22. Honeymoon (1)
Hari ini pagi-pagi sekali Ten dan Johnny telah berada di bandara dengan satu koper besar yang mereka bawa. Ten nampak menggosokkan kedua telapak tangannya, entah kenapa sejak tadi rasanya ia sedikit kedinginan padahal cuaca Seoul terbilang cukup hangat. Johnny menarik sebelah tangan Ten dan menggenggamnya erat-erat seolah ingin berbagi kehangatan dengan wanita di sampingnya itu. Ten nampak tersenyum cerah saat merasakan suhu hangat dari tangan Johnny mulai menguar ke tubuhnya perlahan ia mulai menyandarkan kepalanya ke bahu kekar Johnny seraya menunggu keberangkatan pesawat yang akan mereka naiki.
Ten yang tak ikut campur mengenai acara honeymoon kali ini nampak tercengang saat seorang pramugari menuntun mereka berdua menuju ke kelas bisnis, baiklah sepertinya Johnny benar-benar tak main-main untuk kali ini. Di perjalanan menuju pulau Jeju Ten yang biasanya sangat mudah tertidur entah kenapa kali ini matanya sulit terpejam, akhirnya ia memutuskan untuk membaca buku yang sempat ia bawa dari rumah. Berbeda dengan Johnny, pria itu nampak tertidur lelap dengan kepala yang bertumpu ke samping dan jangan lupakan bantal leher yang nampak bertengger indah di leher jenjangnya. Ten baru ingat jika semalam suami tampannya itu baru tidur dini hari karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum mereka memulai agenda liburan panjang mereka. Ten mendekati Johnny dan memperbaiki letak kepalanya, setidaknya saat bangun ia tak akan merasa pegal, pikir Ten.
Pesawat yang mereka tumpangi baru saja mendarat di Jeju International Airport. Ten nampak bersusah payah mengimbangi langkah besar Johnny yang mulai berjalan ke pintu keluar seraya menyeret koper besar mereka, apa pria itu lupa jika sedang pergi bersama istrinya, pikir Ten. Tak lama nampak seorang pria berpakaian rapi menghampiri Johnny, ia menyerahkan kunci mobil pada suaminya itu kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya dan berlalu dari hadapan Johnny begitu saja. Mungkin seseorang dari tempat penyewaan mobil, pikir Ten. Ten nampak melamun sampai akhirnya Johnny menggenggam tangannya erat dan membawanya ke tempat parkir. Ten membelalakkan matanya saat melihat mobil yang hendak ia masuki, benar-benar jauh dari kata mobil sewaan yang Ten pikirkan sebelumnya.
"Kau sewa dimana mobil semewah ini?" Tanya Ten ketika ia baru saja selesai mengenakan safety belt.
"Ini milikku." Ucap Johnny singkat. Ten hampir saja menjatuhkan rahangnya mendengar perkataan Johnny, bagaimana tidak Ten ingat betul jika mobil yang mereka naiki adalah Porsche Cayenne keluaran terbaru yang kisaran harganya 230 juta won. Jadi Johnny termasuk deretan orang beruntung yang bisa memiliki mobil mewah itu mengingat hanya beberapa mobil dengan tipe itu yang dijual di Korea. Rasanya Ten harus berterima kasih pada suaminya itu karena membuatnya menduduki kursi Porsche.
"Kau sangat kaya ya John." Ucap Ten tanpa sadar, matanya bahkan menatap lucu ke arah Johnny. Pria itu nampak tertawa melihat ekspresi wajah Ten yang menurutnya menggemaskan.
"Kau kemana saja sih? Aku memang kaya sejak lama." Ucap Johnny sedikit menyombongkan diri.
"Sombongnya…." Balas Ten.
Ten rasa Johnny benar-benar tak main-main saat ia bilang ingin pergi honeymoon, pria itu benar-benar menyiapkan yang terbaik untuk Ten, bahkan Ten sampai tidak percaya jika pria di hadapannya itu adalah Johnny yang sama yang menikahinya beberapa bulan lalu. Saat ini mereka baru saja sampai di salah satu hotel bintang lima yang ada di pulau Jeju, fasilitas hotelnya super mewah dan jangan lupakan pemandangan indah yang tersaji di luar begitu mereka membuka tirai jendela. Ten nampak mengagumi pemandangan di luar meninggalkan Johnny yang sedang sibuk membuka koper mereka dan mencari kaos kesayangannya, sepertinya pria itu sudah kepanasan mengingat berapa banyak keringat yang tercetak di kemeja tipisnya. Ten berjalan mendekati Johnny dan memeluknya dari belakang. Pria itu nampak baru saja selesai berganti pakaian, Johnny sedikit tersentak saat Ten memeluk pinggangnya, ia bergegas memutar tubuhnya dan menatap wajah Ten lekat.
