38. Old Woman Who Always Looks at Mama
Waktu kian bergulir, tak terasa satu tahun telah terlewati semenjak kejadian memilukan yang menimpa Johnny dan keluarga kecilnya. Hendery sudah kembali menjadi anak yang periang meskipun tidak secerah dulu, anak itu juga masih melakukan kegiatan homeschooling dan tubuhnya sering kali bergetar ketika bertemu dengan sekolah yang mengingatkannya dengan kejadian di masa lalu. Siang ini Hendery terlihat begitu ceria, seperti hari-hari sebelumnya setelah ia selesai homeschooling Ten sang mama akan membawanya ke toko kue miliknya. Dan hari ini Ten telah berjanji kepada anaknya jika akan membiarkan Hendery mencicipi menu baru sebelum dijual di toko kuenya.
"Mama, jadi Dery akan jadi yang pertama coba kan?" Ucap Hendery memastikan saat mereka tengah berada di mobil.
"Tentu saja, pangerannya mama akan jadi yang pertama coba." Balas Ten, ia menatap wajah tampan Hendery yang terlihat begitu tampan dari cermin mobilnya.
"Lalu daddy bagaimana? Masa daddy tidak coba sama Dery." Ucap anak kecil itu seraya mencebikkan bibirnya.
"Hum… bagaimana jika kita bawakan untuk daddy nanti." Ucap Ten. Hendery mengangguk semangat dan kembali bernyanyi seperti yang biasa ia lakukan saat berkendara.
Siang itu toko kue milik Ten terlihat ramai, Ten menggenggam tangan Hendery yang terlihat menggendong tas kecilnya yang biasa ia bawa kemanapun ia pergi. Beberapa pegawai nampak menyapa mereka berdua, bahkan Hendery tak segan melambaikan tangannya, tentu saja satu tahun bukan waktu yang singkat bagi anak kecil itu untuk mengenal orang-orang disana. Ten membawa Hendery ke ruangannya yang terletak di lantai dua toko kue miliknya, ia membiarkan Hendery berbaring di karpet bulu dan memulai kegiatan menggambarnya. Berterima kasihlah pada Johnny yang telah membelikan anaknya itu set crayon yang begitu lengkap beberapa waktu lalu. Saat tengah sibuk menggambar, Ten terlihat menghampiri Hendery dengan nampan di tangannya disana ada dua buah slice cake dengan warna yang berbeda.
"Hua… coklat. Dery mau coba yang coklat mama." Ucap anak kecil itu, Hendery mulai mengambil garpu dan memasukkan potongan kecil kue itu ke mulutnya. Hendery terlihat tersenyum lebar saat sensasi coklat memenuhi rongga mulutnya.
"Enak… Dery suka. Buatan mama memang yang terbaik." Ucap anak kecil itu.
"Benarkah?" Tanya Ten sedikit bercanda.
"Hum… buatan mama sangat lezat tak seperti buatan daddy." Ucap Hendery. Ten mengusap gemas surai hitam Hendery dan mendekatkan wajahnya sehingga hidung mancung mereka saling bertemu. Dan Hendery hanya tertawa kegirangan menerima perlakuan mamanya hari itu.
"Coba yang ini." Tunjuk Ten pada salah satu kue dengan butter cream diatasnya.
"Tidak mau. Yang itu tidak menarik, Dery mau yang coklat saja." Ucap anak itu.
"Hum padahal mama buat yang ini dengan sayur kesukaan Dery." Ucap Ten mulai berdrama.
"Carrot?" Tanya Hendery seraya memiringkan kepalanya.
"Hum… ayo coba dulu." Ujar Ten sedikit memaksa.
"Woah… enak." Hendery membelalakkan matanya sesuai menyantap potongan carrot cake yang tersaji di hadapannya.
"Lain kali jangan lihat sesuatu dari penampilannya ya Dery, buktinya kuenya enak." Ucap Ten lembut. Hendery hanya mengangguk dan kembali melanjutkan acara makan kuenya.
Saat sore hari Ten membawa Hendery keluar dari ruangannya dan membiarkan anaknya itu duduk di salah satu kursi kosong yang ada di cafenya. Saat sore hari biasanya Ten akan mengambil alih kasir seperti yang biasa ia lakukan. Dari meja kasir itu ia akan melihat dengan jelas Hendery yang sibuk menggambar atau bercanda ria dengan beberapa pegawainya. Hari itu toko kue terlihat tetap ramai sekalipun sore hari, Hendery yang tengah asyik menggambar tiba-tiba saja mengedarkan pandangannya karena bosan. Di sebelah mejanya Hendery melihat seorang wanita tua yang mungkin seusia halmeoni nya tengah menatap ke arah mamanya seraya menyantap kue miliknya. Hendery yang cukup protektif pada Ten bergegas turun dari bangkunya dan menghampiri halmeoni itu. Dengan wajah yang mencebik lucu Hendery berucap pada sang wanita tua yang cukup membuat ia sedikit terkejut.
