39. The Last Journey
Hari itu Ten dan Johnny mengajak Hendery pergi ke rumah sakit, menemui wanita tua yang sudah sering Hendery ajak bicara beberapa hari lalu. Hendery terlihat bersedih saat melihat halmeoni yang ia sukai tengah terbaring sakit, wajahnya terlihat pucat dan ia terlihat tak bertenaga.
"Halmeoni harus cepat sembuh. Mama Dery akan keluarkan menu baru, nanti kita coba bersama ya halmeoni." Ucap anak kecil itu polos, Johnny hanya mengusap kepala Hendery. Berbeda dengan Ten, wanita itu terlihat menundukkan kepalanya dan tengah menahan air mata. Johnny yang sadar jika Ten butuh waktu berdua dengan ibunya bergegas menggendong Hendery dan membawa anaknya keluar dari ruangan itu.
"Maafkan eomma- ani bahkan aku tidak pantas menerima panggilan itu darimu." Ucap wanita tua itu. Ten masih terdiam, wanita itu sudah tahu dari suster Kang jika setelah ia menikah datang seorang wanita ke panti asuhan dan menanyakan keberadaannya, suster Kang memberikan alamat Ten sejak lama namun wanita tua itu baru menemui Ten akhir-akhir ini.
"Eomma…." Lirih Ten. Wanita tua itu berpaling menatap Ten yang mulai mengeluarkan air mata. Dengan ragu ia membawa Ten kedalam pelukannya dan mereka menangis bersama hari itu.
"Maafkan eomma Ten, maafkan eomma yang dengan bodohnya meninggalkanmu di panti asuhan." Ucap nyonya Lee hari itu, Ten tak menjawab sama sekali, ia sibuk memeluk ibunya. Setelah sekian lama dan kehilangan harapan akhirnya hari ini Ten berjumpa lagi dengan wanita yang melahirkannya itu.
"Ten rindu eomma…." Lirih wanita cantik itu.
"Eomma lebih rindu padamu. Maafkan eomma, eomma terlalu malu untuk datang menjemputmu hari itu." Kilasan ingatan mulai berputar di otak nya, Tentang ia yang kerap kali datang dan selalu mengurungkan niatnya untuk menjemput Ten ikut bersamanya.
Hari itu Ten benar-benar bahagia, ia berjumpa lagi dengan ibunya setelah sekian lama. Ternyata apa yang selalu ia harapkan selama ini bukanlah angan-angan belaka. Ten yang berhasil menemui ibu kandungnya disambut keluarga Seo dengan suka cita, mereka ikut merasakan kebahagiaan yang Ten rasakan. Kun dan nyonya Lee juga sering kali berkunjung ke kediaman Ten untuk berjumpa dengan si kecil Hendery. Hendery bahkan terlihat begitu bersemangat saat tahu samchon nya berprofesi sebagai pilot salah satu maskapai ternama Korea.
"Daddy belikan Dery pesawat ya. Kata Kun samchon dia mau ajari Dery." Begitulah ucapan anak kecil itu di suatu malam. Tentu saja Ten dan Johnny hanya terkekeh gemas melihat tingkah anaknya.
Hari ini Ten dan Johnny kembali berkunjung ke pulau Jeju, bedanya ada si kecil Hendery yang berada diantara mereka. Mereka bertiga kembali mengulang perjalanan yang menurut Ten serupa karya wisata. Tak hanya Ten yang terlihat bahagia hari itu, Hendery terlihat tak kalah senang saat mendatangi pantai dan kebun bunga yang menurutnya indah. Ten terlihat berjalan dengan dua jus di tangannya. Wanita itu terlihat begitu anggun dengan dress selutut dan topi pantai yang menutupi wajah cantiknya.
"Mama daddy hancurkan istana Dery." Anaknya terdengar mengadu begitu Ten mendekat ke arah sepasang ayah dan anak itu.
"Dasar anak mama." Ucap Johnny.
"Biarkan saja, daddy nakal, wle…." Balas Hendery seraya menjulurkan lidahnya. Aksi kejar-kejaran antara ayah dan anak itu pun tak terelakkan, Ten hanya menikmati pemandangan indah itu seraya menyesap jus jeruk miliknya. Jeju memang tak pernah mengecewakan, fikrinya.
Perjalanan keluarga kecil itu berakhir di kebun bunga canola yang sempat Ten dan Johnny kunjungi beberapa tahun lalu. Hembusan angin terlihat membuat kincir angin yang dibawa Hendery berputar kencang, sang pangeran pun ikut tersenyum dengan pemandangan di hadapannya. Hari itu pemandangan terlihat begitu indah dengan hamparan bunga canola dan keluarga kecil mereka yang menjadi pusatnya. Johnny yang menggendong Hendery dengan tangan kanannya dan tangan kirinya yang merengkuh pinggang ramping Ten posesif. Jangan lupakan juga Ten yang bersandar di bahu tegap Johnny sejak tadi.
"Mama daddy, Dery boleh minta hadiah?" Ucap anak kecil itu tiba-tiba.
"Tentu saja. Akan daddy kabulkan." Ucap Johnny.
"Dery mau adik seperti punyanya Xiaojun dan Mark." Ucap Hendery. Seulas senyuman terlihat terukir di wajah tampan Johnny berbeda dengan wajah Ten cukup terkejut.
"Tapi Dery tidak mau yang seperti Nono, Mark bilang Nono terlalu berisik. Dery mau yang seperti Nana saja." Ucap anak itu polos. Ten hanya terkekeh mendengarkan perkataan putranya itu.
"Tentu saja, akan daddy kabulkan, Dery mau sebanyak apa?" Tanya Johnny antusias.
"Satu saja. Mark bilang Taeyong imo kesakitan saat Nono keluar dari perutnya. Dery tidak mau mama kesakitan terlalu lama. Dery mau satu saja ya, Ma." Ucap anak itu. Ten hanya tersenyum seraya mengusap gemas surai hitam Hendery.
Setelah setahun lebih fokus dengan Hendery dan traumanya mungkin ini saat yang tepat untuk menambah anggota keluarga baru, terlebih Hendery sendiri yang meminta. Ten yang dahulu sempat mengutuk hidupnya yang begitu menyedihkan kali ini begitu bersyukur dengan apa yang ia punya. Tentang Ten yang mulanya mengira ia sebatang kara malah dihadiahi dua ksatria tampan oleh Tuhan dalam hidupnya. Johnny dan Hendery yang membuat Ten selalu sadar bahwa ia selalu punya tempat untuk pulang setelah segala perjalanan panjang yang melelahkan.
"Dery sayang mama dan daddy." Ucap anak kecil itu.
"Kami lebih sayang Dery…." Balas Ten dan Johnny, mereka mengecup pipi putih Hendery dan berhasil membuat anak kecil itu terkekeh sendiri.
Dan sore itu kebun bunga canola menjadi saksi betapa bahagianya keluarga kecil mereka. Setelah sebelumnya berlayar dengan susah payah akhirnya kapal yang Johnny nahkodai dengan Ten yang membantu mengembangkan layar dapat berlabuh dengan selamat. Menyisakan senyuman manis milik Hendery yang ingin selalu mereka lihat bahkan sampai anak itu dewasa. Semoga saja kali ini semesta benar-benar mengabulkan semua keinginan mereka.
THE END
