"KAU yakin?" Aotsuki Wakana bertanya memastikan.
Dengan binar harapan yang terpancar di kedua matanya yang bermanik karamel itu, Sawamura Eijun mengangguk, bibirnya tersenyum lebar. "Ya! Aku akan ke Seidou, Wakana!" serunya tidak tertahankan. "Kelak nanti, aku akan menjadi seorang Ace sejati!" lanjutnya penuh dengan semangat.
Wakana tersenyum lalu tertawa. Ikut senang namun ada sedihnya juga. Dulu ia berharap Eijun tetap di Nagano bersama kawan-kawan yang lain, membuat satu tim yang tidak terkalahkan dan bersama-sama pergi ke Koshien. Sudut matanya berair, namun ia menghapusnya dengan cepat ketika Eijun sedang melihat ke sebuah majalah olahraga di tangannya. "Hahaha, jangan lupakan kami, oke?"
Mendengar ucapan Wakana lantas Eijun mendongak. Dahinya berkerut dalam kemudian menggeleng pelan dengan ekspresi protes. "Tidak, tentu saja tidak! Kalian adalah teman-temanku! Kalian sahabatku! Mana mungkin aku bisa melupakan kalian!"
Wakana tertawa geli. Iya juga. Ia lupa kalau Eijun itu bukan kacang lupa kulitnya. Ia pasti akan selalu mengingat jasa orang-orang yang pernah membantunya. "Iya, iya. Aku tahu."
Eijun mendengkus. Ia menyenderkan punggungnya ke tembok lalu melihat seisi kamarnya dengan sedikit sendu. "Aku akan meninggalkan kamar ini."
"Disini pasti akan terasa sangat dingin." Wakana menimpali perkataan Eijun yang lumayan sedih. "Lalu di sana kau akan terus berlatih tanpa lelah. Benar bukan?"
Eijun diam sejenak, ia menunduk. Dalam lubuk hati yang terdalam ia sangat keberatan meninggalkan Nagano. Tapi setitik cahaya telah hadir, ada kesempatan untuknya menjadi seorang pemain baseball yang hebat, bahkan sampai mendapatkan beasiswa di sekolahan terkenal pula. "Aku pikir, apakah harusnya aku membatalkannya saja ya?" tanya Eijun entah diajukan untuknya sendiri atau untuk Wakana yang kini terduduk di atas kasur, tepat disampingnya.
Wakana menoleh cepat. Ia mendorong pelan bahu Eijun dengan sedikit marah sekaligus kesal. "Jangan! Kau pikir mendapatkan kesempatan lagi itu semudah kamu membalikkan telapak tangan?" Wakana mengguruinya dan Eijun merasa bersalah saat itu juga. Wakana balik menatap mata Eijun, ia tersenyum dengan tulus lalu memegang kedua bahu Eijun. "Aku tahu ini tidak mudah, Eijun. Untuk memutuskan hal terbesar dalam hidupmu yang kelak akan merubah masa depanmu. Kami memang sahabatmu, bukan berarti kami menjadikan alasanmu untuk tidak mengambil beasiswa itu. Kami sahabatmu yang akan selalu mendorongmu menuju impianmu. Bagaimanapun jalannya, seperti apa resikonya, kami tetap mendukungmu! Kami juga pasti memiliki jalan masing-masing, entah itu menjadi pemain baseball juga atau lainnya. Jadi, jangan khawatirkan kami, oke? Kau dengan jalanmu, dan kami dengan jalan kami masing-masing. Seperti apapun keadaannya, kami akan selalu mendukungmu."
Selama Wakana berbicara, Eijun terus menerus menahan rasa sedihnya. Ia tahu ia lelaki dan lelaki tidak boleh cengeng. Tapi jika sudah menyangkut tentang persahabatan, ia akan sedih sekali. Apalagi meninggalkan tempat kelahirannya, tempat yang sudah membesarkannya seperti ini. "Maaf. Wakana." Eijun menyuarakan permintaan maafnya, suaranya serak membuat Wakana juga ikut sedih. "Maafkan aku sudah berkata berlebihan."
