27. Storm After the Rain

Ada pepatah yang mengatakan akan ada pelangi setelah hujan reda, namun nyatanya tak semua pelangi akan datang saat hujan berhenti menangis di muka bumi. Hal itu juga berlaku untuk Ten Lee, wanita muda berumur dua puluhan itu nampak gusar dengan wajah yang sedikit pucat hari itu. Hari ini tepat satu tahun usia pernikahannya dengan Johnny si CEO kaya raya idaman banyak wanita namun satu hal yang Ten dan Johnny tunggu-tunggu belum juga tiba. Beberapa bulan yang lalu Taeyong memberikan kabar baik pada Ten dan mengatakan jika ia tengah berbadan dua, Jaehyun si dokter tampan lantas mulai over protective dan membatasi semua kegiatan Taeyong terutama terkait pekerjaan wanita cantik itu. Beberapa hari yang lalu Winwin juga mengabarkannya jika ia tengah mengandung dengan usia kandungan menginjak dua minggu dan model cantik itu mulai membatasi pekerjaannya akhir-akhir ini. Ten tentu saja senang saat melihat orang disekitarnya berbahagia, namun seolah ada ruang hampa di hatinya. Tak dipungkiri ia iri dengan wanita lain seperti Winwin dan Taeyong.

Ten membuka laci meja riasnya, disana ada tumpukan testpack dengan hasil negatif yang telah ia gunakan mengingat beberapa bulan terakhir siklus menstruasinya begitu berantakan, jujur saja hal itu membuat Ten dan Johnny berharap banyak. Dan hari ini ia datang bulan setelah telat tiga minggu dari jadwal yang seharusnya. Ten yang baru saja mandi nampak masih termenung di depan meja riasnya, sesekali ia meringis sakit karena entah mengapa perutnya terasa nyeri sejak semalam dan Ten merasa darah yang ia keluarkan saat menstruasi lebih banyak akhir-akhir ini.

Johnny yang baru saja kembali dari ruang kerjanya nampak terkejut saat mendapati Ten yang tengah duduk di depan meja riasnya dan terlihat seperti menahan sakit. Johnny menghampiri istrinya dan cukup panik saat mendapati wajah Ten yang cukup pucat pagi itu.

"Ten…. Kau baik-baik saja?" Ucap Johnny seraya mengelus lembut pundak Ten.

"Sakit John…." Lirih Ten.

Johnny membawa Ten dalam pelukannya dan menenangkan wanita itu. Ia cukup hapal jika akhir-akhir ini Ten akan selalu kesakitan setiap datang bulan dan itu membuatnya tak bisa beraktivitas dengan bebas. Lama-kelamaan Johnny merasakan isakan mulai meluncur dari mulut Ten, Johnny mendapati wanitanya menangis. Bukan karena rasa sakit yang ia derita tapi karena masalah lain yang mereka belum tahu apa penyebabnya. Tangan besar Johnny menutup laci penuh test pack yang menjadi arah pandang Ten sejak tadi. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan mengelus lembut punggung Ten, menyalurkan kekuatan yang sudah seharusnya ia berikan.

"Hei, sudah jangan menangis lagi sayang…." Ucap Johnny, ia mulai menghapus jejak air mata yang nampak mengalir dari manik indah Ten.

"Maafkan aku John…." Lirih Ten, Johnny paham betul kemana arah pembicaraan istrinya itu.

"Hei jangan begitu, sudah ini bukan salahmu Ten. Bukankah tandanya Tuhan memberikan kesempatan pada kita untuk lebih lama berdua." Ujar Johnny, ia sedikit terkekeh dan berupaya menenangkan hati Ten.

"John, jangan begitu." Ujar Ten seraya mencebikkan bibirnya.

"Ten, dengarkan aku. Ini semua bukan salahmu, kita telah berusaha sama-sama sampai sejauh ini." Ucap Johnny, ia menangkup wajah cantik Ten dan mendaratkan kecupan di kening wanita itu.

