33. Hendery's First Step

Hendery sudah memasuki usia ke sepuluh bulan, bayi kecil itu semakin aktif dan cukup membuat Ten kewalahan saat harus menjaganya seorang diri karena Hendery sudah bisa merangkak dengan cepat dan jangan lupakan bayi kecil itu sudah mulai berdiri dan belajar berjalan dengan bertumpu pada benda-benda yang ada di sekitarnya.

"Mammaa… uuu…." Hendery yang tengah duduk di baby chair nya nampak menunggu Ten yang sibuk membuat makanan untuknya. Hendery adalah tipe bayi yang banyak makan karena ia sering menghabiskan energinya dengan merangkak kesana kemari.

"Sebentar ya, sebentar lagi selesai…." Ten berusaha menghibur anaknya itu, sepertinya Hendery mulai kesal karena makanannya tak kunjung datang.

Hendery dengan nafsu makannya yang besar berhasil menghabiskan makanannya hari itu, setelah itu Ten memandikan si bayi tampan dan mendandaninya karena hari ini Ten dan Johnny akan pergi makan malam ke rumah keluarga Seo. Ten berangkat lebih dulu dengan mobilnya dan Johnny akan menyusul sepulangnya pria itu dari kantor.

"Tampannya anak mama…." Ucap Ten, ia nampak bercanda dengan Hendery dan menciumnya beberapa kali. Hendery hanya terkekeh tentu saja bayi kecil itu sangat suka jika dihujani ciuman oleh mama dan daddy nya.

Ten berjalan ke mobil, ia mendudukkan Hendery di baby car seat nya dan mulai melajukan mobilnya. Di rumah keluarga Seo tentu saja Hendery menjadi bintang, bahkan bayi tampan itu sudah diambil alih oleh Seohyun yang mengajaknya bermain sejak tadi.

"Cepat tambah anak sebelum jarak usia antara Woojin dan adiknya semakin jauh." Kira-kira begitulah ucapan nyonya Seo setiap melihat Seohyun bermain bersama Hendery.

"Sudah ada Dery. Iya kan Dery…. Iya Dery tampan ya…." Baiklah Seohyun malah sibuk bermonolog dengan Hendery.

"Bulan lalu Johnny menghubungiku tengah malam hanya untuk mengatakan hal bodoh." Ucap Seohyun. Saat ini ia, Ten, Woojin, dan Hendery tengah bersantai di ruang keluarga dan menemani Woojin mengerjakan PR nya.

"Benarkah eonni?" Tanya Ten penasaran.

"Hum…. Dia bilang Hendery sudah bisa memanggilnya daddy. Demi Tuhan suamimu itu bahkan mengganggu tidur indahku Ten." Ucap Seohyun penuh drama, Ten hanya terkekeh saat mendengarkan pengaduan Seohyun. Memang kakak beradik Seo itu saat bertemu jarang sekali berdamai, namun saat berjauhan mereka sering sekali mencari satu sama lain.

"Mamma... mamamammma…." Si kecil yang mulai kelaparan merangkak ke arah Ten dan berniat meminta makanannya.

"Aigo…. anak mama sudah lapar hm?" Tanya Ten. Seolah mengerti dengan perkataan mamanya, Hendery nampak menganggukan kepalanya dengan mata yang mengerjap lucu.

Hendery berbaring di paha Ten dan menikmati susu miliknya, satu tangannya ia naikkan ke atas seolah mengajak sang mama bermain bersama. Dengan lembut Ten mengguncang tangan Hendery dan meladeni bayi kecilnya itu. Tak lama kemudian Hendery memejamkan matanya, dengan perlahan Ten mengangkat Hendery dan membawanya ke kamar supaya tidurnya lebih nyaman. Ten yang juga mulai mengantuk akhirnya ikut tidur menemani Hendery. Lagipula masih siang dan tak ada yang bisa dilakukan di rumah besar keluarga Seo itu. Saat sore hari Ten terbangun karena suara tangisan Hendery, saat dilihat ternyata bayi kecil itu sudah terbangun dari tidurnya dengan Johnny yang memeluknya erat-erat. Sepertinya suaminya itu sudah pulang dari kantor sejak tadi, pikir Ten.

"Mammmmaaa… di… di…." Ucap Hendery. Bayi kecil itu menangis tanpa air mata dan berusaha menggapai-gapai Ten yang berada tak jauh darinya.

