悪夢(Akumu)
Disclaimer: Ken Wakui.
Warning: OOC parah banget banget, typo, ga jelas, slight!NSFW, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event bulanan FFA dengan tema, "In the middle of night".
Di tengah malam, pikiran Seishu Inui menjerit, mencakar-cakar, dan merobek napasnya sendiri dengan kekejaman yang sulit didefinisikan. Kenyataan yang sudah menjelma mimpi tahu-tahu menghantuinya dalam tidur. Mengenai rumah lama yang terbakar, kondisi Akane Inui yang selalu menjadi pertanyaan, apakah ia pantas dipertahankan atau sebaiknya, panggilan pulang untuknya memang segera dipersiapkan? Akane yang akhirnya meninggal usai hanya dibiarkan larut pada penderitaan, luka bakar di wajah kiri ... semua itu menghantuinya secara runtun. Seolah-olah baru terjadi kemarin sore, atau bahkan beberapa detik lalu.
Napasnya tentu saja terengah-engah. Segala kejadian yang terlalu mepet mana mungkin tak menyebabkan tubuhnya sesak? Jadilah Inui memutuskan beranjak sebentar dari ranjang. Dapur merupakan satu-satunya destinasi yang bisa Inui bayangkan, karena di sana terdapat gelas serta air. Ia ingin minum, lalu mungkin duduk-duduk sebentar, guna menghanyutkan gumpalan mimpi buruk yang kini tertumpuk di sudut pikiran.
"Hmmm ... aneh. Kok rasa-rasanya ada yang mengganjal, ya?"
Air yang Inui tuangkan ke gelas berakhir luber ke mana-mana. Usai menyadarinya dengan panik Inui bergegas membersihkannya menggunakan lap. Sebenarnya pula dia ini kenapa yang apabila benar mimpi-mimpi tersebut mengganggunya, Inui akan berteriak "Basi!" dengan intonasi yang dikencangkan. Usianya sudah enam belas. Yang melihat kematian Akane hanyalah dirinya yang masih SD, sedangkan yang sekarang tidak. Jadi apa alasannya sampai Inui harus terusik, padahal ia telah berhenti melihatnya?
"Tidak. Kurasa bukan itu. Aku sempat memimpikan sesuatu yang lain, tetapi aku melupakannya. Ini bukan tentang kakak atau rumah lama yang terbakar. Sebuah hal yang kayaknya familier "
Sembari mereguk likuid jernih itu Inui berpikir ulang. Waktu sepuluh menit juga ia habiskan untuk duduk-duduk di ruang makan, tetapi ujung-ujungnya nihil membuat Inui menyerah. Memang lebih baik ia tidur. Esok hari Touman memiliki rapat penting yang mesti dihadiri, sehingga kondisi Inui harus fit. Siapa tahu jawabannya hanya akan terlihat di hari esok. Mungkin jika Inui mengajak Hajime Kokonoi mengobrol, Inui bisa–
"... Koko?"
Nama teman masa kecilnya itu Inui sebut, dengan nada yang tidak pernah ia bayangkan. Jendela yang terbentang bebas gara-gara ibu lupa menutup gorden, kini merefleksikan wajah Inui yang pucat pasi. Sebuah bayangan di mana Inui tertidur, kemudian Koko menciumnya tepat di bibir sembari menggumamkan Akane, menjadi pemandangan yang tiba-tiba saja dapat Inui lihat. Senyuman Koko yang sendu juga tertangkap oleh kesadarannya, entahlah ia lelah karena Koko tahu semua ini salah, atau Koko justru kecewa sebab Inui bukanlah Akane.
Perutnya pun mendadak mual, tetapi ia memilih menarik selimut dibandingkan ke kamar mandi. Koko yang menciumnya, tetapi ia justru memanggil Akane dan bukannya Seishu, bahkan lebih mengerikan dibandingkan mimpi buruk barusan. Kira-kira apakah itu nyata, atau benar-benar bunga tidur kelewat iseng? Lalu memikirkannya membuat Inui terlelap. Ada setitik air mata yang menggenang di pelupuk mata, dan tak sampai kepada siapa pun.
