Naruto Masashi Kishimoto
Rated: M
Genre: Hurt-comfort, Romance, Angst, Drama.
Warning: Lemon, Official Pairing
Sumarry
"Lelah menjadi seorang lelaki yang hanya bisa terdiam. Dia benar-benar tidak mengerti perasaanku. Aku kesal di saat dia lebih memilih yang lain. Kenapa harus dia yang kau pilih?" Sasuke Uchiha
"Aku tidak peduli kau menyakiti ku, bahkan hampir membunuhku. Aku hanya ingin kau kembali ke desa. Kembali bersama seperti dahulu kala. Kami berdua merindukan mu, jadi kumohon kembali lah!" Sakura Haruno
"Aku akan melupakan perasaan ini. Dan mencoba menerima, bahwa kalian berdua lah yang pantas untuk bersatu. Aku ingin kalian berdua kembali ke pelukanku. Kembali lah ke desa!" Naruto Uzumaki
Chapter 1 : MEMBAWA DIA KEMBALI!
Seorang gadis sedang berdiri di sana. Tatapannya fokus menatap seorang lelaki yang di bawahnya terdapat gadis yang tergeletak dengan darah yang berlumuran di mulutnya. Tampaknya baru-baru ini sedang ada perkelahian di sekitar sini. Terlihat jelas ketika melihat beberapa pohon yang tumbang dan juga tanah yang tidak datar lagi. Dia dapat melihat ada seorang pria yang terluka sepertinya sudah mati, benaknya. Danzo!
'Ternyata Sasuke benar-benar membunuh Danzo seorang, dan gadis itu?.' Inner gadis itu.
"Sasuke." Sahut seseorang. Tentu saja Sasuke mendengarnya, pendengarannya itu sangat tajam. Apalagi mendengar seseorang menyebut namanya, dan orang itu sangat-sangat dikenalinya.
"Sakura?" Lelaki itu mendongak kearah gadis yang baru saja memanggilnya. Yang benar saja, gadis itu baru saja memanggil nya tanpa suffix KUN. Sasuke benar-benar kecewa.
'apa-apaan dia!' Batinnya dengan kesal.
"Biarkan aku ikut bersamamu!" Tegasnya. Sakura, Dia menatap serius Sasuke, seolah-olah perkataannya bukan main-main.
Sasuke memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan gadis itu. Sakura benar-benar berubah di mata Sasuke. Sakura bertambah cantik, namun yang tidak disukainya dari perubahan gadis itu adalah sikap. Bagaimana bisa sikap yang biasanya manja padanya itu kini lenyap begitu saja. Apa yang terjadi selama tiga tahun terakhir?, dimana dia benar-benar pergi dari desa, meninggalkan teman dan cintanya.
"Tidak ada gunanya kau ikut bersama ku." Ucapnya datar. Ekspresi yang benar-benar kosong. Sakura merasa tersentak. Namun sebenarnya, dia berusaha tetap tenang memperhatikan gadis itu. Walau kini jantungnya sangatlah berdebar.
'Sialan! Jantungku?!' Gerutunya dalam hati.
"Kurasa kau membutuhkan seseorang yang bisa mengobati mu. Jika kau butuh disembuhkan?" Ucapnya seraya tersenyum remeh didepan lelaki itu. Sasuke mendecih melihat Sakura-nya seperti itu.
"S-siapa dia?" Gumam Karin. Karin menatap ke arah Sakura dengan posisi terlentang. Dia seperti itu karena ulah Sasuke yang memberinya serangan--chidori
"Aku tidak butuh. Lebih baik kau kembali ke desa Sakura!" Bentak Sasuke. Sasuke benar-benar tidak ingin Sakura ikut bersamanya, mengingat dia adalah orang yang jahat, takut Sakura membuatnya goyah. Gadis yang sedang di tatapnya sekarang benar-benar berpengaruh untuk dirinya.
"Aku akan membuatmu membutuhkannya." Seringai licik masih terpajang di wajah cantiknya, terkesan mencekam. Kini Sakura berlari kearah Sasuke, yang tadinya menyeringai lalu sekarang wajahnya tampak serius. Membuat Sasuke bingung dengan tingkahnya.
"Omong kosong!" Sedikit membentak. Sakura menatap tubuh Sasuke. Tak dapat di pungkiri, dia benar-benar kagum melihat perubahan fisik mantan timnya itu. Namun, kekecewaan tetaplah ada. Perubahan sikap dan sifatnya sangatlah berubah drastis. Dirinya jadi mengingat masa lalu, tepatnya kenangan tim 7. Sakura tersenyum kecut mengingatnya.
