37. When The Prince Disappeared
Ten pikir semua hal yang ada dalam hidupnya akan semakin mudah seiring dengan berjalannya waktu. Namun lagi-lagi badai kembali menerjang keluarga mereka. Hari ini Hendery menghilang. Bocah kecil itu menghilang dari TK saat jam istirahat dan ini sudah 12 jam setelah menghilangnya pangeran kecil mereka itu. Johnny hampir saja menuntut pihak sekolah jika saja Yuta tak berhasil memenangkannya. Ten sempat berbicara dengan Xiaojun yang berada di kelas yang sama dengan Hendery.
"Dejun main dengan Dery saat istirahat, tapi tiba-tiba Hendery ikut dengan paman tinggi bertopi hitam." Begitulah kira-kira ucapan Xiaojun saat itu.
Ten benar-benar terpuruk, matanya terlihat memerah karena terlalu lelah menangis, bahkan wajahnya terlihat pucat mengingat wanita itu belum memasukkan apapun ke perutnya sejak menghilangnya Hendery. Winwin yang berada di sebelah Ten terlihat merangkul wanita cantik itu, ia dan Yuta bergegas menemui Johnny dan Ten saat mendapat kabar jika Hendery menghilang. Xiaojun terpaksa dititipkan sementara ke rumah Jaehyun, membiarkan anak perempuan itu bermain dengan Mark seharian dibawah pengawasan Taeyong.
Ten meninggalkan toko kue miliknya saat mendengar kabar anaknya menghilang, begitupun dengan Johnny, pria tampan itu melesat keluar dari ruang rapat tanpa mempedulikan para kolega yang memberikan tatapan tajam padanya.
"Dery bagaimana Win…." Lirih Ten.
"Dery pasti baik-baik saja. Makan dulu ya Ten, kau sudah sangat pucat." Ucap Winwin seraya merangkul sahabatnya itu. Ten hanya menggeleng menanggapi tawaran Winwin, bagaimana bisa ia makan sesuatu jika Hendery belum diketahui keadaannya, pikirnya.
Pihak TK mengecek CCTV yang ada di sekolah, disana terlihat jelas jika Hendery dibawa oleh seorang pria tinggi bertopi hitam seperti yang Xiaojun katakan beberapa waktu lalu. Pria itu terlihat menghilang di pertigaan samping TK, Yuta dan Johnny kembali melihat CCTV namun tak ada kelanjutan jejak pria bertopi hitam itu. Di mobil Johnny mengerang frustasi, pria tampan itu mengacak rambutnya membuat Yuta yang berada di sampingnya semakin iba. Yuta menyentuh bahu sahabatnya itu berusaha menenangkannya, sekalipun ia tahu apa yang ia lakukan tak akan berpengaruh banyak pada Johnny.
"Sepertinya ada yang menghapus CCTV itu." Ujar Yuta. Johnny hanya diam, ia benar-benar tidak fokus setelah anaknya menghilang. Yuta kembali bermain dengan ponselnya dan berusaha menghubungi anak buahnya untuk membantu memulihkan CCTV yang baru saja ia dan Johnny lihat.
"Dery tidak mungkin sebodoh itu Yut." Ucap Johnny tiba-tiba.
"Maksudmu?" Tanya Yuta, ia menatap heran ke arah Johnny.
"Aku dan Ten selalu mewanti-wantinya agar ia tidak ikut dengar orang asing. Pasti ada sesuatu yang membuatnya mengikuti orang itu." Lirih Johnny, ia terlihat memijit pelipisnya yang nampak berdenyut. Yuta hanya terdiam dan menatap lekat sahabatnya itu, ia juga merasa sedih atas Hendery yang menghilang. Terlebih bocah laki-laki tampan itu sekelas dengan Xiaojun dan sering menghabiskan waktu bersama.
Tiba-tiba saja keheningan antara dua pria dewasa itu terpecah karena ponsel Yuta yang bordering nyaring, itu panggilan dari Winwin sang istri.
"Yeoboseyo oppa kau dimana?" Ucap Winwin dari seberang sana.
"Masih bersama Johnny, ada apa?" Tanya Yuta balik.