"Halmeoni kenapa tatap wajah mama Dery terus sejak tadi." Ucap Hendery dengan tangan yang menyilang di depan dada. Siapapun yang melihatnya pasti tak akan takut tapi malah akan memetik gemas dengan tingkah Hendery.
"Eh." Sang wanita tua terkejut, anak kecil itu bahkan mulai duduk di hadapannya saat ini. Tapi detik berikutnya ia tersenyum dan menatap wajah tampan anak kecil yang ada di hadapannya.
"Jadi wanita cantik di depan sana itu mamamu?" Tanya wanita tua itu.
"Hum… itu mamanya Dery, cantik kan?" Ucap Hendery itu penuh percaya diri.
"Iya cantik sekali." Ucap wanita itu, ia kembali memandang Ten dari kejauhan dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Halmeoni suka kue buatan mamanya Dery?" Tanya anak kecil itu polos.
"Hum… kuenya enak. Tempatnya juga bagus." Balas si wanita tua.
"Tempat ini daddy nya Dery yang buat lho karena mama suka buat kue." Bangga Hendery.
Tak terasa Hendery yang mulanya berniat menegur wanita tua itu malah menjadi semakin akrab dan berbincang cukup lama. Hendery bahkan sesekali tertawa mendengar cerita wanita tua itu, sang wanita tua juga sering kali tersenyum cerah melihat tingkah polos Hendery.
"Halmeoni, besok kalau berkunjung lagi jangan duduk sendiri ya. Duduk sama Dery saja supaya halmeoni tidak kesepian." Ucap Hendery polos, anak kecil berwajah tampan itu terlihat tengah fokus mewarnai gambarnya. Sang halmeoni hanya tersenyum seraya mengusak gemas rambut hitam Hendery sore itu.
Saat malam menjelang Ten mengajak Hendery kembali ke rumah, lagipula toko kuenya juga sebentar lagi akan ditutup oleh para pegawainya, sang wanita tua juga tampak telah pergi sejak tadi karena saat Ten menghampiri anaknya, Hendery hanya seorang diri dan tengah sibuk mewarnai. Sesampainya di rumah Hendery akan menunjukkan pada Johnny apa saja yang ia pelajari bersama gurunya hari ini atau apa saja yang ia lakukan di toko kue sang mama. Johnny yang saat itu baru saja mandi nampak mengusap kepala Hendery dan membawa anak kesayangannya itu ke dalam pangkuannya.
"Mama keluarkan menu baru lho dad. Dan Dery jadi orang pertama yang coba." Pamer anak kecil itu.
"Jinjja? Bahkan Dery tak mengingat daddy." Balas Johnny penuh drama.
"Dery ingat kok, buktinya Dery dan mama bawa cake nya untuk daddy." Ucap anak itu tidak terima setelah disindir sang daddy.
Hendery melepas paksa tangan Johnny yang melingkar di tubuh kecilnya, ia berlari ke dapur dan mengambil slice cake yang baru saja ditata di piring oleh sang mama. Johnny yang melihatnya hanya tersenyum, hatinya tiba-tiba saja menghangat setelah melihat Hendery yang kembali ceria seperti beberapa tahun yang lalu.
Sepasang ayah dan anak itu terlihat sibuk mencoba slice cake yang tersaji disana. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama sekedar mengomentari cake buatan sang mama. Kegiatan mengasyikan itu terhenti saat Ten memanggil mereka berdua untuk makan malam. Johnny bergegas membawa Hendery dalam gendongannya dan mulai menyantap makan malam bersama.
Setelah selesai makan malam Hendery mengganti pakaiannya dengan piyama tidur dan membawa bantal kecilnya memasuki kamar kedua orang tuanya. Hendery sudah bisa kembali tidur sendiri setelah kejadian itu, namun anak laki-laki itu kadang bersikap manja dan tiba-tiba saja datang ke tengah-tengah orang tuanya. Hal itu kadang membuat Johnny frustasi karena harus kembali menunda kegiatan malamnya bersama sang istri tercinta.
"Dery kenapa tidak tidur sendiri?" Tanya Johnny. Ia baru saja selesai membacakan cerita pengantar tidur pada bocah kecil itu, namun Hendery sama sekali tak terlihat mengantuk.