Wakana mendengkus lalu mengusak surai coklat Eijun. "Sudah, sudah. Jangan sedih begitu. Kau hanya akan ke Tokyo, bukan pergi jauh seperti ke Amerika." katanya dengan guyonan.
Eijun berdecak. Ia segera menutup majalahnya lalu menaruhnya di atas kasur. Setelah itu Eijun bangkit. "Ayo kita ke lapangan. Kupikir yang lain sedang ada di sana."
Wakana mengangguk. Sebelum ia mengikuti Eijun keluar dari kamar, ia menatap sebuah koper milik Eijun yang berisi pakaian. Tatapan matanya berkaca-kaca. Teringat ia sering main bersama Eijun sejak masih kecil, tahu bagaimana pertumbuhan sahabatnya, tahu seperti apa sifat dan karakternya. Ia kemudian mendengkus dan segera menepis rasa sedih itu lagi. Sudahlah, Eijun akan baik-baik di sana. Ia juga akan menemukan teman baru sehingga Eijun tidak akan sendirian di sana.
Wakana, kau tidak perlu khawatir!
…
Wakana tidak percaya bahwa ia melihat Eijun sedang melempar di tengah lapangan, sebagai pemain utama dan pusat perhatian. Ia tidak percaya! Apakah ini mimpi? Eijun yang dulu sulit melempar bola dengan stabil kini memiliki kestabilan yang akurat? Bahkan ia juga pintar mengatasi segala situasi. Tapi di balik itu semua, ia yakin bahwa ada campur tangan dari si penangkap. Ditambah, Wakana yakin bahwa ini semua adalah hasil kerja keras Eijun. Hasil dari kerja keras sahabatnya yang selalu membagikan keluh kesah berlatih menjadi murid Seidou setiap malamnya. Tidak jarang Wakana mendengar curhatan Eijun tentang kakak-kakak kelasnya.
"Ei-chan sudah berkembang ya, Wakana! Dia sudah menjadi hebat!" Nobu—salah satu sahabatnya memuji, ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya yang merekah.
"Pasti banyak hal yang sudah ia lewati." kata Wakana. Ia ikut tersenyum kecil lalu mulai bertepuk tangan. Bersama penonton lain, ia menyorakkan Eijun yang sedang mulai melempar lagi.
Nobu kemudian tertawa ketika Eijun berhasil membuat penonton mengikuti yel-yel buatannya sendiri. "Lihat! Bahkan ia bisa membuat yang lain mengikutinya!"
Wakana ikut tertawa geli. Pipinya memerah entah karena malu atau karena panasnya siang hari ini yang sangat menyengat. "Benar-benar Eijun sekali."
"Itu baru cucuku!"
"Itu anakku! Lihatlah! Eijun kecilku sudah besar, astaga!"
Wakana mendelik melihat dua pria dewasa di sampingnya. Ayah dan Kakek Eijun yang datang meramaikan. Agaknya Wakana malu dengan mereka, bahkan ketika Ayah Eijun yang mulai berlinang air mata. Bukannya malu mengakui, hanya malu dengan kelakuan mereka yang membuat Wakana geleng-geleng kepala. Sementara Nobu hanya terkekeh pelan seolah ia sudah memaklumi mereka.
Tapi benar juga, Wakana yang selalu melihat tumbuh dan kembang Eijun selama ini membuat ia baru menyadari bahwa Eijun sudah berkembang begitu pesat. Seidou benar-benar menjadikannya seorang pemain baseball yang hebat. Ia ingin mengatakan bagaimana ia bangga mempunyai sahabat seperti Eijun. Ia juga ingin mengatakan bahwa Eijun adalah pemain yang hebat, seorang bibit pemain baseball yang bisa melalui masa traumanya dan kembali bermain dengan sangat hebat. Tapi, tentu saja ia tidak mau mengatakannya secara langsung, sebab Eijun pasti akan besar kepala. Dia akan berteriak dan membanggakan dirinya sendiri.