"Baiklah jika kau benar-benar menginginkannya." Dengan cepat, Sakura mengambil kunai nya dari tas ninja nya. Sakura berlari cepat ke arah Sasuke yang notabenenya benar-benar lelah habis bertarung dengan Danzo. Cakranya habis terkuras banyak, dan juga penglihatannya semakin lama semakin memudar. Dia benar-benar tidak bisa melihat gadis pink itu dengan jelas.
Tanpa berfikir panjang, Sakura langsung melempar beberapa kunai ke arah Sasuke, tentu saja Sasuke berusaha menghindar, walau beberapa kunai berhasil merobek kulitnya, yang sekarang mengeluarkan darah segar. Sasuke tentu saja tidak tinggal diam, dia berusaha keras membangkitkan chidorinya walau cakranya benar-benar habis. Dengan sedikit penglihatannya, Sasuke berlari kearah Sakura walau kakinya sudah lelah untuk menompang tubuhnya. Namun sayang, Sasuke gagal mengenai tubuh Sakura, karena Sakura menghindar, Chidori itu perlahan menghilang dari tangan Sasuke. Sasuke terlihat kewalahan. Dia juga tak habis pikir, kenapa gadis itu menyerangnya? Apa gadis itu membencinya, setelah apa yang dia perbuat pada gadis itu? Pikiran Sasuke semakin liar. Tubuhnya lelah, pikirannya lelah, jangan lupakan hatinya juga lelah dipermainkan seperti ini oleh orang yang kau sayangi.
"Sial." Umpat Sasuke. Terlihat Sakura menyeringai.
"Kenapa? Kau butuh chakra bukan?." Seringai licik terpampang jelas di bibir gadis itu. Sasuke benar-benar membencinya, walau penglihatannya mulai memudar, namun dia masih dapat melihatnya. Dengan keadaan yang tentunya buram, sesekali dia mengerjapkan matanya agar penglihatannya semakin baik.
"Enyalah!" Umpat Sasuke. Dan anehnya, Sakura tidak menyerahnya lagi, padahal dia memiliki kesempatan bagus.
'Apa yang dipikirkan Sakura?' Tanya Sasuke pada dirinya Sendiri.
"Hahaha. Kau benar-benar lucu." Sakura kini berjalan kearah gadis yang sedang tergeletak tak berdaya. Sakura lalu duduk bersimpuh di dekat gadis itu. Tangannya mengeluarkan cahaya hijau. Mengalirkan chakra ke arah gadis berkacamata itu.
'Sasuke benar-benar bukan dia yang dulu. Bahkan dia berani membunuh seorang wanita. Ck, lelaki macam apa dia.' Tanpa sadar, Sakura menangis. Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak berteriak. Sasuke melihat jelas cairan bening itu membasahi wajah gadisnya.
'Maaf.' Batinnya.
"K-kenapa k-kau menangis?" Tanya Karin. Karin melirik gadis yang sedang mengobatinya.
"Kenapa kau melakukan ini?" Lanjut Karin. Sakura tidak menjawab. Tiba-tiba lidahnya kaku untuk berbicara. Pikirannya masih terpusat pada lelaki brengsek itu.
"Aku tahu dia yang melakukannya." Sempat tertegun. Karin mengerti siapa yang di maksud gadis itu.
"Cakranya terasa begitu dingin sekarang. Dia bukan Sasuke yang dulu." Ucap karin dengan sendu.
"Hm. Aku tahu." Sasuke masih terdiam menatap kedua gadis didepannya. Ada 3 meter jauhnya Sasuke berada. Sasuke tidak melanjutkan perkelahiannya dengan Sakura dikarenakan Sasuke benar-benar tidak bisa berdiri. Sasuke hanya diam, terduduk di tanah kering itu.
Setelah menyembuhkan Karin, karena tubuh Karin belum terlalu bisa digerakkan, jadi sementara ini dia berbaring, melihat kepergian gadis yang baru saja mengobatinya.
Sakura kemudian beranjak kearah Sasuke. Sasuke mengira Sakura akan menyerangnya, namun sangat bertolak belakang. Karena sekarang gadis itu mengeluarkan cahaya hijau itu lagi, tapi ini kearah tubuh Sasuke.
"Kenapa?" Ucap Sasuke dengan ekspresi datar.
