disclaimer: karakter milik Masashi Kishimoto
warning: canon-setting. Inojin centric. Angst, hurt comfort.
.
.
"Ayah...
.
...Ayah bukan orang jahat,
.
.
...Iya kan?"
.
.
.
Different
.
.
Inojin suka senyum Ayah.
Dan Ayahnya memang suka tersenyum di segala situasi.
.
Inojin sering melihat Ayahnya dengan mudahnya menarik sudut bibirnya untuk melengkungkan senyum.
Saat ia berbicara dengan rekan kerjanya, saat ia memberikan instruksi dan latihan kepada timnya, saat ia terluka karena misi. Bahkan, saat ia mendapatkan cemohan dari orang lain saat ia, Mama, dan Ayahnya pergi berbelanja di pasar. Seperti saat ini.
Inojin ingat, siang itu adalah satu siang yang cerah di Konoha. Konoha memang sudah masuk musim penghujan di bulan November, dan menemukan hari yang cerah sangatlah jarang.
Oleh karena itu, siang itu disambut dengan suka cita oleh orang-orang, termasuk ia dan kedua orangtuanya. Inojin suka sekali ketika ia diajak pergi bersama orangtuanya. Inojin jadi bisa melihat berbagai hal di dunia luar, bermain di taman, memetik bunga, makan makanan enak, membeli mainan—apalagi melakukannya bersama kedua orang tuanya.
Inojin merasa menjadi anak paling bahagia di Konoha hari itu.
Terlebih, ketika ia bisa mendengar tawa orangtuanya yang berdendang saat mereka bermain bersamanya.
Hari itu memang siang cerah yang menyenangkan.
Sampai akhirnya, ketika mereka akan pulang selepas dari pasar untuk membeli beberapa buah-buahan—mamanya ingin buah cherry, dan Inojin tahu, Ayahnya tidak bisa bilang 'tidak' kalau itu tentang Mama.
Apalagi kalau Mamanya sudah menatap Ayahnya dengan bola mata membesar dan penuh binar-binar pengharapan. Sekali tengok, Ayah pasti langsung luluh. Boruto pernah bilang padanya, kalau kelemahan Ayahnya itu Mama. Dan Inojin setuju akan hal itu.
Mama sudah selesai memilih buah-buahannya. Selain cherry, mama juga membeli satu kilo jeruk. Ayahnya insiatif membawakan plastik buah-buahan Mama, sementara Mama-nya membawa kantung plastik yang lebih ringan. Setelah memastikan semua barang telah terbawa sempurna, mereka bertiga bergandengan tangan lagi. Inojin di tengah dengan kedua tangan kanan dan kiri tergenggam dalam dekap tangan orang tuanya.
Bersama, mereka pun mengambil langkah untuk menuju ke kediaman Yamanaka.
"Lihat, bisa-bisanya ia dan keluarganya sebahagia itu,"
Inojin tak sengaja mendengar seorang ibu-ibu yang tengah membeli sesuatu di kedai sayuran berkomentar.
"Tidak tahu malu. Padahal para penjahat perang yang lain dikurung di dalam penjara sementara dia bebas menikmati hidupnya,"
"Benar. Tidak adil sekali," Ibu-ibu lain disebelahnya ikut menimpali, berbisik-bisik, "Hanya karena ia satu tim dengan Naruto Uzumaki dia jadi dikecualikan. Padahal Danzo juga penyebab perang kan? Seharusnya Danzo dan antek-anteknya juga masuk penjara,"
"Perang itu menewaskan anakku,"
Ibu penjual kini ikut menanggapi, dan Inojin bisa melihat kedua mata penjual itu menyipit penuh amarah ke arah Ayahnya ketika Inojin ikut menoleh ke arah sumber suara.
"Seharusnya Danzo dan para pengikutnya juga dihukum seberat-beratnya,"
Siapa itu Danzo?
Siapa itu pengikutnya?
Dan kenapa ibu-ibu itu menatap benci Ayahnya seolah Ayahnya yang melakukan perbuatan jahat?
Ayahnya kan tidak jahat.
Inojin bisa merasakan satu tangan mungilnya dipegang erat—tangan sebelah kanannya. Mama.
Seketika Inojin kecil mendongak.
Ia mendapati sang Ibu yang kini juga turut menoleh ke arah sekumpulan wanita baya itu.
Alis Mama mengerut dalam, rahangnya terkatup dan bergetar. Netra birunya menajam bagai belati.
Mama hanya mengeluarkan ekspresi ini kalau dia marah. Inojin pernah melihatnya ketika ia berbuat nakal atau bandel, tapi ia tak pernah melihat Mama-nya semarah ini sebelumnya.
Sorot Mama... terlalu menakutkan.
Inojin takut.
Inojin kembali menunduk. Ketika kepalanya tertunduk ke bawah, melalui sudut matanya ia juga bisa melihat bagaimana pegangan Mama-nya di kantong plastik yang ia tenteng di satu tangannya yang lain mengerat. Bahkan kepalan tangannya pun ikut gemetar.
Mama sangat marah.
Tapi kenapa?
Kenapa Mama sangat marah pada mereka?
Apakah karena yang dibicarakan oleh orang-orang itu adalah Ayah?
Ayah...
Inojin ragu-ragu menoleh ke arah pria yang sangat disayanginya itu. Pria yang sangat Inojin kagumi.
