Sreeeeeeeeettt!

Sreeeeeeeeeeettt!

Benang-benang itu pelan-pelan diluruskan kembali, meluruskan jalinan kusut yang tidak diinginkan.

Netherlands, telah memberikan dua warna; yakni putih dan biru, kepadanya. Berat hati Kartika tolak warna birunya, namun Willem memaksa. (Cukup) terpaksa, Kartika menerima gulungan benang biru itu.

Japan, yang beberapa saat lalu telah memberikannya selembar kain dan tiga gulung benang warna merah untuknya, dan dia berinisiatif untuk menjahit semua warna hari ini.

"Terima kasih."

Entah apa maknanya, namun Kartika bersyukur dengan wajah datar masih memiliki gulungan benang empat belas warna di dalam kotak bekas berisi perkakas (yang juga sisa) menjahit milik ibunya yang telah meninggal.

"Apa ada tempat dimana aku bisa menggarap semua ini?"

Lekas dia bawa semua kain berwarna dan kotak perkakas menjahit itu menuju ke jendela kamar. Ia buka sedikit jendela itu, lalu segera duduk di bibir jendela seraya mulai menyatukan semua kain berwarna.

Cepat atau lambat, bisa atau tidak, Kartika tidak terlalu peduli.

...

...

Ini bukan sekedar jahitan biasa, sayang...

Jahitan ini adalah titian penjelas dari 'apa itu hidup'.

Japan; norma, kehormatan, pantang menyerah, dan keteladanan...

...

...

Semak pohon bunga melati yang memagari bagian luar pagar rumah Kartika masih menguncup bunga-bunganya. Terlihat segar, mungkin sebentar lagi akan segera mekar.

Kartika masih menyatukan warna-warna itu, satu benang telah habis, dia gantikan dengan benang yang lain lagi.

'Baru dua warna yang telah disatukan...' pikirnya ketika menjarang dan mengamati dengan saksama hasil jahitannya yang kurang rapi —tapi, siapa juga yang peduli?

Kartika bahkan tidak pernah diajari menjahit oleh siapapun, hanya pernah melihat, melihat, dan melihat secara langsung bagaimana orang lain menjahit.

Gaya belajar visual. Menggunakan indera penglihatan untuk mengerti bagaimana proses akan sesuatu di sekitar. Kurang efektif bagi seorang pemula.

Apakah bisa mengerti sepenuhnya? Apakah bisa melakukan dengan benar?

(Mungkin juga) tidak bisa, jujur saja pendeknya begitu.

Namun, semuanya yang ahli dalam bidang apapun, pasti diawali dengan ketidakbisaan, bukan?

Kartika pula begitu. Dua gulung benang telah ludes di tangannya, namun masih ada belasan gulung benang lagi.

...

...

Hidup dalam penjajahan...

Duka macam apa yang dirasakan?

...~*oOo*~...


HETALIA - AXIS POWERS (c) HIMARUYA HIDEKAZU, JAPAN.

.

the first chapter:

》BENANG MERAH- (DAN KAIN PUTIH)《

.

.°• INDONESIAN KARA •°.

.

-Indonesia; 27 Juli 2017-


*~...oOo...~*

Merdeka atas usaha sendiri...

Apa yang akan kami lakukan terhadap mantan penjajah?

...

...

Kiku hanya diam melihat Kartika yang mengobrak-abrik isi laci meja kayu jati di ruang depan. Seperti orang yang sedang ditagih utangnya oleh rentenir, Kartika tergesa-gesa menilik dan mengacak isi laci satu-persatu.

Beberapa bulan yang lalu, Willem telah mengisyaratkan sesuatu kepadanya, tentang Kartika, tentang Kirana, dan tentang 'Indonesia'.

Merasa ada sesuatu yang menarik, langsung saja Kiku meletakkan tiga gulung benang merah dan selembar luas kain berwarna putih di dalam kamar Kartika.

Kartika mungkin sadar, itu adalah pemberian darinya.

Namun ternyata, Kartika hanya diam saja ketika bertatap mata dengannya. Bahkan melewatinya, tidak seperti Willem —personifikasi negara Belanda—

Rupanya ada sesuatu yang Kiku tidak mengerti.

'Dia ini Kartika, atau Kirana?'

Pagi itu, ketika Kiku masih menikmati teh hitam buatannya sendiri, Kartika masuk ke kamarnya dengan menenteng sebuah kotak kayu antik bertuliskan dengan aksara dan bahasa Sansekerta...


MERDEKA


Lagi, dan seperti biasanya, Kartika menyempatkan diri untuk melanjutkan jahitannya, meskipun hanya sedikit waktu luang di sela-sela pekerjaan berjadwalnya yang begitu padat.

