Suara tamparan yang cukup keras menggema di ruangan itu. Seorang gadis dengan rambut hitam lurus memegangi pipinya yang memerah akibat ditampar oleh sepupunya, Hanna.

"Kak Hanna, apa-apaan ini?!" Ying meradang demi menghadapi apa yang diperbuat oleh sang sepupu padanya. "Sakit tahu!"

Hanna mendengus pelan tatkala melihat reaksi Ying. Ekspresinya diliputi kemarahan yang amat sangat.

"Itu belum sebanding dengan rasa sakitnya Ice, Ying." cetus Hanna gusar.

"Ice sudah besar, kan? Apalagi ia seumuran dengan Kak Hanna." Ying mengulas tipis lipstik di bibir tipisnya. "Malam ini akan jadi malam yang sempurna."

"Sempurna cuma buat kamu saja, Ying," kembali Hanna mendengus.

"Oh?" Ying tersenyum mengejek.

"Iya, saking sempurnanya, kau tidak berempati pada yang lain." Hanna melanjutkan ucapannya.

"Keluar!" titah Ying dengan penuh keangkuhan. Jika sang sepupu belum jua beranjak, ia dengan senang hati akan melemparkan Sui Dream ditangannya.

Hanna mengangkat bahu tak peduli dan meninggalkan ruangan itu tanpa banyak bicara. Atensi Ying teralihkan dengan ringtone ponsel di atas meja riasnya.

Ying mengambil ponselnya dengan tidak minat dan melihat nama Ice tertulis di sana. Ia membaca pesan dari pria itu.

Terima kasih ya sudah menemani aku selama ini. Perbandingannya 50:50, perbandingan yang kau sukai. Seru, kan? Tapi, kali ini pertaruhan yang sesungguhnya, Ying. Doakan semoga berhasil, ya?

Operasi?

Ying terhenyak.

Operasi apa, Ice...?


Fifty Fifty

BoBoiBoy hanya milik Animonsta, saya hanya membuat fanfic ini tanpa mengambil keuntungan apapun.

note : AU, flashback, no superpower, no alien, elemental siblings. trigger warning! mengandung kekerasan, emosional content dan kata-kata kasar.


Siapa yang tidak kenal Ying? Gadis oriental dengan mata biru bersinar dan kacamata bulat. Cantik, cerdas, bahkan modis. Meski ia mengenakan kacamata, ia sama sekali tidak terlihat seperti gadis nerdy.

Di sekolah, ia selalu mendapatkan peringkat 1. Bahkan ia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan tanpa bersusah payah. Tipikal remaja kekinian yang bisa kalian bilang Mary Sue.

Dengan segala kesempurnaan itu, ia layak dikagumi sekaligus disirikin. Atau kalau perlu sekalian saja dibenci.

Siapapun tahu bahwa Ying selalu mendominasi. Terbiasa untuk berada di atas dan tidak pernah melihat ke bawah. Gagal tak pernah ada dalam kamusnya.

Ia bahkan merasa bisa meraih segalanya, termasuk pula percintaan. Ya, percintaan.


Dua bulan lalu...

Ying dan kakak sepupunya—Hanna, menghadiri jamuan pesta kecil di halaman belakang rumah sahabatnya, Fang. Pesta itu diadakan untuk menyambut kepulangan kakaknya Fang—Kaizo, dari Rusia.

Di acara itu, Fang mengenalkannya pada sosok Ice—cowok bertubuh tegap dengan mata biru yang sayu, sedih, dan dibalut trench coat abu-abu. Sekilas terlihat seperti emo, namun sebenarnya tidak. Ia malahan memiliki tutur kata yang kalem dan sopan.

Berada di sebelah Ice, Ying merasa lebih kuat. Karena cowok itu berkebalikan dengannya. Tenang, lemah, tak berdaya... Selain itu, Ice juga memiliki pesona cowok-cowok unik yang ia kenal. Mungkin seperti cool-nya Orlando Bloom atau mungkin emo-nya Gerrard Way.

Setelah ditelusuri, ternyata Ice adalah kawan baik dari Kaizo sekaligus adik kembar dari atlet terkenal Blaze. Selain itu, Ice menghargai Ying selayaknya.

Berbeda dengan Hanna dan Kaizo yang menganggap Fang dan Ying masih bocah—karena mereka masih SMA.

