21. Can We Start Again?

Di pagi hari, Ten yang tidur dengan menekuk tubuh mungilnya di sofa nampak terbangun karena sinar matahari yang mulai menyerobot masuk ke ruang rawat Johnny. Ten cukup terkejut saat mendapati selimut yang menutupi tubuhnya, ia mengedarkan pandangannya dan mendapati Johnny yang tengah memainkan ponsel di atas ranjangnya.

"Kau tidak kedinginan?" Tanya Ten. Ia berjalan ke arah Johnny seraya melipat selimut milik pria itu.

"Tidak, justru aku khawatir kau akan terbangun karena bersin seperti beberapa bulan lalu." Jawab Johnny. Ten hanya terkekeh seraya menganggukan kepalanya. Tiba-tiba saja pintu kamar rawat Johnny nampak terbuka paksa dari luar. Ten dan Johnny saling berpandangan dan cukup heran siapa yang mengunjungi mereka pagi-pagi begini. Bahkan masih terlalu pagi untuk seorang dokter mengecek pasiennya.

"Youngho!" Suara nyaring Seohyun nampak bergema di seluruh ruangan. Bulir keringat bahkan nampak membasahi keningnya, ia seperti baru saja selesai lari maraton.

"Kau kenapa? Kau baik-baik saja kan?" Tanya Seohyun, ia bahkan belum menyadari kehadiran Ten disana, wanita itu sibuk mengecek seluruh tubuh Johnny, memutarnya kesana kemari.

"Aish…. Berlebihan sekali, aku baik-baik saja noona. Bahkan mungkin diizinkan pulang sebentar lagi." Balas Johnny seraya memutar bola matanya malas.

"Syukurlah, saat mendengarmu masuk rumah sakit kukira kau akan mati, mengingat kau seperti kehilangan harapan hidup akhir-akhir ini." Ucap Seohyun penuh drama.

"Tidak perlu diperjelas." Lama-lama Johnny kesal juga mendengar ocehan kakaknya itu.

"Loh Ten, sejak kapan disini? Kenapa kau yang menemani si bodoh ini?" Tanya Seohyun saat menyadari keberadaan Ten yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan.

"Aku disini se-"

"Dia istriku, tentu saja harus merawat suaminya yang sakit." Johnny memotong ucapan Ten. Seohyun menatap penuh keheranan ke arah pria dan wanita yang ada bersamanya saat ini. Netra indahnya membulat sempurna saat mendapati cincin yang Seohyun kenal kembali berada di jari manis Ten. Wanita tinggi itu berlari ke arah Ten dan memeluknya erat-erat.

"Ten terima kasih banyak mau menerima kembali adik bodohku, aku janji jika dia melukaimu sekali lagi aku akan langsung membunuhnya supaya semua hartanya jatuh ke tanganmu." Ucap Seohyun. Johnny nampak tak percaya mendengar ucapan kakaknya, bahkan wanita itu lebih peduli pada Ten daripada adiknya sendiri.

"Ah eonni tak perlu berlebihan begitu." Balas Ten seraya terkekeh, cukup terhibur juga melihat perdebatan kakak beradik itu sejak tadi.

"Yasudah aku pulang dulu." Ujar Seohyun setelah puas memeluk Ten.

"Jadi kunjunganmu hanya seperti itu?" Tanya Johnny terheran-heran dengan kelakuan kakak perempuannya.

"Tadi kukira kau sakit parah, tapi ternyata kau sudah sangat sehat bahkan Ten sudah bersamamu, bukankah seharusnya kau sudah sembuh?" Ucap Seohyun, ia melenggang pergi begitu saja setelah sebelumnya memeluk Johnny sekilas.

Dua hari sudah Johnny di rawat di rumah sakit, selama itu pula Ten berusaha bersabar menghadapi Johnny yang bertingkah seperti bayi ketika sedang sakit. Pagi ini pria tinggi itu sudah diizinkan pulang, infus yang sebelumnya menancap di tangan kekarnya telah dilepas beberapa menit yang lalu. Ten saat ini tengah merapikan beberapa pakaian Johnny yang sempat mereka bawa, ia sendiri bingung mengapa mengambil begitu banyak pakaian pria itu dari lemari. Nyatanya ia hanya perlu di rawat selama dua hari.