"Aku tak tahu kau bisa sedetail ini soal apapun, terima kasih banyak. Aku suka semuanya hari ini." Ucap Ten, ia menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah tampan suami tingginya itu. Johnny tersenyum lembut seraya menatap netra indah Ten, pria itu mulai merapikan rambut Ten yang sedikit berantakan dan menutupi wajah cantik istrinya itu.
"Kita bahkan belum memulai hari ini, jangan terlalu cepat berterima kasih." Balas Johnny, ia mencium lembut kening Ten. Pasangan muda itu nampak masih berpelukan erat dan mulai menikmati pemandangan di luar, bukankah begitu romantis.
"Setelah ini kita kemana tuan tampan?" Tanya Ten, ia sedikit terkekeh setelah berhasil meledek Johnny.
"Istirahat dulu ya, nanti sore kita ke Seogwipo." Ucap Johnny.
"Seogwipo? Kau yakin?" Tanya Ten, ia tentu tahu apa itu Seogwipo dan agak terkejut saat tahu orang seperti Johnny berniat mengunjungi pasar seperti itu walaupun memang tempat itu menjadi tujuan favorit para wisatawan saat ke pulau Jeju.
"Memangnya kenapa? Aku dan Seohyun noona sering pergi ke pasar saat kami kecil. Lagipula disana ada kedai kopi yang terkenal, aku mau mencicipinya." Balas Johnny.
"Kau terlalu sering mengkonsumsi kopi, tak baik John." Ten menatap wajah tampan Johnny dan raut kekhawatiran tergambar jelas di wajah cantiknya saat ini.
"Tenang saja, aku mulai menguranginya sedikit demi sedikit." Balas Johnny.
"Harus. Terlalu banyak kopi dan alkohol tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap Ten.
"Kau bilang begitu karena toleransi alkohol mu rendah kan? Jadi kau iri padaku?" Ledek Johnny.
"Aish…. Mana ada yang seperti itu. Sudah lepaskan aku mau ganti pakaian." Ucap Ten, ia melepas paksa lengan kekar Johnny yang memeluk pinggangnya dan melenggang ke kamar mandi.
Johnny terbangun tepat di sore hari dan mendapati Ten yang masih tertidur di sampingnya. Johnny mulai mendekap tubuh ramping itu dan mengelus wajah cantiknya dan berhasil membuat tidur Ten terganggu. Matanya mengerjap lucu dan sedikit terkejut ketika mendapati jarak antara dirinya dan Johnny yang begitu dekat. Bukannya melepaskan pelukannya dari tubuh Ten, Johnny malah semakin mendekatkan wajahnya dan mencium bibir tipis yang entah sejak kapan menjadi kesukaannya itu. Ten mendorong wajah tampan Johnny untuk menjauhinya, sejak kapan Johnny begitu senang menciumnya, pikri Ten.
"Ayo bangun Ten…." Ucap Johnny seraya memainkan pipi putih Ten, sepertinya pria itu mengira Ten adalah squishy.
"Aku malas hua…. Mengantuk sekali." Balas Ten dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Aku tak keberatan jika kita hanya menikmati waktu di hotel." Ucap Johnny, Ten menggelengkan kepalanya dan tak terima dengan perkataan suaminya itu.
"Jangan seperti itu, ayo kita pergi. Bukankah kau punya banyak rencana menakjubkan?" Ten mulai bangkit dari tidurnya dan menguncir rambutnya, ia menarik paksa Johnny yang saat ini terlihat bermalas-malasan di kasur.
Saat ini mereka telah berada di Seogwipo, Johnny dan Ten nampak berjalan beriringan dan jangan lupakan Johnny yang tidak membiarkan jemari lentik Ten terlepas dari genggamannya. Suasana Seogwipo sore itu cukup ramai, cukup banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang nampak berburu berbagai macam-makanan disana. Johnny menarik paksa Ten dan membawanya masuk ke kedai kopi yang sempat ia bicarakan beberapa jam lalu. Pria itu memesan dua es kopi dan mengajak Ten kembali berkeliling.
"Kenapa kau suka Americano?" Tanya Ten saat mereka sedang berkeliling pasar.
"Tidak tahu, mungkin aku butuh banyak energi dan Americano bisa membuatku terjaga sepanjang hari." Balas Johnny, Ten hanya mengangguk menanggapi jawaban pria itu yang terdengar ada benarnya juga mengingat betapa sibuknya Johnny selama ini.
