26. Tuxedo, I'm in Love

Namanya Kim Jungwoo, wanita cantik jelita yang merupakan sahabat terbaik yang dimiliki oleh Ten Lee. Disaat Ten disibukkan dengan urusan pekerjaannya di Seo Corp, Jungwoo disibukkan dengan banyak desain pakaian dari salah satu rumah mode terkenal. Siang itu Jungwoo yang tengah sibuk menyelesaikan salah satu gaun yang sedang ia buat tiba-tiba saja dipanggil ke ruangan atasannya. Wanita paruh baya itu meminta Jungwoo duduk di hadapannya dan menyerahkan foto seorang pria yang menurut Jungwoo cukup tampan.

"Itu Lucas, besok ia akan kemari untuk membuat tuksedo yang akan digunakan ke Baeksang Award." Ucap nyonya Lee selaku atasan Jungwoo.

"Tapi gaunnya-"

"Bukankah sebentar lagi selesai?" Tanya nyonya Lee.

"Ne, baik saya permisi dulu sajangnim." Ucap Jungwoo.

Jungwoo memasuki ruangannya dan menghela nafas cukup panjang. Menjadi desainer memang impian Jungwoo sejak lama, namun entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa tak memiliki ruang untuk bernapas. Bisa dibilang rumah mode tempat Jungwoo bekerja sedang naik daun akhir-akhir ini, terutama pakaian yang merupakan hasil karya Jungwoo. Beberapa hari ini banyak pelanggan yang meminta khusus pada Jungwoo untuk mendesain pakaian mereka, jujur saja Jungwoo mulai merasa kewalahan. Dan hari ini tiba-tiba saja satu orang lainnya datang dan meminta pada Jungwoo untuk dibuatkan tuksedo olehnya. Jungwoo terlihat frustasi, ia mengabaikan gaun yang sedang ia selesaikan dan memilih duduk di sofa seraya memainkan ponsel miliknya, ia berniat menghubungi Ten, seingatnya wanita mungil itu sedang ada di jam istirahat siang ini.

Jungwoo dan Ten berbincang tentang banyak hal, sampai pada akhirnya Jungwoo mengeluh tentang pekerjaannya dan membuat Ten terkekeh di seberang sana.

"Hei, tak apa mungkin si actor itu bisa mendongkrak karirmu lebih jauh lagi." Ucap Ten.

"Tapi rasanya aku tak bisa bernapas Ten, sibuk sekali rasanya akhir-akhir ini…." Ucap Jungwoo seraya memijat pelan pelipisnya.

"Jangan begitu, bukankah menjadi desainer adalah impianmu sejak lama. Kau sudah sampai disana, jangan sia-siakan kesempatan untuk jadi lebih hebat. Bukankah artinya Tuhan tengah membuka jalanmu lebar-lebar saat ini?" Ucap Ten, Jungwoo nampak terkekeh. Ten memang orang yang paling bisa Jungwoo andalkan, ternyata dibalik semua sifat cerobohnya wanita mungil itu masih memiliki sisi dewasa yang membuat orang lain begitu tenang.

"Aku tutup ya, aku ada rapat penting. Sampai jumpa akhir pekan ini Jungwoo ku sayang." Ucap Ten dengan nada candaan.

"Menjijikan…." Balas Jungwoo sebelum akhirnya mereka benar-benar mengakhiri percakapan siang itu.

Keesokan harinya Jungwoo terlihat kembali sibuk di kantor, ia nampak tengah memasang payet di gaun indah yang harus diselesaikan hari ini. Tiba-tiba saja pintu ruangannya terketuk dan seseorang yang Jungwoo kenal nampak muncul di ambang pintu.

"Eonni, Lucas sudah datang." Ucap wanita berpipi chubby di hadapan Jungwoo. Itu Denise pegawai intern yang kerapkali membantu Jungwoo menyelesaikan desain-desainnya.

"Ah iya, terima kasih Denise. Aku tinggal dulu ya, kau bisa teruskan bagian ini." Ucap Jungwoo, jemari lentiknya menunjukkan bagian mana yang harus Denise selesaikan. Wanita cantik itu mengangguk tanda mengerti dengan perintah yang diberikan Jungwoo.

Di sepanjang jalan untuk menemui Lucas, Jungwoo nampak merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan hari itu. Setelah merapikan penampilannya, Jungwoo mengetuk pintu ruangan itu dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Disana sudah dua orang pria dan dua orang wanita yang Jungwoo kenal sebagai Lee sajangnim dan anaknya yang kebetulan bekerja di agensi tempat Lucas bernaung.