Dalam mengalirnya fase yang dinamakan kehidupan, hari yang membosankan pasti adakalanya harus dilewati, dan itulah yang tengah Inui rasakan sekarang ini. Sano Manjiro atau biasa dipanggil Mikey, tiba-tiba saja memupuskan jadwal untuk rapat. Katanya ia mendadak malas, ditambah lagi ini kurang penting sebenarnya. Bisa dibahas nanti-nanti yang karenanya lah, Inui menganggur. Bingung juga enaknya mencari keseruan seperti apa.
"Bengong mulu. Nanti kerasukan setan, lho."
Sekaleng minuman dingin dilemparkan ke arah Inui tanpa aba-aba. Refleks sebagai petarung tentu membuat Inui dapat menangkapnya dengan mudah, lalu ia berterima kasih pada Hajime Kokonoi yang juga bosan. Mereka pun minum dalam bisunya makna yang sulit diraba-raba. Walaupun Inui selalu penasaran terhadap isi kepala Koko, kali ini rasanya berbeda. Tanda tanya yang ia miliki untuk Koko jauh lebih mencekiknya, seolah-olah Inui bakalan mati perlahan jika Koko mulai menjawab "Tidak tahu."
"Kepikiran sesuatu yang seru enggak?" tanya Inui penuh basa-basi. Soda yang membanjiri mulutnya dengan dingin, dan rasa yang meletup-letup heboh, entah bagaimana lama-kelamaan hambar. Pasti karena pikirannya masih terjebak pada malam yang lalu.
"Cari uang seru. Korbannya belum ada tapi, dan itu makan waktu juga."
"Uang melulu. Kapan, deh, kau tidak memikirkan itu?"
"Nah. Inui sendiri memikirkan apa? Soal Black Dragon yang menyatu sama Tokyo Manji?" Semua juga tahu Inui itu loyal terhadap Black Dragon yang dulunya dipimpin Sano Shinichiro, selain Koko yang Inui sebut sebagai sahabat baik. Konflik super panjang telah menimbulkan banyak hal. Intinya Hanagaki Takemichi berjanji untuk membangkitkan Black Dragon, kemudian keduanya bergabung dengan Touman.
"Coba tebak."
"Apa yang terjadi jika Jepang mengalami inflasi?"
"Aku bukan anak ekonomi kayak kamu, Koko."
"Mau diramal, kah? Kebetulan aku bawa kartu-nya. Tarot lebih akurat, lho." Mendengar itu Inui memutar bola matanya malas. Kapan, deh, dia mau menerima, sekalipun Koko adalah sahabat baiknya Inui takkan memercayai ramalan? Tarot yang sempat dikeluarkan dari saku celana Koko simpan lagi. Mendadak Inui penasaran, apakah Koko kecewa atau biasa saja?
"Kau kecewa karena kutolak mentah-mentah enggak?"
"Kapan kau tak menolakku memangnya?"
Kening Inui disentil daripada Koko makin bosan. Wajahnya yang diam-diam Koko artikan sebagai cantik itu, kini menampilkan masam dengan mengerucutkan bibir. Sekilas Koko tersipu merah, tetapi sebelum Inui boleh menyadarinya ia lebih dahulu memalingkan wajah. Dada yang berdebar-debar akan ia marahi dulu. Jantungnya jelas salah besar, karena selalu saja mengira Inui sebagai dia.
"Benar juga. Sebenarnya aku sedang memikirkan soal cinta." Netra Koko mengerjap-ngerjap mengindikasikan heran. Dari bermain tebak-tebakan, inflasi yang menyelusup dengan ringan padahal ia berat, lalu ramalan kartu tarot, agaknya sesuatu sekali apabila menjadi cinta. Lagi pula Inui menyukai siapa, sampai-sampai Koko tak memiliki petunjuk sejak awal?
"Gebetan gepeng?"
