Keluarga Sinar Mentari (c) faihyuu
Naruto, Boruto (c) Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto
Rated K(plus)
Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Untuk #SunshineSiblingsWeek2022.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Day 2: Family Drawings •
Pada sebuah siang nan terik, dengan segala hal yang baik di semesta. Dalam salah satu hari di sebuah musim panas yang tengah menggelora. Mentari tersenyum indah di langit, menimbulkan euforia tersendiri bagi Hinata.
Wanita yang telah menjadi ibu bagi dua bintang-bintang paling bersinar di galaksi itu tengah bercengkrama dengan cairan warna-warni pun gabungan kristal-kristal es nan terasa menyejukkan raga.
Hinata tengah membuat es serut, teruntuk sang wanita dan juga kedua bocah-bocah menggemaskan miliknya. Bersama sang suami, tentunya.
Sirup alami dari buah-buahan ini asalnya dari Hyuuga, diberikan oleh Hanabi sebagai buah tangan saat berkunjung mengunjungi keponakan-keponakan gadis itu—sekaligus membawa rindu kakek mereka yang tengah berada dalam perjalanan di luar Konoha. Sangat cocok dinikmati dengan es segar di kala cuaca seperti ini, maka dari itu kebahagiaan selalu merayapi hati Hinata ketika membuatnya.
Anggur, untuknya. Stroberi, milik Boruto. Lemon, kesukaan Hima—
"IHHH! TIDAK ADIL! KAMU CURANG! CURANGGG!"
Teriakan dari suara yang sudah sangat dikenali oleh Hinata mengejutkan wanita itu, menjadikan sirup lemon kesukaan Himawari menjadi tertuang lebih banyak daripada seharusnya. Dengan segera wanita nila itu menghentikan segala aktivitasnya, menutup botol sirup kuat-kuat dan agak berlari menuju kamar Boruto di lantai dua—asal suara.
Tak luput pula Hinata mengaktifkan byakugan, melihat chakra dari kedua anaknya. Aman memang, tetapi tampak terlihat pula emosi-emosi menggetarkan di sekitar mereka.
"Boruto, Himawari, kenapa ribut-ribut?" Belum sampai hitungan kesepuluh, Hinata telah sampai di depan pintu kamar milik Boruto, membukanya dengan agak tak sabar.
"Kaa-chan..." Boruto menghambur ke pelukan ibunya. Anak itu mengadu pada Hinata. "Hima curang, Boruto tidak mau main sama Hima lagi."
"Enggak! Hima gak culang!" Kini Himawari lah yang mulai terisak, berlari ke pelukan sang ibu juga—menggeser kasar keberadaan kakaknya. "Mama, Hima enggak culang, benelan!"
"Heee? Memangnya kalian main apa? Kaa-san tidak mengerti, curang dalam apa?"
"Kita adain lomba," Boruto mulai menjelaskan, makin mendekap Hinata erat. "Lomba gambar foto keluarga, yang paling bagus nanti jadi pemenangnya. Dapat hadiah juga, Boruto dan Himawari sudah menyiapkan masing-masing hadiah. Tapi, Hima malah curang. Terus bilang gambar Boruto jelek, Kaa-chan."
"Enggak, Hima gak culang! Gambal Hima memang bagus, dan gambal Nii-chan jelek. Telus Nii-chan enggak telima, malah bilang Hima culang..."
"Memang curang kenapa?" Hinata kini mengelus rambut kedua anaknya, tak luput mengecupi.
"Hima hanya menimpa walna klayon, supaya lebih bagus. Eh, Nii-chan bilang culang. Kan enggak culang 'kan, Ma?"
"Tapi kamu langsung ngambil hadiahnya, tanpa penjurian dari Kaa-chan dulu. Terus bilang jelek begitu saja!" Kini Boruto lah yang hampir menangis—setitik batin Hinata merasa gemas. Karena biasanya Boruto akan menjadi anak paling dewasa, pun berlagak dewasa di hadapan banyak orang. Namun kini, anak itu kembali menunjukkan sisi kekanak-kanakannya.
"Eh, benarkah itu Hima?" Hinata kini memusatkan atensinya pada Himawari. Anak perempuannya itu sedikit menunduk.
"H-habisnya... memang jelek, Ma."
Wanita nila itu menghela napas, menggeleng pelan. "Sepertinya Kaa-san sudah pernah mengajari kalian tentang saling menghargai..."