"Tapi aku takut John, ba- bagaimana jika semua kesalahan ada padaku? Ba- bagaimana jika aku yang tak sehat?" Ucap Ten, ia bahkan mulai menghindari tatapan mata Johnny.

"Hei…. Jangan berpikir begitu, bagaimana jika kita periksa. Setidaknya kau akan jadi lebih tenang saat tahu penyebabnya." Ucap Johnny.

"Aku takut John…." Lirih Ten.

"Aku bersamamu Ten, tak perlu ada yang kau takuti." Ucap Johnny, ia menggenggam erat tangan Ten dan mengecupnya sebelum akhirnya kembali memeluk wanita mungil itu dan merasakan sensasi aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya. Aroma yang sama yang seolah menjadi candu untuknya sejak lama.

Hari itu mereka berdua memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Johnny nampak begitu santai, berbeda dengan Ten, wajahnya nampak sedikit pucat karena menstruasinya begitu menyiksa hari ini. Sejak pagi wanita itu mengeluh jika perutnya sakit dan tidak nyaman. Johnny yang tengah mengemudi nampak menggenggam erat jemari Ten dan tak berniat melepaskannya sama sekali. Sesampainya di rumah sakit mereka mulai melakukan pemeriksaan kesehatan. Tak butuh waktu lama hasil pemeriksaan keluar, Jaehyun yang saat itu menangani Ten dan Johnny memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kau sehat John, tapi Ten kurasa kau harus mengunjungi spesialis kandungan." Ucap Jaehyun, lidahnya mulai kelu untuk menyampaikan kalimat selanjutnya kepada dua sahabatnya itu.

"Maksudnya?" Tanya Ten, nada suaranya mulai terdengar bergetar. Johnny yang berada di sampingnya dengan sigap menggenggam tangan wanita itu dan menyalurkan ketenangan darisana.

"Kurasa ada yang tidak beres dengan rahimmu Ten, terlebih kau bilang selalu merasakan sakit saat datang bulan akhir-akhir ini." Ujar Jaehyun, Ten mengangguk ragu menanggapi perkataan Jaehyun.

"Seulgi lebih memiliki kapasitas untuk menjelaskan semuanya padamu. Kau bisa langsung temui dia." Ucap Jaehyun.

Detik itu juga tangis Ten pecah, bahunya bergetar hebat dan tak sanggup menerima kemungkinan terburuk yang mulai menghantuinya. Johnny membawa Ten dalam rengkuhannya dan mulai mengelus lembut punggung wanita itu. Dengan ragu Jaehyun menyodorkan tisu pada Johnny yang dibalas senyuman teduh oleh pria tampan itu. Jaehyun yang tengah berbahagia menanti kehadiran buah cintanya bersama Taeyong tiba-tiba dihadapkan dengan kesedihan kedua sahabatnya, sungguh Jaehyun merasa bersalah saat ini. Setelah dirasa tangis Ten mereda, Johnny pamit keluar dari ruangan Jaehyun dan menuntun Ten untuk pergi ke ruangan Seulgi, demi sebuah jawaban yang mereka pertanyakan sejak tadi.

Endometriosis….

Satu kata yang membuat dunia Ten seperti diterjang badai. Seulgi yang mendapati kedatangan Ten ke ruangannya nampak tersenyum teduh sama seperti yang biasa ia lakukan setahun yang lalu, menyambut Ten dan Johnny dengan sukacita dan mempersilahkan pasangan itu untuk duduk di hadapannya. Seulgi selalu berharap kata-kata yang keluar dari mulutnya kepada pasien adalah soal kebaikan atau berita gembira namun nyatanya dengan berat hati ia harus mengatakan berita buruk pada Ten dan Johnny.

"Ten maafkan aku, berdasarkan hasil USG dan pemeriksaan, kau mengalami endometriosis…. Singkatnya saat jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding Rahim tumbuh di luar Rahim." Ucap Seulgi. Ten benar-benar terpaku, tatapan matanya kosong tanpa harapan, ia seolah benar-benar kehilangan arah.

