30. The Prince Has Come
Usia kandungan Ten telah memasuki bulan kedelapan. Tak seperti bulan-bulan sebelumnya yang membuat Ten cukup kewalahan hingga harus ke rumah sakit beberapa kali. Di bulan ini semuanya sudah kembali normal, bahkan menurut Johnny nafsu makan Ten berlipat ganda. Johnny juga sudah mulai mengurangi intensitas pekerjaannya, ia lebih sering bekerja dari rumah agar dapat menjaga Ten, ia tak ingin kejadian saat Ten pingsan dan ditemukan oleh Jungwoo terulang kembali.
Pagi ini Ten nampak masih terlelap tidur, wanita itu mengeluh semalaman karena tak bisa menemukan posisi tidur yang nyaman. Bahkan awalnya ia berniat tidur di sofa namun Johnny melarangnya dan berakhir dengan Ten yang baru bisa tertidur tepat saat dini hari. Johnny yang nampak sudah terbangun dari tidurnya menatap lekat wajah cantik Ten yang masih tertidur lelap. Ten terlihat sedikit chubby, pipinya yang dulu tirus terlihat lebih berisi. Tanpa sadar Johnny membawa tangan besarnya untuk mengelus pipi putih istrinya itu. Bola mata Ten bergerak perlahan saat merasa tidurnya seperti diganggu oleh seseorang. Ia membuka matanya dan mendapati Johnny yang nampak sudah terbangun dan asyik menatap wajahnya.
"Good morning…." Ucap Johnny seraya mengecup bibir Ten yang semerah cerry.
"Good morning daddy." Balas Ten. Sejak beberapa bulan yang lalu Ten lebih sering memanggil Johnny dengan sebutan daddy. Ten bilang itu sebagai bentuk latihan sebelum anak mereka lahir.
Perlahan Ten bangkit dari tidurnya dibantu oleh Johnny. Ten nampak bersandar di dada bidang Johnny. Tangan Ten mencari keberadaan tangan besar Johnny dan membawanya ke bagian pinggulnya.
"Bisa usap disana? Pegal sekali rasanya." Ucap Ten. Johnny mengangguk lagipula hal itu sudah sering ia lakukan.
Di awal masa kehamilan Ten sama sekali tak meminta hal yang aneh namun akhir-akhir ini wanita itu nampak terobsesi dengan semua hal tentang Disney terutama sosok pangeran yang menurut Ten sangat tampan. Sebulan yang lalu Johnny dikagetkan dengan tagihan pemasangan TV kabel di rekeningnya dan sesampainya di rumah pria tampan itu dikejutkan dengan Ten yang tengah menikmati series The Little Mermaid dengan semangkuk besar popcorn di hadapannya. Hampir setiap hari Ten menghabiskan waktunya menonton series animasi Disney bahkan terkadang ia memaksa Johnny untuk ikut menonton bersamanya. Beberapa hari lalu bahkan ia sempat menangis karena Johnny menolak ajakannya untuk menonton series Cinderella, padahal maksud Johnny bukan begitu. Namun jangan silahkan Ten, ibu hamil memang sensitif bukan.
"Hari ini kita tonton Tangled ya…." Ucap Ten tiba-tiba. Johnny nampak terkejut pasalnya series itu sudah ia dan Ten tonton sebanyak hampir sepuluh kali.
"Tidak bosan?" Tanya Johnny. Pasalnya ia sangat hafal bagaimana tingkah Ten saat menonton series itu. Nantinya ia akan menjabarkan pada Johnny tentang semua alur ceritanya dan itu cukup membuat Johnny gemas.
"Sama sekali tidak. Setelah itu kita nonton The Little Mermaid lalu Brave. Bukankah adiknya Merida lucu-lucu." Ucap Ten dengan mata berbinar. Ayolah bahkan Johnny tak tahu siapa itu Merida.
"Bukankah yang ini juga lucu." Ucap Johnny seraya mencubit pipi chubby Ten.
"Ih menyebalkan sekali…." Cicit Ten.
