23. Honeymoon (2)
Pagi mulai menyingsing dan mentari mulai terlihat membangunkan dua sejoli yang masih asyik bergelung dengan selimut mereka. Ten mengerjapkan matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk melalui jendela kamar hotel mereka. Wanita cantik itu bangkit dan menyingkap tirai yang ada di hadapannya, detik itu juga sinar mentari berlomba untuk saling menyapa dan dilengkapi dengan pemandangan indah yang tersaji di hadapannya. Ten yang tengah asyik menikmati pemandangan tiba-tiba saja merasakan tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya dan jangan lupakan juga sensasi geli yang menjalar di ceruk lehernya. Ten memutar tubuhnya dan menatap wajah tampan Johnny yang berada di hadapannya. Ia menyingkap rambut Johnny yang sedikit berantakan dan menutupi wajah tampan suaminya itu.
"Sudah bangun?" Tanya Ten seraya mengalungkan lengannya di leher Johnny.
"Kelihatannya bagaimana?" Johnny balik bertanya seraya memberikan kecupan singkat di bibir Ten yang nampak begitu menggoda di matanya.
"Aku lapar." Ucap Ten.
"Kita pakai room service bagaimana? Setelah itu bebas jalan-jalan kemanapun." Tawar Johnny. Ten mengangguk semangat dan mulai meloloskan diri dari pelukan Johnny, ia melesat ke kamar mandi dan berniat membersihkan diri sebelum memulai agenda mereka hari ini.
"Mau mandi bersama?" Tanya Johnny seraya tersenyum nakal.
"Dalam mimpimu John." Ucap Ten seraya menutup pintu kamar mandi. Johnny hanya terkekeh dan berjalan ke arah meja telepon, pria itu mulai memesan makanan sebelum Ten selesai dengan agenda mandinya.
Setelah selesai sarapan dan bersiap-siap, Ten dan Johnny memulai kembali perjalanan mereka. Menurut Ten acara bulan madunya kali ini lebih terlihat seperti karya wisata sekolah menengah. Bahkan Ten tak pernah menyangka jika Johnny yang ia kenal cuek itu membuat to do list di ponsel canggihnya. Hari ini Johnny mengajaknya mengelilingi bagian barat pulau Jeju, pria itu bilang disana banyak wisata alam yang indah dan sangat pas untuk memanjakan mata. Ten saat ini mengenakan kemeja panjang selutut berwarna hijau muda dengan sandal jepit berwarna krem, sedangkan Johnny, pria itu memilih mengenakan kemeja panjang warna hijau muda yang dipadukan dengan celana berwarna putih serta sepatu berwarna senada.
Johnny bilang tujuan pertama mereka adalah pantai Hyeopjae, perjalanan pagi ini terasa sangat menyenangkan. Angin berhembus ringan dan membuat anak rambut Ten bergerak kesana kemari. Ten memutuskan untuk membuka jendela mobil sejak tadi, Johnny sudah melarangnya namun wanita itu bersikeras untuk membuka jendela karena menurutnya pemandangannya begitu indah. Ten terlihat mengeluarkan tangannya dan menikmati udara yang berhembus, senyuman merekah di wajah cantiknya sejalan dengan angin ringan yang mulai menyapanya. Johnny sedikit menoleh ke arah Ten dan menikmati wajah cantik istrinya dengan ujung matanya, kacamata hitam yang bertengger di hidung bangir Ten terasa sangat pas dengan wajah cantiknya terlebih kacamata itu serasi dengan milik Johnny.
"Woah…. Indah sekali." Ten berteriak kegirangan saat Johnny barusaja menepikan kendaraannya.
Ten terlihat sangat antusias, wanita itu menginjakkan kakinya untuk menyapa pasir putih yang tersaji di hadapannya. Johnny tersenyum sekilas seraya menyusul Ten yang mulai menjauh darinya. Tangan kekarnya terlihat membawa sebuah topi pantai yang cukup indah, itu milik Ten. Wanita itu terlihat begitu semangat saat tahu mereka akan mengunjungi pantai dan memaksa Johnny membelikannya topi pantai saat di mall tadi.