Manik safir Himawari makin berkaca-kaca. "M-maaf, Ma."
Hinata terdiam sejenak, sebelum kembali membawa keduanya dalam gendongan. Berat, tetapi dengan segala afeksi—wanita itu merasa kuat. "Coba Hima minta maafnya langsung sama Nii-san."
"Maafin Hima, Nii-chan..."
Gadis kecil itu menggenggam lengan sang kakak, pada posisi yang sedekat ini—Himawari membubuhi sedikit kecupan pada pipi Boruto. Membuat Hinata tersenyum gembira.
"Sekarang apakah Boruto mau memaafkan Himawari? Karena kalau yang Kaa-san duga, kalian hanya salah paham."
Boruto tertunduk, dan kemudian mengangguk. "Ya, Boruto maafkan."
Anak laki-laki itu juga balas mengecup kedua belah pipi gembil sang adik. Hinata makin gemas saja akan tingkah kedua anaknya itu. "Boruto dan Himawari pandai-pandai sekali, bolehkah Kaa-san lihat gambar kalian?"
Kedua bocah itu meminta turun, dengan senang hati ibu mereka mengabulkannya.
Boruto dan Himawari sedikit berlari, mengambil kertas yang diletakkan mereka di atas lantai kamar sang kakak laki-laki. Beberapa krayon pun berserakan, Hinata kembali menggeleng pelan dalam senyumnya. Membantu untuk merapikan beberapa. "Jangan lupa rapikan kembali krayon dan kertasnya, ya."
"Baik, Kaa-chan. Hehehe, lihat ini gambar kami!" Boruto menunjukkan dua buah kertas yang telah digunakan, Hinata terima dengan tanpa melepas senyuman.
"Wah? Gambarnya bagus-bagus, kok."
Satu yang wanita itu anggap penting dalam mendidik anak ialah apresiasi. Kedua gambar anaknya sama-sama menarik dan memiliki keunikan tersendiri.
Gambar Boruto mungkin kurang proporsional, hanya berupa kumpulan stick man dengan rambut dan bulat-bulatan warna-warni yang diasumsikan oleh Hinata sebagai baju. Namun, pewarnaan satu warna dari anak itu terlihat tajam dan rapi. Sementara gambar Himawari, proporsi yang lumayan—jelas terlihat mana kepala, leher, badan, maupun tangan. Pun Himawari mampu menggambarkan wajah. Akan tetapi, pewarnaan yang kurang tajam dan terkesan kurang rapi—mungkin sekali waktu, Hinata akan mengajari kedua anaknya tentang teknik gradasi warna dan juga cara menggambar makhluk hidup.
"Hima yang menang, 'kan?" Dan ini dia, gadis kecil yang tak mau kalah. Hinata terkikik.
"Dua-duanya. Yang menang Boruto dan Himawari."
"T-tapi 'kan yang menang cuma ada satu..." Himawari cemberut, Boruto kesenangan.
"Kata siapa? Semua 'kan tergantung yang menilai juga. Kaa-san pikir dua-duanya berhak untuk menang." Hinata mencubit gemas hidung sang putri. Kini Boruto lah yang agak cemberut.
"Oh, iya, Hima 'kan juga curang!"
Ternyata putra pertamanya ini masih salah paham.
"Boruto sayang, menimpa warna krayon dalam gambar bukanlah sebuah kecurangan. Itu namanya—uhm, gradasi warna. Salah satu teknik menggambar."
"Tuh, 'kan!" Himawari mendengkus agak sebal. Pun Boruto yang senantiasa memajukan tubir.
"Hei, hei," Hinata mengelus kedua mahkota milik putra-putrinya. "Hayoo, jangan bertengkar lagi, ya. Tadi 'kan sudah bermaafan. Lagi pula, karya kalian 'kan sama-sama menjadi pemenang oleh juri!"
"Tapi, Kaa-chan, hadiahnya 'kan hanya ada satu—ttebasa." Boruto kembali bermanja-manja, diikuti pula oleh adiknya.
"Satu? Hadiahnya ada dua, kok. Sesuai—untuk Boruto satu, untuk Himawari satu. Kalian bisa saling bertukar hadiah, 'kan?" Hinata menggendong lagi kedua anaknya. Mengecup masing-masing kedua pipi gembil dari Boruto dan Himawari. "Dan Kaa-san pun memiliki hadiah masing-masing untuk kalian."