"Ten pingsan. Sekarang sedang ditangani Jaehyun oppa di rumah sakit." Ucap Winwin. Setelah itu panggilan telepon terputus begitu saja. Dengan cepat Yuta mengendarai mobilnya ke Yangji Hospital, membuat Johnny yang termenung sejak tadi menjadi tersadar saat tiba-tiba mobil Yuta menepi di halaman rumah sakit yang sangat ia kenal.
"Ten pingsan dan sedang ditangani Jaehyun. Cepat turun." Ucap Yuta, detik itu juga Johnny keluar dari mobil Yuta dan bergegas menemui Ten.
Di ruang rawat Ten, ada Winwin dan Jungwoo yang menemani wanita cantik itu. Ten masih tertidur, rona pucat terpancar jelas dari wajah cantiknya, bibirnya yang tipis bahkan tak semerah biasanya hari itu. Winwin dan Jungwoo yang menyadari kehadiran Johnny, menatap pria tampan itu dan membersihkan Johnny mendekati istrinya. Johnny duduk di sebelah ranjang rawat Ten, ia menggenggam erat jemari wanita itu. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan Ten hari ini, terlebih saat Hendery yang selalu memberi warna di tengah-tengah mereka tiba-tiba saja menghilang. Winwin dan Jungwoo menunggu di luar ruang rawat Ten, Jungwoo baru saja tiba beberapa menit yang lalu setelah menitipkan Renjun di rumah keluarga paman Choi.
Jemari lentik Ten yang sejak tadi digenggam oleh Johnny tiba-tiba saja bergerak, Ten mulai membuka matanya. Johnny adalah orang pertama yang ia lihat, pria itu terlihat berusaha untuk tersenyum sekalipun kepedihan terlihat terpancar jelas di wajah tampannya.
"Dery dimana?" Lirih Ten. Johnny paling tidak suka melihat Ten yang bersedih, seolah ada goresan yang tiba-tiba saja muncul di relung hatinya.
"Masih dalam pencarian, aku pasti akan menemukan pangeran kita." Ucap Johnny, Ten mulai kembali menangis dan dengan segera Johnny merengkuh tubuh mungil istrinya itu ia membiarkan Ten menangis terisak di dada bidangnya.
"Dery takut serangga John, bagaimana jika diluar dia bertemu dengan serangga? Dery juga tidak suka sayur, aku bahkan tak tahu dia sudah makan atau belum." Ucap Ten. Johnny semakin mengeratkan pelukannya pada Ten, hatinya juga terasa begitu sakit saat mendengar perkataan Ten, namun Johnny harus tetap kuat mengingat Ten membutuhkan tempat bersandar saat ini.
"Pangeran kita kuat kan John?" Ucap Ten. Johnny mengangguk, ia terlihat menahan air matanya yang mulai berusaha menerobos dinding pertahanan yang sudah susah payah ia bangun.
"Pangeran kita pasti kuat, kau tenang saja. Aku akan membawanya kembali." Ucap Johnny seraya mengecup kening Ten penuh kasih sayang.
Tak hanya Ten dan Johnny yang merasakan dunianya runtuh saat tiba-tiba saja Hendery menghilang, seluruh anggota keluarga Seo merasakan hal yang sama. Tuan Seo mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menemukan cucu tampannya itu, bahkan Kyuhyun dan Seohyun yang baru saja tiba dari Swiss begitu terkejut kala mendengar kabar menghilangnya Hendery, Kyuhyun yang mengenal beberapa orang penting di kepolisian Korea, mengerahkan seluruh tenaganya untuk membantu mencari keponakannya itu.
Hari ini Seohyun mengunjungi Ten ke rumah sakit, saat ia dan Kyuhyun membuka pintu nampak pemandangan yang begitu menyesakkan dada mereka. Ten kembali menangis dalam pelukan Johnny kala mengingat pangeran kecilnya, bahkan kondisi Johnny sama buruknya. Adik Seohyun itu nampak tak bertenaga dengan raut kesedihan yang terpancar jelas di wajah tampannya. Seohyun yang paham akan situasi meminta Kyuhyun untuk membawa Johnny keluar sementara ia akan menemani Ten hari ini.
