29. Ten's Struggle

Kehamilan Ten kali ini benar-benar menguras seluruh tenaganya. Ia bahkan menghentikan seluruh aktivitasnya dan terpaksa berbaring di tempat tidur karena mual yang berkepanjangan. Sejak kemarin wanita cantik itu sibuk meringkuk di kasurnya dan bolak-balik ke kamar mandi karena mual yang tak kunjung henti. Bahkan rasanya apapun yang baru saja Ten masukkan ke dalam perutnya akan kembali keluar tanpa sisa di dalam sana. Hari ini Ten nampak sedang berbaring di kasur seraya memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, dengan malas Ten mengambil ponselnya dan mulai berbincang dengan seseorang di seberang sana.

"Kau masih mual?" Itu suara Johnny, pria tinggi itu harus pergi ke kantor pagi-pagi sekali karena ada rapat kerjasama dengan perusahaan lain yang tidak bisa ia tinggalkan.

"Hum…." Ten hanya bergumam tak jelas, ia cukup malas melakukan apapun hari ini.

"Tunggu ya, sebentar lagi aku pulang." Ucap Johnny.

"Iya. Sudah ya John aku pusing, ingin tidur saja." Ucap Ten.

"Jangan lupa mak-" Ten memutuskan panggilan telepon sebelum Johnny sempat menyelesaikan kalimatnya. Ten kembali bergelung dengan selimut tebalnya dan meringkuk seperti anak bayi.

Johnny kembali ke rumah tepat di sore hari, ia berjalan cepat dan bergegas memasuki kamarnya. Di kasur besar mereka, ia mendapati Ten yang tengah bergelung dengan selimutnya dengan makanan yang masih utuh di meja nakas. Tandanya Ten belum mengisi perutnya dengan apapun hari ini.

"Ten…." Johnny mengguncang pelan tubuh Ten berniat membangunkan istrinya itu.

"Hum…." Ten bergumam dengan mata yang masih terpejam.

"Makan dulu, kau bahkan sama sekali tak menyentuh makanan sejak pagi." ucap Johnny, ia mengelus lembut kepala Ten dan menyingkirkan rambut yang menghalangi netra indah milik istrinya.

"Mual John, nanti keluar lagi." Ucap Ten, ia sebenarnya cukup frustasi karena apapun yang ia makan akan kembali keluar beberapa menit setelahnya.

"Setidaknya makan dulu, kau juga butuh energi sekalipun hanya mual dan muntah seharian." Balas Johnny. Ten yang cukup malas berdebat dengan Johnny memutuskan untuk bangkit dari tidurnya dan bersandar dengan kepala yang cukup berat.

Johnny yang baru saja selesai berganti pakaian menghampiri Ten dengan berbagai makanan di tangannya. Dengan telaten pria tampan itu menata semua makanan di meja nakas dekat kasur mereka. Ten diam saja, ia masih sibuk bersandar karena kepalanya semakin berat.

"Aaaa…. Ayo makan." Ucap Johnny, ia menyuapkan makanan pada Ten. Dengan malas wanita itu membuka mulutnya dan menelan bulat-bulat apapun yang Johnny suapkan untuknya.

"Mau ke rumah sakit saja?" Ucap Johnny, sebenarnya ia cukup khawatir saat melihat wajah Ten yang cukup pucat hari ini.

"Tidak usah." Balas Ten.

"John, aku kenyang." Ucap Ten. Bahkan wanita itu baru makan sebanyak lima sendok.

"Sedikit lagi ya, ayo aaa…." Ucap Johnny, ia kembali menyodorkan makanan ke mulut Ten.

"Tidak John, aku mual. Mau tidur saja." Ucap Ten manja. Johnny tak kuasa menolak, ia membiarkan istrinya kembali berbaring dan ia kembali melanjutkan tidurnya.

