24. When the Doctor Met the Rose

Sepulangnya Ten dan Johnny dari agenda bulan madu, mereka kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Johnny sibuk dengan perusahaannya sedangkan Ten kembali ke panti asuhan untuk membantu para suster disana sekaligus mengajar di taman kanak-kanak. Setelah selesai dengan semua urusannya di panti asuhan, Ten memutuskan untuk menemui Jungwoo di tempat kerjanya. Beberapa hari lalu wanita itu sempat menghubungi Ten, katanya ia baru saja menjalin kasih dengan Lucas si aktor tampan yang sudah sangat Ten kenal. Ten senang bukan main, akhirnya mimpinya melihat Jungwoo dan Lucas menjalin kasih menjadi kenyataan. Dan hari ini rencananya Ten akan mengulik cerita cinta pasangan fenomenal itu.

Jungwoo berkacak pinggang saat mendapati Ten tengah menikmati kopi di ruangannya. Bahkan Ten sudah menganggap ruang kerja Jungwoo sebagai miliknya, benar-benar teman yang merepotkan, pikir Jungwoo.

"Jadi bagaimana bulan madunya?" Tanya Jungwoo membuka pembicaraan, ia terlihat tengah merapikan beberapa sketsa yang terlihat berceceran di atas meja.

"Eiy…. Jangan mengalihkan pembicaraan, coba ceritakan bagaimana akhirnya kau bisa menjalin kasih dengan Lucas." balas Ten seraya menggoda Jungwoo.

"Nanti kita bahas itu, kurasa kau akan lebih tertarik setelah melihat ini." Ucap Jungwoo seraya menyodorkan amplop coklat yang terlihat begitu elegan. Ten menerima amplop pemberian Jungwoo dan setelah membukanya ia begitu terkejut dengan apa yang ia dapati disana.

"Mwo! Taeyong eonni dan Jung seonsaengnim? Sejak kapan?" Ucap Ten setelah membaca undangan pernikahan Taeyong yang akan dilakukan seminggu lagi.

"Itu sebabnya aku mengundangmu kemari. Kita akan bertemu dengan Taeyong eonni di café yang biasanya. Kajja…. Sepertinya Taeyong eonni sudah menunggu." Ucap Jungwoo, ia bangkit berdiri seraya mengambil tas nya yang tergeletak di atas meja.

Ten dan Jungwoo menatap tajam ke arah Taeyong. Mereka benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita di hadapannya itu. Tiba-tiba saja datang dan memberikan undangan, bukankah itu terlalu mengejutkan. Taeyong yang ditatap tajam hanya tersenyum tanpa dosa dan memutuskan untuk menceritakan semuanya pada dua wanita di hadapannya itu. Tentang bagaimana ia bertemu dengan Jaehyun sampai akhirnya memutuskan untuk menikah dengan dokter tampan berlesung pipi itu, jadi inilah sepenggal kisah tentang Jaehyun dan Taeyong.

Flashback On

Pagi itu Taeyong pergi ke butik milik ibunya untuk mengecek beberapa gaun yang didesain khusus untuk artis yang bernaung di agensi tempatnya bekerja. Saat tengah berjalan, Taeyong mendapati pintu ruangan Jungwoo yang terbuka dan si wanita tinggi yang terlihat duduk di kursi miliknya dengan bahu bergetar. Taeyong terlihat panik, seingatnya Jungwoo adalah pribadi yang ceria dan sangat jarang menunjukkan kesedihannya dan saat ini yang ia lihat di depan matanya adalah Jungwoo yang nampak menangis dengan bahu yang bergetar hebat.

"Woo…. Kau tak apa?" Tanya Taeyong seraya mengelus lembut punggung Jungwoo yang masih menangis.

"Eonni…." Bukannya menjawab pertanyaan Taeyong, Jungwoo malah bangkit berdiri dan mendekap Taeyong erat-erat.

"Hei, kau kenapa? Ada masalah apa?" Tanya Taeyong dengan kepanikan yang terdengar jelas dari nada suaranya.

"Ten- Ten- kecelakaan eonni." Jawab Jungwoo, setelah itu ia kembali banjir air mata. Taeyong terkejut bukan main mendengar kabar tentang Ten, seingatnya kemarin pagi ia masih sempat berbincang dengan wanita mungil itu.

"Lalu bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?" Taeyong nampak panik setelah mendengar berita kecelakaan Ten.

"Di- dia masih belum sadar dan anaknya tidak berhasil diselamatkan." Ucap Jungwoo terbata-bata. Pertahanan Taeyong runtuh seketika, matanya mulai berkaca-kaca setelah mendengar perkataan Jungwoo. Niat hati ingin menenangkan Jungwoo malah ikut menangis bersama Jungwoo hari itu.

Keesokan harinya Taeyong mengunjungi Yangji Hospital, ia berniat mengunjungi Ten yang masih terbaring lemah di ruang rawatnya. Taeyong masuk ke ruang rawat Ten dan cukup terkejut saat mendapati seorang dokter tampan tengah duduk di sofa seraya memainkan ponselnya. Taeyong cukup terkejut, ia pikir baru saja memasuki ruangan yang salah namun saat dicek kembali ini jelas kamar rawat milik Ten, tapi siapa lelaki itu, pikir Tayeong.