"Gepeng? Belum mati terlintas truk dia." Seram sekali khayalannya. Tahu begini sebelumnya, Koko meramal dulu untuk menggambarkan keadaan dari harinya, sekalian menolong Inui agar dia menentukan langkah yang tepat.
"Contohnya Hatsune Miku."
"Orang asli, kok, ini."
"Kuberikan nasihat, deh. Cinta itu butuh uang, tentu saja. Biar Inupi bisa membelikan dia hadiah, mengajaknya makan malam romantis, lalu jalan-jalan di hari Minggu. Jadi, ayo cari uang. Akan kubantu."
"Boleh, tetapi aku mau menggunakan caraku sendiri."
Cara ilegal yang membuat Koko disanjung para gangster memang menggiurkan. Namun, Inui hanya merasa jatuhnya ia memanfaatkan Koko. Padahal uang yang susah payah berkumpul akan diminta bermuara pada Koko. Bahwa ujung-ujungnya nama yang Seishu Inui sukai adalah Hajime Kokonoi sekarang, dan Inui tak memiliki waktu yang memikirkan, sejak kapan ia memiliki sebuah cara untuk mencintai Koko sebagai pujaan hati?
Agar tidak membuang-buang waktu, tanpa penjelasan Inui langsung mengajak Koko ke supermarket. Di sana mereka membeli lemon, gula pasir, gelas plastik, serta es batu dalam jumlah yang cukup banyak. Pemikiran Koko yang semula berputar-putar kini tersambung dengan idenya Inui, yakni Inui berinisiatif menjual lemonade, bukan?
"Kau tahu cara bikinnya?"
"Mudah saja. Tinggal campurkan semuanya bersamaan, aduk-aduk, lalu masukkan es batu. Aku suka bikin di rumah."
"Kirain punya resep tersendiri."
Turun-temurun dari nenek moyang keluarga Seishu, mungkin? Tetapi terserah Inui saja, mengingat dialah yang mencetuskan ide tersebut. Guna mempermudah diri, Inui mengajak Koko berjualan di depan rumah Inui. Meja, pitcher glass, ataupun kursi, jadinya tinggal diambil dari rumah. Tak ketinggalan Koko turut membuat papan harga, untuk mempromosikan lemonade buatan Inui.
"Cobalah dulu. Mungkin menurutmu kurang sesuatu." Segelas lemonade dingin disodorkan kepada Koko. Warnanya yang kuning cerah, dan es batu yang menguarkan hawa dingin, mana mungkin membuat Koko memiliki alasan untuk menolak. Dalam tiga kali regukan ia langsung menghabiskannya. Kata "enak" lantas keluar dari kekagumannya yang pertama-tama masih ditahan, oleh kesibukan meminum lemonade.
"Benar-benar sering bikin ternyata. Aku jadi ingin mencobanya juga."
"Coba aja. Caranya mudah, bukan?"
Racikan ala Hajime Kokonoi jadi dalam waktu kurang dari lima menit. Saat ia mencicipi buatannya sendiri barang sejengkal, ternyata rasany tidak seenak yang diramu Inui. Kira-kira apa yang membedakannya, atau mungkin yang begini wajar menilik jam terbang mereka berbeda? Koko yang mencari uang dengan mencelupkan tangannya pada kubangan hitam, benar-benar gagal memahami prinsip yang satu ini.
"Ibu pernah bilang, meskipun resepnya sama rasanya akan berbeda, apabila dibuat oleh orang yang berbeda. Walaupun menurut Koko tak seenak buatanku, untukku ini tetap enak, kok. Soalnya ini adalah rasa milik Koko."
Pelanggan yang datangnya secepat kilat membuat Koko tidak menjawabnya lagi. Bertubi-tubi pula sehingga baru memulai saja, seketika mereka sibuk melayani pembeli yang antreannya tumpah ruah. Mumpung Koko merasa ada kesempatan yang hadir, ia pun sesekali menatap wajah samping Inui. Pada akhirnya sebanyak apa pun Koko melarang dirinya sendiri, pesona Inui akan menculiknya lagi. Inui yang dalam hal ini sayangnya merupakan Inui dalam tanda kutip.