Jauh dari dalam lubuk hati, ia ingin meminta tolong Ayahnya untuk mereduksi amarah Mama. Biasanya sang Ayah punya seribu cara jitu untuk menenangkan Mama-nya. Selain itu, Inojin juga ingin bertanya padanya. Kenapa Mama-nya marah? Kenapa orang-orang itu menatap tidak suka pada pada kita? Kenapa dan siapa itu Danzo dan pengikutnya?
Namun pertanyaan-pertanyaan itu seperti terhenti begitu saja di ujung lidah, detik ketika ia mendongak kepada sang Ayah dan menemukan pria favoritnya itu tengah tersenyum kepada orang-orang itu.
Ayah sedang tersenyum.
Tersenyum kepada orang-orang yang menatap benci mereka.
Ujung pipinya terungkit hingga matanya menyipit tenggelam selayaknya rembulan.
Inojin tidak mengerti Ayahnya, terkadang.
Bagaimana ia hanya tersenyum saja, meski nyatanya ua dicela. Senyumnya tak kunjung luntur jua, sementara Mama-nya mulai membalas sekumpulan ibu-ibu dengan lontaran galak-Inojin tidak tahu pasti apa yang dikatakan Mama-nya. Ia tak pernah mendengar kosakata itu keluar dari mulut Mama-nya selama ini. Yang dia tahu Mama-nya tengah berbicara dengan nada keras dan tinggi sekarang. Mama sangat murka.
Pegangannya pada tangan Mama tanpa sadar mengerat. Ia makin takut, namun Inojin hanya bisa terdiam dan mendongak pada sang Ayah. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Ia berusaha mencari kekuatan dengan menatap Ayahnya.
Ayahnya yang masih tersenyum dan tersenyum saja.
Senyum itu adalah senyum yang sama yang ia gunakan ketika ia berbicara dengan orang asing. Ketika ia berhadapan dengan musuh. Ketika ia melihat mamanya atau Inojin terluka. Atau ketika ia didekati oleh perempuan lain.
Senyum itu kosong, seolah tak bernyawa.
Sorot mata itu redup tak bersisa.
Iris mata Ayahnya yang serupa batu charcoal akhirnya bergulir dan terjatuh kepada Mamanya. Inojin bisa melihat ada sesuatu yang berubah di sana.
Ada sesuatu yang berbeda.
Senyum Ayahnya berbeda ketika ia menatap Mama-nya.
Senyumnya punya makna.
Senyumnya yang tadinya terasa hampa, kini berubah menjadi bernyawa.
Senyum itu hidup. Hidup oleh secerca asa.
"Tidak apa-apa, Ino. Abaikan saja. Jangan dipikirkan,"
Ayahnya bertutur kepada sang Ibu yang kini mulai tenang. Sepasang obsidian itu bergerak lagi, tertunduk, dan kini terjatuh pada Inojin. Senyum yang dilemparkannya pada Inojin masih sama. Senyum itu masih hangat. Sehangat mentari pagi yang menyapa. Senyum itu laksana penyejuk jiwa karena Inojin bisa merasakan hatinya turut dilanda suka cita.
"Ayo kita pulang,"
Selain senyumnya, Inojin juga sangat menyukai suara Ayahnya. Suaranya menenangkan. Mengalun lembut bagai untaian dawai. Suaranya sering sekali menjadi favorit Inojin untuk mengantarnya ke alam mimpi.
Ayahnya menjulurkan tangannya untuk menyentuh lengan sang Mama, mengusap-usapnya secara vertikal dengan ibu jarinya. Inojin bisa melihat sang Mama kini tengah membuang nafas dalam-dalam, dan lama-lama senyumnya yang cantik mulai terbit lagi.
Benar kan kata Inojin?
Ayahnya selalu punya cara untuk memberi ketenangan bagi Mamanya.
Mereka bertiga kembali bergandeng tangan, dan langkah kaki mereka mulai bergerak menuju kediaman. Kedua tangan Inojin ikut menghangat karena dekap tangan kedua orangtuanya yang menuntunnya sepanjang jalan, mengerat seiring mereka mengambil langkah.
Tiba-tiba saja, semua kembali jadi baik-baik saja.
Kejadian tadi seolah sirna begitu saja dalam ingatan.
.
Hari itu memang siang cerah yang menyenangkan.
.
.
.
"Musim panas ini kalian akan liburan kemana?"
Inojin bertanya di tengah-tengah waktu istirahat mereka berlatih sirkulasi chakra. Ketiga bocah berusia genap 8 tahun itu kini tengah mengistirahatkan diri di sisi sungai, di bawah kanopi rindangnya bunga Sakura, bersisian satu sama lain. Hembus angin menerpa helai-helai rambut mereka, menggelitik menyenangkan.
"Aku akan liburan ke Kumokagure," Chocho menanggapi pertanyaan Inojin sembari mengemil snack kentang di tangan. Gadis kecil itu tak pernah sekalipun melupakan kudapan favoritnya untuk dibawa kemana pun, "Untuk musim panas tahun ini kami akan berkunjung ke keluarga Mama. Aku senang aku bisa bertemu dengan Paman Bee dan Paman Raikage,"
"Aku juga," Shikadai turut menimpali dengan sebuah helaaan nafas lolos dari bibirnya. Ia masih menolak membuka kedua mata. Sebenarnya tadi Inojin sempat mengira kalau sahabat lelakinya itu tertidur-bukan hal yang aneh mendapati Shikadai ketiduran di sembarang tempat, memang. Tapi mengejutkannya, ternyata sedari tadi dia menyimak dengan seksama setiap percakapan mereka. Kedua lengan Shikadai sengaja ditekuk di belakang kepala sebagai bantal untuk topangan.