"John, cepat. Kau lambat sekali." Ucap Ten, ia bahkan mulai berjongkok dan menyentuh pasir yang terlihat begitu bersih.
"Kau seperti anak kecil Ten, bahkan kau berlari kesana kemari." Ucap Johnny, ia memakaikan topi yang sejak tadi berada di tangannya ke kepala Ten, sesuai dugaannya topi itu terlihat sangat serasi dengan Ten yang begitu mempesona.
"Sudah lama tidak ke pantai. Kau cocok sekali menjadi pemandu wisata John, turmu tak mengecewakan." Ucap Ten, ia berdiri dan memperbaiki letak topi yang sebelumnya Johnny pasangkan di kepalanya.
Johnny hanya tersenyum, ia sibuk melepas sepatunya dan bergegas menggenggam tangan Ten untuk mengajaknya menelusuri bibir pantai. Saat ini untuk kesekian kalinya Johnny merasa ia pergi dengan Woojin, Ten memilih melepaskan genggaman tangan Johnny dan berlarian kesana kemari. Ia mengambil sejumlah gambar yang menurutnya menarik dengan ponsel miliknya, berbeda dengan Johnny yang menjadikan Ten objek fotonya sejak tadi.
"John, yang benar saja. Aku belum siap tapi sudah kau foto." Ucap Ten, ia mencebikkan bibirnya saat melihat banyak wajah anehnya yang tersimpan di ponsel Johnny.
"Tak ada bedanya. Tetap cantik." Balas Johnny, ia berusaha meraih ponselnya yang berada di tangan Ten.
"Aigo…. Dasar buaya." Balas Ten dengan nada meledek.
Dirasa cukup lelah berlarian kesana-kemari, saat ini Ten dan Johnny nampak terduduk di bibir pantai seraya menikmati pemandangan indah yang tersaji di hadapan mereka. Ten nampak bersandar di bahu kokoh Johnny, membiarkan pria itu menikmati sensasi vanilla yang menguar dari tubuh mungil Ten.
"Seharusnya kita ajak Woojin kesini." Ucap Ten setelah ia melihat sejumlah anak kecil yang tengah sibuk membuat istana pasir.
"Samchon pergi saja, Woojin mau sama imo. Pasti anak kecil itu akan memonopoli mu seharian." Balas Johnny yang sempat meniru gaya bicara Woojin.
"Aku suka bersama Woojin." Balas Ten.
"Tapi kalau kita ajak Woojin itu namanya liburan keluarga, bukan bulan madu." Ucap Johnny, lama-lama pria itu geram juga dengan pemikiran aneh istrinya.
"Kau pikir sekarang terlihat seperti bulan madu? Aku malah merasa seperti karya wisata sekolah menengah." Ucap Ten polos.
"Astaga jahatnya, kau tak menghargai usahaku." Balas Johnny, ia mulai berdrama dan menatap Ten lekat.
"Tapi aku suka, you are the best tour guide ever, thank you Mr. John." Balas Ten, ia mengecup pipi Johnny kilat yang membuat pria itu terpaku selama beberapa saat.
"Jinjja? Nanti malam bisa beri hadiah yang lebih keren kan?" Tanya Johnny dengan tatapan jahil, Ten hanya berdecak, ia sudah menduga suami tampannya akan meminta hal seperti itu.
Setelah puas berada di pantai, dua sejoli itu melanjutkan perjalanan ke air terjun Cheonjeyeon. Beberapa waktu lalu Ten sempat melonjak kegirangan saat tahu mereka akan pergi ke air terjun, jujur saja ini kali pertamanya pergi melihat air terjun secara langsung. Saat ini wanita cantik itu tengah sibuk menikmati cumi kering yang sempat ia beli di tepi pantai tadi, sesekali ia menyuapi Johnny walaupun pria itu beberapa kali menolak. Tak butuh waktu lama mobil Johnny mulai menepi di depan pintu masuk air terjun Cheonjeyeon, pria itu bergegas membeli tiket masuk dan mengajak Ten menjelajahi pemandangan indah sebelum akhirnya memanjakan mata mereka dengan air terjun Cheonjeyeon. Berbeda dengan cuaca di pantai yang terlihat begitu terik, kali ini cuaca terlihat begitu teduh, pepohonan nampak melingkupi sepanjang jalan menuju air terjun. Lagi-lagi Ten sibuk memotret banyak hal, bahkan wanita itu sempat kegirangan saat berhasil memotret kupu-kupu yang sempat menempel di batang pohon. Johnny juga sibuk dengan ponselnya sejak tadi, pria itu nampak memenuhi ponselnya dengan gambar Ten yang sengaja ia ambil tiba-tiba.