Inui yang ingin Koko jadikan sebagai doanya bukanlah Seishu Inui. Segala-galanya sudah jelas sejak awal, tetapi Koko terlalu takut untuk memiliki kata-kata. Padahal Inui amat membutuhkannya–ucapan dari lidah Hajime Kokonoi seorang, se-klise apa pun itu–akan tetapi yang Inui perlukan adalah Koko yang mendatangkan kalimat, "Aku mencintaimu".
Bagaimana jika Koko malah membawakan dirinya yang lain yang meluluhlantakkan ekspektasi Inui?
Bagaimana kalau pertemanan mereka rusak, karena lukisan Inui mengenai cinta sepihaknya dirusak oleh Koko yang tetap memilih kematian? Memang Akane itu apa jika bukan kematian? Lebih-lebih sekian tahun sudah berlalu. Akane makin menyerupai kematian, sebab tiada lagi yang tercipta dari masa lalu.
Koko tidak ingin itu terjadi.
Kendatipun ia mengikuti punggung Inui, sebab Inui adalah adik dari wanita yang dicintainya, Koko menghargai persahabatan mereka. Koko pun ingin mengenang Akane secara baik-baik, yakni dengan tak merasa dihantui oleh Akane. Berhenti memilih Akane, atau rasa-rasanya Koko betul-betul dibayang-bayangi, sehingga sedikit-sedikit Koko menengok ke arah kematian. Seolah-olah Akane begitu kejam, egois, makanya ia membuat kehidupan Koko buta, padahal Akane mana mungkin begitu.
Orang yang mati sudah beristirahat di dalam keabadian. Karena Koko masihlah fana, sebisa mungkin Koko ingin bersama Inui. Pasti Akane pun takkan senang, jika Koko terus-menerus mencari Akane yang telah mengikhlaskan semua-muanya, jadilah di tengah malam ia memutuskan berhenti berjuang.
"Wajahmu pucat. Demam, kah?" Punggung tangan Inui menyentuh kening Koko dengan lembut. Netranya justru membeliak, dan seolah-olah akan keluar, menyebabkan Koko menepis kasar tangan Inui. Keheningan mendadak menjamah mereka, sebagai respons atas ketidaknyamanan yang mendadak muncul.
"... Koko?"
"Maaf, Inupi. Kepalaku hanya sedikit pusing. Cuacanya terik banget, sih."
(Tetapi sebenarnya kepala Koko benar-benar pusing, ketika lagi-lagi ia membayangkan Akane-lah yang mengecek keningnya. Bahwa sebanyak apa pun Koko meyakinkan diri sendiri, ia pasti berguguran.)
"Biar kuambilkan obat. Tunggu sebentar."
Pintu rumahnya disambar secepat kilat. Inui langsung sibuk berkeliling mencari rak yang menyimpan obat-obatan, kemudian merogohnya sambil membaca keterangan yang tertera. Namun, Inui tidak menemukannya selain plester yang bertebaran di mana-mana. Jadilah sewaktu Inui keluar lagi, ia buru-buru berpamitan kepada Koko. Menurut Inui seorang pergi ke apotek adalah opsi penting yang mesti diambil, atau ia menyesal.
"Duh. Aku enggak sakit padahal," gumam Koko dengan sangat terlambat. Sepertinya sebentar lagi ia sungguh-sungguh pening. Tidak ada yang sedikit pun Koko bereskan soalnya.
Sementara pada sisi Inui, seribu untung ia dapat tiba di apotek dengan cepat, dan tidak terkurung dalam neraka bernama antrean. Obat sakit kepala seharusnya menjadi satu-satunya yang Inui beli. Namun, sesaat ia terdistraksi oleh kontrasepsi yang dipajang terang-terangan. Penjaga apotek seketika memasang senyuman nakal pada arah pandang Inui.