"Aku juga akan pergi ke tempat ibuku di Suna, menghabiskan beberapa pekan di sana,"
Bibir Inojin mengerucut, "Yah, berarti aku ditinggal sendiri dong," nadanya seketika berubah merajuk. Ia sedih mendapati kenyataan ia tidak bisa bermain dengan kedua sahabatnya itu. Ia bisa saja sih bermain dengan temannya yang lain—tapi rasanya tetap saja berbeda. Inojin tetap merasa paling nyaman bermain dengan Chocho dan Shikadai karena mereka memang sudah terbiasa bersama, bahkan sejak mereka pertama kali menghirup nafas di dunia.
"Kenapa kau tidak liburan juga ke luar Konoha, Inojin?" Chocho lantas mengusulkan. Kepalanya mengerling ke samping, "Mungkin kau bisa mengunjungi keluarga Paman Sai?"
Untuk beberapa saat Inojin hanya tertegun. Matanya berkedip-kedip. Otaknya berputar memikirkan sugesti—menimang-nimang.
Benar juga.
Inojin hanya tahu satu keluarga Ayahnya, Paman Shin—akak Ayahnya yang sudah di surga. Ia, Ayah, dan Mamanya sering mengunjungi makam Paman Shin yang ada di ujung bukit desa Konoha.
Makan Paman Shin ada tepat di bawah pohon Sakura. Ketika musim semi datang, makam Paman akan dipenuhi oleh bunga-bunga merah mudah cantik yang berjatuhan. Inojin selalu suka ketika orangtuanya mengajaknya kesana. Selain karena Inojin bisa mengunjungi Paman Shin dan menceritakannya padanya apa saja yang ia lakukan, Inojin bisa melihat pemandangan yang sangat indah di bukit Konoha. Ada padang bunga lavender yang sangat luas membentang, dan di sisi selatan bukit terdapat sungai kecil yang mengalir tenang menuju ke hilir.
Selain Paman Shin, Inojin tidak mengetahui mengenai keluarga Ayah. Selama ini ia tidak pernah pergi ke luar Konoha untuk bertemu dengan sanak keluarga Ayahnya.
Inojin hanya pernah bertemu dengan keluarga dari sisi Ibunya—klan Yamanaka. Sementara Ayahnya?
Inojin tidak pernah tahu.
Ia yakin Ayahnya bukan berasal dari Konoha karena Inojin tak pernah sekalipun bertemu dengan keluarga Ayahnya selama ia hidup di desa daun tersembunyi ini.
Kira-kira Ayahnya orang desa mana ya?
Apakah Kakek dan Nenek di sana masih hidup? Atau mungkin sudah di surga seperti Kakek Inoichi?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepala. Dan Inojin butuh jawaban.
Maka malam itu, ketika ia dan orangtuanya tengah menikmati makan malam, Inojin merasa ini adalah saat yang tepat untuk menanyakannya.
.
"Ayah, Mama... apakah liburan ini kita bisa mengunjungi keluarga Ayah?"
.
Detik selanjutnya, ruang makan yang semula dipenuhi oleh denting kaca itu berubah sunyi. Keheningan seketika menyelimuti.
Dan keheningan itu perlahan berubah mencekik.
Inojin mungkin baru berusia 8 tahun saat itu, tapi ia cukup tahu kalau ia membuat suasana tidak nyaman karena pertanyaannya. Ia bergerak-gerak di kursinya, kaki-kakinya yang menggantung di bawah meja terayun-ayun—gelisah.
Inojin tahu bahwa diam yang melanda meja mereka bukanlah diam yang mendamaikan.
Diam ini mencekat.
Ayahnya terdiam. Ibunya yang menyukai konversasi pun juga ikut terdiam.
Keheningan itu bertahan cukup lama, sampai akhirnya Mama memutuskan untuk mengakhirinya.
Nadanya terdengar sangat lembut ketika ia memulai,
"Inojin—"
"Ayah hanya punya Paman Shin."
Tanpa diantisipasi oleh dirinya maupun Mamanya, Ayah ternyata memilih angkat bicara.
Kedua blonde itu bersamaan menoleh kepada keluarga mereka, menanti apa yang akan diutarakannya dengan was-was. Sang ibu menatap Ayahnya dengan alis bertekuk dalam—khawatir, mungkin. Namun Ayah masih mengunci pandangan Inojin, enggan berpaling.
"Maafkan Ayah Inojin, tapi Ayah sudah tidak punya Ayah atau Ibu,"
Suara Ayahnya mengalun rendah, tetapi tenang, mengingatkan Inojin pada permukaan air tak beriak. "Sepertinya... sepertinya mereka memang sudah meninggal,"
Inojin tertegun. Tenggorokannya terasa kering seketika mendengar pengakuan sang Ayah. Sepertinya?