Ten merentangkan tangannya saat tiba di air terjun, suara gemericik air terdengar begitu menenangkan siang itu. Ia tersenyum cerah dan memandang ke arah Johnny yang berada di belakangnya, rasanya Ten tak pernah menduga jika Johnny bisa berubah menjadi sosok yang seperti sekarang, seolah melenyapkan Johnny yang pernah ia temui di masa lalu. Ten berjalan ke belakang dan menarik tangan kekar Johnny, wanita itu memeluk tubuh tinggi Johnny dan membawa pria tampan itu dalam dekapan tubuh mungilnya.
"You don't look like Johnny." Ujar Ten, ia menatap lekat netra tajam milik Johnny yang tersaji di hadapannya.
"Really? Then I am Youngho." Balas Johnny, senyumannya terlihat begitu teduh dan berhasil membuat hati Ten menghangat.
"It's the same person." Ucap Ten, wanita itu mulai menikmati sentuhan Johnny di rambut indah miliknya.
"Thank you…." Ucap Ten lagi, Johnny nampak sedikit bingung saat mendapati wanita dihadapannya itu berterima kasih padanya.
"For?" Tanya Johnny.
"Take me to a beautiful place." Balas Ten, ia nampak tersenyum sumringah dan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"There are still many beautiful places waiting for us. Don't be too quick to thank." Ucap Johnny, ia semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Ten dan membiarkan semilir angin yang sejuk menerbangkan rambut mereka perlahan.
"Really? I can't wait." Hari itu secara tiba-tiba Ten mengambil inisiatif untuk melumat bibir Johnny. Johnny nampak terkejut dengan kelakuan Ten, namun ia tetap menikmatinya lagipula tidak terlalu banyak pengunjung yang ada disekitar mereka.
Ten nampak berjongkok di sebuah batu besar, ia mencelupkan tangannya ke genangan air yang begitu jernih. Hari ini Ten benar-benar senang karena Johnny mengajaknya mengunjungi tempat-tempat yang indah. Rasanya Ten tidak sabar melihat apa lagi yang akan Johnny siapkan untuknya. Setelah puas menikmati air terjun, Ten dan Johnny memutuskan untuk mengisi perut mereka di salah satu restoran seafood yang cukup populer di Jeju. Ten nampak makan dengan lahap, sepertinya energinya sudah cukup terkuras setelah mengelilingi pantai dan air terjun, sedangkan Johnny ia tak terlalu banyak makan, pria itu sibuk dengan kopi miliknya, rasanya Johnny benar-benar akan mati jika kopi menghilang dari dunia ini.
Johnny menyeret paksa Ten yang sejak tadi masih sibuk mencoba berbagai jenis makanan, pria itu bilang ada satu tempat penting yang harus mereka kunjungi sebelum gelap. Ten pasrah saja, lagipula ia kan hanya peserta karya wisata, pikirnya. Johnny menepikan mobilnya di taman nasional gunung Sanbangsan. Ten nampak terkejut dan berpikir jika Johnny benar-benar gila, bayangkan saja Ten masih merasa perutnya penuh dengan berbagai macam makanan tapi pria itu malah mengajaknya ke gunung.
"Cepat turun, kalau gelap semuanya gagal." Ucap Johnny, ia mulai frustasi melihat Ten yang masih betah di dalam mobil.
"Tunggu sebentar, kau benar-benar gila. Kenapa mengajakku ke gunung?" Balas Ten, ia sedikit menggerutu dan agak kecewa dengan pemilihan lokasi liburan Johnny kali ini. Baru saja dipuji setinggi-tingginya malah jadi begini, pikir Ten.