"Mau beli buat main sama pacarmu? Sini, deh, saya kasih diskon. Dua puluh persen, lho. Lumayan, kan?"
"A-ah ... tidak, kok. Mungkin ..."
Kilas mengenai Koko yang menciumnya kembali terngiang-ngiang. Koko yang membisikkan "Akane" dengan suara yang tidak pernah Inui dengar, mendorong Inui untuk langsung mengatakannya kepada penjaga apotek. Satu obat lagi akhirnya diberikan, barulah Inui pergi dengan perasaan campur aduk. Keputusannya berada di antara tepat dan salah besar, soalnya.
Pemikiran Inui ketika membeli obat itu adalah, ia ingin mendengar suara yang belum pernah ia reka dari Hajime Kokonoi. Ia berharap Koko menciumnya sebagai Seishu Inui, dan menepikan Akane sejauh mungkin agar mimpi terburuknya bergegas hangus. Karena dengan cara yang normal yang hasratnya akan terkesan biasa-biasa saja, Koko mustahil menuruti kemauan Inui.
"Badanku, kok, panas, ya ...?"
Pandangannya hilang-hilang timbul mengakibatkannya harus menginap di rumah Inui, apalagi ketika lemonade selesai dijual langit mulai meninggalkan jingga. Selagi kepala Koko bersandar lesu pada pangkuan Inui, ia pun menyugar rambut hitam Koko yang kian lepek oleh keringat. Napas Koko juga terengah-engah, tetapi ia terus memaksa meminta maaf. Dirinya telah merepotkan Inui, padahal harusnya Koko sudah pulang kemudian mengurus diri sendiri.
"Kalau itu Koko tidak apa-apa, kok. Aku tak sekalipun merasa direpotkan. Omong-omong apa Koko mau ke kamarku? Di sofa enggak enak, bukan?"
"Boleh. Tidur-tiduran di pahamu entah kenapa membuatku gelisah."
Sulit untuk menjabarkannya, tetapi intinya Koko merasa ada sesuatu yang memberontak. Mendorong ia ke sana kemari agar segera melakukan sebuah hal yang bahkan tidak Koko ketahui, apakah itu. Usai mendengar persetujuan dari Koko, tubuhnya langsung Inui papah menaiki tangga. Napas Koko sampai terengah-engah membuatnya dongkol sendiri, karena anggota geng sepertinya justru bertingkah macam kakek-kakek panti jompo.
"Jangan nyalakan lampunya, Inupi."
Tangan Inui sebenarnya tidak sejengkal pun menyinggung keberadaan sakelar. Koko masih tahu, tetapi ia sangat panik setiap kali mengingat wajah Inui yang dilihatnya dari atas, sehingga Koko telanjur mengatakannya dengan nada yang ketakutan. Tatkala tubuhnya dibaringkan di ranjang, lalu Inui berpamitan untuk mandi sebentar, kelegaan yang besar seketika menepuk-nepuk hati Koko. Setidaknya sekarang ini ia dapat beristirahat dari halusinasi akibat demam, sepertinya.
Suhu tubuh Koko meningkat secara drastis. Kepalanya berputar-putar dalam artian sesungguhnya, dan napas Koko terbata-bata. Apa namanya kalau bukan demam memangnya?
Lalu mengenai halusinasi yang sempat Koko ungkit itu, awalnya ia melihat Inui sebagai Akane secara samar-samar. Namun, lambat laun Inui makin menyerupai Akane dari atas sampai bawah. Jadilah ketakutannya menggigil setiap kali Inui berada di sekitar jarak pandang, walau pusat segala kengerian sebenarnya terletak pada khayalan Koko.
"Bagaimana keadaanmu, Koko? Butuh sesuatu enggak?"
Selimut milik Inui dipakainya untuk menutupi wajah. Pokoknya jangan sampai ia melihat Inui sebagai Akane, atau rasa-rasanya takkan ada yang bisa diperbaiki hingga kapan pun. Inui yang tak memahami apa-apa akhirnya sekadar menggidikkan bahu. Rambutnya yang sebelumnya telah dikeringkan hair dryer langsung dipertemukan dengan bantal. Barulah Inui memiringkan tubuh untuk menatap sikap aneh Koko.
