31. Daddy Johnny
Setelah tiga hari berada di rumah sakit, hari ini Ten dan bayi kecilnya diperbolehkan pulang. Hendery yang baru saja meminum asi nampak tertidur lelap dalam dekapan Ten. Johnny tengah merapikan beberapa barang bawaan mereka beserta hadiah-hadiah yang tampak memenuhi ruang rawat Ten. Seohyun terlihat membantunya sejak tadi, kakak Johnny itu datang bersama dengan Woojin yang sejak tadi sibuk memperhatikan Hendery yang tertidur lelap.
"Imo, Dery kapan bangun?" Tanya Woojin, anak laki-laki itu mengerjap polos seraya menusukkan kelingking kecilnya ke pipi putih Hendery.
"Dery sudah kenyang makanya tertidur, Woojin hyung tunggu ya sampai baby Dery terbangun." Ucap Ten, ia mengusap gemas surai hitam Woojin. Anak laki-laki itu nampak mengangguk semangat dan terus fokus menatap Hendery tanpa mempedulikan eomma dan samchon nya yang sibuk sejak tadi.
"Dery benar-benar tampan. Seandainya kau tak menikah dengan Ten pasti anakmu tak akan setampan itu." Itu suara Seohyun, ia nampak asyik meledek adiknya yang baru saja menjadi ayah itu.
"Yak…. Anakmu juga tak akan selucu Woojin kalau kau tak menikah dengan Kyuhyun hyung." Ucap Johnny tak mau kalah. Ten yang sedang bersama Woojin hanya tertawa mendengar perdebatan sengit antara kakak beradik itu, benar-benar kebiasaan Johnny dan Seohyun jika bertemu pasti selalu berdebat.
"Hendery dapat banyak sekali hadiah. Kau dan Ten pasti pusing saat menatanya nanti di rumah." Ucap Seohyun, ia masih sibuk merapikan beberapa hadiah yang tampak menumpuk di sudut kamar rawat Ten.
"Kan kau yang akan merapikannya disana noona." Ucap Johnny seraya terkekeh. Seohyun hanya mendengus sebal mendengar jawaban adiknya itu. Wanita cantik itu memilih untuk bergabung dengan Ten dan Woojin yang tampak sedang memandangi si tampan yang baru saja membuka matanya.
"Aigo…. Ini benar-benar tak mirip denganmu John. Seratus persen wajah Ten…." Ucap Seohyun, ia membawa Hendery dalam dekapannya dan menatap lekat wajah keponakan tampannya itu.
"Aku kira hanya aku yang berpikir begitu eonni." Balas Ten.
"Yak…. Kalian berdua benar-benar melupakan kontribusiku dalam pembuatan Hendery." Ucap Johnny. Ten dan Seohyun hanya terkekeh dan kembali fokus dengan si kecil Hendery yang sejak tadi digoda oleh Woojin.
Seohyun dan Woojin pamit pulang setelah mengantarkan sepasang orang tua baru itu ke rumah mereka. Tentu saja Woojin sempat merengek namun Johnny memaksa keponakannya itu pulang setelah menyogoknya dengan bermacam-macam cookies yang sempat Ten buat beberapa hari lalu. Sebenarnya Ten tak masalah sama sekali jika Woojin masih mau berlama-lama di rumah mereka lagipula ia juga merindukan anak kecil itu, namun Seohyun bersikeras membawa Woojin pulang karena ia tahu anaknya pasti akan merengek dan bermanja-manja pada Ten seharian. Johnny merapikan beberapa hadiah di kamar yang sudah ia dan Ten siapkan untuk Hendery beberapa bulan yang lalu, sedangkan Ten, ibu baru itu memilih bersantai di ruang keluarga seraya memandangi wajah tampan anaknya.
Tepat sore hari, kediaman Ten dan Johnny terlihat didatangi oleh Winwin, Taeyong, dan Jungwoo. Xiaojun dan Mark juga ikut bersama mereka. Dua bayi kecil itu mulai terlihat menggemaskan dan sudah bisa merespon saat diajak berbicara.
"Astaga, kurasa nanti saat hamil aku harus gunakan cara Ten." Ucap Taeyong, ia nampak memandangi Hendery yang tertidur pulas di baby box miliknya.
"Maksudmu apa eonni?" Tanya Jungwoo, ia tampak asyik bermain bersama Mark yang sibuk meloncat-loncat di paha Jungwoo sejak tadi.
"Ten menonton semua series animasi Disney dan mengulanginya sampai beberapa kali. Dan hasilnya Hendery jadi tampan begini." Jelas Taeyong.
