28. Testpack

Pagi harinya Ten nampak telah terbangun, ia mulai merasa nyeri di bagian perutnya karena efek anestesi telah sepenuhnya menghilang. Ten yang tengah berbaring di ranjang pasien sesekali meringis kesakitan saat rasa nyeri tiba-tiba saja menjalaninya.

"Sakit?" Tanya Johnny, ia memutuskan untuk meliburkan diri sementara dan menjaga Ten sampai wanita itu benar-benar sembuh.

"Sedikit." Ucap Ten.

Keduanya kembali terdiam. Johnny kembali sibuk dengan laptopnya menyisakan Ten yang sesekali meringis kesakitan sambil menikmati potongan buah yang baru saja Johnny berikan.

"John, aku buang angin." Ucap Ten tiba-tiba, ia sedikit terkekeh dan memberitahu Johnny, setidaknya pria tinggi itu tak akan terkejut saat mencium bau yang aneh dari ruang rawat Ten.

"Akhirnya…." Ucap Johnny, ia nampak sedikit lega, karena sesuai pesan Seulgi beberapa menit lalu setidaknya Ten harus segera buang angin untuk mengeluarkan gas yang ada dalam perutnya. Ten dengan wajah tanpa dosanya kembali melanjutkan aktivitas makannya sesekali memandangi Johnny yang terduduk di sofa.

Ten dan Johnny yang tengah asyik dengan kegiatan masing-masing tiba-tiba saja dikejutkan dengan pintu ruang rawat Ten yang dibuka paksa dengan keras. Itu Taeyong, sang pelaku pembuka pintu secara paksa. Ia nampak menghampiri Ten dan berniat memastikan keadaan wanita mungil kesayangannya itu.

"Eonni kenapa kesini?" Tanya Ten, ia sedikit khawatir mengingat kondisi Taeyong yang sedang hamil.

"Aku mau menjengukmu masa tidak boleh. Lagipula menunggu kabar dari Jaehyun sama sekali tidak berguna, dia begitu lambat." Ucap Taeyong, ia terlihat emosi jika mengingat suaminya yang tak kunjung mengabarinya tentang kondisi terkini Ten.

Johnny yang tengah duduk di sofa hanya terkekeh, jadi lagi-lagi Jaehyun dimarahi oleh istrinya itu, pikir Johnny. Tak lama kemudian oknum yang sejak tadi dibicarakan menunjukkan batang hidungnya dan duduk disebelah Johnny yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" Tanya Taeyong, ia mulai duduk di sebelah ranjang Ten dan menatap lekat wajah wanita mungil itu yang nampak sedikit pucat.

"Sedikit nyeri, mungkin karena bekas sayatan saat operasi." Ucap Ten, ia masih sibuk menyantap apel miliknya. Taeyong yang melihat potongan apel itu mulai menghilang dari piring berinisiatif kembali mengupasnya, namun sempat terjadi perdebatan sengit antara dirinya dan Ten yang membuat dua pria di hadapan mereka menatap keheranan.

"Eonni jangan, biar Johnny saja nanti yang kupas." Ucap Ten, ia mulai mencoba meraih pisau yang berada di tangan Taeyong.

"Diam Ten, kau sama saja dengan Jaehyun, aku ini sedang hamil bukan sakit keras. Mengupas apel tentu bukan apa-apa bagiku." Ucap Taeyong yang kembali melanjutkan kegiatannya.

Johnny memutuskan untuk keluar membeli beberapa makanan sedangkan Jaehyun kembali ke ruang kerjanya. Dokter tampan itu berjanji akan kembali menjemput istrinya saat semua pekerjaannya telah selesai. Taeyong sama sekali tak peduli, lagi pula ia memang ingin berlama-lama dengan Ten. Dua wanita itu mulai berbicara tentang banyak hal, mulai dari kehamilan Taeyong sampai bagaimana kronologi Ten bisa terkena penyakit yang menurut Taeyong sangat mengerikan.

"Kau tahu, Winwin tiba-tiba saja sangat ingin dibuatkan sushi oleh ibunya Yuta." Ucap Taeyong tiba-tiba, wanita cantik itu ikut memakan buah-buahan milik Ten sejak tadi.

"Jinjja? Lalu bagaimana? Bukannya orangtua Yuta oppa ada di Jepang?" Tanya Ten keheranan.

