Keluarga Sinar Mentari (c) faihyuu
Naruto, Boruto (c) Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto
Rated K(plus)
Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Untuk #SunshineSiblingsWeek2022.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Day 1: Favorite Child •
Mentari kala itu benar-benar telah naik pada atas takhta. Langit biru nan cerah dengan awan-awan putih menggumpal di angkasa.
Uzumaki Naruto tengah bersantai, hari libur yang kini menjadi salah satu hal nan langka tengah dinikmati sang pria dengan sebaik-baiknya. Hokage memang mimpinya, tetapi meraih mimpi terkadang memerlukan yang namanya istirahat pula.
Merebahkan diri ke atas sofa panjang nan amat nyaman, memeluk stoples kue kering buatan sang istri, dan menyaksikan televisi yang senantiasa menampilkan sajian-sajian baru pemikat pemirsa. Ada rasa bersyukur dalam hati pula untuk mengalah pada pulau kapuk sedari pagi—memilih untuk membantu Hinata nan tengah hamil besar, dan kini dapat bersenang-senang memanjakan diri tiada beban sebagai bentuk penghargaan nyata.
Oh, hari libur yang hampir sempurna.
Hampir.
Sebuah buntalan hitam-merah, dengan kuning bak pisang di bagian atas datang dengan loncatan tinggi—berakhir pada perutnya. Tak luput makhluk itu menghadiahkan sebuah pelukan dan—
—air mata?
"Eh?" Hilang sudah kekesalan dan segala rasa sakit Naruto. Tergantikan seluruh kekhawatiran pada sang putra pertama, Uzumaki Boruto. "Kenapa, Nak? Kenapa Boruto menangis?"
"Hiks—" Anak laki-laki yang akan berusia tiga pada tahun depan ini berusaha menghentikan isak tangis dan sumbatan lendir nan kini hadir pada hidung mungil memerah. Naruto meletakkan stoples kue kering itu pada atas meja berkaki rendah di samping sang pria, dengan lembut pula membantu menghapus air mata dengan jemari, mengecupi pipi gembil Boruto—menenangkannya dengan membalas pelukan anak itu. "—Too-chan ma Kaa-chan g-gak cayang Boluto agi, ya?"
"Heee?" Manik safir pewaris utama itu membulat, tenggelam dalam rasa terkejut. "Tou-san dan Kaa-san sayang Boruto, kok. Sayang sekali malahan. Kenapa bisa tidak sayang?"
"Kalau Adik dah lahil, Too-chan ma Kaa-chan nanti lebih cayang cama dia... Tidak peluk Boluto agi, mainan-mainan Boluto cemuanya dikacih ke Adik..." Dengan perlahan Naruto mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh putranya itu.
Hingga mencapai sebuah konklusi.
Boruto cemburu.
"Kata siapa?"
Dan Naruto dapat bersumpah, bahwa suara agak melengking itu bukanlah suara miliknya. Namun milik sang istri, Hinata.
Wanita itu baru saja kembali dari kamar—semesta milik keduanya. Baru menyelesaikan sisa-sisa baju milik mereka yang belum dilipat—setelah sebelumnya Naruto bantu beberapa.
Wajah Hinata terlihat terkejut, bahkan bibirnya yang sedikit terbuka. Wanita nila yang tengah hamil besar itu tampak menyedihkan, sehingga Naruto memilih duduk biasa. Mendekap sang putra dan menarik lembut Hinata agar duduk di sebelahnya.
"Iya, Boruto kenapa bilang begitu? Tentu Kaa-san dan Tou-san bakal tetap sayang kamu~" Dicubit Naruto pelan karena gemas pipi gembil yang kini terlihat kemerahan milik Boruto.
"K-kata... banyak olang..." Batita itu masih terisak. "Kata Inojin, Chocho... Calada ama Chikadai juga bilangnya gak tau, tapi mungkin aja Boluto tak lagi jadi favolit. Eh, Cai-ji bilang emang iya..."
Cai-ji—Sai. Naruto agak mendengkus. "Sai-ji mah jangan dipercaya."
