Sebuah cerita fiksi dari

ForgetMeNot09

.

Terinspirasi dari

Warmness on The Soul by Avenged Sevenfold


Disclaimer:

Karakter yang digunakan dalam cerita ini diambil dari serial Naruto karya Masashi Kishimoto.

Cerita ini murni hasil pemikiran saya.


Yang Tak Mereka Tahu

.

.

.

Ketukan di pintu membangunkannya yang tengah tertidur di sofa ruang tamu. Netranya terbuka, menampakkan iris akuamarin yang redup. Sejenak ia bangkit, wajahnya yang ayu tak hilang kendati terbingkai gurat letih.

"Tunggu sebentar," teriaknya lirih.

Dia berjalan lemah, sembari memegang perutnya yang terasa sakit. Dengan sisa tenaga dibukanya pintu kayu, menimbulkan bunyi yang mengganggu. Pintu itu hanya menunggu waktu untuk dipensiunkan.

"Kiba?"

Di hadapannya pria itu menatapnya. Wajah cemong bekas arang, keringat menetes di dahi, pipi hingga leher. Lelah jelas tergambar. Namun yang membuat hatinya terenyuh, senyum sang pria yang tak pernah berhenti terukir. Senyum yang ia sukai, senyum yang selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi, senyum yang kerap melajukan detak nadi. Senyum Inuzuka Kiba, di mana seujung taring selalu terlihat.

Ia tahu, senyum itu tulus. Kendati di balik terciptanya, adalah kejamnya dunia.

"Kau sudah pulang," sambut sang wanita.

Kiba mengangguk, "Aku bawakan makanan untuk kalian," ujarnya gembira.

Ino tersenyum. Diraihnya bungkusan plastik hitam dari tangan Kiba. Matanya berbinar ceria saat membuka.

"Bakpao!"

Dengan riang, ia duduk dan mengambil sepotong kue terigu itu. Rautnya bahagia, ia makan dengan lahap, berharap semoga mampu mengobati sakit perutnya.

Sejenak makannya terhenti, ia menoleh pada Kiba yang masih berdiri kaku menatapnya.

"Ayo makan!" ajaknya, menyerahkan sepotong bakpao yang tesisa kepada sang pria.

Kiba berjalan mendekat, duduk di sampingnya, memandangnya terharu.

"Aku sudah makan, itu untukmu dan anak kita."

Ino terdiam. Dalam hati ia tahu pasti, Kiba berbohong. Laki-laki itu belum makan, dan dia tidak akan makan sebelum Ino makan.

Berat Ino menelan potongan bakpao yang ada di mulut. Dia letakkan sisanya, digenggamnya tangan Kiba.

"Bakpaonya tidak enak, kalau aku makan sendirian."

Padahal sudah ada yang ditelan.

Kiba tertawa melihat ulahnya. Pria itu sudah paham taktik Ino untuk membuatnya melakukan apa yang diinginkan.

"Baiklah," ujar Kiba, mengambil separuh dari bakpao, "separuh saja, aku benar-benar sudah kenyang Ino."

Walau berat hati, Ino setuju. Tak sedetik pun senyum terseka dari bibirnya yang kering. Bahagia, ia bahagia, kendati yang terlihat oleh orang lain adalah sebaliknya.

"Maaf …," ucap Kiba tiba-tiba.

Ino menoleh, dahinya berkerut.

"Uangnya hanya cukup untuk beli bakpao polos," lanjut pria itu.

Ino tertawa, bukan sekadar tersenyum, dicubitnya pipi Kiba berkali-kali.

"Ini enak kok. Asal kau temani aku makan, semuanya terasa enak."

Kiba tersenyum tipis. Hatinya berbunga-bunga. Ino selalu menjadikannya merasa spesial, dan itulah yang membuatnya tidak pernah menyerah melawan dunia di luar sana.


Yang Tak Mereka Tahu


Tubuh kekarnya terjatuh. Ia tak menyerah, dengan cepat bangkit, menghapus cairan kental yang keluar dari mulutnya.

"Cih! cuma segitu? Kau tak ada gunanya kalau seperti ini, yang ada malah membuatku rugi."

Nyaris ia ditinggalkan, tapi dengan cepat ia meraih kaki "kawannya".

"Please Uchiha, kali ini saja beri aku kesempatan. Aku janji tidak akan mengecewakan," melasnya.