"Hum…. Dan minggu depan Yuta akan menerbangkan ibunya kemari, karena Winwin belum boleh terbang di usia kandungan yang masih muda." Ucap Taeyong.

"Woah…. Terkadang orang kaya itu mengerikan ya eonni." Balas Ten.

"Yak…. Suamimu bahkan lebih kaya dari suamiku ataupun Yuta. Mungkin nanti Johnny akan sama mengerikannya saat kau sedang hamil." Ucap Taeyong.

"Hum…. Semoga saja." Balas Ten seraya terkekeh.

Dua hari setelah melalui masa pemulihan di rumah sakit, akhirnya Ten diizinkan pulang tentu dengan banyak catatan yang harus ia ingat. Tidak boleh beraktivitas yang terlalu berat dan yang terpenting Ten dan Johnny dilarang untuk melakukan hubungan seksual sampai empat minggu kedepan. Ten masih ingat dengan jelas bagaimana wajah pucat Johnny saat Jaehyun membohonginya dan mengatakan jika ia dan Ten tak bisa berhubungan seksual sampai empat bulan kedepan.

"Yang benar saja? Aku bisa mati." Kira-kira begitulah ucapan Johnny yang membuat tawa Jaehyun dan Seulgi meledak seketika dan memberitahu jika itu hanya empat minggu bukan empat bulan.

Johnny sepenuhnya membatasi pekerjaan Ten, bahkan ia sempat melarang Ten untuk kembali ke TK sampai wanita itu benar-benar sembuh. Ten tentu saja sebal jika kegiatannya dibatasi begitu namun seolah tak ada pilihan lain dan Ten harus menerimanya dengan lapang dada.

"John yang benar saja, kau mengurungku seharian di rumah tapi kau akan pergi ke kantor. Lalu aku sendirian disini? Begitu maksudmu?" Ten sedikit emosi dan mencegah Johnny pergi ke kantor pagi ini.

"Ten tunggu sebentar, aku hanya akan menghadiri rapat dengan Song Constructions dan setelah itu kembali lagi ke rumah." Johnny berusaha bernegosiasi dengan istri mungilnya itu. Johnny mengusap lembut wajah cantik Ten dan menyingkap poni Ten nampak menghalangi mata indahnya.

"Janji? Kutunggu sampai jam 12 siang, lewat dari itu akan ku ganti kunci rumah." Ucap Ten seraya mencebikkan bibirnya. Johnny mengangguk mantap, lagipula rapatnya nanti hanya sebentar dan tak akan memakan waktu lama. Setelah mengecup kening Ten, Johnny memasuki mobil mewahnya dan beberapa menit kemudian benar-benar menghilang dari pekarangan rumah mereka.

Ten menghabiskan kesendiriannya di rumah dengan menonton berbagai video memasak. Ten yang tidak bisa berdiam diri di rumah memutuskan untuk mengacak-acak dapurnya dan membuat beberapa kue. Mungkin ia akan mengirim kue-kue itu pada Woojin keponakan kesayangannya. Hari ini Ten memutuskan untuk mengeksekusi resep madeline yang baru saja ia pelajari dari video singkat yang sempat ia tonton. Ia juga memutuskan untuk membuat kue tart mini karena seingatnya kemarin Seohyun menghubunginya dan mengatakan jika Woojin akan mengambil raport belajarnya di TK hari ini.

Ten tersenyum sumringah saat tart stroberi buatannya selesai dibuat, ia juga menghiasnya dengan sedemikian rupa dan menggambar wajah Woojin di kue tersebut. Ten memasukkan tart buatannya ke dalam kotak dan membungkus beberapa cookies coklat yang sempat ia buat. Rencananya Ten akan menggunakan jasa delivery untuk mengirim kue buatannya ke rumah keluarga Seo, tempat Woojin tinggal saat ini. Saat menunggu delivery datang Ten jadi terpikir untuk ikut kelas memasak, lagipula bukankah itu bagus untuk mengisi waktu luangnya. Daripada ia hanya berdiam seorang diri saat Johnny mengurungnya seperti sekarang.