Di taman rumah sakit, Kyuhyun duduk berdampingan dengan Johnny. Ayah Woojin itu menggenggam erat jemari Johnny yang terlihat mengepal, ia sadar jika Johnny begitu bersedih hari itu, namun pria tampan itu memendam air matanya karena Ten membutuhkan dirinya untuk bersandar. Kyuhyun membawa Johnny dalam pelukannya, merengkuh bahu tegap adiknya itu dan mengelusnya lembut. Detik itu juga pertahanan Johnny runtuh seketika, air mata yang ia pendam sejak kemarin berhasil meloloskan diri dari pertahanan yang ia buat. Kyuhyun terdiam, ia membiarkan Johnny menumpahkan air matanya seraya sesekali mengelus lembut punggung adiknya. Kyuhyun bahkan tak peduli lagi dengan tatapan keheranan dari sebagian orang yang melewati mereka berdua, yang ia pikirkan hari ini adalah bagaimana caranya meringankan sedikit beban Johnny. Setelah puas menangis Kyuhyun mengajak Johnny untuk mengisi perutnya, setidaknya adiknya itu tetap butuh tenaga sekalipun hanya menangisi anaknya yang hilang, pikir Kyuhyun.
Usaha yang dilakukan oleh semua orang nampak tak sia-sia, malam ini setelah lebih dari 24 jam menghilang akhirnya ada secercah harapan yang mereka dapatkan. Kyuhyun mendapat telepon dari pihak kepolisian jika mereka telah berhasil melacak kepemilikan mobil yang digunakan seorang pria untuk membawa Hendery setelah mengecek kembali CCTV yang berhasil dipulihkan oleh anak buah Yuta. Johnny merasa mendapatkan harapan baru setelah hampir saja menyerah, ia datang ke kantor polisi bersama Kyuhyun dan berhasil mendapatkan identitas si pemilik kendaraan. Johnny jelas mengenal orang itu, sang pemilik perusahaan yang merupakan rival dari perusahaan Johnny beberapa bulan yang lalu. Johnny jelas tahu apa yang menjadi penyebab pria itu membawa Hendery bersamanya, namun ia menjadi lebih gusar saat mengingat apa yang mungkin saja dilakukan pria itu pada Hendery.
Malam itu pihak kepolisian berhasil melacak keberadaan mobil tersebut, di pinggiran kota Ulsan, lebih tepatnya di salah satu gedung terbengkalai yang telah lama tak terpakai. Kyuhyun melajukan mobilnya bersama Yuta dan Johnny yang ikut dengannya. Dan jangan lupakan tim medis serta tim dari kepolisian yang mengikuti mereka. Malam itu Johnny hanya bisa berdoa semoga pangerannya baik-baik saja dan bisa kembali ke dalam pelukannya. Pihak kepolisian berhasil mengepung gedung tersebut dan menerobos masuk ke dalam, Johnny yang baru saja turun dari mobil Kyuhyun bergegas berlari ke dalam dan mendapati Hendery yang terikat dengan mata yang tertutup di salah satu bangku yang berada di sudut ruangan. Setelah si penculik berhasil dilumpuhkan, Johnny menghampiri pangerannya dan membawa tubuh kecil itu ke pelukannya.
"Daddy…. Dery takut." Lirih Hendery setelah berada dalam dekapan Johnny.
"Daddy disini, Dery jangan takut." Johnny mengecup pucuk kepala anaknya. Hatinya begitu terluka saat mendapati banyak memar di sekujur tubuh kecil anaknya dan jangan lupakan darah segar yang mengalir dari sayatan yang berada di leher Hendery.
"Sakit daddy…." Anak kecil itu kembali merintih sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.
Dengan panik Johnny membawa Hendery ke dalam ambulance dan membiarkan tim medis menangani anaknya. Pria dewasa itu bahkan terlihat menangis saat mendengar rintihan yang keluar dari mulut kecil Hendery, bagaimana bisa seorang pria dewasa berbuat demikian jahat pada Hendery yang baru berumur lima tahun, pikir Johnny. Johnny tak melepaskan genggaman tangannya dari jemari kecil Hendery malam itu sampai akhirnya pintu ruang IGD terpaksa memisahkan mereka. Jaehyun dan beberapa tim medis bergegas menangani Hendery, Johnny menunggu dengan gusar di ruang tunggu bahkan ia belum sempat mengganti pakaiannya yang berlumuran darah Hendery beberapa menit yang lalu.
"Ganti pakaianmu dulu, bagaimana bisa kau menemui Ten dalam keadaan seperti itu." Ucap Kyuhyun, ia terlihat menyodorkan paper bag yang berisi pakaian Johnny.