Selain itu, di balik perawakannya yang terlihat lemah, Ice ibarat gudang ilmu. Coba saja tanyakan apapun pada cowok ini, ia pasti punya jawabannya.

"Kamu baca segala macam buku seperti akan mati besok, Ice," ucap Kaizo seraya merangkul pundak sahabatnya dengan akrab.

"Masa, sih?" Ice menanggapi dengan senyum kalem.

"Akhirnya Ying mendapatkan lawan bicara yang sepadan," kata Hanna menimpali.

Bisa dibayangkan betapa malunya Ying tatkala mendengar Hanna berkata demikian. Pipinya kian memerah dan memanas ketika Ice menimpali.

"Lawan bicara yang sepadan? Berarti aku harus mengenal Ying lebih jauh lagi."

Sejujurnya, Ying menghadiri pesta ini bukan untuk mencari cowok. Apalagi ia baru saja putus dengan Nut, pacarnya yang super jenius, dengan alasan bosan.

Baginya ganti pacar sama halnya seperti ganti kaus kaki. Frekuensinya sering.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Ice sangat unik dan berbeda. Begitulah yang terbetik dalam benak Ying.

Senyum ia layangkan pada cowok yang saat itu mengenakan topi dengan lidah hampir menutupi separuh wajahnya dan mengangguk. Ying merasa bahwa ia telah menemukan cowok yang tepat untuknya.


Ying seringkali bertanya-tanya, apakah ia dan Ice memang pasangan yang serasi. Dalam artian sebagai pacar?

Ying sendiri tak pernah meresmikan hubungan mereka, namun ia dengan tanpa malu seringkali menggelendot di lengan kekar Ice. Teman tapi mesra katanya, walaupun Ice menyatakan bahwa ia dan Ying memang sepasang kekasih.

Harus Ying akui bahwa pacar gantengnya itu memang memiliki berbagai kelebihan, dan ia menyukainya. Namun bukan Ying namanya jika ia terang-terangan bilang pada dunia bahwasanya Ice adalah pacarnya. Benar-benar tsundere habis.

Pada akhirnya, Ying harus kecewa karena kenyataannya tidak sebanding dengan angannya. Bahwa Ice tidak sulit untuk digapai, dan nyatanya setelah sekian banyak momen yang ia lalui dengan cowok bersorot mata teduh itu, Ying harus ditampar dengan kenyataan.

Laki-laki itu mencintainya sepenuh hati. Sesuatu yang bisa diterka oleh Ying sebelumnya.

"Ying, kamu tidak usah menemaniku ke pesta kembang api, ya?" senyum kalem terulas di bibir pria itu tatkala mengemukakan itu pada Ying.

Ying kembali seperti dilempar es batu di wajah ketika mendengar perkataan tersebut tercetus dari mulut Ice. Apa-apaan ini?

Ketika hubungan mereka makin erat dari hari ke hari dan diselimuti bunga-bunga cinta, tiba-tiba saja Ice mengemukakan penolakan seperti itu. Menjelang tahun baru pula!

Mau ditaruh di mana muka Ying? Ia berkeras ingin menaklukkan seorang Boboiboy Ice bin Amato, dan kalau begini caranya harga dirinya terasa diinjak-injak.

Sepertinya Ice mafhum dengan suasana hati Ying yang jauh dari kata riang. Ia pun meralat kalimatnya dan berusaha menggapai tangan yang tadinya sempat ia tampik.

"Aku jemput kamu jam—"

Kali ini Ying membalas menampik tangan Ice.

"Tak perlu, kita ketemuan saja di rumahnya Fang, ya!"

Setelahnya, Ying mengeloyor meninggalkan Ice.


Malam ini, tanggal 31 Desember... Ying mengevaluasi hubungannya dengan Ice. Apa saja yang mereka lalui bersama, dan ia baru menyadari bahwasanya ia kini benar-benar membutuhkan Ice di sisinya.

Dalam kekalutannya itu, ia merasa nyalinya begitu ciut. Ia tak berani menyatakan bahwasanya ia membutuhkan cowok itu.

Pada saat Hanna menanyai Ying apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, Ying justru mengelak apa-apa yang ditanyakan oleh Hanna. Membuat Hanna menatap tak suka adik sepupunya.

"Kenapa begitu?" Hanna pun mencetuskan pertanyaan. Bahkan Ying tidak sadar bahwasanya raut wajah Hanna kusut sekali.

