KLANDESTIN
(n.) Secara diam-diam/rahasia.
Daiya No A belong to Terajima Yuuji
...saya tidak menerima keuntungan apapun selain kepuasan diri dalam membuat fic ini...
Miyuki Kazuya - fem!Sawamura Eijun
Aroma rumput juga tanah yang basah setelah hujan cukup lebat sepanjang pagi hingga siang menjelang sore ini menyeruak melewati indra penciumanya tepat saat ia menginjakkan kaki pada area taman. Diperhatikannya sekitar, entah pada dedaunan pohon yang sekali-dua menjatuhkan tetesan bekas air hujan, pada rerumputan hijau dengan bunga-bunga kecil lebat yang basah, atau pada jalanan yang ia tapaki saat ini juga.
Semua masih basah juga lembab.
Satu helaan napas lolos, merapatkan mantel juga lilitan syal kuning cerah yang ia kenakan, gadis dengan surai brunnete itu mulai kembali melangkahkan tungkainya menuju satu-satunya bangku yang lumayan kering karena atap yang dibangun tepat di belakang di mana benda berbahan kayu itu diletakkan.
Mendudukan diri, gadis brunnete menggosokkan kedua tangan dan meniupnya. Berusaha menghalau dingin yang sudah mengigil kulitnya sejak keluar gedung sekolah tadi. Lihatlah, di balik syal itu, kedua pipi chubby-nya sudah nampakkan rona merah yang kentara—kedinginan. Sesekali ia mendengus, merasa sebal karena dingin yang kelewat menyengat kulit begitu menggangu.
Ah, kalau dipikir-pikir, si brunnete memang benci udara dingin. Apalagi ketika waktu sore menjelang malam begini, lebih terasa menyengat kulit, hiperbola ia berpikir bisa membekukan hingga ke tulang-tulang miliknya. Udara dingin selalu membuatnya meringkuk dan menggigil takut, suasananya sangat tidak enak, terasa lembab lagi suram. Membuatnya merasa gamang sendiri.
Kembali ia helakan napas. Si brunnete menatap lurus ke depan, tepat pada lapangan baseball yang terletak di depan taman. Hanya terpisah pagar jaring yang terbuat dari kawat.
Binar mata yang sebelumnya keruh sebal, berubah menjadi cerah bersinar. Ketika netra keemasan miliknya melihat sekelompok tim pemain andalan sekolah berjalan memasuki lapanagan untuk menjalankan latihan rutin mereka.
Pipi chubby itu semakin merona—kali ini karena malu sekaligus senang, lengkap dengan senyum manis yang diam-diam ia sembunyikan di balik syal-nya. Manik matanya terus mengikuti langkah seseorang dengan kagum sekaligus riang.
Pada pemuda bersurai berantakan dan kacamata sport yang bertengger di antara hidungnya. Satu-satunya alasan kenapa si brunnete rela hati duduk sendiri di taman walau habis hujan dengan suhu udara yang baginya sangat tidak bersahabat.
Gadis brunnete telah lama menyimpan rasa kagum pada si pemuda. Sejak mereka bertemu di taman itu, dengan posisi yang sama persis seperti saat ini. Diam-diam mengamati dari jauh.
Mencoba cari tahu lebih tentang si pemuda yang merupakan kakak kelasnya. Anggota tim inti baseball kebanggan sekolah, kapten sekaligus pemegang posisi catcher bagi tim-nya.
Yah, katakanlah pada awalnya si brunnete hanya kagum dengan bagimana menawanya si pemuda ketika menangkap atau bahkan memukul bola baseball ke arah battery atau lawannya. Namun rasa mendebarkan yang menyenangkan itu timbul ketika esok harinya mereka berbicara karena kebetulan mereka terlambat memasuki gerbang sekolah, pada hari pertama masuk sekolah di tahun pertamanya.
Bagaimana si pemuda tertawa ketika mengetahui alasan keterlambatanya—menunggu undian lotre berhadiah marchandise Pikachu yang amat ingin ia miliki.
Lantas bagaimana pemuda itu membantunya memanjat pagar belakang agar bisa menyelinap masuk ke kelas. Ketika tangan besar itu mengikatkan jaket untuk menutupi roknya yang riskan tersingkap dan mengangkat pinggang mungilnya agar bisa naik tembok penghalang yang lumayan tinggi untuk tubuh pendeknya.
Ia ingat betul bagimana rasanya. Pipi yang memanas nan tersipu, ciptakan semburat merah muda selayaknya bunga sakura, juga jantung yang berdetak keras. Sanggup membuatnya takut, berpikir si pemuda dapat mendengarnya.
Bahkan ketika memikirkan kembali kilas kejadian satu tahun yang lalu, rasa-rasanya ia tidak akan bisa untuk tidak merasa malu sekaligus senang sendiri. Sampai terkadang efeknya yang jangka lama ini membuat beberapa teman sekelas bahkan sekamarnya gemas, berkata bahwa mengapa tak kunjung ia utarakan rasa suka.
"Hei! Kau di sini sejak tadi? Kenapa tidak masuk dan melihat dari dekat?"
Kelopak itu akhirnya mengerjap setelah sekian menit lalu dibiarkan terpukau. Gelagapan mengetahui pemuda bersurai berantakan itu kini telah tepat di depannya sambil tersenyum tampan.
"Oh, ti-tidak! Aku baru saja kembali dari beli puding tadi. Yah benar! Aku habis beli puding di minimarket depan asrama."
"Lalu? Kemana perginya puding yang kau beli?"
'Duh, dasar bodoh! ' Gerutunya menahan gugup. Si brunnete terlalu kikuk sampai salah menyuuarakan perbendaharaan alibi yang sudah ia siapkan di otaknya.
Si pemuda tertawa, geli melihat bagimana menggemaskan si brunnete dengan wajah menahan malu—ketahuan berbohong. Menahahan senyumnya, si pemuda gemas mengacak surai panjang si brunnete.
"Udaranya dingin, sebaiknya kamu segera masuk. Apa lagi sudah mau gelap."
"Uh, ya, aku tahu." Si gadis menunduk, berusaha sembunyikan wajah yang sudah mirip tomat rebus, menjawab lirih.
Lambaian tangan dibalas, kemudian pemuda itu melanjutkan latihannya setelah jeda sejenak setelah pemanasann. Namun si gadis masih di sana untuk beberapa saat, sebelum kemudian tersenyum dan berbalik. Kembali menuju asrama seperti yang diminta si pemuda.
Tak apa. Tak perlu terburu-buru, cukup dengan ia berada di sini. Memandang dan mengagumi dari jauh, hanya saling melemparkan senyum, mengobrol dan bercanda jika ada kesempatan. Menjadi pengagum rahasianya.
Sungguh, ia senang dan gembira bisa merasakan jatuh cinta pada si pemuda. Hari-harinya terasa lebih menyenangkan dan bersinar.
Tapi suatu saat, si gadis berharap. Bahwa mereka bisa berjalan berdampingan. Tanpa rasa canggung, saling menatap, dan tertawa.
— Selesai.
Anggap aja cerita selingan sambil nunggu ff satunya up entah kapan :'D
Enjoy!
