa tiba-tiba saja Ten merasakan ada retakan yang muncul di hatinya, rasanya sakit namun Ten tak tahu kenapa. Ten berjalan gontai dan menjauhi pintu ruangan Johnny, ia meletakkan berkas milik timnya di atas meja Taeil. Pikirnya akan lebih baik jika ia menghubungi Johnny lewat ponselnya daripada harus menatap wajahnya.
From: Ten
John, aku menaruh berkas tim marketing di atas meja Taeil. Bisa kau periksa?
Kira-kira begitulah pesan yang Ten kirimkan pada Johnny. Tanpa sadar netra indah itu mulai berkaca-kaca dan bulir-bulir indah mulai berlomba untuk keluar dari sana. Ten masuk ke kamar mandi dan mulai menangis disana, ia menutup mulutnya untuk meredam suara dan mencegah orang lain mendengar tangisannya yang cukup terdengar pilu saat itu. Ten terdiam sejenak kemudian membawa tangannya untuk mengelus perutnya, apakah keputusan untuk mempertahankannya adalah hal yang benar, pikir Ten.
Ponsel Ten nampak bergetar, wanita itu merogoh ponsel yang ada di saku blazernya dan mengecek notifikasi yang terpampang di layar, sebuah pesan masuk dari Johnny. Wanita itu bergegas membukanya dan melihat pesan yang dikirim oleh pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
From: Johnny
Sudah kuambil, terima kasih. Kenapa tak masuk dulu tadi?
Ten tersenyum miris setelah membaca pesan Johnny, mungkinkah pria itu akan menyombong padanya jika ia tengah bermesraan dengan seorang wanita, yang benar saja, pikir Ten. Ten keluar dari salah satu bilik dan mulai merapikan penampilannya yang sedikit berantakan, ia kembali melangkah menuju ke ruangannya dan bersikap seolah tak terjadi apapun.
Jam pulang kantor telah tiba, Irene, Dokyeom, dan Ten bergegas merapikan barang-barang mereka dan berpamitan dengan anggota tim lain yang terpaksa lembur malam ini. Saat di lobby bertepatan dengan Dokyeom dan Irene berpamitan pada Ten, tiba-tiba saja Johnny melewatinya dengan perempuan yang sama seperti yang ia lihat di ruangan Johnny sore tadi. Wanita itu bergelayut manja di lengan kekar Johnny bahkan pria itu tampak menggenggam tangannya dengan erat. Lagi-lagi Ten menghembuskan napas dan bersikap seolah ia tak melihat Johnny beberapa menit yang lalu.
Ten sampai di rumah tepat pukul enam sore, ia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah restoran saat pulang tadi karena terlalu malas untuk sekedar memasak makanan. Ten bergegas membersihkan diri dan menikmati makanannya. Sejujurnya Ten sedang tak berselera makan sama sekali, namun ia kembali mengingat pesan Seulgi sebulan yang lalu, tentu saja ia tak mau pertumbuhan anaknya terhambat, jadi dengan terpaksa Ten menelan bulat-bulat semua makanannya. Setelah makan Ten memutuskan untuk menonton acara televisi kesukaannya, sesekali ia terlihat tertawa saat melihat kelucuan yang tersaji di layar. Netra indah Ten mulai terpaku ke arah jam dinding, sudah pukul 10 malam dan Johnny sama sekali belum menunjukan batang hidungnya. Bahkan pria itu tak mengirim pesan pada Ten untuk sekedar mengabarkan jika ia pulang terlambat, rasanya sangat berbeda dengan Johnny beberapa hari yang lalu.
Ten memutuskan untuk pergi tidur, ia tengah berbaring seraya membaca sebuah buku yang sempat ia beli beberapa minggu yang lalu. Semenjak hamil Ten menjadi sangat terobsesi dengan segala hal tentang parenting, bahkan kakak iparnya merekomendasikan sejumlah buku yang menurut Ten cukup bagus. Malam ini Ten berhasil membaca empat halaman sampai akhirnya netra indah itu mulai memberat dan terpejam seiring berjalannya waktu. Ten terbangun di tengah malam karena rasa dahaga yang menyelimutinya, wanita itu memutuskan untuk pergi ke dapur dan mengambil segelas air mineral. Di dapur Ten mendapati siluet tubuh tinggi Johnny yang tengah berdiri di depan kulkas. Ten mendekat ke arah Johnny, namun ia seketika terkesiap dan menutup hidung bangirnya. Johnny kembali lagi seperti beberapa bulan yang lalu, ia pulang dengan tubuh yang bau alkohol dan hari ini hal itu membuat Ten sangat tidak suka.
