20. Rainbow After the Rain

Seminggu sudah Ten menghabiskan hari-harinya di rumah sakit, berterima kasihlah pada Jungwoo dan Seohyun yang senantiasa mengawasi si wanita mungil dan tak membiarkannya pergi kemanapun. Hari ini Ten diizinkan pulang, Seohyun dan Kyuhyun menjemputnya mengingat Ten yang masih belum mau bertemu dengan Johnny setelah insiden beberapa hari yang lalu. Selama seminggu penuh, Ten sadar jika ia telah membiarkan Johnny menunggu di depan ruang rawatnya seharian dan tak mengizinkan siapapun membiarkannya masuk untuk sekedar menyapanya. Mobil yang Kyuhyun kendarai nampak menepi di apartemen Jungwoo, dengan sigap sepasang suami istri itu membawa semua barang Ten ke dalam apartemen dan jangan lupakan Seohyun yang merangkul bahu Ten sejak tadi.

"Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi kami." Ujar Seohyun setelah membantu Ten berbaring di kamar Jungwoo.

"Terima kasih eonni oppa, maaf aku merepotkan." Balas Ten.

"Tentu saja tidak kau adikku apanya yang merepotkan. Eomma dan appa baru akan kembali dari Jepang seminggu lagi, kau tak perlu khawatir nanti akan ku jelaskan pada mereka secara perlahan. Yang penting kau istirahat, jangan terlalu lelah." Ujar Seohyun. Tak lama kemudian sepasang suami istri itu pergi meninggalkan apartemen Jungwoo setelah sebelumnya mereka mengisi penuh kulkas Jungwoo dengan berbagai bahan makanan.

Ten kembali tenggelam dalam kesendirian, Jungwoo sedang pergi bekerja dan baru akan pulang sore nanti. Ten mengecek ponselnya, deretan notifikasi dari Johnny kembali muncul seperti beberapa hari yang lalu. Ten berusaha mengabaikannya, sejujurnya ia sudah terlalu lelah menghadapi pria itu. Mungkin saat ini adalah keputusan yang benar untuk berpisah dengan Johnny. Ten juga berencana mengundurkan diri dari perusahaannya, beberapa hari lalu ia sempat berbincang dengan Irene dan Dokyeom saat dua temannya itu menjenguknya. Mereka berdua terkejut bukan main saat Ten menceritakan kebenaran yang selama ini ia sembunyikan, seolah tak percaya jika rekan satu tim mereka adalah istri dari CEO perusahaan.

Ten menghabiskan harinya dengan beristirahat sejenak, membaca buku, dan memakan beberapa cemilan yang sempat Seohyun bawakan. Tepat sore hari Jungwoo pulang ke rumah, ia memeluk erat Ten dan membuat wanita mungil itu kesulitan bernapas karena pelukan Jungwoo yang terlalu erat.

"Lepaskan bodoh, aku bisa kembali ke rumah sakit jika kau memelukku seperti ini." Ujar Ten berusaha menjauhkan Jungwoo darinya.

"Kau tahu aku sangat khawatir, saat kau tertidur dua hari lamanya, saat kau berjuang di sana sendirian. Bahkan aku sampai memukul suamimu itu, tanganku jadi ternodai." Balas Jungwoo.

"Jadi aku sangat berharga untukmu?" Tanya Ten seraya terkekeh.

"Tidak juga, hanya saja akan sangat membosankan hidup tanpa orang bodoh sepertimu." Balas Jungwoo sedikit bercanda.

"Yak Kim Jungwoo kau benar-benar sialan." Ten sedikit emosi setelah mendengar penuturan sahabatnya itu. Jungwoo sedikit tertawa saat melihat Ten kesal, ia mulai duduk di sebelah Ten yang sedang bersandar di kepala kasur. Jungwoo amati lekat-lekat wajah cantik itu, masih sedikit pucat namun terlihat lebih baik daripada beberapa hari yang lalu. Kantong matanya juga sudah mulai memudar tidak lagi terlihat mengerikan setelah tragedi Ten yang menangis panjang selama seharian.

"Jadi sekarang apa yang kau rasakan?" Tanya Jungwoo tiba-tiba, ia mulai masuk ke selimut yang sama dengan Ten dan menutupi kaki jenjangnya yang sedikit kedinginan setelah diterpa udara luar.

"Aku bingung, rasanya sedikit hampa. Tapi aku merasa baru saja melepaskan beban berat." Balas Ten, ia mulai menyandarkan kepalanya di bahu indah Jungwoo.

"Johnny menghubungimu lagi hari ini?" Tanya Jungwoo.

