Disclaimer: Final Fantasy XIV © Square Enix. Tidak ada keuntungan material apa pun yang diambil dari karya ini.
filosofi semut
oleh revabhipraya
.
.
.
Urianger ingat, di kala Moenbryda tengah mengomeli satu demi satu anak-anak sebaya mereka yang kerap mengganggu Urianger, bocah lelaki itu selalu melihat kehadiran sosok lain di sekitar mereka. Sekitar seminggu yang lalu, anak itu mengintip dari balik pohon, tetapi tentu saja Urianger hanya berani melihat dari jauh. Beberapa hari yang lalu, anak itu tampak duduk di bawah pohon, sibuk bermain sendirian. Hari itu, sepertinya ia mengintip dari balik tembok dekat taman tempat Urianger kini berada.
"Huh! Memang anak-anak itu sudah gila, ya."
Bocah Elezen itu tersentak, tidak sadar bahwa Moenbryda sudah mengakhiri sesi omelannya. Kini, anak-anak itu tidak terlihat lagi, entah sejak kapan. Sepertinya Urianger memang sudah terlalu lama melamun.
"Aku tidak habis pikir! Bisa-bisanya mereka terus mengganggu orang lain. Memangnya tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, ya?!" Masih, Moenbryda mengomel sendiri. Namun, sadar bahwa Urianger seperti sedang berada di antara dunia nyata dan imajinasi, gadis kecil itu mencoba bertanya, "Kenapa? Ada yang mengganggumu lagi? Katakan saja!"
"Tidak, tidak ada apa-apa." Cepat-cepat Urianger menggeleng. Mana mungkin ia akan "menumbalkan" gadis kecil yang ia tidak tahu namanya kepada Moenbryda hanya karena ia penasaran, bukan? "Terima kasih, ya."
"Tidak usah dipikirkan." Roegadyn muda itu mengangkat kedua bahunya sebelum ikut duduk di samping Urianger. "Aku hanya berharap anak-anak itu tidak mengganggu gadis yang di sana."
Bohong kalau Urianger bilang dia tidak terkejut. Matanya otomatis melotot, meski tidak kentara, dan kepalanya langsung terangkat. Tentu saja melihat perubahan itu, Moenbryda otomatis menyunggingkan senyum. Tahu bahwa Moenbryda tengah menjebaknya, mau tidak mau Urianger kembali menunduk. "Ini ... bukan seperti itu."
"Memangnya aku bilang apa?" Moenbryda terkekeh geli. Gadis tiga belas tahun itu memang selalu membela Urianger, tetapi bohong kalau dia mengaku tidak suka mengerjai anak laki-laki yang hanya satu tahun di bawahnya itu. "Sana, ajak dia bicara."
Oke, Urianger tidak bisa menahan diri untuk tidak terkejut lagi. "A-apa?"
"Kau tidak tuli, 'kan? Ajak dia bicara." Moenbryda nyengir puas. "Aku sih, mau saja melakukannya, tetapi sepertinya aku akan menakutinya lebih dulu sebelum bicara."
Urianger tertegun sejenak. Yah, Moenbryda memang terlihat mengintimidasi, sih. "Tidak ada yang mau kukatakan," ucap si Elezen muda sambil mengalihkan pandangannya. Bukannya dia tidak mau bicara sih, dia hanya malu dan dia benar-benar—kali ini sungguhan—tidak punya hal untuk dibicarakan. "Mungkin dia akan sama takutnya terhadapku seperti dia takut terhadapmu."
Tampaknya kata-kata itu tidak bisa diterima sehingga Moenbryda, tentu saja secara sengaja, mendaratkan tinju ringan di bahu Urianger. Bocah lelaki itu langsung meringis pelan. Tidak keras memang, tetapi tetap saja ada rasa sakitnya. Menabrak Moenbryda itu bagaikan menabrak batu. Ya, tubuhnya sekeras itu. "Jangan bodoh, deh. Apa coba yang harus ditakuti darimu?"
... benar juga.
"Sudah, sana! Ajak bicara!" Setengah memaksa, Moenbryda menarik tubuh Urianger agar bocah lelaki itu berdiri, lalu mendorongnya pelan ke arah gadis yang tadi "mengintip". Menurut standar Moenbryda sih itu pelan, tetapi menurut yang didorong, tubuhnya hampir saja oleng dan jatuh. Benar-benar akan membuat kesan pertama yang sangat baik. "Sebagai awal, tanya saja dia sedang apa!"