"Selama ini datang bulan tidak teratur kan? Lalu rasanya terasa begitu menyakitkan?" Tanya Seulgi, Ten hanya mengangguk. Seulgi mengulurkan tangannya dan menggenggam erat jemari Ten yang sejak tadi berada di atas meja, dokter cantik itu tersenyum sekilas sebelum mulai menenangkan Ten dengan kalimat penyemangat.

"Kita berjuang sekali lagi ya? Kau jangan takut, kau masih bisa memiliki anak." Ucap Seulgi. Ten menatap ke arah Seulgi dengan mata yang berkaca-kaca, ia mulai terisak saat tahu Seulgi begitu memahami ketakutannya. Johnny yang berada disampingnya mengelus lembut punggung Ten dan berusaha menenangkan istrinya itu.

"Kau mengalami endometriosis menengah, lihat ada jaringan endometrium yang cukup dalam di indung telur. Itu jadi salah satu penyebab kenapa aegi tak kunjung menghampiri kalian." Ujar Seulgi, ia memutar monitornya agar lebih mudah dilihat oleh Ten dan Johnny.

"Bagaimana cara mengobatinya?" Kali ini Johnny yang buka suara, ia tak pernah menyangka jika Ten mengalami hal yang seburuk itu.

"Jalan satu-satunya dengan operasi." Ucap Seulgi

"Kita bisa gunakan metode laparoskopi, nantinya jaringan parut yang ada di dalam perut akan diangkat menggunakan laser. Operasi ini hanya menggunakan 1-3 sayatan kecil jadi jangan khawatir." Jelas dokter cantik itu.

"Setelah itu apa kami bisa memiliki anak?" Ten akhirnya bersuara setelah cukup lama terdiam.

"Tentu. Setelah jaringan endometrium yang berada di indung telur kita bersihkan kualitas sel telur akan menjadi semakin baik dan peluang untuk hamil semakin tinggi. Bisa kan kita berjuang sekali lagi?" Ujar Seulgi, ia mengelus lembut punggung tangan Ten, berusaha menenangkan wanita cantik itu.

"Hum…. Terima kasih Seulgi-ssi." Ucap Ten, wanita itu mulai terisak dan dengan sigap Johnny membawa Ten ke dalam dekapannya berusaha menenangkan wanita itu sekalipun ia tahu tindakannya tak akan berpengaruh banyak.

Setelah keluar dari ruangan Seulgi, Johnny tak melepaskan rangkulannya sama sekali. Ia mendekap erat tubuh wanita mungil itu dan beberapa kali mengecup pucuk kepalanya. Ten mulai merasa risih dengan perlakuan Johnny, terlebih koridor Yangji Hospital terlihat begitu ramai hari itu.

"John lepaskan, aku malu." Bisik Ten.

"Biarkan saja kau kan istriku." Ucap Johnny. Ten hanya mendengus sebal mendengar perkataan suaminya itu.

Di dalam mobil Ten kembali terdiam, ia hanya menanggapi seadanya ucapan Johnny yang sejak tadi menggema di kendaraan mereka. Johnny menoleh sekilas ke arah Ten, ia nampak paham dengan perasaan Ten hari ini. Wanita itu pasti tengah merasakan berbagai pergolakan di hati kecilnya.

"Sayang…. Sudah jangan dipikirkan, tadi kan kita sudah dengar perkataan Seulgi." Ucap Johnny.

"Hiks…. Maafkan aku John, kau begitu sempurna malah menikahi wanita sepertiku, hiks…." Ucap Ten, ia mulai menangis seraya menundukkan kepalanya. Johnny menepikan sejenak mobil dan mulai menyentuh wajah Ten, ia membuat Ten menatap lekat ke arah matanya.