"Dery mau tidur sama mama." Balas anak itu, ia mulai memeluk Ten posesif dan berhasil membuat Johnny semakin frustasi.
Tak lama bocah kecil itu mulai tertidur bersamaan dengan suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya, Ten menyamankan tidur anaknya dan mengecup lembut kening putranya itu. Mata Ten tiba-tiba saja menangkap pemandangan yang selalu berhasil membuat hatinya berdenyut nyeri, bekas luka yang berada di leher Hendery belum sepenuhnya menghilang dan itu selalu berhasil membuat Ten ataupun Johnny mengingat kejadian memilukan satu tahun yang lalu.
Keesokan harinya keluarga kecil itu kembali beraktifitas seperti biasa, Johnny yang pegi ke kantor dan jangan lupakan Hendery yang menghabiskan waktunya di toko kue milik mamanya. Hendery kembali berbincang dengan halmeoni yang ia temui kemarin. Perbincangan itu terus berlanjut sampai memasuki hari ke enam pertemuan mereka. Dan malam ini, sebelum tidur tiba-tiba saja Hendery bercerita pada daddynya tentang sosok halmeoni yang selalu ia temui.
"Halmeoni itu selalu pandangi wajah mama dad. Halmeoni juga bilang sama Dery untuk selalu jaga dan sayangi mama." Ucap bocah kecil itu.
Perkataan yang keluar dari mulut Hendery berhasil menimbulkan kegundahan di hati Johnny. Pria tampan itu jelas saja tahu latar belakang Ten, ia bahkan ingat dengan jelas tentang Ten yang ditinggalkan di panti asuhan oleh orang tuanya saat ia masih merah. Dulu di awal pernikahan mereka Johnny pernah menawarkan bantuan pada Ten untuk mencari identitas orang tua kandungnya, namun Ten menolak tegas. Usaha Johnny terhenti disitu karena ia tak ingin membongkar luka lama yang cukup pahit bagi istrinya itu.
Setelah pertemuan terakhir Hendery dengannya, si wanita tua tak pernah lagi menampakkan dirinya di toko kue milik Ten. Ten jelas tahu jika anaknya sudah bisa berbincang dengan orang asing beberapa hari yang lalu, dan hari ini ia berniat berterima kasih tapi wanita tua yang Ten tunggu tak kunjung menampakkan diri. Saat Ten turun ke lantai bawah ia mendapati Hendery tengah berbincang dengan seorang pria asing yang tidak Ten kenal. Ten sedikit panik, sejak kapan Hendery begitu terbuka dengan orang asing, pikirnya.
"Mama…." Hendery melambaikan tangannya pada Ten yang baru saja menuruni tangga. Ten bergegas menghampiri anaknya dan menarik lengan Hendery supaya menjauh dari sana.
"Panti Asuhan Last Hope 27 tahun yang lalu." Ucapan pria itu yang tiba-tiba berhasil membuat Ten menghentikan langkahnya. Darimana pria itu tahu jika Ten berasal dari mana, pikirnya.
Ten membawa Hendery ke ruangannya dan menitipkannya pada Jeonghan salah satu pegawainya yang sedang senggang. Dengan sedikit berlari Ten kembali menuruni anak tangga untuk menemui pria yang berbincang dengan Hendery beberapa menit yang lalu. Namun terlambat, pria itu telah menghilang, Ten bergegas menyusulnya keluar dan berteriak saat menemukan pria itu di tempat parkir toko kuenya.
"Kau siapa?" Tanya Ten pada pria itu. Si pria tampak berbalik dan tersenyum teduh pada Ten. Tiba-tiba saja ia menyodorkan kartu namanya dan bergegas masuk ke mobilnya sore itu.
"Hubungi aku jika kau penasaran." Kira-kira begitulah ucapan terakhir pria itu sebelum meninggalkan Ten yang terlihat terpaku di tempat parkir.
Ten menyembunyikan masalah soal pria itu dari Johnny mengingat betapa menumpuknya pekerjaan Johnny akhir-akhir ini. Namun Ten sudah tak sanggup lagi menyembunyikannya seorang diri. Setelah Hendery tertidur ia memutuskan untuk masuk ke ruang kerja Johnny dan berbincang dengan suaminya itu.
"Aku sudah tahu dari Dery." Kira-kira begitulah ucapan Johnny setelah Ten selesai bercerita.
"Dery bilang pria yang berbincang dengannya beberapa hari yang lalu bernama Kun, kau dan dia lahir di tanggal yang sama, itulah mengapa Dery tertarik berbincang dengannya." Jelas Johnny. Ten makin terdiam, membuat Johnny yang berada di sampingnya merengkuh bahu sempit milik istrinya itu.