Tanpa sadar kepalanya merosot, tertunduk. Matanya jatuh kepada ujung kakinya yang menggantung di bawah meja.
Sorot mata Ayahnya yang penuh kesedihan mendorong Inojin untuk memutus kontak mata.
Sorot itu begitu... begitu... menyakitkan.
Hingga ia pun tak kuasa.
Seolah seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang mencubitnya keras-keras.
Inojin tak bisa membayangkan bagaimana rasanya.
Bagaimana rasanya tidak memiliki kedua orang tua.
Membayangkan bagaimana ia bisa hidup tanpa Mama dan Ayahnya. Bagaimana jika mereka tidak ada di dunia ini untuk menemani Inojin.
Sekelebat pikiran itu spontan membuat Inojin menggigit bibir.
Tidak. Itu terlalu perih untuk dipikirkan.
Tapi... Ayahnya merasakan itu semua.
Merasakan bagaimana ia tidak punya orangtua di sisinya. Ayahnya tidak bisa merasakan kebahagiaan yang Inojin rasakan.
"Ayah hanya punya Paman Shin," Inojin mendengar Ayahnya kembali melanjutkan, suaranya serupa bisikan, namun tetap mengalir merdu, "Dan sekarang Paman Shin sudah meninggal. Ayah hanya sendiri—"
"Ayah tidak sendiri,"
Inojin spontan memotong, kepalanya yang semula tertunduk langsung menegak. "Ayah punya aku dan Mama," kedua matanya yang serona hamparan angkasa memandang lekat-lekat, determinasi memancar kuat,
"Ayah tidak akan sendiri."
Ayahnya tampak tertegun untuk sesaat. Sebelum kemudian sudut bibirnya terangkat perlahan demi perlahan. Dan sebuah senyum cantik pun terpulas.
Sanubari Inojin turut diliputi kehangatan ketika memandangnya. Sorot mata Ayahnya yang awalnya penuh kabut kesedihan kini terganti oleh sesuatu yang lebih besar, lebih hangat—lebih bahagia. Sorot mata itu penuh akan afeksi.
"Benar," gumam Ayahnya lembut. Tangannya otomatis terjulur untuk menyisir surai pirang Inojin yang diwarisinya dari Mama, "Inojin benar. Ayah sudah tidak sendiri lagi," gumamnya,
"Ayah punya kalian berdua. Dan itu sudah cukup."
Senyum Ayah yang selalu disukai Inojin pun muncul.
Senyum dan usapan lembut sang Ayah di kepala Inojin membuatnya tak bisa menahan diri. Inojin pun tersenyum lebar.
Ia menyempatkan diri melirik Mamanya dari periperalnya—untuk menemukannya menggores ekspresi serupa.
.
Malam itu, Inojin membuat janji dalam hati untuk tak mengungkit apapun mengenai keluarga sang Ayah—meski ia punya beberapa pertanyaan yang masih belum usai terutarakan.
Ia hanya tidak mau melihat sorot penuh kesedihan itu hadir lagi di kedua mata lelaki yang paling ia sayang.
.
Ya.
Inojin akan menganggap semuanya baik-baik saja.
.
.
Sampai suatu ketika, hari itu datang.
.
Hari dimana Inojin tak bisa lagi menganggap bahwa semuanya baik-baik saja.
.
"Ayahmu itu penjahat!"
.
Kalimat itu membentuk frasa, hanya tersusun dari tiga kata.
Namun, efeknya luar biasa.
Inojin seketika terbisu. Tubuhnya terasa mengkaku. Aliran darahnya seperti beku. Raganya seperti diguyur oleh air dingin tanpa ragu.
Inojin tidak menyangka kalimat itu akan diutarakan oleh beberapa teman sekelasnya.
Dengan mudahnya. Dengan sebuah lantunan tawa mencela.
Hanya karena Inojin tidak berkenan untuk memberikan jawaban pekerjaan rumahnya, tiga orang teman sekelasnya itu langsung merundungnya di salah satu sudut sekolah. Argumen saling terlempar di udara, bahkan tarik menarik buku pun tak terhindarkan—untungnya, Inojin dengan gesit berhasil mempertahankan bukunya. Ia memeluk bukunya erat-erat dengan tangan kecilnya di dada, bersikukuh menolak. Ia tahu sikapnya membuat teman-temannya murka. Mata mereka memicing berbahaya, namun Inojin tak gentar. Inojin bisa melawan mereka dengan sedikit taijutsu dan jurus choju giga yang mulai dikuasainya.
Sampai akhirnya kalimat-kalimat itu pun terlempar.
.
"Kata Ayahku, Ayahmu itu pengikut Danzo!"
Nama itu lagi. Danzo.
Siapa itu Danzo?
"Ayahmu itu Anbu Ne! Dan dia itu penjahat!"
Apa itu Anbu Ne?
"Ayahmu itu penjahat!"
.
Bukan.
Ayah Inojin bukan penjahat.
.
Ayah Inojin tidak jahat.
.
Inojin tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Ia melihat Shikadai dan Chocho menghampirinya dan menanyainya—amun Inojin tak terlalu menangkap apa yang mereka tanyakan. Ia hanya diam membisu, seketika membuat Shikadai dan Chocho bertukar kontak mata khawatir. Sedetik setelahnya, ia bisa melihat Shikadai dan Chocho berlari untuk mengejar gerombolan anak-anak yang sedang tertawa-tawa itu. Punggung mereka makin menjauh hingga hilang ditelan koridor kelas.
