25. Gundam Pembawa Cinta

Hari ini adalah pernikahan Jaehyun dan Taeyong. Ten dan Johnny nampak sibuk sejak pagi, Johnny terlihat keluar masuk walk in closet kamar mereka dan berhasil membuat Ten pusing sendiri melihatnya.

"John, kau cari apa sih. Sejak tadi kesana kemari." Ujar Ten, lama-lama ia jengah juga melihat suaminya yang terlihat seperti setrika.

"Kau lihat dasi yang diberikan Jaehyun beberapa hari lalu? Kurasa aku sudah menyimpannya tapi tak ada di dalam." Ucap Johnny, ia terlihat tengah sibuk mengancingkan kemeja putihnya.

"Coba bilang sejak tadi. Ini…." Ujar Ten, ia menyodorkan dasi kupu-kupu warna hitam yang sempat diberikan Jaehyun pada Johnny sebelum hari pernikahannya. Jadi rencananya hari ini Johnny dan Yuta didapuk menjadi bestmen oleh Jaehyun, Johnny dan Yuta jelas menurut saja lagipula itu sama sekali tak merepotkan mereka berdua.

Ten nampak tengah mematut dirinya di depan cermin. Membenahi tatanan rambutnya yang sudah disiapkan sejak tadi dan merapikan gaun yang sedang ia kenakan. Hari ini Ten tampak cantik dengan balutan gaun warna pink pastel selutut dan high heels berwarna senada, jangan lupakan wajah cantiknya yang disapukan sedikit make up dan berhasil menambah derajat kecantikannya.

"Aish…. Bisa cari gaun lain tidak si." Johnny berdecak kesal seraya menyampirkan jas hitamnya ke bahu Ten. Maklum saja gaun yang Ten kenakan kali memang agak sedikit terbuka di bagian bahu.

"Yang ini bagus John, pokoknya tidak mau ganti." Ucap Ten final.

Setelah selesai dengan semua persiapan mereka, Ten dan Johnny bergegas pergi ke tempat Taeyong dan Jaehyun melangsungkan pernikahan. Di gedung yang cukup mewah itu Ten dan Johnny harus berpisah. Ten memilih menemui Taeyong bersama dengan Jungwoo, sedangkan Johnny memilih untuk menemani Jaehyun yang sejak tadi bilang jantungnya seperti ingin lepas.

"Eonni…. Cantik sekali." Ucap Ten saat mulai memasuki ruangan Taeyong.

"Ten, bagaimana ini jantungku rasanya ingin meloncat dari tempatnya." Ucap Taeyong seraya membawa tangan Ten untuk menyentuh dadanya yang sudah amat berdebar.

"Calon suamimu juga begitu, sejak pagi dia menghubungi Johnny dan bilang jantungnya seperti ingin keluar. Padahal dia kan dokter masih saja bermain-main dengan jantung." Ucap Ten sedikit kesal.

"Aish…. Kau ini." Ucap Jungwoo yang berada di sebelah Ten.

"Woo nanti kau tangkap bouquet nya ya." Ucap Ten seraya menyenggol lengan Jungwoo. Yang diajak bicara hanya tersenyum malu-malu seolah tak berniat menanggapi perkataan Ten.

Obrolan tiga wanita cantik itu terhenti karena tiba-tiba saja seorang wanita nampak menginterupsi mereka di ambang pintu masuk. Taeyong tersenyum cerah mendapati kedatangan wanita itu dan menyuruhnya masuk ke dalam. Jungwoo bergegas memeluk wanita itu menyisakan Ten yang terlihat kebingungan dan bertanya-tanya.

"Ah iya kenalkan ini Ten, temanku dan Jungwoo." Ucap Taeyong memperkenalkan Ten pada wanita itu.

"Annyeonghaseyo Ten imnida." Ucap Ten seraya mengulurkan tangannya pada wanita cantik di hadapannya.

"Aku Winwin, salah satu model di agensi tempat Taeyong eonni bekerja." Ucap wanita itu. Ten mengangguk mengerti, pantas saja Jungwoo terlihat cukup akrab dengan wanita itu, pikirnya.

"Kukira kau tak akan datang." Ucap Taeyong.

"Mana mungkin aku tak datang ke acara pernikahan mu." Balas Winwin seraya terkekeh.

"Tentu saja, kau memang harus datang. Siapa tahu nanti bertemu dengan jodohmu disini." Ucap Taeyong sedikit menggoda Winwin yang mulai terlihat malu-malu.