Pria yang tadi menendang dagunya itu langsung berbalik. Meraih dagunya kembali untuk bersitatap.

"Baru saja kau sudah mengecewakan, dari sisi mana aku bisa merasa tidak kecewa denganmu?"

Uchiha tersenyum miring.

Ia mengibakan.

"Kumohon Sasuke," akhirnya ia menyerah, menggunakan nama persahabatan mereka yang bahkan telah retak.

Sasuke mendesah kasar, menyibak rambut yang menutup dahinya. Beberapa saat tampak berpikir.

"Baiklah, sekali ini. Dua hari kesempatanmu untuk tidak mengecewakanku."

Ia tersenyum senang.

"Jika tidak seperti yang kuharapkan, kau tahu apa yang akan terjadi, Inuzuka."

Sasuke beranjak pergi, diikuti kawan-kawannya. Meninggalkan Kiba yang masih terlihat lemah, sendiri.

"Kau yakin?"

"Aku muak melihatnya memasang wajah menyedihkan begitu."

Meski pelan, Kiba bisa mendengar obrolan Sasuke dengan kawannya.

Ia tak peduli. Sudah sejak lama, ia tanggalkan yang namanya harga diri. Yang dirinya butuhkan saat ini hanyalah, uang. Agar ia bisa membuat Ino tersenyum …

… selalu …

… untuknya.

Setengah jam penuh Kiba menyandarkan punggung di dinding lorong yang gelap dan berbau pesing. Ia berusaha mengatur napas dan berpikir. Bagaimana caranya darah di mulut lekas terhenti. Sebab, jika ia sampai rumah dalam keadaan babak belur, Ino pasti akan curiga.

Ia bangkit, kakinya melangkah menuju kamar mandi umum di dekat lapangan sepak bola. Ia membersihkan diri di sana, termasuk menghilangkan bau amis, yang pasti tercium menyengat. Dalam perjalanan menuju rumah, tanpa sengaja hidungnya mengendus bau harum.

"Ayam goreng."

Setengah melompat dia berkeliling, hidungnya bekerja mencari keberadaan makanan itu. Lantas matanya berbinar senang saat menemukan apa yang dicari.

Di sana, di dekat tiang listrik, kotak putih kecil teronggok. Ia meraih kotak itu dan membukanya.

Dahinya berkerut. Nasi dan ayam itu terlihat masih bagus, walaupun sudah terpotong sebagian. Ia menoleh ke kiri dan kanan, barangkali ada pemilik yang mencari. Alih-alih jalanan sepi.

Bibirnya tersenyum lebar. Oh malam ini malam keberuntungannya. Sebentar ia berpikir, lebih baik diberikan pada Ino atau dia makan saja? Mau diberikan ke Ino, tampilannya sudah tidak sempurna. Mau dimakan sendiri, Ino nanti makan apa?

Akhirnya selintas ide menghampiri kepalanya.


Yang Tak Mereka Tahu


Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Sebelah tangannya mengelus perut yang mulai menonjol, sebelah yang lain mengelus rambut berantakan laki-laki yang dicintainya.

Malam ini, Kiba pulang larut. Terlihat baik-baik saja, padahal Ino tahu, otot-otot kekar itu pasti sangat lelah. Perjuangan mencari nafkah bukanlah perjuangan yang mudah. Terlebih dengan kondisi mereka saat ini.

Hatinya menghangat, mengingat Kiba ketika pulang. Dengan senyum khas yang kian membuat jantungan, pria itu menyodorkan makanan. Sekepal nasi putih, dengan irisan ayam goreng. Ya Tuhan, ia lupa kapan terakhir kali makan ayam goreng. Saat makan tadi, terasa lezat, bagai makanan yang diturunkan langsung dari surga. Apalagi ia berhasil memaksa Kiba untuk makan berdua bersamanya.

Selekas lalu, hati yang hangat kembali bergetar. Kehidupan mereka benar-benar sulit. Baik Kiba atau dirinya sama-sama susah mendapat pekerjaan. Sebelumnya sempat Kiba bekerja di perusahaan kontraktor, sementara dirinya bekerja sebagai karyawan sebuah mini market, tapi semuanya mendadak terhenti paksa. Kiba dilepaskan dari pekerjaan karena dituduh mencuri peralatan di lapangan, sedangkan Ino hamil. Kiba menjadi protektif dan tidak mengizinkan dirinya bekerja. Dunia benar-benar tidak berpihak pada mereka.