"Hum…. Beberapa kali, Irene eonni bilang pria itu tak datang ke kantor hari ini." Balas Ten, ia nampak mengangguk sekilas membalas ucapan Jungwoo. Jungwoo nampak tersenyum sekilas setelah mendengar penjelasan sahabatnya itu, bagaimanapun juga Jungwoo ingat betul bagaimana memuncaknya amarah Ten saat di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Wanita mungil yang biasanya begitu sabar itu dengan berani menatap nyalang ke arah suaminya dan melepaskan semua emosinya. Saat itu Jungwoo yakin jika Ten sedang tidak baik-baik saja.

"Aku akan ke pengadilan besok." Ujar Ten tiba-tiba, Jungwoo nampak terkejut dan tak pernah menyangka jika Ten akan beraksi secepat ini.

"Kau sudah pikirkan matang-matang? Aku tau kau masih mencintai Johnny." ujar Jungwoo.

"Terlalu banyak luka yang ia torehkan, aku sampai lupa jika pernah sangat mencintainya." Balas Ten, nada suaranya terdengar begitu datar. Jungwoo hanya mengangguk biar bagaimanapun ia tak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi Ten, apapun keputusan yang Ten pilih sudah pasti Jungwoo akan mendukungnya, memberikan energi pada sahabatnya itu dari belakang.

Malam mulai menjelang, kedua sahabat itu nampak menikmati makan malam dengan nikmat. Sesekali Ten terlihat terkekeh mendengar cerita Jungwoo atau merespon lelucon yang dibuat oleh wanita cantik itu. Ten yang tertawa riang jelas lebih baik daripada Ten yang terjebak kesedihan terus-menerus, Jungwoo tersenyum sekilas saat menatap wajah Ten yang mulai kembali bersinar cerah seperti biasanya. Jungwoo memaksa Ten untuk pergi ke kamar lebih dulu meninggalkan ia yang masih sibuk dengan beberapa piring kotor yang memanggil untuk dibersihkan. Setelah selesai Jungwoo kembali masuk ke kamar. Ia nampak tersenyum cerah ketika melihat Ten telah terlelap dalam tidurnya. Jungwoo membenahi letak selimut yang Ten gunakan dan mengelus lembut surai hitam milik sahabatnya itu. Jika orang lain dapat meninggalkan Ten begitu saja, maka lain halnya dengan Jungwoo ia akan selalu bersama Ten bagaimanapun keadaan si wanita mungil itu.

Ten bangun di pagi hari karena suara alarm yang memekakkan telinga. Ia meraba sisi kosong di sebelahnya namun tak menemukan keberadaan Jungwoo disana. Dengan sedikit malas Ten bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar. Di atas meja makan ia menemukan setangkup roti bakar yang mungkin sudah Jungwoo siapkan sebelum pergi bekerja tadi. Ada sticky note yang nampak tertempel di piring itu, Ten mulai membacanya dan seketika senyuman cerah mulai terpatri di wajah cantiknya.

Selamat sarapan sahabat bodohku, sampai ketemu sore nanti. Kecup basah dari desainer ternama Korea.

- Kim. J. W

Sahabat bodoh katanya, Ten hanya terkekeh membaca tulisan Jungwoo dan mulai menyantap roti yang telah disiapkan. Setidaknya Ten harus menyiapkan banyak energi sebelum pergi bertempur hari ini. Setelah selesai Ten bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian, beberapa hari yang lalu Seohyun sempat membelikan Ten beberapa potong pakaian karena ia paham adik iparnya itu masih belum berniat pulang ke rumah apalagi jika harus bertemu dengan adik bodohnya. Ten memakai sedikit riasan di wajahnya, setelah selesai ia melenggang pergi meninggalkan apartemen Jungwoo. Tempat pertama yang Ten datangi adalah pengadilan. Hari ini terlihat cukup ramai, mungkin banyak orang yang harus berurusan dengan hukum, pikir Ten.

Ten baru saja selesai mengisi formulir perceraian, ia membubuhkan tanda tangannya disana dengan perasaan yakin dan tanpa beban, bukankah ia layak untuk mendapatkan kebahagiaannya, pikirnya.