"Bosan," Ying mengibaskan tangannya malas. "...belum-belum hubungannya terlalu dalam, terlalu serius, terlalu—"

PLAK!!

Dan Ying mendapatkan tamparan Hanna sebagai ganjaran atas kebohongannya itu.


Ying mengingat kembali masa-masa yang ia lalui bersama Ice. Cowok itu benar-benar mencerahkan hari-harinya dengan caranya sendiri.

Tak jarang Ying pun tertawa lepas karena lelucon yang dilontarkan oleh Ice. Bahkan ketika mereka menghabiskan waktu berdua.

"Aku suka kembang api," ucapan Ice itu membuat Ying menaruh atensinya penuh pada pria itu. "Bayangkan! Warna-warni di langit kelam bagaikan bunga yang mekar. Meski versi ekstrimnya belum ada yang mengalahkan petasan teko, sih."

"HEH, TEKO SIH BUKAN PETASAN, ITU BOM C4 TAU!" Ying pun memukul bahu sang kekasih dengan gemas.

Ice tertawa. Ia pun menatap langit di atasnya. Tatapannya terlihat menerawang.

"Tapi, kembang api memang tiada matinya, kok." tatapan itu terlihat teduh, penuh makna. Membuat Ying merasa binggung dan keheranan. "Pijarannya begitu indah, memukau, lantas hilang di tengah gelapnya malam. Seperti hidup manusia..."

Alis Ying mengerut. "Maksudmu, hidup manusia sama seperti kembang api?"

Ice tersenyum misterius. Tangannya terulur dan mengusap lembut rambut gadisnya.

"Bagi beberapa orang seperti itu, Ying."


Kini Ying mengerti apa arti sorot mata teduh itu. Ia pun mengerti mengapa sepupunya begitu murka akan sikap semena-menanya pada Ice yang sudah dianggap oleh Hanna sebagai saudaranya sendiri.

"Di sisi kamu, Ice memang terlihat kuat, Ying." ucap Hanna getir. "Tapi sebenarnya, ia tidak berdaya menghadapi encephalitis."

Ying paham kenapa Hanna begitu marah sekarang. Hanna betul-betul menyayangi Ice, sementara dirinya? Kekasih macam apa dia?

Ying memang menyukai perbandingan 50:50, gambling yang menurutnya seru karena memicu adrenalin. Namun, bukan ini yang Ying harapkan.

Apalagi Hanna menjelaskan panjang lebar tentang radang otak yang diderita oleh Ice. Prognosisnya sudah 50% karena terlambat penanganan. Ice memang sering mengeluh pusing dan demam, namun ia tak pernah menyangka bahwa akan terjangkit penyakit mematikan itu.

Mungkin Hanna benar, ia memang jahat. Bukan hanya pada Ice, tetapi juga pada teman-temannya dan juga Nut.

Ia bahkan menolak uluran tangan Ice hanya karena ingin menjaga gengsinya. Karena ia tak mau Ice tahu bahwa ia jatuh cinta duluan pada pemuda itu.

"Kau mau ke mana?" tanya Hanna melihat Ying membawa tas.

"Ke rumah sakit," jawab Ying pendek.

"Untuk menemani Ice?"

Ying menggelengkan kepalanya. "Buat mutusin dia, Ice lebih layak mendapatkan gadis yang lebih baik dariku."

Hanna sendiri pada akhirnya tidak menghadiri pesta kembang api di rumahnya Fang. Ia pun tidak mendatangi rumah sakit karena ingin memberikan ruang bagi Ying dan Ice.

"Sini," Hanna merentangkan tangannya.

"Buat apa?" Ying mengernyit alis.

"Sudah, tidak usah berlagak kuat. Kalau mau nangis, nangis saja."

Ying pun menurut dan memeluk erat Hanna. Tangisnya pun pecah.

Ia berjanji tak akan lagi berbuat semena-mena pada orang-orang di dekatnya. Tidak lagi mengintimidasi mereka. Membuat mereka bergantung pada dirinya dan lantas ia campakkan bak sampah.

Dalam dekapan hangat Hanna, Ying mengintrospeksi dirinya. Berharap ia menjadi lebih baik lagi setelah menjenguk Ice.

— end

w/n : sudah angst? belum? (ditimpuk)

err, kalau ada saran dan kritik, silakan! diterima dengan senang hati!