Kenapa tak ia tinggalkan saja Kiba, dan pergi mencari kehidupan yang lebih layak? Pernah pertanyaan itu dilontarkan oleh sahabatnya. Bagaimana pun, Ino cantik, punya tubuh bagus, mencari pekerjaan atau bahkan mencari pengganti Kiba pasti hal yang mudah.

Ino hanya tersenyum kecut saat itu … dan kini.

Tiba-tiba air matanya menetes. Tepat mengenai pipi Kiba.

"Enghh …."

Ia terkejut, rupanya Kiba terbangun.

"Maaf, aku mengganggumu ya?" ucap Ino, tangannya menghapus tetes air di pipi Kiba.

Kiba memandangnya ngantuk.

"Kau menangis?" seraknya.

Ino menggeleng, "Barusan tidak sengaja jariku menusuk mata," ujarnya bohong.

Kiba tahu itu bohong. Pria itu duduk dan memeluk Ino.

"Jangan menangis! Katakan saja apa yang menjadi beban pikiranmu. Jangan dipendam sendiri!"

Ino menggeleng di bahu Kiba. Diraihnya kepala Kiba, ia tautkan jemarinya di rambut cokelat sang kekasih.

"Tidak Kiba, aku hanya … bahagia karena sebentar lagi akan menjadi ibu."

"Benarkah?"

"Hmm …."

"Kalau begitu aku juga boleh menangis? Karena sebentar lagi aku akan menjadi ayah."

Kiba melepas pelukan dan menatap Ino menyeringai. Ino menampar pelan pipi pria itu.

"Kalau kau menangis, aku akan bersedih," sergahnya.

"Aku pun sama, kalau kau menangis, aku akan bersedih. Apa pun alasannya. Jadi jangan menangis lagi!"

Jantung Ino berdetak kencang saat tangan kasar Kiba mengusap air matanya.

Malam itu, mereka memutuskan berhenti sejenak dari culasnya dunia. Tidur dalam buaian mimpi indah, berharap kebaikan kan datang esok hari.


Yang Tak Mereka Tahu


Brukk!

Punggungnya membentur jeruji besi. Sakit seketika menjalar di sekujur badan. Bukan lagi sekadar lelah atau letih.

Wajahnya lebam tak berbentuk, giginya bahkan tanggal di bagian samping. Tangan dipenuhi bekas cakar kuku, pun kaki mulai membiru.

Ia tak menyerah. Dengan semangat ia bangkit. Toh keadaan lawannya tak lebih baik. Dibayangi senyum manis seorang wanita berambut pirang, satu serangan ia berikan kepada lawan.

Detik berikutnya, ia roboh.

Entah berapa lama ia tak sadarkan diri. Ketika terbangun, hidungnya berkedut. Bau antiseptik dan obat-obatan.

Sial! ia pasti di rumah sakit. Benar saja, tembok, ranjang, kasur dan barang-barang lain berwarna putih. Pergelangan tangannya ditempel selang infus.

Kiba mengerang, ia cabut selang infus. Secepat kilat bangkit. Seketika roboh lagi, saat kepalanya terasa sangat sakit.

Tanpa sadar, air matanya menetes.

"Jangan memaksakan diri!"

Suara lembut itu tiba-tiba mengejutkannya. Ia menoleh meyakinkan, kendati sudah kenal siapa si pemilik suara.

"Hinata?"

Wanita berambut biru gelap itu berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tapi ketegasan tampak dari jas putih yang dipakainya.

"Kondisimu benar-benar mengerikan."

Hinata membantu dirinya ke posisi tidur. Lalu mulai memasangkan kembali selang infus.

"Siapa yang membawaku ke sini?" tanya Kiba parau.

Hinata masih sibuk bergelut dengan pergelangan tangannya, "Naruto."

"Cih!"

Ia mendengar embusan napas pelan dari Hinata, yang kemudian duduk di sisi kasur.

"Dia yang menolongmu, kalau tidak ada dia kau pasti sudah mati."

Kiba memalingkan muka.

"Kenapa dia tidak membiarkanku mati saja?"

"Dia tidak gila, Kiba!"

"Dia sudah menghancurkan hidupku, dia merebutmu dariku dan …."

