"Student of the year ilmu alam tahun ini diraih oleh ... Fang!"

Confetti bertebaran, tepuk tangan membahana. Para siswi kelas dua menjerit-jerit, menyerukan namanya. Si pemilik nama naik ke panggung dengan senyum pongah. Bisa dilihatnya teman sekelasnya, sang penyandang student of the year ilmu alam tahun lalu (dan tahun-tahun sebelumnya lagi, karena mereka selalu satu sekolah sejak orok—oke, itu agak berlebihan) menatapnya dengan pandangan iri dari balik kacamata jingga.

"Terima kasih, terima kasih." Fang menyeringai penuh kemenangan. Rasanya seperti mimpi, bisa mengalahkan Solar bin Amato dalam prestasi akademik. Barangkali ini adalah hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas dari Yang Mahakuasa. Dilihatnya saudara kembar Solar yang satu kelas dengannya, Duri dan Ice, berdiri agak jauh. Duri melambaikan tangan dengan heboh sementara Ice mengacungkan jempol ke arahnya dengan ekspresi malas. Tiba-tiba, saat Fang berkedip, sosok Ice diselimuti awan-awan gelap.

"Ice ...?" Fang berusaha meraih, tapi kawannya itu terlalu jauh. Ice seolah sedang dihisap oleh awan hitam itu, tubuhnya mengabur. Kemudian, ada seseorang yang berteriak ...

Fang membuka mata dengan kaget. Ponselnya meraung-raung keras sekali—nada dering khas ini, pasti telepon dari Blaze. Segera dijawabnya telepon.

"Halo?" ujarnya dengan suara serak, sambil melayangkan pandang ke jendela kamar. Langit masih gelap sama sekali.

"Fang ...," sebuah isakan parau familier membalasnya. "Aku ... aku mau mati aja."

Untuk kalimat itu, Fang melotot dan langsung duduk di ranjangnya.

"Blaze!"

"Aku nggak sanggup hidup kalau Ice mati."

.

.

.

.

.

Disclaimer:

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Alternate Universe, current COVID-19 pandemic situation

Boboiboy's Elemental Siblings, septuplet, no super powers

2nd sidestory of "Through the Darkness" (spoiler warning!)

.

.

.

.

.

Yang Menghangatkan, Yang Menghanguskan (c) Roux Marlet

-tidak ada keuntungan material apa pun yang diperoleh dari karya ini-

.

.

.

.

.

Trigger warning:

suicidal thoughts

.

.

.

.

.

[Pulau Rintis, sepuluh tahun sebelumnya.]

.

Fang melongo pagi itu sampai hampir lupa pada tugasnya sebagai ketua kelas. "Ehm ... se-selamat pagi, Bu Guru!"

"Selamat pagi, Bu Guru!" Seisi kelas menyahut, dengan agak terlambat. Pasti semua juga pada heran dengan pemandangan di depan kelas.

"Selamat pagi, Murid-murid. Hari ini, kita kedatangan teman-teman baru."

Segera saja timbul bisik-bisik.

"Anak kembar?"

"Iya, persis banget!"

"Satu, dua, tiga ..."

"... heeeeh, mereka kembar tujuh?!"

"Ssh, tenang, tenang, semuanya," ujar Fang, meski dia sendiri juga keheranan dan takjub. Tujuh orang anak di depan kelas benar-benar mirip satu sama lain, seolah wajah mereka difotokopi. Belum lagi, rambut aneh yang sedikit berwarna putih di antara helaian cokelat di kepala mereka—semuanya punya rambut seperti itu. Bagaimana caranya Fang bisa menghapalkan teman-teman barunya ini? Namun, ekspresi yang berbeda-beda tampaknya akan bisa membantunya menghapal.

"Silakan, perkenalkan diri kalian! Mulai dari yang tertua!"

Kalimat sang guru membuat anak yang berdiri di ujung kiri tersentak. Dia terlihat tegang, tapi juga garang. Yang keluar dari mulutnya hanya ucapan singkat,

"Halilintar."

"Aku Taufan!" seru anak di sebelahnya dengan segera.

"Namaku Gempa," sahut anak ketiga, nadanya tenang.

"Aku Blaze! Salam kenal!" sambar anak keempat, hampir sama bersemangatnya dengan anak kedua tadi. Setelahnya, jeda agak panjang. Blaze menyikut saudara di sebelahnya yang menunduk sambil memeluk sesuatu berwarna biru gelap.

"Oi, Ice! Jangan tidur dulu!"

Seisi kelas tertawa, termasuk Ibu Guru.

"Huh?" gumam si anak kelima sambil mengangkat kepala.

"Kita sedang perkenalan!" seru Blaze sambil merangkul si adik yang terkantuk-kantuk. "Namanya Ice! Sudah, lanjut saja!"

Tawa masih ada di sana-sini di sudut kelas. Ketegangan di wajah Halilintar mulai pudar, Gempa juga ikut tersenyum kecil. Taufan cengar-cengir. Anak keenam pun bersuara sambil melambai malu-malu,

"Namaku Duri."

"Dan aku, Solar!" pungkas yang ketujuh dengan mata kelabu berbinar. Hei, warna mata mereka berlainan, Fang baru menyadarinya. Dengan cepat, Fang membuat catatan kecil selagi Ibu Guru mengulang menyebutkan nama ketujuh murid baru itu satu per satu.

"Nah, pamitlah pada Atok kalian ..."

Fang menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang pria berpeci putih sedang melambaikan tangan.

"Atok kerja dulu, ya."

"Bye Atok!"

"Da-dah, Tok Aba."

"Hati-hati di jalan, Tok."

Rupanya mereka bertujuh diantar oleh kakek mereka. Hmm, bukankah sang kakek adalah pemilik kedai cokelat Kokotiam yang terkenal enak itu? Abang Fang sering beli minuman cokelat ke sana.

Ibu Guru meminta ketujuh anak itu memilih tempat duduk sendiri. Karena kursi yang tersisa kebanyakan ada di belakang kelas, ke sanalah mereka menuju. Fang mengamati dua sosok yang namanya Blaze dan Ice dengan geli; Ice berjalan tersandung-sandung sambil menguap dan Blaze mendorongnya sambil tertawa. Baru kelihatan bahwa benda yang digendong Ice dalam dekapannya adalah semacam bantal atau boneka berbentuk paus. Lucunya!

Halilintar memilih kursi paling pojok, Taufan dan Gempa sederet dengannya di tengah kelas, Solar persis di belakang Fang pada barisan keempat di deret tengah, Duri di meja sebelahnya. Blaze mendekati kursi paling kiri dekat jendela, tapi rupanya itu tempat untuk Ice yang segera duduk dan merosot di kursi. Blaze sendiri duduk di sebelah Duri, jadi dia persis di belakang Ice.

Pelajaran pun dimulai dan dengan cepat Fang bisa mengenali kekhasan masing-masing. Yang banyak tersenyum itu Taufan, yang berisik itu Blaze, yang paling pendiam itu Halilintar, yang terlihat paling dewasa itu Gempa, yang paling banyak bertanya di kelas itu Solar. Tidak ada yang menonjol dari Duri, sedangkan Ice jelas satu-satunya yang tukang tidur. Lihat saja, dia merebahkan kepala di atas bantal pausnya yang dipajang di atas meja dengan buku teks dipasang berdiri di depan bantal. Menyimak pelajaran sambil rebahan, ya?

Dalam hati, Fang merasa senang. Adalah tugasnya sebagai ketua kelas untuk memastikan teman-teman barunya ini nyaman berada di kelas dan mudah bergaul dengan yang lain. Nanti, saat jam istirahat, akan diajaknya mereka ke kantin untuk berkenalan dengan Makcik Kantin dan donat lobak merahnya yang luar biasa lezat itu!

.

.

.

.

.

"Hei," panggil Fang pada Solar dan Duri yang paling dekat dengan kursinya saat jam istirahat. "Mau ke kantin? Ada donat yang enak banget di sana."

"Eum. Nggak, deh, kami sudah bawa bekal," sahut Duri.

"Lain kali aja, tapi makasih, ya ... namamu siapa?" balas Solar sambil menatapnya penuh ingin tahu.

"Aku Fang." Mereka pun bersalaman. Gempa dan Taufan juga mendekati mereka, sedangkan Halilintar yang tetap di tempatnya sudah mengeluarkan kotak bekalnya sendiri.

"Kamu ketua kelas, ya, Fang?" Gempa bertanya sambil mengulurkan tangan.

"Iya, kamu yang tadi memberi aba-aba untuk mengucap salam ke Ibu Guru," imbuh Taufan.

Fang merasa bangga. "Benar. Kalau ada apa-apa, bilang saja ke aku, ya."

"Hei, salam kenal, ya! Aku Amar Deep."

"A-aku Iwan."

Fang menoleh. Rupanya Blaze sudah berkenalan dengan kawan-kawan sekelas lainnya.

"Mau jalan keliling sekolah? Aku temani," tawar Amar Deep. "Kayaknya kamu suka olahraga, ya, Blaze?"

"Lebih tepatnya, nggak bisa diam," seloroh Taufan yang tiba-tiba nimbrung pembicaraan.

"Ish, kayak Kakak nggak aja!" balas Blaze, pura-pura sewot. "Bilang aja Kak Taufan juga mau jalan-jalan."

"Hehehe~"

"Boleh, deh. Aku mau lihat-lihat juga," sambung Gempa.