"Ah aku membuatmu terbangun ya?" Ucap Johnny setelah menyadari keberadaan Ten.
"Tidak, aku bahkan tak tahu kapan kau tiba di rumah." Sangat santai namun terdengar sedikit menusuk.
"Aku pergi keluar sebentar tadi." Balas Johnny.
"Ah begitu…." Ucap Ten, ia kembali menenggak air mineral miliknya demi menuntaskan rasa dahaga yang seolah memanggil sejak tadi. Setelah selesai Ten bergegas kembali ke kamar tanpa berpamitan pada Johnny yang terlihat kebingungan dengan tingkah laku Ten yang tidak seperti biasanya, seolah ada yang mengganggu hati wanita itu.
Ten terbangun dengan rasa mual yang kembali melingkupinya, bahkan di minggu-minggu ini rasa mual lebih mengganggu Ten daripada sebelumnya. Ten mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel kamar mandi tanpa peduli pintu kamarnya yang terketuk sejak tadi. Ten sengaja mengunci pintu semalam, tujuan utamanya agar Johnny tak masuk ke kamarnya. Rasanya Ten sudah benar-benar bingung untuk menghadapi pria itu, Johnny ibarat dua mata pisau yang berbeda kadang ia bisa sangat baik, kadang ia juga bisa sangat dingin. Ten benar-benar takut jika ia telah salah mengartikan kebaikan Johnny selama ini. Ten belum keluar kamar sejak bangun tidur tadi, ia baru keluar kamar sekitar jam tujuh, setelah ia bersiap dan berpenampilan rapi. Hening menyelimuti kediaman sepasang suami istri itu, Ten berniat ke dapur dan mencari makanan yang bisa mengisi perutnya. Netra indah Ten teralihkan ke meja makan, ia menemukan setangkup sandwich beserta cantata kecil di sebelahnya.
Jangan lupa sarapan, maaf aku harus ke kantor lebih dulu. Sampai ketemu….
- Johnny
Ten tersenyum sekilas, jujur saja semakin hari tingkah Johnny semakin membuatnya bingung, terkadang ia bisa begitu hangat namun tak jarang pula ia kembali menjelma menjadi sosok dingin yang Ten takuti. Tak mau berpikiran terlalu jauh, Ten nampak duduk di kursi meja makan dan mulai menyantap sandwich yang disiapkan oleh Johnny, walaupun rasnaya tak seenak buatannya sendiri namun Ten memutuskan untuk menelannya bulat-bulat daripada ia harus kelaparan.
Ten kembali disibukkan dengan aktivitasnya seharian, timnya benar-benar sibuk dan hari ini adalah giliran Ten, Irene, dan gua pegawai lain untuk lembur. Saat jam pulang kantor, Mingyu menyuruh Ten untuk memberikan berkas tim marketing pada Johnny. Dengan senang hati Ten menjalankan perintah Mingyu lagipula sejak tadi pagi ia belum menemui Johnny sama sekali. Ten kembali mendapati meja Taeil yang kosong, sepertinya pria itu belum masuk kantor. Ten menoleh ke ruangan Johnny, berbeda seperti kemarin, kali ini horizontal blind di ruangan pria tampan itu nampak tertutup rapat. Dengan ragu Ten menggenggam gagang pintu dan berniat membukanya. Netra indahnya membulat sempurna saat mendapati Johnny tengah mencium seorang wanita di pojok ruangannya. Wanita yang sama seperti kemarin, tanpa sadar tumpukan berkas yang ada di tangan Ten terjatuh ke lantai dan membuat Johnny menghentikan aktivitasnya bersama wanita itu. Ten terlihat memunguti semua berkas yang berceceran dan berulang kali mengucap kata maaf karena telah masuk tiba-tiba.
"Ah maaf jika aku masuk tiba-tiba. Ada titipan dari Mingyu bujangnim." Ujar Ten seraya meletakkan tumpukkan berkas itu di meja Johnny. Ten bahkan tak menatap netra tajam pria itu sama sekali. Ia bergegas keluar setelah melaksanakan tugasnya, meninggalkan Johnny yang berdiri terpaku dengan perasaan bersalah yang amat membuncah.
"Ten…. Kurasa kita harus bica-"
"Saya permisi dulu sajangnim." Ten menyela perkataan Johnny dan benar-benar menghilang dari ambang pintu.
