Keluarga Sinar Mentari (c) faihyuu
Naruto, Boruto (c) Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto
Rated K(plus)
Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Untuk #SunshineSiblingsWeek2022.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Day 6: Overprotective •
Pada suatu malam nan cerah, lembayung berwana nila. Ditemani oleh rembulan dan bintang-bintang di angkasa. Pun dersik melantukan rapsodi yang terasa di telinga.
Di dalam sebuah rumah dengan taman berbunga, pada salah satu ruang. Ada suasana mencekam tersendiri yang memenuhi awang-awang.
"Papa, aku ingin bicara."
"Oh? Silakan, Himawari." Senyum Naruto agaknya pun canggung, berusaha menyembunyikan sesuatu dengan sesapan kopi dengan banyak susu. Sementara sang istri hanya terdiam, tersenyum lugu dan berlalu.
"Aku ingin langsung ke inti, Papa 'kan yang menyuruh beberapa Genin hingga Chuunin baru untuk mengawasi Ehou-kun akhir-akhir ini?"
"Hah?" Namun, Himawari ialah pengguna byakugan—walau tak sesering Hyuuga lain. Dengan cepat anak perempuan itu menangkap gestur sang ayah yang sangat mengandung keanehan. "Ehou siapa? Tou-san 'kan punya banyak warga, Himawari."
"Papa~" Himawari mendengkus pelan, sang bungsu Uzumaki memilih untuk terduduk di hadapan sang ayah. "Aku tahu, Papa sudah tahu siapa Ehou-kun. Entah dari daftar pelatihan Shinobi harian, atau dari Boruto-nii."
"Oh," Naruto kembali menyesap kembali latte miliknya—menelan lagi segala keresahan. Mencoba kembali menelan kebohongan. "Ehou yang teman Himawari itu?"
"Iya, kenapa Papa begitu?"
Manik safir Himawari tampak berkilat, sang ayah mencoba mengatur napas. "Tou-san tidak tahu apa yang Himawari bicarakan, Sayang."
"Akhir-akhir ini, Ehou-kun bercerita padaku dan Yuina-chan kalau dirinya sering diikuti oleh beberapa Shinobi. Awalnya Ehou-kun mengira hanya kebetulan. Akan tetapi, salah satu dari Shinobi bahkan mengikutinya sampai ke rumah. Hal itu diketahui pula oleh keluarganya. Dikira Ehou-kun telah melakukan hal yang tidak-tidak, keluarganya pun menjadi agak kecewa dengan Ehou-kun." Gadis bungsu Uzumaki itu menunduk, meremas pelan bawah roknya sembari bercerita. Wajah Himawari tampak menahan banyak tanya juga. "Hima hanya ingin tanya, kenapa Papa melakukan hal itu?"
"T-Tou-san tidak—"
"—a-aku tahu, Papa sekarang sedang bohong," Naruto sama sekali tidak menyangka bahwa Himawari sampai bergetar begini, air mata lolos pun menganak pada pipi gembil gadis kecil itu. Tak luput juga isakan yang seketika membuat Naruto merasa ngilu. "A-apa Ehou-kun melakukan kesalahan yang besar, Pa? Apa Ehou-kun warga yang bermasalah?"
Terkejut bukan pula dirasakan oleh Naruto—tetapi Hinata, Boruto, bahkan Kawaki yang diam-diam berada di lorong sebelah pintu terbuka ruang utama.
"Kenapa Tou-chan bisa menyuruh orang untuk mengikuti bocah macam Ehou? Apakah Tou-chan sudah benar-benar gila?" Boruto mendesis pelan, diangguki oleh Kawaki dengan wajahnya yang masih bingung.
"Ya, Kaa-san tidak tahu juga. Namun, Kaa-san yakin Tou-san memiliki sebuah jawaban yang bisa menenangkan mereka berdua." ujar Hinata tak kalah pelan, tetapi pada tubirnya tersungging senyum geli—membuat Boruto lebih heran.
"Apakah ada yang lucu Kaa-chan?"
"Kaa-san punya dugaan, tapi lebih baik menunggu Tou-san benar-benar mengatakannya—"
"—Himawariiii!" Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara telah menyita kembali tiga penikmat drama nyata klandestin.
Terlihat, Naruto tengah memeluk sang putri di lantai berkarpet bulu yang baru saja dicuci oleh Hinata. Wajahnya tak kalah pucat—campuran panik, sedih, dan bingung.
"M-maafkan, Tou-san..." Pria itu mengelus rambut nila Himawari yang serupa sang ibu, pun pelukannya kini dibalas oleh sang putri.
"A-apakah Ehou-kun warga yang tidak baik, Pa?" tanya Himawari dalam dekapan sang ayah.
Keheningan membumbung tinggi ke udara dalam sejenak.
"Tidak," Kelihatannya Uzumaki Naruto kini mendapatkan keberanian untuk mengatakan sebuah kejujuran. "Norimaki Ehou tidak melakukan kejahatan maupun hal-hal merugikan apa pun."
"L-lalu, kenapa?" Himawari sekarang tengah mendapatkan kekuatan untuk menahan diri pula. Gadis itu mulai menyeka air matanya. "K-kalau Papa bilang kebetulan, a-aku tidak percaya. S-soalnya, aku dan Yuina-chan pun melihat mereka mengikuti Ehou-kun sepanjang waktu."
"Sebenarnya..." Naruto melepaskan pelukannya pada Himawari. "... Memang Tou-san yang menyuruh para Shinobi itu."
"Tapi kenapa?"
"Tou-san hanya cemburu dan takut." Uzumaki Naruto, Hokage ketujuh dari Konoha. Shinobi paling kuat dan memiliki tingginya martabat. Kini tampak dikalahkan—tak kalah mengenaskan dari Otsutsuki—oleh Himawari dengan segala pertarungan batin dan vokal.
"Cemburu dan takut?" Himawari yang makin bertanya-tanya.
"Tou-san takut karena Hima sudah besar sekarang. Sudah banyak laki-laki yang naksir Hima, Tou-san juga cemburu jika Hima nantinya bakal dipinang oleh laki-laki. Tou-san hanya ingin Himawari mendapatkan laki-laki terbaik—"
—Gedebuk!
Onomatope suara jatuh terdengar, mengalihkan segala atensi dari penghuni rumah Uzumaki.
Boruto dan Kawaki yang jatuh melemas ke lantai, dengan Hinata nan khawatir di sana.
"Eh?" Naruto pun Himawari yang melihat segala keanehan itu menatap mereka dengan penuh tanya.
Namun, dengan secepat kilat—Boruto dan Kawaki kembali berdiri. Anak laki-laki jiplakan Naruto menarik kerah baju sang ayah—agak kurang ajar memang. Manalagi Kawaki yang ancang-ancang menghidupkan karma.
"Demi Tuhan, Tou-chan! Hima masih anak-anak! Lagi pula, kalau dia mau pacaran dan menikah pun—setiap laki-laki itu harus dibawa dahulu kepadaku untuk diseleksi. Kalau begini, jadinya bodoh!"