"Apa di sini ada kebun bunga?" tanya Duri yang tiba-tiba tertarik.

"Ada, dong. Di sebelah kantin tempatnya," sahut Fang sambil membenahi kacamatanya.

"Yuk, lah, Kak Duri! Sekalian kita lihat kantin, tadi Fang juga mau ajak kita ke sana, 'kan," timpal Solar, menggandeng tangan kakaknya.

"Ayo! Kak Hali, yuk, ikut!" Taufan berpindah ke meja pojok dan menarik tangan si sulung, yang bangkit dengan paras tak ikhlas tapi toh akhirnya ikut jalan juga.

"Ice, jalan-jalan, yuk!" Blaze menarik-narik tangan Ice yang sudah rebahan lagi. "Kita lihat-lihat sekolah baru!"

"Mmm," gumam Ice tak jelas, tak beranjak dari posisi.

"Ayo, lah, masa kamu sendiri yang nggak kenal sekolah! Tidurnya bisa nanti! AYO IIIIICEEEE! BANGUUUUUUN!"

Semua yang masih tersisa di kelas menutup telinga. Suara Blaze demikian cempreng dan tidak indah didengar, tapi rupanya mujarab. Ice berdiri dan melangkah gontai, bantal pausnya ditinggal di meja.

Sejurus kemudian, rombongan anak-anak umur tujuh tahun itu sudah sampai di kantin. Fang tentu saja mengutamakan membeli menu pilihannya lebih dulu.

"Kalian harus tahu, donat lobak merah ini paling—"

Saat donat sudah di tangan dan Fang menoleh, kembar tujuh itu rupanya sudah berpencar semua. Hanya tersisa Halilintar dan Gempa di dekatnya. Duri dan Solar ada di kebun sebelah bersama Iwan, Taufan dan Blaze main kejar-kejaran dengan Amar Deep di lapangan bola dekat situ.

"Alamak," gumam Fang.

"Tenang saja, Fang. Sudah biasa seperti ini," ujar Gempa sambil terkekeh, lalu menunjuk. "Mau duduk di sana?"

"Tuh, Ice sudah booking tempat," imbuh Halilintar singkat, melihat adiknya itu sudah bersiap merebahkan kepala di meja lagi.

"Apa Ice semalam kurang tidur?" tanya Fang saat mereka sudah duduk.

"Nggak juga, sih," jawab Gempa. Semua memandangi si anak nomor lima yang matanya sudah tertutup lagi.

"Dia itu kebalikannya Blaze," komentar Halilintar sambil menyedot jus tomat.

"Blaze banyak gerak, Ice irit gerak," sambung Gempa dengan geli.

"Kalian berdua ini kakak yang paling tua, ya?" tanya Fang, coba mengingat sambil mengunyah donatnya.

"Kak Halilintar tertua, lalu Kak Taufan dulu, baru aku," terang Gempa.

"Oh, iya, Taufan nomor dua, ya."

Mereka bertiga memandangi tiga anak yang sedang main kejar-kejaran. Taufan tertawa-tawa, demikian pula Blaze. Amar Deep juga tampak senang bermain dengan mereka.

"Sudah lama Kak Taufan dan Blaze nggak bisa lari-lari sepuas itu," seloroh Gempa lagi.

"Oya?"

"Di sini kami tinggal di rumah Atok. Rumahnya nggak terlalu besar."

"Tadinya kalian tinggal di mana sebelum ke sini?"

"Kuala Lumpur. Kami dulu homeschooling."

"Wow?" Fang mengangkat alis. Setahunya, pendidikan di rumah hanya untuk anak-anak orang kaya. Diliriknya sekilas jam tangan yang melingkar di tangan Halilintar yang dari tadi hanya diam, lalu jaket cokelat yang dikenakan Gempa. Kelihatannya memang bermerk bagus ... ah, buat apa Fang minder soal beginian.

"Semoga kalian betah di sini," ujar Fang tulus. "Habis ini mau lihat ke kebun dan lapangan juga? Di gedung yang sebelah sana ada juga gudang peralatan olahraga dan laboratorium."

.

.

.

.

.

Bel kembali berbunyi, pertanda waktu istirahat selesai. Teman-teman baru Fang sudah banyak melihat-lihat sekolah baru mereka dan akan kembali ke kelas.

"Eh. Ice di mana?" seloroh Blaze sambil celingukan. Saudara-saudaranya ikut menoleh. Betul juga, wajah kembar itu tinggal enam saja. Mana yang satu?

"Eh? Kukira bareng kamu, Blaze," sahut Gempa.

"Kayaknya tadi masih ada, deh, pas kita ke laboratorium?" celetuk Taufan.

"IIICE?!" seru Blaze keras-keras, berbalik dan berlari di lorong.

"Eh, Blaze? Kelas sudah hampir mulai!" seru Fang, mengejar Blaze.

"Mungkin Ice sudah di kelas?" usul Halilintar sambil menuju ke ruangan cepat-cepat. Namun, ketika dibukanya pintu, ternyata Ice belum ada di dalam.

"Ke mana Kak Ice?" gumam Duri cemas.

"Apa dia ketiduran di suatu tempat?" balas Solar sambil berpikir.

"Fang! Blaze! Sebentar lagi kelas—" ucapan Amar Deep terhenti karena guru pelajaran yang berikutnya sudah berdiri di depan pintu.

.

.

.

.

.

"Ice?! Ice? IIIIICEEE?! Kamu di mana?!" Blaze masih berlari ke arah lapangan dengan kalut.

"Blaze ... aduh ...," sengal Fang, beberapa meter di belakangnya. "Taufan tadi bilang laborat—"

"IIIIIIICEEEEEE!" Blaze beranjak dari lapangan ke arah gudang tanpa menggubris Fang.

"Blaze! Ya Tuhan!" jerit Fang yang sudah kehabisan napas. Menyesal dia, malas diajak Kaizo jogging tiap hari Minggu. Diajak sprint jarak jauh mendadak begini, ya, langsung ambruk. Apa Blaze itu punya tangki energi tak terlihat di punggungnya? Kelas mereka tadi di lantai dua, lho. Fang duduk di tepi lapangan, menyelonjorkan kakinya yang didera pegal luar biasa.

"Psst. Hei."

Fang tak langsung menoleh karena sibuk mengatur napas. Ketika dilihatnya seraut wajah di dekat pepohonan, hampir saja dia menjerit.

"Maaf, kamu anak kelas dua, 'kan?"

Fang mengerjap. Sosok itu rupanya kakek si kembar yang berpeci putih. Lho, bukannya tadi beliau pamit untuk pergi bekerja? Fang menjawab dengan napas putus-putus,

"I-iya, Atok."

"Siapa namamu?"

"... Fang."

"Fang, apa Ice hilang?"

Sepasang netra di balik kacamata itu membulat. "Iya, benar. Apa Atok lihat dia?"

Tok Aba menggeleng, berjalan mendekati Fang lalu membantunya berdiri. "Atok ikuti kamu dan teman-teman berkeliling sekolah dari tadi, tapi Atok nggak ikut masuk ke dalam gedung yang sebelah sana. Atok masih lihat Ice saat kalian pergi dari gudang ini."

"Duh, di mana dia, ya?" Fang mengusap keringat di wajahnya.

"Atok barusan lihat Blaze masuk ke gudang. Padahal, Ice nggak mungkin ada di sana."

"Aduh, anak itu, larinya cepat banget, Tok," keluh Fang.

Tok Aba terkekeh, tapi dengan cepat mendesah khawatir. "Blaze itu gampang panik, tapi, sebetulnya dia anak pintar. Coba kamu ajak dia duduk tenang dan berpikir sebentar, Fang."

"Hmm? Aku saja nggak tahu Ice di mana, Tok."

"Coba pikirkan. Atok punya dugaan, tapi juga belum tentu benar. Ice itu sering mengantuk, sedangkan kegiatan jalan-jalan saat jam istirahat jelas nggak ada di agendanya."

Fang tertegun. "Mungkin tadi, di perjalanan, dia menemukan tempat untuk tidur ... dan saat ini sedang tidur di sana?"

"Tepat sekali. Itu dugaan Atok. Berarti, mungkin di dalam gedung itu."

"Benar juga ...," seloroh Fang. "Aku harus bilang pada Blaze. Terima kasih, Tok!"

"Sama-sama, Fang."

Tok Aba mengamati sosok anak berambut gelap keunguan itu menyusul kawan barunya ke gudang sambil bergumam sendiri,

"Amato ... kau harus lihat tingkah anak-anakmu di hari pertama mereka sekolah."

.

.

.

.

.

"Ice hilang ... huhuhu ... Ice ..."

"... Blaze?" Fang mendapati anak yang memaksanya lomba lari barusan terduduk di pojok gudang sambil menangis. Seolah mendadak dilanda tantrum, Blaze berteriak-teriak marah,

"Ice hilang ...! Nggak mau! Aku nggak mau sekolah lagi! Aku nggak suka sekolah!"

"Blaze!" Fang sudah berjongkok di depan kawan barunya. "Hapus air matamu. Ayo, kita telusuri tempat-tempat yang tadi."

Blaze masih sesenggukan, kali ini suaranya memelas dan serak. "Fang ... Ice hilang ..."

"Iya, aku tahu. Tapi, dia pasti masih di sekolah ini. Ayo, Blaze." Fang mengulurkan tangannya. Blaze menatapnya dengan mata bengkak dan ingus berlelehan di mana-mana. Akhirnya, diraihnya tangan Fang.