Tak berapa lama kemudian acara pemberkatan pernikahan dimulai. Ten dapat melihat dengan jelas rona bahagia yang terpancar di wajah kedua mempelai, seandainya dulu ia merasakan hal yang sama saat menikah dengan Johnny, pikir Ten. Acara resepsi telah dimulai, pasangan rupawan itu memilih konsep garden party. Para tamu undangan terlihat ikut bersuka cita atas bersatunya dua mempelai. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, Taeyong bersiap melempar bouquet yang ada di tangannya. Ten nampak terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya. Bouquet bunga mendarat mulus di tangan Yuta dengan pose yang seolah sedang melindungi Winwin supaya tak terkena lemparan bunga. Jaehyun dan Johnny bersorak heboh melihat Yuta berhasil mendapatkan bouquet bunga, mereka terlihat bertepuk tangan dengan meriah dan berharap sahabat Jepangnya itu bisa segera mengakhiri masa lajangnya.

"Ah maaf, aku tak bermaksud lain." Ucap Yuta pada Winwin yang terlihat malu-malu.

"Tidak apa-apa, terima kasih banyak. Jika kau tak menangkapnya mungkin bouquet itu akan mendarat di wajahku." Ucap Winwin, semburat merah terlihat muncul di pipinya dan tiba-tiba saja Yuta merasa jantungnya berdetak tak karuan saat netra tajam miliknya bertemu dengan netra milik Winwin yang tak kalah indahnya.

"Aku Yuta, teman Jaehyun saat kuliah." Yuta memberanikan diri berkenalan dengan Winwin yang saat ini ada di hadapannya.

"Ah aku Winwin, salah satu model di tempat Taeyong eonni bekerja." Ucap wanita itu, Yuta mengangguk menanggapi perkataan Winwin. Pantas saja ia sangat tinggi, pikir Yuta.

"Mau bergabung kesana, disana ada Lucas juga jadi kau tak perlu canggung." Ucap Yuta, ia berusaha mengajak Winwin untuk menuju ke arah pasangan lain yang nampak sedang menikmati kudapan.

"Win…. Ku kira kau masih di Perancis." Itu suara Lucas yang memecah keheningan, ia terlihat cukup kaget mendapati rekan kerjanya hari itu. Jungwoo memutar bola matanya malas kekasihnya itu memang sangat tampan tapi tingkahnya terkadang tidak sepadan dengan ketampanannya, pikir Jungwoo.

"Aku sudah kembali dari Perancis dua hari yang lalu." Ucap Winwin, ia mulai bergabung dengan yang lainnya.

Mereka mulai mengobrol tentang banyak hal setelah sebelumnya Winwin menyempatkan untuk memperkenalkan diri pada Johnny yang tengah sibuk mengomeli Ten karena bahunya terlihat begitu terbuka. Yuta yang berdiri tak jauh dari Winwin sejak tadi meraba dada bidangnya, seolah ada sesuatu yang berdetak kencang disana. Johnny yang paham dengan gelagat aneh Yuta menyenggol tangan pria Jepang itu dan meledeknya, ia rasa sahabatnya itu sedang jatuh cinta.

Hari itu dewi fortuna seolah benar-benar tengah berpihak pada Yuta, dengan berani pria Jepang itu mengajak Winwin pulang bersama seusai mereka menghadiri pesta pernikahan Taeyong dan Jaehyun. Winwin awalnya sempat ragu, terlebih ia adalah model yang karirnya sedang menanjak. Ia tak mau paparazzi mengikutinya saat sedang bersama Yuta karena menurutnya Yuta pasti tak akan suka dengan hal itu. Jungwoo yang paham akan keraguan yang terpancar jelas di wajah cantik Winwin meminta Lucas untuk meyakinkan sahabatnya itu, lagipula Yuta adalah orang yang baik, tidak ada salahnya kan jika mereka pulang bersama, pikir Jungwoo. Di mobil keheningan tampak menguasai mereka berdua, Yuta yang selalu dicap sebagai overconfidence guy tiba-tiba saja diam seribu bahasa saat disandingkan dengan Winwin. Winwin yang aslinya tak terlalu banyak bicara tentu saja terlarut sempurna dengan suasana saat itu.

"Kau sudah lama menjadi model?" Tanya Yuta membuka pembicaraan.

"Hum…. Kurang lebih tiga tahun." Jawab Winwin seraya menganggukan kepalanya.