"Ini Kim Jungwoo, yang akan membuatkan tuksedo untukmu." Ucap Taeyong, wanita itu memperkenalkan Jungwoo pada Lucas dan satu pria lain di sampingnya.

"Ah aku Jeongwon, manager Lucas. Senang berkenalan denganmu Jungwoo-ssi." Ucap pria disamping Lucas seraya menyodorkan tangannya pada Jungwoo dan disambut baik oleh wanita itu. Berbeda dengan managernya yang tampak ramah, Lucas nampak diam dan tak bergeming dibalik kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di hidung bangirnya, Jungwoo jadi bergidik ngeri, apa mungkin keputusannya untuk membantu Lucas adalah hal yang salah, pikirnya.

"Kalau begitu kami tinggal dulu, silahkan mulai konsultasinya." Lee sajangnim bangkit berdiri dan meninggalkan Jungwoo di ruangan itu bersama dengan Lucas dan managernya. Jungwoo dan Jeongwon menganggukan kepala mereka dan tersenyum ramah pada Lee sajangnim yang mulai menghilang dari ambang pintu.

"Bisa ke ruanganku saja?" Tanya Jungwoo pada dua pria di hadapannya. Jeongwon mengangguk setuju berbeda dengan Lucas yang terlihat sama sekali tak berminat. Jeongwon menyeret paksa Lucas untuk memasuki ruangan Jungwoo setelah itu pria yang lebih pendek dari Lucas itu keluar untuk menerima panggilan yang masuk ke ponselnya sejak tadi.

Lucas duduk di hadapan Jungwoo dan membuka kacamatanya. Jungwoo terpaku sejenak, memang Lucas terlihat begitu tampan saat di foto kemarin, tapi ia sama sekali tak menyangka jika pria itu bahkan terlihat lebih menarik di dunia nyata. Jungwoo menggelengkan kepalanya berusaha untuk menghilangkan imajinasi liar yang sejak tadi menjalari pikirannya menyisakan Lucas yang menatap aneh ke arah Jungwoo sejak beberapa detik yang lalu.

Jungwoo pikir Lucas adalah orang yang dingin dan tak terlalu banyak bicara, namun nyatanya ekspektasinya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Lucas begitu cerewet, begitu pikir Jungwoo. Bahkan pria tampan itu lebih berisik daripada klien wanita yang biasa Jungwoo layani dan jangan lupakan juga imajinasi Lucas tentang tuksedo yang nantinya akan ia kenakan, rasanya Jungwoo akan meledak saat itu juga.

"Coba perbaiki yang ini…."

"Bagaimana jika begini…."

Begitulah kira-kira ucapan Lucas sejak tadi setelah melihat hasil sketsa kasar yang Jungwoo buat.

"Yak…. Tadi kau bilang begini, sekarang begini…." Jungwoo meledak juga setelah bersusah payah menahannya. Lucas nampak sedikit terkejut melihat Jungwoo yang berteriak tiba-tiba. Jungwoo bangkit berdiri dan berjalan ke sudut ruangannya, ia memutuskan untuk membuat secangkir kopi, mungkin caffeine mampu menenangkan sedikit pikirannya, pikirnya.

"Aku mau expresso." Ucap Lucas saat ia lihat Jungwoo sibuk membuat kopi miliknya. Jungwoo memutar bola matanya malas dan memutuskan untuk membuat pesanan pria itu karena sudah cukup lelah jika harus beradu mulut dengan Lucas.

"Terima kasih." Ucap Lucas saat Jungwoo meletakkan secangkir kopi di hadapannya.

Tak terasa mereka berdua sudah berbincang hingga sore hari menjelang, dari hasil pertemuan hari ini Jungwoo memutuskan untuk membuat sketsa final terlebih dahulu dan akan menunjukkan hasil akhirnya pada Lucas esok hari atau kapan pun Lucas bisa datang menemuinya.

"Terima kasih kerjasamanya hari ini nona Kim Jungwoo…." Lucas bangkit berdiri seraya mengulurkan tangannya, Jungwoo nampak terkejut namun akhirnya ia menerima uluran tangan Lucas, dan hari itu adalah jabat tangan mereka untuk pertama kalinya.