"Mobilnya sudah datang, kajja!" Ujar Johnny, ia menghampiri Ten yang tengah duduk di atas koper, wanita itu sedang bersusah payah membuat koper tertutup seperti semula. Johnny nampak terkekeh ketika melihat tingkah laku Ten, ia mulai membantu wanita itu dan dibalas senyuman secerah matahari yang terpatri di wajah cantiknya.

"Kalau kau duduki seperti tadi koper mahalku bisa rusak." Ucap Johnny, ia membuat gestur seolah mengelus manja koper kesayangannya. Ten memutar bola matanya malas melihat tingkah suaminya itu.

"Mana kunci mobilmu?" Ucap Ten, pikirnya ia akan kembali mengendarai mobil Johnny seperti beberapa hari yang lalu.

"Aku yang akan mengemudi." Balas Johnny, ia mulai berjalan keluar seraya menyeret koper hitamnya.

"Kau yakin? Tidak merasa pusing atau apapun itu?" Tanya Ten, tentu saja wanita itu tak ingin mengambil resiko dan membiarkan Johnny menyetir.

"Untuk apa aku dipulangkan jika belum sembuh benar bodoh…. Cepat naik." Johnny mulai gemas sendiri meladeni Ten yang terus bertanya ini itu sejak tadi.

"Aku kan hanya bertanya…." Ucap Ten seraya mencebikkan bibirnya.

Mobil Johnny mulai menjauh dari Yangji Hospital, saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah lama mereka. Kemarin Johnny meminta seseorang membersihkan rumah itu dan menyuruh kakaknya mengisi kulkas dengan berbagai bahan makanan, anggap saja sebagai hadiah kesembuhan. Ten nampak sedang merapikan rambutnya yang belum sempat ia ikat, setelah berbulan-bulan tak berjumpa, sekarang rambut wanita itu menjadi menjuntai hampir menyentuh pinggangnya. Johnny menoleh sekilas ia nampak tersenyum saat melihat Ten mengikat rambutnya tinggi-tinggi sehingga leher putihnya terekspos dengan sempurna.

"Kau tak berniat memotong rambutmu?" Tanya Johnny.

"Tidak, ini pertama kalinya aku punya rambut panjang." Jawab Ten.

"Kau yang seharusnya memotong rambutmu, aku baru tahu jika kau suka rambut panjang." Ten menatap penuh selidik ke arah suaminya itu.

"Memang aku berniat memotongnya setelah bertemu denganmu." Balas Johnny, Ten memutar bola matanya malas setelah mendengar jawaban pria itu.

"Jadi jika kita tak bertemu lagi kau akan jadi Rapunzel…." Ujar Ten, ia mulai terkekeh membayangkan Johnny dengan rambut menjuntai sampai ke lantai.

"Kau terlalu banyak bicara." Balas Johnny, namun ia sedikit tertawa mendengar guyonan Ten beberapa detik yang lalu.

"Aku? Aku biasa saja, kau yang terlalu irit bicara. Kau tahu di kantor kau selalu jadi bahan gunjingan semua karyawan, katanya 'Wah sajangnim dingin sekali.' Bahkan mereka pernah mengira jika kau tidak suka wanita." Ucap Ten panjang lebar. Tawa Johnny pecah ketika mendengar perkataan Ten, ia tak menyangka jika para karyawannya berpikir seperti itu.

Setelah sampai di rumah, Ten bergegas masuk ke dalam, wanita mungil itu berbaring di kamar lamanya seolah melepas rindu setelah sekian lama tak berjumpa. Johnny yang hendak menuju ke lantai atas nampak berkacak pinggang di depan kamar Ten yang pintunya terbuka.

"Kupikir kemarin kau bilang mau memulainya lagi bersamaku." Ucap Johnny.

"Memang…. Lalu?" Ten mengerjapkan matanya berkali-kali karena tak mengerti arah pembicaraan Johnny.

"Kenapa kau kembali ke kamar ini, cepat pindah ke kamar utama." Balas Johnny ia mulai memasuki kamar Ten dan duduk di tepi kasur yang sedang Ten tiduri.

"Aku terlalu lelah jika harus ke lantai dua. Kau tahu dua hari kemarin kau membuatku kerepotan, biarkan aku istirahat hari ini." Ujar Ten, ia kembali berbaring setelah melepas kaos kaki miliknya. Ten nampak berdecak sebal saat Johnny ikut berbaring di kasurnya dan memeluknya dari belakang, pria itu benar-benar tak sadar diri jika badannya besar, pikir Ten.

