Keluarga Sinar Mentari (c) faihyuu

Naruto, Boruto (c) Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto

Rated K(plus)

Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #SunshineSiblingsWeek2022.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

• Day 4: Training Together •


Hari Sabtu ini, keluarga Uzumaki seluruhnya diundang ke kediaman klan paling besar dan terhormat di Konoha—Hyuuga. Sebuah undangan menikmati perkemahan sederhana selama sehari penuh, sebagai temu rindu akan mantan pewaris mereka yang telah menjadi Uzumaki—Hinata. Turut serta pula mengundang Hokage ketujuh yang menjadi menantu terhormat mereka.

Tak luput ketiga anak-anak Uzumaki nan menjadi cucu-cucu dari Hyuuga diundang pula.

Jam masih menunjukkan pukul lima pagi, mentari pun masih belum tinggi—rembulan nan masih berkuasa.

Kawaki, Boruto, dan Himawari—ketiga anak itu tengah menikmati kukis sederhana buatan sang ibu di sofa, dengan membawa tas ransel pada punggung, dan juga masih berkutat menahan rasa kantuk luar biasa. Sesekali ketiga anak itu menyesap susu kotak secara teratur, kadang pula bertanya yang dijawab singkat-singkat saja.

"Jii-san kalian itu—" Kawaki menggigit sedotan susunya.

"—Jii-sanmu juga." Boruto yang menguap pelan.

"Iya, Jii-san itu seperti apa orangnya?"

Karena sedari tadi pula lah, di balik wajah datar nan masih mengantuk itu—Kawaki terus-menerus melantukan tanya.

"Jii-chan adalah yang terkuat di Hyuuga, kata Mama sih gitu." Himawari kembali menikmati kukisnya.

"Wajah dan kelakuannya kadang tidak sinkron." ujar Boruto menyenderkan diri pada sang adik, Himawari. Manik safirnya hampir menutup jika tak mendengar lantunan kata selanjutnya dari Kawaki.

"Apakah—apakah dia Jii-san yang galak?"

Tawa seketika menggelegar dari Boruto dan Himawari—hilang sudah kantuk kedua anak itu.

Dan menimbulkan tawa kecil pula bagi Hinata yang tengah menyiapkan satu tas berisi makan dan minuman, setitik batin dalam wanita itu merasa bersyukur—sang ayah dikenal sebagai orang paling ramah bagi para cucunya.

"Mungkin wajah Jii-chan memang tegas, tapi sama sekali tidak galak, kok!" ujar. Himawari semangat.

"Sangat jauh dari kata galak, Kawaki. Lihat saja nanti." Boruto tersenyum, menikmati susu kotaknya sampai habis.

Hening sejenak, sebelum Kawaki kembali bersuara.

"Apakah Jii-san akan menerimaku?"

Hinata menutup ritsleting tas, membawanya mendekat ke arah ketiga anak Uzumaki. "Tentu saja Jii-san akan menerima Kawaki, 'kan Kawaki saudara Boruto dan Himawari juga. Anak Kaa-san dan Tou-san."

Dielusnya pelan mahkota unik dua warna milik putra sambungnya itu. Pun mengacak-acak rambut milik Boruto dan Himawari yang dihadiahi cemberut lucu.

"Ayo, kita pergi." Selain membawa tas berisikan ketahanan pangan, Hinata juga menggunakan tas ranselnya yang jauh lebih kecil.

Seperti anak ayam yang mengikuti induknya, ketiga Uzumaki itu mengikuti jejak sang ibu. Ikut pula berhenti kala mengenakan alas kaki di genkan mereka.

Ketika pintu dibuka, terlihat sesosok pria bermahkota pirang kuning tengah terduduk di salah satu tangga teras. Di tangannya ada sekaleng kopi panas, terdapat pula tas-tas yang berukuran jauh lebih besar daripada nan lain pada punggung.

"Sudah?"

"Sudah," Hinata mengangguk, mempersilakan ketiga anak-anaknya untuk berjalan terlebih dahulu. Wanita itu kemudian mengunci pintu—setelah memastikan bahwa seluruh akses masuk ke dalam rumah mereka telah terkunci semua. "Ayo, ayo."