"Kenapa daddy?" Tanya Ten. Ia mulai mengubah posisinya menjadi duduk dan mendekati bayi kecil dan suaminya itu.

"Di… di…." Balas Hendery, ia semakin mendekat ke arah Ten dan memaksa Johnny melepaskan pelukan pada tubuh mungil anaknya. Hendery menabrakkan tubuh kecilnya ke tubuh sang mama dan memeluknya erat, meninggalkan Johnny yang gemas sendiri dengan tingkah anaknya.

Setelah makan malam bersama dan menghabiskan waktu menginap satu hari penuh di rumah keluarga Seo, akhirnya pagi ini Ten dan Johnny memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Tentu saja setelah sedikit pemaksaan, beberapa menit yang lalu tuan dan nyonya Seo memaksa Hendery kembali menginap disana. Ayah dan ibu Johnny terlihat begitu gemas dengan cucu tampannya itu, apalagi setelah kemarin bermain seharian akhirnya Hendery bisa mengucap kata "harabeoji" dan "halmeoni". Kedua orang tua itu jadi gemas sendiri melihat Hendery.

"Eomma, ayolah Hendery harus pulang." Kira-kira begitulah rengekan Johnny saat nyonya Seo sama sekali tak mau melepaskan anaknya. Ten yang berdiri tak jauh dari Johnny hanya terkekeh melihat tingkah suaminya itu, Johnny memang cukup protective pada Hendery akhir-akhir ini.

"Ayo Dery pamit dulu sama halmeoni dan harabeoji." Ucap Ten, saat ini Hendery telah berada di dekapannya dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Ten.

"Oji… oni… papay…." (harabeoji halmeoni bye bye) Ucap Hendery seraya menggoyangkan tangan kecilnya.

"Bye bye, nanti main lagi ya. Jangan ajak daddy mu." Ucap nyonya Seo seraya mengecup pipi bulat Hendery.

"Ne halmeoni." Ten berucap dengan suara anak kecil seolah Hendery yang membalas perkataan neneknya itu.

Setelah mengantar Ten dan Hendery pulang ke rumah mereka, Johnny kembali melajukan mobilnya ke kantor setelah sebelumnya menyempatkan berganti pakaian. Tentu saja keberangkatan Johnny ke kantor bukan hal yang mudah. Si kecil Hendery terus menerus menempel pada Johnny dan tak ingin dipisahkan.

"Di… di… jima…" (daddy kajima) Kira-kira begitulah ucapan Hendery sejak tadi. Bahkan ia sempat menangis saat Ten mengambilnya dari gendongan Johnny.

"Sama mama dulu ya, nanti main lagi sama daddy." Ucap Ten, ia berusaha menenangkan anaknya yang mulai menangis sejak tadi.

"Di… hiks, di… papay…." Ucap Hendery saat Johnny mulai melajukan mobilnya.

"Bye bye Dery…." Balas Johnny. Seandainya keadaan di perusahaannya tidak darurat Johnny lebih baik menghabiskan waktunya bersama Hendery. Tapi apa daya, perusahaannya itu sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan besar yang berada di Inggris, jadi Johnny lebih sering menemui kolega-koleganya akhir-akhir ini.

Saat ini Ten sedang berada di kamar Hendery, mereka tengah bermain bersama dan mendengarkan beberapa suara hewan yang keluar dari buku bacaan yang sempat Ten belikan untuk anaknya beberapa minggu yang lalu.

"Moo… moo…." Ucap Hendery, bayi kecil itu nampak suka sekali meniru suara sapi.

Hendery tengah berada di dekat pintu kamarnya, ia baru saja mengejar bola kecilnya yang menggelinding sampai kesana. Ten tengah merapikan beberapa mainan Hendery, saat ia menoleh ke arah anaknya tiba-tiba saja Ten sangat terkejut karena Hendery terlihat berjalan ke arahnya dengan tangan yang terulur dan menggenggam bola kecilnya. Ten duduk dengan tenang dan menunggu Hendery sampai di dekatnya, sesekali ia terlihat was-was karena takut anaknya kehilangan keseimbangan tubuhnya.