"Nanti sesak napas, bodoh. Turunkan selimutnya."
Karena Koko enggan menurut, Inui menyentil kening Koko berkali-kali. Sekalian saja ia gelitik, daun telinganya Inui tiup, tetapi cara terampuh adalah menurunkan selimutnya dengan kedongkolan ternyata. Absurdnya lagi Koko malah memejamkan mata yang terkesan dipaksakan. Meskipun masih dibelenggu ragu tatkala Inui mengungkung Koko menggunakan kedua tangannya, ia tetap melakukannya. Saliva lantas susah payah ditelan oleh tenggorokan yang mengering, karena Inui mulai bertanya-tanya haruskah ia mengesekusinya?
"Buka matamu, Koko. Ini aku, Seishu. Kenapa Koko terlihat ketakutan?"
Punggung tangan Koko diraih, dan seulas kecup mendarat dengan hati-hati. Inui turut mencium kedua mata Koko, turun ke batang hidung yang napasnya masih tertatih-tatih, barulah ia melumat bibir Koko yang Inui bayangkan, warnanya begitu merah delima. Lidah mereka kini paut-memaut, mengeluarkan suara kecap yang basah, lalu dunia perlahan-lahan seolah-olah dikuasai. Ketidakpuasan rasa-rasanya mulai bisa Inui teriakkan.
"... Kau ...?"
"Rileks, Koko. Maaf karena menggunakan cara curang seperti ini, tetapi aku–"
Kali ini giliran Koko yang memagut bibir Inui. Begitu lembut, penuh kehati-hatian, dan Inui yang merasa diperlakukan sebagai hal paling rapuh di dunia, langsung hanyut dibuatnya. Inilah Koko yang ia cari-cari yang sebelumnya tak sekalipun Inui lihat.
"Bolehkah aku melanjutkannya?"
"Tentu. Malam ini aku adalah milikmu."
"Selama-lamanya kau adalah milikku. Akhirnya juga aku bisa mengatakan ini kepadamu."
Inui kini merasa hatinya telah menjadi matahari yang menetes, lalu kehangatan memenuhinya dengan waktu yang seolah-olah tidak akan habis. Koko langsung melanjutkan aksi dengan sekali lagi melibas bibir Inui, sebelum akhirnya ia menurunkan tangan untuk melepas kaus yang Inui pakai. Sepasang nipple yang tegapnya masih malu-malu itu, kemudian Koko jilat berulang-ulang. Berkali-kali yang ketika Koko berniat menekannya pun, ia sengaja meminta izin.
"Lakukan sesukamu. Tadi Koko pun sudah mengatakannya, bukan? Aku adalah milikmu selama-lamanya."
Setetik desahan pun lolos dari mulut Inui, sewaktu Koko bersungguh-sungguh mengeksekusi perkataannya sendiri. Seorang Hajime Kokonoi yang ternyata identik dengan lembut, membuat Inui sedikit tertawa kecil di sela-sela permainan. Namun, saat Koko berbisik Inui memiliki suara yang amat indah, Inui langsung bungkam. Selanjutnya jua ia hanya memekik tertahan, mendapati jari-jari Koko memasuki liangnya untuk mengaduk-aduk kewarasan Inui.
"Sampai sekarang sebenarnya aku masih memikirkannya," ucap Koko sambil terus menyodok liang milik Inui agar itu sedikit renggang. Dengan napas yang berantakan akibat seisi tubuhnya seolah-olah menari, Inui bertanya apa maksud Koko? Tangannya tiba-tiba pula berhenti menyebabkan Inui makin bingung.
"Banyak hal, terutama soal kita. Rasa-rasanya aku ingin menumpahkan semuanya sekarang juga. Apakah boleh?"
"Ya. Koko lucu, deh, dari tadi minta izin melulu. Jadi apa yang mau kau katakan?"