Johnny baru saja selesai dengan makanannya, ia tengah merapikan beberapa piring dan membawanya ke wastafel untuk dibersihkan. Saat sudah selesai dengan semua piringnya Johnny kembali ke kamar dan ia mendapati Ten yang beranjak dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi dengan tangan yang menutupi mulutnya.

"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Ten kembali memuntahkan semua makanan yang baru masuk ke perutnya beberapa menit lalu.

"Hoek…. Hoek…. Hoek…." Johnny memijat lembut kening Ten, meskipun ia tak tahu efek apa yang akan hadir dari usaha kecilnya itu.

Ten membersihkan mulutnya dengan nafas yang memburu. Ia mengelap mulutnya dengan handuk kecil yang tergantung di kamar mandi mereka. Ten yang cukup lemas tiba-tiba saja limbung ke arah Johnny. Dengan sigap pria tinggi itu menangkap tubuh Ten dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia mengelus lembut punggung Ten dan berharap dapat meringankan sedikit beban yang Ten rasakan. Ten yang berada di pelukan Johnny menurut saja dan menikmati sentuhan lembut Johnny di punggungnya.

"Mual John…." Lirih Ten. Johnny mengecup lembut pucuk kepala Ten dan semakin mengeratkan pelukannya pada wanita cantik itu.

"Kita ke rumah sakit ya?" Ucap Johnny. Ia menatap lekat netra indah Ten yang nampak sedikit memerah karena hawa panas yang menguar dari tubuhnya.

"Tidak mau. Mau tidur saja." Lirih Ten.

"Iya, kita tidur ya." Ucap Johnny. Pria tinggi itu menggendong Ten dan membawanya ke kasur mereka. Johnny menyamankan letak selimut Ten dan berusaha membuat wanita mungil itu nyaman dalam tidurnya.

Johnny pikir semuanya akan lebih baik saat pagi menjelang. Namun nyatanya hari ini ia kembali terbangun karena suara muntah Ten yang berasal dari kamar mandi mereka. Dengan langkah berat Johnny menyusul Ten yang masih berada di kamar mandi, ia kembali melakukan apa yang biasa ia lakukan saat Ten tengah muntah-muntah. Memijat lembut tengkuknya dan mengelus pundak wanita itu. Setelah selesai Johnny kembali membawa Ten ke kasur mereka dan membiarkan wanita itu berbaring disana. Johnny memutuskan untuk turun ke bawah dan membuat sarapan untuk dirinya dan Ten, setidaknya pagi ini ia akan memastikan jika Ten menghabiskan sarapannya, tidak seperti kemarin.

Johnny yang baru saja selesai dengan semua urusan dapur melepas celemeknya dan kembali ke lantai atas untuk memanggil Ten yang tengah berbaring di kasurnya. Saat sampai di kamar mereka Johnny cukup terkejut saat tak mendapati Ten di atas kasur. Ia mulai panik memanggil nama Ten. Mata tajamnya membulat sempurna saat mendapati pintu kamar mandi mereka yang sedikit terbuka dan menampilkan Ten yang terbaring lemah di sana. Akhirnya wanita cantik itu tumbang juga, dengan panik ia menghampiri Ten dan mengangkatnya ke kasur mereka. Wajah Ten terlihat begitu pucat pagi itu, Johnny memutuskan untuk membawa Ten ke rumah sakit. Di mobil ia terlihat gusar dan memulai panggilan telepon dengan Jaehyun, ia mengabarkan pada dokter tampan itu tentang kondisi Ten saat ini.

Sesampainya di depan IGD Yangji Hospital terdapat beberapa perawat yang menyambut kedatangan mereka. Dengan sigap Johnny mengangkat tubuh mungil Ten ke brankar yang telah dibawa oleh beberapa perawat, Johnny menyerahkan kunci mobilnya pada petugas parkir dan bergegas menyusul Ten masuk ke IGD.

Hyperemesis gravidarum….

