Ice terbangun dari tidurnya. Lalu menatap keluar jendela, dimana langit masih dihiasi awan gelap dengan tirai airnya. Kemudian matanya beralih pada jam digital di atas nakas.
Pukul empat sore.
Dirinya terkejut mengetahui sudah tidur cukup lama sampai melewatkan waktu ashar. Bergegas Ice menuju kamar mandi. Lalu menunaikan kewajiban yang tak sengaja tertunda.
᯽᯽
Sore yang indah, diiringi melodi hujan yang menenangkan. Tak ada orang di rumah. Ditambah satu termos kecil coklat panas dalam genggamannya. Sungguh sebuah kenikmatan yang hakiki bagi seorang Ice.
Rumah yang memiliki banyak penghuni ini seringkali jauh dari kata tenang. Kesempatan seperti ini langka terjadi, karena itu Ice ingin memanfaatkannya sebaik-baiknya.
Dan juga berharap momen sederhana ini menjadi penghibur untuknya, yang merasa saat ini hasil belum sesuai harapan.
Ice mendadak berhenti.
'Oh, ada orang ternyata.'
Mata mengantuk Ice hampir saja tak menangkap kehadiran si remaja bertopi terbalik yang sedang berada di balkoni. Melihatnya membuat Ice mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar. Ice memutuskan untuk mendatanginya.
Sejenak Ice membenarkan lidah topinya yang turun. Kemudian dengan pelan dia membuka pintu balkoni. Berjalan ke arah sosok yang sedang memunggunginya. Dari sebelahnya, Ice dapat melihat matanya terpejam dengan mulut sedikit terbuka menggumamkan sesuatu yang tak dapat didengar jelas olehnya.
Tepat disaat Ice berusaha menebak apa yang sedang dilakukan kembar ketiga BoBoiBoy itu, mendadak dia menoleh.
"Oh Ice. Sejak kapan kamu di sini?"
Raut terkejut yang jelas sekali itu membuat Ice tersenyum geli dalam hati.
"Sejak Ice melihat Kak Gempa ada di sini."
Kembarannya itu mengangguk dengan mulut membulat.
"Kalau kamu mencari mie, ada di rak paling atas sebelah kanan."
Ice terbatuk kecil. Lantas menggeleng.
"Kenapa? Mau dibuatkan?"
Ice kembali menggeleng. Kali ini tersenyum tipis.
"Apa aku sebegitu sering meminta makan padamu sampai-sampai semuanya tentang makanan?"
"Kalau iya?"
Pertanyaan yang diakhiri tawa kecil itu hanya dibalas Ice dengan senyuman. Karena memang benar. Jika merasa lapar, Ice terbiasa akan mencari si kembar ketiga itu. Baiklah, Ice mengaku dirinya sedikit manja.
Tapi kali ini bukan karena itu. Sungguh.
Ice melirik dari ekor matanya pada wajah kakak kembarnya. Ada raut lelah yang samar-samar diwajahnya. Namun Ice tahu sikap cerianya saat bersamanya sekarang bukan dibuat-buat.
"Apa yang Kakak lakukan di sini?" akhirnya pertanyaan yang sejak tadi Ice ingin tanyakan keluar.
"Sedang ingin mendengar suara hujan," sang kakak tersenyum tanpa melihatnya.
"Mumpung gak ada halilintar," tambahnya.
Ice menaikkan sebelah alis.
"Halilintar?"
"Eh, bukan Kak Halilintar lho, ya."
"Pfft—"
Keduanya tertawa kecil, mengingat nama-nama kembar BoBoiBoy yang tergolong unik. Kesalahpahaman seperti ini sudah biasa terjadi. Bahkan bagi mereka sang pemilik nama.
"Rasanya tenang mendengar suara hujan, ya."
Ice ikut melihat ke arah pandangan Gempa tertuju. Di mana tetesan hujan menghiasi kelopak bunga yang ditanam saudara kembar keenam mereka—Thorn.
"Mendengarnya membuat hati dan pikiran terasa ringan."
Ice mengangguk. Sebagai penyuka hujan Ice dapat memahaminya.
Mendadak Ice terpikir sesuatu.
Saat ini memang tak ada angin kencang, mereka tetap kering dinaungi atap balkoni. Namun sejuk masih terasa di kulit. Ice yang memakai sweater birunya saja masih dapat merasakannya. Walaupun sebenarnya dia tak masalah karena kebal terhadap udara dingin. Lantas dia menoleh ke sebelah. Melihat seragam sekolah yang masih melekat di badan sang Kakak. Pakaian itu tentu tak akan mampu mengatasi cuaca dingin sekarang.
"Lebih baik mendengarnya di dalam saja, di sini dingin."
Gelengan kecil diberikan padanya. Hal yang mampu membuat Ice heran. Tak biasanya Gempa menolak nasihat kecil dari orang lain.
"Kalau di dalam aromanya nggak akan tercium."
Ice menaikkan sebelah alisnya. Penasaran namun tak berkata apa-apa.
Gempa tersenyum lebar.
"Petrichor."