"Silahkan datang kembali setelah kedua belah pihak menyetujui pengajuan perceraian." Ujar salah seorang petugas yang sejak tadi menemani Ten mengisi formulir. Ten hanya mengangguk dan tersenyum sekilas sebelum akhirnya membungkukkan tubuhnya dan meninggalkan area pengadilan. Tempat kedua yang Ten datangi adalah perusahaan tempatnya bekerja, ia mengeluarkan surat pengunduran diri yang sempat dibuatnya semalam kemudian melenggang mantap memasuki ruang timnya. Ten nampak berbincang dengan Mingyu cukup lama, ia menyerahkan surat pengunduran diri miliknya dan Mingyu mengajaknya berjabat tangan. Jujur saja melepaskan Ten adalah keputusan berat yang harus Mingyu buat, manager muda itu nampak tidak rela melepaskan salah satu talenta terbaik yang dimilikinya.

"Semoga kita bisa bertemu lagi Ten-ssi." Ujar Mingyu seraya mengantarkan Ten keluar dari ruangannya.

"Ne, saya permisi dulu bujangnim." Balas Ten, ia berjalan ke mejanya dan membenahi semua barangnya, memasukkannya ke kotak dan menutupnya dengan rapi sebelum membawanya pergi. Beberapa karyawan nampak bersedih melihat Ten yang benar-benar akan berhenti dari pekerjaannya, Ten memberikan senyuman terbaik sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan timnya. Di depan pintu ruangan ada Irene dan Dokyeom yang sedang menunggu, kedua sahabat itu memasang wajah sendu menyambut kepergian Ten.

"Janji setelah ini kita masih bisa bertemu." Ucap Irene, ia mulai memeluk temannya itu dan mengelus pundaknya dengan lembut.

"Tentu saja, bukankah aku jadi punya banyak waktu luang." Balas Ten seraya terkekeh.

"Jadi setelah ini benar-benar tak ada lagi orang yang bisa diganggu saat jam kerja?" Dokyeom bermonolog. Ten dan Irene nampak terkekeh sebelum akhirnya mereka bertiga berhambur dalam pelukan.

"Bekerjalah yang rajin sebelum kau pergi wamil." Ucap Ten seraya memukul bokong Dokyeom, pria kurus itu mengaduh kesakitan dan dihadiahi kekehan dari Irene yang ada disampingnya.

"Dasar cabul. Aku tak mau tahu kalian berdua harus mengantar kepergianku saat wamil nanti." Ucap Dokyeom.

"Kukira kau akan mencelakai dirimu supaya diberikan surat dispensasi dari negara." Ucap Irene sedikit bercanda.

"Yak noona kau benar-benar…." Dokyeom mulai geram menjadi bahan guyonan dari dua wanita di hadapannya itu. Ten hanya terkekeh melihat Dokyeom yang kesal, kemudian ia berpamitan pada dua sahabatnya untuk melesat pergi ke tempat tujuan selanjutnya.

Ten menaiki taksi sepulangnya dari kantor. Ia harus pergi ke rumahnya, rumahnya dan Johnny beberapa hari lalu. Ten masuk ke dalam rumah, ia mendapati suasana yang cukup mencekam dari bangunan bertingkat dua itu. Ten masuk ke kamarnya dan meletakkan barang-barangnya. Ten bergegas ke dapur, ia cukup terkejut mendapati meja makan yang cukup berantakan, kaleng minuman soda, beer, dan botol wine berserakan dimana-mana. Wanita itu menghela nafas panjang, biar ia tebak pasti Johnny berhasil menghabiskannya selama berhari-hari. Ia membereskan semua kekacauan itu sebelum benar-benar meninggalkan rumahnya entah sampai kapan. Setelah selesai Ten bergegas ke lantai dua ia masuk ke ruang kerja Johnny yang sama kacaunya dengan suasana di bawah. Berkas-berkas penting berceceran dimana-mana, bahkan selimut yang tidak terlipat ia biarkan tergeletak di sofa begitu saja. Pasti Johnny kembali berulah, ia mulai sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa dengan dirinya sendiri.

Ten meletakkan amplop coklat dengan label pengadilan di atas meja kerja Johnny, wanita itu melepas cincin yang tersemat indah di jari manisnya, meletakkannya di atas amplop coklat. Tak lupa ia menaruh dua mantel yang sempat Johnny berikan beberapa minggu lalu, bahkan ia belum sempat memakainya. Ten menulis untaian kata di sticky note dan menempelkannya di meja kerja Johnny.

Jangan lupa tanda tangani suratnya. Jangan terlalu sibuk bekerja nanti kau bisa mati muda, perbanyak minum air putih supaya kau tetap sehat.