Istilah medis yang membuat Johnny bingung pagi itu. Ia nampak tengah berbincang dengan Seulgi yang mengatakan tentang diagnosis Ten beberapa menit yang lalu.

"Ten mengalami morning sickness parah selama kehamilan. Ia perlu dirawat beberapa hari dan akan diberikan infus untuk memenuhi asupan nutrisinya." Jelas Seulgi. Johnny mengangguk paham setelah mengerti dengan penjelasan dokter cantik di hadapannya itu. Setelah perbincangan mereka selesai Johnny bergegas pamit dan kembali ke ruang rawat Ten. Johnny memilih salah satu kamar VIP supaya ia juga bisa mengerjakan pekerjaannya saat menjaga Ten.

"Bagaimana? Apa kata Seulgi?" Itu suara Jaehyun. Pria bersnelli putih itu nampak baru saja datang ke rumah sakit.

"Hiperemesis gravidarum." Ucap Johnny singkat. Bahkan beberapa menit lalu ia masih kesulitan mengingat nama penyakit yang Seulgi sebutkan namun kali ini mulutnya berhasil mengucapkan penyakit itu tanpa salah sedikitpun. Jaehyun hanya mengangguk mengerti, ia duduk di sebelah Johnny yang tengah menatap Ten yang nampak tertidur dengan damai.

"Tak perlu khawatir, beberapa wanita hamil mengalami apa yang Ten alami." Ucap Jaehyun, ia mengelus lembut pundak Johnny dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.

"Separah itu?" Tanya Johnny.

"Hum…. Gejala morning sickness parah seperti yang Ten alami." Balas Jaehyun.

Jaehyun kembali ke ruangannya, Johnny memilih untuk mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang Ten, menatap lekat wajah wanitanya yang nampak tertidur dengan damai sekalipun wajahnya cukup pucat hari itu. Setidaknya itu lebih baik daripada melihat Ten mual dan muntah tak karuan seperti pagi tadi. Johnny mengelus lembut punggung tangan Ten yang tertancap infus. Seulgi bilang Ten mengalami dehidrasi dan kekurangan nutrisi jadi wanita itu harus mendapatkan cairan melalui intravena untuk memenuhi nutrisinya.

"John…." Lirih Ten, Johnny tak sadar jika Ten telah membuka matanya.

"Hei, kenapa?" Tanya Johnny lembut seraya membelai pipi putih Ten.

"Kenapa di rumah sakit?" Ten jelas sadar ia sedang tidak berbaring di kasur kamarnya.

"Kita disini sebentar ya, supaya kau dan aegi tetap sehat." Ucap Johnny, ia berusaha meyakinkan Ten supaya tetap berada di rumah sakit sampai waktu yang belum ditentukan. Ten menganggukan kepalanya sebelum akhirnya kembali bertanya.

"Apa kata Seulgi?" Tanya Ten, jemarinya lentiknya menggenggam erat jemari milik Johnny.

"Hiperemesis gravidarum. Singkatnya kau mengalami morning sickness parah selama kehamilan." Ucap Johnny, lama-lama dia bisa mengingat dengan baik istilah medis itu. Ten nampak mengangguk mendengar penjelasan Johnny.

"Kau tidak bekerja?" Tanya Ten.

"Mana bisa aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini." Ucap Johnny seraya mengecup punggung tangan Ten.

"Pergi saja sana. Nanti aku bisa menghubungi Jungwoo atau Seohyun eonni." Ucap Ten.

"Dengarkan aku Ten. Kenapa kau butuh orang lain saat aku bisa berada disampingmu sepanjang hari. Lagipula aku telah menyuruh Taeil untuk mengantarkan berkas-berkas pentingnya kemari." Ucap Johnny.

Johnny mulai menyantap sarapannya ditemani Ten yang masih terbaring lemah. Hari ini Johnny tak perlu repot-repot memaksa Ten memasukkan sesuatu ke mulutnya, lagipula wanita itu telah mendapatkan nutrisi melalui cairan intravena. Johnny sesekali mengajak Ten berbincang dan menghibur istrinya itu. Ten yang diajak bicara hanya menanggapi seadanya, ia merasa cukup lelah hari ini.