"... kan jelas, dia sedang duduk?"
"Basa-basi, Urianger. Basa-basi."
Si bocah lelaki sebenarnya enggan, tetapi paksaan Moenbryda itu bagaikan titah raja. Akhirnya, perlahan ia hampiri si gadis kecil yang tampaknya masih bersembunyi. Sesekali, Urianger menoleh ke belakang hanya untuk mendapati Moenbryda masih saja melotot, menyuruhnya untuk tetap maju. Sepertinya ia memang tidak punya pilihan lain.
Jujur, Urianger masih enggan. Oke, dia memang penasaran dengan gadis kecil itu, tetapi penasarannya cukup tinggal di dalam hati saja. Ya, dia memang tidak ada rencana untuk mengobrol atau bahkan berinteraksi! Biasanya, hal yang membuatnya penasaran akan ia cari tahu lebih lanjut memang, tetapi tidak dengan mengobrol. Jika itu ilmu, maka ia akan baca buku sebanyak mungkin. Jika itu orang, maka ia akan jadi observan, tetapi bukan penguntit.
... meski memang agak terdengar seperti penguntit, sih.
"Oh, kamu yang tadi duduk di sana."
Semesta sepertinya sedang ingin bercanda dengan Urianger, atau bocah itu saja yang mudah terkejut. Lagi-lagi, ia dikejutkan oleh suara seorang perempuan. Setidaknya kali ini bukan Moenbryda, tetapi tampaknya dikejutkan oleh Miqo'te kecil tidak dikenal terdengar lebih memalukan.
"Maaf! Aku tidak bermaksud mengejutkanmu." Gadis kecil berambut putih itu cepat-cepat mengklarifikasi. Tentu saja tanpa klarifikasi pun Urianger tahu gadis itu bukan ingin mengerjainya seperti Moenbryda. "Aku hanya melihatmu tadi duduk di sana."
Seulas senyum mampir di wajah Urianger. "Aku juga melihatmu dari sana tadi."
"Begitu?" Gadis itu ikut tersenyum. Ditunjukkannya sesuatu yang sejak tadi menyita perhatiannya. "Aku duduk di sini karena melihat ini."
Urianger berjongkok di sebelah gadis itu setelah menyadari objek observasi yang dimaksud: sarang semut. Ada satu lubang di atas sebuah gundukan tanah kecil, dan kebetulan, saat itu sedang ada barisan semut yang cukup panjang memasuki lubang tersebut. Masing-masing semut membawa remahan makanan, dan entah kenapa, bagi Urianger, hal itu sungguh menarik untuk dilihat.
"Menarik, bukan?" tanya si gadis seolah membaca pikiran Urianger. "Aku penasaran isi sarang semut itu seperti apa. Memang sih, ada di ensiklopedia, tetapi itu kan bukan yang sungguhan."
"Tampaknya cukup besar untuk menampung semut dan persediaan makanan sebanyak itu," gumam Urianger, setengah menjawab sang gadis, setengah berbicara kepada dirinya sendiri. "Belum lagi telur-telur semut."
Si gadis tersenyum. Ditepuk-tepuknya kedua tangan untuk menyingkirkan debu-debu yang menempel, lalu disodorkannya tangan ke arah Urianger. "Kita belum berkenalan. Namaku Y'shtola."
Meski, lagi-lagi, terkejut, setidaknya Urianger masih bisa mengontrol diri untuk membalas sodoran tangan itu. "Urianger."
"Kau tinggal di sekitar sini?" tanya Y'shtola sambil melihat sekitarnya. Kebetulan, tidak ada siapa pun selain mereka berdua dan Moenbryda yang mengawasi dari jauh, tetapi gadis itu pun cukup cerdik untuk tidak membiarkan Y'shtola melihatnya.
"Uhh ... ya, rumahku di dekat sini." Urianger mengangguk pelan. "Kamu?"
"Oh, aku hanya sedang liburan," geleng Y'shtola. "Salah satu sepupuku yang lebih tua bersekolah di sini. Kami sedang mengunjunginya."
