35. When Daddy is Angry
Hendery sudah berusia tiga tahun, anak kecil itu semakin aktif dan mulai membuat Ten dan Johnny kerepotan. Ia juga semakin cerewet, nyonya Seo bilang Johnny juga seperti itu saat kecil, Ten sendiri tidak menyangka jika dulu suaminya itu adalah pribadi yang begitu cerewet. Pagi ini keluarga kecil itu nampak sedang sarapan bersama sebelum memulai kegiatan akhir pekan mereka. Hendery nampak menggoyangkan kaki kecilnya yang menggantung di baby chair yang ia duduki.
"Mama Deyi mau itu…." ucap si bocah kecil seraya menunjuk ebi furaiyang nampak menggoda di meja makan.
Ten dan Johnny yang tengah menyantap makanan mereka tampak terkejut dengan perkataan anaknya. Pasalnya itu bukanlah makanan yang bisa Hendery makan. Setahun yang lalu Hendery pernah memakan olahan udang di acara ulang tahun Woojin, dan tiba-tiba saja anak kecil itu mengeluh kulitnya gatal dan nafasnya sedikit sesak. Ten panik bukan main terlebih saat bintik merah mulai memenuhi kulit anaknya, dengan cepat mereka membawa anaknya ke rumah sakit dan disana mereka tahu jika Hendery alergi terhadap udang. Bocah kecil itu sempat dirawat selama berhari-hari dan rewel seharian, Ten sampai tak tega melihat anaknya saat itu.
"Jangan ya, itu makanan daddy." Ucap Ten seraya menaruh potongan paha ayam di piring kecil Hendery.
"Tapi Deyi mau coba." Balas anak itu dengan bibir yang mulai mencebik lucu.
"Yah sudah daddy habiskan." Ucap Johnny, ia memasukkan ebi furai terakhir ke dalam mulutnya dan membuat Hendery semakin memasang ekspresi sedih.
"Dery tidak boleh makan ini." Ucap Johnny.
"Memangnya kenapa?" Tanya anak kecil itu polos.
"Karena Dery masih anak-anak." Balas Johnny.
"Jadi kalau Deyi sudah sepelti daddy Deyi boleh makan itu?" Tanya Hendery.
Ten dan Johnny saling padang, sebenarnya mereka berdua sudah menduga jika pertanyaan lain akan bermunculan dari mulut anaknya itu. Ten memandang Johnny dan meminta suaminya itu menjelaskan apapun pada Hendery.
"Ya, nanti kita makan bersama jika Dery sudah besar." Ucap Johnny final.
"Janji?" Hendery memberikan kelingking kecilnya pada Johnny dan meminta daddy nya itu berjanji padanya.
"Terserah saja aku tak ikut-ikutan." Ucap Ten, ia terkekeh dan kembali melanjutkan kegiatan makannya.
Setelah sarapan Johnny kembali masuk ke ruang kerjanya menyisakan Ten dan Hendery yang nampak bercengkrama di ruang keluarga. Ten nampak menggelitik tubuh Hendery dan membuat bocah laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Hendery juga tak henti-hentinya menciumi pipi Ten, tentu saja itu semakin membuat Ten gemas.
"Mama… mama..." Ucap Hendery, ia menoleh ke belakang dan menatap wajah cantik sang mama.
"Hum…." Gumam Ten.
"Deyi sayang mama." Ucap anak kecil itu dan kembali mencium pipi Ten.
"Mama juga sayang Dery." Balas Ten.
"Benalkah? Sebesal apa?" Tanya Hendery dengan mata yang membulat lucu.
"Sebesar ini…." Ucap Ten, ia mulai menggerakkan kedua tangannya ke angkasa dan berhasil membuat Hendery kembali tertawa.
"Tapi karena Dery nakal jadi sayang mama berkurang." Ucap Ten tiba-tiba.
"Hum, kenapa begitu?" Hendery mulai mencebikkan bibirnya.
"Karena Dery tidak mau makan sayur, mama jadi sedih." Balas Ten, ia memulai dramanya.
"Mama jangan sedih, hiks… mama menangis kalena Deyi… hiks…." Baiklah anak kecil itu mulai menangis sedih mendengar jawaban Ten. Ten terkekeh dan membawa tubuh Hendery dalam pelukannya, ia mengecup lembut pucuk kepala anaknya dan mengelusnya dengan sayang.
