34. When Daddy is Not Home
Hendery genap berusia satu tahun. Beberapa hari yang lalu mereka merayakan ulang tahun Hendery di kediaman keluarga Seo dan anak kecil itu mendapatkan cukup banyak hadiah. Yang paling membuat Ten terkejut adalah Hendery si anak kecil dibelikan gedung di kawasan Gangnam oleh halmeoni dan harabeoji nya. Memang orang kaya itu terkadang mengerikan, pikir Ten. Hari ini Ten tengah bermain dengan Hendery di ruang keluarga. Anak kecil itu semakin aktif seiring bertambahnya usia. Hendery mulai berjalan kesana-kemari dan terkadang mengacak-ngacak barang yang ada di sekitarnya. Untuk menjaga keamanan Johnny selalu mengunci ruang kerjanya sebelum semua berkas yang berada di dalam sana berakhir di tangan Hendery.
"Ini siapa?" Tanya Ten seraya menunjuk dada Hendery.
"Deyi…." Ucap anak kecil itu seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Pintar. Ini siapa?" Ten bertanya dan kali ini ia menunjuk dirinya.
"Mama…." Balas Hendery, pengucapannya mulai terdengar jelas sekalipun ia baru bisa mengucap kata-kata pendek yang mudah diingat.
"Good job…. Peluk mama." Perintah Ten. Si kecil bangkit berdiri dan mulai memeluk mamanya. Hendery memang sudah mengerti jika diperintah melakukan ini dan itu, tapi tentu saja untuk beberapa hal yang mudah, kata dokter anak yang menangani Hendery itu hal yang wajah. Bahkan pertumbuhan Hendery termasuk cepat untuk anak seusianya.
"Dedi… tu…." Hendery seolah mengatakan pada Ten jika Johnny berada di belakang mereka. Benar saja Johnny nampak baru turun dari lantai atas dengan kaos polos yang membalut tubuh tegapnya.
"Dery main dengan mama ya?" Ucap Johnny, ia mulai duduk di sebelah Ten dan mengganggu anaknya.
"Ain…." Balas Hendery seraya menganggukan kepalanya.
Keluarga kecil itu melanjutkan kegiatan mereka, lebih tepatnya Ten dan Johnny menemani Hendery yang nampak serius menonton kartun favoritnya. Anak kecil itu sesekali bergoyang kesana-kemari sampai membuat kedua orang tuanya gemas.
"Siang ini kau tak pergi kemanapun kan?" Tanya Ten pada Johnny, pria itu nampak tengah menepuk-nepuk bokong Hendery dan berusaha membuat anaknya tertidur.
"Tidak." Jawab Johnny.
"Jaga Hendery sebentar ya. Aku harus menemani Jungwoo kontrol ke rumah sakit." Ucap Ten.
"Lucas masih di Busan?" Tanya Johnny, seingatnya si actor tampan itu harus melakukan shooting di Busan beberapa hari lalu.
"Hum…. Kemungkinan minggu depan baru kembali ke Seoul." Balas Ten.
"Yasudah pergi saja. Hendery biar aku yang jaga." Ucap Johnny.
"Gomawoyo…." Ucap Ten, ia mengecup sekilas pipi suaminya, kemudian mengecup kening Hendery yang mulai memejamkan matanya.
"Ini juga…." Johnny menunjuk bibirnya dan dihadiahi tatapan tajam dari Ten hari itu.
"Aku siap-siap dulu." Bukannya menuruti permintaan Johnny, Ten malah melenggang pergi meninggalkan ayah dan anak itu.
Selama Ten tak berada di rumah Johnny menghabiskan waktu dengan pangeran kecilnya. Johnny memutuskan untuk mengajak Hendery bermain di garasi, lagipula mobil Ten sedang keluar jadi ada ruang yang cukup besar disana. Johnny mengambil kolam renang karet milik Hendery dan mulai mengisinya dengan air. Anak kecil terlihat begitu antusias, bahkan ia Mulai melonjak kegirangan sejak berada dalam dekapan Johnny.
"Bol… bol… dedi… bol…." Hendery yang berada di kolam kecilnya menunjuk-nunjuk bola yang berada di genggaman Johnny.
"Iya ini untuk Dery." Ucap Johnny seraya memasukan bola-bola itu ke kolam renang anaknya.
Setelah cukup puas bermain air, Johnny menarik paksa Hendery dari kolam renang dan membersihkan tubuh anaknya. Setidaknya saat Ten kembali dari rumah Jungwoo bayi kecil mereka sudah rapi dan wangi. Johnny baru saja mengganti pakaian Hendery, pria tampan itu mencium berkali-kali perut putih anaknya, apalagi setelah mandi aroma bayi menguar dari tubuh gempal Hendery membuat Johnny semakin gemas dengan anaknya itu. Hendery terlihat terkekeh, ia sama sekali tak menangis setelah menerima perlakuan dari ayahnya, ia malah tertawa semakin keras dan itu berhasil membuat Johnny meremas pipi bulatnya.