Winwin nampak tengah mengawasi Xiaojun yang tengah berguling-guling di matras tebal yang berada di kamar Hendery. Xiaojun nampak tertarik dengan Mark dan berusaha menggapai bayi lelaki itu.
"Wajah Xiaojun semakin mirip Yuta ya kalau dilihat." Ucap Ten, ia baru saja masuk ke kamar setelah menyiapkan berbagai jenis minuman dan cemilan untuk tamu-tamunya.
"Hum…. Aku saja heran kenapa makin lama makin mirip Yuta, padahal kan aku yang bersusah payah membawanya selama Sembilan bulan." Ucap Winwin dengan nada kesal yang ia buat-buat. Ten dan Taeyong hanya tertawa, Winwin tetaplah Winwin yang polos, pikir mereka.
"Aku akan bilang sesuatu." Ucap Taeyong, ia mulai bergabung di matras bersama dengan yang lain meninggalkan Hendery yang masih terlelap.
"Ada apa eonni?" Tanya Jungwoo.
"Bulan depan sepertinya keluargaku akan pindah ke Amerika." Ucap Taeyong, ia nampak menghela napas sejenak. Hening menguasai para wanita itu, yang ada hanya suara ocehan Mark yang nampak gemas memandangi Xiaojun yang ada didekatnya.
"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Winwin.
"Jaehyun harus melanjutkan pendidikannya di John Hopkins University. Sebagai istrinya tentu saja aku harus mendukung, lagipula bukankah ia akan lebih bersemangat jika aku dan Mark ikut bersamanya." Jelas Taeyong.
Ketiga wanita itu terpaku, jelas saja mereka sangat paham tentang Taeyong bahkan sebelum wanita itu memutuskan untuk menikah. Taeyong yang sebelumnya adalah sosok wanita yang sangat mengutamakan karirnya di atas segalanya, dan saat ini ia sangat berbesar hati demi mendukung karir suaminya. Benar-benar wanita yang baik, pikir mereka.
"Kau hebat eonni." Gumam Ten. Winwin dan Jungwoo tampak mengangguk setuju dan mendukung keputusan Taeyong sepenuhnya.
"Kira-kira berapa lama?" Tanya Jungwoo.
"Mungkin sekitar tiga atau empat tahun, setelah itu kami akan kembali lagi ke Korea." Jelas Taeyong seraya menikmati potongan buah yang Ten sajikan.
"Dan kau nona Kim…. Jangan lupa kabari aku jika kau menikah dengan Lucas." ucap Taeyong, ia nampak menatap tajam ke arah Jungwoo. Yang ditatap hanya terkekeh dan kembali sibuk bermain bersama Mark.
Oek... Oek…. Oek….
Hendery yang sejak tadi tertidur tiba-tiba saja menangis keras, dengan cepat Ten menghampiri anaknya dan membawanya dalam dekapannya. Tak butuh waktu lama bayi tampan itu kembali terdiam dan matanya mengerjap lucu memperhatikan Ten yang tengah menggendongnya.
"Mark hyung jangan begitu." Itu suara Taeyong, ia menarik anaknya menjauh dari Hendery karena Mark yang terlihat penasaran dengan bayi itu mulai menyentuh pipi Hendery. Mark yang sebal setelah ditarik paksa ibunya hanya bergumam tak jelas dan merasa tak terima karena telah dijauhkan dari bayi yang sejak tadi menjadi perhatiannya.
"Yang lembut ya pegang adiknya…." Ucap Taeyong seraya mengelus surai hitam Mark yang belum sempat dipotong. Mark menatap ke arah sang ibu dengan bibir yang mengerucut lucu, tentu saja itu membuat orang para orang dewasa menjadi gemas.
"Tak apa eonni, sepertinya Mark penasaran dengan Dery." Ucap Ten.
"Aku melakukan tindakan pencegahan, minggu lalu Mark sempat memukul anak Chaeyeon saat sedang tertidur. Untuk saja adik Jaehyun itu baik hati, jadi dia malah terkekeh saat anaknya terpukul oleh Mark." Jelas Taeyong.
Xiaojun, satu-satunya bayi perempuan yang ada disana nampak mulai rewel dan mengantuk. Sejak tadi ia menggapai-gapai tangan Winwin dan meminta ibunya itu memberikannya asi. Winwin mendekap tubuh mungil Xiaojun dan mulai menyusui bayi mungilnya itu. Tak butuh waktu lama Xiaojun mulai tertidur dalam dekapan ibunya.