"Dengarkan aku Ten. Kau sama sempurnanya sepertiku…. Lagipula sekalipun Tuhan memberikan banyak pilihan, aku hanya mau bersanding denganmu." Ujar Johnny, ia mengecup lembut kening istrinya itu.

"Kita akan kembali berjuang Ten, kita berjuang bersama dan kerahkan seluruh kemampuan kita. Selanjutnya kita serahkan pada Tuhan." Ucap Johnny lagi. Ten menganggukkan kepalanya dan berusaha menghentikan tangisnya.

"Kau terlalu banyak menangis hari ini. Coba lihat kemana perginya mata indah yang selalu berbinar itu?" Tanya Johnny sedikit menggoda.

"John, jangan meledekku…." Balas Ten.

Sesampainya di rumah Ten benar-benar langsung beristirahat. Rasanya perutnya telah berteriak sejak tadi dan terasa begitu sakit. Dengan gerakan perlahan Ten menempelkan hot pack di perutnya dan mulai berbaring di atas kasurnya. Johnny yang baru saja kembali dari ruang kerjanya nampak menghampiri Ten dan duduk di tepian kasur seraya menggenggam jemari Ten.

"Masih sakit?" Tanya Johnny.

"Hum…. Lumayan, walaupun tidak separah tadi tapi tetap saja sakit." Balas Ten.

"Aku buatkan makanan ya, setelah itu minum obatnya." Ucap Johnny, seingatnya tadi saat di rumah sakit Seulgi meresepkan obat pereda nyeri pada Ten.

"Nanti dapurku terbakar." Ucap Ten serata mencebikkan bibirnya.

"Yak…. Biarpun begini aku pernah tinggal sendiri selama bertahun-tahun. Lagipula jika dapurmu terbakar kita bisa beli rumah baru." Balas Johnny percaya diri. Ten hanya memutar bola matanya malas kala mendapati suaminya kembali menyombongkan diri.

"Dasar orang kaya." Ucap Ten seraya mencebikkan bibirnya.

"Dasar istrinya orang kaya." Balas Johnny sedikit meledek. Akhirnya Johnny benar-benar pergi ke dapur dan meninggalkan Ten yang mulai meringkuk seraya memegangi perutnya.

Tak berapa lama kemudian, Ten yang tengah meringkuk merasakan seseorang menyentuh pundaknya, saat Ten memutar tubuhnya, ia mendapati Johnny yang tengah sibuk menata beberapa makanan di atas meja kecil yang ia bawa. Ten mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang, ia menatap lekat ke arah Johnny yang masih sibuk dengan beberapa makanan.

"Kenapa tidak panggil saja, aku masih bisa turun ke bawah." Ucap Ten.

"Tidak, lebih baik disini." Balas Johnny, ia mulai menyuapi makanan ke mulut Ten dan membungkam mulut wanita itu.

"Sudah John, aku kenyang." Ucap Ten berhasil menelan beberapa suap.

"Habiskan buahnya dulu." Johnny masih memaksa dan menyuapkan potongan apel ke mulut Ten, wanita itu pasrah saja lagi pula ia tak memiliki tenaga untuk berkelahi dengan Johnny.

Setelah selesai dengan semua makanannya, Ten meminum obat yang sempat diresepkan Seulgi siang tadi. Setelah itu ia kembali berbaring dan bersembunyi dibalik selimut tebalnya, meninggalkan Johnny yang kembali sibuk dengan berbagai dokumen di tangannya dan jangan lupakan kacamata yang bertengger di hidung bangirnya.

"John, jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat dulu kalau kau lelah." Ucap Ten lirih, sepertinya efek obat-obatan yang ia minum mulai bekerja. Netra indah milik wanita itu mulai menyipit dan perlahan benar-benar menutup. Johnny yang duduk di sebelah Ten dengan berbagai dokumen di tangannya hanya tersenyum teduh dan membelai pelan surai indah Ten.