"Apa kau juga dari Hongkong sama seperti Lucas?" Tanya Yuta.

"Ah tidak, aku dari China. Hanya saja memang sejak awal berada di Korea aku berteman dengan Lucas jadi kami cukup dekat." Jelas Winwin, Yuta menganggukan kepalanya tanda mengerti atas penjelasan wanita tinggi itu. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua, baik Yuta ataupun Winwin kembali terlarut dalam pemikiran masing-masing.

Winwin mulai bosan, kepalanya bergerak kesana-kemari dan tiba-tiba saja mata sipitnya membulat saat melihat kotak gundam yang ada di belakang jok mobil Yuta.

"Kau suka gundam juga?" Tanya Winwin, nada suaranya terdengar begitu antusias. Yuta cukup terkejut dengan pertanyaan Winwin, namun akhirnya ia menganggukan kepalanya semangat. Mungkin saja gundam bisa jadi pemersatu untuknya dan Winwin.

"Ah benar juga kau dari Jepang pasti suka gundam." Ucap Winwin. Yuta tertawa cukup keras, ia merasa terkejut dengan jalan pikiran wanita disampingnya itu.

"Belum tentu juga semuanya suka. Kau bagaimana?" Tanya Yuta.

"Aku suka sekali. Saat sedang tidak ada jadwal aku biasa menghabiskan waktu untuk merakit gundam." Ucap Winwin penuh semangat. Yuta tak menyangka jika wanita yang terlihat feminim seperti Winwin menyukai barang rumit serupa gundam.

Mobil Yuta mulai menepi di tempat parkir apartemen Winwin yang terbilang cukup mewah. Winwin mengucap terima kasih pada Yuta sebelum akhirnya benar-benar turun dari mobil dan meninggalkan Yuta yang tengah berbunga-bunga karena baru saja mendapatkan nomor ponsel sang bidadari.

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah tiga bulan lamanya sejak pertemuan pertama antara Winwin dan Yuta. Entah sadar atau tidak mereka berdua mulai saling membutuhkan satu sama lain. Mereka sering menyempatkan waktu untuk saling bertemu sekalipun itu hanya merakit gundam atau membicarakan tentang anime yang baru-baru ini mereka tonton. Biasanya Yuta yang akan datang ke apartemen Winwin, pria Jepang itu nampak terkejut saat pertama kali datang ke apartemen mewah milik Winwin. Disana ada satu lemari kaca yang penuh dengan gundam yang sudah selesai dirakit oleh wanita cantik itu. Ada pula tumpukan kardus yang belum sempat Winwin buka. Winwin bilang dulu saat ia baru memulai karirnya di Korea, ia akan memiliki banyak waktu luang dan punya banyak waktu untuk mengurus gundam-gundam kesayangannya. Namun sekarang hal itu hampir mustahil apalagi setelah namanya semakin dikenal di industri model, rasanya bisa makan tepat waktu saja Winwin sudah sangat bersyukur.

Pagi ini Yuta menyempatkan datang ke kantornya sekalipun di hari sabtu, suasananya nampak cukup sepi karena memang ini hari libur untuk perusahaannya. Saat hendak pergi ke ruangannya tiba-tiba saja Yuta dikejutkan dengan siluet wanita yang terlihat begitu familiar untuknya. Saat Yuta tengah asyik berpikir tiba-tiba saja wanita itu menghampirinya dan membuka kacamata serta masker hitam yang ia gunakan sejak tadi.

"Yuta-san…." Itu Winwin sedikit berteriak, matanya terlihat berbinar cerah seperti yang selalu Yuta lihat.

"Kenapa kesini? Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Tanya Yuta, jujur saja ia cukup panik saat ini. Untung saja kondisi perusahaannya sedang sepi.

"Aku bosan di apartemen, teman-temanku yang lain juga tak bisa dihubungi." Ucap Winwin. Yuta mengangguk dan mengajak Winwin masuk ke ruangannya, pria Jepang itu membiarkan Winwin duduk di sofa yang berada di ruangannya, membiarkannya menunggu Yuta menyelesaikan pekerjaannya.

"Ada gundam edisi khusus, aku mau beli. Bisa temani?" Tanya Winwin, ia melihat Yuta yang sudah selesai dengan sederet berkas yang sejak tadi ia periksa.

"Benarkah? Coba lihat!" Yuta, menarik ponsel Winwin dan melihat gundam yang terpampang di layar ponsel canggih tersebut.