"Jangan menangis lagi, masa sudah besar menangis terus." Ucap Ten.
"Deyi masih kecil mama, hiks… Deyi belum suka sayul. Sayul pahit, Deyi tidak suka." Ucap Hendery disela tangisnya. Ten jadi semakin gemas melihat tingkah anaknya itu. Rasanya baru kemarin ia mengajarinya berjalan dan berbicara sekarang si kecil sudah pandai membalas omongan orang tuanya.
Setelah Hendery berhenti menangis Ten mengajaknya menggambar. Bocah kecil itu cukup pandai menggambar, berterima kasihlah pada Ten yang dengan sabar mengajarinya. Setelah selesai menggambar Hendery bergegas ke halaman belakang dan menaiki sepeda kecilnya. Minggu lalu halmeoni dan harabeoji kesayangan Hendery sempat berkunjung dan membawakan anak tampan itu sepeda roda tiga. Tentu saja Hendery sangat senang, ia tak henti-hentinya mengayuh sepedanya. Bahkan kemarin ia membawa masuk sepedanya ke ruang keluarga dan mengendarainya disana. Di tengah lantai yang basah karena baru saja Ten pel sore itu. Dery yang tak mengerti hanya terkekeh seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya tanpa tahu jika mamanya sedang memendam amarah.
Hendery mulai bosan, bocah kecil itu telah melakukan banyak hal dan ia sudah tak tahu harus melakukan apa lagi. Dengan perlahan Hendery masuk ke kamar orang tuanya, tak ada siapapun disana namun pintu ruang kerja Johnny nampak terbuka. Kaki kecil Hendery mulai melangkah masuk ke ruangan tersebut, ternyata Johnny juga tak berada disana. Mata indah Hendery membulat lucu saat melihat banyak kertas di ruangan tersebut. Hendery bergegas ke kamarnya dan mengambil crayon kesayangannya, ia mulai mengacak beberapa kertas di ruangan Johnny dan menggambar disana. Bahkan saat ini anak laki-laki itu mulai duduk di kursi tempat Johnny biasa mendudukkan dirinya saat bekerja.
Hampir setengah jam lamanya Hendery berada di ruang kerja sang daddy. Ia semakin asyik mencoret kertas yang tak terhitung jumlahnya bahkan sekarang bocah laki-laki itu berpindah ke layar putih bersih yang ada di ruangan Johnny. Tak berselang lama Johnny kembali setelah berbincang cukup lama dengan koleganya melalui ponsel miliknya. Pria tampan itu begitu terkejut saat mendapati ruang kerjanya yang berantakan dengan coretan Hendery dimana-mana.
"Dery Dery jangan ya…." Johnny sedikit berlari menghampiri putranya itu, ia berusaha mencegah Hendery yang tengah berusaha mencoret layar proyektor yang ada di ruangannya.
"Ini seperti keltas dad, deyi suka." Jawab bocah kecil itu.
"Dery, dengarkan daddy! Kalau daddy bilang jangan berarti tidak boleh. Jangan jadi anak nakal." Tanpa sadar Johnny memarahi Hendery dan menarik tangan bocah kecil itu terlalu keras sampai meninggalkan sedikit luka lecet disana. Hendery yang terlalu terkejut nampak terdiam, detik berikutnya ia mulai menangis keras, dan itu berhasil menyadarkan Johnny atas semua kesalahan yang ia perbuat.
"Huwaa… mama, daddy jahat…." Anak laki-laki itu mulai berlari dan menghampiri Ten yang tengah sibuk di dapur. Ten yang mendapati baju Hendery penuh dengan noda spidol bergegas menghampirinya, dan ia lebih terkejut saat mendapati luka panjang di lengan kanan Hendery.
"Mama… daddy tidak sayang deyi lagi. Daddy nakal mama." Adu anak kecil itu pada sang mama. Ten bergegas membawa Hendery ke dalam gendongannya, dan berusaha menenangkan ia yang mulai menangis keras.
"Dery kenapa menangis?" Tanya Ten saat tangis Hendery mulai mereda.