"Jadi dia istrimu." Si wanita berambut bob nampak membuka pembicaraan, itu Wendy wanita yang sempat bertahta di hati Johnny untuk beberapa saat.
"Kau benar-benar pengacau Son Seunghwan, apa maksudmu tadi menciumku hah?" Ucap Johnny penuh amarah.
"Ayolah John, bukankah kau masih mencintaiku. Kau bahkan membalas ciumanku." Elak Wendy, wanita itu benar-benar terlihat masih mencintai Johnny.
"Cepat pergi dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku." Ucap Johnny, ia mulai menyeret wanita itu untuk meninggalkan ruangannya, mengabaikan semua tatapan mata yang berpusat pada mereka berdua.
Ten baru saja selesai dengan jam lemburnya, ia tengah merapikan beberapa berkas yang berantakan bersama Irene. Wanita itu seolah menulikan telinganya, tak mempedulikan ponselnya yang bergetar sejak tadi. Semuanya berisi pesan dari Johnny, sepertinya pria itu tak tahu menahu jika Ten sedang lembur, lagipula Ten tak berniat memberitahunya. Ten berpisah dengan Irene di lobby perusahaan, wanita itu bergegas memasuki mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan sedang. Ia tak berminat untuk pulang ke rumah, apalagi jika harus bertatap muka dengan Johnny secara langsung. Dengan berat hati Ten memutuskan untuk pergi ke apartemen Jungwoo, wanita itu satu-satunya orang yang mampu menenangkan hati Ten yang sedang kalut seperti sekarang.
"Tumben sekali kau datang malam-malam begini." Ucap Jungwoo saat membuka pintu apartemennya, bahkan ia terlihat menguap beberapa kali.
"Hiks…. Woo aku harus bagaimana…." Tangis Ten tiba-tiba saja pecah saat Jungwoo membawanya ke ruang tamu, wanita cantik itu membulatkan matanya ketika sadar akan suara tangisan Ten yang terdengar semakin pilu.
"Hei kau kenapa? Ada masalah apa?" Tanya Jungwoo, ia terdengar panik saat mendengar tangisan Ten yang makin menjadi.
"Tak apa Ten, kau bisa menangis sepuasmu. You can feel sad all you want, you allow to feel however you want to feel." Ujar Jungwoo seraya mengelus lembut punggung Ten. Setelah dirasa cukup tenang Ten menceritakan semuanya pada Jungwoo, tentang pernikahannya dengan Johnny dan tentang perasaannya saat ini. Jungwoo nampak terkejut, selama ini yang ia tahu Ten menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia dan penuh cinta dengan Johnny, namun dugaannya salah, Ten malah menanggung sakit hati yang amat berat. Jungwoo membawa Ten kedalam dekapannya memberikan kalimat penenang sekalipun Jungwoo tahu itu tak akan mengurangi beban kesakitan yang sedang Ten rasakan.
Ten tertidur di pelukan Jungwoo karena terlalu lelah menangis, dengan susah payah Jungwoo mengangkat Ten dan membaringkannya di kasur. Wanita itu menyelimuti Ten sebatas dada dan memastikan sahabatnya itu tidak kedinginan dalam tidurnya. Jungwoo ikut tertidur karena sejujurnya saat Ten datang beberapa menit yang lalu, Jungwoo baru saja memejamkan mata. Sebelum tidur Jungwoo nampak berdoa dan berharap hari esok akan jadi lebih mudah untuk Ten sahabatnya, hatinya terasa ikut teriris saat melihat Ten menangis beberapa menit yang lalu.
"Kau sudah bangun?" Jungwoo nampak baru saja keluar dari kamarnya dan mengucek matanya.
"Hum…. Beberapa menit yang lalu, aku pinjam bajumu hehe…." Ucap Ten, Jungwoo tersenyum sekilas saat menyadari jika kondisi Ten lebih baik daripada semalam.
"Aku harus ke butik hari ini, tapi hanya sebentar. Kau istirahat saja disini." Ucap Jungwoo, ia baru saja menghabiskan segelas susu yang tersaji di atas meja makan.
"Terima kasih, kurasa aku akan disini sebentar lagi." Ucap Ten.
"Lama pun tak apa, aku sudah biasa kau repotkan begini." Balas Jungwoo dengan wajah tanpa dosa.
"Sialan kau Kim Jungwoo." Ucap Ten seraya terkekeh.
"Ten tidak baik mengumpat begitu, kau mau nanti saat anakmu lahir dia langsung berkata kasar karena ibunya yang ceroboh." Ujar Jungwoo, baiklah sepertinya ia tak sadar telah membuat amarah Ten semakin memuncak.