"Kamu tahu Ice di mana?" isak Blaze sambil merengut.

"Nggak tahu, tapi, mungkin aja di gedung dekat laboratorium."

"Kok, bisa?"

Fang tersenyum menenangkan. "Mungkin dia sedang tidur di suatu tempat yang nyaman. Tadi kita lewat, kok, tapi nggak masuk."

"Di mana?" tuntut Blaze sambil mengekori Fang keluar dari gudang.

Fang mengedarkan pandangan, Tok Aba sudah tidak kelihatan. Biarlah percakapan tadi menjadi rahasia mereka berdua saja.

"Barangkali, Ice di Ruang Kesehatan."

.

.

.

.

.

"IIIIICE! Astagfirullah! Masya Allah!"

"Huuuh?" suara bernada kantuk itu kedengaran terganggu. Tiba-tiba saja, Ice yang masih berbaring di ranjang diterjang oleh seseorang.

"Ice ... kamu ini ...! Tidur jangan di sembarang tempat, dong!" gerutu Blaze gemas. Diacak-acaknya rambut sang adik, dicubitnya pipinya yang gembil.

"Aduuuuh," keluh Ice tak terima. "Sakit, Kak Blaze ..."

Setelah tadi menangis demikian heboh, kini Blaze tertawa lepas. Lega, telah menemukan adiknya yang hilang. Fang, yang menonton dari ambang pintu Ruang Kesehatan, mau tak mau tertawa juga.

"Ish ... kenapa kamu tidur di sini?!" Blaze menginterogasi.

"Aku ... aku capek, Kak. Udah pakai bantal, tapi meja kelas juga terlalu keras ... dan di sini ternyata ada tempat empuk buat tidur."

"Ya ampun, Ice ...," seru Blaze, mencubiti lagi pipi adiknya yang segera protes. Kemudian, si anak nomor empat memeluk si nomor lima erat-erat.

"Aku takut kamu hilang, lho, Ice. Jangan diulangi, ya."

Ice menguap dulu sebelum bergumam, "Maaf, Kak Blaze."

"Ayo, kita kembali ke kelas," ujar Fang yang juga merasa lega campur geli. "Kita pasti dimarahi Pak Guru. Ice, kamu yang tanggung jawab, ya."

"Eeeh?" protes Ice, masih dengan nada malas dan mengantuk.

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

*Yang Menghangatkan,*

*Yang Menghanguskan*

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Waktu itu, Fang umur tujuh tahun belum terlalu memahami karakter Blaze yang tampaknya tidak bermasalah. Mencemaskan saudara kembarmu yang hilang di hari pertama sekolah, itu hal biasa, bukan?

Teringat lagi kejadian di hari pertama sekolah saat mendapati Blaze meneleponnya dini hari kedua Ice terbaring koma, Fang tersadar.

Rasa sayang Blaze pada saudaranya yang satu ini ... posesif sekali. Cenderung toksik, malah. Fang tak sanggup membayangkan, apa jadinya kalau Ice betul-betul tak pernah membuka mata lagi karena komplikasi hipotiroid dan nyaris tenggelam di laut beberapa hari sebelumnya. Mata Fang terasa pedas, air matanya menumpuk di pelupuk sembari mendengarkan Blaze meracau.

"Salahku, Fang ... aku kakak yang nggak berguna ... kalau Ice mati, itu semua salahku!"

Fang tak sanggup berkata-kata, dia merasa Blaze hanya butuh didengarkan. Bagaimana kalau Fang sampai salah bicara?

"Kalau Ice mati, mending aku mati juga."

Kalimat tendensius itu menyentakkan Fang, terbangun sepenuhnya dengan pikiran terang. Dia harus bicara sekarang.

"Blaze."

"Buat apa aku hidup, kalau nggak ada Ice."

"Blaze."

"Aku nggak berguna! Mendingan, aku mati aja!"

"..." Fang kembali speechless.

"Aku mau mati aja ..."

Setelahnya, ada jeda yang cukup panjang. Fang memecah keheningan duluan,

"Blaze ... aku baru ingat. Pagi ini ada pertandingan NBA jam setengah empat, di channel yang kemarin. Mau nonton bareng?"

Usai mengucapkan itu, Fang menunggu dengan berdebar. Akankah Blaze terdistraksi sesuai harapannya?

"Eh, iya, ya?" Suara Blaze masih serak dan terisak. "Aku sampai lupa semua jadwal NBA."

Mendengar itu, Fang bersyukur. Tak perlulah memikirkan kuota data dan baterai ponsel untuk hari ini. "Nanti kukirim deh, screenshot jadwalnya. Aku punya jadwal sampai akhir Mei, lho."

"Makasih, Fang." Blaze terisak lagi beberapa kali. "Aku ... aku mau salat sama sahur dulu."

"Oke, silakan. Aku standby di telepon."

Ya. Stand by your side, Blaze ... Fang ada di sisimu, meski secara virtual.

.

.

.

.

.

"Diculik dan dilecehkan orang, itu bukan pengalaman yang bakal terjadi setiap hari pada semua orang. Kamu merasa takut dan sedih, itu wajar dan valid, Blaze ... nggak ada yang menyalahkanmu untuk perasaan itu, tapi, jangan lama-lama larut di dalamnya."

Siang itu, Fang menyimak rekaman dari Blaze dengan penuh perhatian. Rasanya dia setuju pada perkataan Hang Kasa, psikolog rumah sakit yang mendampingi Blaze via telepon selama isolasi mandiri.

"Kamu tahu, Fang? Selama ini, aku nggak pernah takut apa pun. Jarang banget juga merasa sedih."

"Hmm-hmm," balas Fang seadanya. Dia merasa mengantuk karena dini hari sudah ditelepon Blaze yang dimampiri suicidal thoughts lagi. Donat lobak merah yang diantar Kaizo ke kamarnya juga tak bisa mencegah kantuknya datang—perut kenyang malah bikin kantuk makin gencar menyerang. Atau, mungkin ini efek samping antivirus yang katanya efektif untuk COVID-19 itu, ya?

"Fang, aku takut Ice mati."

Lagi-lagi, Blaze mengucapkan hal yang sama. Fang tak bisa bilang bosan, karena dia juga merasa demikian.

"Ice itu adikku yang paling kusayang."

Ya, Fang tahu itu. Bukan hanya dari pihak Blaze saja, tapi menurutnya, Ice juga saudara yang paling memahami Blaze dari antara semuanya.

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

*Yang Menghangatkan,*

*Yang Menghanguskan*

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

[Kuala Lumpur, empat tahun sebelumnya.]

.

"Blaze, pass!"

Bola oranye dilempar, namun tak sampai ke tujuan karena operan itu dipotong oleh tim lawan.

"Argh! Gagal!"

Suara sepatu berdecit-decit di lapangan. Satu lagi tembakan tiga angka disarangkan ke ring. Pertandingan semakin memanas. Waktu semakin menipis, tim sekolah Pulau Rintis masih tertinggal sembilan angka.

"Iwan, jaga-jaga!"

"Fang, sebelah situ!"

"Oi, oi, Blaze!"

BUUKK!

Bunyi hantaman menggema cukup keras, disusul erangan.

"Blaze!"

Peluit berbunyi nyaring. Pertandingan dijeda karena ada yang cedera. Blaze bin Amato dibawa keluar dari lapangan dengan kaki berdenyut-denyut nyeri dan wajah manyun tanpa seri. Dia tadi melompat agak tinggi untuk mencetak tembakan tiga angka yang berhasil, namun saat mendarat kembali, kakinya kurang siap sehingga meleset dan terkilir.

.

.

.

.

.

"Hiks ... kenapa aku harus terkilir tadi ... uuuuh, sebal!"

Fang yang sedang minum air mendengarkan saja Blaze duduk di lantai ruang ganti dan mengomel-ngomel. Disenggolnya kaki Blaze yang terkilir itu, membuatnya memekik.

"Fang! Jahat kamu!"

"Yang sebal karena kalah nggak cuma kamu, ya," balas Fang, cemberut.

"Sudahlah, Blaze. Lawan kita memang juara bertahan tingkat nasional," imbuh Amar Deep yang mengusap keringatnya dengan handuk. "Sejak awal kelihatan kalau kita bukan tandingan mereka."

"Su-sudah bagus, lho, kita bisa sampai babak final," sahut Iwan, berusaha berpikir positif. "Kita semua pengin menang, tapi Blaze jadi terlalu memaksakan diri."

"Aaaah. Aku sebal, pokoknya sebal! Sebal, sebal, sebal!"

Iwan dan Amar Deep bertukar pandang. Meski sudah berteman sejak sekolah dasar, mereka belum bisa terbiasa dengan perubahan suasana hati Blaze yang fluktuatif dan aneh begini. Namun, paling tidak, mereka bisa mengenalinya. Melihat gelagat Blaze yang mulai merengek-rengek begini, sebentar lagi pasti ada ledakan.

"A-aku mau ke toilet," ujar Iwan pamit buru-buru.

"Aku mau bantu pelatih beres-beres," sambung Amar Deep.

Begitu kedua remaja itu menghilang, Blaze betulan meledak dalam tangis.

"Faaaaaang. Huhuuu, kenapa kita kalah? Ice pasti kecewa ..."

"Blaze, aku dan yang lain juga kecewa, kok ...," ujar Fang, ikut duduk di lantai.

"Nggak mau, aku nggak mau Ice kecewa ..."