Seidou kemudian menang telak. Permainan mereka berakhir dengan kemenangan. Barulah setelah sesi istirahat untuk permainan tim selanjutnya tiba, Wakana serta yang lainnya mencari tim Seidou yang sedang beristirahat di depan gedung menunggu bis sekolah mereka datang. Eijun menghampiri keluarganya terlebih dahulu, sementara Wakana dan Nobu berjalan mengikuti kedua keluarga Sawamura.
"Katakan bahwa yang tadi itu mimpi!" Eiji menyeru dengan air mata yang berlinang, mungkin saja masih ada rasa haru yang belum hilang. Kegembiraan tentang anaknya yang berhasil membawa timnya ke kemenangan masih tersisa.
Eijun menggeleng dramatis menanggapi drama Ayahnya. "Bukan! Yang tadi itu adalah impian!" serunya.
"Hahahaha!" Eitoku, sang Kakek tertawa lebar khas Kakek-kakek. "Itu baru cucuku!" ia menepuk punggung Eijun dua kali kemudian merangkulnya. "Jadilah orang besar di Tokyo, Eijun! Tidak peduli kau berasal dari desa kecil sekali pun!" serunya.
Eijun tersenyum lebar kemudian mengangguk. Ia ikut tertawa. "Tenang saja Kakek! Aku akan menjadi Ace paling hebat! Paling sulit ditaklukkan! Aku akan membuat seluruh dunia tahu namaku!"
Wakana dan Nobu cekikian disana. Meski mereka sedikit malu bahwa sifat besar kepala serta terlalu banyak bicara milik Eijun ternyata belum hilang sama sekali.
"Bagus, bagus!" Eitoku tertawa lagi. Tidak peduli ada beberapa orang yang memerhatikan mereka. "Tanamkan itu pada dirimu, cucuku!"
Eijun tertawa sambil menggaruk kepalanya. Sementara di belakangnya—para tim—sedang menggelengkan kepala mereka. Eijun menoleh, ia sadar bahwa ada dua sahabatnya sedang berdiri. "Wakana! Nobu!" Eijun berteriak dan mendekati mereka. Binar bahagia serta rindu terpancar di kedua matanya. Lelah yang tadinya hinggap kini hilang entah kemana ketika melihat sahabat masa kecilnya.
"Halo, Ei-chan!"
"Jangan teriak, Eijun."
Eijun tertawa lagi mendengar balasan dari mereka yang beda jauh. Nobu masihlah seseorang yang ramah sedangkan Wakana masihlah menjadi gadis yang galak. "Aduduh, kangen deh!" Eijun menyeru lagi dan merasa sangat bersemangat. "Yang lain tidak kesini?" tanya Eijun heran.
Nobu menggeleng. "Mereka menyampaikan maaf karena mereka tidak bisa datang. Beberapa dari mereka harus remedial, sebagiannya juga ada yang mengambil part time, ada juga yang sibuk dengan ekskulnya."
Eijun mengangguk meski terdengar kaget. "Wah, ternyata sudah sibuk ya!"
"Kau juga sibuk." balas Wakana pada Eijun. "Saking sibuknya, aku bahkan tidak sadar yang membalas pesanku bukan kau tapi teman sekamarmu."
Eijun meringis mengingat bagaimana Kuramochi Yoichi yang selalu menguasai ponselnya. "Kuramochi-senpai itu ingin pendekatan denganmu, Wakana." Eijun membalas alih-alih membela diri. Padahal sedikit banyaknya perkataan Wakana ada benarnya, ia sibuk berlatih.
Wakana berdecak malas sementara Nobu terkekeh pelan. "Wakana semakin populer, kau tahu Ei-chan?"
Eijun membulatkan matanya. Ekspresinya yang sangat jelas membuat Wakana gemas sendiri. "Masa sih?!" tanyanya tidak percaya.