Dadanya serasa kebas.
Kebas seperti hampir kehilangan nafas. Sesak, hingga ingin menghilang saja rasanya.
.
Maka ia pun berlari.
.
Ia memaksa kaki-kakinya untuk berlari.
Ia berlari, berlari dan terus berlari. Berharap ia bisa menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dada ini.
.
.
.
Kaki-kaki kecilnya membawanya ke Mama.
Ia tahu sang Ibu ada di toko bunga mereka sekarang. Inojin tak pernah berubah. Semenjak kecil, ia selalu mencari pelipur lara ke kedua orangtuanya. Pelukan mereka selalu berhasil membawa damai itu kembali. Hal terbaik yang bisa menenangkannya sekarang hanyalah Mama.
Karena ia tidak yakin ia bisa menemui Ayahnya. Untuk saat ini, setidaknya.
Ayahnya, yang kata teman temannya tadi adalah penjahat.
Mereka salah besar.
Ayahnya bukan penjahat.
.
Iya kan?
.
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Inojin tahu.
Inojin tahu ada yang berbeda.
Inojin tahu bahwa Ayahnya berbeda.
Mulai dari desis dan bisikan orang-orang di pasar ketika ia masih kecil dulu, fakta bahwa Ayahnya tidak punya Ayah atau Ibu, fakta bahwa Inojin bahkan tak pernah melihat foto masa kecil Ayah di album mereka.
Jadi Ayahnya itu siapa?
Kenapa mereka bilang bahwa Ayahnya penjahat?
.
Apa...
.
"Mama..."
.
Apa Ayahnya... memang penjahat?
.
Mamanya yang saat itu tengah menata buket terdongak, pancar terkejut terlukis di wajahnya yang ayu melihat Inojin yang menangis di ambang pintu. Mamanya langsung sigap, meninggalkan pekerjaannya dan melangkah penuh urgensi menuju Inojin.
Inojin merentangkan kedua tangannya untuk mendekap sang Mama erat-erat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang ibunda, berusaha menghilangkan rasa sakit yang melanda dada.
Inojin menenggelamkan wajahnya yang basah penuh air mata di fabrik sang Mama. Ia bisa merasakan kepala dan punggungnya dibelai dengan lembut. Tangan Mama bergerak naik turun secara ritmis. Dan mamanya juga membisikan kata-kata menenangkan di telinga layaknya sebuah pengantar tidur.
Diantara isakan-isakannya, Inojin menceritakan kepada Mamanya mengenai apa yang terjadi. Ia ingin mencari jawaban atas pertanyaan yang ia miliki. Ia ingin mengetahui bahwa Ayah bukan penjahat, iya kan Ma?
Ino masih membelai tubuhnya yang dilanda gemetar akan tangis, ibu jarinya bergerak untuk mengusap air mata yang tumpah ruah di sudut-sudut mata sang putra. Ketika Inojin menjadi lebih tenang, barulah Ino mengajaknya untuk duduk di sofa. Mamanya berkata kepadanya untuk menunggunya selama beberapa saat. Ada sesuatu yang ingin ditunjukan oleh Mama, katanya.
Inojin hanya mengangguk tanpa suara. Bibir mungilnya belum bisa merangkai kata. Ia hanya bisa mengeluarkan isakan-isakan kecil dari bibirnya.
Sang Mama tak pergi lama. Ia kembali menghampiri Inojin dengan sebuah buket bunga mawar dalam dekapan. Mamanya mendudukan diri di samping Inojin, tersenyum, kemudian menepuk-nepuk pahanya-memberitahu Inojin untuk duduk di pangkuannya.
Inojin mungkin sudah terlalu besar untuk duduk di pangkuan sang Mama—ia sudah berusia 10 tahun, lagipula. Namun baik ia dan Mamanya sama sama tidak peduli untuk saat ini. Ia biarkan dirinya terduduk di pangkuan sang Mama, membiarkan dirinya di lingkupi oleh dekap hangat ibunda.
"Inojin..." panggilnya ketika isak tangisnya telah mereda, "Inojin, coba lihat apa yang Mama bawa,"
Ino membawa buket bunga mawar itu di hadapan mereka berdua. Inojin mengusap matanya yang basah dengan punggung tangan agar ia bisa melihat dengan lebih jelas.
Sekarang, ia bisa melihat sekumpulan bunga mawar putih terjajar rapi di sana. Setangkai mawar berwarna biru diletakan di bagian tengah. Mama pernah mengajarinya bahwa mawar putih berarti kesetiaan dan mawar biru adalah rasa rindu yang teramat sangat.
"Inojin lihat bunga ini?"
Mamanya bertanya sekali lagi dengan suaranya yang lembut bagai simfoni. Inojin hanya mengangguk, sehingga Ino pun melanjutkan, "buket ini berisi bunga mawar. Semuanya bunga mawar. Tapi Inojin lihat ada yang berbeda?"
Inojin refleks menunjuk ke arah setangkai mawar biru yang terkepung oleh sekumpulan bunga mawar putih, "Bunga ini. Dia satu satunya yang berwarna biru, Mama."