Ah, Ice baru ingat. Gempa menyukai petrichor. Aroma khas yang dihasilkan tanah kering saat disiram hujan. Lagi-lagi Ice dapat memahaminya, karena dirinya menyukai hujan otomatis dirinya juga menyenangi petrichor.
"Kak."
Tanpa menoleh, orang yang dipanggil merespon dengan gumaman. "Hn?"
"Pergi yuk."
Dua kata itu sukses membuat Gempa menoleh padanya. Dengan alis bertaut dia bertanya.
"Kemana?"
Ice tersenyum tipis. Yang dimata Gempa terkesan misterius.
"Ada deh."
Gempa menatap langit yang masih menurunkan hujan. Belum ada tanda-tanda akan berhenti. Namun setidaknya tak selebat sebelumnya.
"Sekarang?"
"Iya. Ganti baju dulu sana."
Tanpa berkata-kata Ice masuk lebih dulu ke rumah. Meninggalkan sang kakak yang masih bertanya-tanya.
᯽᯽
Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian tebal dan hangat. Gempa mendatangi Ice yang terlihat sibuk mencari sesuatu. Entah kenapa rasanya lucu mengingat Ice biasanya tak terlalu suka menggunakan energinya.
"Yakin mau pergi sekarang? Biasanya kamu paling suka tiduran kalau sedang hujan."
Ice berjalan ke arah Gempa dengan membawa barang yang tadi dicarinya.
"Iya, mumpung hujannya lagi bagus."
Di saat Gempa ingin mengambil payung di keranjang, Ice yang telah mengenakan jas hujan berwarna biru muda mencegahnya. Dan langsung memasangkan jas hujan berwarna kuning untuknya.
"Gak usah bawa payung. Pakai ini saja."
Tak lupa Ice meletakkan sepasang sepatu boots berwarna merah di depan kakinya.
"Dan juga ini."
Gempa mengerjap melihat sikap Ice yang lain dari biasanya.
"Kenapa? Beginilah rasanya setiap kali Kakak memperlakukan kami seperti anak kecil."
Ice berucap dengan nada setengah mengejek. Membuat sosok di depannya sedikit mengerucutkan bibir.
Tanpa menghiraukannya, Ice membuka pintu rumah lalu keluar. Hal itu membuat Gempa mau tak mau mengikutinya.
᯽᯽
Di luar jalanan sepi. Hanya ada suara tetesan air yang menjatuhkan diri ke permukaan tanah. Serta suara hewan dan serangga yang bersuka cita menyambut musim hujan.
Netra emas Gempa menatap sekelilingnya dengan takjub. Telapak tangan kanannya terangkat merasakan tetesan hujan.
"Suasananya beda, ya, kalo hujan gini."
Gempa menengadah. Yang membuat wajahnya langsung disimbah air. Kawanan walet yang menari di langit menjadi tontonannya. Tawa kecil yang hampir tak terdengar itu membuat Ice yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum, lalu mengikuti arah pandangannya.
Kwebek!
"Aargh!"
Seekor katak berbunyi keras tepat di depan kaki Ice. Membuat sang empunya kaki kaget dan tak sengaja menendangnya jauh.
"Ice!"
"Dia duluan yang mengangetkanku!"
"Hei dua anak TK! Jangan bermain di tengah jalan!"
Seorang pengendara motor berteriak pada mereka. Membuat keduanya otomatis menepi. Tanpa mengurangi kecepatan, pengendara motor itu segera menghilang dari pandangan.
"Apa dia tak bisa membedakan anak TK dengan SMP?"
"Mungkin dia terburu-buru."
Gempa menarik Ice dari tempat itu. Dia tahu adiknya itu merasa kesal karena peringatan mendadak tadi. Namun mereka juga tak berhak marah. Karena walaupun jalanan lengang, bukan berarti mereka boleh sesukanya berdiri ditengah-tengah.
"Kamu mau pulang?"
"Nggak. Di rumah pasti sudah ada mereka."
Mereka yang dimaksud Ice adalah lima saudara kembar yang lain. Gempa tahu Ice menyukai suasana tenang hujan. Karena itu alasan Ice tak ingin pulang adalah karena tak ada kata tenang ketika semua saudara berkumpul. Akan ada saja kehebohan yang dibuat mereka. Terlahir sebagai tujuh kembar membuat mereka layaknya tinggal bersama teman sebaya.
"Ayo berteduh dulu."
Ice menunjuk halte bis yang tak jauh dari mereka. Dia berjalan terlebih dulu diikuti kakaknya.
Baru saja Gempa duduk, Ice sudah mengulurkan cangkir padanya.
"Nih minum."
Gempa menerimanya dan melihat isi cangkir. Ternyata itu adalah coklat panas dari termos kecil yang Ice bawa.
"Nih biskuit."
Lagi-lagi Gempa terkesima dibuatnya. Dia tak tahu Ice membawa benda-benda itu bersamanya.
"Makan saat hujan memang terbaik."
Ice berkata dengan mulut penuh. Gempa mengulum senyum melihatnya, terlihat sekali jika saat ini adiknya sedang bahagia. Tak sia-sia dia mau menemaninya.