Johnny membawa tangan besarnya ke perut buncit Ten dan mengusapnya dengan perlahan, nampak ada tendangan kecil yang muncul dari dalam sana. Dan itu berhasil membuat Ten sedikit meringis karena bayi mereka cukup aktif akhir-akhir ini.
"Dia merindukanmu." Ucap Ten.
"Tentu saja aku kan daddy nya." Ucap Johnny bangga. Tern hanya terkekeh dan menikmati sentuhan Johnny di perutnya.
"Kau sudah punya nama untuknya?" Tanya Ten.
"Sepertinya belum." Jawab Johnny.
"Coba cari yang mirip nama pangeran John." Ucap Ten semangat, sebulan yang lalu mereka baru diberi tahu oleh Seulgi jika anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Johnny membelalakkan matanya jadi benar istrinya itu tengah terobsesi dengan para pangeran.
"Yang benar saja?" Ucap Johnny.
"Ayolah John…. Bukankah itu bagus." Bujuk Ten. Johnny tak mengerti lagi bagaimana caranya menghadapi istrinya ini.
Siang ini Ten dan Johnny kembali mengunjungi Seulgi untuk check up mingguan. Semenjak memasuki trimester ketiga mereka berdua lebih sering pergi ke rumah sakit entah itu untuk check up rutin maupun ikut kelas prenatal. Bicara soal kelas prenatal, Ten sudah mengikutinya sejak lama, wanita itu sangat ingin melakukan persalinan normal, Johnny sih mendukung saja lagi pula ia sangat senang menemani Ten mengikuti kelas yoga sekalipun berakhir digoda oleh para wanita disana.
Setelah sebelumnya pangeran mereka selalu memalingkan wajahnya jika di USG, kali ini ia menampakkan dirinya, Ten dan Johnny yang penasaran sejak lama tentu saja sangat senang melihat wajah pangeran mereka. Bahkan si kecil nampak melambaikan tangannya seolah ingin menyapa Ten dah Johnny. Semua tes yang dilakukan oleh Ten hari itu menunjukkan hasil yang baik. Saat sesi konsultasi juga Ten bercerita tentang banyak hal. Wanita itu mengatakan pada Seulgi jika sejak kemarin ia mulai merasakan kontraksi.
"Ah itu wajar, kontraksi palsu memang muncul saat mendekati waktu persalinan." Jelas Seulgi. Ten mengangguk mengerti dan mereka mengakhiri sesi konsultasi mereka hari itu.
Seulgi meresepkan beberapa vitamin dan suplemen untuk Ten. Karena dimasa ini bayi akan mengambil banyak cadangan kalsium dari tubuh ibu, Seulgi selalu berpesan pada Ten untuk meminum suplemennya agar ia tak kekurangan kalsium.
Malam itu Ten nampak baru saja selesai membaca buku miliknya, dan ia tengah bersandar di kasur. Ten meletakkan bukunya di meja nakas dan mengambil foto USG yang disimpan di laci meja nakas. Ten tersenyum memandangi wajah pangeran mereka, sekalipun hanya gambaran hitam tapi ia tetap senang melihat itu.
"Lihat apa?" Tanya Johnny, ia menghampiri Ten dan mengecup pipi chubby wanita itu.
"Lihat…. Lucu kan? Bukankah hidungnya sangat panjang." Ucap Ten, ia tersenyum cerah seraya menunjukkan foto USG pada Johnny.
"Kan sudah kubilang anak kita pasti akan jadi yang paling tampan, lihat saja siapa daddy nya." Ucap Johnny penuh percaya diri. Ten hanya tertawa mendengar perkataan Johnny, tapi ada benarnya juga Johnny itu sangat tampan menurut Ten. Apalagi suaminya itu selalu jadi bahan godaan para ibu hamil lainnya di kelas prenatal.
Ten telah berada di rumah sakit sejak pagi tadi. Wanita itu telah merasakan kontraksi yang semakin kuat seiring mendekatnya waktu persalinan. Johnny selalu berada di sampingnya. Pria itu tak pernah meninggalkan Ten, hari ini bahkan ia lupa dimana terakhir kali meletakkan ponselnya saking sibuknya dengan Ten sejak tadi.