"Pintar," Ino memujinya, mengecup sisi kepalanya sebagai tanda apresiasi. "Betul kata Inojin. Yang berbeda adalah bunga mawar biru ini. Dia berbeda dari yang lain. Dia memiliki warna yang berbeda dari yang lain," jelas Mamanya,
"Tapi meskipun berbeda dari yang lain, apakah itu berarti dia jelek?"
"Tidak Mama," Inojin menggeleng, "Mereka semua cantik,"
"Inojin benar lagi. Mereka semua cantik," kata sang Mama, dan kini ia pun tersenyum,
"Menurut Inojin meskipun punya warna yang berbeda dari teman-temannya, apakah bunga biru ini tidak layak disebut sebagai bunga mawar seperti yang lain?"
Lagi-lagi Inojin menggelengkan kepala di pangkuan Ino, "Tidak, Mama. Dia tetaplah bunga mawar meskipun ia tidak sama seperti mawar yang lain,"
"Begitulah, sayang," Mamanya meletakan telapak tangannya di pipi Inojin, membuat sang putra menoleh. Ia tersenyum, mengusap ibu jarinya di pipi sang putra yang masih lembab karena air mata. Ino mengecup keningnya-cukup lama sebelum ia memberikan eksplanasinya dengan nadanya yang selembut sutra,
"Meskipun dia berbeda, meskipun dia tidak memiliki warna yang sama seperti mawar yang lain, dia tetaplah bunga mawar. Dia punya warna yang berbeda, tetapi dia juga tetap setangkai bunga mawar yang cantik seperti yang lainnya. Yang berbeda hanya warnanya saja," ujarnya,
"Hal itu juga berlaku pada orang. Kita terkadang melihat orang yang berbeda, ya kan sayang? Ada yang pendek, tinggi, ada yang punya kulit putih, kuning, atau hitam-bermacam-macam orang. Setiap orang itu berbeda, tetapi mereka semua tetap sama kan?"
Mama melukiskan sebuah senyum yang selalu Inojin suka, "Mereka semua cantik," kata Mamanya, "Mereka semua tetaplah manusia yang cantik. Meskipun mereka punya perbedaannya masing-masing, seperti mawar biru diantara mawar putih tadi, mereka tetap cantik. Meski berbeda, hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan mereka bukan?"
"Iya, Mama," gumama Inojin, kemudian menambahkan, "Mereka juga jadi lebih unik karena bereda dari yang lain," ia melirik ke buket bunga yang ada di genggaman Ino lagi, sorotnya tertuju kepada bunga mawar biru yang terletak di tengah rangkaian, "Ia terlihat unik karena warnanya yang berbeda daripada yang lain,"
"Oleh karena itu, sayang. Berbeda bukan berarti buruk. Berbeda itu memang unik. Tapi mereka tetap saja indah,"
Bola mata Ino memancar penuh kehangatan, bertukar netra dengan iris kembarnya. Namun ia pastikan mengunci milik sang putra lekat-lekat, berharap apa yang ia sampaikan kepadanya barusan ia bisa cerna dengan baik,
"Inojin mengerti maksud Mama kan?"
Tidak.
Sejujurnya, Inojin belum mengerti.
.
Tapi Inojin ingin mengerti.
.
Inojin ingin mengerti kenapa Ayahnya berbeda.
Kenapa Ayahnya punya banyak rahasia. Kenapa Ayahnya punya teka teki yang Inojin tak tahu apa jawabannya.
Tapi ia mengerti kenapa Mamanya mengatakan ini kepadanya.
Secara tidak langsung Mamanya mengonfirmasi pada dirinya bahwa— ya, Ayahnya memang berbeda.
Meskipun Ayah berbeda, Ayah tetaplah indah. Sama seperti bunga mawar biru diantara sekumpulan mawar putih itu.
Meskipun Ayahnya menyimpan banyak teka teki mengenai dirinya, perasaan Inojin kepada sang Ayah tak akan pernah terganti. Tak akan berganti oleh apapun jua.
"Ya..." Inojin membenamkan wajahnya di dada sang Mama, lagi-lagi mencari pelipur lara. Dan ia pun berbisik, meski mungkin Mamanya tidak mendengarnya,
.
"Inojin mengerti, Ma..."
.
.
Inojin tak menyangka saat dimana ia akhirnya bisa mengerti itu datang ketika ia berusia 12 tahun. Tepat saat ia dinyatakan lulus sebagai genin desa Konoha.
Saat itu Inojin baru pulang dari tes genin yang disupervisi oleh Rokudaime. Inojin langsung disambut oleh pelukan selamat dan usapan lembut di surai pirangnya dari sang Ayah. Bola mata Inojin beputar, mencari sang Ibu karena ia tak tampak dimanapun juga. Lantas ayahnya mengatakan kepadanya bahwa sang Ibu harus mengemban misi selama beberapa hari dan sudah berangkat sejak pagi tadi.
Inojin hanya mengangguk saat itu, ia bilang kepada Ayahnya bahwa ia akan segera membasuh diri karena ia merasa kotor sekali. Namun sebelum Inojin sempat mengambil langkah, Ayahnya menghentikannya untuk meminta waktunya sebentar.
Ayahnya bilang ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan.
Ia hanya bisa mengerjap bingung saat itu, penasaran akan hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh Ayahnya.