"Mamamamaamaaa…." Hendery menjulurkan tangannya saat melihat Ten memasuki rumah, wanita cantik itu baru saja sampai setelah menemani Jungwoo seharian.
"Nanti ya, mama mandi dulu." Ucap Ten, ia bergegas memasuki kamarnya dan berniat membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bercengkrama dengan Hendery.
Si bayi kecil mulai mencebikkan bibirnya dan menatap Johnny sedih, ia tak percaya baru saja mendapatkan penolakan dari mamanya sendiri. Johnny terkekeh dengan tingkah anaknya yang saat ini berada dalam pangkuannya dan memeluknya erat-erat.
"Nanti mama datang lagi, uljima…." Ucap Johnny.
"Ima?" (uljima?) Ucap Hendery. Johnny hanya menganggukan kepalanya dan mengelus lembut surai lebat putranya itu.
Setelah seharian bermain bersama Johnny, malam ini Hendery sama sekali tak bisa jauh dari Ten. Hendery terus menempel seperti bayi koala yang menolak berpisah dari induknya. Saat ini keduanya tengah berbaring di kasur Ten dan Johnny karena sejak tadi Hendery terus rewel, Ten curiga anaknya demam namun saat di cek suhu tubuhnya normal. Ten mendudukan dirinya dan membawa Hendery dalam dekapannya, ia mulai mengecek tubuh Hendery takuk jika ada luka yang tak terlihat. Saat melihat bagian belakang tubuh Hendery, Ten cukup terkejut karena tengkuk Hendery yang memerah, terlihat seperti lecet dan saat dicek ternyata bayi kecilnya itu terluka karena labelyang berada di belakang pakaiannya belum digunting. Biasanya Ten selalu mengecek labelbaju Hendery karena bayi kecilnya itu lahir dengan kulit yang cukup sensitif bahkan Ten mencuci semua pakaian Hendery dengan air hangat supaya tetap terjaga kebersihannya. Ten mendengus sebal, ia kira meninggalkan Johnny hanya berdua dengan Hendery adalah pilihan yang tepat siang tadi, namun nyatanya Johnny baru saja melakukan kesalahan.
"Kit… ma… huhu…." Baiklah si kecil mulai menangis dan air mata mulai mengalir dari mata indahnya.
"Cup cup cup… ganti baju dulu ya." Ucap Ten, ia mulai melepas pakaian Hendery dengan susah payah karena Hendery yang merengek sejak tadi.
Samar-samar Johnny mendengar suara tangisan Hendery dari ruang kerjanya. Setelah merapikan semua dokumennya Johnny menghampiri Ten yang tengah melepas pakaian Hendery dengan anaknya itu yang menangis keras.
"Kenapa dilepas Ten?" Tanya Johnny, ia duduk di sebelah Ten dan merasa mendapatkan tatapan yang tajam dari istrinya itu.
"Kenapa tak digunting John, kulit Hendery ruam…." Ucap Ten, ia mencebikkan bibirnya setelah melihat Hendery menangis.
Johnny terkejut dengan perkataan Ten, dengan cepat ia mengambil pakaian Hendery yang berhasil dibuka dan terkejut jika label pakaiannya masih berada disana. Johnny jadi merasa bersalah melihat Hendery menangis seperti tadi.
"Astaga maafkan daddy ya Dery…." Johnny mengecup pipi bulat Hendery yang basah dengan air mata.
"Huhu… kit… dedi…." Ucap Hendery.
"Tolong ambilkan salep Hendery John." Ucap Ten, ia meminta suaminya itu masuk ke kamar Hendery dan mengambil salep luka yang sempat diberikan oleh dokter. Setelah itu si pria tinggi bergegas turun kebawah dan berinisiatif membuatkan susu untuk Hendery.
"Huhu… mama…." Bayi kecil itu masih sibuk menangis sekalipun tidak sekeras sebelumnya.
"Tunggu ya, daddy sedang ambil obat Dery." Ucap Ten, ia menenangkan anaknya itu dan mengecup pelan pucuk kepalanya.
Hendery tengah menikmati susunya dalam gendongan Johnny, dan ini waktu yang tepat bagi Ten untuk mengoleskan salep luka ke tengkuk anaknya itu. Dengan perlahan Ten mengolesnya dan berharap tak ada pergerakan tiba-tiba dari Hendery.
"Ngin dedi…." Ucap si kecil.
"Iya dingin ya." Balas Johnny, ia menanggapi ucapan Hendery yang sepertinya mulai merasakan sensasi dingin saat salep itu menempel ke tubuh kecilnya.