Pagi mulai menyingsing di hari senin yang terasa dingin, hujan mengguyur Seoul sejak semalam membuat jendela kamar Ten dan Johnny terlihat berembun. Ten tengah menyiapkan pakaian Johnny lengkap beserta sepatu yang akan digunakan suaminya itu ke kantor. Sesekali ia bersenandung riang saat tengah menunggu Johnny selesai membersihkan diri.

"Masih hujan ya?" Tanya Johnny, pria itu nampak baru keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit tubuhnya dari bagian panggul hingga lutut.

"Hum…. Masih lumayan deras, padahal kan aku sudah janji dengan murid-murid TK untuk observasi serangga." Balas Ten, ia nampak merenung meratapi hujan.

"Ganti saja dengan kegiatan yang lain." Ucap Johnny, ia mulai mengenakan pakaiannya dibantu oleh Ten yang nampak mengancingkan kancing kemeja tersebut.

"Hum…. Min seonsaengnim sudah mengabari tadi pagi." Balas Ten.

"Semua berkas di atas mejamu sudah aku rapikan dan masukkan ke tas." Ucap Ten, ia nampak baru saja keluar dari ruang kerja Johnny dan menenteng tas hitam milik suaminya itu.

"Berkas Song Construction, bagaimana?" Tanya Johnny.

"Sudah di dalam." Ucap Ten singkat, ia menerima dasi yang Johnny berikan dan mulai memasangnya ke leher jenjang suaminya itu.

"Coba pakai sendiri John, dulu kau selalu memakai dasi sendiri." Ucap Ten.

"Sekarang aku tak bisa, supaya selalu kau pakaikan." Balas Johnny, ia mulai melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang ramping Ten dan menikmati penampilan istrinya yang terlihat begitu cantik pagi itu.

"Alasan…. Sudah, ayo sarapan dulu." Ucap Ten, ia melenggang pergi ke meja makan meninggalkan Johnny yang nampak sibuk mengambil tas dan jas kerjanya.

"Jika terjadi sesuatu jangan lupa hubungi aku. Nanti sore kujemput, jangan kemana-mana sampai aku datang." Ucap Johnny, ia mengantarkan Ten sampai masuk ke TK dengan payung besar yang ia genggam.

"Siap komandan…. Sudah sana nanti kau terlambat." Ucap Ten sedikit bercanda dan memberikan gestur Hormat pada Johnny. Johnny yang gemas hanya mengusap surai hitam Ten dan mendaratkan kecupan di kening wanita itu. Dan pagi itu di tengah hujan yang cukup deras mereka berdua berpisah, Ten akan kembali mengajar dan Johnny yang harus menyelesaikan beberapa urusannya di perusahaannya.

"Ten ssaem, paman berkaki panjang itu siapa?" Tanya seorang anak perempuan saat Ten baru saja masuk ke dalam kelas tempatnya mengajar.

"Eh…. Minji mengintip ya?" Tanya Ten, ia mulai berjongkok dan bercanda ria dengan anak kecil itu.

"Tidak, tapi pamannya tampan. Minji suka…." Ucap anak kecil itu seraya terkekeh. Ten hanya tersenyum dan mengusap gemas rambut Minji yang dikepang dua, ternyata Johnny cukup menarik bagi anak kecil, pikirnya.

Setelah selesai dengan kegiatan mereka, Johnny kembali datang ke TK untuk menjemput Ten yang juga telah selesai dengan kegiatan mengajarnya sejak siang tadi. Saat Johnny datang, Ten nampak tengah bergandengan tangan dengan seorang anak kecil yang dikepang dua, itu Minji. Hari itu orang tua Minji tiba-tiba saja harus pergi ke rumah sakit karena ada operasi darurat, jadi ibu Minji menitipkan anak cantik itu pada Ten untuk menjaganya sampai sore hari tiba.