"Yak…. Lebih baik kau mandi sana." Ucap Ten.
Setelah jungwoo pergi ke butik, Ten benar-benar larut dalam kesendirian. Ia nampak mengecek ponselnya dan menemukan banyak notifikasi disana. Pesan dan panggilan masuk dari Johnny yang tak sedikit jumlahnya, Ten tak menyangka jika pria itu benar-benar mencarinya. Tiba-tiba saja satu pesan baru datang dari nomor yang tidak Ten kenal, isi pesannya sedikit mengundang kecurigaan, namun entah mengapa Ten sangat tertarik untuk membacanya mengabaikan puluhan pesan Johnny yang berjejer di ponselnya.
From: 010-xxxx-xxxx
Ten, bisa kita bertemu sebentar di taman dekat perusahaan? Aku wanita yang kemarin bersama dengan Johnny. Kutunggu disana jam 5 sore.
- Wendy
Benar-benar tidak sopan, pikir Ten. Bahkan ajakannya terkesan memaksa. Namun entah mengapa Ten malah semakin tertarik untuk menemui Wendy. Rasanya ia begitu penasaran dengan sosok wanita yang pernah diagung-agungkan suaminya beberapa tahun yang lalu.
Sore mulai menjelang, beberapa menit yang lalu Jungwoo mengabari Ten jika ia harus pergi ke salah satu cabang butik untuk mengambil beberapa sketsa yang harus ia selesaikan. Ten tidak keberatan sama sekali, lagi pula ia telah memiliki janji dengan Wendy untuk bertemu sore ini. Ten mulai melajukan mobilnya ke tempat tujuan, dari kejauhan ia melihat siluet wanita berambut bob yang nampak duduk seorang diri di sebuah kursi panjang. Ten menghampiri wanita tersebut dan tepat saat itu Wendy menoleh dan menyapa Ten dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Kukira kau tak akan datang." Ucap Wendy membuka pembicaraan.
"Aku sedang memiliki banyak waktu luang." Balas Ten.
"Biar kutebak, semalam kau tak pulang ke rumah?" Ucap Wendy disertai senyuman remeh. Ten tampak terkejut dari mana wanita itu tahu jika semalam ia tak pulang ke rumah.
"Karena aku bersama Johnny malam tadi, kami mabuk bersama." Wendy kembali berucap saat membaca raut kebingungan dari wajah Ten.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Ten, ia mulai jenuh dan tak tahan jika harus berlama-lama dengan Wendy.
"Lepaskan Johnny." Sahut Wendy tiba-tiba. Ten nampak membelalakkan matanya mendengar perkataan wanita berambut bob itu, atas dasar apa ia berkata seperti itu, pikir Ten.
"Kau dan Johnny sudah selesai sejak lama." Ucap Ten, suaranya mulai terdengar bergetar.
"Johnny bilang begitu? Bahkan ia tak mengucap perpisahan padaku." Balas Wendy, senyum kebanggaan nampak terpancar jelas di wajahnya.
"Aku tak akan melepaskannya, bukankah terlalu jahat membiarkan anakku tumbuh tanpa ayah." Entah keberanian darimana, Ten mengucap untaian kalimat itu dengan pandangan lurus kedepan.
"Kau tahu, bukankah anak itu hanya kesalahan. Ketidaksengajaan kalian berdua yang menyebabkan hidupnya satu nyawa. Kau masih bisa membunuhnya, lagipula bukankah menurut Johnny kau yang tak berniat mempertahankannya sejak awal." Ucap Wendy. Ten seolah tak percaya, Johnny telah menceritakan hal itu pada Wendy yang merupakan bagian dari masa lalunya.
"Kumohon padamu tinggalkan Johnny, kau juga harus bahagia." Wendy kembali berucap. Tak ada jawaban apapun yang meluncur dari bibir Ten, ia masih terdiam dan terlarut dalam pemikirannya. Tiba-tiba saja Ten bersimpuh dihadapan Wendy, ia tak akan membiarkan anak yang ia kandung tumbuh tanpa ayah, apalagi jika ayahnya harus dirampas oleh orang lain. Ten mendongak dan memperlihatkan matanya yang telah basah dengan air mata, Wendy terlihat mulai goyah, namun ego masih menguasainya.
"Kumohon padamu, lepaskan Johnny. Aku tak mau anakku tumbuh tanpa ayah." Ucap Ten, suara tangisan berhasil lolos dari mulutnya.