"Ah…. Tenang kau tidak salah masuk ruangan, ini benar ruangan Ten. Hanya saja Johnny menitipkannya sebentar padaku karena ia harus menyelesaikan beberapa urusan di kantor." Ucap pria di hadapan Taeyong. Wanita itu hanya mengangguk dan mulai mendekati ranjang Ten.

"Aku Jung Jaehyun, salah satu dokter disini." Ucap Jaehyun tiba-tiba. Taeyong yang tengah mengelus punggung tangan Ten, memutar sedikit tubuhnya untuk menatap Jaehyun yang saat ini tepat berada di belakangnya.

"Aku Lee Taeyong, temannya Ten. Kurasa kau sudah bisa pergi, aku akan menjaga Ten sampai Johnny kembali." Ucap Taeyong seraya tersenyum. Jaehyun menganggukan kepalanya dan meninggalkan ruang rawat Ten dengan dadanya yang tiba-tiba saja berdebar tak karuan, terlebih setelah melihat Taeyong dengan senyuman manisnya.

Selama Ten dirawat di rumah sakit, Taeyong cukup sering menjenguk Ten untuk menemaninya terlebih setelah mendengar berita dari Jungwoo jika Ten baru saja bertengkar hebat dengan Johnny. Taeyong seringkali bertemu dengan Jaehyun saat hendak menuju ke ruang rawat Ten, namun mereka belum sempat berbincang banyak terlebih Jaehyun merupakan salah satu dokter yang sibuk di Yangji Hospital. Setelah Ten pulang dari rumah sakit, Taeyong dan Jaehyun tak pernah lagi bertemu. Jaehyun merasa seperti ada ruang kosong yang hampa dalam hatinya saat sehari saja tak menemui Taeyong. Jaehyun baru berniat menghubungi Ten untuk mencari tahu soal Taeyong saat tiba-tiba saja ia yang sedang fokus memainkan ponselnya menabrak seseorang sampai barangnya ikut berhamburan.

"Astaga, maafkan aku…." Ucap Jaehyun, ia menyimpan ponselnya ke saku dan bergegas membantu wanita yang baru saja ia tabrak.

"Jaehyun-ssi?" Ucap Taeyong. Jaehyun yang sudah sangat kenal dengan suara lembut itu mendongakkan kepalanya yang mendapati jika wanita yang ia tabrak beberapa menit lalu adalah Taeyong yang sedang sangat ia rindukan.

"Ah Taeyong-ssi, maaf aku tak melihatmu tadi jadi berantakan semua barang-barangmu." Ucap Jaehyun.

"Ah tidak apa. Aku juga terlalu terburu-buru tadi." Balas Taeyong seraya tersenyum cerah. Senyuman yang sama yang mampu membuat hati Jaehyun berdebar seperti beberapa minggu yang lalu.

"Kau sedang ada urusan disini?" Tanya Jaehyun. Saat ini mereka tengah berjalan beriringan menuju ke kantin rumah sakit setelah Jaehyun bersikeras mengajak Taeyong makan bersama sebagai upaya permintaan maaf.

"Aku akan mengambil hasil medical check-up yang baru saja keluar." Ucap Taeyong.

"Kau rutin melakukan medical check-up disini?" Tanya Jaehyun penasaran.

"Hum…. Sudah sejak lama aku dan keluargaku selalu periksa disini." Ucap Taeyong seraya menganggukan kepalanya. Kemana saja Jaehyun selama ini hingga baru menemui bidadari secantik Taeyong, pikir pria itu.

Sejak peristiwa tabrakan mereka di koridor rumah sakit, Jaehyun dan Taeyong menjadi semakin dekat. Mereka sudah saling bertukar nomor ponsel dan seringkali menanyakan kabar satu sama lain bahkan tak jarang mereka meluangkan waktu bersama setiap akhir pekan setelah semua rutinitas penat yang mereka lalui. Dari pertemuan rutin itu Taeyong jadi paham jika Jaehyun bukan sekedar dokter biasa di Yangji Hospital melainkan calon pewaris tunggal seluruh jaringan rumah sakit milik keluarga Jung, Taeyong baru paham hal itu setelah pertemuan ketiga mereka di café kesukaan Taeyong. Tak hanya Taeyong yang paham seperti apa Jaehyun, pria berlesung pipi itu juga menyadari jika Taeyong bukanlah pegawai biasa di agensi besar korea. Ia berhasil menduduki jabatan tinggi di SM Entertainment di usia muda dan jangan lupakan ibunya yang merupakan desainer terkenal dengan butik yang tersebar dimana-mana.