Kelima bagian rumah semesta pun galaksi Uzumaki itu berjalan; anak-anak terlebih dahulu—Kawaki dan Boruto tampak menjaga Himawari di tengah-tengah mereka. Pada bagian belakang, terlihat kedua orang tua nan berjalan beriringan, sesekali pula terlibat percakapan—yang tak didengar oleh ketiga anak-anak mereka.

"Hyuuga sudah tahu akan kedatangan Kawaki, 'kan?" Uzumaki Naruto lah yang pertama kali membuka percakapan, pria itu sedikit sumringah—karena pada akhirnya Konoha memberikan Hokage mereka cuti walau hanya dua hari. Dihabiskan segala waktu itu dengan sebaik-baiknya untuk bercengkrama lebih erat kembali bersama penghuni galaksi Uzumaki. Pun pria itu merasa sudah lama tak mengunjungi rumahnya yang lain—kediaman gadis sang istri.

"Tentu saja," Hinata terkikik, manik kecubung pucat miliknya sedikit melirik ke lembayung nila serupa mahkota sang wanita. Masih bertabur bintang, rembulan yang masih bertakhta. Walaupun matahari sedikit-sedikit sudah menyembul pula. "Bahkan Chichi-ue dan Hanabi sudah menanyai banyak hal tentang kesukaan Kawaki, dari makanan sampai mainan."

Naruto juga ikut terkekeh. "Kayaknya bakal ada penyambutan heboh lagi."

Sebenarnya juga, selain menghabiskan waktu libur—Naruto dan Hinata sengaja membawa ketiga anak mereka ke kediaman Hyuuga atas dasar keamanan juga. Akhir-akhir ini, Hinata menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada rumah Uzumaki.

Walaupun keadaan sudah agak aman, setelah segala penghancuran kedamaian yang dilakukan kembali oleh para Otsutsuki, bahkan menjadikan Naruto hingga kehilangan Kurama. Namun, sang wanita nila masih merasakan sesuatu yang agaknya mengganjal. Naruto pun ternyata merasakan hal nan serupa.

Maka dari itu, kediaman Hyuuga dipilih menjadi salah satu tujuan kabur sejenak oleh pasutri Uzumaki. Kediaman Hyuuga dengan pengamanan tinggi dan banyaknya shinobi berkekuatan tinggi—untuk melindungi Kawaki, Boruto, dan Himawari.

"Jii-chan!"

"Himawariiiii!" Naruto dan Hinata kini benar-benar tertawa. Tak terasa mereka telah sampai pada gerbang masuk kediaman Hyuuga nan terlihat kokoh. Sudah terdapat juga kakek Hyuuga ketiga anak itu bersama bibinya.

Adegan setitik rasa mengharukan dan didominasi rasa kekanakan di mana Hiashi dengan erat memeluk Himawari, membuat Boruto berlari ke arah kedua orang tuanya.

"Tou-chan, Kaa-chan, selamatkan aku—ttebasa!"

Namun, sayangnya Hyuuga Hanabi jauh lebih gesit—Boruto dan Kawaki yang kini tampak sangat bingung berhasil dipeluk oleh gadis itu.

Tak perlu menunggu lama, tenda milik mereka telah dibangun. Tenda-tenda itu telah memenuhi beberapa bagian pada kediaman luas Hyuuga yang didaulat menjadi lahan hijau besar nan biasa digunakan untuk latihan ketangkasan para shinobi dengan byakugan di alam.

Ada empat tenda—satu tenda besar, satu tenda sedang, dan sisanya tenda-tenda yang jauh lebih kecil lagi.

Terima kasih kepada Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata, keduanya bekerja keras untuk menyelesaikan tenda-tenda tersebut berdua saja. Tanpa bantuan siapa-siapa, tak pula ketiga anak-anak Uzumaki atau bahkan Hyuuga yang ikut acara kemah sederhana ini.

Ketiga anak Uzumaki itu tengah berada dalam dojo yang berada tak jauh dari sana—ketertarikan besar Boruto untuk senantiasa latihan, kerinduan Himawari yang selalu mampu menguasai taijutsu secara cepat, pun Kawaki nan penasaran dengan taijutsu khas Hyuuga. Naruto dan Hinata sama sekali tidak dapat melarang mereka.

Dengan merangkul pinggang wanitanya, si pria kepala keluarga Uzumaki itu berjalan bersama dengan Hinata menuju dojo. Mengecek keadaan putra-putri mereka, walau tahu dengan jelas bahwa ketiganya akan tetap aman bersama dengan kedua Hyuuga terpandang.