"Wah aku mau itu…." Ten menarik paksa Johnny ke stand penjual bungeoppang yang nampak ramai pengunjung. Ten yang merasa sebentar lagi gilirannya mendapatkan bungeoppang mulai mengeluarkan dompetnya yang berada di dalam tas, namun tiba-tiba saja tangan besar Johnny nampak menahannya. Pria tinggi itu menyodorkan dompet hitamnya pada Ten dan membiarkan istrinya itu menggunakan uang yang berada di dalam sana.
"Gomawo oppa…." Ten berucap demikian dan melenggang pergi meninggalkan Johnny yang terlihat terkejut dengan panggilan yang Ten berikan. Jika diingat-ingat lagi memang usia Johnny lebih tua tiga tahun dari wanita itu.
"Kajja!..." Ucap Ten, wanita itu telah kembali dengan dua buah bungeoppang di tangan kanan dan kirinya.
"Sepertinya kita harus cari meja, tanganmu penuh sekali." Ucap Johnny, ia berjalan mendahului Ten dan menuntun wanita itu ke deretan meja dan kursi yang nampak terisi oleh beberapa pengunjung. Ten menyodorkan salah satu bungeoppang pada Johnny yang disambut malas-malasan oleh pria itu, jujur saja ia tak terlalu menyukai makanan manis.
"Bagaimana caramu makan bungeoppang? Kepala atau ekor dulu?" Tanya Ten, wanita itu jelas sudah mulai menyantap bungeoppang miliknya sejak tadi. Ten nampak menyantap bungeoppang miliknya dari bagian kepala.
"Semuanya sama saja." Balas Johnny, pria itu memakan bungeoppang miliknya mulai dari bagian ekor. Ten nampak tercengang dan hampir saja tersedak saat melihat bagaimana cara Johnny menyantap bungeoppang miliknya.
"Kau pernah dengar yang seperti ini? Katanya jika orang itu makan dari bagian kepala menandakan ia adalah sosok yang santai, optimis, dan tak peduli dengan hal sepele. Jika orang itu makan dari bagian ekor menandakan ia adalah sosok yang romantis, peduli dengan hal kecil, namun sayang ia terlalu lambat dalam menangkap perasaan orang lain." Ucap Ten panjang lebar, bahkan ia tak sadar jika krim bungeoppang miliknya tertinggal di pinggir bibir tipisnya.
"Kau mengada-ngada, aku tak pernah dengar yang seperti itu." Balas Johnny, pria itu mulai mengulurkan ibu jarinya untuk mengambil sisa krim yang menempel di sudut bibir Ten. Wanita itu nampak terkejut dengan perlakuan Johnny namun berusaha untuk tetap santai supaya tak menjadi pusat perhatian orang sekitar.
"Itu benar, suster Kang yang cerita padaku saat aku masih sekolah menengah. Dan yang terakhir kurasa sangat cocok denganmu, tidak peka." Ucap Ten, ia nampak terkekeh dan menatap jahil ke arah Johnny. Pria tampan itu nampak mengangkat bahunya seolah tak peduli dengan bualan Ten.
"Aku habiskan ya?" Ucap Ten seraya menggapai bungeoppang milik Johnny yang masih tersisa di atas meja. Pria itu hanya mengangguk dan kembali menyesap Americano miliknya.
"Badanmu kecil, tapi kau banyak makan." Ucap Johnny, pria itu tak habis pikir, bahkan Ten baru saja menghabiskan bungeoppang miliknya dan wanita itu masih mengajak Johnny berburu cemilan setelah itu mencari makan malam.
"Memang kenapa? Bukankah suamiku kaya raya, kurasa dia tak akan bangkrut jika aku beli beberapa cemilan lagi." Balas Ten seraya terkekeh.
"Aish terserah kau saja, ayo pergi." Johnny mulai bangkit dari tempat duduknya dan mengajak Ten untuk kembali berkeliling.
Sepanjang jalan Seogwipo penuh dengan berbagai macam penjual makanan dan souvenir, semakin malam suasana disini malah semakin jauh dari kata sepi. Pengunjung mulai ramai berdatangan untuk menikmati keindahan malam di Seogwipo dilengkapi dengan kedipan lampu yang ikut memeriahkan suasana.
"John, hallabong. Kita beli ya…." Ten kembali menarik tangan kekar Johnny untuk menepi sejenak di stand hallabong yang nampak dipenuhi dengan turis asing. Johnny bahkan bingung sebenarnya hari ini ia pergi dengan Ten atau Woojin, kenapa wanita itu sangat antusias tiap kali melihat makanan yang ia temukan.
"Jamkkanman, kau masih suka buah?" Tanya Johnny sedikit keheranan.