Malam ini Taeyong nampak tengah menunggu Jaehyun datang menjemputnya. Pria itu sudah berjanji padanya jika mereka akan pergi ke Sungai Han untuk menikmati pemandangan malam, Taeyong sangat setuju dengan ide Jaehyun lagi pula ia sudah cukup bosan terlalu sering pergi ke café. Mobil mewah Jaehyun nampak menepi di halaman rumah keluarga Lee yang disusul Taeyong yang berlari kecil untuk menghampiri Jaehyun. Taeyong memberikan senyuman terbaiknya pada Jaehyun dan mereka memulai perjalanan ke Sungai Han. Taeyong dan Jaehyun nampak tengah menikmati mie instan di pinggir Sungai Han. Mereka sesekali berbincang tentang banyak hal, entah itu masalah pekerjaan atau tentang masalah rumit mereka dalam menjalani kehidupan. Taeyong yang baru saja selesai dengan mie instan miliknya nampak menghela napas panjang, entah kenapa ia merasa kepalanya begitu ramai, seperti banyak beban yang saling bersahutan. Bekerja di industri entertainment memang tak semudah yang ia kira, terlebih ia selalu memikirkan Ten yang sudah membulatkan tekadnya untuk menceraikan Johnny. Taeyong benar-benar merasa iba pada wanita mungil yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.

Jaehyun yang seolah mampu memahami ekspresi gusar yang terpancar jelas di wajah cantik Taeyong mulai menolehkan wajahnya. Ia menatap lekat wajah Taeyong dari samping yang entah kenapa malah terlihat begitu sempurna.

"Kau punya bekas luka?" Tanya Jaehyun setelah melihat bekas luka yang terdapat di dekat mata kanan Taeyong.

"Terlihat jelas ya?" Tanya Taeyong berusaha menutupi bekas luka itu dengan rambut panjangnya.

"Kenapa ditutupi, itu indah." Ucap Jaehyun.

"Yang benar saja, sejak kapan wanita dengan bekas luka terlihat begitu menarik." Ucap Taeyong seraya mencebikkan bibirnya. Untuk pertama kalinya Taeyong menunjukkan bekas lukanya pada dunia dan Jaehyun adalah orang pertama yang melihatnya setelah selama ini ia selalu berusaha keras untuk menutupinya.

"Bentuknya indah, seperti bunga mawar. Kau terlihat lebih cantik dengan bekas luka itu. Bukankah kau selalu bilang tak ada manusia yang sempurna di dunia ini?" Ujar Jaehyun, Taeyong menatap manik kecoklatan Jaehyun dengan netra indah miliknya entah kenapa mendengar Jaehyun mengatakan hal itu mampu membuat hati Taeyong berdesir kencang. Tiba-tiba saja kembang api saling beradu di angkasa bersamaan dengan dada Taeyong yang ikut bergemuruh. Mereka berdua menikmati pemandangan indah malam itu tanpa ada yang tahu jika kedua belah pihak merasakan dada mereka begitu bergemuruh seiring berjalannya waktu.

Setelah peristiwa malam itu, Taeyong tak lagi menutupi bekas lukanya dengan foundation seperti yang biasa ia lakukan. Dengan berani ia menunjukkan pada dunia tentang apa yang ia miliki. Sore ini Jaehyun tiba-tiba saja mengajaknya untuk kembali bertemu setelah sekian lama tak berjumpa karena disibukkan dengan urusan masing-masing. Taeyong mendatangi Jaehyun yang nampak terduduk di sudut café dengan wajah tampannya yang selalu mempesona seperti biasa. Mereka berdua kembali berbicara tentang banyak hal sampai akhirnya tindakan Jaehyun berhasil membuat Taeyong cukup terkejut. Jaehyun menyodorkan sebuah kalung indah di hadapan Taeyong bersamaan dengan pria itu yang meminta Taeyong menjadi kekasihnya. Manik indah Taeyong yang selalu berkilau tiba-tiba saja berkaca-kaca, ia menutup mulutnya untuk menahan tangis yang sepertinya siap meledak kapan saja. Setelah semua pemikiran yang beradu di otaknya akhirnya Taeyong menerima Jaehyun sebagai kekasihnya. Pria itu dengan semangat memakaikan kalung yang sejak tadi ia bawa ke leher putih Taeyong.

Hubungan mereka terjalin cukup bahagia, mereka berdua seolah memang diciptakan oleh Tuhan untuk saling melengkapi satu sama lain dan saling menerima kekurangan masing-masing. Setelah berbulan-bulan berkencan dan merasakan pasang surut dalam hubungan mereka akhirnya suatu malam di café yang cukup indah Jaehyun memutuskan untuk melamar kekasih hatinya. Meminta wanita itu untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak sekaligus meminta Taeyong menjadi guru dari sekolah yang ia pimpin nantinya bersama anak-anak mereka yang menjadi muridnya. Taeyong menangis keras malam itu, ia tak menyangka Jaehyun akan melamarnya secepat ini setelah semua perjalanan mereka. Dengan penuh keyakinan Taeyong menerima Jaehyun menjadi pendamping hidupnya dan berharap jika kebaikan dunia akan selalu berpihak pada mereka berdua nantinya.