"Kita sudah berakhir bahkan sebelum Naruto datang. Lagi pula, bukankah sekarang kau sudah bersama Ino? Apa kau tidak baha-"

"Shit! Ino! Aku harus pulang!"

Kiba berteriak, sudah mencabut lagi selang infusnya.

Hinata mendengus kasar, "Kau tidak akan bisa menemuinya kalau pergi sekarang!"

Kiba tak peduli. Pun kepalanya yang berputar hebat ia abaikan.

Sampai di depan pintu, ia menggelebak jatuh.

Hinata memejamkan mata lelah, "Sudah kukatakan!"


Yang Tak Mereka Tahu


"Ya, tunggu sebentar!"

Ino merapikan rambutnya yang terurai. Tangan yang dipenuhi tepung, ia usap begitu saja pada bajunya. Kaki jenjangnya berlari cepat meraih pegangan pintu. Senyumnya lebar, Kiba sudah pulang, pikirnya.

Namun senyum menawan itu langsung sirna, saat pintu terbuka dan netra akuamarinnya menangkap sosok yang sangat tidak ia inginkan kehadirannya. Giginya bergemeletuk menahan amarah.

"Kau tidak mempersilakanku masuk?"

Mata Ino memicing. Tangannya melebar menghalangi pintu. Sang tamu menatapnya penuh makna, lalu pandangannya turun ke perut Ino. Mendadak Ino merasa dalam bahaya. Ia menutup perutnya.

"Jangan menatapku begitu!"

"Kau mau apa?"

"Menjenguk adikku, apa tidak boleh?"

Ino berdecih, "Kau kira aku percaya?"

Lembut Ino rasakan, saat tangan sang kakak menyingkirkannya. Lantas pria itu menyamankan diri duduk di sofa. Pandangannya berkeliling, mimiknya sedih melihat kondisi rumah Ino.

"Apa yang bagus dari laki-laki itu, sampai kau mau meninggalkan kehidupan yang nyaman, tenteram, hanya demi hidup mengerikan bersamanya."

Ino mendengus, matanya menatap tajam seolah hendak membunuh. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Yeah, hidup penuh pengawasan. Segalanya diatur sampai aku tidak punya hak untuk bergerak bahkan bicara. Setiap mata melihatku seolah-olah ingin menerkam. Tersenyum di depan tapi menusuk dari belakang. Hell, bahkan kau akan berusaha menyingkirkanku dari daftar ahli waris bagaimana pun caranya. Itu yang kau sebut kehidupan nyaman tenteram?"

"Aku tidak pernah melakukan itu, Ino. Yang kulakukan adalah melindungimu dan-"

"Seperti aku akan percaya!"

Ino masih enggan duduk. Berdiri adalah posisi yang mudah untuk melarikan diri jika sewaktu-waktu laki-laki itu ingin mencelakainya.

Deidara beranjak mendekat. Selangkah ia maju, selangkah Ino mundur sampai wanita itu terbentur dinding.

"Pulanglah! kami akan menjagamu dan anakmu," ucap Deidara sembari melangkah pergi.

Ino bergeming, "Jika aku menolak? Kau dan ayah akan melakukan apa pun kan?"

Deidara tidak menjawab, dia berjalan pelan menuju pagar.

"Bukan begitu cara mengambil hati perempuan, bukan seperti ayah memperlakukan ibu."

Suara lirih Ino masih bisa didengar jelas oleh Deidara, tetapi dia diam dan memilih pergi.


Yang Tak Mereka Tahu


Terpaku pada pemandangan di luar jendela, awan putih berarak menghiasi langit yang setia membiru. Sepoi angin sesekali menerbangkan daun-daun pepohonan di taman rumah sakit. Pikirannya terpancang pada seorang wanita yang sangat dikasihi. Sudah dua hari berlalu, dan dirinya masih seperti tahanan di rumah sakit ini.

Lamunannya buyar ketika mendengar suara gemeresak. Dia menoleh, menemukan seseorang yang tidak dia ingin lihat sama sekali. Dengan cepat ia kembali memandang jendela. Bergeming, tak bersuara, saat sosok itu duduk di tepi ranjang.

"Dari Sasuke."

Sebuah amplop tebal dilempar ke pangkuannya. Cih! kalau sudah masalah ini, ia tidak bisa pura-pura lagi tidak peduli.