"Aku tak mengajakmu mendaki, lagipula lihat dirimu sekarang! Hanya pakai sandal jepit, orang gila mana yang mau mendaki dengan sandal jepit." Ucap Johnny, ia menyeret paksa Ten dan membawanya ke tempat yang berbentuk seperti stand fotografi. Johnny terlihat mengeluarkan black card miliknya dan melakukan transaksi disana, Ten tidak peduli sama sekali ia masih kesal dengan Johnny yang telah mengganggu acara makannya beberapa menit yang lalu.
"Kajja…." Johnny menyeret paksa Ten, pria itu membawa istrinya ke kebun bunga canola yang nampak begitu indah sore itu. Ten terdiam cukup lama, ia benar-benar tak percaya jika Johnny mengajaknya ke tempat yang begitu indah. Wanita itu merasa menyesal telah mengutuk Johnny sejak tadi. Di belakang ada seorang fotografer yang sibuk memotret mereka. Tiba-tiba saja Johnny menarik tangan Ten untuk menuju ke tengah-tengah hamparan bunga canola yang begitu indah, Johnny menatap Ten lekat-lekat, mengagumi mahakarya yang Tuhan titipkan untuknya. Dengan penuh keyakinan Johnny melumat bibir tipis Ten, dan tepat saat itu lensa kamera sang fotografer mulai mengabadikan momen indah mereka berdua yang dilatar belakangi pemandangan gunung Sanbangsan yang tak kalah menakjubkan. Johnny melepaskan ciumannya dan kembali menatap ke netra indah Ten yang nampak sudah berkaca-kaca. Johnny tersenyum lembut dan menghapus air mata Ten yang mulai mengalir dengan ibu jarinya. Johnny sadar ia banyak menyakiti hati Ten di masa lalu, dan ia selalu berharap semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu, Johnny telah berjanji tak akan membiarkan Ten bersedih. Jika seandainya ada air mata yang lolos dari manik indah Ten, Johnny berani menjamin itu bukan lagi air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan dan ia selalu ingin menjadi orang yang membawa kebahagiaan untuk istrinya itu.
Ten mulai menangis keras, ia sempat melihat sekitar untuk memastikan fotografer yang sejak tadi mengikuti mereka telah menghilang. Ten berhambur ke dada bidang Johnny, tangisannya benar-benar tak dapat lagi diredam. Johnny mengelus lembut surai ditam Ten seraya mengecup pucuk kepalanya ia berusaha menenangkan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Kau bahagia?" Tanya Johnny sesaat setelah Ten puas dengan tangisannya.
"Sangat…. Terima kasih banyak." Ucap Ten.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Terima kasih sudah mau menerimaku kembali setelah semua kebodohan yang kuperbuat." Ujar Johnny, ia mulai mengeratkan pelukannya pada si wanita mungil dan menikmati aroma vanilla yang menguar dari tubuh wanita cantik itu.
"Sudah Ten, berhentilah menangis. Nanti orang-orang mengira aku telah berbuat jahat padamu." Ucap Johnny, lama-lama ia gemas juga setelah mendengar tangisan Ten yang bukannya semakin mereda malah makin menjadi.
Setelah puas berpelukan di tengah hamparan bunga canola, Johnny mengajak Ten untuk kembali ke stand fotografi yang sempat mereka kunjungi beberapa menit yang lalu. Fotografer yang ten lihat sebelumnya nampak menunjukkan gambar yang berhasil ia tangkap, Ten berdecak kagum, memang tenaga profesional akan sangat jauh berbeda dengan yang amatir seperti dirinya. Setelah cukup lama berbincang Ten baru paham jika Johnny sengaja menyewa fotografer untuk mengabadikan momen indah mereka di tengah bunga canola, Johnny sendiri tak menyangka jika ia sampai mengecup Ten beberapa menit yang lalu, namun setelah dilihat hasilnya malah terlihat sangat indah. Johnny memutuskan untuk mencetaknya nanti sepulang mereka ke Seoul dan memajangnya di kamar mereka.