Setelah kurang lebih seminggu berada di rumah sakit, hari ini Ten diizinkan pulang. Johnny sebenarnya sempat melarang, namun Ten beralasan jika ia sudah merasa lebih baik daripada sebelumnya dan dengan berat hati Johnny menyetujui keinginan Ten untuk keluar dari rumah sakit hari itu. Setelah kepulangan Ten dari rumah sakit Johnny benar-benar memperhatikan asupan nutrisi istrinya. Ia turun langsung ke dapur untuk memasakkan makanan untuk Ten sesuai dengan arahan yang diberikan Seulgi saat di rumah sakit. Johnny juga memastikan jika Ten tak melewatkan obat dan vitaminnya. Johnny merasa jika keadaan Ten menjadi lebih baik setelah ia mengkonsumsi obat-obatan dari rumah sakit. Johnny bahkan sangat jarang pergi ke kantor, ia banyak menyelesaikan pekerjaannya di rumah dengan Taeil yang sering bolak-balik dari Seo Corp ke rumah mereka.

Setelah sekian lama tak menginjakkan kaki di Seo Corp, akhirnya hari ini Johnny kembali kesana karena ada rapat penting yang harus ia datangi dan ada beberapa permasalahan perusahaan yang harus ia selesaikan. Sebenarnya Johnny cukup berat meninggalkan Ten seorang diri di rumah terlebih hari ini Ten kembali mengalami mual dan muntah yang cukup parah. Ten kembali mengalami mual dan muntah saat kandungannya memasuki bulan ketiga, beberapa minggu lalu Ten bahkan kembali masuk rumah sakit karena mengalami dehidrasi parah.

Malam harinya Johnny kembali dari kantor dengan keadaan yang cukup kacau, kepalanya sedikit berdenyut setelah seharian bekerja dan melakukan rapat darurat dengan para petinggi di perusahaannya. Johnny sangat lelah dan ingin beristirahat namun Ten yang tengah muntah di kamar mandi kembali mengusik hatinya. Dengan langkah berat Johnny kembali menghampiri Ten dan mengelus lembut tengkuk wanita itu, setelah selesai Johnny membawa Ten ke kasur mereka dan pria itu melenggang pergi ke dapur untuk memasak makanan. Seperti biasa Johnny kembali berjuang keras menyuapi Ten supaya nutrisi bisa masuk ke perutnya, Ten mati-matian menolak. Ia beralasan jika sedang merasa mual dan tidak ingin makan apapun.

Prang!...

Johnny kehabisan kesabaran, ia membanting sendok yang sejak tadi berada di tangannya. Pria tampan itu menatap nyalang ke arah Ten yang terlihat terkejut dengan tingkah Johnny hari itu.

"Setidaknya makanlah sesuatu. Kau benar-benar menguras kesabaranku dan menyita waktuku, kau tahu?" Ucap Johnny, emosi nampak terpancar jelas di bola matanya.

"Ka-kau serius berbicara begitu John?" Lirih Ten, netra indahnya terlihat mulai berkaca-kaca.

"Iya. Aku sudah lelah melihat tingkahmu selama ini, aku lelah melihatmu mual dan muntah seharian. Aku bahkan benar-benar menghabiskan waktuku untuk mengurusmu." Ucap Johnny. Ten menghela napas dan menatap nyalang ke arah suaminya itu.

"Kau pikir aku yang mau bertingkah seperti ini? Kau pikir aku hanya pura-pura? Bahkan aku tak pernah memintamu untuk meluangkan waktu untukku…." Balas Ten, suaranya terdengar mulai bergetar dan tangisnya siap meledak.