"Begitu." Urianger tertegun. Ada kekecewaan di dalam hati yang muncul. Mungkin karena ia tahu, Y'shtola hanya akan jadi teman jangka pendek yang ditemuinya semasa liburan gadis itu. Padahal, sepertinya mereka bisa jadi teman baik.
Tahu-tahu, Y'shtola tersenyum lagi. Ia mengubah posisi duduknya agar menghadap Urianger lalu bertanya, "Apa yang kamu tahu soal semut?"
Ditanya begitu, tentu saja Urianger bingung. Namun, itu bukan berarti ia tidak tahu jawabannya. "Mereka hidup dalam koloni, punya sarang di bawah tanah, dan selalu kerja keras."
Y'shtola mengangguk pelan. "Mereka juga selalu bisa pulang."
"Benarkah?"
"Apa kamu pernah melihat semut yang tersasar?"
"... kurasa tidak."
"Berarti mereka selalu bisa pulang." Y'shtola terkekeh puas, membuat Urianger mau tidak mau tersenyum kecil. Gadis kecil itu kembali bicara, setengah berandai-andai, "Aku janji akan jadi semut."
Lagi-lagi, Urianger dibuat bingung. "Maksudmu bagaimana? Kamu akan hidup dalam koloni, tinggal di bawah tanah, kerja keras, dan selalu pulang?"
Ditanya begitu, tentu saja si gadis tertawa geli. Tidak ia sangka bocah lelaki di depannya ini ... terlalu polos. "Dua hal yang kamu sebutkan pertama itu agak aneh, ya? Maksudku yang terakhir. Aku janji akan pulang."
Urianger mengangkat kedua alisnya. "Kita memang harus selalu pulang, 'kan?"
"Ke rumah? Iya, tapi maksudku pulang ke kota ini." Y'shtola menunduk menatap semut-semut yang masih berbaris rapi. "Kota ini ... terasa seperti rumah. Aku ingin suatu saat nanti aku benar-benar bisa pulang ke sini."
Urianger masih bingung, sebenarnya. Kalau anak perempuan itu memang ingin tinggal di kota tempatnya tinggal, tentu saja ia harus dapat izin orang tuanya, bukan? Dan kalau anak perempuan itu dapat izin, tidak ada yang perlu dipermasalahkan, bukan? Meski begitu, Urianger juga sebenarnya bertanya-tanya: apa yang membuat kota ini sebegitu menarik? Sebagai salah satu penduduk yang tinggal di sana, ia tidak merasa ada yang spesial.
"Aku akan bersekolah di sini!" Tiba-tiba, Y'shtola meninju telapak tangannya sendiri. Telinga kucingnya ikut naik seiring dengan semangatnya yang tiba-tiba menggebu-gebu. "Lihat saja nanti! Aku akan mendaftar ke sekolah bagus di sini, dan aku akan diterima!"
Oh, benar, Urianger terlambat menyadari bahwa kotanya terkenal memiliki sekolah-sekolah bergengsi. "Kalau begitu, aku doakan kamu beruntung," ucapnya tulus.
Y'shtola mengangguk. "Kira-kira, apa kamu akan bersekolah di sini juga?"
Sang Elezen muda tertegun sejenak. Ia masih ragu, tetapi sepertinya ia telah menemukan jawaban yang tepat. "Kurasa aku tidak akan ke mana-mana."
"Kalau begitu, kita akan bertemu lagi!"
Urianger tersenyum, dan entah mengapa, janji itu terdengar meyakinkan. Keduanya menghabiskan waktu dengan mengobrol mengenai ini-itu sembari menunggu semut-semut tadi selesai memasuki sarang. Mereka baru mengucapkan selamat tinggal saat seorang Miqo'te dewasa yang mirip dengan Y'shtola memanggil anak perempuan itu pulang. Mungkin ibunya, tetapi itu hanya dugaan Urianger.
"Aku tidak menyesal menyuruhmu mengajaknya bicara."
"MO- astaga!" Berulang kali, Urianger mengelus dada. Jantungnya berdegup tidak karuan karena terkejut. Moenbryda ini memang tampaknya punya bakat untuk menjadi seorang ninja. "Tidak perlu mengejutkan begitu."