Setelah menyelesaikan semua urusannya, Yuta mengajak Winwin pergi ke toko mainan untuk membeli gundam yang ia inginkan. Saat mobil mewah Yuta menepi di depan toko mainan Winwin terlihat begitu ragu, padahal beberapa menit yang lalu ia terlihat bersemangat membayangkan jika gundam edisi khusus itu menjadi miliknya.

"Yuta-san maaf, diluar ramai sekali. Sepertinya aku disini saja." Ucap Winwin, ia yang semula berniat membuka masker dan kacamatanya mengurungkan niatnya begitu melihat kerumunan yang cukup ramai di depan toko mainan.

"Kau disini saja, biar aku yang keluar." Ucap Yuta, Winwin mengangguk seraya tersenyum manis membiarkan Yuta turun dari mobilnya dan perlahan menghilang dari pandangannya.

Tak butuh waktu lama pria itu kembali dengan paper bag berukuran cukup besar. Ia terlihat menghela nafas panjang setelah berhasil menerobos orang-orang yang masih terlihat berkerumun di depan toko mainan.

"Ini…." Ucap Yuta seraya menyerahkan paper bag yang sejak tadi ia bawa pada wanita disampingnya.

"Kok hanya satu, untukmu mana?" Tanya Winwin setelah melihat isi paper bag tersebut.

"Ah memang tinggal satu, untukmu saja. Aku masih bisa menunggu edisi selanjutnya." Ucap Yuta, ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan area toko mainan.

"Jangan seperti itu, kau yang sudah bersusah payah masuk ke dalam. Ini…. Untukmu saja." Ucap Winwin, ia menyodorkan kembali paper bag di tangannya pada Yuta.

"Sudah untukmu saja, anggap saja hadiah dariku. Mungkin sebentar lagi kau ulang tahun." Ucap Yuta asal.

"28 Oktober." Ucap wanita itu.

"Apa? Ulang tahun kita hanya berbeda dua hari, aku 26." Ucap Yuta, senyuman terlihat merekah sempurna di wajah tampannya.

"Jinjja? Wah menyenangkan sekali akhirnya punya teman ulang tahun." Ucap Winwin.

"Bagaimana jika kita kerjakan ini bersama-sama?" Usul Winwin, Yuta terlihat mengangguk menanggapi perkataan wanita itu.

"Ide bagus. Hubungi aku saat kau tak sibuk." Ucap Yuta.

Yuta mengantar Winwin kembali ke apartemennya setelah sebelumnya mereka makan bersama di sebuah restoran mewah. Awalnya Winwin sempat menolak mengingat betapa mahalnya untuk makan di restoran tersebut, namun Yuta memaksanya dan beralasan tak mau privasi Winwin terganggu. Jujur saja mendengar Yuta berucap demikian membuat hati Winwin kian menghangat. Yuta adalah pria pertama yang mempedulikan keadaannya dan itu cukup membuat Winwin senang.

Selama beberapa minggu Yuta menghitung mundur kepulangan Winwin dari Jepang. Wanita itu memiliki jadwal pemotretan di negeri matahari terbit dan sudah pergi kesana sejak dua minggu yang lalu. Mereka rutin melakukan panggilan video setiap malam terlebih lagi antara Korea dan Jepang tak ada perbedaan waktu yang menghalangi. Mengingat Winwin yang tengah berada di Jepang membuat Yuta merindukan kampung halamannya, rasanya sudah cukup lama ia berada di Korea, menjalankan perintah orang tuanya untuk mengurus cabang perusahaan keluarga Nakamoto yang cukup sukses di Korea. Yuta yang tengah melamun di ruangannya tiba-tiba saja dikagetkan dengan ponselnya yang berdering cukup nyaring, ada pesan masuk dari Winwin. Wanita cantik itu mengundang Yuta ke apartemennya sore ini dan rencananya mereka akan menyusun lego bersama.

Yuta mendatangi apartemen Winwin sepulangnya ia dari kantor setelah sebelumnya pria Jepang itu membersihkan diri terlebih dahulu di apartemen miliknya. Winwin menyambut Yuta dengan senyuman secerah biasanya, wanita cantik itu menguncir rambut panjangnya dan mengenakan hoodie abu abu yang dipadukan dengan celana jeans selutut berwarna hitam. Yuta terpaku sejenak, entah kenapa Winwin terlihat begitu memukau hari ini ataukah ini efek setelah tidak menemuinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Winwin membuka lemari kaca yang ada di apartemennya dan mengambil kotak gundam edisi terbatas yang sempat mereka beli beberapa hari yang lalu.