Dahinya berkerut.

"Kukira aku membuatnya rugi," ujarnya masih ragu-ragu mengambil amplop itu.

Pria pirang di sampingnya mengendikkan bahu. Mengambil napas dalam dan memejamkan mata.

"Kau yakin tidak mau menerima tawaranku?"

Mendadak darah Kiba kembali mendidih. Laki-laki ini selalu berlagak sok pahlawan, padahal yang ia lakukan adalah menghancurkan Kiba pada akhirnya.

"Tidak," jawab Kiba lugas.

"Semalam Hana-nee …."

"Jangan bawa-bawa nama itu ke hadapanku, Uzumaki!" teriaknya lantang.

Naruto menatap kasihan. Sudah sejak lama, ia paham benar kekeraskepalaan para Inuzuka. Namun Inuzuka yang satu ini benar-benar tidak bisa ditawar. Bahkan di titik terendah dalam kehidupannya, Kiba masih memasang gengsi tinggi untuk kembali kepada keluarganya.

Naruto merendahkan nada suaranya.

"Ibumu merindukanmu."

Kiba mendecih tapi diam, malas bicara.

"Kau tahu, dia hanya ingin kebahagiaan untukmu dan Hana-nee," ujar Naruto, berharap usahanya meluluhkan hati Kiba bisa berbuah hasil.

"Itulah kenapa dia setuju menikahkan Hana-nee dengan Shisui-nii."

"Lucu kau menjelaskan itu padaku," Kiba tertawa sinis.

Naruto tidak acuh. Yang ia inginkan saat ini adalah memperbaiki kehidupan orang yang pernah menjadi sahabat baiknya.

"Jadi dia tidak perlu memikirkan Hana-nee karena Uchiha Shisui pasti menjaganya dengan baik. Lalu dia bisa sepenuhnya berkonsentrasi padamu."

"Lalu menjodohkanku dengan Hinata, dan ironisnya Hinata malah memilihmu."

"Bukankah kau sendiri yang mengakhiri hubungan kalian, saat menemukan bahwa kau merasa diperalat oleh ibumu?"

"Touche!"

"Kau tidak tahu kan apa yang diinginkan ibumu?"

"Aku tidak peduli, Uzumaki. Yang aku tahu, dia hanya ingin terbebas dariku!"

Naruto merasa lelah. Biasanya dia sudah gampang meledak dengan satu dua bantahan, tapi demi Kiba ia memperpanjang kesabaran. Namun ternyata semuanya sia-sia.

"Terserah kau saja," pria pirang itu berjalan pergi, saat memegang handel pintu, "pulanglah! Ibumu tidak ingin kau dimanfaatkan oleh keluarga Yamanaka untuk menggerogoti harta kalian."

Kiba menggeram, "aku mencintai Ino, bukan keluarganya," ucapnya dengan nada yang pasti didengar Naruto.

"Wanita tua itu bahkan tidak tahu apa yang Ino lakukan untukku," tambah Kiba pada angin, setelah Naruto pergi.


Yang Tak Mereka Tahu


Hari ini ia menyibukkan diri lagi dengan bersih-bersih rumah. Capai yang mendera tidak ia acuhkan. Semua dia lakukan demi bisa mengalihkan pikiran dari Kiba.

Ya, sudah dua hari suaminya tidak pulang. Sebelum pergi memang Kiba berkata untuk tidak menunggunya. Namun, itu semakin membuat hatinya tak tenang.

Sejak hari itu, ia selalu menyibukkan diri dengan kegiatan rumah. Kadang keluar hanya sekadar jalan-jalan di sekitar kompleks tempat mereka mengontrak rumah petak.

Setiap malam sebelum tidur, selalu dirinya menangis sembari mengelus perutnya. Bukan lantaran ia takut tinggal sendiri, atau takut jika tiba-tiba orang suruhan ayahnya datang. Sungguh bukan itu. Ketakutan terbesarnya adalah Kiba. Ino takut terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu. Bagaimana pun Ino tahu, pekerjaan Kiba di luar sana adalah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa.

Ino takut, pria yang sangat dicintainya itu mati dan meninggalkan dirinya dan anaknya.

Ino takut ….

Suara ketukan di pintu depan menyentaknya. Rasa ragu menyergap, haruskah ia membuka pintu? Bagaimana jika itu bukan Kiba? Bagaimana jika itu adalah orang yang mau mengirimkan kabar kematian Kiba?