"Hum…." Ten mengangguk dan kembali menarik Johnny menepi ke stand hallabong.
"Ahjussi, boleh kucoba dulu?" Tanya Ten seraya mengambil satu hallabong yang terlihat begitu menggoda.
"Ne agassi. Silahkan dicoba dulu, rasanya manis dan segar." Ucap sang penjual. Ten nampak antusias dan membuka kulit hallabong setelah itu ia memasukkan potongan hallabong ke mulutnya.
"Hum…. Manis sekali. John kau coba juga." Ujar Ten seraya menyuapkan potongan hallabong ke mulut Johnny. Pria itu nampak menganggukan kepalanya saat rasa manis hallabong mulai memenuhi mulutnya.
"Ahjussi kami mau dua kotak." Ucap Ten mantap, ia masih sibuk mencicipi hallabong yang tersisa di tangannya. Tak sengaja si penjual menatap cincin yang melekat di jari Ten dan Johnny, ia terlihat begitu antusias dan tersenyum sekilas.
"Kalian sedang berbulan madu?" Tanya penjual tersebut.
"Hum…. Kami baru datang tadi pagi." Balas Ten seraya tersenyum ramah, Johnny sendiri nampak mulai tidak nyaman karena beberapa wanita yang sibuk memilih hallabong mulai berada di sekitarnya.
"Wah jika dilihat dari penampilan sepertinya kalian bisa saja pergi ke luar negeri, tapi kalian memilih ke Jeju hebat sekali." Ucap penjual tersebut.
"Geuraeyo? Ahjussi bisa saja." Balas Ten, ia terlihat asyik berbicara melupakan Johnny yang mulai bergerak mundur menjauhi kerumunan wanita yang ada disana.
"Sebagai hadiah aku berikan kalian bonus." Ucap sang penjual seraya memasukkan beberapa buah hallabong ke kantong plastik.
"Wah kamsahamnida ahjussi." Ten tersenyum cerah menerima bungkusan dari si penjual. Ia kemudian menyodorkan beberapa lembar uang dan bergegas pergi untuk menemui Johnny yang berada tak jauh darinya.
"Kau beli sebanyak itu untuk siapa?" Tanya Johnny setelah melihat Ten yang membawa dua kotak hallabong beserta bonus yang diberikan beberapa detik yang lalu.
"Untuk kita." Balas Ten seraya tersenyum.
"Astaga memang benar-benar rakus. Kemarikan biar aku yang bawa." Johnny meraih kotak yang berada di tangan Ten dan mulai membawanya.
Perjalanan sepasang suami istri itu kembali berlanjut, kali ini mereka menepi sejenak di restoran yang ada disana karena Johnny mulai kelaparan. Baik Ten ataupun Johnny menyantap makanan mereka dengan lahap, seraya sesekali berbincang. Kehadiran mereka tak jarang menjadi pusat perhatian. Bayangkan saja Ten yang menguncir rambutnya dengan dress warna biru langit selutut dan Johnny yang terlihat tampan setelah memotong rambutnya, ia nampak menggunakan kaos dengan warna senada seperti yang Ten gunakan, bukankah mereka kombinasi yang sempurna.
Saat ini Ten dan Johnny telah berada di dalam mobil dan berniat kembali ke hotel tempat mereka menginap. Ten sudah terlihat sangat mengantuk bahkan kepalanya hampir terantuk ke dashboard mobil jika saja Johnny tak sigap menahannya. Benar saja beberapa menit kemudian Ten nampak bersandar dan mulai memejamkan matanya. Sepertinya wanita itu kelelahan setelah seharian berjalan kesana-kemari mencoba semua makanan. Jika saat di mobil Ten terlihat begitu mengantuk, beda halnya saat di kamar hotel matanya benar-benar terbuka lebar dan kantuknya hilang seketika, Johnny sampai bingung dibuatnya. Ten baru saja selesai mandi malam, ia mengenakan piyama yang senada dengan milik Johnny. Wanita itu ikut berbaring di sebelah Johnny yang matanya mulai terpejam perlahan, sepertinya pria tampan itu sudah sangat mengantuk dan tak sanggup lagi jika harus membuka matanya.
"John…. Aku tak bisa tidur." Ia mencoba mengadu pada Johnny dan berharap pria di sampingnya itu memberikan solusi atas permintaannya.
"Hum…. Sini mendekat." Johnny menjawab dengan mata yang setengah terpejam. Ia merengkuh tubuh ramping Ten dan tak membiarkannya pergi kemanapun. Benar saja beberapa menit kemudian Ten nampak tertidur lelap dan suara dengkuran halus mulai memenuhi kamar mereka.