Pantas saja, Boruto tadi pagi-pagi sekali pergi bermain bersama kawan-kawannya di rumah Yamanaka. Dan bahkan meminta pulang jauh sebelum jam makan siang, ketika sampai di rumah—wajah anak itu terlihat murung, memilih menyendiri dan bermain sendiri saja. Naruto sudah berminat menemani, tetapi Boruto sendiri lah yang menolaknya.
"Kenapa gitu? Kan temannya Too-chan ma Kaa-chan?"
Naruto merasakan sedikit sikutan halus dari Hinata.
"Begini, Boruto..." Istrinya itu kini mengelus rambut halus milik sang putra. Pun kembali menghapus air mata Boruto, bahkan tanpa jijik membantu anak laki-laki itu mengeluarkan ingusnya. "Menurut Boruto mengapa matahari bersinar?"
Anak itu terdiam sejenak, keheningan membumbung tinggi ke udara. Hinata tersenyum lembut—Naruto tahu, andai perut sang wanita kini tak sebesar itu, mungkin Boruto sekarang berasa dalam pelukannya.
"Ungg, matahali belsinal telang di angkasa... kalena emang gitu?"
Naruto tersenyum, pria itu tahu apa yang ingin Hinata maksudkan. Pasangan suami-istri itu saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya sang wanita kembali melanjutkan.
"Ya, matahari memang bertugas di langit, memberikan segala kehangatan dan cahaya bagi manusia." Hinata mengecup pipi kemerahan Boruto. Senyumnya makin mengembang. "Memberikannya kepada seluruh orang di dunia, tanpa terkecuali. Walau terkadang tertutup oleh awan, tetapi ada suatu waktu matahari mampu menembus dan memberikan sinarnya."
"Boruto tahu? Matahari itu mirip seperti orang tua pada anak-anaknya, lho. Memberikan seluruh cinta dan kasih sayang pada anak-anaknya tanpa terkecuali. Mau anak pertama, anak kedua—semuanya tentu dicintai. Jadi, Boruto jangan khawatir." Naruto lah yang kini melanjutkan perkataan sang istri, tersenyum lebar melihat manik safir nan jauh biru dari miliknya terlihat berbinar—antara berusaha menyelami makna dan bertanya-tanya.
"Dan orang tua—jauh lebih hebat pula daripada matahari." Hinata melanjutkan, kembali Naruto berpandangan dengan sang istri. "Karena orang tua mampu memberi kasih sayang dan cinta yang sama rata kepada anak-anaknya. Jika Adik nantinya memiliki seribu cinta dan kasih sayang dari Kaa-san dan Tou-san, maka Boruto juga memiliki jumlah yang sama."
"Nantinya pula, Boruto dan Adik akan sama-sama menjadi favorit Kaa-san dan Tou-san. Karena kami akan selalu bangga dengan kalian semua." Lagi dan lagi wanita nila itu menciumi pipi tebal putra mereka.
Naruto dan Hinata tersenyum, Boruto kembali terdiam. Sebelum pada akhirnya anak itu juga ikut melengkungkan bibir pula.
"Jadi, Too-chan ma Kaa-chan tetap cayang ma Boluto kalau Adik dah lahil? Boluto tetap jadi favolit? Adik juga?"
"Tentu sajaaaa!" Naruto kini makin mengeratkan dekapan pada sang putra. Sesekali pula anak itu digoda dengan gelitik, tawa riang menyebar di awang-awang sana. Penuh afeksi dan nama lain dari bahagia.
"Wah," Hinata mengelusi perut nan tiap hari makin terasa membesar, wajah wanita itu kini jauh lebih riang daripada sebelumnya. "Sepertinya Adik juga senang mendengarnya, dia sepertinya menendang."
"Mana? Mana?"
Makin hangat saja interaksi ketiga—keempatnya ketika Boruto dengan semangat mendekat pada Hinata. Menempelkan wajahnya ke atas perut sang ibu, dan kembali tertawa.
"Halo, Adik!"
•
Di tengah-tengah kebahagiaan itu, Naruto makin mendekatkan dirinya pada Hinata.
"Hinata, tolong ingatkan aku untuk memberikan pelajaran pada Sai besok."