Jungwoo adalah wanita biasa yang selalu berharap semua pekerjaannya berakhir mudah dan tanpa masalah. Namun sepertinya itu tidak berlaku untuk kali ini, Lucas si aktor tampan terus menerus mengajukan keluhan pada Jungwoo, katanya desainnya sama sekali di luar ekspektasi pria itu. Dan hari ini adalah kali kelima pertemuan mereka berdua untuk membahas masalah tuksedo yang belum kunjung usai. Taeyong yang notabene telah mengenal Jungwoo cukup merasa terheran-heran, apalagi setelah ia melihat sketsa milik wanita tinggi itu, nampak tidak ada masalah sama sekali. Taeyong rasa ada yang tidak beres dengan Lucas. Nyatanya dugaan wanita cantik itu sama sekali tak meleset, suatu hari Lucas bercerita jika ia jatuh cinta pada Jungwoo sejak pertama kali mereka bertemu. Taeyong yang mendengar kalimat cheesy meluncur manis dari mulut Lucas nampak terkejut bukan main. Benar-benar gila, pikirnya. Lucas sendiri kerap kali bertemu dengan wanita cantik dari berbagai kalangan, namun hanya Jungwoo yang berhasil menarik perhatiannya. Rasanya ia tak rela jika melepaskan Jungwoo begitu saja, satu-satunya jalan adalah dengan selalu mengeluh atas semua desain yang Jungwoo berikan.

Hari ini Lucas kembali datang ke tempat Jungwoo dan berencana menemui wanita itu, datangnya bukan lagi untuk mengeluh soal tuksedo seperti beberapa hari yang lalu, namun untuk mengambil tuksedo yang sudah selesai Jungwoo kerjakan. Lucas mengintip dari jendela ruangan Jungwoo dan mendapati wanita menawan itu tengah berusaha mengikat rambut panjangnya, mengangkatnya tinggi-tinggi dan menampilkan leher jenjangnya yang begitu menggoda. Untuk kesekian kalinya Lucas merasa dadanya berdebar begitu kencang seolah ada sesuatu yang memaksa meloncat dari sana. Jungwoo yang menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya sejak tadi lantas menoleh dan mendapati Lucas yang berdiri di ambang pintu.

"Kenapa tak masuk?" Tanya Jungwoo.

"Kupikir kau sedang sibuk." Jawab Lucas seraya melepas kacamata hitamnya.

"Biasanya juga kau asal masuk…." Jungwoo nampak menggerutu dan menuntun Lucas untuk segera mencoba pakaiannya.

Lucas terlihat begitu tampan dengan tuksedo yang membingkai tubuh tegapnya, jangan lupakan wajahnya yang sempurna dan menjadi dambaan semua orang. Denise yang berada di sebelah Jungwoo sejak tadi tak henti-hentinya berdecak kagum melihat penampilan Lucas hari ini, bahkan karyawan magang itu menyempatkan diri untuk berswafoto bersama Lucas sejak tadi.

"Bagaimana? Kau suka?" Tanya Jungwoo, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada seraya berjalan ke arah Lucas.

"Lumayan…." Ucap Lucas singkat, ia bahkan masih terlihat fokus mengagumi ketampanannya sendiri di depan cermin.

"Aish…. Apa susahnya memuji sedikit." Balas Jungwoo kesal.

Malam ini Jungwoo tengah menikmati tontonan di televisi seraya menyantap makanannya. Ia baru saja selesai bertelepon ria dengan Ten, wanita mungil itu begitu senang karena Lucas setuju untuk menjadi model CF dari produk perusahaannya. Tentu saja Jungwoo ikut merasakan kebahagiaan yang Ten rasakan. Merasa sudah bosan dengan acara TV yang ia tonton sejak tadi, Jungwoo mulai mengganti ke saluran lain, tiba-tiba saja ada tayangan Baeksang Award, seingatnya tuksedo yang diambil Lucas tempo hari untuk digunakan di acara itu. Jungwoo memutuskan untuk menonton siaran Baeksang Award dan Jungwoo benar-benar terpaku saat melihat Lucas yang tengah berfoto di red carpet. Entah mengapa Jungwoo begitu mengagumi Lucas hari itu, padahal beberapa hari yang lalu pria tampan itu nampak berpose di hadapan Jungwoo dengan pakaian yang sama, namun mengapa hari ini rasanya begitu berbeda. Seperti ada getaran aneh yang muncul di dalam dadanya.