- Ten

Setelah selesai dengan urusannya di lantai dua, Ten kembali melesat ke kamarnya, menyeret dua buah koper besar keluar dari sana dan kembali menaiki taksi untuk sampai ke tempat tujuan terakhirnya. Di dalam taksi air mata Ten mulai menetes, bukan perkara mudah bagi wanita itu untuk meninggalkan rumah. Sekalipun beberapa pengalaman buruk tercipta disana, Ten tak memungkiri jika banyak kenangan manis yang terukir di dalamnya. Ten sampai di tempat tujuan, beberapa anak nampak menyambut kepulangannya kembali ke panti asuhan, ya Ten memilih untuk kembali kesana sebelum nantinya akan menyewa apartemen dengan uang tabungannya. Ten masuk ke ruangan suster Kang, bahkan saat pertama kali menatap wajah wanita paruh baya itu Ten sudah menangis deras. Suster Kang membawanya dalam pelukan, seolah paham dengan arti sorot mata yang penuh kesedihan itu. Setitik penyesalan mulai bergemuruh di hati suster Kang, seandainya saja beberapa bulan yang lalu ia mengesampingkan egonya mungkin Ten tak akan datang dengan hati yang terluka. Ia membiarkan si wanita mungil menangis di pelukannya seolah berbagi kesedihan yang nantinya akan sedikit meringankan beban si wanita. Setelah lelah menangis dan bercerita, suster Kang mengantarkan Ten kembali ke kamarnya. Kamar lamanya yang penuh dengan kenangan indah, Ten mulai membenahi barang-barangnya dan mengganti pakaiannya. Jadi mulai hari itu ia kembali ke rumah lamanya, rumah dimana tak ada satupun orang yang mampu menyakitinya.

Malam itu Johnny kembali dari kantor dengan perasaan yang masih sama berantakan seperti sebelumnya. Johnny cukup terkejut saat mendapati meja makan yang telah rapi, seingatnya tadi pagi ia tinggalkan dalam keadaan berantakan, apa mungkin Ten telah kembali, pikirnya. Johnny sedikit berlari ke kamar Ten membuka pintu kamar itu dengan sekuat tenaga, tak ada siapapun disana. Hanya ada kotak besar yang tergeletak di atas kasur, Johnny membuka kotak itu dan cukup terkejut dengan benda-benda yang ada di dalamnya. Semuanya milik Ten yang ada di perusahaan, apa Ten benar-benar berniat melepaskannya, pikirnya. Johnny berusaha membuang semua pikiran buruknya, ia membuka lemari pakaian yang sebelumnya digunakan oleh wanita itu, kosong, tak ada barang apapun di sana. Johnny jatuh terduduk dan mengacak rambutnya, jadi perkataan Ten beberapa hari yang lalu tentang melepaskannya bukanlah bualan semata.

Johnny keluar dari kamar Ten, ia menuju kulkas dan menenggak sebotol soju yang baru saja ia ambil dari saja. Pria tampan itu berjalan gontai menuju ruang kerjanya, pikirnya melihat beberapa dokumen yang memuakkan akan menjadi penjernih pikiran untuknya. Johnny tersenyum remeh saat mendapati hal yang mengejutkan di atas meja kerjanya. Cincin yang beberapa bulan lalu mereka buat bersama bertengger manis disana, di atas sebuah dokumen yang berlabel dari pengadilan. Dengan berat hati Johnny membuka amplop coklat itu, ia tersenyum remeh. Bukankah artinya kali ini ia kembali ditinggalkan oleh orang yang dicintainya, namun bedanya kali ini semua hal terjadi karena kebodohannya, bukan akibat campur tangan orang lain.

Seminggu telah berlalu sejak insiden malam itu, Johnny memutuskan untuk tak pernah kembali ke rumah, namun ia selalu menyewa orang untuk mengurus rumah besar itu. Pikirnya mungkin suatu saat Ten akan benar-benar kembali sekalipun hal itu begitu mustahil. Johnny memutuskan untuk membeli apartemen baru, terkadang ia juga pergi ke rumah keluarga Seo untuk menginap. Setelah tahu tragedi kecelakaan Ten beberapa minggu yang lalu, tuan dan nyonya Seo marah besar. Emosi mereka membuncah terutama tuan Seo, mungkin saat itu Johnny hanya akan berakhir tinggal nama jika Seohyun dan Kyuhyun tak bersusah payah melerai perdebatan mereka. Nyonya Seo sering kali mengunjungi panti asuhan, ia beralasan amat merindukan Ten. Wanita paruh baya itu memeluk menantunya penuh kasih sayang seraya berujar kata maaf berulang kali atas semua tindakan bodoh yang dilakukan anaknya. Ten hanya tersenyum dan merangkul bahu rapuh nyonya Seo yang telah termakan usia, wanita itu terlalu baik pada Ten bahkan ia tak pantas untuk sekedar membencinya. Seohyun, Kyuhyun, tuan, dan nyonya Seo yang mengetahui keberadaan Ten saat ini memutuskan untuk tak memberikan kabar apapun pada Johnny. Mereka membuat pria tampan itu terlarut dalam penyesalan seolah memberi ruang pada Johnny untuk merenungi semua kesalahannya.