"Tidurkan di baby box Dery saja, Win." Tawar Ten. Winwin mengangguk kemudian bangkit berdiri dan menidurkan Xiaojun di baby box Dery yang berukuran cukup besar untuk anak bayi. Maklum saja orang tua bayi tampan itu kelewat kaya, jadi bisa membeli apapun semaunya.
"Dery benar-benar mirip denganmu." Ucap Winwin. Ia berpindah ke samping Ten dan memperhatikan wajah tampan Dery yang terbangun sejak tadi.
"Benar. Rasanya seperti Johnny tak menyumbang apapun." Balas Taeyong. Jungwoo dan Ten hanya terkekeh mendengar jawaban Taeyong, tapi ada benarnya juga sejak kemari semua orang selalu bilang jika Dery mirip sekali dengan Ten.
"Ngomong-ngomong Johnny kemana?" Tanya Taeyong. Pasalnya sejak mereka datang kemari ia sama sekali tak mendapati eksistensi pria kelewat tinggi tersebut.
"Johnny tidur, sepertinya dia kelelahan setelah seharian sibuk memindahkan barang." Jelas Ten. Para wanita hanya mengangguk ria mendengar jawaban Ten.
Saat malam Jaehyun dan Yuta memutuskan untuk menjemput istri mereka di kediaman Ten dan Johnny, sedangkan Jungwoo sudah berpamitan sejak beberapa jam yang lalu karena ia memiliki janji kencan dengan Lucas setelah berbulan-bulan tak bertemu dengan kekasih tampannya itu. Jaehyun membaringkan tubuh tingginya di sofa ruang keluarga, Yuta dan Johnny yang berada disana nampak keheranan melihat tingkah si Jung itu.
"Kau kenapa?" Tanya Yuta setelah ia menyesap kopi pemberian Johnny.
"Bukan apa-apa. Hanya peregangan." Jawab Jaehyun dengan wajah tanpa dosa. Baiklah ingatkan Johnny untuk tidak memukulnya saat ini.
"John, saat pembuatan Dery apa yang kau lakukan?" Tanya Yuta tiba-tiba. Johnny hampir saja tersedak saat mendengar perkataan sahabat jepangnya itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Johnny.
"Dery sangat tampan John. Ayolah dia sama sekali tak mirip denganmu." Ucap Yuta. Jaehyun menganggukan kepalanya menyetujui perkataan Yuta.
"Yak, kalian sama saja dengan para wanita. Tentu saja Dery bisa setampan itu karena campur tanganku." Johnny kesal juga lama-lama, semua orang terus meledeknya sejak Hendery lahir.
"Ya, semoga saja Dery tak mewarisi sifat-sifat jelekmu." Ucap Jaehyun.
"Lebih baik kau pulang sekarang Jung sebelum ku usir paksa dari rumah ini." Balas Johnny, sedangkan Jaehyun hanya terkekeh. Lagipula mereka berdua sudah lama tak menggoda Johnny.
Rumah dua lantai yang semula ramai itu kini kembali sepi. Para anggota keluarganya nampak berkumpul di kamar utama. Johnny baru saja selesai mandi, ia nampak baru saja selesai mengganti pakaiannya dan menghempaskan tubuh besarnya ke atas kasur. Ten membelalakkan matanya, guncangan besar yang Johnny buat membuat Hendery yang berada dalam dekapannya menangis.
"Kau benar-benar…. Aku sedang bersusah payah membuat Dery tertidur tahu." Ucap Ten, ia nampak kesal dengan tingkah suaminya itu.
"Maaf…." Ucap Johnny seraya terkekeh. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di sebelah Ten dan memandang lekat ke arah Hendery yang mulai kembali terlelap.
Tiba-tiba saja Johnny membuka ponselnya. Ia menatap foto anak bayi yang ada di layar ponselnya dan membandingkannya dengan wajah Hendery.
"Foto siapa?" Tanya Ten, jelas ia sadar dengan apa yang dilakukan suaminya sejak tadi.
"Aku saat masih bayi. Ternyata memang tidak mirip dengan Dery…." Ucap Johnny, ia terlihat mencebikkan bibirnya dan mematikan kembali ponselnya. Ten hanya terkekeh melihat tingkah suaminya itu.
"Kau pikir Dery dapat rambut lebat ini dari siapa jika bukan darimu?" Tanya Ten.
"Benar juga." Ucap Johnny. Ia mulai menciumi pipi bulat anaknya yang berbau khas bayi, hal itu kembali membuat Hendery terbangun dan menangis keras.
