5. Tersudut dan Terpuruk

Solar menahan diri untuk tidak keluar dari kamar hingga hari benar-benar gelap. Ia menangis sampai ketiduran dan melewatkan salat Magrib, tetapi tidak ada satu pun dari keenam saudaranya yang membangunkan. Padahal, Halilintar akan berubah menjadi sangat cerewet jika menyangkut kewajiban yang lima.

Solar benar-benar merasa sudah ditinggalkan. Tak dipedulikan lagi. Sedih sekali.

Sekarang, sudah waktunya makan malam. Cacing-cacing di perut Solar berdemo minta makanan. Selain harus makan, Solar juga perlu mandi sebab tubuh yang masih mengenakan seragam sekolah itu terasa begitu lengket. Solar pun merasa akan sangat keterlaluan jika ia kembali meninggalkan salat Isya setelah sebelumnya tak salat Magrib. Alhasil, meski enggan keluar kamar, Solar terpaksa melakukannya.

Saat hendak bangkit dan turun dari tempat tidurnya, Solar kembali merasa anggota tubuhnya tak memberi respons cepat. Pasalnya, otak Solar memberi perintah untuk bangun, tetapi tubuhnya hanya bisa berbaring saja. Kali ini Solar tak sepanik sebelumnya. Walau hatinya merasa begitu sedih, dengan sabar Solar menunggu tubuh itu mau bekerjasama lagi dengan apa yang diperintahkan otaknya.

Baru selepas beberapa detik terbuang, dan semuanya kembali dirasa normal, Solar bangkit. Terduduk di tepi tempat tidur untuk sesaat. Menatap ranjang Duri yang kosong dengan sendu. Lantas, ia menghela napas berat. Pertengkaran itu bukan hanya mimpi.

"Kau sudah bangun?"

Solar bersyukur masih ada yang mau bicara dengannya. Tok Aba melepas tanya begitu Solar muncul di dapur dan hendak ke kamar mandi. Namun, hatinya berdenyut nyeri tatkala mengakui kalau kesemua saudaranya yang sudah mengambil posisi di kursi makan masing-masing, sama sekali tiada berniat menyapa dan berbicara dengannya.

"Aku mau mandi dulu." Solar bergegas masuk ke kamar mandi. Di sana ia kembali menangis tertahan. Dari semua hal buruk yang menimpa, hal paling menyakitkan untuk Solar adalah tak diacuhkan oleh saudaranya. Dan sekarang, mereka benar-benar tak menganggap keberadaannya. Solar merasa begitu tersudut dan terpuruk.

...

Gengsi, Solar urung menghampiri saudara-saudaranya di meja makan. Karenanya, begitu selesai mandi dan salat Isya, Solar bergegas kembali ke kamar. Berusaha melupakan perihal makanan dan hanya menyempatkan diri membuka kulkas untuk turut membawa es batu ke kamarnya.

Saat mandi tadi, Solar melihat bekas tendangan dan pukulan Ejo Jo meninggalkan luka lebam di perutnya. Ia perlu mengompresnya agar tak bengkak parah dan lebamnya cepat hilang. Lagi, matanya juga membengkak karena terlalu lama menangis. Solar mungkin akan mengompresnya juga.

Taufan sebenarnya sedih melihat Solar. Ia ingin menyapa atau berbasa-basi guna meretakkan kecanggungan. Namun, Taufan merasa kalau ia perlu menghargai perasaan Duri. Taufan pikir, yang lain pun demikian. Mereka mungkin akan kembali memperbaiki hubungan dengan Solar jika perasaan Duri sudah lebih baik.

Tok Aba yang sudah mendengar semua ceritanya dari Blaze pun tampaknya demikian. Karenanya saat melihat Solar berlalu begitu saja tanpa mau bergabung, pria tua itu tiada melepas komentar apa pun dan hanya berujar, "Wajar jika antara saudara itu ada masalah. Tapi, jangan berlarut-larut. Bagaimanapun juga adalah lebih baik selalu melihat banyak kebaikan dari saudara kita, dari pada melihat satu keburukannya."

Tak ada yang menyuarakan apa pun. Si kembar hanya membisu. Hidangan yang Gempa siapkan, yang biasanya menggugah selera, terlihat kehilangan pesona. Masalah yang ada membuat suram seluruh isi rumah.