Sebulan sudah Ten menghabiskan waktunya di panti asuhan, ia kembali menjadi tenaga pengajar di sekolah dan membantu beberapa suster panti asuhan mengurus anak-anak. Rambut indah Ten yang dahulu hanya sebahu sekarang mulai menjuntai indah melewati punggungnya. Beberapa kali Ten mengecek ponselnya berharap panggilan dari pengadilan akan menyapanya dan memberikannya kebebasan yang baru, namun nyatanya sampai saat ini apa yang Ten inginkan tak pernah datang. Sepertinya Johnny masih belum berniat menandatangani surat perceraian itu dan memutuskan untuk menahannya lebih lama. Ten bahkan sempat memaksa Seohyun dan Kyuhyun untuk membujuk Johnny bagaimanapun caranya, namun sepertinya usaha mereka sia-sia karena lagi-lagi tak ada jawaban yang Johnny berikan.

Sejak kecelakaan sebulan yang lalu, Ten mulai rutin pergi ke psikiater. Ten mengidap PTSD, ia kerap kali merasa panik ketika harus berkendara di tengah hujan. Kenangan pahit yang coba Ten lupakan seolah kembali tersusun bagaikan puzzle yang mulai saling melengkapi. Ten sangat membenci itu, membenci kejadian yang membuatnya kehilangan sesuatu yang paling ia harapkan. Hasil terapi berbuah cukup manis, jika dulu Ten sampai menangis histeris saat tiba-tiba hujan datang di tengah ia berkendara, saat ini Ten mulai dapat mengendalikan dirinya dan perlahan mulai melupakan rasa kesakitannya.

Tiga bulan sudah Ten tinggal di panti asuhan. Pagi itu Ten tengah merapikan beberapa stand yang ada di halaman panti asuhan karena volunteer akan datang sebentar lagi. Para volunteer memang sering datang ke panti asuhan beberapa bulan sekali. Ten nampak terkejut saat melihat beberapa orang turun dari mobil, mereka mengangkat kardus yang bertuliskan sebuah merek yang nampak Ten kenal. Wanita itu berusaha mengingat merek yang mungkin saja tersimpan di otaknya. Ten sedikit terbelalak saat sadar merek itu adalah salah satu produk dairy yang dikeluarkan oleh Seo Corp beberapa bulan lalu tepat sebelum Ten mengundurkan diri. Dari kejauhan Dokyeom dan Irene yang mengangkat kardus yang sama nampak melambai ke arah Ten. Dua orang itu bahkan sedikit berlari supaya lebih cepat menjangkau si wanita mungil yang terlihat mengepang rambutnya itu.

"Ten…. Bogoshipoyo." Irene mulai memeluk Ten setelah menyerahkan kardus miliknya pada Dokyeom yang berhasil membuat pria itu mendengus sebal.

"Kita berdua bahkan mengajukan diri pada Mingyu bujangnim untuk menjadi perwakilan dari tim marketing di acara volunteer kali ini." Ucap Dokyeom, Ten tersenyum senang dan tak menyangka jika kedua sahabatnya itu merindukannya.

"Benar sekali, demi manusia merepotkan ini aku sampai rela berpanas-panasan." Ucap Irene sedikit berdrama, Ten hanya terkekeh dan dilanjutkan dengan Dokyeom yang memutar bola matanya malas.

"Kau benar-benar wanita gila, tiba-tiba mengganti nomor ponsel dan tak mengabari sama sekali, bagaimana aku akan mengabarimu jika berangkat wamil nanti." Ujar Dokyeom.

"Aish…. Berlebihan sekali kalian. Sekarang sudah puas melepas rindu denganku?" Tanya Ten.

"Tentu saja belum bodoh!" Irene dan Dokyeom kompak menjawab.

"Jadi kalian silahkan masuk dan tata barang-barang itu disana, aku pergi dulu." Ujar Ten seraya menunjuk stand yang baru saja ia persiapkan sejak tadi, kemudian wanita itu mulai melenggang ke dalam panti dan menemui beberapa anak yang ada disana.