"Jika kau penasaran hubungi saja dia." Ucap Johnny.
"Apa boleh begitu?" Tanya Ten ragu.
"Tentu saja boleh, aku tak akan marah." Balas Johnny.
Dan malam itu dengan berani Ten menghubungi pria itu dengan Johnny yang berada disampingnya. Mereka berdua tidak banyak bicara di telepon, pria itu hanya meminta Ten datang ke rumah sakit milik keluarga Jaehyun esok hari, dan tak lupa ia memberikan nomor kamar yang harus Ten datangi esok. Johnny tersenyum teduh dan memeluk Ten malam itu, ia jelas merasakan keraguan yang tiba-tiba saja muncul di hati istrinya.
"Apa benar begini John?" Tanya Ten. Johnny jelas tahu apa maksud istrinya itu.
"Mungkin sudah waktunya ada orang lain dalam kehidupan kita." Ucap Johnny. Kemudian ia mengecup lembut kening Ten malam itu.
Hari yang ditunggu Ten sejak semalam akhirnya tiba. Ia ditemani Johnny datang ke rumah sakit milik keluarga Jaehyun dan bergegas menuju kamar yang dikatakan Kun semalam. Dengan ragu Ten dan Johnny melangkahkan kakinya ke dalam, mereka mendapati wanita tua yang tampak berbaring di ranjangnya dengan Kun yang duduk di sebelahnya. Kun tersenyum menyambut kedatangan dua orang di hadapannya. Ia mempersilahkan Johnny dan Ten duduk di sofa dan mulai menjelaskan semuanya. Kun sendiri bingung ia harus mulai dari mana, sampai akhirnya ia memantapkan diri dan memutuskan untuk bercerita pada Ten tentang kejadian sebenarnya.
Hari itu Ten terdiam, setelah berbincang cukup panjang dengan Kun, wanita cantik itu tahu jika Kun adalah kakak kembarnya dan wanita yang terbaring lemah di sana adalah ibu kandungnya. Orang yang sama yang menitipkannya di tempat suster Kang dan tak pernah menjemputnya kembali setelah sekian lama. Ten marah, hari itu ia benar-benar bingung tentang kedatangan keluarganya yang tiba-tiba. Kun juga sepenuhnya mengerti tentang kondisi Ten hari itu. Sampai akhirnya ia mengizinkan Ten dan Johnny pulang dan kembali lagi setelah wanita itu bisa menerima semua kenyataannya.
Di dalam mobil Ten menangis keras, ia berhambur ke pelukan Johnny dan membuat kemeja suaminya basah. Johnny mengerti perasaan Ten, dan ia akan sepenuhnya membiarkan istrinya menyesuaikan diri dengan keadaan yang tiba-tiba berubah itu. Sepanjang hari itu Ten hanya terdiam, bahkan Johnny terpaksa mengambil alih Hendery karena anak itu mulai kesal akibat Ten yang tak menanggapinya sejak tadi.
"Mama sedang sedih." Begitulah ucapan Johnny pada Hendery hari itu. Hendery tak balik bertanya ia bergegas berlari dan memberikan pelukan pada mamanya yang masih terdiam di ruang keluarga.
"Mama jangan sedih, nanti Dery ikut sedih." Ucap bocah laki-laki itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama tidak sedih." Ucap Ten, ia mulai menyunggingkan senyuman terbaiknya di hadapan Hendery.
"Tapi mama diam terus, Dery bingung." Balas anak itu.
"Dery mau bertemu halmeoni?" Tanya Ten tiba-tiba.
"Tapi kan Dery baru kembali dari rumah halmeoni." Balas anak itu bingung.
"Lee halmeoni yang selalu menemani Dery di toko kue mama." Ucap Ten, suaranya mulai bergetar meskipun Hendery tak dapat mendengarnya dengan jelas.
"Woah… halmeoni yang mirip mama? Dery mau. Apa ada paman yang lahirnya sama seperti mama juga?" Tanya anak kecil itu.
"Hum… mereka ada disana." Ucap Ten, air mata mulai mengalir dari netra indahnya dan bersamaan dengan itu Dery menghapus air mata mamanya dengan jempol kecilnya.
"Mama jangan sedih. Dery dan daddy sayang mama." Ucap anak kecil itu seraya memeluk erat tubuh Ten. Johnny yang melihat adegan menyentuh ibu dan anak itu hanya tersenyum kemudian menghampiri mereka berdua. Merengkuh dua orang tersayangnya dan membawa mereka dalam pelukan hangat sore itu.