"Dery sedang ditangani Jaehyun, aku akan menunggunya disini. Kau harus temui Ten dulu, setidaknya ia perlu tahu jika anaknya telah ditemukan." Ucap Kyuhyun, ia berusaha meyakinkan Johnny dengan mengelus lembut pundak adiknya itu.
Dengan berat hati Johnny melangkahkan kakinya menuju ke toilet untuk mengganti pakaian. Setelah selesai ia bergegas ke ruang rawat Ten, mengabari pada wanita cantik itu jika pangeran mereka telah ditemukan.
"Dery kembali. Pangeran kita kembali." Ucap Johnny, ia mengelus lembut jemari lentik Ten dan menatap lekat ke netra indah istrinya itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ten, wajah cantiknya terlihat kembali bersinar dan menatap penuh harap ke arah Johnny.
"Sedang diobati Jaehyun." ucap Johnny, ia tak mau menjelaskan lebih banyak pada Ten. Wanita itu pasti akan semakin sedih setelah mengetahui kondisi anaknya yang cukup memprihatinkan. Setelah meminta Ten untuk beristirahat, Johnny kembali menemui Kyuhyun dan tepat saat itu Jaehyun nampak keluar dari ruang pemeriksaan dengan ekspresi yang sulit terbaca.
"Hendery kehilangan banyak darah. Kita butuh golongan darah O secepatnya." Ucap Jaehyun.
"Ambil punyaku sebanyak-banyaknya." Ucap Johnny, ia berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah beberapa perawat yang membawanya ke sebuah ruangan.
Johnny berbaring dengan rasa berdenyut yang hadir di tangan kirinya, ia baru saja selesai mendonorkan darahnya untuk Hendery. Johnny masih teringat dengan jelas bagaimana kondisi Hendery saat mereka menemukannya beberapa jam lalu. Tentu saja hal itu membuat hati Johnny semakin teriris. Jaehyun membawa Johnny ke ruangannya, ia menjelaskan kondisi Hendery malam itu, dokter tampan itu juga menjelaskan segala kemungkinan yang akan terjadi saat Hendery terbangun nanti. Johnny mengangguk mengerti sekalipun ia masih sulit menerima kenyataan atas apa yang terjadi pada Hendery. Yang ia pikirkan saat ini adalah semoga saja kedepannya semua hal akan menjadi lebih indah untuk keluarga kecilnya. Johnny masuk ke ruang rawat Hendery dan menemani tidur pangeran kecilnya malam itu, ia menggenggam jemari kecil Hendery dan sesekali mengelus lembut punggung tangannya, pemandangan kali ini merupakan yang paling Johnny benci. Melihat pangerannya terluka dan nampak tak berdaya.
Keesokan paginya Ten yang sudah sembuh benar dan baru saja melepas infusnya mengikuti Johnny yang membawanya ke ruang rawat Hendery. Pangeran kecil mereka masih belum terbangun, ia masih sibuk memejamkan mata indahnya. Ten menangis kala itu, ia jelas melihat perban panjang yang menutupi leher Hendery dan beberapa memar yang berada di sekujur tubuh kecilnya, belum lagi nasal cannula yang menancap di hidung mancungnya demi memudahkan pernapasan bocah kecil itu. Ten terduduk dan mengelus lembut punggung tangan Hendery yang tertancap infus, hari itu untuk pertama kalinya Ten dan Johnny merasa gagal dalam menjaga pangeran kecil mereka.
Johnny telah menceritakan semuanya pada Ten, tentang siapa yang menculik anak mereka atau apa yang menyebabkan orang itu membawa anak mereka. Ten terdiam cukup lama, netra indahnya menatap lekat ke kakinya yang hari itu terbalut sandal santai seadanya. Johnny bangkit berdiri dan berlutut di hadapan Ten, pria itu sadar hilangnya Hendery hari itu sepenuhnya karena salahnya, Johnny mulai menangis pagi itu. Untuk pertama kalinya Johnny sama sekali tak peduli jika Ten melihat pertahanannya runtuh. Ten membawa jemari lentiknya untuk mengusap surai lebat Johnny yang serupa dengan milik pangeran mereka. Ten mengangkat wajah Johnny, membuat netra mereka saling beradu pandang satu sama lain. Untuk pertama kalinya Ten menghapus lelehan air mata yang keluar dari netra setajam elang milik suaminya itu.