"Aku membencimu John, lebih baik tak usah ada anak ini sekalian." Ten bangkit dari tidurnya dan meninggalkan Johnny yang terpaku, sepertinya pria tampan itu baru sadar atas semua perkataannya yang menyinggung hati Ten.

Johnny segera tersadar dari lamunannya dan mengacak rambutnya. Ia bergegas menyusul Ten yang berjalan cepat ke lantai bawah. Saat Johnny sampai di tangga ia melihat Ten masuk ke kamar tamu dan menutup pintu dengan kencang. Malam itu Johnny sadar jika ia kembali melakukan kesalahan yang mungkin membuat luka lama Ten kembali menganga. Johnny mengetuk pintu kamar Ten namun tak ada jawaban darisana, yang ia dengar hanya suara tangisan Ten yang begitu menyedihkan. Johnny merasa hatinya ikut terluka saat mendengar Ten yang menangis seperti itu.

Johnny memutuskan untuk tertidur di sofa ruang keluarga, ia masih berharap tiba-tiba Ten akan membuka pintu kamarnya. Namun apa yang Johnny harapkan tak pernah terjadi, ia terbangun tepat di pagi hari karena ponselnya yang berdering. Taeil menghubunginya, Johnny mengernyit heran karena Taeil tak pernah menghubunginya pagi-pagi buta seperti ini. Dari pembicaraan singkat pagi itu Johnny tahu jika pagi ini akan dilakukan rapat dengan para pemegang saham. Johnny mendongak saat tiba-tiba Ten keluar dari kamarnya, wanita cantik itu tampak lebih pucat dari semalam dan jangan lupakan kantung mata yang menghiasi mata indahnya. Johnny mendekati Ten yang nampak berjalan ke arah ke dapur, wanita cantik itu mengambil sebotol air mineral dan sebuah apel, sepertinya ia kelaparan.

"Kau lapar? Tunggu sebentar ya biar aku masakkan sesuatu." Ucap Johnny, ia menyentuh lembut tangan Ten namun dihempas begitu saja oleh wanita cantik itu.

"Jangan sok peduli, lebih baik kau pergi." Ucap Ten ketus, ia kembali masuk ke kamarnya dan meninggalkan Johnny yang terpaku di tempatnya.

Johnny menghela nafasnya, ia sadar Ten bertindak begitu karena semua kesalahannya. Johnny memutuskan untuk membuat makanan untuk Ten dan ia membersihkan dirinya sebelum berangkat ke kantor. Johnny menuliskan untaian kalimat di sticky note dan menempelkannya di meja makan, ia tersenyum sekilas sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan rumah.

Maafkan aku….

Jangan lupa makan.

- Suami tampanmu

Dengan berat hati Johnny meninggalkan rumah mereka, seandainya tidak ada rapat yang harus ia hadiri pasti Johnny lebih memilih untuk tetap berada di rumah dan menjaga Ten seharian.

Ten keluar dari kamarnya saat Johnny telah meninggalkan rumah. Ten tidak memungkiri ia merasa lapar, satu buah apel saja tidak cukup untuk mengisi perutnya. Senyum Ten sedikit merekah saat mendapati sticky note yang Johnny tuliskan di meja makan. Suami tampan katanya, Ten sedikit terkekeh, ia tak memungkiri jika suaminya itu memang tampan dan Ten menyukai fakta itu. Ten sedikit menyesal telah memancing emosi Johnny semalam, ia menghabiskan waktu untuk merenungi kesalahannya semalaman. Ten memakan masakkan Johnny walaupun tidak semuanya berhasil masuk ke perutnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, itu Jungwoo. Rencananya mereka berdua akan menjenguk bayi Yuta dan Winwin yang baru lahir, Winwin bilang anaknya perempuan. Ten jadi penasaran sendiri semenawan apa anak dari pasangan lintas negara itu.