Uh. Lagi-lagi Ice. Bisa dibilang Fang agak cemburu, kenapa hubungan Blaze dengan adiknya itu bisa demikian eratnya? Perasaan, dia sendiri dengan abangnya, Kaizo, tidak pernah sampai sebegitunya. Yang ada, Kaizo meledeknya kalau dia kalah pertandingan basket, atau dia meledek Kaizo kalau ujian abangnya ada yang gagal. Kuliah kedokteran itu nggak gampang, tahu. Salah sendiri Kaizo pilih jurusan kuliah yang sulit.

"Ice, tuh, berharap aku menang ... masa, aku pulang dengan kekalahan? Dia pasti kecewa. Huhuhuu."

"Namanya pertandingan, ada menang dan ada kalah, Blaze ..."

Blaze masih saja menangis dan meracaukan nama Ice. Dia tampak betul-betul sedih, bukan karena kekalahan telah melukai harga dirinya seperti yang Fang rasakan, tapi ... karena dia telah membuat kecewa adik kesayangannya.

Ya, ampun. Mau tak mau, Fang tersenyum maklum. Dari dulu, Blaze memang sangat sayang pada Ice.

"Yuk, Blaze. Sebentar lagi kita pulang ke Pulau Rintis."

Sambil masih terisak, Blaze mencoba berdiri, tapi langkahnya oleng.

"Aduuuh. Sakit banget."

Fang menghela napas, lalu berjongkok memunggungi Blaze. "Sini, deh. Kugendong."

"Eh? Nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa. Aku, 'kan, lebih tinggi darimu. Aku pasti kuat menggendongmu."

Namun, ternyata berat badan Blaze lebih besar dari dugaan Fang. Untungnya masih cukup sanggup digendong. Sepanjang perjalanan dari ruang ganti menuju karavan sewaan, Blaze diam seribu bahasa. Blaze, yang biasanya heboh dan berisik itu. Macam orang lain saja. Tapi, Fang bisa merasakan bahu seragamnya dicengkeram erat dan ada basah yang mengalir di belakangnya. Blaze rupanya masih menangis dalam diam. Oh, sesekali dia terisak. Tiba-tiba, terdengar bunyi ceklikan kamera.

"Heh, Iwan!" seru Fang, terkejut. Kawan mereka yang pendiam itu barusan memotretnya yang sedang menggendong Blaze.

"Astaga, Iwan! Hapus fotonya! Malu-maluin!" seru Blaze.

Iwan segera kabur sambil senyum-senyum sebelum kena jitak siapa pun. Diam-diam, Iwan tertarik dengan ekskul fotografi juga rupanya.

.

.

.

.

.

"Kak Blaze!"

"Ice! Aku pulang! Uwaaaah!"

Sekotak besar es krim cokelat yang dibawa Ice, turut menyambut Blaze yang diantar mobil sekolah pulang dari Kuala Lumpur. Fang, yang menyaksikan adegan di depan pintu rumah Tok Aba itu, jadi manyun sendiri.

Betapa cepatnya Blaze yang sepanjang jalan diam melulu itu kembali riang gembira!

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

*Yang Menghangatkan,*

*Yang Menghanguskan*

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Waktu itu, di dalam hatinya, Fang jadi agak kesal juga. Kalau dia tahu sekotak es krim cokelat saja bisa menyenangkan hati Blaze yang terpuruk, dia bakal belikan lebih dahulu, lah. Rasanya, lain kali Fang harus lebih dulu menghubungi Ice buat dapat bocoran, apa yang bisa bikin Blaze kembali jadi dirinya sendiri.

Dan kali ini, Blaze kembali terpuruk, sementara tak ada Ice yang bisa ditanyai oleh Fang ...

"Fang, aku ini kakak yang mengerikan."

"Eh?"

"Aku sepenuhnya sadar waktu menerkam Solar hari itu. Kupikir, Ice kedinginan ..."

Hati Fang mencelos. Ya, dia sudah dengar cerita insiden kompor di dapur ...

"Astaga, semua ini salahku!"

"Blaze, nggak semua hal bisa ada dalam kendalimu." Jujur saja, Fang mulai merasa capek dengan Blaze yang terus menyalahkan diri sendiri. Sahabatnya itu terus saja berputar-putar di tempat dengan keluhan-keluhan yang sama. Tapi, kalau tidak didengarkan, Fang takut bahwa Blaze betulan melakukan apa yang juga disebutnya berulang-ulang.

"Aku mau mati aja ..."

Fang merasa tidak sanggup kalau menangani ini sendirian, jadi diteleponnya Taufan dan Gempa. Dukungan langsung dari rumah harusnya akan lebih tepat sasaran. Kedua kakak Blaze itu, bersama Tok Aba, telah melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menghindarkan hal-hal tak diinginkan.

Kabar dari Halilintar yang menginap di RS Yong Pin tentang "penampakan roh Ice" tidak membuat Blaze merasa lebih baik. Seminggu terakhir Ice koma adalah yang paling berat bagi keluarga itu, Fang juga merasa demikian. Hampir setiap hari dia telepon Blaze dan chat salah satu kakaknya, sekadar memastikan anak itu baik-baik saja.

"Aku di sini, Blaze. Aku bersamamu. Aku mendengarkanmu."

Sama seperti Blaze yang tak henti mengulang-ulang keinginannya untuk mati, Fang juga terus mengucapkan dukungannya. Sambil sama-sama memohon yang terbaik bagi Ice bin Amato ...

Setelah Ice sadar dari komanya selama empat belas hari dan masa isolasi COVID mereka berakhir, Fang mengira akhirnya masalah pun selesai.

Namun, ternyata dia salah. Hari itu, dia kembali mendapati Blaze menangis di telepon.

"Kak Gem dan Solar hilang ... Kak Hali juga belum kembali. Atok sudah lapor polisi ... FANG! Kalau mereka sampai kenapa-kenapa, ini semua salahku."

Fang malah baru tahu bahwa sejak Ice bangun dari koma, Blaze seolah "memenjara" Ice di rumah dan berujung petaka. Hari itu, tangan Duri berdarah terkena pisau, dan yang pergi belanja adalah Gempa dan Solar.

"Kak Gem itu masih trainee beladiri. Dia belum semahir Kak Hali atau Kak Taufan. Harusnya Kak Taufan adalah salah satu yang pergi, tapi, gara-gara aku, rencananya berubah ..."

Kalau kemarin mereka sudah menghadapi ketidakpastian terhadap nasib satu orang, yakni Ice, kali ini yang dihadapi adalah nasib tiga orang sekaligus. Halilintar si anak sulung, Gempa si nomor tiga yang bahkan para tetangga pun tahu dialah komandan rumah tangga Tok Aba, kemudian Solar yang cerdas dan rasional (yang pemikiran cemerlangnya turut membantu menolong Blaze dan Ice kemarin). Ketiga orang ini, yang bisa dibilang adalah andalan di keluarga mereka, hilang.

"Aku tahu aku salah, mengekang Ice kayak begitu. Aku sadar dan sudah minta maaf pada Ice ... tapi, kurasa ini bukan saat yang tepat untuk minta maaf ke Duri, meski adikku yang itu selalu memaafkan orang lain."

Fang menarik napas dalam-dalam.

"Kamu tahu, Blaze? Bertahun-tahun aku mengenal Halilintar dan darinya aku paham bahwa minta maaf itu nggak harus selalu dengan kata-kata langsung. Perbuatlah apa yang kamu bisa untuk menebus kesalahanmu ..."

.

.

.

.

.

Meski malah jadi bertanya-tanya apa yang dipelajari Fang dari si sulung, Blaze mencoba sarannya. Taufan bilang dia akan ke kantor polisi—lalu dengan cepat ada laporan bahwa Gempa sudah ditemukan. Malam itu juga, Gempa diantar pulang ke rumah dengan luka-luka yang sudah ditangani sementara Taufan menginap di kantor polisi, menunggu laporan tentang Halilintar dan Solar. Semuanya tak bisa tidur nyenyak malam itu, apalagi karena teman sekamar yang biasanya ada jadi tiada. Gempa memang tidak bisa tidur sendirian, sedangkan Duri mencemaskan si adik satu-satunya.

Ice mengajak Blaze berdiskusi pelan-pelan di kamar, mengutarakan usul bahwa Taufan perlu ditemani, bahwa Ice merasa mungkin skill panahannya akan bermanfaat.

"Kita perlu lakukan apa yang bisa kita lakukan, Kak Blaze."

Kalimat Ice seolah resonansi dari nasihat Fang pada Blaze kemarin. Kali itu, Blaze tidak ragu-ragu lagi.

"Pergilah, Ice. Kak Taufan mungkin akan terbantu olehmu."

"Kak Blaze ... beneran? Nggak apa-apa?" Ice cukup kaget juga karena Blaze tidak menentangnya keluar rumah.

Blaze mengangguk mantap. "Aku akan ajak Duri tidur di kamar Kak Gem. Pas, 'kan, jadi kami tidur bertiga."

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

*Yang Menghangatkan,*

*Yang Menghanguskan*

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

"Bagaimana mereka?"

Fang menyetir mobilnya dengan tegang menuju RS Yong Pin, di sore hari menjelang malam itu. Mendengarkan penuturan Kaizo yang juga bernada tegang, dengan sayup-sayup suara azan Magrib berkumandang, membuat Fang tidak tenang. Kawan-kawannya itu seharusnya sedang berbuka puasa dengan senang saat ini, tapi kenyataannya tidak demikian.