Sesekali mereka berdua terlihat bercanda dan saling usil satu sama lain saat tengah merakit gundam. Tiba-tiba saja Yuta teringat perkataan Lucas beberapa hari lalu saat mereka bertemu, "Gundam itu hal favorit Winwin di dunia ini, dia hanya membagikan itu pada orang-orang yang menurutnya penting." Kira-kira begitulah ucapan Lucas saat itu. Jadi mungkinkah Winwin sudah menganggap Yuta sebagai orang yang penting dalam hidupnya, pikir Yuta. Tak terasa mereka telah menghabiskan sepanjang malam untuk merakit gundam, tentu saja diselingi dengan menyantap ayam goreng beberapa menit lalu. Tiba-tiba saja Winwin meminta izin untuk ke dapur sebentar, ia beralasan ingin mengambil air mineral. Yuta mengangguk saja, lagi pula ia masih sibuk dengan gundam sejak tadi.

Happy birthday to you….

Happy birthday to you….

Happy birthday happy birthday….

Happy birthday to you….

Suara nyanyian yang mengalun lembut menyapa gendang telinga Yuta. Pria itu mendongakkan wajahnya dan mendapati Winwin berjalan ke arahnya dengan tart macha di tangannya. Yuta tersenyum senang, sedikit terkejut juga. Ia sampai tidak sadar jika hari ini tanggal 26 Oktober dan tepat pukul 12 malam.

"Otanjoubi Omedetou Yuta-san. Ah pasti berantakan sekali, maaf aku pakai google translate." Ucap Winwin seraya terkekeh.

Yuta tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Winwin, ia bergegas meniup lilin yang ada di kue tart tersebut dan mengucap terima kasih pada Winwin. Winwin tersenyum secerah matahari dan mereka berdua mulai menikmati kue tart itu seraya menatap pemandangan indah yang tersaji dari balkon apartemen Winwin. Yuta menatap Winwin yang ada di sampingnya lekat-lekat, rasanya ia benar-benar menginginkan Winwin menjadi miliknya.

"Ah hampir lupa ini kadonya…." Ucap Winwin, ia menyodorkan kotak yang sejak tadi ia sembunyikan di kantong ajaib hoodie kebesarannya. Yuta meraih kotak tersebut dan membukanya, ia tersenyum saat mendapati jam tangan mewah yang tersaji disana.

"Kenapa jam tangan?" Tanya Yuta.

"Karena kau tak pernah pakai." Ucap Winwin, sedetail itukah wanita itu mengenai Yuta, pikir pria Jepang itu.

"Kau harus selalu ingat waktu, kau tipe orang yang mudah terlarut dengan semua kesibukanmu. Semoga dengan adanya jam itu kau bisa lebih mengingat waktu dengan baik dan tentu saja mengingat siapa pemberi jam itu…." Ucap Winwin, ia sama sekali tak menatap ke arah Yuta, pandangannya lurus ke depan menikmati bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.

"Yuta-san…." Ucap Winwin lagi, entah mengapa Yuta sangat suka jika Winwin memanggilnya seperti itu, seolah Winwin memang memiliki tempat tersendiri di hatinya.

"Kita ini apa? Kau menganggapku hanya teman atau malah menganggapku sebagai adikmu?" Tanya Winwin setelah cukup lama terdiam. Yuta menatap lekat wajah cantik Winwin dan mulai menggenggam jemari lentik wanita itu. Perlahan Yuta mendekatkan dirinya pada Winwin dan dengan gerakan sekilas pria tampan itu menyambar bibir ranum Winwin membuat si pemilik terkejut bukan main. Yuta melepaskan ciuman mereka dan membawa Winwin dalam pelukannya, mengelus lembut punggung sempit milik wanita itu.

"Kau kekasihku mulai sekarang." Ucap Yuta mantap. Winwin tersenyum cerah dan membalas pelukan Yuta, ia bahkan menyandarkan kepalanya ke bahu bidang pria tampan itu.

"Kau ambil ciuman pertamaku." Ucap Winwin seraya mencebikkan bibirnya.

"Beruntungnya aku." Balas Yuta seraya terkekeh.

Dan di malam itu, di bawah sinar bulan yang begitu indah dua insan berbeda negara itu baru saja memulai hal baru dalam hidup mereka untuk saling memiliki dan saling melengkapi satu sama lain.