"John, sebentar ya ibu Minji belum datang menjemput." Ucap Ten saat melihat Johnny baru saja keluar dari mobilnya. Minji yang menggandeng tangan Ten sejak tadi nampak terpesona saat melihat Johnny di hadapannya, terlebih pria tinggi itu menggunakan setelah yang begitu rapi hari ini.

"Woah…. kaki paman panjang sekali." Ucap Minji, matanya nampak berbinar dan terlihat begitu antusias.

"Ne?" Tanya Johnny, ia terlihat kebingungan dan memberikan tatapan penuh tanya pada Ten yang mulai terkekeh sejak tadi.

"Minji kenalkan ini namanya Johnny, Minji bisa panggil John samchon." Ucap Ten, ia mulai memperkenalkan Johnny pada anak kecil itu.

"Annyeonghaseyo samchon, aku Minji, murid kesayangan Ten ssaem." Ujar Minji bangga.

"Wah cantiknya, aku Johnny, pahlawannya Ten ssaem." Ucap Johnny, ia mulai berjongkok di hadapan Minji dan menatap mata teduh milik anak kecil itu.

Ten hanya tersenyum melihat interaksi Johnny dengan Minji, jika sebelumnya Johnny tidak bisa dekat dengan anak kecil selain Woojin namun sekarang tidak lagi, berterima kasihlah pada Ten yang rutin mengajak Johnny berkunjung ke panti asuhan dan berinteraksi dengan anak-anak.

"Wah, samchon tampan ternyata pahlawannya Ten ssaem. Keren sekali! Minji juga mau punya pahlawan…." Ucap anak kecil itu. Johnny dan Ten hanya terkekeh menanggapi perkataan Minji yang menurut mereka begitu menggemaskan.

"Nah itu pahlawannya Minji sudah datang. Ayo kita pulang…." Ucap Ten, tangannya menunjuk ke arah pasangan suami istri yang baru saja keluar dari mobil mereka. Minji yang melihat kedatangan appa dan eomma nya nampak tersenyum dan berlari kegirangan menyeret Ten yang sejak tadi masih menggenggam tangannya.

"Terima kasih banyak Ten-ssi sudah menjaga Minji sampai kami kembali." Ucap Sooyoung, ibu Minji.

"Ah tak apa eonni lagipula aku tak ada kegiatan lain setelah mengajar tadi." Balas Ten, ia mengenal dekat ibu Minji karena Sooyoung sering menjadi volunteer di panti asuhan bahkan sejak ia belum menikah, jadi wanita tinggi itu cukup akrab dengan Ten.

"Eomma, samchon yang disana pahlawannya Ten ssaem. Samchon itu tinggi sekali." Ujar Minji, ia sibuk bercerita pada ibunya. Sooyoung ikut memandang ke arah yang Minji tuju, ia tersenyum saat mendapati keberadaan Johnny disana, benar-benar anaknya usil sekali, pikirnya.

"Sudah, ayo kita pulang. Pamit dulu sama Ten ssaem." Ucap Kyungho seraya mengelus lembut surai hitam putri kecilnya.

"Minji pulang dulu ya ssaem, besok kita bermain lagi…." Ucap Minji serata terkekeh.

"Gemasnya…. Besok kita bertemu lagi ya, jangan lupa kerjakan PR nya." Ucap Ten. Sooyoung memeluk Ten sekilas kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya, Ten tetap berdiri disana sampai akhirnya mobil keluarga Minji benar-benar menghilang dari pandangannya.

"Itu Sooyoung noona?" Tanya Johnny, ia ingat betul wanita tinggi tadi adalah sahabat kakaknya saat masih sekolah menengah.

"Hum…. Temannya Seohyun eonni kan?" Ucap Ten.

"Jadi Minji itu anaknya?" Tanya Johnny. Ten hanya mengangguk dan menyusul Johnny untuk masuk ke dalam mobil.