Ten baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan kakak iparnya, Seohyun bilang Woojin sangat menyukai kue tart buatan Ten dan tak berniat membaginya pada orang sekitarnya. Bahkan bocah kecil itu juga berniat menyembunyikan cookies coklat hanya untuk dirinya sendiri jika Seohyun tak melihatnya. Ten jadi gemas sendiri membayangkan tingkah Woojin, rasanya sudah lama sekali Ten tak menemui keponakan kesayangannya itu. Tepat pukul sebelas siang, pintu utama rumah Ten dan Johnny terbuka. Johnny muncul dari sana seraya menatap jam tangan mahalnya.

"Tepat jam 11 siang. Tidak jadi ganti kunci rumah kan?" Ucap Johnny, ia mengecup pipi Ten yang tengah sibuk menonton televisi dan menikmati cookies coklat buatannya.

"Ganti baju dulu John, kau bau." Ucap Ten.

"Kau buat kue?" Bukannya pergi ke kamar Johnny justru mendudukkan dirinya di sebelah Ten dan mulai merampas paksa toples cookies coklat dari genggaman Ten.

"Hum…. Tadi juga sempat kirim ke Woojin." Ucap Ten seraya menganggukkan kepalanya.

"Kau keluar?" Tanya Johnny, hampir saja ia tersulut emosi.

"Tidak. Aku pakai jasa delivery. Kenapa kau jadi pemarah pak tua." Ucap Ten, ia meledek Johnny yang terlihat sedikit emosi.

"Siapa yang pemarah." Ucap Johnny, ia nampak tak peduli dan kembali melanjutkan menyantap cookies buatan Ten.

"John aku punya permintaan." Ucap Ten tiba-tiba.

"Katakan." Jawab Johnny.

"Tapi kau janji tak akan melarangku kali ini?" Tanya Ten. Ia menatap lekat ke arah Johnny yang berada di sampingnya. Johnny yang mulanya sibuk dengan makanannya, menatap ke arah Ten, ia curiga jika Ten akan meminta sesuatu yang aneh.

"Aku mau ikut kelas memasak, boleh?" Tanya Ten.

"Kau kan sudah bisa memasak." Jawab Johnny.

"Aku akan ambil kelas pastry, ayolah…. Lagipula aku tak punya kegiatan apapun." Ucap Johnny, ia mulai memohon pada Johnny yang berada di sampingnya.

"Coba cari yang bagus…." Jawab Johnny. Ten tersenyum sumringah mendengar jawaban Johnny. Ia mengecup sekilas pipi Johnny dan berhasil membuat pria itu menghentikan kegiatannya.

"Disini juga." Ucap Johnny seraya menunjuk bibirnya.

"Tidak…. Dasar mesum." Balas Ten.

"Ayolah Ten, aku sudah sangat merindukanmu…." Johnny bangkit dari duduknya dan menyusul Ten yang mulai menuju ke kamar mereka.

Hari ini terhitung empat minggu sudah setelah waktu operasi Ten. Pagi itu Ten nampak sibuk memasak sarapan untuk Johnny yang tengah bersiap pergi ke kantornya. Johnny turun ke dapur dengan jas yang membungkus tubuh tegapnya serta jas dan dasi yang ia sampirkan di lengannya. Johnny duduk di kursi meja makan dan menatap lekat ke arah Ten yang masih sibuk memasak. Johnny sudah sangat merindukan kegiatan malamnya bersama Ten, apalagi menurutnya sekarang Ten jadi lebih cantik setelah wanita itu kembali memotong rambut panjangnya.

"John, kau lihat apa? Cepat habiskan. Nanti kau terlambat." Ucap Ten, ia tengah menata beberapa lauk pauk di meja makan.

"Jadi hari ini ke rumah sakit?" Tanya Johhny, ia mulai menyantap makanannya.

"Hum…. Seulgi bilang ini konsultasi terakhir, sebenarnya lukanya sudah kering sejak lama. Tapi tetap saja aku merasa takut." Ucap Ten.

"Kenapa tak bilang jika sudah kering." Tanya Johnny, ia benar-benar sudah sangat merindukan tubuh Ten.

"Pasti kau akan menghabisi ku." Ucap Ten.

"Jadi kau tak bisa temani hari ini?" Tanya Ten.

"Hum…. Maafkan aku, ada rapat penting soal proyek terbaru perusahaan." Balas Johnny, sebenarnya pria itu cukup kecewa karena tak bisa menemani istrinya ke rumah sakit siang ini.

"Tak apa, kau tenang saja." Ucap Ten, ia berusaha menenangkan suaminya itu.