Tidak! Kiba tidak boleh mati!

Setengah berlari ia meraih handel pintu. Segala doa dirapal saat membukanya.

Seakan jantungnya lepas, kala ia melihat cengiran yang khas, yang teramat ia rindukan.

"Kiba …."

Secepat kilat ia menerjang tubuh sang pria. Ino membenamkan wajahnya ke dada sang kekasih. Tangis pun tak terelak.

"Hei … kenapa menangis? Kau tak suka aku datang?"

Kiba menarik tubuh Ino mendekat. Diusapnya helai rambut yang selembut sutra. Telapak tangan yang kasar dan penuh bekas luka itu seakan menemukan kembali tempat bersandarnya.

Lelah dan penat tak menjadi halangan bagi Kiba untuk tetap berdiri sampai tangis Ino mereda.

"Ayo duduk, kau tidak boleh lama-lama berdiri."

Pria itu mengangkat tubuh sang istri dalam gendongan. Tak henti ia menciumi wajah Ino, pipi, dahi, mata, terakhir bibir. Hell betapa ia sangat merindukan Ino.

"Kau baik-baik saja?"

Pertanyaan pertama Ino, saat mereka berdua telah duduk di sofa.

"Seperti yang kau lihat," jawab Kiba berbinar.

"Yang kulihat tubuhmu penuh luka. Dan apa ini?" perhatian Ino terpaku pada plester kecil di pergelangan tangan Kiba, "kau diinfus?"

Kiba menyembunyikan tangannya canggung. Dia lupa kalau Ino seorang sarjana kedokteran dan ia tidak bisa berbohong.

"Yang penting aku baik-baik saja sekarang," kilah Kiba.

Ino menatap tak suka. Dirinya tidak suka dibohongi. Kiba yang membaca gelagat ini langsung gugup.

"Ha … hanya kecelakaan kecil di pekerjaan, Ino. Aku sempat dirawat dan sekarang sudah sembuh. Ah iya, ini aku bawa sesuatu."

Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebentuk cincin bermata akuamarin.

Ino membelalak. Dia mengambil cincin itu dan mengamatinya.

"I … ini? dari mana kau dapat uang untuk membeli ini?"

Kiba tertawa, merebut cincin itu dan memakaikannya di jari manis tangan kanan Ino. Matanya berbinar bahagia.

"Aku tidak mencuri, aku tidak melanggar hukum, jika itu yang ingin kau pastikan. Kumohon terimalah Ino, sebagai ganti saat dulu aku menikahimu, aku tak bisa memberikan apa pun."

Ketulusan dalam nada bicara Kiba membuat Ino terenyuh. Diraihnya wajah Kiba, lalu ia mendekatkan wajahnya. Dikecupnya bibir sang kekasih dengan lembut.

Kiba, murni makhluk insting, tak membiarkan berlama-lama. Dalam hitungan detik, kecupan itu berubah menjadi pagutan, lumatan, dengan segala emosi tertuang.

Mereka kini menjadi satu. Mereka saling mencintai.

Meski mulanya tak ada rasa itu. Kala itu hanya dendam yang membuat mereka menyatu. Tak pernah terlintas sedikit pun rasa cinta akan muncul, tumbuh dan menancap kian dalam.

Kala itu yang mereka tahu, mereka berdua dianggap sampah oleh orang tua mereka sendiri.

Kala itu yang mereka tahu, Inuzuka dan Yamanaka adalah rival bisnis yang tak pernah akur.

Kala itu, mereka memutuskan untuk membalas dendam, dengan menciptakan hubungan yang terlarang bagi keluarga mereka.

Putra Inuzuka kawin lari dengan putri Yamanaka.

Itu saja sudah menjadi tamparan menyakitkan bagi kedua keluarga besar.

Namun …

yang tak mereka tahu, anggapan mereka kepada keluarga mereka adalah sebuah kesalahpahaman.

Orang tua mereka menyayangi mereka, kendati dengan cara yang tak dipahami oleh keduanya.

.

.

.

Selesai


A/N:

Ide mendadak, modal nekat padahal kemampuan menulis sudah turun drastis.

Banyak hole sengaja diciptakan di sini.

Perhatikan judulnya, karena di sanalah poin cerita ini yang sebenarnya.

Criticism welcomed