"John kau benar-benar menyebalkan…." Ucap Ten, Johnny hanya terkekeh dan melesat cepat ke ruang kerjanya sebelum diomeli lebih parah oleh Ten.
Kehadiran Hendery di tengah-tengah kehidupan Ten dan Johnny layaknya pelangi yang membuat kehidupan mereka lebih berwarna. Suka cita menjadi orang tua muda nampak dinikmati betul oleh pasangan itu, mereka yang bergantian bangun malam untuk menenangkan Dery yang menangis, mengantarnya imunisasi, dan mengajari bayi tampan itu banyak hal. Hari ini Hendery tepat berusia tiga bulan, ia mulai sibuk memutar badannya kesana kemari dan tengah belajar mendudukkan dirinya sendiri. Terkadang bayi kecil itu menangis karena gagal dalam beberapa percobaan, atau kepalanya yang malah kembali bertumpu ke kasur dan menekan pipi bulatnya. Hal itu membuat Ten dan Johnny gemas, bahkan Johnny seringkali melakukan panggilan video dengan Ten jika ia sibuk bekerja. Kali ini yang ia tanyakan bukan lagi Ten, melainkan Hendery yang kian hari kian menggemaskan.
Hari ini Hendery berusia enam bulan. Bayi kecil itu nampak tengah duduk di karpet bulu yang ada di ruang keluarga. Johnny yang tengah sibuk dengan laptopnya nampak duduk di atas sofa seraya mengawasi anaknya itu sesekali, sedangkan Ten nampak tengah sibuk di dapur membuat sarapan untuk mereka semua. Hendery nampak sibuk dengan mainannya, bayi kecil itu berguling-guling sejak tadi, mengangkat kepalanya dan menoleh kesana kemari.
"Bwababababa…." Johnny menoleh sekilas dan mendapati Hendery yang bergelantung di kakinya, sepertinya bayi kecil itu mengajak main daddynya.
"Sebentar ya, nanti main sama daddy…." Ucap Johnny, ia mengangkat tubuh kecil Hendery dan sedikit menjauhkannya dari kakinya.
Beberapa menit kemudian Johnny nampak menutup laptopnya karena semua urusannya sudah selesai. Pria itu turun ke karpet bulu dan menemani Hendery yang tengah menggigiti mainan karetnya, sepertinya bayi kecil itu merasa gusinya gatal karena saat Ten cek kemarin nampak gigi kecil Hendery akan segera tumbuh. Johnny membawa Hendery ke pangkuannya dan menghadapkan wajah kecil bayinya itu ke hadapannya. Hendery nampak antusias mendapati sang ayah yang akhirnya bermain bersamanya. Tangan gempal Hendery menggapai-gapai kacamata yang masih Johnny gunakan. Dengan segera Johnny melepas kacamatanya seolah tak ingin hal buruk terjadi pada benda kesayangannya itu, Hendery nampak mencebikkan bibirnya karena kesal pada Johnny yang malah melepas kacamatanya.
Johnny nampak tengah berbaring di karpet bulu dengan Hendery yang berada di sebelahnya, bayi kecil itu sejak tadi sibuk sekali seolah ingin melakukan sesuatu. Tiba-tiba saja Hendery terduduk di sebelah Johnny, pria itu terkejut bukan main melihat anaknya sudah bisa duduk dengan sempurna dan tanpa bantuan orang lain. Johnny segera bangkit dan membawa Hendery dalam dekapannya, menghujam pipi bulat bayi kecilnya dengan banyak ciuman. Hendery sama sekali tidak menangis ia malah tertawa keras dengan mata yang berbinar cerah.
"Hebatnya anak daddy sudah bisa duduk sendiri…." Ucap Johnny.
"Bwababababa…." Baiklah sejauh ini baru kata-kata itu yang Hendery kuasai.
"Ayo kita beritahu mama." Ucap Johnny, ia dan anaknya melenggang ke dapur dan menghampiri Ten yang masih sibuk memasak.
Johnny memang sedikit gila, ia membaringkan Hendery di atas meja makan dan membiarkan anaknya itu berusaha untuk duduk sendiri. Ten hampir saja memukul suaminya itu, namun amarahnya mereda begitu melihat Hendery berhasil duduk dan menatapnya dengan mata berbinar.