"Anakmu sama sekali bukan masalahku, kau yang harus menyingkir bukan aku." Ucap Wendy sebelum akhirnya ia bangkit dan meninggalkan Ten yang mulai menangis keras di bangku taman. Tiba-tiba saja hujan mulai berlomba untuk berjatuhan seolah memberikan kesempatan pada Ten untuk menangis keras tanpa perlu takut dilihat oleh orang lain. Lagipula taman ini memang terlihat sepi sejak beberapa jam yang lalu.
Ten bangkit berdiri seiring dengan hujan yang turun semakin deras. Ia berjalan ke mobil dengan tatapan kosong yang terkesan hampa, entah kenapa hatinya benar-benar terasa sakit dan patah seperti tak bisa lagi disatukan. Ten mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi di tengah hujan deras, ia tidak peduli lagi dengan bahaya apa yang akan mengintainya. Tiba-tiba saja sebuah truk besar muncul dari arah berlawanan, menghantam mobil Ten dengan keras sampai akhirnya terguling beberapa kali dan berhenti seketika ditengah hujan deras. Darah segar mulai mengalir dari mobil Ten dan mencuri kesempatan untuk menyatu dengan hujan, Ten yang setengah sadar tak mampu mengucap kata apapun karena rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya. Sampai akhirnya lubang hitam melingkupinya dan membuat sekitarnya menjadi gelap.
Para pengendara lain yang melihat kejadian mulai panik dan berhamburan keluar kendaraan. Salah seorang diantara mereka berupaya menghubungi layanan darurat sedangkan beberapa orang lainnya mendekati Ten yang sudah kehilangan kesadaran dengan darah yang tampak mengalir dari kepala serta pangkal pahanya. Tak lama berselang para petugas mulai datang dan mengevakuasi Ten. Seorang petugas wanita berhasil menemukan ponsel Ten yang sempat terlempar ke trotoar dan bergegas menghubungi salah satu nomor yang ada disana.
"Yeoboseyo…. Ten-ah kau dimana? Aku baru saja sampai." Suara Jungwoo terdengar mengalun merdu di seberang sana.
"Yeoboseyo agassi, aku petugas layanan darurat. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan lalu lintas, saat ini kami dalam perjalanan menuju Yangji Hospital." Ucap petugas wanita itu.
"Mwo? Aku segera kesana, terima kasih banyak atas informasinya." Jantung Jungwoo berdebar kencang, ia tak henti-hentinya merapalkan doa sepanjang perjalanan. Tak lama berselang Jungwoo sampai di rumah sakit dan bertanya pada petugas UGD tentang keberadaan Ten. Jungwoo memilih untuk duduk di ruang tunggu, ia menunduk dalam dan tak lama suara isakan mulai terdengar bersamaan dengan air matanya yang mulai menetes. Jungwoo mendongak saat sadar ia belum menghubungi Johnny, Jungwoo menghela napas panjang karena sadar ia tak menyimpan nomor ponsel Johnny. Jungwoo terkesiap saat mengingat jika beberapa hari yang lalu ia dan Seohyun sempat bertukar nomer ponsel. Dengan gerakan cepat Jungwoo bergegas menghubungi Seohyun untuk mengabarkan keadaan Ten.
"Yeoboseyo Jungwoo-ssi, ada apa malam-malam begini?" Suara lembut Seohyun mulai mengalun.
"Eon-eonni, Ten Ten kecelakaan…." Tangis Jungwoo kembali pecah saat menghubungi Seohyun. Wanita cantik itu sama terkejutnya dengan Jungwoo ia berbicara panjang lebar dan menanyakan keberadaan Jungwoo saat ini.
Tak butuh waktu lama, Seohyun terlihat berlari disusul dengan Kyuhyun yang muncul dengan wajah yang sama paniknya dengan milik sang wanita. Seohyun bergegas memeluk Jungwoo dan menumpahkan kesedihan disana. Kyuhyun yang mengerti perasaan dua wanita itu memilih untuk diam dan membiarkan mereka saling berbagi kesedihan.
"Keluarga pasien Ten Lee…." Seorang dokter muda nampak memanggil nama Ten. Dengan cepat Kyuhyun menghampiri dokter muda itu dan memastikan keadaan adik iparnya.
"Kang seonsaengnim menunggu kalian di ruangannya, ah dan ini ponsel milik korban yang ditemukan di tempat kejadian." Dengan secepat kilat Jungwoo menyambar ponsel tersebut dan mengucap terima kasih pada si dokter muda. Mereka bertiga mulai mengikuti langkah si dokter muda untuk menemui Kang seonsaengnim seperti yang telah dijanjikan.