Di siang hari Ten telah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, ia tengah menunggu Jungwoo menjemputnya. Beberapa menit lau Ten telah mengabari Jungwoo untuk langsung masuk ke rumahnya, Ten takut jika ia sedang berada di kamar mandi saat Jungwoo datang. Tiba-tiba saja Ten merasakan kepalanya begitu berdenyut dan ia merasa ada sesuatu yang memaksa untuk keluar dari mulutnya. Ten berjalan cepat ke kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya disana, napas Ten cukup memburu, ia membersihkan mulutnya dan berniat keluar dari kamar mandi. Saat berada di ambang pintu tiba-tiba saja pandangannya mengabur dan beberapa detik kemudian wanita cantik itu kembali tak sadarkan diri seperti beberapa minggu yang lalu.

"Ten…. Kau dimana?" Jungwoo yang baru saja memasuki rumah pasangan Seo itu mencari keberadaan Ten di penjuru ruangan.

Jungwoo memutuskan untuk menghubungi ponsel Ten namun usahanya sia-sia karena ponsel Ten tergeletak di atas sofa ruang keluarga. Tatapan mata Jungwoo teralihkan pada pintu kamar tamu yang nampak sedikit terbuka. Dengan ragu Jungwoo memasuki ruangan tersebut dan ia dikejutkan dengan Ten yang tak sadarkan diri di depan pintu kamar mandi.

"Ten…. Ten…. Bangun…." Jungwoo menepuk pelan pipi Ten dan berusaha menyadarkan sahabatnya itu. Namun usahanya seperti sia-sia karena Ten tak memberikan respon apapun. Dengan panik Jungwoo menghubungi kontak darurat di ponselnya dan tak lama kemudian ambulan datang membawa tubuh Ten yang tak sadarkan diri. Jungwoo menyusul dengan mobilnya sendiri ia tak lupa menghubungi Johnny namun pria itu tak mengangkat panggilannya sama sekali, rasanya Jungwoo frustasi sendiri.

Sesampainya di Yangji Hospital Jungwoo memarkirkan mobilnya dan menuju ke IGD tempat Ten sedang mendapatkan tindakan. Dokter bilang Ten mengalami dehidrasi dan kekurangan nutrisi, Jungwoo mengangguk mengerti. Ia bergegas pergi mengurus administrasi dan meminta Ten dipindahkan ke ruangan VIP. Setelah selesai dengan urusan administrasi Jungwoo bergegas pergi ke ruang rawat Winwin, ia berharap disana ada Jaehyun dan Yuta yang bisa membantunya menghubungi Johnny.

"Woo…. Kau kenapa? Seperti dikejar setan?" Itu suara Taeyong, wanita cantik itu nampak terkejut melihat Jungwoo yang datang dengan nafas yang berat seperti baru saja lomba lari.

"Eonni…. Ten- Ten…." Ucap Jungwoo, ia masih sibuk mengatur nafasnya.

"Ah iya Ten mana? Katamu kau datang bersama Ten." Kali ini Winwin yang buka suara. Jaehyun dan Yuta yang berada disana juga menatap keheranan ke arah Jungwoo.

"Ten pingsan, dia ada di kamar sebelah." Ucap Jungwoo.

"Mwo!..." Taeyong berteriak keras dan menghampiri Jungwoo.

"Bagaimana bisa?" Wanita cantik itu kembali bertanya.

"Aku tidak tahu…. Saat aku datang Ten sudah tak sadarkan diri di depan kamar mandi rumahnya." Jelas Jungwoo.

"Oppa, apa kalian punya nomer sekretaris Johnny oppa? Ponselnya tak bisa dihubungi sejak tadi." Ucap Jungwoo, ia menatap ke arah Jaehyun dan Yuta yang tengah berdiri di dekat ranjang Winwin.

"Aku punya. Biar aku yang hubungi." Ucap Yuta, ia mulai mengecek ponsel pintarnya dan menghubungi nomor Taeil.