"John…. Sempit, sana ke kamarmu." Ten berusaha melepaskan diri dari kungkungan Johnny, namun pria itu malah semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Ten. Akhirnya Ten menyerah dan membiarkan Johnny memeluknya, lagipula Ten juga rindu pelukan Johnny.

"Dulu aku jahat ya?" Tanya Johnny setelah cukup lama terdiam.

"Sangat." Ucap Ten singkat.

"Dulu kau begitu menyebalkan, kau bersikap seperti orang yang membenciku." Jelas Ten lagi.

"Memang kelihatannya begitu? Padahal saat itu aku sedang mencoba menyukaimu." Ujar Johnny membela dirinya sendiri.

"Tapi kau jadi hangat saat kita melakukan sesuatu yang tak terduga." Ucap Ten, ia kembali menjelajah ke masa lalunya.

"Hum…. Jangan terlalu dipikirkan jika kau tak mau." Balas Johnny, ia mulai mengerti arah pembicaraan istrinya itu.

"John…. Aku rindu aegi." Suara Ten terdengar parau dan Johnny mulai merasakan tetesan air membasahi tangannya. Johnny memutar tubuh Ten, membenamkan wajah cantik wanita itu ke dada bidangnya seraya mengelus punggungnya penuh kasih sayang.

"Aegi sudah bahagia kan John?" Ten kembali berucap.

"Dia pasti bahagia dan dia sangat tidak suka melihat mamanya menangis begini." Balas Johnny seraya menghapus air mata yang mulai membasahi pipi putih Ten.

"Ma-mama?" Suara Ten terdengar parau.

"Kenapa? Kau tak suka ya? Bagaimana jika kita ganti jadi mommy?" Johnny mulai sedikit bercanda.

"Aku suka." Balas ten, ia memeluk erat tubuh Johnny dan menikmati aroma maskulin yang menguar dari tubuh tegap pria itu.

"Mau aegi lagi." Ucap Ten manja, ia bahkan mulai mencebikkan bibirnya.

"Ayo kita buat lagi, aku mau lima." Balas Johnny. Ten membelalakkan matanya seolah tidak percaya dengan perkataan pria di hadapannya itu.

"Memangnya aku kucing." Ten semakin kesal dan berdecak sebal.

"Kau kan memang kucing, kitten. Senangnya punya kucing selucu ini." Ucap Johnny dan mulai merapatkan pelukan mereka, Ten sesekali terkekeh karena kegelian menerima perlakuan Johnny.

"Ayo kita bulan madu." Johnny kembali membuka pembicaraan. Saat ini mereka tengah berbaring menatap atap dengan Ten yang menggunakan lengan kekar Johnny sebagai bantalan.

"Kau kan sibuk sa-jang-nim." Ten sedikit meledek Johnny, sebagai orang yang pernah bekerja bersama tentu saja Ten sudah hafal sesibuk apa pria itu.

"Tapi aku tak bisa mengabaikan istri cantikku ini. Kita ke Jeju-do bagaimana?" Tanya Johnny, ia bahkan mulai mengubah posisinya menjadi duduk dan mengambil ponselnya. Jemari panjang pria itu mulai mencari tiket pesawat untuk mereka berdua.

"Jangan gegabah John. Pikirkan dulu baik-baik, pekerjaanmu bagaimana jika kita pergi terlalu lama?" Ujar Ten, ia bahkan mulai menahan tangan Johnny yang masih sibuk dengan ponselnya.

"Tenang sayang, masih ada banyak orang di perusahaan." Ucap Johnny seraya mengecup pucuk kepala Ten.

"Terserah kau saja, sana pergi aku mau tidur." Ujar Ten, ia mulai memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur, mengabaikan Johnny yang mulai asyik memeluknya kembali.

Ten dan Johnny terbangun di siang hari dan saat ini mereka sedang menikmati makan siang yang sempat Ten masak beberapa saat lalu. Ten menatap keheranan ke arah Johnny, pria itu nampak menikmati makanannya dengan lahap bahkan hampir saja ia tak menyisakan apapun untuk Ten.

"John pelan-pelan, nanti tersedak." Ucap Ten, ia baru saja selesai menyantap semangkuk sup rumput laut dan beberapa nugget.