"Ah pintarnya anak mama…." Ten mendekati Hendery namun tak berniat menggendong anaknya itu karena tubuhnya masih berbalut celemek dan sedikit kotor. Hendery mulai mencebikkan bibirnya dan merentangkan kedua tangannya ke hadapan Ten, bayi kecil itu nampak sangat merindukan sang mama padahal baru berpisah sebentar.
"Sama daddy dulu ya, nanti kita main lagi sama mama." Johnny membawa anaknya ke pangkuannya dan mengelus lembut kepalanya.
Ten dan Johnny tengah menyantap makanan mereka, dan jangan lupakan si bayi kecil yang duduk di baby chair nya dengan bibs yang menggantung di lehernya. Johnny selesai sarapan lebih dulu, ia mengambil alih makanan Hendery yang sudah tak terlalu panas seperti sebelumnya. Sejak seminggu yang lalu bayi cerewet itu mulai diberikan makanan pendamping supaya bisa mengenal tekstur makanan. Johnny berniat menyuapi anaknya, jujur saja hari ini adalah pengalaman pertamanya. Dengan percaya diri Johnny menyuapkan sesendok makanan kepada anaknya, namun Hendery malah memalingkan wajahnya dan tak tertarik dengan makanan pemberian Johnny. Pria itu mencoba berkali-kali dengan berbagai macam cara namun Hendery tetap tak peduli padanya. Ten yang gemas akhirnya mengambil alih sendok dari tangan Johnny dan menyuapi anaknya itu.
"Aaaaaa…." Ucap Ten seraya membuka mulutnya, dan detik itu juga Hendery ikut membuka mulut, disaat itulah Ten memasukkan makanannya ke mulut kecil bayinya. Johnny takjub sendiri dibuatnya, jadi begini caranya mengurus anak, pikirnya.
"Hendery tak akan tahu apa maksud dan tujuanmu tadi, kau harus mencontohkan langsung padanya karena ia masih belum bisa mengerti dengan baik. Jadi buka mulutmu saat menyuapi dia, mengerti?" Baiklah Ten sedang menggurui suami tampannya itu.
"Ne seonsaengnim." Ucap Johnny seraya bercanda.
"Lanjutkan ya John, aku mau cuci piring." Ucap Ten, ia melenggang meninggalkan Johnny bersama dengan Hendery yang mulai lahap menyantap makanannya.
Perkembangan Hendery terbilang cukup baik, di usia tujuh bulan bayi tampan itu sudah mulai bisa berdiri dengan tumpuan benda yang ada di sekitarnya. Seperti siang ini, Ten yang baru saja selesai membersihkan rumah memutuskan untuk menemani Hendery bermain, Ten menaruh mainan unicorn kesukaan Hendery di atas meja dan dengan perlahan bayi kecilnya itu mulai berdiri dan menggapai mainan unicorn nya. Saat dirasa Hendery mulai kesulitan untuk kembali duduk dengan sigap Ten mendekatinya dan membantu bayi kecil itu. Ten juga dengan sabar mulai mengajarkan bayinya cara menekuk lutut secara perlahan. Awalnya Johnny berniat membelikan baby walker untuk Hendery, namun Ten melarangnya karena menurut Ten hal itu malah akan menghambat pertumbuhan otot kaki Hendery, lagipula dokter anak yang biasa menangani Hendery juga mengatakan jika lebih baik bayi kecil itu berjalan sendiri dengan kaki telanjang supaya bisa menjaga keseimbangan dan koordinasi tubuhnya.
Hendery yang selalu tersenyum cerah menjadi hiburan tersendiri bagi Johnny setelah disibukkan dengan berbagai macam urusan kantor. Bahkan pria tampan itu mulai mengurangi kesibukannya dan memilih menghabiskan waktu bermain dengan Hendery terutama di akhir pekan. Seperti minggu pagi ini Johnny dengan jahil mengambil paksa mainan unicorn Hendery dan beberapa detik kemudian bayi tampan itu mulai menangis keras. Ten yang tengah membuat kue di dapur jelas tahu apa yang membuat Hendery menangis begitu.
"John aku tak mau tahu buat Hendery berhenti menangis." Teriak Ten.
Kira-kira begitulah rutinitas pasangan muda itu setelah menambah satu anggota keluarganya. Dan jangan lupakan Johnny yang senang sekali menggoda bayi kecilnya, jika Hendery belum menangis karenanya seperti ada yang mengganjal di hati Johnny. Namun Ten amat mengerti tingkah suaminya itu, bukankah setiap orang tua punya cara yang berbeda dalam menyayangi anaknya, dan menurut Ten itulah cara Johnny menyayangi Hendery buah hati mereka.