"Silahkan duduk." Ucap Seulgi pada Kyuhyun dan Seohyun yang memasuki ruangan, meninggalkan Jungwoo yang lebih memilih menunggu di depan ruang rawat Ten.
"Aku dokter yang mendampingi Ten-ssi selama beberapa bulan terakhir, mohon maaf sekali kami tak dapat menyelamatkan janin dalam kandungannya. Ten-ssi mengalami pendarahan hebat dan janinnya tak dapat bertahan akibat guncangan kencang yang ia dapat saat kecelakaan." Ucap Seulgi, jujur ia pun merasa berat harus membiarkan untaian kalimat menyedihkan itu meluncur dari mulutnya. Seohyun mulai menangis, punggungnya bergetar hebat. Kyuhyun yang paham akan keadaan lebih memilih untuk mengelus lembut punggung sang istri seolah memberi ketenangan dari sana.
"Lalu bagaimana keadaan Ten?" Tanya Kyuhyun.
"Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan, beruntungnya luka di kepalanya tidak terlalu parah. Namun saat sedang dilakukan transfusi darah mengingat betapa banyaknya darah yang keluar tadi. Dan juga setelah siuman nanti ia perlu bedrest selama beberapa hari supaya pemulihannya lebih cepat" Ujar Seulgi. Kyuhyun nampak mengangguk paham dengan penjelasan Seulgi. Setelah tak ada lagi yang dibicarakan, Kyuhyun dan Seohyun pamit undur diri meninggalkan Seulgi yang juga menyimpan gurat kesedihan. Di depan ruang rawat Ten, Seohyun yang sudah mulai berhenti menangis dikejutkan dengan penampakan Jungwoo si desainer muda yang menangis cukup keras sampai bahu indahnya nampak naik turun tak beraturan. Kyuhyun membiarkan istrinya menghibur Jungwoo dan ia bergegas pergi untuk membeli beberapa kudapan, pikirnya dua wanita itu pasti kelelahan setelah cukup lama menangis.
Seohyun merengkuh bahu indah Jungwoo dan membawanya dalam pelukannya, ia berusaha menenangkan wanita cantik yang beberapa hari ini mulai dekat dengannya. Jungwoo mendongak dan menatap netra indah milik Seohyun, dengan berat hati Jungwoo memilih untuk menceritakan segala hal yang Ten alami selama ini, termasuk perseteruannya dengan Johnny beberapa hari lalu. Sejujurnya Jungwoo lebih terkejut saat mendapati pesan singkat dari Wendy yang mengajak Ten bertemu, apa mungkin Ten sempat menemui Wendy sebelum terjadi kecelakaan, pikir Jungwoo.
Seohyun terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Jungwoo, tangannya mengepal seolah menyalurkan semua emosi di dalam sana. Dari arah berlawanan tiba-tiba saja Johnny datang dengan pakaian yang cukup berantakan dan beberapa kancing kemejanya yang nampak terbuka. Seohyun berdiri menyambut adik kesayangannya itu, namun bukan pelukan atau kecupan yang Seohyun berikan melainkan hal lain yang tak pernah Johnny duga sebelumnya.
Plak!
Suara jemari lembut Seohyun yang beradu dengan pipi Johnny berhasil mengalihkan perhatian Jungwoo dan Kyuhyun yang baru kembali dari mini market.
"Noona…. Kau gila?" Ucap Johnny seraya meraba pipinya yang berdenyut.
"Gila katamu? Kau yang gila tuan muda Seo Youngho. Tidakkah seharusnya kau bersyukur menikah dengan Ten, tapi dengan bodohnya kau malah kembali pada mantan kekasihmu itu. Kemana perginya otak cerdasmu yang disekolahkan sampai ke Harvard itu, Youngho?" Seohyun mulai menyalurkan semua amarahnya, Kyuhyun yang sadar keadaan semakin memburuk bergegas menarik Seohyun menjauh dari Johnny seolah membiarkan pria tinggi yang berstatus sebagai adik iparnya itu merenungi semua kesalahannya. Johnny tetap terdiam dan tak berniat membuka mulutnya sama sekali bahkan setelah Seohyun ditarik paksa oleh Kyuhyun dari hadapannya.
Plak!
"Ini untuk semua rasa sakit yang kau berikan pada Ten selama ini." Ucap Jungwoo, wanita itu melenggang maju setelah Seohyun menyingkir dari hadapan Johnny.