"Kau tahu selama berbulan-bulan aku tak menyantap makananmu, jelas saja aku merindukannya." Balas Johnny.

"Biar kutebak, saat kau tak bersamaku pasti hidupmu tidak sehat. Pasti kau lupa apa itu air putih?" Ucap Ten, ia menatap penuh selidik ke arah Johnny yang ada di hadapannya.

"Begitulah." Ucap Johnny singkat, ia bahkan kembali sibuk menyantap makanannya. Ten yang sudah selesai mulai berjalan menuju wastafel dan berniat mencuci piring kotor yang mulai menumpuk.

"Aku sudah beli tiket pesawat." Ucap Johnny tiba-tiba. Ten nampak sedikit terkejut ternyata pria itu masih sama seperti dulu, selalu saja mengambil keputusan tanpa bertanya padanya.

"Kau tak bertanya dulu padaku?" Tanya Ten.

"Kukira saat di kamar tadi kau bilang setuju." Balas Johnny ia mulai meletakkan alat makannya, khawatir jika ucapannya menyinggung Ten yang masih sibuk mencuci piring.

"Jadi kita berangkat hari apa?" Ucap Ten.

"Lusa…. Kau tak marah kan?" Tanya Johnny seraya memeluk pinggang Ten dari belakang.

"Untuk apa? Lagipula aku tak memiliki kesibukan apapun." Balas Ten. Johnny nampak tersenyum sekilas dan membenamkan wajah tampannya di ceruk leher Ten yang seputih salju. Bahkan pria itu tak menyingkir sama sekali sampai Ten selesai mencuci piringnya.

Keesokan harinya Johnny mengantar Ten untuk pergi ke panti asuhan. Mereka berniat mengambil pakaian milik Ten yang sudah dipindahkan beberapa bulan lalu. Setelah selesai berkemas dan merapikan kamarnya, Ten menyeret dua koper besar berisi barang-barangnya. Johnny yang berdiri di ambang pintu bergegas menghampiri Ten dan membantunya membawa koper tersebut. Sebelum kembali ke rumah, mereka menyempatkan untuk berpamitan pada Suster Kang. Wanita paruh baya itu nampak terkejut kala mendapati Ten masuk ke ruangannya bersama dengan Johnny yang sibuk menggenggam tangan wanita itu. Seingatnya beberapa hari lalu Ten memang meminta izin untuk menjenguk temannya yang sedang sakit, namun suster Kang sama sekali tak menyangka jika orang yang dimaksud Ten saat itu adalah Johnny.

Ten dan Johnny duduk di sofa panjang yang terdapat di ruangan, suster Kang yang sejak tadi sibuk berbincang dengan Ten kali ini menatap wajah cantik wanita itu lekat-lekat. Ia membawa tangan keriputnya untuk menyentuh wajah cantik Ten dan menghapus jejak air mata yang tercipta di pipi mulus sang wanita. Suster Kang yang merawat Ten sejak masih merah kembali meloloskan air mata ketika harus melepas kepergian Ten untuk kedua kalinya. Namun kali ini suster Kang bisa menjamin jika air mata yang keluar dari manik tuanya adalah air mata kebahagiaan, wanita paruh baya itu yakin jika kali ini Johnny akan benar-benar membuat Ten bahagia setelah semua badai besar yang sempat mereka lalui berdua. Suster Kang membawa Ten dalam pelukannya dan mengelus lembut punggung sempit sang wanita. Johnny yang duduk tak jauh dari mereka mulai merasakan manik tajamnya ikut memanas, mungkin selama ini Ten belum pernah berjumpa dengan orang tuanya tapi Ten memiliki banyak orang yang menyayanginya di sekitarnya. Betapa bodohnya ia yang menghabiskan waktu untuk menyakiti hati rapuh Ten beberapa waktu lalu, pikirnya.