Setelah mereka sama sama duduk di sofa, Inojin baru tahu seberapa pentingnya konversasi ini.
Ayahnya memulai narasinya dengan nada pelan, tak terburu-buru menyusun untaian kalimat.
Inojin hanya dapat terbisu ketika Ayahnya menceritakan semuanya. Semua tentang dirinya. Dengan nostalgia kesedihan yang Inojin ingat pernah menggores air mukanya beberapa tahun yang lalu.
Ayahnya menceritakan tentang siapa itu Danzo—setelah mengetahui cerita dari Ayahnya, Inojin sangat membenci pria tua ini. Dalam hati ia bersyukur pria itu sudah mati. Tentang Anbu Ne. Tentang Ayah yatim piatu. Tentang Paman Shin. Tentang bagaimana Ayah bergabung ke tim 7. Tentang memendam emosi.
Semua ayahnya ceritakan padanya dengan kalimat yang tersusun jelas agar Inojin bisa memahaminya.
Inojin tidak tahu berapa lama waktu telah berselang dan berlalu begitu saja.
Yang ia tahu, Ayahnya tiba-tiba menjulurkan tangan ke wajahnya, mengusap bawah matanya dengan ibu jarinya yang tegas.
Basah.
Inojin bahkan tak sadar ia ternyata menangis.
Ayahnya tersenyum, sendu. Masih dengan ibu jari yang mengusap lembut.
"Tidak apa apa kalau Inojin benci Ayah—"
"Mana mungkin aku benci Ayah,"
Inojin dengan tegas menginterupsi. Ia sempat melihat Ayahnya tampak tertegun, namun ia butuh memberikan reasuransi ini untuk Ayahnya. Ayahnya tidak boleh berpikir begitu.
"Aku tidak akan membenci Ayah. Tidak akan pernah," ulangnya tanpa sekalipun nada keraguan, "Ayah tetaplah Ayahku. Sai Yamanaka. Ayah mungkin berbeda..." gumamnya, ia mendongak untuk menatap sang Ayah lurus-lurus di mata,
"Tetapi berbeda itu bukan berarti buruk. Berbeda itu hanya unik. Dan mereka tetaplah indah,"
Sai yang terhenyak mulai merasakan trenyuh.
Ia menuruti impulsnya dan membawa bocah lelaki itu ke dalam dekapannya, menyalurkan rasa sayangnya yang begitu besar. Membuncah tanpa bisa dicegah.
Inojin bisa merasakan rambutnya terasa basah, sontak membuatnya tertegun sesaat.
.
Ayahnya menangis.
.
Seumur umur Inojin jarang sekali melihat Ayahnya menangis-tidak pernah, bahkan. Ia selalu mengenal Ayahnya sebagai sosok yang kuat dan begitu tenang.
Namun di sini, Ayahnya akhirnya menangis.
Tapi Inojin tahu tangisan ini bukanlah tangis kesedihan.
Tangis ini adalah sebuah tangis kebahagiaan.
"Terima kasih, Inojin,"
Ia mendengar sang Ayah berbisik di pucuk kepalanya, sebelum kemudian diikuti oleh sebuah kecupan yang menyerta.
Inojin tak membalas secara verbal. Ia hanya mengeratkan pelukannya di tubuh pria itu, dan dalam diam turut menangis bersamanya.
.
.
Dia punya Ayah yang berbeda, memang.
Namun dia juga tahu, dirinya sendiri juga berbeda.
Inojin tahu dia berbeda.
Dia berbeda dari klan Yamanaka, pada umumnya.
Tetua klan Yamanaka mulai mempersalahkan ia yang dipandang tidak terlalu berbakat dalam Shintenshin, dan malah lebih sering menggunakan jutsu choju giga Ayahnya. Padahal ia mengemban nama klan Yamanaka di belakang namanya.
Inojin tidak sengaja mendengar lontaran itu di siang cerah itu. Ia baru saja pulang dari misi tingkat D bersama Moegi sensei, Shikadai dan Chocho. Ia tentu langsung pulang untuk untuk mencari keberadaan orangtuanya.
Inojin tahu mereka ada di rumah. Samar samar ia bisa merasakan chakra kedua orangtuanya—juga sebuah chakra asing di salah satu ruangan. Karena dirundung rasa penasaran melihat bahwa sepertinya ini adalah pertemuan yang penting, Inojin menyembunyikan dirinya di balik pintu untuk menyimak.
Ia diajarkan oleh orangtuanya untuk tidak menguping—namun biarkanlah saja yang satu ini. Ia hanya berharap para orang dewasa di sana terlalu terfokus pada pembicaraan hingga mereka tidak berhasil mendeteksi chakranya dari balik pintu.
"Ini semua gara-gara kau yang menikahi si mantan ANBU Ne ini, Ino,"
Inojin mendengar suara seorang lelaki tua berbicara. Suaranya berat dan serak.
"Bloodline kita jadi tercemar sehingga kau menghasilkan seorang pewaris yang tidak layak," kalimat itu diutarakan dengan penuh kepahitan—benci yang teramat,
"Mana ada Yamanaka yang tidak berbakat dalam shintensin, huh?"
Inojin tahu topik pembicaraan itu adalah dirinya.
Pewaris tidak layak yang disebut oleh pak tua itu adalah dirinya. Inojin tahu.