Plak!
"Dan ini untuk anaknya yang telah pergi ke surga beberapa jam yang lalu." Jungwoo kembali berucap. Johnny menatap lekat netra coklat Jungwoo seolah mencari pembenaran atas perkataan wanita itu. Saat Jungwoo mengangguk Johnny baru tersadar, ia telah melakukan sebuah kesalahan besar. Kecerobohannya kembali terulang bahkan mengakibatkan satu nyawa tak berdosa pergi ke surga. Johnny mulai duduk di sebelah Seohyun, ia mulai terisak disana. Isakannya terdengar pilu seolah menggambarkan semua penyesalan yang ia rasakan. Perlahan Seohyun mulai merengkuh bahu bidang pria tampan itu dan membawanya dalam pelukannya, membiarkan Johnny menyalurkan semua kesedihan disana.
Hari sudah semakin malam, Seohyun dan Kyuhyun memutuskan untuk kembali pulang karena Woojin yang mulai merengek sejak tadi. Jungwoo yang awalnya bersikeras ingin menjaga Ten, diusir paksa oleh Johnny dan akhirnya ia memilih mengalah karena tak ingin memperpanjang keributan. Johnny duduk di sebelah ranjang pasien tempat Ten berbaring, ia menggenggam tangan Ten yang terasa dingin dan tertusuk jarum infus. Johnny amat merasa bersalah melihat Ten yang berbaring lemah seperti saat ini. Andai saja hari itu ia tak termakan rayuan Wendy mungkin Ten tidak akan terluka sampai seperti ini. Keheningan malam itu mengantarkan Johnny untuk tidur dengan menggenggam erat jemari Ten seolah tak membiarkannya pergi kemanapun.
Sudah dua hari Ten tertidur lelap, wajah cantiknya nampak bersinar terang saat terkena pantulan sinar matahari yang muncul melalui celah jendela. Wanita itu mengerjapkan matanya perlahan seolah menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan yang begitu terang. Jungwoo adalah orang yang pertama kali ia temui saat membuka kedua matanya siang itu. Senyuman penuh kelegaan terpancar di wajah cantik Jungwoo, ia mendekati Ten dan menanyakan bagaimana keadaannya setelah tertidur berhari-hari. Ten bangkit perlahan dari tidurnya dengan bantuan Jungwoo. Manik indah wanita itu bertemu pandang dengan manik kecoklatan Jungwoo yang tak kalah indahnya.
"Anakku?" Ucap Ten, dia seolah menanyakan bagaimana keadaan anaknya. Ten tentu saja ingat betul apa yang ia alami saat hujan beberapa hari yang lalu.
"Ten, tenang dulu. Kau baru sadar." Balas Jungwoo, wanita itu nampak bingung harus menjelaskan apa pada sahabatnya.
"Dia sudah pergi ya Woo?" Tanya Ten tiba-tiba, suaranya gemetar seperti menahan tangis yang berusaha ia pendam. Jungwoo membawa Ten dalam pelukannya, mengusap pelan punggung sempit sahabatnya itu, seolah memberikan ketenangan yang Ten butuhkan.
"Sebentar lagi Kang seonsaengnim akan datang, ia akan menjelaskan semuanya padamu." Ujar Jungwoo. Tak lama dokter wanita itu nampak memasuki ruang rawat Ten, ia tersenyum ramah menyambut Ten yang baru saja siuman setelah berhari-hari tertidur lelap. Jungwoo memilih keluar dari ruangan meninggalkan Ten dan Kang seonsaengnim yang butuh bicara berdua.
"Seulgi-ssi…. Dia sudah pergi?" Tanya Ten, ia mulai membuka pembicaraan memecah keheningan yang sempat melingkupi dua wanita itu.
"Hum…. Sudah sampai ke surga." Ucap Seulgi, ia mulai duduk di sebelah Ten yang sibuk menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong.
"Aku bukan ibu yang baik." Ucap Ten.
"Kau baik, terlampau baik. Kau selalu memperhatikannya sekalipun kau sibuk bekerja." Balas Seulgi berusaha menenangkan hati Ten yang nampak berantakan.
"Dia sebesar apa?" Tanya Ten.
"Sebesar buah jeruk." Balas Seulgi.
"Seandainya hari itu aku lebih berhati-hati." Ucap Ten.