"Dad- daddy jahat mama, daddy malah sama deyi." Balas anak kecil itu. Ten mengelus lembut punggung Hendery, membiarkan anaknya sedikit tenang. Setelah dirasa cukup tenang Ten mengganti pakaian Hendery yang kotor dan bergegas menidurkannya. Saat Hendery tertidur Ten pergi ke ruang kerja Johnny untuk menanyakan kejadian sore ini pada suaminya itu. Saat membuka pintu Ten cukup terkejut, ruang kerja Johnny benar-benar berantakan. Kertas terlihat tercecer dimana-mana dan jangan lupakan coretan kecil yang menghiasi kertas-kertas dan layar proyektor yang ada disana.
"John…." Ten menepuk bahu suaminya yang nampak tengah menyusun kembali beberapa kertas yang berhamburan.
"Maafkan Dery ya, dia masih anak-anak." Ucap Ten. Ia mulai ikut berjongkok dan membantu Johnny menyusun kembali kertas-kertas itu.
"Lukanya sudah diobati?" Tanya Johnny, ia jelas sadar jika telah membuat lengan anaknya tergores beberapa menit yang lalu.
"Sudah. Dery sudah tidur sekarang." Balas Ten.
"Maafkan aku Ten, aku malah melukai anak kita." Ucap Johnny setelah cukup lama terdiam.
"Bukan sepenuhnya salahmu. Anak seusia Dery memang penuh rasa ingin tahu, dan kadang ia sulit dipahami. Kau ayah yang baik sejauh ini, John." Ucap Ten. Johnny hanya tersenyum menanggapi perkataan istrinya itu, Ten jelas sangat tahu bagaimana caranya menenangkan hati suaminya. Pasangan muda itu akhirnya terlarut dalam membersihkan ruang kerja Johnny sampai malam menjelang, kegiatan keduanya terhenti saat suara tangis Hendery terdengar sampai ke tempat mereka berada saat ini.
"Ah Dery terbangun, aku kesana sebentar." Ucap Ten, Johnny hanya mengangguk dan kembali menyusun dokumennya di meja kerja miliknya.
Hendery ikut masuk ke dalam ruang kerja Johnny bersama dengan Ten. Bocah kecil itu menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Ten, karena masih takut dengan wajah marah Johnny beberapa jam yang lalu.
"Dery ayo bilang apa sama daddy." Ucap Ten, ia baru saja menurunkan anaknya itu dari gendongannya. Bibir Hendery terlihat mencebik lucu dan menatap penuh harap ke mata sang mama. Ten hanya mengangguk berusaha meyakinkan anaknya untuk meminta maaf kepada sang daddy.
"Daddy maafkan deyi sudah lusak luangan daddy." Ucap anak kecil itu, ia menunduk dalam karena terlalu takut menatap wajah daddy nya. Johnny terkekeh, ia mulai menghampiri Hendery dan berjongkok di depan anaknya itu.
"Daddy juga minta maaf ya sudah buat dery terluka." Ucap Johnny, ia menyingkap lengan piyama Hendery dan mendapati perban dengan gambar unicorn yang menempel di lengan anaknya.
"It doesn't hult dad, mama gave me a kiss." Ucap Dery dengan mata yang berbinar cerah.
"Mama bilang disini banyak mainan daddy, deyi juga akan malah kalau Ojun acak-acak mainan deyi. Deyi janji tak ulangi lagi." Ucap balita itu, ia menyodorkan kelingking kecilnya dan meminta Johnny membalasnya. Johnny semakin terkekeh dan membawa putranya itu ke dalam gendongannya.
"Anak daddy bisa pintar begini siapa yang ajari?" Ucap Johnny, ia mulai menciumi pipi bulat Hendery yang seputih tofu.
"Hum… mama dan daddy, tapi lebih banyak mama." Balas anak kecil itu polos. Ten yang berada tak jauh dari mereka ikut bergabung dan akhirnya tertawa setelah mendengar perkataan Hendery.
Menjadi orang tua memang bukan perkara yang mudah. Sampai sekarang baik Ten maupun Johnny masih perlu mempelajari banyak hal supaya bisa memberikan yang terbaik untuk Hendery. Seperti hari ini, lagi-lagi mereka berdua kembali belajar tentang hal baru. Tentang bagaimana caranya untuk selalu sabar dalam menghadapi tingkah laku Hendery yang tak ada habisnya. Tentang putra ajaib mereka yang sering kali tingkahnya membuat pusing kepala.