Jungwoo hampir saja tersedak minumannya saat Lucas menyebutkan rumah mode mana yang membuatkan tuksedo untuknya beserta nama perancangnya. Jungwoo benar-benar tak menyangka jika Lucas akan berucap demikian, terlebih ternyata tuksedo yang Lucas kenakan hari itu mendapatkan komentar baik dari banyak pihak. Pagi harinya Jungwoo kembali bekerja seperti biasa, semalam ia tak menonton siaran Baeksang Award sampai selesai karena rasa kantuk mulai mengajaknya untuk bersua dengan kasur kesayangannya. Sejak tadi Denise berucap dan mengatakan pada Jungwoo jika Lucas berhasil membawa pulang piala sebagai best actor, jelas saja si tampan itu sudah banyak membintangi drama sekalipun belum ada satupun yang Jungwoo tonton.

Siang harinya Taeyong datang dan mengabarkan pada Jungwoo jika Lucas mengajaknya makan malam di salah satu restoran mewah yang berada di Seoul. Jungwoo menurut saja lagipula dia juga belum pernah mengunjungi restoran mewah itu. Sesampainya Jungwoo di restoran ia mendapati Lucas telah duduk manis seraya menikmati minumannya, tubuh tegapnya dibalut hoodie warna hitam dengan merek terkenal yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Jungwoo duduk di hadapan Lucas, mereka berdua mulai menyantap makanannya sesekali berbincang dan bercanda. Sangat berbeda dengan pertemuan mereka sebelumnya yang selalu diisi dengan amarah dan kekesalan dari Jungwoo. Malam itu sebelum berpisah Jungwoo dan Lucas saling bertukar nomor ponsel, dan untuk pertama kalinya Jungwoo merasa hatinya begitu menghangat ketika netra indahnya bertemu dengan netra bulat milik Lucas.

Sejak pertemuan malam itu Lucas dan Jungwoo jadi sering menghubungi satu sama lain. Entah itu untuk saling bertukar kabar atau mengisi kekosongan di waktu luang mereka. Terhitung sudah tiga bulan sejak perkenalan mereka dan tanpa terasa hubungan mereka semakin dekat. Jungwoo juga mulai merasa jika ia menyukai Lucas, namun ia berusaha memendam perasaannya dalam-dalam mengingat Lucas adalah aktor terkenal yang tengah berada di puncak karirnya, bukankah kedatangannya yang tiba-tiba bisa saja mengganggu karir yang sudah Lucas bangun selama ini, pikir Jungwoo. Malam itu Lucas yang baru saja pulang dari acara wrap up party drama terbarunya mendatangi apartemen Jungwoo, wanita itu nampak terkejut mendapati kehadiran Lucas dan bergegas menarik tangan pria itu untuk membawanya masuk ke dalam.

"Ini untukmu…." Ucap Lucas seraya menyodorkan paper bag yang ia bawa sejak tadi ke hadapan Jungwoo. Wanita cantik itu nampak terkejut saat mendapati tas dan sepatu mahal yang berada di dalamnya.

"Tepat sekali, selamat ulang tahun Kim Jungwoo…." Ucap Lucas, pria tampan itu sibuk memperhatikan jam tangannya sejak tadi dan berucap demikian saat tepat pukul 12 malam. Manik indah Jungwoo berkaca-kaca, ia bergegas berhambur ke pelukan Lucas dan bergumam terima kasih disana. Jungwoo benar-benar tak menyangka jika Lucas dengan sejuta kesibukannya bahkan mengingat hari ulang tahun Jungwoo.

Lucas membalas pelukan Jungwoo dan mengelus lembut punggung wanita yang mulai mengisi hari-harinya sejak beberapa bulan terakhir. Ia nampak tersenyum teduh dan menghapus air mata Jungwoo yang mengalir sejak tadi. Lucas tak bisa berlama-lama di apartemen Jungwoo, ponselnya berdering sejak tadi menandakan sang manager yang mulai mencarinya. Dengan berat hati Jungwoo merelakan kepergian Lucas namun dengan perasaan bahagia yang tiba-tiba saja menjalar di hatinya.

Berbulan-bulan sudah Jungwoo dan Lucas menjalin hubungan "pertemanan", sebenarnya Jungwoo sedikit bingung dengan sebutan itu mengingat sepertinya Lucas lebih dari sekedar teman untuk Jungwoo. Di suatu malam yang indah dua insan muda itu memutuskan untuk pergi ke restoran yang biasa mereka datangi dan dengan tiba-tiba Lucas menyodorkan kotak cincin di hadapan Jungwoo hingga membuat wanita cantik itu terpaku.