Nobu mengangguk membenarkan. "Dia masuk klub panahan. Di sana lumayan populer klubnya. Ada banyak siswa yang menyukainya, bahkan ada yang terang-terangan memberikan perhatian pada Wakana."
Eijun tertawa lagi. "Benarkah? Ya ampun! Aku ingin melihatnya! Dari dulu kau ingin masuk ke klub Panahan bukan? Bagaimana disana, Wakana?!" tanya Eijun penasaran.
Wakana berdecak pelan. "Biasa saja. Tidak ada yang menarik. Semuanya seperti yang aku bayangkan." jawabnya dengan ekspresi biasa saja, padahal sebenarnya ia ingin menceritakan bagaimana bersemangatnya Wakana ketika mendengar bunyi yang keluar ketika panahan itu mengenai target. "Sama sepertimu, aku juga sangat bersemangat menjalani klub Panahan." lanjut Wakana.
Eijun tersenyum lebar. "Lain kali kalau ada kompetisi, boleh ajak aku?"
Wakana diam sejenak. Ia agak malu. Di kompetisi kemarin timnya baru saja kalah. Tapi kalau dipikir-pikir, kekalahan bukan segalanya 'kan? Toh, semua orang pasti pernah merasakan kekalahan. Tapi bagaimana jika Eijun tahu dan malah kecewa dengannya? Tunggu, Eijun bukan orang yang seperti itu! Eijun itu orang yang selalu menyemangati orang lain. Eijun itu … sahabat yang baik.
Ia adalah orang yang selalu bisa diajak mendengarkan. Didengarkan dan mendengarkan, Eijun bisa melakukan dua hal itu. Eijun bukan orang yang selalu meledek atau menjatuhkan orang lain. Eijun selalu menghormati semua orang yang menghormatinya serta orang yang selalu meremehkannya. Eijun selalu bisa membalas orang-orang yang meremehkannya dengan cara luar biasa.
"Boleh." Wakana akhirnya menjawab. Ia kemudian mengambil nafas lalu tersenyum pada Eijun. "Nanti kalau ada kesempatan kompetisi tiba, aku akan mengundangmu."
…
Eijun baru saja menyelesaikan urusan kepindahannya kembali ke Nagano setelah beberapa hari kelulusan kuliahnya di Tokyo. Ia melihat koper serta beberapa kardus yang berisi buku-buku, baju, serta semua perlengkapan bermain baseballnya. Berniat pulang dahulu dan menaruh semua barang-barang di Nagano lalu kembali bermain baseball. Ia mengeluarkan ponsel pintarnya di dalam saku yang baru saja ia beli sekitar beberapa bulan lalu bersama Haruichi dan Satoru. Jari jemarinya mulai mengetikkan sesuatu untuk sahabatnya di Nagano, memberi kabar bahwa ia akan berangkat besok menuju Nagano memakai kereta.
Baru saja selesai memencet tombol 'kirim', Kanemaru Shinji masuk ke dalam kamar Eijun membuat si pemilik kamar mendongakkan kepalanya. Melihat ekspresi Shinji yang terlihat tidak sabar membuat Eijun meringis. "Ya, ya. Aku sudah selesai kok." Eijun langsung berseru. Ia berdiri dan menaruh ponsel itu ke dalam sakunya.
Shinji berdecak. "Cepatlah! Pesta bahkan akan mulai sebentar lagi." kesalnya terburu-buru.
Eijun mengambil jaket dan memakainya, setelah itu ia mengunci pintu kamarnya dan berjalan bersampingan dengan Shinji. "Kapan kau akan pulang?" tanya Eijun pada Shinji.
Shinji mengendikkan bahunya. "Lusa, orang tuaku yang datang menjemput." jawab Shinji. Ia kemudian menoleh pada Eijun. "Kau besok ya?"
Eijun mengangguk. "Iya, tadi kau lihat sendiri semua barangku sudah selesai semua." jawab Eijun pada Shinji.