Sesuai janji yang telah dikatakan sore tadi, malam ini Ten memberikan hadiah spesial untuk Johnny. Ten memilih untuk tidur dengan pakaian yang cukup seksi malam itu dan tentu saja berhasil membuat Johnny tergoda. Johnny meninggalkan beberapa jejak kemerahan di leher putih Ten yang saat ini telah resmi menjadi miliknya. Ten sama sekali tidak masalah saat Johnny melakukannya, namun berdasarkan pengalaman yang telah mereka lakukan biasanya Ten akan marah keesokan harinya karena bercak itu cukup sulit untuk ditutupi. Di pagi hari Johnny terbangun lebih dulu karena suara alarm yang memekakkan telinga. Pria tampan itu baru teringat jika kemarin ia sempat menjanjikan pada Ten untuk melihat matahari terbit dari salah satu tempat indah yang berjarak cukup dekat dari hotel tempat mereka menginap. Johnny meregangkan anggota tubuhnya yang terasa sedikit kaku, ia berniat membangunkan Ten yang nampak tidur terlelap. Ten mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan Johnny menyentuh pipinya, entah kenapa pagi ini Johnny merasa wajah Ten sedikit pucat dan tak sesegar biasanya, bahkan bibirnya yang biasa merekah kemerahan hari ini terlihat kering tanpa rona yang menggoda.
"Kau demam? Lebih baik istirahat lagi saja." Ucap Johnny, ia baru saja mengecek suhu tubuh Ten dengan termometer yang sempat ia bawa.
"Aku baik-baik saja, selama tidak pusing semuanya aman. Kau kan sudah janji mau mengajakku melihat matahari terbit." Balas Ten seraya mencebikkan bibirnya.
"Lain kali saja ya, kita bisa kembali tidur hari ini." Tegas Johnny, ia benar-benar tak mau hal buruk terjadi pada istrinya itu.
"Ayolah John, aku tak mau mengacaukan rencana yang sudah kau pikirkan matang-matang itu." Ucap Ten, ia mulai bangkit dan memasang puppy eyes andalannya berharap Johnny akan luluh dan mengabulkan keinginannya.
"Baiklah…. Tapi jika merasa pusing segera katakan padaku." Ucap Johnny. Ten mengangguk semangat dan mulai memasuki kamar mandi, ia berniat membersihkan diri dengan air hangat, rasanya akan sangat sesuai di cuaca yang cukup dingin pagi ini.
Setelah perdebatan cukup panjang, Ten dan Johnny mulai melajukan kendaraan mereka menuju ke puncak Seongsan. Disana matahari terbit akan terlihat dengan sempurna, tak heran tempat tersebut memiliki daya tarik tersendiri untuk para turis, entah itu domestik ataupun mancanegara. Ten terlihat menikmati matahari terbit dengan senyum indah yang terpatri di wajah cantiknya, Johnny nampak memeluk istrinya itu dari belakang. Lagi-lagi pria tampan itu dapat mendengar Ten bergumam terima kasih, Johnny hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ten dan mereka kembali fokus menikmati pemandangan indah yang tersaji di hadapan mereka. Setelah puas menikmati matahari terbit pagi itu, Johnny kembali mengajak Ten untuk pergi ke tempat lain. Saat di mobil Ten tak henti-hentinya memamerkan foto yang berhasil ia abadikan kemarin, ternyata diam-diam wanita itu juga memotret Johnny saat pria itu sedang tidak sadar. Namun Johnny terlalu sempurna, tanpa aba-aba pun hasil fotonya sukses memanjakan mata Ten hingga wanita itu merasa hatinya begitu menghangat.
Johnny membawa Ten untuk mengunjungi pantai Hamdeok yang lagi-lagi menyajikan pemandangan yang begitu indah. Airnya berwarna biru zamrud dan tak lupa terdapat mercusuar yang sukses menarik perhatian Ten. Ten yang saat itu mengenakan kemeja putih dipadukan dengan celana jeans berwarna biru meminta Johnny mengabadikan momen indah hari itu. Ten tersenyum cerah melihat hasil foto yang diambil Johnny beberapa menit lalu, sungguh indah, pikir Ten. Apalagi dilengkapi dengan latar belakang air kebiruan yang ada di belakangnya.