Hanya kurang sedikit lagi.

Dia menolehkan kepalanya ketika banyak benang yang kusut, Kartika mencoba untuk meluruskannya kembali, namun justru malah semakin kusut. Benang-benang kusutnya harus dipotong, lalu dibuang, dan digantikan dengan benang yang lain.

Tidak ada gunting disini. Tidak ada benda tajam di sekitarnya.

Kartika tidak ambil pusing, gegabah dia menarik benang berkilat itu agar bisa putus.

SREEEETT!

"Ah!"

Jemari tangan kanannya gemetaran. Dan darah menetes dari sana, mengalir hingga ke telapak tangan kanan...

Tetes-menetes membasahi lantai keramik putih, dimana kakinya juga berpijak.

-o0o-

Kayu dan batu, darah dan pasir, keras kauhantamkan pada kami...

Sayat dan tembak, satu-persatu kaumusnahkan kami.

Banyak surai, yang harus menjadi glukosa penuh dosa tanpa dihargai...

-0o0-

"Lain kali, jangan jadikan waktu istirahatmu untuk melakukan hal yang tidak berguna seperti tadi."

Intonasi kerasnya tidak Kartika pikirkan. Tatapan mata perempuan itu kosong, seolah raganya hanyalah raga yang juga kosong.

Sedikitpun tidak menatap Kiku yang berjongkok di hadapannya, mengobati luka perih Kartika dengan perban dan obat merah.

"Apa keuntungan yang kaudapat dari menjahit di waktu senggang sebagai jeda antara pekerjaanmu?"

Memang benar, selama ini, Kartika tidak pernah mendapatkan upah dalam bentuk apapun sebagai imbalan atas keuletannya mengerjakan jahitan yang tidak jelas bentuknya itu.

"Luka?"

'Kamu yang telah memberikan banyak luka kepadaku, tanpa dapat aku obati, semua lukaku oleh Willem yang telah mengering, sekarang mulai terbuka lagi. Kamu menusukku jauh lebih dalam, padahal kamu adalah saudara tuaku yang paling aku sayangi saat ini...'

"Mengapa hanya diam saja? Apa kamu tidak peduli dengan kesehatanmu sendiri?"

Kartika masih menunduk, pemuda asal Negeri Sakura itu menatapnya sengit, meski masih tersemat semburat khawatir di wajah orientalnya.

Kiku menghela nafas kasar.

"Perhatikan apa yang kaulakukan. Kecerobohanmu ini bahkan bisa membuatmu mati di tangan siapa saja."

'Jangka Jayabaya memang benar...'

Gulungan perban sudah cukup, Kartika potong sendiri dengan gunting medis milik Kiku.

"Maaf, maafkan saya..." Tanpa menunggu jawaban, Kartika melangkah pergi, menjauh dari Kiku, menciptakan jarak antara keduanya.

"Te- Terima kasih sudah membantuku... Untuk mengobati luka ini... Perm- Permisi." Kartika pergi dari sana.

Darah masih merembes dari perban yang membalut telapak tangan kanannya, kain putih yang Willem berikan kala itu sekarang Kartika gunakan untuk melapisinya.

Darah yang terlalu banyak. Sebanyak genangan darah milik masyarakat tidak berdosa yang telah Kiku bunuh.

'Sekejam inikah penjajahan?'

Malam sudah larut, dan sekarang sudah pukul 23:55. Semua pasti telah terlelap. Kecuali satu: Kartika.

Kartika tidak peduli. Semua benang wol dan kain-kain pemberian dari Kiku, Willem, dan semua, dia buang. Kartika bakar di belakang rumahnya.

Kamu pernah sangat kejam kepadaku...

Namun kamu jugalah saudaraku, secara tidak langsung adalah kakak sebagai panutanku untuk maju.

Bangku kayu panjang Kartika duduki, melepas segala penat bersama merenggangkan otot-ototnya.

... Lagi, selara inikah penjajahan?

Willem tidak lagi dia lihat, namun Kiku yang berwajah tanpa sebuah ekspresilah yang Kartika temukan saat perempuan itu menegadahkan kepala.

Kartika saja yang berhayal wajah pemuda di depannya ini terlihat tampan, atau memang begitu kenyataannya?

...

...

Kamu mengajarkan saya apa itu kehormatan.

Kamu mengajarkan saya apa itu kedudukan...

Saudara tetaplah saudara.

Meskipun ada sejarah penuh lara di antara keduanya.


to be continued to chapter II: -tanpa akhir.


A/N: Dibuat kemarin, dan dilanjutkan lagi pada pagi hari yang masih dingin di Jawa Tengah ini. Terima kasih sudah membaca, and have a nice day!

Salam Indonesia~!

—INDONESIAN KARA.