Hendery berhasil menghabiskan susunya, sekarang ia nampak terlelap dengan seraya menghisap jempol kecilnya. Hendery berada di tengah-tengah orang tuanya, Ten nampak mengelus surai hitam Hendery yang sedikit basah akibat terkena keringat beberapa menit yang lalu. Sedangkan Johnny masih menatap bayi kecilnya dengan perasaan bersalah yang terlihat jelas di matanya.
"Maafkan aku…." Ucap Johnny, ia sadar jika sejak tadi Ten nampak mendiamkannya.
"Bukan salahmu John mungkin kau terburu-buru tadi. Tapi janji jangan diulangi lagi. Kasihan sekali bayi kecilku tadi." Ucap Ten. Johnny mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan istrinya itu. Menit berikutnya keluarga kecil itu mulai terlelap dalam tidur mereka, menunggu matahari menyingsing esok hari dan memulai kegiatan mereka.
Johnny semakin sibuk dengan pekerjaannya, pria itu memang sudah tak pernah pulang ke rumah larut malam. Tapi ia akan mengurung diri semalaman di ruang kerjanya, kadang Ten kesal sendiri karena Hendery terlihat sudah sangat merindukan daddy nya itu, sedangkan Johnny hanya memiliki waktu sebentar untuk sekedar bermain dengan anaknya. Sore ini Johnny pulang dari kantor seperti biasa, ia mendapati Ten yang tengah menyuapi Hendery makanan dan setelah selesai wanita itu menemani Hendery bermain di ruang keluarga. Johnny menghampiri dua orang yang paling berarti dalam kehidupannya saat ini.
"Ten kita harus bicara." Ucap Johnny. Ten yang semula sibuk dengan Hendery mulai menoleh pada Johnny dan memberikan isyarat pada suaminya untuk kembali berbicara.
"Lusa aku akan pergi ke London." Ucap Johnny. Ten sedikit terkejut, ia mulai duduk di sebelah Johnny dan meminta penjelasan dari suaminya itu.
"Ada proyek penting yang harus aku kerjakan disana. Aku janji hanya seminggu tak akan lebih dari itu." Ucap Johnny, ia berusaha menyakinkan Ten yang malah menatap Hendery sejak tadi.
"Yasudah kau bisa pergi, lagipula aku sama sekali tak bisa menahanmu. Itu penting bukan?" Ucap Ten, ia sepertinya tahu jika suaminya itu tengah gusar.
"Tapi aku akan sangat merindukan kalian." Ucap Johnny, benar juga jika dipikir-pikir ini adalah pertama kalinya Johnny kembali melakukan perjalanan bisnis setelah kelahiran Hendery.
"Bagaimana jika kalian berdua ikut ke London?" Usul Johnny. Ten nampak terkejut dengan perkataan suaminya itu, benar-benar diluar dugaan.
"Tidak bisa John. Dery terlalu kecil untuk melakukan penerbangan pertamanya, kau pikir jarak Seoul ke London seperti Seoul ke Jeju. Dery pasti akan rewel." Ucap Ten. Johnny mencebikkan bibirnya karena lagi-lagi ia kalah argumen dengan istri cantiknya itu.
"Kau pergi saja, aku dan Dery akan menunggu disitu. Benar begitu Dery?" Ucap Ten pada anaknya yang entah sejak kapan bergelayut manja di kakinya.
"Hum…." Ucap Dery seraya mengangguk. Padahal ia tak mengerti sama sekali maksud perkataan mamanya beberapa detik yang lalu.
"Dery tak apa kalau daddy pergi?" Tanya Johnny, ia mengusap gemas surai hitam Hendery yang mulai panjang.
"Hum… dedi… gi…." Ucap Hendery. Johnny hanya tertawa dan membawa Hendery dalam gendongannya, rasanya ia tak bisa membayangkan seminggu tanpa celoteh dan tangisan anaknya itu.
Lima hari sudah Johnny meninggalkan Ten dan Hendery, di hari-hari sebelumnya Hendery sama sekali tidak rewel namun hari ini anak kecil itu terus mencari dimana keberadaan daddy nya.
"Di… ma… oddi…." Ucap Hendery. Ia bahkan tak tertarik lagi dengan mainannya yang berantakan di ruang keluarga.
"Daddy sedang pergi, sini sama mama dulu." Ucap Ten, ia berusaha menenangkan anaknya yang mulai menangis.
"Deyi mic dedi…." (Dery miss daddy) Gumam anak kecil itu.
Ten memilih membawa Hendery ke kamar dan mulai bermain dengan ponselnya. Ia berencana menghubungi suaminya itu. Setidaknya Hendery akan sedikit lebih tenang.