Shinji langsung meringis bersalah. Pasalnya ia tidak tahu bahwa Eijun sedang bersiap untuk pulang besok. Ia ketinggalan info karena ia sibuk mengurusi kepindahan dan juga pekerjaan pertamanya sebagai guru olahraga nanti. "Maaf, maaf. Aku tidak tahu."
Eijun tertawa. "Tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk, semuanya juga. Lagipula barang-barangku tidak banyak. Tapi tidak mungkin aku bisa membawa semuanya sendirian." jelasnya.
Shinji menoleh lagi. "Lalu?"
"Chris-senpai menawarkan bantuan, temannya bersedia membantu kepindahanku."
"Wah, Chris-senpai dan kau masih berhubungan ya?"
Eijun mengangguk. "Tentu saja, Master akan selalu menjadi Master-ku!" serunya tertahan.
Shinji mendelik geli. Sebutan 'sayang' itu tidak pernah luntur meski sudah bertahun-tahun lamanya. Meski banyak perubahan, Eijun tetaplah Eijun. Si cerewet yang selalu memekakkan telinga. Meski tidak separah saat sekolah, setidaknya di masa kuliah Eijun bisa mengerem sedikit. "Jijik tahu."
"Biar!" Eijun meledek Shinji lalu tertawa pelan. Tawanya kemudian berhenti ketika ia merasakan ponsel di sakunya bergetar. Eijun mengambilnya lalu melihat notifikasi pesan yang masuk. Ternyata balasan dari Wakana. Secepat kilat Eijun menjawab pesan itu dan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja dan bisa pulang sendiri meski tidak ada yang bisa menjemputnya.
Shinji mengintip sedikit. Bukan berarti ia sangat penasaran, hanya saja tidak sengaja ia melihat isi pesannya. Lantas Shinji langsung berceletuk. "Tampaknya kau makin dekat dengan Aotsuki-san ya? Kalian pacaran?"
Pertanyaan Shinji lantas membuat Eijun langsung menoleh. Ia tertawa. "Tidak, tidak. Kami hanya sahabat."
"Bohong." Shinji membalas tidak percaya. "Dalam sebuah hubungan persahabatan, mustahil jika tidak ada salah satu yang jatuh cinta." tudingnya pada Eijun. "Jika bukan kau, itu berarti Aotsuki-san."
"Aku? Atau Wakana?" Eijun menunjuk dirinya sendiri. Ia berpikir sejenak sambil berjalan bersama Shinji menuju aula. Ia dan Wakana sudah bersama semenjak masih kecil. Ia juga tahu bagaimana sifat Wakana dan semuanya tentang wanita itu. Ia juga sudah menganggap Wakana sebagai adiknya, atau mungkin Wakana yang menganggap Eijun sebagai adik, sebab Eijun selalu lupa akan segala hal dan mau tidak mau Wakana harus mengingatkannya. Eijun kemudian menggeleng setelah mendapatkan jawabannya. "Tidak, tidak. Aku menganggap Wakana sebagai saudaraku sendiri." jawabnya membuat Shinji berdecak tidak puas.
"Padahal kalian cocok." cetus Shinji. "Kau itu pemain baseball sedangkan Aotsuki-san itu seorang guru. Kalian benar-benar cocok, tahu?"
Eijun tertawa lagi mendengar Shinji. Memang benar bahwa Wakana baru saja menerima pekerjaan sebagai tenaga pengajar di sekolah dasar. Wakana itu hebat, meski wajahnya selalu jutek dan tegas, ia sangat lembut ketika didepan anak-anak. Bahkan Eijun yang saat itu melihatnya langsung saja melongo tidak percaya.