Halilintar dan Solar sudah diselamatkan dari para penjahat dengan kondisi yang sama sekali tidak baik. Taufan dan Ice ikut dalam misi penyelamatan itu bersama polisi dan tenaga medis, naik helikopter. Di IGD malam itu, untuk pertama kalinya Fang menyaksikan Taufan menangis sedemikian pilunya sementara Ice diam dengan air mata seperti banjir bandang. Sekali lagi Fang mencoba menemani teman-temannya, tapi kasus ini jauh lebih buruk dari penculikan Blaze dan Ice sebelumnya sampai dia sendiri tak sanggup bicara apa-apa.

Ketika Fang kembali ke rumah bersama abangnya, dia menangis.

"Abang ... a-apa Solar akan hidup?"

Kaizo, yang ganti menyetir, tak segera menjawabnya. Fang bicara di sela isakan,

"Ku-kudengar jantungnya sempat berhenti tadi."

Fang selalu menganggap Solar adalah kawan yang tepat untuk bersaing—dalam hal popularitas maupun akademik. Memikirkan bahwa sosok yang selalu bersinar itu meninggal, membuat hati Fang terasa nyeri sekali.

"Fang, aku akan bicara fakta. Tingkat keberhasilan RJP itu kira-kira hanya sepuluh persen pada semua kasus."

Fang gemetaran. "Solar termasuk yang sepuluh persen, kalau begitu?"

"Detak jantungnya memang kembali, tapi ... kalau dia sudah sempat berhenti napas lebih dari lima menit, akan ada gangguan pada otaknya."

Astaga, demikian parah kemungkinan di masa depan! Otak sebrilian Solar ... lalu, ada lagi yang juga menyedihkan ...

"Halilintar juga ... masih kejang terus."

Kaizo melirik adiknya. "Sepertinya itu narkoba jenis baru."

"Halilintar ... dia itu cita-citanya menjadi hakim. Ka-kalau pernah kena narkoba, apa masih bisa?"

"Soal itu, jujur saja, aku nggak tahu jawabannya, Fang ..."

Fang masih terus menangis ketika mereka sampai di rumah. Kaizo mematikan mesin mobil, tapi tidak langsung keluar. Wajar saja Fang menangis sepedih ini. Kaizo saja yang mendengar laporan dari Nut dan hanya menyaksikan akhir penyelamatan itu saja merasa miris. Sang kakak mengingatkannya,

"Fang, kamu teman mereka bertujuh sejak kecil."

Satu isakan keras sebelum sang adik menyahut, "Iya, benar."

"Kita nggak bisa apa-apa untuk mengubah kenyataan. Tapi, kamu bisa tetap berada di samping mereka, siap membantu ketika mereka membutuhkan."

Bersama ketika mereka membutuhkannya? Namun, "membutuhkan" seperti apa yang sebetulnya bisa Fang penuhi dengan kapasitasnya yang juga masih pelajar ini?

Sekolah daring dimulai kembali setelah libur hari raya dan kelas ilmu alam berkurang anggota satu orang. Duri mengikuti kelas dari rumah sakit dan semua teman sekelas bisa melihat matanya sembab melulu. Anak-anak kelas ilmu alam banyak yang memberi ucapan pada Duri dan Ice, serta saudara kembar mereka yang absen sekolah sampai ... entah kapan.

"Semangat ya, kalian."

"Badai pasti berlalu."

"Semoga Solar cepat sembuh."

Rasanya sekadar ucapan semacam itu tidak terlalu membantu. Memangnya, Solar didoakan sembuh dari apa kalau penyakit yang dideritanya itu seumur hidup? Duh, hati Fang kembali teriris rasanya, menyadari apa yang mulai sekarang harus ditanggung oleh saingan akademiknya itu.

Orang bilang, life must go on. Fang mendengar dari Blaze bahwa Halilintar tidak absen dari sekolah meski harus menjalani masa rehabilitasi. Sekarang, hampir tiap hari Fang dan Blaze kembali bertukar chat dan telepon seperti masa isolasi mandiri mereka. Kali ini, dengan adanya Ice di sisinya, topik Blaze tak hanya berputar-putar di tempat tentang penyesalan dan keinginan bunuh diri. Namun, ketidakpastian tentang masa depan Halilintar dan Solar sangat mengganggunya ...

Blaze adalah si kembar yang paling dekat dengan Fang. Fang tahu Blaze sendiri juga belum sembuh dari luka mentalnya dan dia sudah disakiti lagi oleh pelaku-pelaku yang serupa, dengan kerusakan yang jauh lebih parah meski kali ini bukan langsung pada dirinya. Fang turut bersyukur Ice sudah sadar dari koma dan sepertinya berubah cukup drastis—ke arah yang baik. Taufan sempat cerita kepadanya bahwa Ice menjadi lebih dewasa sejak bangun dari koma. Dia seolah menjadi back-up rumah tangga di saat Gempa kehilangan dirinya sendiri.

Gempa, hampir seperti Blaze dulu, terus menyalahkan diri sendiri atas nasib kakak sulungnya dan adik bungsunya. Bedanya, tak pernah terlontar dari mulut Gempa keinginan untuk bunuh diri—tapi, tak ada yang tahu apa sesungguhnya isi pikirannya. Gempa cenderung diam dan menutup dirinya ketika ada masalah.

Pertengahan tahun itu, kasus COVID-19 melonjak gila-gilaan di seluruh dunia. Kaizo banyak lembur di rumah sakit dan kalau pulang pasti mengisolasi diri sendiri. Fang juga tak mau sampai kena COVID-19 dua kali. Masih belum ada kabar yang berbeda dari kawan-kawannya.

Di salah satu hari di akhir bulan Juli, Fang menyetir mobilnya ke rumah Tok Aba. Di sana, ia disambut oleh si pemilik rumah dan menantu perempuannya—ibu para kembar.

"Apa Blaze ada, Atok, Bibi?"

"Dia ada di kamar. Coba kupanggilkan sebentar, Fang," ujar perempuan bermata biru itu dengan senyum lembut. Warna matanya mengingatkannya pada Ice yang tenang dan Taufan yang periang.

"Terima kasih sudah datang, Fang," ujar Tok Aba, senyum terkulum.

"Sama-sama, Tok Aba." Melihat senyum di wajah renta itu, Fang teringat lagi pada kenangan hari pertama si kembar tujuh bersekolah.

"... Fang?" Suara Blaze menyambutnya di ujung tangga.

"Halo, Blaze. Main basket, yuk?"

"Huh?" Blaze mengerjap, matanya sembab. Kurang tidur atau habis menangis, Fang tidak yakin. "Halaman belakang baru direnovasi, nih."

"Kalau gitu, ke lapangan dekat sekolah saja."

Blaze ragu sejenak.

"Aku bawa semprotan merica buat jaga-jaga kalau ada orang jahat. Ayo, Blaze. Sebentar saja, kok."

.

.

.

.

.

Fang memantul-mantulkan bola basket sendirian, sesekali menembakkannya ke ring. Lebih banyak masuk daripada meleset. Blaze menontonnya dari pinggir lapangan tanpa niat turut bermain.

"Blaze, kamu inget, nggak, waktu kita kalah tanding di Kuala Lumpur?" Fang membuka percakapan setelah bermenit-menit sama-sama diam, men-dribble bola dengan kedua tangan bergantian.

"Hmm ... iya."

"Sehabis itu, aku perbanyak latihan tembakan tiga angka dan kamu gerakan fake. Itu kelemahan kita masing-masing ... dan tahun berikutnya, kita menang." Fang kemudian melempar bola ke ring dari jauh tanpa beranjak dari tempat, mencetak skor tiga angka yang kini dikuasainya dengan mudah.

"... tapi aku masih belum bisa gerakan fake sampai sekarang," gerutu Blaze sambil mengamati bola yang tadi dilempar Fang kini memantul-mantul di tanah.

Fang berbalik dan nyengir kecil. "Soalnya, kamu itu selalu blak-blakan, Blaze. Apa adanya, apa-apa disambar begitu saja. Melakukan gerakan pura-pura jelas bukan style-mu."

Begitu juga caramu menunjukkan rasa sayang dan emosimu, Blaze ... jujur dan tak pernah pura-pura, batin Fang.

Blaze mendesah panjang, lalu bangkit berdiri. "Mau one-on-one?"

Cengiran Fang melebar. "Ayo."

.

.

.

.

.

"Huuh. Hebat banget, Blaze ... kamu udah lama nggak main aja bisa ngalahin aku."

Fang duduk di pinggir lapangan, kaki selonjor, napas terengah. Blaze di sampingnya juga sama saja. Keringat sama-sama bercucuran deras di wajah keduanya.

"Sori, Fang. Aku tadi nggak pakai deodoran. Jangan dekat-dekat, ya."

"Oh? Santai aja."

Keduanya terdiam lagi sambil sibuk mengatur napas masing-masing setelah sepuluh menit bertanding satu lawan satu. Fang memandangi bola oranye yang kini duduk diam di tengah lapangan.

"Blaze ... aku baru kepikiran, nih. Bola basket itu, makin keras dibanting, bakal makin tinggi memantul ke udara."

Fang melirik ke arah Blaze, yang ternyata juga sedang menatap bola itu.

"Kalau di fisika, istilahnya elastisitas," lanjut Fang.

"Kalau di psikologi, sebutannya resilience," imbuh Blaze.

Mereka berdua saling pandang.