"Diamlah." Gadis itu tampak serius menatap beberapa luka yang ada pada tubuh Sasuke. Sasuke tahu Sakura adalah ninja medis.
Wajahnya benar-benar dekat sekarang. Lagi-lagi jantungku maraton, rasa ini lagi. Perasaan ini terakhir kali aku rasakan di saat aku ingin pergi dari desa konoha. Waktu itu dia pingsan, dan aku menatap wajahnya dengan lekat. Dia berubah sekarang, berubah menjadi gadis pemberani. Dia merindukan gadis itu, termasuk senyum tulus gadis itu...-Sakura.
"Sakura." Sang empu hanya bergeming. "Maaf." Tanpa sadar Sasuke memeluk Sakura. Membuat sang empu melebarkan matanya. Kaget, itulah yang dirasakan gadis pink itu. Seketika Sakura berhenti mengeluarkan cahaya hijau itu.
"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Sakura dengan nada kikuk. Sudah dipastikan jantungnya kini maraton seperti halnya pria yang sedang memeluknya.
"Sakura." Sang empu hanya bergeming. "Maaf dan terima kasih." Cicit Sasuke. Sasuke memeluk Sakura erat. Pria itu menyembunyikan kepalanya di leher gadis itu. Mengendus dalam aroma gadis itu. Dia masih mengingat bau ini, walau sudah tiga tahun lamanya dia tidak menghirup bau ini. Sepertinya pria itu merindukan segalanya yang ada pada gadis yang identik bunga Sakura itu.
'Bahuku basah?' Batin Sakura. Tanpa Sakura sadari, di sana Sasuke berusaha untuk tidak menangis. Namun hal yang sangat tidak di duga. Pria itu menangis untuk pertama kalinya di depan gadis itu, terakhir kali dia menangis di saat dia melihat orangtuanya sudah tidak bernyawa lagi. Dan itu masih di umur 6-7 tahun.
"Sasuke-kun?" Ucap Sakura pelan dengan tatapan sendunya.
"Ku mohon hiks jangan pergi!" Ucap Sasuke yang masih dalam keadaan menangis. Pelukan itu semakin erat.
Setelah mendengar itu, Sakura kini membalas pelukan Sasuke lalu mengelus surai hitam itu. Sakura paham apa yang dirasakan Sasuke. Di tinggal kan kedua orang tua untuk selamanya memang bukan hal mudah, apalagi tahu kalau itu perbuatan kakaknya sendiri.
"Tenanglah." Hanya itu yang bisa dikatakan gadis itu.
'Segitu dekatnya dia dengan gadis itu.' Batin Karin yang sedang menatap sayu kearah Sasuke dan Sakura. Masih dengan posisi berbaring memiringkan kepalanya kearah Sasuke dan Sakura, agar bisa melihat apa yang dilakukan keduanya.
Sudah setengah jam Sasuke tidak melepaskan pelukan. Cairan liquid itu tidak lagi keluar dari onyx nya. Hanya segukan yang terdengar. Tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali sampai akhirnya Sakura mengeluarkan apa yang ingin dikatakannya. Membuat sang pemeluk melepaskan pelukannya dan menatap kecewa pada Gadis pink itu.
"Pulanglah ke desa bersamaku. Naruto telah menunggu kita. Dia masih terbaring di kasur. Lebih tepatnya di rumah sakit. Dia terluka karena latihan ingin menjadi kuat, agar kau bisa kembali ke desa, dan itu janjinya padaku." Tutur Sakura dengan raut wajah berubah-ubah. Matanya yang tadinya cerah sekarang menjadi sendu dan berkaca-kaca.
"Sepeduli itu kah padamu dengan Naruto?" Sedikit berteriak. Dia marah, dia juga tidak tahu kenapa. Tapi hatinya sedikit tercubit setelah mendengar kepedulian gadis itu pada rivalnya.
"Tentu saja aku peduli. Dia itu temanku, dia itu lelaki yang menjaga perempuan, tidak sepertimu yang bahkan hampir membunuhku dan membunuh gadis itu. Dimana Sasuke yang bersikap simpati pada orang lain? Aku kecewa." Tanpa sadar Sakura mengeluarkan semuanya. Mungkin selama ini dia hanya memendamnya sampai akhirnya dia sudah lelah. Sasuke membelalakkan matanya, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Sasuke memilih mengepalkan tangannya dengan erat, berusaha menahan semuanya termasuk emosinya.