"Tidak, kok. Meski banyak orang yang bilang begitu. Seperti kau, Kane. Banyak yang bilang kami berdua cocok dan saling mengerti. Kenapa tidak memulai sebuah hubungan saja? Begitu pertanyaan orang-orang. Kami juga tahu kami cocok, tapi kami memutuskan untuk tidak saling bersama. Sebab, kami hanya cocok sebagai sahabat. Kalau untuk memiliki hubungan lebih jauh lagi, kami takut kehilangan kekasih sekaligus sahabat." Eijun menerawang ke depan sana sebelum mereka berbalik dan menuruni tangga. "Dan itu lebih menyakitkan dari apapun."
Kanemaru Shinji menatapnya dalam diam. Ia tidak tahu bahwa Eijun dan Wakana memiliki hubungan yang rumit. "Begitu ya … tampaknya kau sangat menyayanginya sebagai saudara."
Eijun mengangguk dengan senyuman manis di wajahnya. "Tentu saja. Keluarga kami sangat dekat sekali. Itulah kenapa aku menganggapnya sebagai saudara."
…
Eijun duduk di halte bis. Ia memerhatikan sekelilingnya. Padahal baru dua tahun ia tidak pulang ke Nagano tapi di sini banyak yang sudah berubah. Desa ini tidak seperti saat dahulu, saat ini desa lebih maju, hampir menyerupai kota tapi dalam versi sederhana dan tidak menghilangkan kesan tradisional khas desanya. Dan juga kini Nagano menjadi lebih dikenal luas oleh banyak orang. Tentu saja ia menjadi bangga dan senang sekali.
Ketika Eijun tengah melamunkan tentang masa depannya, sebuah mobil berwarna biru tua berhenti di depannya membuat Eijun langsung berdiri dan mendekati mobil itu. Salah satu kaca mobilnya terbuka dan ia bisa melihat Wakana dengan jelas yang sedang menyetir.
"Padahal sudah kubilang tidak usah menjemput." kata Eijun alih-alih menyapa.
"Halo, Eijun. Selamat sore." Wakana lebih dulu menyapa, agaknya menyindir Eijun yang malah protes lebih dulu.
Eijun tertawa kecil memperlihatkan deretan giginya. "Sore juga, Wakana."
"Masukkan kopermu kemari dan cepatlah naik." Wakana membalas ketus dan menyuruh Eijun untuk segera.
"Baik, baik." Eijun berjalan mengambil koper dan menggeretnya. Setelah itu ia membuka bagasi dan menaruh kopernya disana. Setelah itu ia berjalan menuju kursi di samping supir dan mulai menyamankan diri. "Kau ada waktu luang ya sampai bisa menjemputku?" tanya Eijun masih penasaran. "Padahal kalau sibuk tidak usah."
Wakana hanya mengendikkan bahunya. "Tidak tuh. Aku memiliki waktu luang di sore hari. Kupikir kau akan sampai siang hari. Kalau siang, aku memang tidak punya waktu. Tapi kalau sore, aku punya waktu karena jam kerjaku sudah habis." jelasnya kemudian menyalakan kembali mobilnya.
Eijun mengangguk saja sambil ber-oh-ria. Ia memerhatikan seisi mobil yang dikendarai Wakana. "Ini milik Paman ya kalau tidak salah?" tanya Eijun memastikan. Ia agak lupa-lupa ingat dengan mobil ini. Rasanya mobil ini milik Ayahnya Wakana.
Anggukan Wakana membuat Eijun terkekeh. "Mobil butut," kata Wakana agak sebal. "Padahal sudah kubilang pada Ayah untuk menjualnya saja. Tapi ia bilang mobil ini penuh kenangan jadinya ia melarang untuk dijual. Padahal kalau diliat lagi, mobil ini sudah versi lama dan beberapa kali masuk bengkel."
"Sudah tua." balas Eijun. "Mobil ini sudah ada sewaktu kita kecil, kan? Sudah tua sekali ya."
"Tentu saja, makanya aku ingin menjualnya dan menggantinya yang baru."