"Itu yang dikatakan guruku waktu kecil," ujar Blaze sambil angkat bahu. "Resilience. Ketangguhan; kemampuan untuk pulih dengan cepat setelah mendapat tekanan."

Fang malah baru tahu istilah itu, meski dia memang sedang mencoba menganalogikan ketahanan mental dengan bola basket.

"Semua ini pasti berat untuk kalian," ujar Fang akhirnya.

Blaze mengangguk muram. "Aku nggak tahu Kak Hali gimana, karena dia belum pernah pulang sejak sidang pengadilan dan kalau ikut kelas online selalu pakai topi dan masker. Kak Taufan kalau di rumah juga jadi banyak diam. Kak Gempa ... uh, dia yang paling hancur, kurasa. Ice banyak membantu pekerjaan rumah, bareng Ibu. Duri ... kata Kak Taufan, dia banyak nangis di rumah sakit, tapi dia tetap mau di sana. Dan, Solar ..."

Suara Blaze menghilang dan Fang sangat maklum.

"Blaze, kamu itu kayak api," seloroh Fang. "Saat ini, keluargamu seolah sedang 'padam' karena banyak duka ..."

Fang diam sebentar. Blaze belum bersuara.

"Gimana rasanya punya tiga kakak dan tiga adik? Aku cuma punya satu orang abang, dan, uh, terkadang dia sangat menyebalkan. Tapi, aku tahu dia sayang padaku. Aku juga sayang padanya, meski kami kalau di rumah sering adu mulut. Mungkin kayak gitu sensasinya, tapi dikali enam, ya?" lontar Fang, mendengus geli dengan pemikirannya sendiri. Blaze beranjak dari duduknya dan meraih bola, lalu memutar-mutarnya dengan jari telunjuk.

"Fang ... makasih, ya."

.

.

.

.

.

Berkat Fang, Blaze jadi ingat dan sadar, betapa cintanya dia pada olahraga satu itu sebelum Geng Kristal mengubah semuanya. Berkat Fang juga, hatinya jadi terasa ringan siang itu. Rasanya, hari-hari ke depan tidak akan lebih berat daripada hari kemarin ...

Banyak hal terjadi sejak Fang mampir ke rumah. Ada pertemuan kembali yang penuh haru antara Gempa dengan Adu Du dan Probe yang membawa kejutan—mereka akan bekerja di Kuala Lumpur untuk teman ayah si kembar. Lalu, yang agak mengagetkan meski sudah bisa diduga, Solar—yang ternyata bisa menggerakkan tangan kirinya—mencoba bunuh diri di rumah sakit, untungnya dia ditolong oleh Duri (dan Taufan, secara tak langsung). Masa rehabilitasi Halilintar juga sudah dinyatakan selesai ...

Sore itu, Gempa bicara pada Blaze,

"Blaze, mau bikin party untuk kepulangan Solar dan Kak Halilintar?"

"Wow. Boleh aja, Kak!"

"Tapi, mereka datangnya besok, lho. BESOK! Astaga, mana sempat aku bikin rancangan dulu."

Memang sudah bawaannya Gempa hobi merancang segala sesuatu pada to-do list kebanggaannya, makanya dia agak panik karena waktunya hanya sedikit. Blaze nyengir saja dan menyahut,

"Serahkan padaku, Kak Gem!"

Pesta akan diselenggarakan di rumah Tok Aba. Gempa yang menginisiasi, Blaze yang mengeksekusi.

.

.

.

.

.

Meski rasanya belum sanggup dan perjalanan masih sangat jauh untuk bisa pulih mental secara utuh, setidaknya Blaze merasa lebih bersemangat ketika tahu ada sesuatu yang bisa dikerjakan untuk saudaranya. Dia, 'kan, ahlinya bikin party!

Pesta itu, meski bakal kecil-kecilan karena hanya lingkup keluarga dan orang terdekat, tapi karena peserta utamanya saja sudah tujuh orang, tentu saja akan tetap semarak. Kaizo dan Fang termasuk yang mendapat kehormatan sebagai tamu undangan. Selain keluarga inti, ada pula Pak Guru Kokoci, lalu Qually dan Gaharum. Tadinya Adu Du dan Probe mau diundang juga, tapi mereka sudah keburu berangkat ke Kuala Lumpur karena kontraktor teman Amato minta secepatnya mereka datang. Blaze cukup bersyukur karena, kalau duo pengamen itu diminta menggelar live music di party, nanti bakal banyak yang berobat karena sakit telinga.

"Blaze. Biar aku aja yang nge-MC," ujar Fang di telepon, malam harinya.

"Eh? Nggak usah, Fang. Aku biasa jadi MC, kok, kalau pesta di rumah." Blaze sedang rebahan di sofa ruang tamu setelah sepanjang sore mempersiapkan pesta bersama Gempa, Ice, Ibu, dan Tok Aba—serta Amato yang sempat pulang sebentar dari rumah sakit.

"Jangan, lah. Pesta ini, 'kan, perayaan untuk kalian. Lagipula, aku punya beberapa ide tambahan buat kejutan. Nikmati saja pestanya besok."

Blaze tertegun, hatinya diselimuti kehangatan.

"Fang ... makasih lagi."

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

*Yang Menghangatkan,*

*Yang Menghanguskan*

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Pesta itu dirancang digelar di halaman belakang rumah menjelang siang, jam sepuluh pagi. Tak ada di antara tujuh saudara yang mau pesta di malam hari. Rencana pertama pagi itu: Amato menjemput Solar, Duri, dan Taufan duluan di RS Yong Pin, lalu menjemput Halilintar dan Kokoci di panti rehabilitasi. Seharusnya Solar bisa pulang duluan, tapi, setelah divaksin pagi-pagi, ternyata lukanya berdarah dan perlu observasi lebih lama. Alhasil, Amato masih harus tertahan di rumah sakit. Perlu ada perubahan rencana.

"Aku dan Ice saja yang jemput Halilintar," tawar Fang yang sudah datang ke rumah Tok Aba dengan mobil sejak jam tujuh pagi. Kaizo akan menyusul sendiri setelah membereskan beberapa hal untuk kuliah spesialisnya.

Gempa tidak setuju. "Ya, ampun, Fang. Kamu nanti repot—"

"Nggak masalah. Daripada nanti pestanya mundur dan kalian capek menunggu?" Fang sudah mengeluarkan kembali kunci mobilnya.

"Fang, jangan bosan kalau aku bilang 'Terima kasih' lagi, ya," sahut Blaze.

"Kalau gitu, aku ikut," ujar Gempa.

Fang menggeleng. "Jangan. Kamu sama Blaze di rumah aja, kalian 'kan penyelenggara pesta."

"Iya, Kak Gem. Biar aku yang ikut Fang, kalian siap-siap buat pestanya," sambung Ice.

"Lah, Master of Ceremony-nya sendiri malah pergi!" seloroh Blaze. Fang tertawa-tawa.

"Aku udah latihan, kok. Tenang aja, Blaze. Dah, aku dan Ice berangkat dulu, ya."

.

.

.

.

.

"Assalamualaikum ..."

Sebuah suara yang sudah lama tak terdengar di rumah itu mampir di pintu.

"Kak Hali!" seru Blaze dari arah dapur.

"Kak ... Halilintar," sahut Gempa, menyusul di belakang Blaze.

"Cucu Atok ..."

"Halilintar sayang!" Hanya ibu si kembar yang bisa memanggil si sulung dengan panggilan begitu. Rupanya semua sedang berkutat di dapur saat rombongan kecil Fang kembali ke rumah. Halilintar masih mengenakan topi hitamnya serta masker medis di wajah. Semuanya terkejut ketika kemudian Gempa tersungkur di lantai, bersujud di kaki kakaknya.

"Gem ...?" gumam Halilintar dari balik masker.

"Kak Halilintar ... maaf." Tiba-tiba tangis si nomor tiga pecah. "Aku sudah gagal ..."

Tangisan Gempa begitu pilu. Meski sudah hampir kembali menjadi dirinya yang biasa, rupanya rasa bersalah tak pernah betul-betul meninggalkan hati si komandan rumah tangga. Halilintar membungkuk dan meraih bahu adiknya. Semua menunggu respon si sulung.

"Gempa ... kamu sujudnya ke Allah aja. Nggak usah ke aku."

Gempa mendongak, wajahnya masih bersimbah air mata. Halilintar menurunkan maskernya—dia sedang tersenyum, tipis sekali. Air mata juga sudah menumpuk di sudut mata sewarna rubi itu.

"Aku pulang, Gem."

"Kak Halilintar ..."

Kakak beradik itu berpelukan erat, sama-sama tersedu selepas berbulan-bulan tak bersua, apalagi setelah rentetan peristiwa yang tidak mengenakkan. Tak hanya mereka yang berderai air mata.

Fang jadi kepengin pinjam kacamata hitamnya Pak Guru Kokoci. Kalau dia nanti nge-MC dengan mata bengkak karena kebanyakan menangis, 'kan, malu, ya?

Gempa adalah yang pertama berhenti menangis. Disentuhnya tulang pipi Halilintar yang menonjol, perlahan dan lembut. "Kak Halilintar ... aku janji akan bikin badanmu berisi lagi. Kamu kurus banget ..."

"Iya! Masakan Koki Gempa memang tiada duanya!" seru sang ibu sambil mengacungkan jempol.

"Apalagi kalau duet sama Ibu," komentar Ice sambil membayangkan masakan yang lezat. Dia menghirup napas dalam-dalam. "Ya ampun, kalian lagi masak apa ini? Sedap banget, aku jadi ngiler."