Acara volunteer kali ini berlangsung cukup meriah, Ten tak ragu lagi Seo Corp asetnya begitu menggila tentu saja perkara yang mudah bagi mereka untuk melakukan acara ini. Ten nampak memantau anak-anak yang sedang bermain di halaman belakang sore itu, ia duduk di sebuah kursi panjang dan sesekali terkekeh melihat tingkah anak-anak. Ngomong-ngomong soal volunteer, acara itu telah selesai satu jam yang lalu dan para pegawai Seo Corp yang sempat datang telah kembali pulang ke kantor mereka. Sayup-sayup telinga Ten menangkap suara tangisan dari belakang, wanita itu bangkit dan mendapati Sunwoo yang tengah menangis dan seorang pria tinggi berusaha membantunya berdiri.

"Sunwoo, kau tak ap-" Ucapan Ten terhenti saat melihat siapa yang sedang membantu Sunwoo saat ini.

"Ten…." Johnny berucap cukup lirih namun suaranya masih terdengar jelas di telinga Ten. Ten menarik paksa Sunwoo dari genggaman tangan Johnny, berusaha mengajak anak kecil itu kembali masuk ke dalam.

"Kita bicara sebentar…." Ucap Johnny.

"Apa yang perlu dibicarakan? Kita sudah selesai sejak lama John?" Ujar Ten, wanita itu menundukkan badannya dan berbisik pada Sunwoo menyuruh anak kecil itu masuk ke dalam, netra indah Ten bertemu dengan milik Johnny dan membiarkan pria tinggi itu menyeret tangannya, membawanya kemanapun yang ia suka.

"Kau belum menandatanganinya." Ucap Ten membuka pembicaraan. Saat ini mereka berdua berada di gazebo yang sama dengan tempat pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu sebelum menikah.

"Aku tak akan menandatanganinya." Balas Johnny, Ten menoleh ke arah Johnny. Melihat wajah tegasnya yang sedikit tirus, berbeda dengan tiga bulan lalu, rambutnya yang biasa terpotong rapi juga terlihat sedikit lebih panjang sehingga sedikit bergoyang seiring dengan angin yang bergerak.

"Setidaknya biarkan aku pergi, izinkan aku terbang dengan bebas." Ujar Ten ia mulai menatap Johnny lekat.

"Aku minta maaf." Balas Johnny.

"Untuk?" Ten menatap remeh ke arah Johnny.

"Semua kesalahanku padamu di masa lalu." Johnny kembali berucap.

"Aku telah memaafkanmu sejak lama, namun bekas luka itu tak bisa memudar begitu saja." Ten berucap datar dengan pandangan yang lurus ke depan menyisakan Johnny yang semakin menelan kekecewaan.

"Woojin sangat merindukanmu." Ucap Johnny.

"Hum…. Beberapa hari lalu ia datang kemari." Balas Ten. Johnny nampak terkejut jadi apakah ia satu-satunya orang yang tak tahu keberadaan Ten selama ini.

"Hanya kau yang tak tahu jika aku disini." Ucap Ten setelah melihat wajah tak percaya yang Johnny tunjukan.

"Aish…. Bahkan mereka tak berniat meringankan penderitaanku." Johnny mulai menggerutu.

"Aku menunggumu menandatangani surat itu." Ujar Ten.

"Aku menunggumu menerimaku kembali." Balas Johnny.

"Aish…. Tak masuk akal. Sudah sana pergi, semua karyawanmu bahkan sudah hilang entah kemana." Ten mulai melenggang meninggalkan Johnny yang terdiam di gazebo. Seutas senyum mulai kembali merekah di wajah pria tampan itu setelah berbulan-bulan lamanya ia hampir menghapus kata senyum dari kamus kehidupannya.

Pagi ini Ten terbangun akibat suara ponselnya yang cukup memekakkan telinga. Dengan malas wanita itu meraih ponsel miliknya dan melihat siapa yang berani menghubunginya pagi-pagi begini. Ten nampak menyipit saat sadar nomer tak dikenal menghubunginya. Dengan malas Ten mengangkat panggilan itu dan mulai bicara dengan si penelepon.

"Yeoboseyo…." Ujar Ten, namun tak ada jawaban dari ujung sana.

"Aish…. Pagi-pagi begini sudah mengganggu orang tidur." Ucap Ten, ia mulai kesal karena tak ada jawaban dari si penelepon dan berniat mengakhiri panggilan itu.

"Jangan ditutup…." Ten tak salah dengan, suara berat itu milik Johnny.

"Kau…. Dari Mana dapat nomor ponselku?" Tanya Ten, matanya yang sebelumnya menyipit berubah menjadi bulat sempurna saat sadar Johnny adalah oknum dibalik telepon yang mengganggu di pagi hari.