Saat Taeil mengangkat panggilannya Yuta keluar sebentar dari ruang rawat istrinya dan mulai berbincang dengan Taeil. Tak berapa lama kemudian Yuta kembali masuk ke dalam setelah mengakhiri panggilannya.

"Johnny mematikan ponselnya, Taeil bilang sedang ada rapat pemegang saham hari ini." Ucap Yuta, ia mulai kembali mendekat ke arah Winwin dan menyapa bayi kecil mereka.

"Sejak dulu si bodoh itu selalu begitu." Ujar Jaehyun. Jungwoo tersenyum samar, malang sekali nasib Ten, pikirnya.

"Mark dimana?" Tanya Jungwoo, ia duduk disebelah Taeyong dan mulai berbincang dengan wanita itu.

"Mark bersama halmeoni nya…. Aku benar-benar tergantikan, semua orang hanya menanyakan Mark." Ucap Taeyong sedikit berdrama. Jungwoo hanya terkekeh mendengar perkataan Taeyong.

"Johnny menghubungiku…." Ucap Yuta seraya menunjukkan ponselnya, pria itu kembali keluar dan menerima panggilan dari Johnny.

"Johnny sedang dalam perjalanan." Ucap Yuta.

"Kalau begitu aku temani Ten dulu sampai Johnny oppa datang." Ucap Jungwoo, ia bangkit dari duduknya dan menuju ke ruang rawat Ten.

"Aku ikut Woo, Win aku tinggal sebentar ya…." Ucap Taeyong, Winwin hanya mengangguk seraya tersenyum, lagipula ada Yuta yang menemaninya.

Johnny datang tepat saat Ten terbangun dan tengah berbincang dengan Jungwoo dan Taeyong. Ten yang terduduk di ranjangnya menatap ke arah Johnny dengan mata yang berkaca-kaca, sepertinya wanita mungil itu baru saja menceritakan perdebatannya dengan Johnny pada Taeyong dan Jungwoo. Taeyong yang paham akan keadaan, mengajak Jungwoo untuk kembali ke kamar rawat Winwin, membiarkan pasangan Seo itu menyelesaikan permasalahan mereka.

"Ten…. Aku minta maaf…." Ucap Johnny, ia mendekati ranjang Ten dan menatap manik indah wanita itu yang mulai berkaca-kaca.

"Johnny…." Ten menangis dan memeluk tubuh tinggi Johnny, wanita itu sadar jika kemarahan Johnny semalam bisa terjadi karena ada campur tangannya.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar bodoh semalam, bisa-bisanya kata-kata jahat keluar dari mulutku." Ucap Johnny, ia mengelus lembut punggung Ten dan berusaha menenangkan wanita itu.

"Aku juga minta maaf. Aku menyebalkan sekali ya semalam…." Lirih Ten.

Johnny tertegun, pria tampan itu sadar amarahnya semalam sepenuhnya terjadi karena dirinya sendiri dan hari ini wanita di depannya malah meminta maaf padanya. Betapa bodohnya Johnny yang dengan mudahnya menorehkan luka di hati wanita itu. Hari ini Johnny benar-benar bersyukur karena Tuhan mengizinkannya bersanding dengan Ten mengingat betapa jahatnya ia selama ini.

"Hadiah untuk anak Winwin tertinggal di rumah." Cicit Ten.

"Nanti aku ambil, sekarang istirahat dulu ya. Nanti malam kita jenguk mereka…." Ucap Johnny.

"Johnny disini saja, jangan kemana-mana." Ten semakin manja dan memeluk Johnny dengan erat, ia benar-benar tak mengizinkan Johnny untuk pergi kemanapun.

"Sudah ya istirahat lagi." Ucap Johnny seraya mengecup pucuk kepala Ten. Ten mengangguk dan kembali berbaring di ranjangnya, lagipula kepalanya memang terasa sedikit berat sejak tadi.