Duri tertunduk, merasa begitu sedih. Sebelumnya, semenyebalkan apa pun Solar, Duri tidak pernah benar-benar menanggapi hal itu. Ia adalah yang paling berjiwa besar dan mudah memaafkan orang. Kali ini, selepas harga dirinya dijatuhkan dan pecah berkeping-keping, sehingga hatinya terluka dengan amat parah, Duri tetap berpikir untuk memaafkan segalanya. Namun, nanti saat Solar menyadari seluruh kesalahannya dan meminta maaf itu darinya.

...

Saat melangkah memasuki ruangan, Tok Aba melihat Solar sudah tertidur dengan posisi menghadap tembok. Memunggungi tempat tidur Duri. Di atas meja ada satu mangkuk berisi es yang sudah mencair. Pria tua itu menghela napas berat saat melihat robot rakitan milik Solar retak parah, penyebab utama emosi Solar meledak sore tadi.

Dengan hati-hati, dibereskannya meja itu guna mencari tempat kosong untuk menyimpan satu nampan berisi makan malam Solar. Lantas dengan perlahan, ia mendudukkan diri di tepi tempat tidur si bungsu. Saat hendak menyentuh tubuh kecil itu untuk membangunkan, Tok Aba terenyuh. Pundak Solar tampak berguncang, dan isakan kecil menyentuh halus gendang telinga. Solar tengah menangis—lagi.

"Solar ..." Tok Aba memanggil nama cucu terkecilnya. "Bangunlah, kau perlu makan sebelum minum obatmu."

Solar menggeleng kecil. Ia hanya merasa kalau Gempa tidak akan suka ia memakan apa pun yang dimasaknya. Sebabnya, Solar urung bergabung kendati perutnya mulai melilit lantaran menahan lapar.

"Kau ingin Atok memberi tahu yang lain tentang kondisi kau, hm?"

Solar refleks bangun saat pertanyaan itu berlabuh di telinga. Bangun mendadak membuat kepalanya berdenyut, tanpa sadar ia meringis kecil. "Jangan dulu, Tok," pinta Solar penuh harap. Solar benar-benar tidak berharap mereka tahu masalah sakitnya di saat seperti ini.

"Nah, kalau begitu, makanlah! Bersedih juga perlu tenaga." Maksud Tok Aba hendak bercanda. Namun, kumulonimbus yang makin tebal di wajah Solar membuatnya hanya mampu menipiskan bibir.

"Aku boleh bertanya, kah?" Solar menyuapkan sedikit makanan ke dalam mulutnya.

"Tanya, lah."

"Selalu ada yang spesial di hati seseorang." Solar menatap mata tua Tok Aba dengan suram. "Di antara kami, siapa yang paling Tok Aba sayangi?"

Tok Aba tak lantas menjawab. Tiada disangka kalau Solar akan menyuguhkan tanya seperti ini.

"Pasti Duri." Solar tertunduk dalam. Menyuap lagi makanannya. Kali ini ada rasa lain yang terasa karena air mata yang kembali bercucuran turut masuk ke dalam mulutnya. "Semua selalu terlihat lebih menyayangi Duri. Aku hanya mengatainya, tapi aku dapat pukul dari Kak Gempa. Pipiku yang ditampar, tapi hatiku sakit. Aku salah, tapi mereka juga, kan, tidak berarti benar. Duri merusak proyek yang kukerjakan siang malam, dan yang lain turut melukai perasaanku. Dari awal, mereka memang tidak menyukaiku, kan?"

"Solar, hei ..." Tok Aba mengambil piring di tangan Solar. Menyimpannya di atas meja sebelum memeluk si Bungsu dengan erat. "Kau tidak perlu spesial untuk orang lain. Kau hanya perlu spesial untuk dirimu sendiri." Tok Aba tahu, karena sedang sakit, Solar jadi lebih sensitif. Permasalahan yang ada pun pasti membuat perasaannya lebih rentan lagi. Jika seperti ini, yang Tok Aba pikirkan hanya satu.

Menghubungi Amato. Hanya ayah mereka yang bisa menyelesaikan permasalahan anak-anaknya ini.

Bersambung

Planet Bumi, 16 Juni 2022

Setelah sekian windu tak nampak, saya harap masih ada yang menunggu cerita ini.

Tinggalkan jejak. review apa pun dari kalian, saya selalu senang membacanya.

Makasih.