Hari yang ditunggu Ten dan Johnny sejak seminggu yang lalu akhirnya tiba juga. Sore ini Ten nampak telah berada di ruang rawatnya dan baru saja mengganti pakaiannya dengan baju pasien khas Yangji Hospital. Ten nampak duduk di atas ranjang miliknya seraya membalas beberapa pesan yang masuk ke ponselnya sejak tadi. Wajar saja ia baru mengabari orang terdekatnya jika akan melakukan operasi siang tadi. Jungwoo dan Taeyong memberondongi dengan berbagai pertanyaan bahkan mereka sempat menangis saat melakukan panggilan video beberapa menit yang lalu. Untuk pertama kalinya Jungwoo merasa menjadi sahabat yang tidak berguna untuk Ten, bagaimana bisa ia tidak menyadari jika Ten sedang tidak baik-baik saja, pikir wanita itu. Johnny bahkan sampai terkekeh melihat tingkah Taeyong dan Jungwoo di panggilan video beberapa menit yang lalu. Sedangkan Winwin ia berhalangan bergabung dalam panggilan video karena tengah merasakan sakit kepala berat akibat morning sicknes yang berkepanjangan.

"Jahatnya…. Aku belum makan apapun kau malah mengisi perutmu di depanku." Ucap Ten, ia meletakkan ponselnya di meja nakas dan menyindir Johnny yang tengah terduduk di sofa seraya menikmati makanannya.

"Ten, aku sangat mencintaimu, tapi maafkan aku. Aku kelaparan…." Ucap Johnny.

"Aish…. Setidaknya makan di luar, benar-benar pria menyebalkan." Gerutu Ten.

Tiba-tiba pintu ruang rawat Ten terbuka, Jaehyun terlihat masuk ke dalam dengan wajah yang terlihat cukup frustasi.

"Kau kenapa? Yang mau operasi itu istriku, kenapa wajahmu yang kusut begitu." Tanya Johnny.

"Kalian tahu, Taeyong menghubungiku beberapa jam yang lalu. Dia mengomel habis-habisan bahkan dia meraung-raung di telepon hanya karena aku tak memberitahukan padanya keadaan Ten sejak lama. Dasar wanita." Ucap Jaehyun, bahkan telinganya masih terasa berdengung karena teriakan Taeyong beberapa jam lalu.

"Memang para wanita lucu sekali, beberapa menit lalu juga istri Lucas menangis keras di telepon." Ucap Johnny dengan mulut yang penuh dengan makanan.

"Telan dulu makananmu bodoh." Jaehyun nampak emosi dan melempar bantal ke arah Johnny.

"Ten, bagaimana keadaanmu?" Tanya Jaehyun, ia menoleh ke arah Ten yang nampak tengah asyik menatap ke arah jendela.

"Aku baik." Ucap Ten.

"Kau pasti tertekan punya suami seperti Johnny, bahkan si bodoh asyik makan di hadapanmu saat kau sedang puasa." Ucap Jaehyun, Ten hanya terkekeh. Johnny yang masih sibuk dengan makanannya hanya melotot ke arah Jaehyun tanda tidak terima.

Setelah Johnny selesai dengan makanannya dan Jaehyun kembali ke ruangannya, Johnny menghampiri Ten. Ia duduk di sebelah Ten dan membawa kepala wanita itu untuk bersandar di bahu kokohnya. Tangan besar Johnny juga menggenggam jemari lentik Ten yang terasa mendingin dan berbagi kehangatan disana.

"Kau takut?" Tanya Johnny.

"Hum…. Sedikit." Balas Ten.

"Aku disini, jadi jangan takut." Johnny mengecup pucuk kepala Ten.

"Bagaimana kalau gagal John?" Tanya Ten lirih.

"Setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin." Ucap Johnny, ia berusaha terlihat santai sekalipun sebenarnya ketakutan juga sedikit menyelimuti hatinya.

"Kau akan pergi jika aku tak bisa memberikanmu anak?" Tanya Ten, suaranya mulai terdengar bergetar.

