Keluarga Sinar Mentari (c) faihyuu
Naruto, Boruto (c) Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto
Rated K(plus)
Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Untuk #SunshineSiblingsWeek2022.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Day 7: Adults •
Halo, para pembaca! (Jika memang ada yang membacanya)
Aku Uzumaki Himawari. Umurku sekarang 10 tahun, beberapa bulan lagi aku menginjak umur 11 tahun. Rasanya waktu benar-benar cepat berlalu, ya?
Rasanya baru kemarin, aku punya banyak baju warna-warni yang bagus. Banyak pula memiliki mainan, kalau mau sesuatu pun tinggal meminta. Mama dan papa masih suka peluk-peluk dan cium. Terus dahulu, Boruto-nii masih selalu main sama aku. Dan dia juga masih tidak malu kalau kupeluk dan cium di depan rumah. Sekarang mah semuanya sibuk.
Papa yang berhasil jadi Hokage sejak bertahun-tahun lalu, makin jarang di rumah. Namun, sekalinya di rumah—sering kali beristirahat di kamar, atau maunya manja-manja saja sama mama.
Boruto-nii juga sekarang tak kalah sibuk. Dia mengikuti jejak mama dan papa untuk menjadi ninja. Ditambah sekarang dia sudah punya banyak teman di mana-mana. Makin jarang deh main sama aku. Yah, tapi sekarang aku hanya bisa mendoakan segala yang terbaik buatnya.
Mama yang sekarang mulai sibuk membantu Hanabi-nee (aku bahkan takut menuliskan oba-chan di sini) untuk mengurus hal-hal Hyuuga. Aku sering dibawa sih, tapi di sana pun aku jarang diajak main.
Di umur 10 ini, aku rasanya mulai paham kalau jadi dewasa itu sama sekali tidak enak!
Dimulai aku yang harus makin mandiri—mama yang mulai sekarang tidak lagi mau membantuku mandi, atau tak lagi menemaniku tidur semalaman. Katanya, aku harus bisa menyiapkan segala hal keperluanku sendiri sekarang. Terus aku juga memiliki kewajiban untuk membantu mama—aku sih, tak masalah. Namun, kadang aku rindu masa-masa bisa bermain tiap waktu.
Dan masalah tidur siang!
Aku akhirnya mengerti mengapa papa dahulu sering bilang kalau bisa kembali jadi kecil lagi, dia ingin tidur siang sepuasnya. Karena menjadi orang dewasa itu ternyata melelahkan, sangat melelahkan.
Tanggung jawab yang makin besar, dan banyak kewajiban lainnya makin pula mencekik.
Aku merasa tidak siap.
Namun, setiap anak akan tumbuh dewasa. Tanpa bisa mereka cegah.
Ya sudahlah, aku hanya berharap bisa tumbuh dewasa dengan baik saja.
Aku ingin sekuat papa, selembut mama, dan sekeren Boruto-nii. Dewasa nanti, aku juga ingin agar keluarga kita dapat berkumpul lagi sama-sama—minum ocha hangat sambil menikmati zenzai lagi.
Tambahan:
Halo, akhir-akhir ini aku punya kakak lagi, loh. Ya, tak kalah sibuk juga sih. Namanya Kawaki.
•
Konoha yang kini hancur, menghancurkan segala mimpi Himawari.
Dari kejauhan, dapat terlihat siluet pertarungan antara dua orang yang sudah sangat dikenali.
Gadis yang telah beranjak dewasa ini makin-makin memantapkan hati.
"Jadi dewasa itu benar-benar mengerikan, ya?"
Air mata yang telah mengering, pun seluruh raungan—menusuk segala yang dimiliki Uzumaki Himawari.
.
.
—selesai sampai di sini
.
.
Catatan: penulisnya gila.
•
"Syukurlah, hanya mimpi." Himawari mengembuskan napas dalam-dalam, mengeluarkannya perlahan. Gadis kecil itu juga berkeringat, menanggalkan kesan gerah dan panas.
Pada akhirnya, si bungsu Uzumaki itu memilih menuju ke kamar mandi—membasuh sekejap wajahnya. Memberikan kesejukan sesaat.
"Oh, Hima?" Ketika sang gadis kecil membuka pintu, sesosok anak laki-laki yang sangat dikenalinya berada di depan sana. Tampak menunggu giliran. "Cepat, kebelet, nih!"
Tanpa suara, Himawari menyingkir, Boruto masuk dan segera menutup pintu. Namun, Uzumaki Himawari tak jua berlalu.
Detik demi detik, pun akhirnya berganti menit—Boruto yang masih menemukan adiknya di depan pintu.
"Kau kenapa, Hima? Mau buang air lagi, ya?"
Himawari menggeleng, justru menanyakan sebuah pertanyaan yang agak aneh.
"Boruto-nii, apakah menjadi dewasa seseram itu?"
"Bisa saja memang begitu." Kawaki yang entah datang dari kapan, melewati keduanya—memasuki kamar mandi dan lagi-lagi pintu nan tertutup.