Setelah selesai sarapan, Ten menyiapkan bekal untuk Johnny dan memakaikannya dasi. Ia juga menyempatkan diri untuk membenahi penampilan Johnny pagi itu.

"Sudah tampan. Semoga tidak ada yang tergoda." Ucap Ten seraya memasang gestur berdoa.

"Percuma saja, sekalipun ada yang suka tak ada lagi tempat di hatiku." Jawab Johnny.

"Gombal…. Sudah sana berangkat." Ucap Ten.

"Jangan lupa kabari aku soal pemeriksaannya." Ucap Johnny, ia mengecup sekilas bibir Ten dan pergi ke kantor sebelum terlambat.

Johnny mengabari Ten jika ia akan pulang terlambat hari ini. Dan sampai tepat pukul sepuluh malam Johnny belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ten sudah mulai mengantuk, ia memutuskan untuk masuk ke kamar dan berbaring sebentar sambil menunggu Johnny datang. Tiba-tiba saja saat Ten hendak memejamkan matanya Johnny membuka pintu kamar mereka. Pria itu nampak begitu kacau, kemeja yang ia gunakan telah terbuka dua kancing teratasnya dan jangan lupakan jas yang ia sampirkan di lengannya.

"Mau makan?" Tanya Ten, ia bangkit dari kasur dan mulai mendekat ke arah Johnny.

"Mandi dulu saja." Ucap Johnny, ia menyerahkan jas dan tas kerjanya pada Ten yang disambut baik oleh wanita itu.

Setelah selesai mandi, Ten menemani Johnny menyantap makan malamnya. Sesekali Johnny berkeluh kesah tentang pekerjaannya hari ini yang menurutnya cukup melelahkan. Ten mendengar dengan saksama semua cerita Johnny, terkadang ia juga membantu Johnny mencari solusi atas semua permasalahannya. Ten tengah sibuk mencuci piring yang baru saja digunakan Johnny, tiba-tiba saja ia merasakan tangan kekar memeluknya dari belakang. Itu Johnny, pria tinggi itu membenamkan wajahnya tepat ke ceruk leher Ten. Ten yang baru saja mencuci dan mengelap tangannya mulai mengusap rambut Johnny.

"Aku lelah…." Ucap Johnny, ia benar-benar merapatkan pelukannya pada tubuh mungil Ten.

"Sayang sekali…. Padahal Seulgi bilang kita sudah boleh melakukan itu." Ucap Ten. Johnny membelalakkan matanya dan bergegas menggendong Ten, ia membawa wanita mungil itu ke kamar mereka. Dan detik itu juga ten sangat tahu apa yang akan terjadi padanya. Ten sama sekali tidak masalah lagipula dia sudah sangat merindukan tubuh Johnny setelah sekian lama tak bermain bersama.

Ten terbangun saat matahari mulai beranjak dari peraduannya, ia merasakan tangan kekar Johnny yang masih melingkar di tubuhnya dan jangan lupakan dada bidang pria itu yang terekspos sempurna mengingat ia tak menggunakan atasannya saat tertidur. Ten menyentuh wajah Johnny dengan lembut. Menjelajahi setiap pahatan Tuhan yang begitu sempurna dan tersaji di depan matanya saat ini. Ten menelusuri wajah Johnny dengan jemari lentiknya, bergerak dari kening ke bawah mata lalu ke hidung dan berakhir di dagu. Ten sedikit terkekeh saat mendapati mata Johnny yang bergerak-gerak, sepertinya pria itu sadar jika sejak tadi Ten mengganggu tidurnya. Perlahan Johnny membuka matanya dan mendapati Ten yang tersenyum cerah di hadapannya. Johnny ikut tersenyum dan menyambar bibir ranum Ten yang terlihat begitu menggoda pagi ini.

"Jadi kau yang mengganggu tidurku sejak tadi." Ucap Johnny, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Ten membuat wanita itu dapat mendengar dengan jelas degup jantung Johnny yang beraturan.

"Kenapa tak bangun sejak tadi, sudah tahu aku mengganggumu." Ucap Ten.

"Masih mengantuk..." Balas Johnny.

"Cepat bangun tuan tampan. Kau harus bekerja." Ucap Ten, ia tengah sibuk merapikan rambutnya yang terlihat cukup berantakan saat bangun pagi ini.