"Ini bukan salahmu, kau sudah berusaha keras mencari pangeran kita." Ucap Ten lembut, ia berusaha tersenyum sekalipun sulit. Hari itu sepasang suami istri itu kembali berpelukan dan berusaha menenangkan satu sama lain, berharap kedepannya hidup akan menjadi lebih baik baik keluarga mereka.
Setelah adanya pemaksaan dari oknum bernama Seohyun dan Kyuhyun, pagi itu Ten dan Johnny mengisi perut mereka seraya menjaga Hendery yang masih belum terbangun. Saat hari semakin siang tiba-tiba saja terdengar suara lirih dari ranjang rawat Hendery. Bocah laki-laki itu terbangun dan bergumam mencari keberadaan Ten dan Johnny.
"Mama daddy…." Lirih bocah kecil itu. Ten dan Johnny menghampiri Hendery yang terlihat sudah membuka matanya. Hendery mengulurkan tangannya dan dengan segera Ten menyambutnya, beberapa detik kemudian anak itu mulai menangis berkata jika ia ketakutan. Ten memeluk Hendery erat, berusaha menenangkan pangerannya itu.
"Dery takut mama…. Der- Dery dipukuli. Samchon itu juga mau celakai daddy." Lirih Hendery dalam tangisnya. Mata Ten kembali berkaca-kaca seolah kepingan memori tentang hal buruk yang menimpa Hendery mulai terkumpul di ingatannya.
Johnny memanggil Jaehyun ke ruangan Hendery, dokter tampan itu kembali memeriksa Hendery yang tak mau lepas dari pelukan Ten. Hari itu Hendery terlihat begitu ketakutan. Matanya jelas menggambarkan apa yang ia rasakan. Setelah selesai memeriksa Hendery, Jaehyun kembali mengajak Johnny berbincang di ruangannya.
"Hendery mengalami trauma." Ucap Jaehyun. Johnny hanya terdiam siang itu, tak sanggup mendengar berita yang lebih buruk tentang pangeran kecilnya.
"Mungkin kedepannya Hendery akan selalu ketakutan saat melihat hal-hal yang berhubungan dengan penculikan hari itu. Aku akan berkonsultasi dengan dokter anak untuk segera menangani Hendery." Ucap Jaehyun.
"Terima kasih." Hanya itu yang keluar dari mulut Johnny.
"Hendery sudah seperti anakku sendiri, Mark juga pasti akan sangat sedih jika sahabatnya terluka." Ucap Jaehyun dengan senyum teduh terlihat terpancar dari wajah tampannya.
Hendery yang begitu terluka selalu berucap takut pada kedua orang tuanya, tanpa mau menceritakan apa yang sudah terjadi padanya. Dengan berat hati Ten dan Johnny membiarkan Hendery menjalani perawatan dengan psikiater anak yang dipercaya Jaehyun beberapa waktu lalu. Perlahan Hendery mulai terbuka, ia menjelaskan apa yang ia alami mulai saat di TK sampai akhirnya berakhir di gedung tua yang ada di pinggiran kota Ulsan. Air mata Ten tak berhenti mengalir saat mendengar cerita Hendery. Bagaimana mungkin pangerannya yang mereka jaga bagaikan harta berharga tiba-tiba saja dihancurkan oleh orang yang tak bertanggung jawab.
Saat Ten sibuk menjaga Hendery di rumah sakit, di kantor polisi Kyuhyun dan Johnny sibuk dengan masalah mereka dengan si penculik dan esok hari akan dilakukan persidangan atas kasus penculikan yang menimpa Hendery. Di ruang sidang, nampak diputar video Hendery yang tengah berbincang dengan psikiaternya tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh sang mama.
"Sam- samchon itu tutup mata Dery lalu pukuli Dery. Sam- samchon juga melukai leher Dery mama. Dery takut, samchon sudah jahat sama Dery." Kira-kira begitulah perkataan bocah lima tahun itu. Saat dirasa video tersebut semakin menyakitkan, hakim meminta seseorang untuk mematikannya, pernyataan Hendery sudah menjadi bukti yang sangat cukup untuk menjatuhi hukuman pada pria bengis dengan wajah tanpa dosa di tengah-tengah mereka. Palu diketuk menjadi tanda usainya sidang hari itu, Johnny yang nampak terduduk dengan tangan yang terkepal kuat tiba-tiba saja berdiri. Ia menerobos para penjaga keamanan dan memukul pria itu sampai terluka, kilatan amarah terpancar jelas dari mata Johnny. Ia benar-benar membalas apa yang dilakukan pria itu pada anaknya beberapa hari yang lalu.