"Maaf." Lagi-lagi hanya itu yang bisa di ucapkan lelaki itu. Tanpa sadar dia menangis, seolah dia menyesal dengan perbuatannya itu.
'Bodoh. Kau hampir membunuh orang yang kau cintai. Sasuke bodoh.' Sasuke meruntuki kebodohannya sendiri. Dia menyesal melakukan itu, tapi sebenarnya dia juga tidak sadar di saat melakukan itu, pikiran nya saat itu sedang berkecamuk. Dia hanya membela diri, karena gadis itulah yang memulai pertarungan.
Pikirannya melayang saat dimana pertemuan terakhir mereka, setelah ia membunuh Danzou. Saat itupun gadis itu sudah berpikir untuk membunuhnya. Bahkan sampai dua kali. Ia berdecih. Kejadian yang membuatnya terpaksa harus menyerang balik gadis itu untuk membela diri. Perbuatan terpaksa yang disesalinya kemudian. Tapi ini bukan salahnya. Ia hanya membela diri.
"S-sasuke?" Sadar dengan ucapannya tadi yang sedikit menyakitkan, tapi sangat menyakitkan bagi uchiha bungsu itu. Bagaimana tidak, ucapan gadis itu benar-benar tajam, apalagi mengingat gadis itu menyebut rival yang katanya lebih baik dari pada uchiha bungsu itu. Sakit, kecewa, menyesal, takut itu lah yang dirasakan uchiha itu. Takut jika gadis itu tidak menyukainya lagi, walau tujuan utamanya membuat gadis itu membencinya, sepertinya tidak bisa.
Sasuke terduduk di tanah kering itu, dengan tangan yang menutup wajahnya. Tangannya bergetar saat hendak menutup wajahnya, matanya masih terbelalak. Hatinya sakit bak di hujam seribu kunai. Mengingat gadis itu membandingkannya dengan rival bodohnya. Hatinya bergemuruh.
Sakura tidak tinggal diam, Sakura datang menghampiri Sasuke, lalu menangkup wajah dingin itu.
"Maaf telah membuatmu menangis." Sasuke menatap wajah gadis kecil itu dengan mata yang berair.
"Peluk aku." Suaranya bergetar. Dia butuh seseorang yang bisa menenangkannya. Sakura langsung mengabulkan permintaan Sasuke. Sasuke menyimpan wajahnya di Dada gadis itu dengan tangan yang melingkar erat di punggung gadis itu.
"Aku bodoh Sakura,"
"Aku bodoh hampir membunuhmu,"
"Aku menyesal hiks."
Gadis itu hanya terdiam memeluk Sasuke, sedang Sasuke berusaha agar gadis itu percaya padanya, bahwa dia benar-benar tidak memiliki niat. Gadis itu hanya memikirkan cara membawa Sasuke kembali ke desa.
Kenapa Sasuke menangis? Selama ini memang Sasuke bisa menahannya, tapi dia lelah menjadi sok kuat, seolah-olah tidak ada yang dikhawatirkannya. Tapi saat melihat seseorang yang benar-benar dia butuhkan, dia meluapkan kesedihannya, dia tidak perlu khawatir kalau dia gila, karena ada Sakura yang menenangkannya, makanya waktu Sakura ada, dia tidak segan untuk menangis, menguatkan mental dia. Apalagi menyadari kalau dirinya hampir membunuh Sakura, membuat air matanya meluap. Sasuke takut, gadis itu tidak menyukainya lagi, takut gadis itu tidak peduli lagi padanya. Ketakutan selama ini yang menghantuinya saat dia pergi dari desa, dimana Sakura nanti melupakannya, memilih rivalnya, apalagi mengingat Sakura yang good looking mungkin ada banyak pria yang menyukainya. Sasuke tidak suka itu, tapi saat bertemu untuk pertama kalinya, dia sedikit senang karena Sakura tidak melupakannya, tapi yang membuatnya tidak senang adalah disaat dia mendapati Sakura dengan Sai, anggota baru
tim 7.
Itu yang bilang cowok kok nangis? Cowok juga punya perasaan kali, lagian nangis itu belum tentu dia lemah. Bisa aja dia nangis terharu. Lagi pula nangis itu hanya untuk sekedar menguatkan diri. Kita sama-sama manusia, tentunya sama-sama memiliki perasaan, kau kesal pasti kau marah begitupun jika kau sedih, kau pasti nangis. Setidaknya menangis itu membuat perasaanmu lebih baik. Aku heran kalian manusia tapi tidak memiliki rasa manusia.
TBC