Di sebuah kamar hotel yang cukup mewah di tengah Kota London, Johnny nampak sedang melonggarkan dasinya dan membuka jas yang sejak tadi membalut tubuh kekarnya. Pria itu baru saja selesai rapat dan kepalanya cukup berdenyut setelah banyak pekerjaan yang ia lakukan. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, dengan sigap ia mengangkat panggilan itu, seulas senyum nampak menghiasi wajah tampannya saat tahu siapa yang menghubunginya.
"Yeoboseyo John…. Kau sibuk?" Ucap Ten.
"Aniya, aku baru saja selesai rapat dan mengganti pakaian." Balas Johnny.
"Ah…. Disana masih siang ya?" Ucap Ten. Ia baru ingat jika perbedaan waktu antara London dan Seoul terpaut Sembilan jam lamanya.
"Hum…. Tepat jam dua belas siang. Ada apa Ten? Tumben sekali kau menghubungiku jam segini." Ucap Johnny.
"Pangeranku merindukan daddy nya, aku bisa apa? Dery menangis sejak tadi mencarimu." Ucap Ten.
"Jinjja? Coba dekatkan pada Dery, aku mau dengar suaranya." Ucap Johnny. Ten menyalakan loudspeaker di ponselnya dan membiarkan Hendery mendengarkan suara Johnny.
"Annyeong Dery…." Johnny mulai kembali berbicara.
"Dedi… dedi ma…." Ucap anak kecil itu, namun Hendery terlihat sedikit bingung. Ia memutar kepalanya kesana kemari, seolah mencari Johnny. Mungkin yang ia pikirkan kenapa daddy nya hanya dalam bentuk suara.
"Di opco ma…." (Daddy eobseo ma) Ucap Hendery pada Ten dengan wajah kebingungan.
"Sepertinya anakmu bingung John. Kenapa daddy nya hanya suara, dia mencarimu kemana-mana." Ucap Ten seraya terkekeh.
"Ah benar juga, kita facetime saja bagaimana Ten?" Tawar Johhny. Ten terlihat setuju, ia mengakhiri panggilan teleponnya dan masuk ke ruang kerja Johnny. Mengambil laptop miliknya yang sempat ia simpan disana. Saat berhasil tersambung dengan Johnny, Ten segera memberitahu Hendery dan anak kecil itu melonjak kegirangan saat melihat daddy yang ia cari sejak tadi tersaji di layar.
"Dedi…. Deyi micc dedi…." Ucap anak kecil itu.
"Daddy juga rindu Dery. Dery tidak nakal kan?" Tanya Johnny, senyuman terlihat tak lepas dari wajah tampannya.
"No no, Deyi gud…." Balas bocah kecil itu. Hendery nampak mengagumi daddy nya tiba-tiba saja ada di layar, anak kecil itu sejak tadi mengusap wajah Johnny dengan jemari kecilnya.
"Dedi ma…." Ucap Hendery, ia terkekeh dan tersenyum cerah pada mamanya.
"Are you happy today?" Tanya Ten, ia begitu gemas melihat anaknya malam itu.
"Hum…. Deyi pi…." (Dery happy) Bayi kecil itu membalas sambil bertepuk tangan.
Perbincangan keluarga kecil itu berjalan cukup lama hingga akhirnya Hendery tertidur lelap. Hendery yang semula berisik digantikan dengan Ten yang nampak berbicara dengan Johnny sejak tadi.
"Ada rapat lagi setelah ini?" Tanya Ten.
"Tidak, tadi agenda yang terakhir." Balas Johnny. Ten menganggukkan kepalanya, ia sangat hafal dengan tabiat suaminya itu yang akan selalu lupa segalanya jika sudah bekerja.
"Jangan lupa istirahat yang cukup. Jangan lewatkan makan. Aku akan sangat marah jika kau terlihat semakin kurus saat pulang nanti." Ucap Ten.
"Kau sama cerewetnya dengan Hedery. Siap sayang, akan kulakukan apapun yang kau perintahkan. Hua…. Aku sudah sangat merindukanmu…." Ucap Johnny, tak sadarkah pria itu jika saat ini ia sedang berteriak. Hampir saja tidur Hendery terganggu,
"Cepat kembali, aku dan Dery juga merindukanmu." Balas Ten.
Tak lama kemudian kegiatan facetime itu diakhiri karena Ten yang mulai mengantuk. Malam ini semua orang mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Hendery yang bisa menuntaskan rindu dengan daddy nya dan Johnny yang mendapat suntikan semangat dari keluarga kecilnya. Lalu jangan lupakan juga Ten yang masih sibuk tersenyum sejak tadi, jika boleh jujur rasa rindunya pada Johnny jauh lebih besar dari yang Hendery miliki, namun ia berusaha memendamnya selama ini karena tak ingin mengganggu kegiatan Johnny. Berterima kasihlah pada si kecil Hendery yang berhasil membuat Ten merealisasikan keinginannya.