"Tidak ini bukan salahmu, disini kita berjuang bersama-sama. Baik aku, kau, dan calon anakmu. Kita sudah berjuang sekuat tenaga dan menurut Tuhan perjuangan anakmu hanya sampai disini, kau tak perlu khawatir dia pasti sudah mendapatkan tempat terindah disana." Ucap Seulgi, beberapa detik kemudian isak tangis mulai lolos dari mulut Ten. Setidaknya Seulgi merasa sedikit lebih lega, mendengar Ten menangis meraung-raung akan jauh lebih baik dibanding membiarkan wanita mungil itu menyimpan bebannya sendiri. Seulgi mendekap tubuh mungil Ten dan mengelus punggung wanita itu dengan lembut.
Tangisan pilu yang berhasil lolos dari mulut Ten terdengar jelas sampai ke depan ruang perawatan miliknya. Jungwoo yang duduk di salah satu kursi dan bersusah payah menyeka air matanya, Johnny yang baru datang beberapa menit yang lalu nampak berdiri mematung dengan mata yang berkaca-kaca. Setidaknya biarkan untuk hari ini Ten menunjukkan sisi lemahnya di depan banyak orang. Seulgi nampak baru saja keluar dari ruang rawat Ten setelah berhasil menenangkan wanita itu, ia sedikit membungkukkan tubuhnya saat menyadari keberadaan Johnny yang menunggu sejak tadi. Dengan ragu Johnny memasuki ruangan Ten, wanita itu masih bertahan dengan posisi yang sama terduduk menghadap jendela melihat pemandangan yang cukup indah di luar sana.
"Ten…." Johnny mulai duduk di sebelah Ten dan menggenggam jemari lentik milik si wanita mungil. Ten tak berniat menjawab perkataan Johnny, pikirannya masih melayang entah kemana menyisakan jiwanya yang hampa penuh kesedihan.
"Seulgi bilang dia sebesar buah jeruk." Ucap Ten tiba-tiba. Johnny semakin mengeratkan genggaman tangannya berusaha menguatkan wanita yang berada disampingnya itu.
"Aku menunggunya sejak masih sebesar biji kacang hijau, lalu kacang merah, dan saat berubah menjadi jeruk aku malah membuatnya pergi" ucap Ten lagi
"Ayo kita bercerai John." Perkataan yang meluncur manis dari mulut Ten membuat Johnny terkesiap, ia menatap lekat wajah Ten yang saat ini dilingkupi sinar mentari yang begitu cerah.
"Aku bisa jelaskan padamu." Ujar Johnny.
"Semakin kau jelaskan padaku hatiku malah semakin sakit John, sejak awal kita memang tak bisa bersama. Aku salah telah menaruh terlalu banyak harapan padamu." Ujar Ten, gurat emosi mulai terpancar jelas di wajahnya. Ia bahkan menarik paksa jemarinya yang masih berada di genggaman si pria tampan.
"Beberapa hari lalu aku masih bisa bersimpuh di kaki Wendy karena aku tak ingin bayiku lahir tanpa ayah. Cukup aku yang merasakan bagaimana sulitnya hidup tanpa orang tua, tidak dengan anakku. Sekarang tak ada lagi yang bisa kuharapkan, aku akan melepaskanmu John." Ucap Ten. Johnny mulai mendekat ke arah Ten dan berusaha menenangkan wanita itu.
"Aku mencintaimu, maafkan aku yang bahkan baru menyadarinya." Balas Johnny.
"Aku tak mencintaimu lagi, rasa cintaku telah pergi bersamaan dengan anakku yang ikut pergi." Balas Ten dengan tatapan yang amat menusuk.
"Aku melepaskanmu John, kau bisa bertindak semaumu sekarang. Jangan pedulikan aku." Ten kembali berucap, dengan berani ia menatap nyalang ke netra milik Johnny yang setajam elang.
"Ten!" Johnny lepas kendali dan berteriak tepat di depan wajah wanita itu. Ten nampak terkejut dan mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Pergi…. Kubilang pergi Seo Youngho!" Teriak Ten. Suara keras Ten menyadarkan Jungwoo yang tengah melamun di depan ruang rawat sahabatnya itu, ia bergegas masuk ke dalam dan menarik paksa Johnny untuk segera meninggalkan Ten. Wanita mungil itu jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya, apa mungkin melepaskan Johnny dan membiarkan ia pergi adalah keputusan yang benar, pikirnya. Tangisannya terdengar pilu dan sarat akan kesedihan, Jungwoo yang berhasil membawa Johnny keluar bergegas kembali masuk dan menenangkan si wanita mungil. Berharap kedepannya kehidupan akan lebih mudah bagi sahabatnya itu.