Tanpa memedulikan dua penis yang menegang, Koko membawa Inui pada pelukannya. Awal-awal masih renggang. Lama-lama mengerat, dan sangat kuat sewaktu Koko tiba-tiba saja menangis. Air matanya pun bukanlah hujan yang sendu, melainkan bintang jatuh penuh cahaya. Namun, entah mengapa Inui malah merasa hatinya dicengkeram dibandingkan direngkuh. Seakan-akan masa lalu berada di sini.
"Pertama-tama, aku senang karena kita dapat melakukannya. Kupikir semua impianku sudah pupus, tetapi ternyata kau datang padaku. Rasanya sangat membahagiakan, dan aku sampai kesulitan mencari kata-kata yang pas."
"Impian apa?"
"Tentu saja menikahimu. Dengan kemampuanku dalam mencari uang, aku takkan membiarkanmu kesulitan lagi. Kali ini kau pasti bahagia." Bulu kuduk Inui meremang, ketika Koko menempelkan
"... Terima kasih, kurasa?"
"Sebagai pembukanya, bolehkah aku memanggil namamu untuk menuntaskan semua kerinduan yang ada?"
Suara Inui mendadak pekat, sehingga ia mengangguk walaupun patah-patah. Koko tersenyum tipis ke arah Inui. Seulas garis lengkung yang Koko pastikan, tetap dapat Inui lihat kendatipun ruangan ini gelap gulita.
"Akane-san. Tidak, maksudku Akane, terima kasih karena tetap mencintaiku. Baik aku maupun Akane, kita sudah berjalan lumayan jauh. Kau bisa saja menemukan pria lain, dan aku bisa mencari wanita lain. Namun, syukurlah benang merahnya masih ada. Aku senang dapat menanamkannya di hatimu, Akane."
Selesai dengan monolog yang disulam menggunakan kespontanan, Koko pun memberikan sentuhan terakhir yang paling ia tunggu-tunggu. Adalah memasukkan kelaminnya pada liang milik "Akane", dan Koko akan terus membisikkan namanya untuk menenangkan "Akane". Bahkan ia sengaja menaburkan pelita-pelita yang bercerita, mengenai jumlah anak yang Koko inginkan. Ada pula yang bertanya, "Akane" mau rumah seperti apa? Bulan madu nanti kira-kira mau ke mana? Luar negeri atau masih di Jepang?
"Tapi namaku bukan Akane ..." Inui dapat merasakan suaranya serak. Hatinya perlahan-lahan patah, dan serpihannya yang tidak kuat untuk bertahan kini menjelma air mata. Namun, Koko tetap tersenyum sebab baginya "Akane" menumpahkan isak kebahagiaan. Pasti memang sulit diungkapkan dengan kata-kata, sehingga Koko maklum.
"Hajime Akane, ya, seharusnya. Mulai sekarang tolong jangan ke mana-mana lagi, oke? Aku pun pasti selalu berada di sisimu."
Tangisan Inui menjadi-jadi saat Koko terus melambungkan cintanya. Afrosidiak yang Inui beli dari apotek, kemudian ia campurkan dengan minuman Koko, pada akhirnya mengkhianati Inui. Sebenarnya kenapa juga Inui harus melakukannya? Padahal ia tahu sejak awal yang akan menikamnya hanyalah dirinya sendiri.
"Maaf ... harusnya aku tidak melakukan ini. Walaupun aku selalu terluka oleh kalimatku sendiri, untuk yang sekarang ini aku betul-betul menyesalinya. Mulai sekarang cintailah kakakku sesuka hatimu. Aku takkan ikut campur lagi."
Mau bagaimanapun itu, Hajime Kokonoi pasti mencintai Inui Akane.
Sejak dulu sekali, Koko memang hanya menciptakan tempat sekecil lentera bagi Inui, sedangkan untuk Akane adalah langit. Bagaimana Inui mau mengubahnya, apabila keluar darinya membuat Inui luruh sebelum mencapai Koko? Pada akhirnya dia ini naif sekali. Harusnya Inui tak perlu melakukan apa-apa, bukan, daripada ia tersakiti karena mengetahui, dirinya hanya berhak menjadi sesuatu yang sama?