Sebuah ledakan membuat Halilintar terlompat. Blaze barusan meledakkan confetti rupanya.

"Selamat datang kembali, Kakak Halilintar!" seru si nomor empat sambil menggigit bibir menahan tawa.

"Blaze ... aku kira balon meletus tadi!" omel si sulung.

.

.

.

.

.

"Solar sudah datang!"

Seruan Fang satu jam kemudian membuat perhatian semua orang kembali ke pintu depan. Amato dan Duri masuk ke rumah lebih dulu sambil membawa beberapa perangkat, kemudian Taufan menyusul. Solar yang digendongnya kemudian didudukkan ke kursi roda yang dipasang Amato.

Blaze tidak mau hari itu kembali diisi dengan tangisan dan sudah semakin siang, jadi dia berujar,

"Mari, kita mulai pestanya! Silakan, MC!"

.

.

.

.

.

Dalam pesta itu, suasana sendu masih tetap ada. Solar tak bicara apa-apa dan badannya jauh lebih kurus daripada Halilintar. Namun setidaknya, di pesta kali itu, Ice tidak melipir ke kamar diam-diam setelah lima menit pertama seperti kebiasaannya dan bertahan sampai pesta selesai.

"Hari ini, kita sama-sama mensyukuri kepulangan dua saudara kita, Halilintar dan Solar," ujar Fang membuka acara. "Karena ini perayaan syukur, mari kita lupakan sejenak yang ada di belakang dan bersenang-senang."

Blaze menginisiasi tepuk tangan, yang lain mengikuti. Fang terlihat agak gugup, apakah itu karena Kaizo menatapnya tajam-tajam dari kursi hadirin?

"Saya Fang, master of ceremony Anda semua hari ini. Pesan dari sponsor, saya nggak boleh kepanjangan ngomong di pembukaan atau nanti semua pada tidur."

Semua yang hadir tertawa. Fang menyeringai kecil.

"Jadi, sekian dulu pembukaan dari saya. Acara selanjutnya ... kepada yang terhormat, Saudara Halilintar bin Amato, silakan pidatonya."

Si empunya nama melotot. "Oi? Aku nggak diberi tahu apa-apa tentang ini!?"

"Ayo, Kak Hali!" seru Blaze jahil. Dia tentu saja sudah dapat bocoran dari Fang tentang kejutan ini.

"Kak Hali, aku mau dengar pidatomu~" timpal Taufan sambil mendorong sang kakak berdiri dari kursinya, dibalas jitakan di dahi si nomor dua.

"Semangat, Kak Hali!" sorak Duri ikut-ikutan dari sisi Solar.

Amato bertepuk tangan menyemangati, diikuti yang lain. Halilintar akhirnya berdiri dari kursi sambil menggerutu, lalu maju mendekati Fang yang membawa mikrofon. Taufan bersuit-suit sementara Blaze membunyikan drum kecil untuk memeriahkan suasana.

Mikrofon dioperkan oleh Fang kepada si sulung, lalu dia melipir minggir dari sorotan.

Halilintar diam sebentar dan memandangi semua yang hadir. Ada adik-adiknya, orang tua dan kakeknya, guru masa kecilnya, serta tiga orang tamu: Kaizo, Gaharum, dan Qually. Dia memulai, "Jujur aja. Aku nggak tahu mau ngomong apa." Dia melirik ke arah Fang dan Blaze yang kasak-kusuk di pinggir. "Dasar kalian ini, bilang-bilang dulu, dong!"

Blaze hanya mengacungkan jempolnya sambil meringis. Lagian, ini ide Fang, kok!

"Ehem. Aku ... senang bisa pulang ke rumah," ujar Halilintar. Dia menatap kepada satu orang. "Pak Guru Kokoci, aku sangat berterima kasih. Kupikir aku benar-benar akan jadi gila di tempat itu ..."

Kokoci mengangguk-angguk, memberi dukungan dengan gaya keren sambil menanti kelanjutan pidato Halilintar. Ekspresi sang psikiater tak terbaca—kacamata hitam itu sungguh kamuflase yang baik, barangkali Kokoci sesungguhnya sedang berkaca-kaca saat ini. Fang kepengin sekali pinjam benda itu barang sebentar saja.

Halilintar kemudian mengacungkan tangan kanannya. Semua bisa melihat garis memanjang di tangan itu, mulai dari pergelangan turun sampai hampir ke siku. "Apa yang aku dan Solar pernah alami, lukanya permanen. Luka yang satu ini, sih, bukan apa-apa dibandingkan yang dialami Solar ..." suara Halilintar pecah di suku kata terakhir. "Oh, astaga. Kupikir stok air mataku sudah habis."

Halilintar menutup wajahnya dengan sebelah tangan lalu sesenggukan pelan-pelan. Fang mendekatinya, memberikan selembar tisu, yang diterima dengan gemetar. Si sulung mencoba menguasai dirinya dulu baru bicara kembali,

"Semua ini cobaan yang sangat berat. Namun, kurasa, aku nggak akan menyerah karena itu. Solar juga, dia nggak menyerah. Bagiku, luka-luka ini adalah buktinya ... bahwa kami manusia yang kuat. Kami pernah jatuh dan bisa bangkit kembali."

Ah, sudahlah. Fang tak peduli lagi kalau dia harus membawakan acara dengan mata bengkak. Semua yang mendengar pidato Halilintar ikut terharu dan bertepuk tangan sekali lagi. Saat itu, Taufan bersuara nyaring,

"Solar mau bilang sesuatu!"

Mata kelabu si bungsu terbelalak. Tadi, Solar diam-diam menjawil Taufan dan berisyarat, 'Aku nggak mungkin disuruh berpidato, kan?' lalu dia malah didorong sang kakak ke depan panggung. Dasar si nomor dua!

"Silakan, Solar. Aku akan terjemahkan untuk semuanya," sambung Taufan sambil nyengir lebar.

Taufan memang yang paling paham, Solar mencoba bicara apa. Dia hapal tiap-tiap ekspresi Solar selama tujuh belas tahun hidup bersamanya dan untungnya Solar sendiri cepat menguasai bahasa isyarat, yang pernah dipelajari Taufan di kelas bahasa, meski baru beberapa gerakan dasar.

Karena sudah telanjur jadi sorotan, Solar pun memutuskan untuk berbicara. Taufan mengamati tangan dan wajahnya dengan serius.

"Aku mau ... membuat tulisan ... tentang semua yang pernah terjadi. Wow, Solar mau menulis!"

Tepuk tangan terdengar lagi. Semua antusias menyambutnya.

"Hebat!"

"Keren, Solar!"

"Solar pasti bisa!"

Pidato Solar masih ada lanjutannya. "Nanti ... Kak Taufan ... yang jadi ... juru ketikku, ya." Taufan tertawa. "Pfft. Memangnya kamu mau bayar aku berapa, Solar?"

Solar hanya melotot sambil merengut.

"Hehehe. Becanda, Bro. Lama-lama kamu nih, mirip Kak Hali, ya. Serem kalau marah."

"Oi, apa pula maksudnya itu?!" Halilintar berseru dari kursinya.

Suasana sendu pun mencair. Kudapan dan minuman mulai dikeluarkan oleh penyaji—Gempa, Duri, dan ibu para kembar. Tok Aba dan Dokter Gaharum mengisi pesta dengan berkaraoke lagu-lagu nostalgia zaman beliau berdua masih sekolah dulu. Salah satu lagu rupanya familier di telinga Fang, sebuah lagu khas Skotlandia yang biasa dinyanyikan menjelang akhir tahun untuk menyambut tahun baru.

"Should old acquaintance be forgot and never brought to mind? Should old acquaintance be forgot and days of auld lang syne ..."

Lagu itu, Auld Lang Syne alias Hari-hari yang Telah Berlalu punya tata bahasa yang agak ganjil namun penuh makna. Persahabatan yang tak lekang oleh waktu, sesulit apa pun situasi yang menghampiri. Fang menyimpan senyumnya menyaksikan dua sahabat lama yang kini telah sama-sama berusia senja menikmati nyanyian itu dengan suara yang gemetar. Dipandanginya Blaze yang sedang berdiskusi dengan Taufan di dekat Solar. Akankah dirinya dan Blaze bisa bersahabat sampai selama itu nantinya?

Berikutnya, Kaizo yang telah dengan sukarela menawarkan pertunjukan breakdance, betul-betul menunjukkan kebolehannya. Fang memasang lagu latar salah satu boyband Korea yang sedang naik daun. Hadirin dengan antusias menyambut kejutan dari si dokter yang ternyata jago menari ala boyband Korea itu. Gerakannya terlatih dan tidak amatiran. Lalu, tiba-tiba saja, kepala Fang dihinggapi ide jahil. Diraihnya ponselnya yang tersambung ke sound system dan memilih sebuah lagu lain.

Irama alat musik tambura khas India mendadak menggantikan beat lagu pop Korea. Kaizo tampak kebingungan sejenak dan berhenti bergerak, lalu melotot ke arah pelaku keonaran ini, adiknya sendiri. Namun, sebelum Kaizo bisa berbuat apa pun, Qually sudah ikut masuk panggung dan mulai bergoyang. Dokter Klinik Gaharum itu menari dengan rancak dan asyiknya, membuat Kaizo cepat beradaptasi dengan perubahan musik yang mendadak. Abang Fang itu pun berimprovisasi, membuat tarian itu berkolaborasi dengan Qually yang sepertinya memang pandai menari India.