"Aku sedang sakit." Ucap Johnny, benar juga jika dipikir-pikir suara itu terdengar parau.

"Kau bisa ke rumah sakit, bahkan temanmu pemilik rumah sakit terkenal." Balas Ten.

"Tidak bisa…. Tak ada yang bisa pergi bersamaku." Ujar Johnny.

"Kau punya keluarga John…." Balas Ten jujur saja ia sedikit panik namun masih cukup kesal karena Johnny menghubunginya pagi-pagi.

"Mereka sedang tidak di Korea." Balas Johnny.

"Lalu maksudmu apa menghubungiku pagi-pagi begini?" Ten mulai gemas.

"Secara negara kau masih istriku, bukankah artinya kau juga keluargaku. Jika aku tiba-tiba mati di apartemen kau pasti akan jadi orang pertama yang diinterogasi polisi." Baiklah Johnny mulai mengoceh tak jelas.

"Aish…. Jadi maumu apa?" Tanya Ten.

"Datanglah kemari." Ucap Johnny dan pria itu mengakhiri panggilan begitu saja tentu saja hal itu semakin membuat Ten kesal. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel Ten, Johnny mengirim alamatnya. Dengan berat hati Ten bangkit untuk membersihkan diri dan menyusul calon mantan suaminya itu.

Ten menunggu Johnny membuka pintu apartemennya, sudah cukup lama ia berdiri di sana sampai akhirnya Ten menerima pesan dari Johnny yang berisi password door lock miliknya. Ten cukup terkejut karena pria itu menggunakan tanggal lahir Ten sebagai password. Ten bergegas masuk setelah berhasil membuka pintu apartemen dan bergegas pergi ke kamar Johnny. Pria tinggi itu nampak meringkuk di kasur king size miliknya dan jangan lupakan selimut tebal yang nampak membungkus tubuhnya sejak tadi. Ten menyentuh kening Johnny dan cukup terkesiap saat mendapati suhu panas yang menguar dari sana. Ten menarik paksa tubuh besar Johnny membuatnya berbaring terlentang, wanita itu menyesuaikan suhu ruangan dengan cekatan. Ia bergegas mengompres Johnny yang sedang demam, pria tampan itu hanya terdiam dan tak mampu berucap saat melihat Ten dengan cekatan melakukan ini itu di hadapannya.

"Sejak kapan demam begini?" Tanya Ten, ia sedang menyeka keringat yang nampak mengucur dari kening Johnny.

"Semalam…." Ucap Johnny dengan suara parau.

"Dan kau baru menghubungiku pagi ini? Yang benar saja Seo Youngho." Ujar Ten sedikit emosi.

"Kau akan lebih marah jika kuhubungi semalam." Balas Johnny, mata tajam itu mulai menutup karena cukup mengantuk.

"Aish…. Jangan banyak bicara, lebih baik kau istirahat. Aku akan memasakkan sesuatu." Ucap Ten, ia mulai pergi ke dapur dan meninggalkan Johnny yang mulai tertidur lelap.

Ten kembali dengan semangkuk bubur di tangannya. Ia juga membawa segelas air mineral, beberapa potong buah-buahan, dan obat penurun demam. Dengan lembut Ten mengguncang bahu Johnny supaya pria itu terbangun dari tidurnya dan membantunya duduk dengan posisi bersandar di kepala kasur. Ten menyuapi Johnny dengan sabar, kadang juga ia sedikit memaksa karena pria itu sesekali menolak. Setelah berhasil menyuapi Johnny semangkuk bubur, membuatnya makan potongan buah, dan meminum obat, Ten mengganti kompres pria itu dan membiarkan Johnny kembali berbaring di kasur.

Sore mulai menjelang, Ten kembali masuk ke kamar Johnny dan meraba kening pria itu, hawa panas masih menguar dari sana. Johnny sendiri sudah mulai membuka matanya setelah tertidur cukup lama.

"Apa kau pusing?" Tanya Ten.

"Hum…." Jawab Johnny, ia menganggukan kepalanya.

"Jelas saja, demammu setinggi itu." Ucap Ten seraya menatap termometer yang ada di tangannya.

"Kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Ten mantap, ia mulai membuka lemari pakaian Johnny dan mencari hoodie yang bisa digunakan. Ten memakaikan Johnny hoodie dan bersusah payah menuntunnya sampai ke mobil yang ada di basement. Setelah memastikan Johnny duduk dengan baik, Ten bergegas masuk ke tempat pengemudi, ia nampak ragu ketika harus kembali mengendarai mobil setelah sekian lama.