Setelah perpisahan penuh air mata, Johnny menggenggam erat jemari Ten dan kembali melajukan mobilnya untuk pergi ke tempat tujuan mereka, rumah keluarga Seo. Ten nampak berdiri di depan bangunan rumah yang megah lengkap dengan interior mewahnya. Wanita cantik itu menengadahkan wajahnya demi melihat bangunan di hadapannya dari atas ke bawah. Rumah besar yang telah lama tak ia kunjungi, rasanya berjuta perasaan rindu yang sempat bersarang di hati Ten meminta untuk dilepaskan segera. Dengan yakin Johnny kembali menggenggam erat jemari Ten dan membawanya masuk ke dalam rumah. Kali ini tak ada drama apapun yang mereka ciptakan, semua yang mereka lakukan murni karena perasaan cinta yang bersarang di hati masing-masing. Nyonya Seo yang sedang sibuk membaca majalah di ruang keluarga nampak terkejut dengan kehadiran putra bungsunya, terlebih saat melihat orang yang datang bersamanya dan meminjamkan jemari indahnya untuk digenggam mesra oleh sang putra. Seolah mengerti apa yang terjadi di hadapannya, nyonya Seo bergegas memeluk Ten erat-erat menyalurkan sejuta kerinduan yang telah tersimpan lama. Wanita paruh baya itu tersenyum cerah, ia sama sekali tak menyangka jika Tuhan mendengar doa-doanya. Ia mengelus lembut pipi putih Ten dan tak lupa memberikan kecupan di keningnya. Ten menatap lekat wajah ibu mertuanya, wajah cantiknya mulai terlihat lelah karena termakan usia, rasanya Ten benar-benar merindukan wajah cantik itu setelah perjumpaan terakhir mereka beberapa bulan yang lalu. Johnny yang masih menggenggam erat jemari lentik Ten benar-benar heran karena sepanjang hari ini semua orang yang melihat istrinya akan menangis tersedu-sedu termasuk ibunya.

"Imo…. Imo…." Adegan dramatis antara tiga orang dewasa di ruang keluarga terhenti karena Woojin tiba-tiba saja menabrakkan dirinya ke kaki Ten. Dengan secepat kilat Ten menghapus air matanya dan membawa Woojin dalam gendongannya, melupakan Johnny yang terlihat kesal karena genggaman tangannya terlepas begitu saja.

"Imo bogoshipoyo…." Ucap Woojin ia mulai menenggelamkan wajah imutnya di ceruk leher Ten.

"Jinjja? Kan baru bertemu dengan imo beberapa hari lalu." Jawab Ten, anak kecil itu hanya mengangguk semangat sebagai jawaban.

"Woojin tidak rindu samchon? Bahkan Woojin tak menjenguk samchon saat di rumah sakit." Ucap Johnny mulai mendramatisir keadaan.

"Kata eomma, samchon sudah sembuh jadi Woojin tak menjenguk." Balas anak kecil itu polos. Baiklah gen bicara ceplas-ceplos Kyuhyun hyung mengalir sempurna di darah Woojin, pikir Johnny.

"Imo menginap?" Tanya Woojin, saat ini anak kecil itu sedang sibuk memainkan ujung baju Ten yang menurutnya lucu.

"Tidak, imo harus pulang ke rumah." Balas Ten, jemari lentiknya sibuk menyisir rambut Woojin yang wangi stroberi, mirip seperti milik Sunwoo.

"Yah…. Kenapa begitu? Biar samchon pulang sendiri saja. Imo disini saja sama Woojin." Ucap anak kecil itu, Johnny yang duduk di sebelah Ten hanya memutar bola matanya malas melihat keponakannya yang kembali bermanja dengan istrinya. Bahkan anak kecil itu seolah tak menyadari eksistensi Johnny yang berada di dekatnya.

"Woojin jangan begitu, imo kan milik samchon bukan milik Woojin." Baiklah otak jahil Johnny mulai bekerja.

"Samchon nakal, imo hanya milik Woojin. Selama ini samchon Woojin pinjamkan." Balas anak kecil itu tak mau kalah.

"Siapa bilang? Kan imo maunya hanya dimiliki oleh samchon, coba tanya imo kalau tidak percaya." Balas Johnny, sepertinya pria tampan itu malah semakin jahil setelah melihat mata keponakannya berkaca-kaca. Woojin mengangkat wajahnya, ia menatap Ten lekat dengan bibir yang mulai mencebik lucu. Bibir bawahnya mulai bergetar tanda tangis yang siap meledak. Dengan sigap Ten menenangkan Woojin dan mengelus punggungnya.

"Tidak, samchon hanya bercanda. Sudah ya jangan menangis." Ucap Ten seraya menatap tajam ke arah Johnny. Beberapa detik kemudian tangis Woojin pecah, ia bahkan menenggelamkan wajahnya ke dada Ten membuat bajunya sedikit basah akibat air mata anak kecil itu.