"Ramai sekali ya disini." Ucap Ten saat mereka mulai berjalan di bibir pantai. Memang jika dibandingkan dengan pantai Hyeopjae yang mereka kunjungi kemarin, pantai Hamdeok terlihat begitu ramai sekalipun masih pagi.
"Airnya akan pasang di sore hari, jadi banyak orang lebih suka mengunjungi Hamdeok di pagi hari. Lagipula pemandangannya juga indah." Balas Johnny. Ten nampak ber oh ria menanggapi perkataan Johnny. Wanita itu sibuk membenamkan kakinya ke dalam pasir putih yang menciptakan sensasi geli untuknya.
"John, bagaimana jika kita menyelam. Apa itu masuk ke agenda karya wisata juga?" Tanya Ten dengan senyuman jahil. Johnny mendekati Ten dan menggeleng keras menanggapi perkataan istrinya itu. Memang beberapa hari yang lalu ia berniat mengajak Ten menyelam namun kondisi tubuh wanita itu sedang tidak terlalu baik hari ini, Johnny tak mau mengambil resiko dan melihat istrinya itu berakhir di rumah sakit.
"Tidak. Lain kali saja kita menyelam bersama." Ucap Johnny, Ten nampak mencebikkan bibirnya terlebih saat melihat banyak orang yang turun dari kapal dan mulai menyelam.
"Kenapa? Cuacanya juga bagus hari ini." Balas Ten, ia berusaha merayu suaminya itu.
"Tidak Ten. Ayo kita sarapan, kau sudah lapar kan?" Ucap Johnny, ia menggenggam jemari Ten dan membawanya ke sebuah restoran, tak dipungkiri Ten memang merasa sudah cukup lapar pagi itu.
Sesuai dugaan Ten menikmati banyak makanan hari itu. Ia benar-benar tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk memakan apapun yang ada di Jeju. Johnny juga tampak menikmati sarapannya dengan tenang dan jangan lupakan pemandangan indah yang tersaji di hadapan mereka saat ini. Benar-benar berhasil memanjakan mata.
"John kau tak berniat membuka agen perjalanan." Ucap Ten, Johnny hampir saja tersedak mendengar perkataan istrinya itu.
"Aku serius tahu, turmu sama sekali tak mengecewakan. Kau bahkan seperti hafal di luar kepala seluruh penjuru Jeju." Ucap Ten.
"Aku cukup sering berkunjung kemari saat masih sekolah menengah." Balas Johnny.
"Orang kaya memang berbeda ya, bahkan aku hanya pernah pergi ke Jeju sekali saat sekolah menengah." Ujar Ten.
"Seharusnya kita bertemu sejak masih di sekolah menengah." Ucap Johnny, Ten memberikan tatapan aneh ke arah Johnny setelah mendengar perkataan suaminya itu.
"Kalau kita bertemu sejak sekolah menengah kau pasti tak akan berangkat ke Amerika. Kau pasti akan bertahan di sisiku sejak lama." Balas Ten dengan senyuman kekanakkan.
"Percaya diri sekali." Ucap Johnny seraya memutar bola matanya malas.
Setelah puas menikmati banyak makanan dan siang mual menjelang, Johnny dan Ten kembali bergegas ke lokasi Selanjutnya. Johnny mengajak Ten untuk mengunjungi gua Manjanggul, pria itu berani menjamin ini adalah pengalaman pertama bagi Ten untuk mengunjungi gua. Sesuai dugaan Johnny, Ten nampak begitu antusias saat mereka mulai memasuki gua. Wanita itu nampak terkagum-kagum setelah mendapati pemandangan stalaktit dan stalagmit yang indah. Ten kembali memotret banyak hal yang menurutnya menarik.
"John, coba kau kesana sebentar." Ucap Ten. Ia menyuruh Johnny untuk berdiri di tengah gua. Pria tampan itu menurut saja, lagipula apa yang diminta Ten bukan suatu hal yang sulit.
"Lihat kesini. Aigo…. Suamiku tampan sekali." Ucap Ten, ternyata wanita itu sibuk memotret Johnny sejak tadi. Ten menunjukkan hasil fotonya pada Johnny dan pria tampan itu merampas dengan paksa ponsel milik istrinya.