"Malas sekali hari ini." Ucap Johnny, ia masih sibuk meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah aktivitasnya bersama Ten semalam.

"Jangan malas, cepat bangun. Taeyong eonni bilang Gucci baru saja mengeluarkan tas baru." Ucap Ten seraya bercanda.

"Sejak kapan kau tertarik dengan barang seperti itu." Johnny menatap Ten penuh tanda tanya.

"Aku hanya bercanda…. Sudah sana cepat mandi, aku akan memasak." Ucap Ten, ia melenggang pergi meninggalkan Johnny yang masih bermalas-malasan di kasur.

Di akhir pekan yang cerah Ten nampak tersenyum sumringah. Semalam Taeyong dan Jaehyun mengabari pasangan muda itu jika anak mereka telah lahir ke dunia. Ten dan Johnny tengah berada di salah satu mall terbesar di Kota Seoul, mereka berniat memberikan hadiah untuk little Jung yang baru saja menyapa dunia. Setelah cukup lama memilih akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan toko perlengkapan bayi dan melajukan mobilnya menuju ke Yangji Hospital.

"John, aku harus menulis apa?" Tanya Ten. Saat ini mereka tengah berada di mobil dan Ten nampak sibuk dengan kartu ucapan yang belum berisi tulisan.

"Tidak perlu. Katakan saja langsung pada mereka berdua." Jawab Johnny, ia nampak memfokuskan pandangannya ke arah jalan raya yang nampak lengang hari ini.

"Kau tak romantis sama sekali John." Ucap Ten, lama-lama kesal juga jika mmeinta saran Johnny, pikirnya.

Tak lama mobil yang Johnny kendarai menepi di tempat parkir Yangji Hospital. Sepasang suami istri itu bergegas menaiki lift dan menuju ke ruangan VVIP tempat Taeyong berada. Tentu saja istri calon pemilik rumah sakit harus mendapatkan perawatan yang spesial. Ten nampak memasukkan kartu ucapan yang baru saja ia tulis ke paper bag yang ia bawa sejak tadi, sebenarnya Johnny sedikit penasaran dengan kalimat yang Ten tulis disana namun ia tak mau terkena omelan Ten untuk kedua kalinya.

"Annyeong…." Ten sedikit berteriak saat memasuki ruang rawat Taeyong.

Sepasang suami istri yang nampak sedang sibuk dengan bayi kecil mereka nampak menatap tajam ke arah Ten, untung saja little Jung tidak terganggu sama sekali. Ruang rawat Taeyong nampak dipenuhi dengan berbagai macam hadiah dan karangan bunga. Ten sampai pusing sendiri melihatnya.

"Wah lucunya. Dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Ten. Taeyong, Jaehyun dan Johnny saling berpandangan, bukankah Ten sudah tahu jenis kelaminnya saat mereka melakukan panggilan video beberapa jam yang lalu.

"Aku hanya bercanda…." Ucap Ten seraya terkekeh.

"Kukira kau amnesia." Balas Taeyong yang sedang asyik menikmati sup rumput laut miliknya.

"Sakit tidak?" Tanya Ten, ia duduk di sebelah ranjang Taeyong seraya menatap lekat wajah wanita cantik itu.

"Saat dia keluar tentu saja tak terasa apapun, tapi setelah selesai operasi dan efek anastesinya menghilang rasanya aku ingin berteriak keras." Jawab Taeyong. Ya Taeyong berhalangan melahirkan normal karena si kecil berada dalam posisi sungsang saat masih di dalam perut. Ten hanya mengangguk menjawab pertanyaan Taeyong, ia tersenyum cerah saat si kecil menggenggam jari kelingkingnya.

"Siapa namanya?" Tanya Johnny. Ia tengah berdiri di samping box bayi dan menatap lekat ke arah bayi mungil itu.

"Jung Minhyung-"

"Tapi panggilannya Mark." Taeyong memotong ucapan Jaehyun.

"Kenapa dipanggil Mark?" Tanya Johnny.

"Kau juga kenapa dipanggil Johnny?" Pertanyaan itu tidak meluncur dari mulut pasangan Jung, tapi dari mulut Ten yang masih asyik bermain dengan Minhyung yang menurutnya begitu lucu.