"Mamamamaaaa…." Ucap Hendery saat berhasil sampai di dekapan Ten, ia menyerahkan bola kecilnya pada Ten dan kembali membenamkan wajah mungilnya di dada sang mama.

"Good job, anak mama sudah bisa berjalan sendiri. Pintarnya…. Nanti kita beri kejutan untuk daddy ya." Ucap Ten penuh semangat.

"Di… yey…." Balas Hendery, bayi kecilnya itu begitu semangat saat mendengar kata daddy sampai tangannya terangkat ke atas.

Saat Hendery telah tertidur lelap, tepat di sore hari Ten memutuskan untuk memasak makan malam di dapur. Beberapa menit lalu Johnny menghubunginya dan bilang jika sebentar lagi ia akan pulang. Tanpa sepengetahuan Ten ternyata si kecil Hendery telah terbangun dari tidurnya. Bayi kecil itu sama sekali tak menangis, ia malah sedang berusaha keluar dari tempat tidurnya. Setelah berhasil meloloskan diri Hendery berjalan perlahan mendekati pintu, namun ia tak bisa keluar dari kamarnya karena pagar pembatasnya dikunci oleh Ten beberapa jam yang lalu.

"Mamamamamaaa… ma… ma…." Ucap Hendery, bayi kecil itu bahkan sedikit berteriak supaya mendapatkan perhatian mamanya.

Usaha Hendery sama sekali tak sia-sia, beberapa menit kemudian Ten muncul dari tangga dan menghampiri anaknya itu. Dengan semangat Hendery mengulurkan tangannya dan meminta Ten menggendongnya. Ten membawa bayi kecilnya ke lantai bawah dan membiarkan Hendery bermain dengan mainannya selagi ia sibuk memasak. Hendery yang memiliki kemampuan baru nampak berjalan kesana-kemari, tiba-tiba saja suara pintu utama rumah mereka yang terbuka menarik perhatian si kecil Hendery. Dengan tertatih bayi kecil itu menghampiri pintu utama dan ia memekik senang saat mendapati daddy nya berdiri di ambang pintu. Johnny yang mulanya datang dengan wajah kusut tiba-tiba tersenyum cerah saat Hendery berjalan ke arahnya tanpa bantuan benda lain di sekitarnya. Dengan segera Johnny berjongkok dan merentangkan tangannya, meminta bayi kecilnya itu datang padanya dan saat Hendery menabrakkan dirinya ke tubuh tegap Johnny dengan sigap Johnny membawa si kecil dalam dekapannya dan menghujaninya dengan ciuman. Rasanya semua rasa lelahnya menguap begitu saja setelah melihat Hendery yang berjalan ke arahnya. Seolah mendapatkan suntikan energy yang tak terhitung jumlahnya.

"Ten! Hendery sudah bisa berjalan…." Teriak Johnny dari pintu utama, Ten yang masih berada di dapur cukup terkejut pasalnya seingatnya beberapa menit yang lalu ia meninggalkan Hendery di ruang keluarga.

Ten baru sadar jika Hendery telah menghilang dari ruang keluarga dan detik berikutnya Johnny menghampiri Ten dengan Hendery yang berada di dekapannya. Ten menatap tajam Johnny yang malah asyik menciumi anaknya itu.

"John, kenapa langsung peluk Hendery. Kalau kau bawa penyakit bagaimana?" Ten sedikit emosi dan mengambil Hendery dari dekapan suaminya itu.

"Maaf, aku terlalu senang melihat Dery berjalan tadi." Ucap Johnny seraya terkekeh.

"Jadi anak mama sudah tunjukan pada daddy?" Tanya Ten pada Hendery.

"Ye…." Ucap Hendery seraya mengangguk gemas. Ten mengelus lembut surai hitam Hendery dan mencium bayi kecil itu berkali-kali.

"Aku mandi dulu." Ucap Johnny, ia bergegas naik ke atas, meninggalkan Ten dan Hendery berdua.

Setelah makan malam, sepasang suami istri itu bermain dengan anak mereka. Mendengarkan setiap celotehan Hendery dan tersenyum bahagia saat Hendery kembali berjalan ke arah mereka. Ten merasa hatinya begitu menghangat, setelah sekian lama ia mendambakan keluarga yang utuh akhirnya ia berhasil memilikinya, bersama Johnny dan si kecil Hendery yang bagaikan pelangi diantara mereka berdua.