"Jangan," Eijun mencegah dengan ekspresi seriusnya. "Mobil ini 'kan penuh kenangan. Seperti yang Paman katakan. Kita pernah naik mobil ini bersama ketika mengantarkan aku ke stasiun saat hendak pergi ke Seidou, 'kan?" kalau digali lagi ingatannya, Eijun baru ingat bahwa saat itu Ayah Wakana yang mengantar Eijun memakai mobil ini menuju stasiun. Dan jika digali lebih dalam, ada banyak kenangan di mobil ini. Contohnya ketika ia dan Wakana baru pulang dari pertandingan baseball antar sekolah saat SMP.
Wakana mendengkus geli. "Aku heran kau masih ingat."
"Tentu saja." Eijun terdengar percaya diri dan membanggakan dirinya. Setelah itu terjadi keheningan yang cukup lama. Eijun sibuk dengan dirinya yang kelelahan sementara Wakana yang berusaha fokus dengan jalanan di depannya. "Bagaimana kabarmu, Wakana?" tanya Eijun setelah beberapa saat.
Wakana sedikit menoleh lalu kembali lurus ke depan. "Pertanyaanmu agak telat, tapi, ya, aku baik-baik saja seperti yang kau lihat." jawabnya dengan jelas. "Lalu bagaimana denganmu? Sudah siap menjadi pemain pro?" tanya Wakana diakhiri dengan godaan di akhir pertanyaan.
Eijun mendengkus dan bibirnya melengkung menahan senyum. "Tentu saja aku sudah siap. Tapi agak gugup juga mendengar bahwa aku akan tinggal di luar negri …"
"Gugup kenapa?" Wakana bertanya.
Eijun diam sejenak, ia memerhatikan jalanan di depannya dengan hati yang agak kacau karena rindu yang selalu ia pendam. Aroma khas Nagano hampir ia lupakan, terlebih bagaimana suasana di Nagano. Jika ia melangkah lebih jauh lagi, akankah ia benar-benar melupakan seperti apa rasanya di Nagano?
"Kau terlalu berpikir berlebihan." ucap Wakana setelah melihat keterdiaman Eijun yang cukup lama sehingga membuat sahabatnya menoleh kearahnya. "Kenapa?" melihat itu Wakana inisiatif bertanya. "Apa yang kau takutkan kali ini?"
Eijun menghela napasnya. Pandangannya kembali lurus ke depan. "Aku takut," ungkapnya dengan suara pelan. "Aku takut bahwa ketika aku di sana, aku akan melupakan tempat ini."
Mendengar kegelisahan Eijun membuat Wakana terkekeh geli. "Astaga, aku kira apa." kata Wakana membuat Eijun sedikit kesal. "Kampung halamanmu tidak akan kemana-mana, mereka masih di sini, tempat yang kau sebut dengan rumah."
Kekesalan Eijun mereda ketika Wakana menanggapi kegelisahannya dengan baik. "Aku tahu, aku hanya aku terlampau nyaman di sana sehingga aku jarang pulang kemari." balas Eijun lagi. Kali ini ia menatap Wakana dengan serius.
"Begitulah perjalanan, Eijun." Wakana membalas lagi. "Penuh dengan rasa takut. Takut akan reaksi semua orang, takut akan pandangan semua orang, takut akan tentang apa yang terjadi ke depannya. Tapi, jika kau berdiam diri di tempat yang sama dan melakukan hal yang sama. Duniamu tidak akan bergerak. Percayalah padaku, semua ketakutanmu itu hanya kegelisahan sementara. Kau memang akan sibuk, tapi setidaknya jika kau lelah kau memiliki tempat untuk pulang yang bisa kau sebut dengan rumah. Dan kami, akan menunggumu pulang dengan sepenuh hati."
Eijun terdiam lagi. Berkali-kali akan ia ucapkan terima kasih pada Wakana, sebab hanya Wakana-lah yang selalu membantunya, hanya wanita di sampingnya lah yang selalu mendengar keluh kesah Eijun sepenuh hati. Dan selalu Wakana-lah yang memberikan semua kalimat semangat untuknya.