Setelah seminggu berada di rumah sakit akhirnya Hendery diizinkan pulang. Bocah kecil itu masih menyimpan begitu banyak ketakutan, bahkan ia terus memeluk Ten di sepanjang perjalanan pulang. Setelah kejadian itu Ten dan Johnny mengerti jika pangeran mereka akan sangat benci tempat yang gelap, dan ia juga tak mau melanjutkan sekolahnya. Hendery bilang ia takut kembali menemui samchon jahat di sekolah, Ten hanya tersenyum dan mengusap lembut surai lebat putranya. Dan hari itu Ten dan Johnny memutuskan untuk mendaftarkan Hendery dalam program homeschooling.
Setelah seminggu lebih tak pergi bekerja, hari ini Johnny memutuskan untuk kembali ke kantornya. Namun jalannya tak semulus biasanya, Hendery menahannya pergi. Bocah kecil itu sampai menangis meraung-raung dan tak membiarkan Johnny pergi darinya.
"Jangan pergi daddy. Samchon jahat mau celakai daddy…." Teriak anak itu. Ten dengan mata yang berkaca-kaca merengkuh tubuh anaknya dan membawanya ke pelukannya, hari itu mereka berdua kembali tersadar Hendery masih terjebak dalam traumanya.
Johnny memutuskan bekerja di rumah, tentu saja dengan Hendery yang duduk mengawasinya di sofa ruang kerja daddy nya. Berkali-kali Ten meminta Hendery keluar dan tidur siang namun bocah kecil itu menolak, ia selalu bilang jika takut daddy nya tiba-tiba bertemu dengan samchon jahat. Ten masuk ke dalam ruang kerja Johnny dan membawakan anaknya makanan, ia dengan sabar menyuapi Hendery dan sesekali terkekeh saat melihat Hendery mengawasi Johnny dengan pandangan serius. Setelah menghabiskan makanannya, Hendery meminta pada Ten untuk membawakannya alat menggambar, mungkin bocah kecil itu mulai bosan setelah hanya menatap Johnny seharian.
Johnny yang baru saja selesai dengan pekerjaannya bergegas menghampiri Hendery, ia duduk bersebelahan dengan Hendery yang nampak serius menggambar. Namun Johnny begitu terkejut dengan apa yang digambar oleh Hendery. Pangeran kecilnya itu hanya mencoret selembar kertas dengan crayon hitam yang ia gambar tidak beraturan, detik itu juga Johnny membawa tubuh kecil Hendery ke pelukannya dan berbisik lembut di telinga anak itu.
"Daddy selalu bersama Dery. Dery jangan takut lagi ya…." Johnny tak mendengar jawaban dari anaknya, yang jelas ia merasakan Hendery yang menganggukan kepalanya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Johnny sore itu.
Dua bulan telah berlalu setelah kejadian pahit yang sempat menimpa keluarga kecil mereka. Perlahan Hendery mulai kembali membuka dirinya setelah melalui beberapa kali sesi terapi. Ia juga sudah kembali bisa bermain dengan Mark, Xiaojun, atau Renjun yang kadang berkunjung ke rumah mereka. Hendery juga sudah bisa melepas Johnny yang akan pergi ke kantornya dan untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali, Ten selalu mendampingi Hendery di kelas homeschooling nya. Ten dan Johnny menyulap sebuah ruangan di rumah mereka menjadi ruang kelas tempat Hendery belajar. Setelah selesai dengan homeschooling Ten akan membawa Hendery ke toko kuenya. Pikirnya ia bisa bermain bersama Hendery saat mengawasi beberapa pegawai yang ada disana.
Seperti hari ini, Ten yang tengah berada di meja kasir tampak tersenyum saat melihat anaknya tertawa karena lelucon yang dibuat oleh salah satu pegawainya. Para pegawai disana sudah sangat mengerti keadaan Hendery, terkadang mereka bergantian menghibur Hendrey supaya tetap ceria. Dan hari itu Ten berharap semoga senyuman indah Hendery akan selalu ia lihat dan tak ada lagi kesedihan yang menyelimuti keluarga kecil mereka.