"Biasanya hujan gini, makan mie kuah terasa lebih nikmat, atau paling nggak tidur."
"Kamu mau pulang?"
Tawar Gempa yang langsung disambut gelengan oleh Ice.
"Nggak dulu."
Ice meminum coklat panasnya sejenak. Yang diikuti Gempa.
"Aku selalu ingin pergi di saat hujan begini. Tapi waktu itu belum punya teman yang sesuai."
"Blaze?"
Ice tersenyum kecut. Membuat Gempa memiringkan kepala bingung.
"Yang ada suara indah hujan tak terdengar karenanya."
Seketika Gempa dapat membayangkan Blaze yang berteriak-teriak kegirangan melihat hujan. Memikirkan tingkah kekanakan Blaze—kembar sebelum Ice—membuat Gempa tertawa. Memang kembar keempat BoBoiBoy itu selalu bersemangat bahkan untuk hal kecil sekalipun. Berbanding terbalik dengan Ice yang selalu tenang.
Ckiiit!
Suara rem yang berbunyi nyaring membuat dua orang yang sedang asyik mengobrol itu melihat pada sang pelaku. Seorang remaja yang menaiki sepeda dengan jas hujan berwarna jingga berhenti tepat di depan mereka.
"Wah, aku kira anak TK mana yang belum dijemput. Ternyata saudaraku sendiri."
Blaze berkata dengan raut terkejut. Lalu tertawa sendiri dengan lelucon yang dibuatnya.
"Panjang umur!"
Ice dan Gempa memekik bersamaan.
Blaze menatap keduanya bergantian. Kemudian memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat.
"Oi! Oi! Apa ini? Kalian membicarakanku? Pantas saja tadi bulu hidungku meremang."
Setelah itu Blaze bercerita tentang dirinya bersin saat bersepeda. Yang kemudian merambat pada hal lain yang terjadi padanya hari ini. Blaze bercerita dengan penuh semangat. Suaranya terdengar jelas, seolah dia telah menelan suara hujan.
Gempa yang tadinya mendengarkan Blaze menoleh begitu merasakan Ice menatap datar padanya.
Pandangannya itu seolah berkata, 'Kan aku sudah bilang.'
Gempa hanya bisa menyimpan tawanya dalam hati menyaksikan kedua kembarannya yang memasang ekspresi berlawanan. Yang satu bersemangat bercerita sedangkan yang satu lagi mendengarkan dengan tampang datar.
"Apa kalian mencium itu?"
Pertanyaan Gempa mengundang keduanya menoleh.
"Kenapa? Kakak kentut?"
Pertanyaan polos Blaze membuat Gempa menatap datar adiknya itu.
"Bukan, maksudku petrichor."
Blaze mengangguk bersemangat.
"Tentu. Blaze berlama-lama bersepeda karena ingin puas-puas mencium petrichor!"
Ice berkata tiba-tiba.
"Ini seperti perkumpulan para pluviophile."
Kening Blaze berkerut.
"Hah upil?"
"Pluviophile!"
"Iya itu maksudnya."
Ice kembali berkata.
"Penyuka hujan disebut pluviophile."
"Ooh!"
Blaze dan Gempa ber'oh serentak. Baru tahu ada istilah seperti itu. Tak ada yang menyangkalnya karena Ice benar mereka menyukai hujan.
Gempa menatap jam tangannya. Dia terkejut. Ternyata sudah sejam lebih mereka keluar. Waktu tak terasa berlalu ketika melakukan sesuatu yang menyenangkan.
"Sudah sangat sore, ayo pulang. Takutnya Tok Aba butuh kita."
Kedua kembarannya mengangguk. Mereka kemudian berjalan pulang. Ditemani Blaze yang bercerita sambil bersepeda dengan pelan.
'Oh!'
Ice tiba-tiba menoleh pada Gempa. Orang yang merasa ditatap ikut menoleh.
"Tadi waktu di balkoni Kakak menggumamkan apa? Sepertinya khusyuk sekali."
Pertanyaan Ice membuat Gempa cukup lama terdiam. Hal itu membuat Ice merasa telah menanyakan sesuatu yang tak perlu diketahuinya. Maka dengan buru-buru dia menambahkan.
"Kalau gak mau bilang juga gapapa."
Dengan cepat Gempa membalas.
"Aku akan bilang."
Perkataannya itu membuat Ice kembali menatap kakaknya yang saat ini tersenyum padanya.
"Tadi aku berdo'a minta penghiburan. Karena hasil yang belum sesuai harapan. Dan sebelum selesai melakukannya kamu datang. Terimakasih."
Netra aquamarine Ice melebar. Sejenak dia tertegun, kemudian membalas senyumnya.
"Terimakasih kembali."
Tak disangkanya, di waktu yang sama, mereka punya do'a yang sama.
"Hei kalian ngomongin apa?" Blaze yang baru sadar sejak tadi dia bicara sendiri.
𝑻𝒂𝒎𝒂𝒕
050322
Cerita ini juga dipublikasikan di apk jingga lapak sebelah dengan nama akun yang sama.