"John, kemarikan. Jangan dihapus." Ucap Ten, ia berusaha menggapai ponselnya yang berada di tangan kekar Johnny. Tak berapa lama kemudian Johnny menyerahkan ponsel itu kepada si pemilik. Ten membelalakkan matanya saat mendapati foto Johnny yang menjadi wallpaper ponselnya kali ini.
"Aish…. Kenapa diganti." Ucap Ten seraya mencebikkan bibirnya.
"Jangan diganti, lagipula aku tampan disitu." Balas Johnny, benar-benar pria yang narsis, pikir Ten.
Ten dan Johnny menikmati Suasana gua sampai sore menjelang. Saat sore hari Ten memaksa Johnny untuk mengantarnya ke Seogwipo. Ten berencana untuk membeli oleh-oleh dan mengirimnya ke rumah mereka. Johnny sama sekali tidak masalah, lagipula itu akan mengurangi beban mereka saat pulang nanti. Setelah puas memesan beberapa oleh-oleh dan mengatur waktu pengiriman, Ten dan Johnny kembali menikmati pemandangan malam di Seogwipo. Johnny menggenggam erat jemari Ten yang ia rasa cukup menghangat, tiba-tiba saja wanita itu menempelkan kepalanya di dada bidang Johnny. Pria itu cukup terkejut dengan perubahan sikap Ten yang tiba-tiba. Johnny sadar jika napas Ten cukup memburu dan keringat mulai membanjiri keningnya. Pria itu nampak terkejut saat mendapati suhu tubuh Ten yang bahkan lebih tinggi dari tadi pagi.
"Ten…. Ten…. Kau mendengarku?" Ucap Johnny, ia terlihat sangat khawatir setelah mendapati tubuh Ten yang cukup lemas malam itu.
"Pusing John…." Lirih Ten, ia mulai merasa kepalanya seperti ditekan beban berat. Ten mulai merasa pandangannya kabur dan tak lama kemudian tubuhnya benar-benar terkulai lemas di dekapan Johnny. Pria itu panik bukan main, Johnny bergegas menggendong Ten dan membawanya ke mobil. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi untuk menuju ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Ten ditangani oleh dokter yang ada di sana, dokter bilang Ten hanya kelelahan dan butuh waktu istirahat selama beberapa jam kedepan. Dua jam kemudian Ten mulai tersadar dari pingsannya dan mendapati diirnya tengah berbaring di ranjang rumah sakit dengan pemandangan wajah panik Johnny yang ada di dekatnya.
"Masih pusing?" Tanya Johnny seraya meraba kening Ten.
"Sedikit. Maaf aku pasti membuatmu khawatir." Ucap Ten.
"Sudah kubilang sejak tadi, kalau merasa pusing katakan saja. Kau tak perlu bersusah payah menahannya." Ucap Johnny, ia sedikit kesal dengan sikap Ten hari itu.
"Aku tak mau mengacaukan tur kita." Balas Ten seraya mencebikkan bibirnya.
"Besok kita pulang ke Seoul." Ucap Johnny final.
"Yah, kenapa? Kau bilang kita masih punya satu hari disini." Ucap Ten, ia cukup kecewa mendengar perkataan Johnny hari itu.
"Kita pulang ya, lain waktu bisa kesini lagi kan?" Ucap Johnny, ia mengelus lembut surai hitam Ten. Wanita itu akhirnya mengangguk pasrah, lagipula ia sudah cukup puas dengan liburan yang telah Johnny berikan.
"John ke hotel saja." Ucap Ten, lagipula infusnya sebentar lagi habis.
"Yakin?" Tanya Johnny.
"Hum…. Lebih nyaman tidur di hotel." Balas Ten, Johnny mengangguk pasrah dan mulai keluar dari ruang rawat Ten untuk mengurus administrasi dan memanggil dokter.
Sesampainya di hotel, Ten langsung tertidur lelap. Menyisakan Johnny yang harus merapikan barang bawaan mereka yang cukup banyak. Pria itu bergegas memesan tiket pesawat untuk esok hari dan menyusul Ten yang telah terlarut dalam alam mimpinya.