"Ayo kita berkencan…." Ucap Lucas penuh keyakinan. Jungwoo terdiam, ia terlalu terkejut menerima pernyataan cinta Lucas yang tiba-tiba itu.

"Tapi karirmu?" Tanya Jungwoo ragu-ragu.

"Aku tak peduli, kau terlalu indah untuk aku abaikan begitu saja. Aku harus mengikatmu erat-erat sebelum kau hilang diambil orang." Ucap Lucas, Jungwoo hanya terkekeh dan membiarkan Lucas menyematkan cincin indah itu di jemari lentiknya.

Mulai malam itu mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Berbulan-bulan mereka menjalin hubungan yang disembunyikan dari banyak pihak. Jungwoo kira semuanya akan berjalan semakin mudah seiring berjalannya waktu, namun lama-kelamaan ia cukup jengah melihat pemberitaan tentang Lucas dimana-mana. Disitu dikatakan jika Lucas sedang mendekati lawan mainnya di sebuah drama, tentu saja Jungwoo terkejut bukan main. Terlebih Lucas sama sekali tak mengangkat panggilan dari Jungwoo atau sekedar membalas pesannya. Jungwoo mulai merasa ada retakan di hatinya yang menimbulkan lubang cukup besar disana. Di tengah keputusasaan Jungwoo meratapi hubungannya dengan Lucas yang kian terpuruk, tiba-tiba saja pintu apartemennya terbuka dan ia mendapati Lucas yang berdiri disana lengkap dengan masker hitamnya. Lucas menerjang tubuh indah Jungwoo dan membawa wanita itu dalam dekapannya. Jungwoo menangis keras, ia kira setelah semua permainan yang ia lakukan ia berada di pihak yang kalah, namun nyatanya ia menang, Lucas benar-benar kembali padanya yang mengklaim Jungwoo sebagai miliknya.

Di pagi hari yang cerah masyarakat Korea digemparkan dengan berita kencan Lucas si actor terkenal. Jungwoo yang tengah sibuk membuat sketsa di kantornya nampak terkejut saat menerima ponsel yang Denise berikan, itu jelas fotonya bersama Lucas saat sedang berkencan di sungai Han beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba saja ponsel Jungwoo berdering, wanita itu bergegas pergi meninggalkan Denise yang nampak bertanya-tanya dengan sikap aneh Jungwoo hari ini.

"Aku sudah katakan pada agensiku untuk segera mengkonfirmasi hubungan kita." Suara Lucas terdengar dari ujung sana.

"Tapi bagaimana dengan karirmu?" Tanya Jungwoo, ia nampak berhati-hati dalam memilih kata yang hendak keluar dari mulutnya.

"Jika mereka memang menyukaiku pasti akan mengerti dengan keputusanku, terlebih saat tahu dengan siapa aku bersanding saat ini." Ucap Lucas penuh keyakinan. Jungwoo nampak terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca, rasanya keputusannya untuk bersama dengan Lucas bukanlah suatu kesalahan. Panggilan telepon itu berakhir bersamaan dengan diadakannya konferensi pers oleh agensi Lucas. Semuanya berjalan lancar bahkan banyak orang yang mendukung hubungan mereka, sebagian lagi bahkan menjadi penggemar berat Kim Jungwoo si desainer handal.

Taeyong adalah orang yang paling senang saat mendengar berita kencan mereka, Jungwoo masih ingat bagaimana wanita cantik itu memeluknya dan menangis terisak. Ia tak menyangka jika Lucas akan benar-benar memilih Jungwoo sebagai kekasihnya. Sore itu Lucas datang ke kantor Jungwoo, ia menyodorkan dua lembar tiket pesawat di hadapan Jungwoo.

"Ayo kita ke Hongkong. Ibuku sangat penasaran wanita seperti apa yang bisa menaklukkan anaknya yang keras kepala." Ucap Lucas. Jungwoo berhambur ke pelukan Lucas dan menyetujui niat baik pria itu yang akan membawanya ke kampung halamannya.

Bukankah artinya Jungwoo sudah benar-benar menang? Jungwoo si wanita biasa tak akan pernah menyangka hidupnya akan benar-benar berubah hanya karena tuksedo yang sempat menyita waktunya. Membuatnya bertemu dengan Lucas dan pada akhirnya merakit cinta bersama.