Tidak sekali dua kali ia mendengar kalimat itu.
Ia sempat melirik ke dalam, diantara sela daun pintu yang tak tertutup rapat.
Ekspresi sang Ibu mengeras, alisnya menekuk tajam, bahunya tampak gemetar. Ia tahu ibunya tengah menahan amarah. Sementara Ayahnya yang berada di sisi sang Ibu hanya terdiam, tak menampilkan eskpresi berarti. Namun dari tempatnya sembunyi kini Inojin bisa menangkap tangan Ayahnya yang merambat untuk mendekap milik ibunya, mengusap-usap punggung tangannya di bawah meja.
Inojin tak menyalahkan jika Mamanya murka.
Mengingat pak tua itu sudah berhasil mencela Inojin sekaligus suaminya di saat yang bersamaan.
Ya. Inojin tahu dia juga berbeda.
Ia berbeda— seperti Ayahnya.
Ia punya banyak perbedaan dari anggota klannya yang lain.
Ia bukan darah murni Yamanaka. Ia berkulit pucat. Ia laki-laki tapi punya wajah feminim. Ia seorang Yamanaka tetapi ia lebih suka menggunakan choju giga ketimbang shintensin. Banyak sekali yang berbeda dari dirinya.
Tapi... memangnya kenapa jika ia berbeda?
Kenapa berbeda itu seperti dosa?
Orangtuanya tidak pernah mempersalahkannya. Ayah dan Mamanya tidak pernah mempersalahkannya kenapa ia lelaki tapi terlihat cantik. Kenapa ia lebih suka menggunakan jutsu Ayahnya. Mereka baik-baik saja.
Tapi kenapa justru orang lain yang repot?
.
Inojin selalu diajari untuk menarut hormat kepada orang yang lebih tua oleh Mama dan Ayahnya.
.
.
Tapi saat ini, Inojin benar benar punya hasrat terpendam untuk menonjok orang tua itu.
.
.
Inojin tahu dia berbeda.
Dia berbeda. Tidak sama seperti nggota klan Yamanaka yang lainnya.
.
Ia memang benar-benar berbeda, ketika akhirnya ia berhasil menciptakan sebuah justu baru. Jutsu baru yang berbeda dari lainnya.
Sebuah justu baru yang tidak dimiliki oleh orang lain selain dirinya. Satu satunya Yamanaka yang bisa melakukannya.
Jutsu yang ia buat dengan menggabungkan dua jutsu orangtuanya—choju giga dan sensori. Hanya darah dari Ibu dan Ayahnya lah yang membuat ini menjadi mungkin.
Gabungan antara sensori dan choju giga membuat Inojin memiliki cakupan yang lebih luas untuk mendeteksi musuh, bahkan sampai berkilo kilo meter jauhnya tanpa menghabiskan banyak chakra seperti yang biasa dialami oleh anggota klan. Kemampuan yang diwarisinya dari Ayahnya membuat Inojin dapat menggunakan choju giga—menggunakan burung lukisannya untuk memperlebar cakupan sensorinya sehingga musuh akan lebih cepat dan akurat untuk dideteksi. Inojin hanya perlu mengaktifkan sensori dengan hand sign kemudian melukis burung-burungnya dan melepaskannya dari gulungan untuk melebarkan jangkauan.
Inojin tak sabar untuk menemukan kombinasi jutsu apalagi yang bisa ia buat dari genetik yang ia peroleh dari Ayah dan Ibunya.
Mungkin Inojin bisa menggabungkan shintensin dengan choju giga—mungkin ia bisa memasukan jiwanya ke hasil gambarnya sehingga ia bisa lebih mudah mengendalikannya dan membuat gambarnya bertahan lebih lama, misalnya. Atau kombinasi antara choju giga dan telepati, fuinjutsu dan shintensin—dan masih banyak lagi.
Inojin tahu Ayah dan Ibunya memiliki kombinasi yang sempurna. Darah mereka mengalir kuat di nadinya. Hanya ia yang bisa melakukan kombinasi ini.
Ketika Ayah dan Ibunya menatapnya dengan penuh bangga ketika ia melakukannya, Inojin merasa ia bisa menjadi ninja paling kuat saat itu.
Ia akan berusaha keras untuk membuat mereka bangga. Berusaha keras untuk melindungi senyum dan pancar kebahagiaan kedua orangtuanya.
Dan Inojin pun tersenyum.
.
Ia tahu dia memang berbeda.
Tapi berbeda itu bukan berarti buruk.
Berbeda itu unik. Dan unik tetap saja indah.
.
Indah...
...dan akan selamanya begitu.
.
.
"...Different is not bad.
Different is just different..."
.
fin.
.
.
Terima kasih sudah berkenan membaca :D silahkan kalau ada kritik saran. Oh iya, seperti biasa saya akan upload ff saiino yang lain. tapi untuk minggu ini kayaknya satu dulu xD hehe. Saya juga ada satu ff multichap saiino yang rencana pingin saya publish dalam waktu dekat ini (tapi saya baru akan publish kalau semua chap udah selesai biar ga gantung :"D). once again, thank you very much. mohon maaf saya tidak selalu membalas review dari teman teman, tapi saya selalu membaca setiap review yg masuk dan saya sangat berterima kasih.
Sampai jumpa di ff saiino berikutnya :D