"Jangan menyerah untuk melihat dunia yang baru, Eijun. Kau layak mendapatkannya. Memang di awal mungkin akan sangat berat. Tapi jika kau menjalaninya dengan sepenuh hati, semua itu akan terasa ringan."
"Terima kasih," Eijun menatap Wakana dengan binar tulus di matanya. Ia tersenyum hangat. "Terima kasih, Wakana."
Wakana balas tersenyum dan menoleh menatap sahabatnya ketika mobilnya berhenti di lampu merah. "Sama-sama, Eijun."
…
"Barang-barangmu kapan sampai?"
"Sepertinya besok baru sampai."
"Kau akan di sini sampai kapan?"
"Seminggu. Setelah itu aku berangkat ke Amerika."
Eijun menurunkan koper dari bagasi Wakana, sementara Wakana mengambil tasnya di dalam mobil dan berjalan di belakang Eijun. Ia memerhatikan rumah kediaman Sawamura yang sepi. Dengan langkah pasti, ia mengikuti Eijun. Hingga akhirnya Eijun membuka pintunya dan melihat seisi rumahnya yang gelap.
"Di mana semua orang?" tanya Eijun heran, ia menatap Wakana.
Wakana mengendikkan bahunya. Pura-pura tidak tahu. "Entahlah? Mungkin semuanya sibuk."
"Ooh," Eijun sedikit murung kemudian memasuki rumahnya dengan menggeret koper. "Tadaima." sapa Eijun seperti biasa diikuti Wakana. Ia menghirup aroma rumah yang ia rindukan, iris karamelnya bergerak mencari saklar, ketika sampai di ruang tengah dan menyalakan lampu dan begitu terkejut melihat seisi ruangan yang didekorasi warna-warni dengan meriah. "Selamat datang di rumah, Eijun." ejanya melihat tulisan yang menggantung di dinding.
"Selamat datang, Eijun!" semua anggota keluarganya berteriak, beberapa dari mereka meledakkan confetti membuat suasana semakin meriah. Ayahnya, Ibunya, Kakeknya tersenyum lebar penuh haru memerhatikan Eijun yang berdiri kaku. Beberapa sahabat Eijun datang dan bersorak penuh semangat.
Sementara Eijun—pria yang beranjak dewasa itu mulai meneteskan air matanya. Ia menggosokkan kedua matanya dengan penuh haru. "Aku pulang."
Ibunya yang pertama kali maju dan memeluk anak semata wayangnya dengan hangat. "Selamat datang, Ei-chan. Selamat datang di rumah."
Wakana yang berdiri di belakang Eijun tersenyum lebar. Ia kemudian mendapati seseorang yang ia kenal sebagai tunangannya berdiri di sudut ruangan dengan senyum kecil. Wakana tersenyum dan memberi gestur bahwa misi membawa Eijun pulang sudah selesai.
…
Malamnya setelah pesta selesai, Eijun mendapatkan pesan masuk dari ponselnya. Segera ia membukanya. Sudah pasti bukanlah Wakana, sebab ia dan Wakana sedang dalam satu desa, tidak mungkin mereka saling mengirim pesan. Tinggal berjalan beberapa langkah saja karena rumah mereka cukup dekat.
Haruno
Kau sudah sampai di Nagano? Bagaimana rasanya kembali ke rumah? Oh iya, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat lalu mengunjungi Nagano~ Berikan salamku pada Wakana-san juga! Aku merindukannya! 3
Eijun terkekeh geli mendapatkan pesan dari kekasihnya. Dan dengan cepat ia membalasnya, tidak ingin membuat kekasihnya menunggu lama.
Sebuah alasan bahwa ia dan Wakana yang cocok tapi tidak memutuskan untuk memiliki hubungan lebih jauh lagi adalah mereka memiliki keputusannya masing-masing. Wakana memilih seorang pria yang melengkapi kekurangan di dalam hidupnya, pun Eijun yang memilih Yoshikawa Haruno sebagai kekasihnya.[]
