Keluarga Sinar Mentari (c) faihyuu
Naruto, Boruto (c) Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto
Rated K(plus)
Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Untuk #SunshineSiblingsWeek2022.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Day 3: New Sibling •
Sarapan kali ini memang sederhana saja, sang ratu semesta kecil itu akan pergi ke Hyuuga setelah jam menunjukkan pukul sembilan pagi hingga siang kala mentari berada di tengah-tengah takhta.
Roti goreng berisikan sayur mayur dan kaya akan protein dari daging—salah satu yang menjadi favorit Boruto akhir-akhir ini. Pun ditemani oleh susu segar, benar-benar menunjukkan semangat dari pagi.
"Boruto, bisa bangunkan Kawaki tidak?"
Gerakan anak laki-laki belasan tahu itu terhenti. Gagal menyembunyikan keinginan untuk mengambil beberapa untuk dibawanya pergi nanti.
Hinata sang ibu menggeleng, Boruto tersenyum masam karena ketahuan. Pengguna byakugan memang terkadang menyeramkan. Anak laki-laki itu amat yakin sang ibu masih berkutat membereskan lemari es—dengan arah membelakangi. Namun kini, Boruto merasa amat dipencudangi.
"Tidak usah begitu. Kalau mau bawa bekal bilang saja. Kaa-san masak banyak, nanti tinggal digoreng lagi. Jangan lupa dibagi juga ke yang lain, ya."
"Hehehe, terima kasih, Kaa-chan. Tapi—"
"—tapi kenapa?" Hinata kembali menghidupkan api pada kompor berniat menggoreng kembali beberapa roti.
"Aku yang bangunin Tou-chan, ya. Kawaki biar Himawari atau Kaa-chan saja?"
"Loh? Kok aku?" Barulah bersuara si bungsu Uzumaki. Gadis kecil itu sedari tadi tengah menikmati sajian animasi pagi dengan tenang—dan agak terkejut ketika namanya tiba-tiba disebut begitu saja. "Ih, 'kan yang disuruh, Nii-chan!"
"Ayolah, Hima~"
"Tidak mau!"
Hinata mengetukkan spatula ke bibir panci. "Kok malah ribut? Kalian berdua deh yang membangunkan Kawaki. Sana, keburu dingin roti gorengnya."
"Kaa-chan~" Boruto menunjukkan binar-binar penuh harap di manik safirnya, dahulu binar itu bekerja dengan efektif—tetapi sekarang hanya mengundang tawa sang ibunda.
"Tou-san sedang libur, Boruto. Biarkan Tou-san beristirahat sedikit lebih lama."
"Baiklah, baiklah."
Pada akhirnya anak laki-laki dan perempuan itu pasrah, melaksanakan keinginan Hinata.
•
"Kawaki-nii, bangun!"
Di sebuah ruang yang dipenuhi dokumen—kantor sang ayah, tetapi kali ini dialihfungsikan sebagai kamar dari seorang anak nan sedikit lagi menjadi pemuda. Himawari sudah berteriak sekuat tenaga, hampir serak suaranya. Serupa dengan Boruto—yang sebelumnya telah lelah hampir mencekik Kawaki untuk membangunkan—kini tengah terduduk di dekat kaki nan masih tertutupi oleh selimut dengan lemas juga.
Himawari menyerah, gadis kecil itu membuka pintu kantor sang ayah—dengan hampir menangis memberitahukan kegagalan mereka pada ibunya. "Mama, Kawaki-nii belum bangun juga. Kami menyerah!"
Sebuah fakta yang Boruto dan Himawari tahu tentang Kawaki, saudara baru mereka; tidurnya bak orang mati.
Anak perempuan itu memilih ikut duduk di sebelah saudaranya, tak peduli makin mempersempit jarak kaki Kawaki—sesekali pula menggoyangkan kaki kakak laki-laki barunya itu. Namun percuma saja, Kawaki masih belum menyerah pada mimpi dan segala kenyamanan selimut.
Tak lama, Hinata—ibu ketiga anak itu masuk, dengan membawa sebuah piring kecil berisikan sepotong roti goreng di tangan kanannya. Wanita nila itu menggeleng pelan melihat kegagalan Boruto dan Himawari, pun mendengkus halus melihat kegigihan Kawaki mempertahankan ketidaksadaran jiwa. "Yah, Kawaki memang susah dibangunkan, sih."
"Ini alasan kami tidak ingin membangunkannya lagi, Kaa-chan. Dia jauh sepuluh kali lipat lebih menyeramkan daripada Tou-chan!" ujar Boruto hiperbola.
"Maka dari itu, lihat dan pelajari ini baik-baik. Kaa-san punya cara ampuh untuk membangunkannya." Hinata mengangkat tinggi-tinggi piring kecil yang berisikan roti goreng itu.
"Kawaki, bangun, yuk. Kaa-san sudah siapkan sarapan, nih." Dengan lembut sang dewi berkuasa pada keluarga Uzumaki saat ini menyingkap selimut di wajah Kawaki, setelah itu Hinata memotong roti goreng tepat di sebelah telinga si anak laki-laki. Seketika bau menggiurkan dari sayur bercampur daging nan dimasak dengan segala bumbu dan cinta menguar—memberikan getaran liur pula pada Boruto dan Himawari.
Terlihat agak aneh memang, tetapi penuh magis.
Karena kini hidung Kawaki terlihat mengendus—membaui. Pun manik keperakan yang sekarang terbuka lebar. Membuat Boruto dan Himawari hampir menjerit karena terkejut.
Kawaki berubah posisi menjadi duduk dalam sekejap, mengucek mata.
"Sarapan sudah siap, Kawaki. Ke kamar mandi dahulu, ya. Cuci muka dan sikat gigi."
"U-ungg, iya..." Barulah manik Kawaki benar-benar terbuka. Menemukan kedua saudara beserta sang ibu sambung berada dalam kamar sementaranya. "Kenapa ramai sekali di sini? Kalian mau apa, Boruto, Himawari?"
"Ini gila," Boruto tak menjawab, memilih untuk segera bangkit dan memeluk dirinya sendiri dalam perjalanan ke luar dari kantor rumah Uzumaki.
"Sangat gila." Entah disadari atau tidak, tetapi ucapan Himawari bak menegaskan kembali perkataan Boruto. Anak perempuan itu juga tak menjawab, memilih untuk mengikuti sang kakak laki-laki.
Ya, pagi itu diakhiri dengan Hinata yang tertawa-tawa dalam hati. Seluruh dinamika dan perbedaan selalu menambah ketertarikan semesta pada perjalanan Uzumaki.