"Hua…. Samchon nakal imo." Ucap Woojin, bahkan ia masih sempat berucap saat membenamkan wajahnya. Ten tertawa gemas dan memeluk Woojin erat-erat, mengelus lembut punggungnya dan membiarkan tangisan anak kecil itu mereda.

Di dalam mobil, Johnny tak melepaskan tangan Ten sama sekali. Pria tampan itu sesekali mendengus sebal karena mereka baru pulang ke rumah saat langit mulai gelap. Ten hanya terkekeh mengingat bagaimana caranya Johnny membujuk Woojin tadi, anak kecil itu sama sekali tak mengizinkan Ten pulang ke rumah, katanya "Nanti imo di makan samchon, kan samchon sudah jadi titan", Ten gemas sendiri membayangkannya.

"Siapa suruh menggoda Woojin tadi? Sudah tahu keponakanmu itu sulit berhenti jika sudah menangis." Ucap Ten, tentu saja ia tak lupa siapa orang yang membuat Woojin menangis beberapa jam yang lalu.

"Dia juga pendendam, persis seperti Seohyun noona. Mengerikan sekali." Balas Johnny, ia sedikit membuat gestur bergidik ngeri yang dihadiahi gelak tawa dari Ten.

"Semua anak kecil seperti itu, kau saja yang tak mengerti." Balas Ten.

Malam ini untuk kesekian kalinya Ten kembali tidur di kamar utama, namun bedanya saat ini ia dan Johnny sudah saling mencintai dan mau terbuka satu sama lain berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, Ten sendiri bingung disebut apa hubungannya dengan Johnny saat itu. Saat ini mereka berdua tengah berbaring di kasur seraya menatap ke arah atap. Untuk pertama kalinya Ten memutuskan mengenakan gaun tidur miliknya saat tidur bersama Johnny. Gaun satin berwarna biru muda dengan panjang selutut itu mampu membuat Johnny terpaku sejenak, bahkan ia menyeret paksa Ten ke tempat tidur beberapa menit lalu.

"Mingyu bilang kau mengundurkan diri." Ucap Johnny.

"Hum…. Tepat sehari setelah aku keluar dari rumah sakit." Balas Ten.

"Kau yakin? Bukankah dulu kau bilang impianmu adalah bekerja di perusahaanku?" Tanya Johnny, tentu saja ia tak akan melarang Ten untuk bekerja seandainya wanita itu memang berniat untuk kembali.

"Bukankah sekarang calon pemilik perusahaan sudah mencintaiku? Bukannya itu artinya mimpiku benar-benar menjadi nyata?" Ucap Ten, ia bahkan mencubit lembut hidung bangir Johnny.

"Eiy…. Kau menggodaku, mau kumulai sekarang?" Johnny mulai gemas, ia bahkan menarik lengan dress yang Ten kenakan.

"Dasar pria mesum." Balas Ten seraya terkekeh.

"John, kau tahu aku selalu berpikir jika kita berciuman pasti hidung kita saling bertabrakan dan akan sangat mengganggu." Ucap Ten tiba-tiba, Johnny bahkan nampak terkejut dan mulai memutar tubuhnya menghadap Ten yang saat ini sedang terkekeh.

"Mau ku beri tahu bagaimana caranya agar tidak saling bertabrakan?" Tanya Johnny. Ten membelalakkan matanya seolah tahu kemana arah pembicaraan Johnny. Pria tampan itu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Ten, ia dapat melihat dengan jelas netra indah Ten, dan dapat mendengar nafas Ten yang memburu. Perlahan ia melumat bibir tipis Ten dan kembali melepasnya seraya menatap lekat ke arah wajah cantik istrinya.

"Bukankah tadi tidak bertabrakan?" Tanya Johnny seraya terkekeh. Ten hanya tersenyum malu setelah mendapatkan ciuman dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

"Can we start again?" Ucap Johnny seduktif.

"Yes Mr. Seo, tonight I'm yours…." Bisik Ten tepat di telinga Johnny.

Seraya menyeringai pria tampan itu kembali melumat bibir tipis Ten membiarkan sang wanita menikmati ciumannya. Johnny bahkan meninggalkan jejak-jejak miliknya di leher putih Ten, seolah mengatakan pada dunia jika wanita cantik itu hanyalah miliknya.