"Hadiah?" Manik safir Himawari berbinar. Boruto yang kini menyunggingkan senyumnya.
"Es serut dengan sirup kesukaan kalian, tapi setelah makan itu—kalian jangan lupa minum banyak air putih dan sikat gigi, ya!"
"Horeeee!"
•
Naruto baru kembali dari misi pada dini hari. Tentunya bayangan Boruto, Himawari, dan Hinata yang telah terlelap berada dalam ekspetasi. Namun, pria itu dikejutkan oleh seorang wanita berambut nila yang dipotong pendek masih berkutat pada sebuah bacaan saat Naruto membuka pintu kamar milik pasutri Uzumaki.
"Tadaima, kok belum tidur sih?"
"Okaerinasai, aku berniat menunggu Naruto-kun sembari membaca." Hinata mengangkat buku yang dibacanya sedari tadi—buku tentang ragam-ragam teknik gambar dan mewarnai.
Naruto mengangkat sebelah alis. "Tumben membaca buku seperti itu."
Sang pria Uzumaki meletakkan tas bawaannya di dekat lemari—berjalan menuju kasur dan memeluk Hinata. "Aku sudah mandi, ya, hehe."
"Tahu, kok." Hinata terkekeh pelan, wanita itu membalas pelukan sang suami. "Tadi siang Boruto dan Himawari bertengkar."
"Huh?"
"Mereka sedang berlomba-lomba menggambarkan foto keluarga yang bagus. Tentunya ada yang menang dan ada hadiahnya pula—mainan favorit mereka masing-masing. Namun, mereka malah jadi bertengkar sendiri. Boruto menuduh Himawari curang karena katanya mencampurkan warna krayon, lalu Himawari malah mengejek gambar Nii-sannya." Hinata sedikit merona, Naruto kini tengah memainkan mahkotanya nan lembut dan wangi.
"Terus? Siapa yang akhirnya menang?"
"Tentu saja, dua-duanya." Wanita itu tersenyum tipis. "Kedua karyanya punya potensi kemenangan. Jadi, kusarankan mereka agar saling bertukar hadiah dan aku memberi mereka es serut dengan sirup kesukaan masing-masing."
"Heee? Enak sekali! Aku juga mau es serutnya. Kau tahu, Hinata? Suna pada musim panas benar-benar yang terburuk, aku hampir menjadi ikan tanpa air di sana." Naruto sedikit cemberut, mengingatkan Hinata akan wajah anak-anak mereka tadi.
"Besok, ya, nanti kubuatkan pakai sirup jeruk. Kesukaan Naruto-kun."
"Asik!" Kini Naruto meletakkan kepalanya di bahu sang wanita, mengendus aroma harum Hinata. "Terus kenapa kau sekarang masih baca buku tentang gambar-gambar begitu? Mending tidur, 'kan sudah kubilang kalau di atas jam sepuluh malam, Hinata bisa segera tidur saja. Tidak usah menungguku."
Lagi dan lagi, Hinata terkekeh. "Maaf, aku tidak sadar telah membaca hingga pukul segini. Omong-omong, aku membacanya karena nanti untuk mengajari anak-anak juga."
"Anak-anak mau belajar menggambar?"
"Hmmm," Wanita itu meletakkan pembatas buku pada halaman yang terakhir dibaca, sebelum menutup bukunya. "Anak-anak sepertinya lagi senang menggambar. Terutama Himawari, entah tahu dari mana atau memang sudah bakat, anak itu sudah tahu menciptakan warna-warna lain dari warna dasar. Himawari juga senang melakukan gradasi—yang dikira Boruto sebagai kecurangan."
"Wah?" Kini Hinata dapat menangkap binar pada manik safir Naruto. "Gambarnya masih disimpan, 'kan?"
"Tentu saja," Wanita itu kemudian menunjuk pada salah satu bagian tembok dalam kamar—yang sebelum Naruto pergi misi hanya kosong, tetapi kini telah terisi beberapa gambar khas anak-anak. Rata-rata berisi gambar keluarga. "Aku menempelkan gambar-gambar terbaik dan kesukaan mereka di sana. Tidak apa-apa, 'kan?"
Pelukan makin mengerat. "Tentu saja, bantu aku bakal meminta juga pada Boru dan Hima buat dipajang di kantorku juga, ttebayo."