"Mungkin kau tidak akan terkejut kalau tidak terlalu fokus pada gadis Miqo'te itu." Moenbryda terkekeh puas. "Oke, jadi bagaimana? Apa saja yang kalian bicarakan? Kau bertahan lebih lama daripada dugaanku di awal."
Ditanya mengenai obrolan mereka tadi, si bocah Elezen otomatis tersenyum. "Dia bilang ... dia ingin jadi semut."
"... hah?"
.
.
.
Itu adalah tahun terakhir Urianger di akademi. Banyak yang sudah terjadi selama itu, tetapi ada pula satu hal yang belum terjadi: si gadis yang ingin jadi semut itu, Y'shtola, masih belum menepati janjinya untuk menjadi semut. Sampai saat ini, gadis itu masih belum juga muncul di hadapan Urianger. Memang sih, mereka tidak pernah berjanji untuk bertemu atau bagaimana, tetapi di kota sekecil ini, jika memang gadis itu ada di sini, mana mungkin mereka tidak bertemu sama sekali?
Lagi-lagi, di tengah-tengah lamunannya, Moenbryda (yang seharusnya lulus tahun lalu, tetapi projek yang jumlahnya ia tambah terus membuatnya harus tinggal) mengejutkan Urianger dengan sebuah tinju ringan di bahu. "Sedang memikirkan apa?"
"Bukan apa-apa," balas Urianger salah tingkah sambil merapikan buku-bukunya. Kelas sudah berakhir sejak sepuluh menit yang lalu, tetapi lamunannya sukses membuat pria itu tinggal terlalu lama bahkan saat semua sudah pergi.
"Tidak usah berbohong, aku tahu kau masih memikirkan gadis Miqo'te itu." Moenbryda terkekeh. Oh, tentu ia tahu ia benar. Ekspresi Urianger itu tidak bisa berbohong. "Hei, aku punya ide! Bagaimana kalau kau yang duluan mencari? Kau kan, tahu namanya. Lagi pula, namanya itu tidak umum kok, pasti mudah ditemukan."
Urianger menggeleng pelan. Dia tidak benar-benar butuh janji itu untuk ditepati sih, dia hanya penasaran saja. "Tidak usah."
Moenbryda hanya bisa geleng-geleng kepala. "Payah."
Gadis Roegadyn itu menunggu si pemuda Elezen selesai merapikan buku-bukunya sebelum mereka beranjak meninggalkan kelas untuk menghadiri sebuah pertemuan. Hari itu adalah hari perkenalan antara siswa-siswi baru akademi dengan siswa-siswi lama. Kegiatan tersebut memang selalu jadi tradisi di akademi, jadi mau tidak mau, Urianger harus datang. Sejujurnya, dia mungkin akan kabur kalau saja Moenbryda tidak sempat mencegatnya. Ada salahnya juga dia melamun dulu tadi.
Begitu mereka tiba di aula pertemuan, rupanya acara sudah dimulai. Para siswa dan siswi baru dibariskan di atas panggung, lalu mereka satu per satu memperkenalkan diri. Urianger dan Moenbryda duduk di kursi paling depan (karena hanya barisan depanlah yang tersisa), langsung berhadapan dengan panggung. Saat itu, seorang pemuda Miqo'te sedang memperkenalkan diri. Selanjutnya, ada seorang gadis Miqo'te yang terlihat familier di mata Urianger. Sekilas ia berharap yang ada di panggung itu adalah Y'shtola, karena memang ciri fisiknya mirip dengan apa yang ia ingat. Kira-kira ... apakah itu mungkin?
Kini, giliran gadis Miqo'te itu untuk memperkenalkan diri. Diambilnya mikrofon, lalu dengan postur tegap yang menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, ia memulai perkenalannya. "Perkenalkan, nama saya Y'shtola Rhul. Saya—"
Sisa perkenalan itu tidak penting lagi untuk Urianger. Begitu ia mendengar nama sang gadis, yang memang sudah ia duga meski tidak yakin, otaknya langsung terfokus pada kenangan masa kecilnya bersama si gadis penyuka semut. Apakah mungkin Y'shtola yang ini adalah Y'shtola yang itu juga...?
"—bisa ada di sini. Karena," gadis itu tiba-tiba menatap Urianger sambil menyunggingkan senyum kecil, "saya sudah berjanji untuk menjadi semut kepada seseorang."
... sungguhan rupanya.
.
.
.
FIN