"Sakit…." Lirih Ten, ia tengah berdiri dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Johnny. Johnny menenangkan Ten, ia mengelus pinggul Ten berusaha meringankan beban wanita itu.
Tepat tengah malam, pembukaan Ten sudah lengkap. Seulgi dan beberapa perawat mulai menghampiri Ten dan membantu wanita itu dalam proses persalinan. Johnny berada di samping Ten, ia memberikan tangannya untuk Ten genggam jujur saja tiba-tiba saja Johnny merasa jemarinya akan patah karena digenggam Ten begitu erat. Peluh mulai membanjiri kening Ten dan Johnny tak tega melihat Ten hari itu, terlebih saat melihat wanitanya kesakitan. Tak lama suara tangisan bayi yang memekakkan telinga mulai memenuhi ruangan mereka. Seulgi membawa bayi kecil itu dan membiarkannya berbaring di dada Ten dan mulai mencari asi miliknya. Ten yang baru saja mengerahkan semua tenaganya nampak memandang bayi kecil mereka dengan mata yang berkaca-kaca. Tiba-tiba saja Ten mendengar seseorang menangis di dekatnya, itu Johnny. Pria itu menangis terisak dan membenamkan wajahnya di bahu Ten.
"Kau kenapa?" Tanya Ten, jujur saja ia sedikit terkekeh melihat Johnny menangis.
"Terima kasih." Ucap Johnny seraya mengecup lembut kening Ten.
Ten telah kembali ke ruang rawatnya ia nampak masih tertidur karena cukup lelah setelah berjuang beberapa jam yang lalu. Nyonya Seo nampak berada di ruang rawat Ten, ia tersenyum sumringah seraya memandangi wajah tampan bayi kecil yang berada dalam gendongannya.
"Eomma tidak mengira anakmu sangat tampan." Ucap nyonya Seo seraya terkekeh.
"Aku saja begitu tampan masa anakku tidak tampan." Ucap Johnny, ia tengah menikmati kopi miliknya yang baru saja ia beli beberapa menit yang lalu.
Nyonya Seo hanya tersenyum menanggapi perkataan anaknya itu, tapi penampakkan anak Ten dan Johnny benar-benar menawan. Rambutnya lebat seperti milik Johnny, kulitnya seputih milik Ten, dan jangan lupakan hidung bangirnya yang terlihat begitu sempurna.
"Jelas-jelas wajahnya bisa tampan karena mirip dengan Ten." Ucap nyonya Seo.
"Eomma coba perhatikan lagi, bukankah gurat wajahnya mirip denganku." Ucap Johnny, ia mulai bersikeras dan mendekat ke arah anaknya.
"Jadi siapa namanya?" Tanya nyonya Seo.
"Hendery Seo." Ucap Johnny.
"Kau terlalu banyak menonton series pangeran ya?" Tanya nyonya Seo.
"Bukan aku, tapi Ten yang melakukannya hampir setiap hari." Ucap Johnny.
"Tapi bagus…. Iya kan Dery? Kan dery jadi setampan pangeran." Nyonya Seo bermonolog pada cucu tampannya.
Hendery berada dalam dekapan Ten dan terlihat tengah menikmati asi miliknya. Senyuman Ten tak pernah luntur sejak tadi, jarinya menyentuh pipi putih si kecil.
"Sepertinya untuk anak kedua nanti kau juga harus menonton Disney." Ujar Johnny, ia mendekat ke arah Ten dan ikut menatap wajah tampan putranya.
"Jaga bicaramu. Hendery saja baru lahir sudah bicara yang tidak-tidak." Ucap Ten.
"Aku hanya bercanda sayang…. Tapi aku serius soal Disney." Balas Johnny.
"Benarkan? Bukankah Dery tampan sekali." Ucap Ten.
"Tapi kan Dery tampan karena daddy nya juga tampan." Ujar Johnny tak mau kalah.
Dan dihari itu lengkap sudah kebahagiaan Ten dan Johnny, setelah banyak batu kerikil yang menghalangi jalan mereka akhirnya kedua insan manusia itu bisa berbahagia dan jangan lupakan kehadiran si kecil Hendery di tengah-tengah mereka.