"Hey…. Lihat aku. Kenapa bisa ada pikiran jahat yang bersarang di kepala kecil ini." Johnny memukul kecil kepala Ten, sedangkan sang wanita sudah mulai menangis terisak.

"Aku tak akan pergi kemanapun. Bagaimanapun kondisimu kita harus tetap bersama." Ucap Johnny, ia kembali mengecup pucuk kepala Ten dan membawa wanita itu dalam pelukannya. Ten mengeratkan pelukan mereka dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Johnny membuatnya dapat mendengar jelas detak jantuk Johnny yang terdengar beraturan.

Beberapa perawat mulai memasuki ruang rawat Ten dan bersiap membawa Ten ke ruang operasi. Johnny terpaksa melepas genggaman tangannya pada Ten di depan ruang operasi, ia mengelus lembut wajah Ten dan memberinya semangat sebelum mereka benar-benar berpisah.

"Everything will be fine right?" Ujar Ten.

"Hum…. You'll be fine." Ucap Johnny ia mengecup lembut kening Ten yang tengah berbaring.

"Please come back safely, I'm waiting for you here." Ucap Johnny lagi.

"Yes, I promise." Balas Ten seraya tersenyum lembut. Para perawat kembali mendorong brankar Ten memasuki ruang operasi meninggalkan Johnny yang benar-benar ketakutan dan mulai mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang berada disana.

Johnny yang menunggu di depan ruang operasi nampak begitu panic dan mondar mandir sejak tadi. Jaehyun yang melihatnya menjadi pusing sendiri, bukankah beberapa jam yang lalu Johnny begitu tenang saat bersama dengan Ten tapi saat ini pria itu malah menunjukkan sifat lain yang cukup membuat Jaehyun terkejut.

"John, duduk. Aku pusing melihatmu mondar-mandir sejak tadi. Sebentar lagi Ten keluar, kau tenang saja." Ucap Jaehyun. Dokter tampan itu menyodorkan kopi kalengan ke hadapan Johnny yang diterima si pria tinggi dengan senang hati.

"Jae…. Apa ada kemungkinan operasinya gagal?" Tanya Johnny.

"Kurasa tidak, sejujurnya itu termasuk jenis operasi kecil. Tapi kita harus tetap memantau kondisi Ten sampai setelah masa pemulihan." Ucap Jaehyun, ia baru saja menghabiskan cola miliknya.

Tak lama lampu ruang operasi kembali mati dan Seulgi nampak keluar dari sana seraya melepas masker yang ia gunakan. Dokter cantik itu bergegas menemui Jaehyun dan Johnny untuk Menyampaikan kabar baik yang telah mereka tunggu sejak tadi.

"Operasinya berhasil, tapi Ten masih lemas karena pengaruh anestesi. Ia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Saya permisi dulu." Ucap Seulgi, ia sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Jaehyun dan Johnny kemudian berlalu begitu saja. Tak lama beberapa perawat nampak mendorong brankar Ten menuju ruang perawatan. Johnny akhirnya bisa bernapas lega saat mendapati istrinya telah kembali dalam keadaan selamat. Jaehyun yang mengerti perasaan Johnny hanya mengelus pelan pundak sahabatnya itu, rasanya sudah sejak lama sejak kali terakhir Jaehyun mendapati Johnny sekalut beberapa menit yang lalu, pikirnya.

Beberapa menit lalu Ten sempat terbangun dan Johnny mengajak wanitanya berbicara, namun Ten banyak bergumam tak jelas. Sepertinya efek anastesi masih mempengaruhinya. Dan sekarang wanita cantik itu kembali tertidur dengan damai menampilkan wajahnya yang teduh dan entah sejak kapan wajah teduh itu menjadi favorit Johnny. Pria itu mengelus lembut punggung tangan Ten seraya mengecupnya beberapa kali. Ia berharap suatu hari nanti kabar baik akan kembali mendatangi Ten dan dirinya, membawa kembali kehangatan yang sempat memudar beberapa hari belakangan.