Ketika sampai, mereka berdua disambut oleh pemandangan nan menarik.

Hiashi yang tengah melawan Kawaki.

Belum lagi Hinata yang menyadari bahwa pakaian ketiga anaknya kini telah terganti, menjadi baju latihan abu-abu kehitaman khas Hyuuga nan menanggalkan memori tersendiri.

Hyuuga Hiashi yang masih berdiri amat kokoh, tanpa setitik keringat—bahkan belum mengaktifkan byakugan.

Kawaki—anak itu telah menghidupkan yang Naruto katakan sebagai karma, dengan peluh nan kini membanjiri baju abu-abunya. Dan Hinata baru juga menyadari kehadiran tanda nan serupa pada Boruto yang hanya menonton saja dengan tenang di samping Himawari dan Hanabi.

Tawa kecil dari Naruto mampu membuat Hinata melirik, sedikit pula memberikan pandangan berisi peringatan. "Kenapa tertawa?"

"Lucu saja," Tak ingin menganggu pertarungan yang terlihat serius itu, pasutri Uzumaki memilih untuk menduduki teras dojo. "Tou-san bahkan belum menghidupkan byakugannya, belum berkeringat juga. Sementara Kawaki, kau lihat sendiri 'kan?"

"Menurutku, melihat sebentar pertarungan tadi," Hinata mengutarakan pendapatnya, sering kali sang wanita mendengar latihan-latihan yang telah dilewati kedua putranya itu. "Kawaki terlalu bertumpu pada karma yang dimilikinya, padahal dia punya potensi."

"Salah satu alasanku senang ketika Hyuuga mengundang kita," Naruto merangkul bahu istrinya. "Soalnya aku yakin, Kawaki pasti tertarik melihat taijutsu khas kalian. Manalagi, Boruto dan Himawari juga sudah lama tidak berlatih dengan Jii-san mereka."

Pada hari itu, kedua orang tua Uzumaki mendapat banyak cerita dari anak-anak mereka. Dimulai dari bangganya Himawari yang hampir mengalahkan Boruto, kesenangan Boruto yang senantiasa menjadi nan terbaik, pun Kawaki yang tertarik dan selalu bertanya segala tentang taijutsu pada Hinata.

Ditambah pula, fakta bahwa setelah latihan—ketiga anak itu mendapatkan banyak camilan manis dan makanan kesukaan mereka dari sang kakek juga bibi.

Tak berselang lama dari acara kemah sederhana di kediaman Hyuuga, Hinata merasa bahwa dirinya memerlukan pula sebuah latihan.

Namun, saat Hinata baru memulai kuda-kuda—sebuah suara yang sangat dikenalinya menyapa telinga.

"Wah? Mama mau latihan, ya? Hima ikut!"

Sesosok gadis kecil datang dari balik pintu kaca ruang tengah—manik safirnya memang masih agak sayu, tetapi terdapat pula kesenangan di sana.

Wanita itu tertawa, Himawari berlari memeluknya—kini kantuk anak perempuan itu hilang entah ke mana.

"Boleh, boleh~" Hinata mengacak-acak rambut nila yang sewarna dengan miliknya.

"Ih, Kaa-chan latihan tidak bilang-bilang! Boruto juga mau ikut." Belum sempat sang ratu keluarga Uzumaki memulai latihannya, kini anak Hinata yang lain—Uzumaki Boruto mengintip dari jendela kamarnya pada lantai dua. "Aku akan turun. Tunggu sebentar, Kaa-chan, Hima!"

"Aku juga boleh ikut?"

Itu Kawaki, datang dari tempat Himawari tadi.

"Eh, tumben Kawaki-nii bangun sepagi ini?" Himawari mendekati kakak laki-lakinya itu dengan ceria.

"Aku habis dari kamar mandi tadi," jawab Kawaki singkat, dan dibalas kerutan jijik dari Himawari. Dan hal itu tentu disadari oleh Kawaki. "Tentu saja aku sudah cuci tangan!"

Hinata merasa pagi ini akan menjadi pagi yang baik. "Boleh, kalian semua boleh ikut, kok!"

"Hanya memberi saran dan juga semangat~" Naruto tak luput muncul pula dari belakang Kawaki. "Latihannya yang serius dan jangan buat Kaa-san sebal, ya. Nanti sarapan kita jadi keasinan."