Seandainya Inui mengubah perasaannya menjadi cinta, dengan seketika Koko pun bertanya, "Kau siapa?". Bahkan jika mereka bermusuhan akibat suatu perkara, Inui bisa membayangkan Koko akan tetap mengetahui, siapkah Seishu Inui? Yakni adalah mantan sahabat baik yang biarpun mereka harus terpisah, Koko percaya Inui berhak bahagia usai memilih
"Akane ini kenapa, deh? Mungkin aku harus berhenti melakukannya, ya."
"Justru kaulah yang kenapa-kenapa gara-gara aku! Aku bukan Akane. Aku ini Seishu Inui, dan aku mencintaimu, tetapi aku tidak bisa berpura-pura menjadi Akane."
Sontak Koko terbelalak. Bagian bawah bibirnya ia gigit dengan frustrasi, barulah Koko menggeleng-geleng tidak terima. Inui sendiri masih terus-menerus meminta maaf, agar setidaknya ada yang ia perbuat meski sia-sia.
"Sekian lama tidak bertemu, Akane bahkan melupakan dirimu sendiri? Aku tahu kebakaran yang menimpamu memang parah, tetapi keji sekali jika ingatanmu sampai hangus, bukan? Setelah ini aku pasti mencari banyak uang. Kita pulihkan ingatanmu bersama-sama, oke? Pasti bisa, kok."
Mengapa uang kembali memasuki percakapan mereka?
Saking tidak tahannya Inui untuk membendung kesedihan, netranya justru berhenti mengalirkan sedu sedan. Sekarang ini Inui benar-benar lelah, masalahnya. Sesudah ditolak secara halus, kemudian mempermalukan diri sendiri habis-habisan, Inui dipaksa menyaksikan Koko yang tersesat. Lagi-lagi soal uang, uang, dan uang, membuat Inui takut karena Koko seolah-olah ingin membeli Akane–bukan meraih Akane, lantas menerima bahwa Akane selalu meninggali hatinya.
"Untuk sekarang tidurlah dulu, Koko. Coba lagi besok. Kakakku itu enggak bisa dibeli. Hanya bisa dicintai oleh Koko yang berlapang dada atas kematiannya."
Jam ternyata telah menunjukkan pukul dua belas. Di tengah malam, mimpi buruk akhirnya kembali mengetuk-ngetuk Inui, dan selama-lamanya mungkin membuat Inui tertutup. Esok harinya sewaktu Koko terbangun, pemuda itu pun celingak-celinguk sebab ia berada di kamar yang asing. Entahlah apa yang terjadi semalam, tetapi yang pasti kepalanya pusing. Anehnya juga apabila Koko benar-benar demam, kenapa ia malah melepas baju hingga telanjang bulat?
"Demamku kayaknya parah banget. Omong-omong maaf karena merepotkanmu semalaman penuh, Inupi. Habis ini aku mau ke dokter. Jadi–"
Akan tetapi Inui tidak berada di mana pun. Sebelah alis Koko pun naik mengindikasikan heran, sehingga ia berniat mencari Inui yang menghilangnya ajaib sekali.
Tamat.
A/N: Bingung juga mau ngomong apa, tapi katakanlah ini ide lama. Awalnya sih mau bikin sejenis PWP, atau ga PWF, tetapi gak punya ide semisal langsung masuk adegan nganu. Pas baru banget tiba-tiba aja kepikiran, gimana ya semisal inui masukin obat ke minuman koko? Lalu lahirlah fic ini wkwkw. Awal-awal target 2k sih, ga nyangka jadi 3,4k tanpa author note, disclaimer, dll. Mohon maaf juga semisal mereka OOC banget. Udah lama gak ikutin jadi lupa-lupa inget di satu sisi.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic berikutnya.
