Haikyuu (c) Haruichi Furudate


Hari pertama puasa, Nishinoya tidak bersemangat. Dia bahkan tidak menyambutnya dengan antusias. Tadi malam tarawih pertamanya, dan Nishinoya sudah dilempari petasan disko. Biadab, sungguh. Kalau bukan karena mengingat dia masih baru mencapai gerbang mesjid, Pak Kiai masih diburu selayaknya artis tersohor dan tanda tangannya bernilai nominal tinggi, Nishinoya mengambil ancang-ancang melepas sarungnya dan menjadikannya Pecut Ganesha Mahakuasa. Tamat sudah riwayat bocah cebol berkupluk tersebut

Taketora menabraknya dengan sepeda—tolong diingat selain bocah yang usianya masih tergolong balita, Taketora Yamamoto adalah salah satu potensi lain yang berpeluang tinggi dalam menyulut emosi di bulan suci penuh berkah ini. Anak itu hanya cekikikan saat Nishinoya menendang ban depan sepedanya dan nyaris membuat anak itu oleng kehilangan keseimbangan. Yang disayangkan Nishinoya, Taketora tanggap menyeimbangkan badannya dan benar-benar selamat terjungkal dari atas sepeda.

"Kau tahu—"

"Tidak."

"Harusnya mesjid kita butuh ustadz yang beda setiap harinya." Taketora melanjutkan tanpa memedulikan selaan kurang ajarnya. Nishinoya mendengus. Apa bedanya? Kiai Kuroo adalah penceramah tunggal selama bulan Ramadhan berlangsung. Dan ini sudah terjadi selama bertahun-tahun dan setiap tahunnya menjelang salat tarawih dilaksanakan.

Nishinoya tidak punya masalah dengan itu. Bukannya dia benar-benar mendengar apa isi ceramahnya. Hanya saja, kalau ada yang Nishinoya sukai dari Kiai Kuroo itu adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sekedar menyampaikan ceramah yang topiknya itu-itu saja. Lama. Sangat lama sampai-sampai Nishinoya sempat mendengkur di tengah-tengah perdebatan Hukumnya Beristri Lebih Dari Satu—Nishinoya bercanda.

Tapi omong-omong, istri Kiai Kuroo memang ada dua. Tua keriput itu benar-benar beruntung. Nishinoya bertemu istri mudanya dan definisi dari wanita cantik solehah seketika ada di depan mata. Nishinoya mendadak iri. Taketora pernah menyinggung soal itu, Nishinoya ingat dia bertanya susuk apa yang dipakai Kiai Kuroo sehingga wanita cantik—bahkan muda, mau menikahi lansia berbau tanah.

Nishinoya menyikut rusuknya membuat anak itu mengaduh kesakitan, tapi diam-diam bertanya tentang ilmu ampuh yang diungkit Taketora.

"NII-SAN!"

Ini dia.

"Apa?" Taketora berbaik hati menjawab sapaan sebelum Nishinoya membentak emosi. Dia perlu melatih kesabaran selama bulan puasa berlangsung. Sudahkan Nishinoya memberitahu itu anak yang sama yang mencoba meledakkannya dengan petasan seharga limabelas ribu dan suara ledakan sekencang toa mesjid mereka? Belum, karena kalau sudah, anak itu sudah dalam cekikannya.

Tangan Nishinoya gatal ingin memiting leher kecil itu.

Mercon cabe, begitu orang menyebutnya, meluncur mulus tanpa hambatan. Layaknya adegan yang diperlambat, petasan itu berputar-putar di udara sebelum terbang lurus ke arah mereka. Lihat? Ini adalah bagian yang tidak disukai Nishinoya.

"—ANJING!"

Itu Taketora, mengumpat keras setelah sejam sebelumnya menguliahi Nishinoya untuk tidak berkatas kotor atau pahalanya berkurang.

"Astagfirullahal'adzim!"

... Dan itu Kiai Kuroo, karena ternyata beliau ikut terjungkal bersamaan dengan teriakan mahadahsyat-nya Taketora saat akan menuruni tangga teras mesjid. Orang-orang panik segera menghampirinya.

Nishinoya menyipit. Dalang masalah ini sudah melipir pergi kabur dari tempat kejadian perkara. Tapi bibirnya segera menyeringai. Di otaknya, sudah ada beberapa ide membalas dendam yang akan membuatnya puas. Nishinoya tidak sabar menantikan tarawih berikutnya dan dia butuh andil Taketora, korban sebenarnya untuk menjalankan pembalasan manis ini.

... Omong-omong, persetan dengan Kiai Kuroo. Rasakan itu tua bangka.


Selamat menunaikan ibadah puasa.

—Cal.