Keluarga Sinar Mentari (c) faihyuu
Naruto, Boruto (c) Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto
Rated K(plus)
Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Untuk #SunshineSiblingsWeek2022.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Day 5: Ghost •
"Apa kalian percaya hantu?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Kawaki di pagi yang cerah pada Minggu ini. Pertanyaan nan mampu membuat anak laki-laki tertua itu mendapatkan segala atensi.
"Huh?" Boruto lamat-lamat mencerna.
"Kenapa tiba-tiba?" Himawari yang menghentikan suapannya pada omurice—melirik Kawaki.
"Entahlah," Kawaki mengangkat bahu, anak laki-laki itu pun terlihat bingung juga. "Hanya penasaran saja."
"Tapi kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu? Apakah ada sesuatu?" Naruto datang, dan Hinata yang tengah menyajikan smoothies satu per satu juga mengalihkan segala atensi. Pria dan wanita—raja dengan ratu Uzumaki itu duduk berhadapan, ingin pula menikmati sarapan pagi.
"Kalau aku," Himawari kembali bersuara, gadis kecil itu tersenyum. "Menurutku, hantu itu memang ada."
"A-apaan, sih, Hima!" Uzumaki Boruto terlihat tak senang mendengarnya, wajah anak laki-laki itu memucat—begitu pula nafsu makan nan menghilang tiba-tiba.
"Iya, kan? Hantu memang ada, mereka memang gaib—tak kasat mata. Mereka sama-sama hidup di semesta kita juga, saling berdampingan. Tapi tak boleh saling bergesekan." Anak perempuan manis itu tersenyum makin lebar—dan Hinata sang ibu, paham mengapa Himawari bersedia menjelaskan sedemikian rupa.
Wanita nila itu mendengkus pelan, senyum geli tercipta pada tubir Hinata.
Himawari ingin menggoda Boruto dan juga ayahnya.
"Bentuk-bentuk hantu sebenarnya 'kan abstrak, hanya saja terlihat di mata kita menyeramkan karena mereka tahu ketakutan-ketakutan besar dalam diri." Gadis kecil itu melanjutkan, dengan senyum yang sekarang terlihat jelas terang-terangan—bak jelas mengejek kakak laki-laki dan ayahnya.
"Himawari," Naruto berdeham, kini wajah pria itu tak kalah memucat dari Boruto. "Sudah, sudah. Tou-san tahu kau ingin menggoda Boruto."
"Menggoda?" Jelas nada tanya itu dibuat bernada dibuat-buat, Hinata menggeleng pelan—mulai menikmati sajiannnya. Himawari kelihatannya pun telah menyadari bahwa sang ibu tahu rencana gadis kecil itu. Namun, si bungsu tetap melanjutkan segala niat. "Aku tidak menggoda siapa pun, Pa. Hanya menjawab pertanyaan Kawaki-nii."
"Aku mengerti maksudmu, kok. Tapi, cukup sampai sana saja, Hima. Aku yakin Kawaki telah mengerti. Iya, 'kan?" Boruto mulai memberanikan diri kembali—sang Uzumaki muda jiplakan Naruto itu kemudian mendengkus. "D-dan aku tidak sepenakut itu, Tou-chan! Apakah aku perlu membawa kaca ke sini? Karena Tou-chan 'kan lebih penakut."
"Sebenarnya kalian berdua kini terlihat pucat," Dengan polos Kawaki mengatakan hal tersebut, pun si sulung kini kembali memfokuskan atensi pada Himawari. "Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan karena kamu sepertinya sangat mengerti."
Seringai muncul di bibir manis Himawari, gadis kecil itu mengangguk. "Silakan saja. Apa yang kau ingin tanyakan Kawaki-nii?"
"Menurutmu, apa di rumah ini juga ada hantu?"
Sebenarnya, pertanyaan Kawaki sama sekali tidak diduga oleh Hinata—pun Himawari yang jelas tadi tengah membakar api. Namun dengan cepat si gadis kecil menguasai.
"T-tentu saja, mereka ada di segala tempat. Kecuali tempat-tempat suci dan digunakan untuk beribadah, seperti kuil dan sejenisnya."
"Kalau begitu, berarti di rumah ini juga ada hantu, dong?"
Kawaki benar-benar telah melupakan seluruh menu sarapannya, Hinata berdeham.
"U-uhm, Kawaki, Hima. Dihabiskan dahulu sarapannya, baru kembali mengobrol."
"Maaf, Ma..." Himawari mengangguk pelan, kembali menikmati sarapannya. Pun Naruto dan Boruto yang menghela napas juga terlihat tenang. Akan tetapi, tak sampai tiga puluh detik—Himawari bersuara lagi. "Tapi, Kawaki-nii. Hal itu mungkin saja. Karena di mana pun kita tinggal selama bukan tempat suci, walau memang tidak seluruhnya—pasti ada penghuni tak kasat mata."
"Berarti yang kulihat semalam memang benar hantu, dong?" Kawaki menghentikan suapannya pada omurice entah yang keberapa kali.
"Huh? Apa maksudmu, Kawaki? Di kantor ada hantu?" Naruto terdengar meremehkan, tetapi dengan ekspresi ketakutan yang agak kentara.
"Tou-chan, kau ketakutan!" celetuk Boruto—tetapi keadaannya tak jauh beda dari sang ayah.
"Kalian berdua ketakutan," Himawari memicingkan manik safirnya. "Memang apa yang kaulihat semalam, Kawaki-nii?"
"Semalam, saat aku ingin ke kamar mandi—"
"—tidak usah dilanjutkan!" Dengan kompak Naruto dan Boruto hampir berteriak. Terutama, anak laki-laki bermahkota kuning pirang nan mentereng itu kemudian menyesap smoothies miliknya dengan cepat—baru disadari oleh Hinata, Himawari, dan Kawaki jika omurice Boruto telah habis. Entah kapan anak itu menghabiskannya.
"K-kaa-chan, maaf, aku baru ingat ada janji sama Shikadai pagi ini." Boruto segera berdiri membawa piring dan gelas bekas pakainya untuk dibawa ke wastafel cuci. "Maaf, aku tidak dapat membantu Kaa-chan pagi ini. Tapi sebelum makan siang, aku bakal kembali, kok! Aku juga bakal mencuci seluruh piring dan gelas nanti, janji!"
Dengan segera pula anak itu mengecup singkat pipi kanan Hinata dan berlarian keluar rumah begitu saja.
Hening sejenak.
Namun, Kawaki terkadang tak mengerti akan situasi.
"Semalam aku ingin pergi ke kamar mandi, tetapi badanku tidak bisa bergerak, Hima. Paling hanya jari-jari saja, dan itu tak banyak membantu. Aku merasa seperti ada yang menindih, tetapi tak kasat mata. Aku kira aku diserang, tapi karma pun tidak dapat berfungsi juga. Kupikir genjutsu—iya, 'kan namanya itu? Tapi saat kucoba melepaskannya dari yang pernah diajarkan, masih tetap sama saja. Dan saat aku melirik ke salah satu sudut ruangan, ada sesosok wanita yang sedang meringkuk. Rambutnya panjang sekali—"
"—N-Naruto-kun!" Hinata yang menemukan sesuatu tak beres pada suaminya.
Pada pagi yang cerah pula, Hokage ketujuh kebanggaan Konoha ditemukan pingsan dan melemas di meja makan karena tidak kuat mendengar cerita seram dari salah satu putranya.
Yang kemudian ditertawakan paling keras oleh jiplakan pria itu—Uzumaki Boruto nan baru pulang sebelum waktu makan siang tiba.