"Kau istriku Ten, setidaknya belalah aku." Ucap Johnny, Taeyong dan Jaehyun hanya tertawa melihat tingkah pasangan yang ada di hadapan mereka. Ten hanya terkekeh dan kembali fokus pada Mark yang mengerjapkan matanya sejak tadi. Ten hampir saja mencubit pipi putih Mark jika Taeyong tak memelototinya sejak tadi.

"Ini hadiah dari kami…." Ten menyodorkan paper bag berukuran besar pada Taeyong dan diterima dengan senyuman ramah oleh wanita cantik itu.

Saat matahari mulai kembali ke peraduannya, Ten dan Johnny ikut berpamitan pada Jaehyun dan Taeyong dan bergegas ke rumah mereka. Di sepanjang perjalanan Ten tak henti-hentinya menatap foto Mark yang sempat ia ambil dengan ponsel miliknya.

"Mark lucu sekali ya John, lihat…." Ucap Ten ia menyodorkan ponselnya pada Johnny yang menampilkan gambar Mark yang sedang tertidur pulas.

"Tapi alisnya aneh." Ucap Johnny.

"Yak…. Dasar pria jahat, bisa-bisanya kau meledek bayi yang baru lahir." Ucap Ten, ia mendengus sebal karena kesal dengan tingkah Johnny.

"Aku hanya bercanda sayang." Jawab Johnny seraya terkekeh.

"Anak kita bisa selucu Mark tidak ya?" Ten bermonolog.

"Tentu saja, anak kita pasti lebih lucu dan lebih tampan daripada Mark. Kau tenang saja, bukankah gen kita superior." Ujar Johnny, ia terlihat bangga pada dirinya sendiri.

"Kau mau anak laki-laki?" Tanya Ten penuh selidik.

"Apa saja boleh. Tapi kan kita sedang membicarakan Mark." Balas Johnny.

Ten dan Johnny benar-benar serius soal momongan. Sepasang suami istri itu cukup rutin melakukan this and that sampai akhirnya Ten pusing sendiri. Di hari sabtu yang cerah Ten nampak tengah berbaring di kasurnya seraya menonton beberapa video dari kelas memasaknya. Tiba-tiba saja perhatian Ten teralihkan saat melihat kalender yang berada di atas meja nakas. Ten membalik kalender meja itu ke bulan sebelumnya dan ia cukup terkejut karena ternyata datang bulannya telah lewat empat minggu dari jadwal yang seharusnya. Ten membelalakkan matanya, bagaimana bisa ia tak sadar jika datang bulannya terlewat selama itu. Dengan cepat Ten berjalan menuju meja riasnya, ia membuka laci dan mengambil tiga buah testpack dari dalam sana. Ten masuk ke kamar mandi dan mencoba tiga jenis testpack yang berbeda itu. Ten memejamkan matanya selama beberapa menit dan saat membuka matanya ia terkejut jika ketiga testpack itu menunjukkan tanda dua garis yang berarti positif. Ten terduduk di lantai kamar mandi dan mulai menangis keras, ia merasa begitu bersyukur karena Tuhan benar-benar mengabulkan semua doanya.

"Ten…. Kau di dalam?" Johnny yang panik nampak menggedor pintu kamar mandi yang sempat Ten kunci beberapa menit lalu.

"Johnny…." Lirih Ten, ia membuka pintu dan memeluk tubuh tegap Johnny yang nampak berdiri di ambang pintu.

"Hei, kau kenapa?" Tanya Johnny. Ia terlihat benar-benar bingung karena istrinya tiba-tiba saja menangis dan memeluknya

"John-Johnny…." Ten kembali berucap, kali ini ia menyodorkan salah satu testpack yang sejak tadi berada di tangannya.

"Kau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Johnny, tentu saja ia begitu terkejut melihat apa yang ada di hadapannya.

"Hua…. Bahkan Johnny tidak percaya…." Ten kembali menangis meraung dan memeluk erat Johnny. Darisitu Johnny sadar jika apa yang ada di hadapannya adalah kenyataan, tanpa sadar netra tajamnya ikut berkaca-kaca dan ia membalas pelukan erat Ten. Hari itu Ten dan Johnny benar-benar bahagia dengan apa yang mereka dapatkan. Akhirnya apa yang mereka impikan sejak lama menjadi kenyataan, setelah banyaknya pasang surut yang mereka lalui bersama.