Ten terbangun di sore hari, karena suara Johnny yang nampak tengah menghubungi seseorang melalui ponselnya. Ten mengerjapkan matanya berkali-kali, ia dengan perlahan mendekati Johnny dan menyeret tiang infusnya. Ten lapar, entah kenapa tiba-tiba saja anak dalam perutnya berontak dan memaksanya menyantap berbagai makanan. Johnny yang baru saja selesai berbicara dengan seseorang melalui ponselnya nampak terkejut saat mendapati Ten tengah duduk di sofa seraya memakan makanan yang baru saja ia pesan. Johnny tersenyum lembut, setidaknya melihat Ten menyantap makanan tanpa adanya perdebatan diantara mereka merupakan hal yang ingin Johnny lihat sejak lama.

"Lapar?" Tanya Johnny, ia berjalan mendekat seraya mengelus lembut surai hitam Ten.

"Sangat…. Tiba-tiba saja ingin makan, anakmu rakus sekali padahal kan sudah dapat asupan lewat infus." Ucap Ten, ia nampak asyik menyantap beberapa dumpling yang Johnny pesan.

Johnny dan Ten nampak menyantap makanannya seraya sesekali bersenda gurau. Johnny juga menceritakan berbagai cerita lucu demi menghibur Ten yang tengah sakit. Ten sesekali tertawa keras, ternyata suaminya cukup berbakat menjadi komedian, pikirnya. Setelah selesai menyantap makanan mereka, tepat di malam hari Ten dan Johnny memutuskan untuk mengunjungi kamar rawat Winwin. Kamar rawat sang model itu tak jauh beda dengan kamar rawat Taeyong beberapa bulan lalu, penuh dengan berbagai macam bunga dan hadiah dari penggemar dan kolega mereka. Ten takjub sendiri dibuatnya.

"Ten kau sudah sehat?" Winwin menyapa saat Ten membuka pintu ruang rawatnya.

"Hum…. Sudah lebih baik. Dimana baby girl nya?" Ten terlihat penasaran dan bergegas menghampiri box bayi yang berada di sebelah Winwin.

"John…. Sini! Lihat cantik sekali…." Ten menatap lekat ke arah bayi kecil itu dengan senyum yang berbinar.

"Siapa namanya?" Tanya Johnny.

"Tapi kau jangan tertawa…." Itu suara Yuta, ternyata pria itu baru saja keluar dari kamar mandi.

"Untuk apa aku tertawa." Ucap Johnny.

"Nakamoto Xiaojun." Ucap Winwin penuh percaya diri.

"Jinjja? Unik sekali, gemas…." Cicit Ten

Jadi setelah perdebatan panjang dari pasangan lintas negara itu, mereka memutuskan untuk mengambil jalan tengah dan menamai anak mereka dengan gabungan dari nama China dan Jepang. Yuta jelas menyumbang nama Nakamoto karena itu nama keluarganya dan Winwin setelah berpikir hampir berbulan-bulan ia memutuskan untuk mengambil nama Xiaojun, menurutnya nama itu begitu unik dan lucu.

"Annyeong Xiaojun…." Ucap Ten, Xiaojun yang baru saja membuka matanya nampak kebingungan dan mengerjap beberapa kali.

Johnny yang tengah berbincang dengan Yuta menatap Ten dari kejauhan, sepertinya istrinya itu sangat suka bermain dengan Xiaojun. Dalam hati Johnny berharap semoga apapun yang membentang di hadapan mereka akan semakin mudah, jujur saja Johnny sudah cukup sedih saat melihat Ten yang harus ke rumah sakit beberapa kali. Jika saja Johnny mampu meminta penderitaan wanita itu sedikit saja pasti ia sudah memintanya sejak lama, namun itu sepertinya tak mungkin. Jadi tugas Johnny saat ini hanyalah selalu mendampingi Ten apapun keadaannya, selalu mendukungnya, dan berusaha untuk selalu menjaga hati kecil wanita itu yang sempat Johnny lukai beberapa bulan lalu.