Blaze tertawa heboh menonton tarian Kaizo dan Qually. Sungguh ajaib. Tawanya yang menggelitik dan tak putus-putus itu menular ke Halilintar (yang Fang belum pernah melihatnya tertawa) dan Solar (setidaknya, mulutnya terbuka dan ada suara seperti kekehan). Duri serta Taufan juga bersorak dan bersuit-suit heboh.

"Taufan, kamu bawa kamera, nggak?" seloroh Fang yang kepengin merekam atau setidaknya memotret adegan ini.

Taufan berhenti bersuit. "Nggak. Soalnya, Solar nggak mau difoto hari ini."

Fang seketika paham. "Oh, baiklah."

"Tapi, dia mau difoto, kok, kalau dia sudah kembali ganteng. Iya, 'kan, Solar?"

Solar hanya senyum-senyum ditanya begitu.

"Nanti kita foto bertujuh buat ilustrasi tulisannya Solar!" usul Blaze penuh semangat. "Fang, kamu yang ambil fotonya, ya!"

"Eh? Ya, boleh aja, sih."

"Nanti nama Fang kita cantumkan juga di tulisan itu," imbuh Taufan. "Credit to the photographer!"

"Eh, nggak usah juga nggak apa-apa. Aku suka bekerja di balik bayang-bayang, hehe."

Blaze mendorong bahu Fang dengan main-main. "Gaya betul! Padahal, siapa yang selalu saingan sama Solar untuk jadi populer?"

"Whoe, jangan diungkit-ungkit, lah!"

"INI DIA! Duet maut Ibu dan Koki Gempa!" Suara satu-satunya perempuan menambah semarak pesta.

Duri memekik kegirangan. Taufan kembali berseru-seru heboh.

"Uwaaaah. Puding pelangi ... tujuh warna ... lengkap dengan krim susu," seloroh Ice yang meneteskan air liur tanpa sadar.

"Ice! Kamu ngiler di atas topiku!" seru Halilintar.

.

.

.

Hati Fang ikut terasa hangat menyaksikan semuanya. Blaze itu memang seperti api yang menjalar dan dia telah memantik kehangatan di antara saudara-saudaranya hari ini.

Qually masih menari dengan asyik dan mendekati Solar di kursi rodanya. Dengan hati-hati, dipindahkannya Solar ke atas bahunya, mengajaknya ikut menari. Mulanya Solar tampak takut-takut berada di atas situ, tapi karena Qually sendiri tidak terlalu tinggi dan si dokter memegangi badannya dengan kuat, lambat laun dia pun menikmatinya.

"Solar menari! Ayo, Kak Hali juga nari bareng aku!"

Siapa lagi yang berani bilang begitu kalau bukan Taufan? Dengan setengah terpaksa, Halilintar berdiri dari kursinya sekali lagi. Ice menonton dua kakak tertuanya itu menari canggung sambil mengunyah puding bersama Duri dan Kokoci. Tak berapa lama, Amato mendekati Qually dan bicara sebentar dengan si dokter. Sejurus kemudian, Solar berpindah ke punggung Amato.

"Eh, Solar kenapa?" celetuk Fang yang sedang berjongkok di dekat sound system bersama Blaze.

"Apa Ayah juga mau menari kayak Dokter Qually?" gumam Blaze.

"Oh, tidak. Solar kena KIPI!" seru Taufan yang segera meninggalkan Halilintar dan mendekati ayah dan adik bungsunya.

"KIPI? Kejadian ikutan pasca imunisasi?" lontar Fang. "Efek samping vaksin COVID-19 tadi?"

Wajah Solar yang bersandar di punggung Amato terlihat kemerahan, napasnya memburu. Taufan menyentuh dahi adiknya dan berceletuk,

"Wah, iya, dia demam. Kok, Ayah bisa tahu?"

"Ya, 'kan, Ayah ngeliatin Solar terus dari tadi ...," sahut Amato, nada suaranya khawatir. "Solar perlu istirahat dulu."

"Kamar barunya Solar yang di sebelah sini, 'kan, Ayah?" ujar Duri, ikut mendekat.

"Iya. Kita antar Solar ke kamarnya, yuk."

Pesta itu pun terpaksa berakhir lebih awal karena salah satu bintang utamanya terkapar demam. Tak mengapa, yang penting tujuannya sudah tercapai. Blaze merasa puas dengan pesta itu dan sekali lagi mau berterima kasih pada sang sahabat saat mereka berberes.

"Blaze, apa kamu inget, aku pernah gendong kamu kayak ayahmu gendong Solar tadi?"

Kalimat Fang membuat kenangan Blaze di umur tiga belas kembali. "Iya, waktu kita kalah dan aku cedera, 'kan?"

"Benar. Blaze pernah dengar puisi Footprints in the Sand, nggak?"

"Huh? Apa itu?"

"Itu sebetulnya puisi alegori hubungan manusia dengan Tuhan. Tapi, aku akan bahas ini dalam konteks persahabatan kita."

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

*Yang Menghangatkan,*

*Yang Menghanguskan*

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Ada dua pasang jejak kaki di pasir. Dua orang yang berjalan bersama-sama, mengarungi waktu menuju masa depan yang masih misteri. Suatu ketika, jejak itu tinggal satu pasang saja—dan ketika ditelusuri waktu-waktu yang menjadi tanda, timbullah protes.

'Kenapa di saat aku paling menderita, kau malah meninggalkanku berjalan sendirian?'

Sahabatnya menjawab, 'Aku tidak pernah meninggalkanmu. Jejak kaki yang hanya sepasang itu, adalah jejak kakiku. Mungkin kau tak ingat, bahwa aku menggendongmu karena beban dunia terlalu berat bagimu saat itu.'

.

.

.

.

.

"Taufaaaaaan. Kamu lama banget sih touch-up-nya," seru Halilintar dari ambang pintu depan.

Taufan balas berseru dari kamarnya, "Sabar, sabar. Ini Solar masih mau ngetik, Kak. Rehat dulu, ya, Solar. Kita foto dulu, yuk."

Hari itu, kembar tujuh akan berfoto bersama di depan rumah Tok Aba. Sesuai permintaan, pose diarahkan oleh Fang dan Blaze bersikeras mau membawa bola basketnya dalam foto. Hal itu bukan semata-mata karena dia cinta basket, tapi,

"Karena bola basket adalah lambang persahabatan kita, Fang. Thanks for everything."

Bisik-bisik Blaze tadi membuat Fang betulan menangis, tapi cukup di dalam hati. Ada orang tua si kembar dan juga Tok Aba di situ, malu lah dia kalau bercucuran air mata. Jaga imej, kalau istilahnya Solar.

Pokoknya, Fang bersyukur bisa jadi sahabat terbaik untuk Blaze. Dia bersyukur bisa mengenal kembar tujuh yang ajaib ini.

"Aku di tengah!" seru Taufan. "Kasih tempat spesial buat cowok paling tinggi dan paling ganteng serumah!"

"Kak, Solar nggak terima Kak Taufan bilang gitu, lho," sahut Duri cekikikan, dikalungkannya lengan melewati bahu adiknya yang duduk di kursi roda.

"Wajah kita sama, lah. Ganteng semua, tahu!" balas Halilintar, sekali ini saja dia narsis.

"Yuk, buruan fotonya. Aku mau tidur."

"Ish, kamu ini, Ice! Habis makan jangan langsung tidur!"

"Ayo, ayo. Kasihan Fang, udah nunggu dari tadi."

Fang tertawa-tawa menyaksikan kehebohan si kembar tujuh. Kamera sudah terpasang siaga di atas tripod. "Sudah siap, semua?"

"SIAAAAAP." Tujuh suara menyambut.

Senyum Fang terkembang.

"Satu ... dua ... tiga, cekodok cheese!"

.

.

.

.

.

***...***...***...***...***

*Yang Menghangatkan,*

*Yang Menghanguskan*

***...***...***...***...***

.

.

.

.

.

Author's Note:

Ada ilustrasi menarik tentang Blaze dan Fang di cerita ini selain cover. Bagi pembaca yang penasaran, bisa mampir ke akun AO3 saya (Efavivace) atau Wattpad (EfanillaVivace) :D

Turut meramaikan ulang tahun Fang di tanggal 13 April #HappyBirthdayFang dan juga sebentar lagi merayakan diri sendiri yang akan genap setahun mulai menulis di fandom BoBoiBoy (Thorn in the Flesh dipublikasikan tanggal 18 April 2021) cihuui! \^^/ congratulations to me!

Special thanks to akaori dan AzureCiel yang sudah menyentil Roux untuk mengorek lebih dalam (?) tokoh Fang dan hubungannya dengan Blaze di Through the Darkness. Relasi mereka memang perlu dibahas banyak, ya. Tuh, buktinya bisa jadi satu cerita sendiri, sebuah long oneshot yang sangat panjang :")

Habis ini, masih ada satu lagi sidestory, ya ... dengan teaser yang agak berbeda dengan yang di cerita kemarin:

.

Sidestory #3:

Ada alasan khusus, mengapa Kokoci yang mendampingi Halilintar di panti rehabilitasi alih-alih Amato.

.

Sekian dari Roux Marlet dan sampai bertemu lagi di cerita berikutnya. Kritik dan saran sangat diterima!

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

Tetap jaga protokol kesehatan, ya! Stay safe, stay healthy!

12-13.04.2022