"Mau aku yang bawa?" Tanya Johnny dengan suara parau. Ten menolak keras, ia menggeleng dan mulai menjalankan mobil Johnny, akan sangat bahaya jika Johnny berkendara dalam keadaan kacau begitu, pikirnya.

Mereka sampai di Yangji Hospital, saat ini Ten tengah mengurus administrasi meninggalkan Johnny yang tengah diperiksa oleh Jaehyun. Pria berlesung pipi itu bahkan nampak terkekeh saat tahu Johnny masuk rumah sakit. Ten masuk ke ruang rawat Johnny dan mendapati pria itu tengah tertidur lelap. Jaehyun nampak memainkan ponselnya seraya duduk di sofa yang berada di ruang rawat Johnny.

"Ah Ten, kau sudah kembali." Ujar Jaehyun saat menyadari akan keberadaan Ten.

"Ne. Bagaimana keadaannya?" Tanya Ten.

"Si bodoh itu kelelahan karena terlalu asyik bekerja, sepertinya dia juga sedang banyak pikiran." Ucap Jaehyun.

"Aku permisi dulu, jika terjadi sesuatu kau bisa menghubungiku." Ucap Jaehyun lagi.

"Terima kasih banyak Jaehyun-ssi." Balas Ten.

Ten mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang Johnny, ia menyeka beberapa anak rambut yang menutupi wajah tampan pria itu. Ten memandangi wajah Johnny cukup lama, rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali ia mampu menatap wajah pria itu lekat-lekat. Lama-kelamaan mata Ten mulai memberat dan ia memutuskan untuk istirahat dengan menumpu kepalanya di sisi ranjang Johnny.

Ten terbangun di tengah malam saat ia merasa seseorang baru saja menyentuh wajahnya. Ten terkesiap saat mendapati dirinya berbaring di ranjang Johnny dan menyisakan pria itu yang terduduk di kursi, Johnny nampak menatap lekat ke wajah Ten.

"Kenapa kau bangun? Kau belum sembuh benar." Ujar Ten.

"Bagaimana aku bisa sembuh jika kau yang membuatku sakit." Ucap Johnny, Ten nampak semakin kebingungan. Ia duduk bersila di atas ranjang dan menatap wajah Johnny lekat-lekat.

"Kau yang membuatku sakit, selalu memaksaku menandatangani surat cerai yang jelas aku tak mau." Ucap Johnny lagi.

"Apa? Jadi itu yang menjadi beban pikiranmu." Balas Ten nampak tak percaya.

"Tentu saja, aku masih mencintaimu. Mana mungkin aku bisa melepasmu begitu saja." Ucap Johnny, netra tajamnya nampak menjelajahi netra indah milik Ten yang terkena pantulan cahaya rembulan.

"Kau kekanak-kanakkan John." Ucap Ten.

"Kumohon, kali ini berikan aku kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal." Ucap Johnny, ia mulai memasang tampang memelas yang sedikit dibuat-buat.

"Beberapa bulan lalu kau juga mengatakan hal yang sama, dan kau mengingkarinya. Bukankah aku terlalu bodoh jika menerimamu kembali begitu saja." Balas Ten nada suaranya mulai terdengar gemetar seperti menahan tangis.

"Aku janji tak akan mengingkarinya. Kau bisa melepaskanku jika suatu hari aku mengingkari janjiku ini." Ucap Johnny, ia meraih bahu sempit Ten dan mulai berusaha meyakinkan wanita itu. Ten tak bergeming sama sekali, ia fokus menatap netra tajam milik Johnny berusaha mencari kebohongan dari sorot matanya, namun ia tak menemukan apapun. Tanpa sadar Ten menganggukan kepalanya dan isak tangis berhasil lolos dari mulutnya.

Johnny bernapas lega, ia bangkit berdiri dan mulai memeluk Ten. Membiarkan wanita itu menangis sekaligus mengutuk dirinya, Johnny sama sekali tak peduli yang penting hari ini Ten kembali padanya.

"Jadi cincin ini sudah bisa kembali ke jari manismu?" Tanya Johnny setelah Ten berhenti menangis. Ten menjulurkan jarinya dan membiarkan Johnny memakaikan cincin pernikahan mereka. Pria tampan itu menatap wajah Ten lekat dan mulai memberikan kecupan mesra di bibir tipis sang wanita. Ten terlihat tersipu, namun tak dapat dipungkiri wanita itu sudah sangat merindukan Johnny, persetan dengan gengsi, Ten mulai membalas kecupan Johnny dan merendahkan tengkuk si pria tinggi, membiarkan ciuman mereka membara di bawah indahnya sinar rembulan malam itu.